ITK IPB Gelar Saresehan Lintas Angkatan


Sarasehan Lintas Angkatan, Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan (Prodi ITK) IPB
image

Jauh sebelum poros maritim dunia dikumandangkan, 32 tahun yang lalu IPB telah menggagas pembentukan program studi baru, yaitu Prodi ITK dimana proses inisiasi dimulai pada tahun 1983.

Kemudian, pada tahun 1985-1989, inisiasi IPB diadopsi secara nasional melalui Proyek Pengembangan dan Pendidikan Ilmu Kelautan (Marine Science Education Project). Proyek ini telah mendirikan mendirikan prodi ITK di 6 universitas, dengan ciri khas tersendiri, yaitu:

●      Institut Pertanian Bogor: Eksplorasi Sumberdaya Hayati Laut

●      Universitas Riau: Lingkungan Laut

●      Universitas Diponegoro: Budidaya Laut

●      Universitas Hasanudin: Budidaya Laut

●      Universitas Sam Ratulangi: Farmakologi Laut

●      Universita Pattimura: Eksplorasi Sumberdaya Hayati Laut

Keenam prodi ITK ini memiliki fasilitas peralatan, kapal riset dan stasiun lapang yang tergolong canggih di Asia Tenggara pada era itu. Melalui proyek ini juga telah disekolahkan 160 PhD dan banyak master.

Sebagai pionir prodi ITK, saat ini IPB telah menghasilkan sekitar 1600 lulusan yang tersebar di hampir seluruh negara kepulauan Indonesia dan luar negeri dengan berbagai profesi dan masih mempertahankan semangat ITK.

Bonar P. Pasaribu (Inisiator Prodi ITK di IPB dan Nasional, serta Guru Besar Akustik Kelautan, IPB) menambahkan bahwa IPB lebih siap sehingga mendahului membuka angkatan pertama prodi ITK pada tahun 1987. Kemudian diikuti oleh 5 universitas lainnya pada 3 tahun kemudian. Prodi ITK IPB memiliki 4 fokus utama dalam menunjang eksplorasi sumberdaya hayati laut, yaitu: Oseanografi dan Biologi Laut untuk kompetensi keilmuan dasar kelautan, serta Inderaja & Sistem Informasi Geografis dan Akustik & Instrumentasi Kelautan. Bonar juga menegaskan bahwa kepeloporan IPB juga dibuktikan dengan diakreditasinya program studi ITK IPB secara internasional (akreditasi IMarESTwww.imarest.org) pada tahun 2014.

Indra Jaya (Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB dan Guru Besar bidang Akustik, Instrumentasi dan Robotika Kelautan IPB) menambahkan bahwa sejak 2013, IPB sudah menetapkan mandat baru yang tertuang dalam statuta IPB, yaitu: Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika (yang tadinya hanya Pertanian untuk menghasilkan pangan sebagaimana pidato Presiden Soekarno pada peletakan batu pertama pembangunan kampus IPB). Indra menambahkan bahwa saat ini sedang digagas arsitektur kelembagaan IPB menuju 2045, dimana bukan tidak mungkin Prodi ITK menjadi Fakultas ITK atau malah IPB melahirkan suatu universitas baru, yaitu Universitas Ilmu dan Teknologi Kelautan.

Bonar menambahkan bahwa memang sudah seharusnya Indonesia memiliki Universitas Ilmu dan Teknologi Kelautan, seperti negara-negara lain, yaitu: Taiwan yang hanya sebesar Jawa Barat memiliki National Taiwan Ocean University di kota kecil bernama Keelung (sekecil Pelabuhan Ratu), kemudian Tiongkok memiliki dua universitas, yaitu: Shanghai Ocean University dan University of Ocean Science and Technology di Qin Dao. AS memiliki Scripps Institution of Oceanography, University of California San Diego dan Jepang memiliki University of Marine Science and Technology di Tokyo.

Bonar mencontohkan Jepang, mereka mencurahkan seluruh perhatian akademik mereka sejak 1946 (setelah kalah perang dunia kedua) untuk mencari pangan di laut. Sampai saat ini pemerintah Jepang denga menyediakan fasilitas laboratorium, serta beberapa kapal riset untuk PT dengan ukuran rata-rata di atas 1000 GT. Namun sayang, Indra menegaskan bahwa pengadaan sarana di kampus berjalan lamban, serta anggaran terbatas untuk menunjang pendidikan kelautan. Sebagai catatan, peralatan laboratorium dan kapal riset di IPB telah usang dan rusak karena berusia lebih dari 25 tahun.

Tanggung jawab IPB seperti tertuang dalam statuta, “kelautan” maka menurut Bonar ITK bertanggung jawab untuk mengisinya dengan: pangan, energi, kedaulatan dan basis ekonomi, karena ini ada di laut. Kemudian hari, perkembangan akademik di laut akan berkembang nano technology, robotika, sensor, bioteknologi dan etika. Indra menambahkan bahwa ITK pun mengembangkan teknologi roket (command and control). Bidawi Hasyim (Ahli Peneliti Utama LAPAN) menambahkan bahwa untuk pembangunan kelautan menuju poros maritm dunia, kita memerlukan teknologi satelit untuk penginderaan jauh. LAPAN memiliki data satelit seluruh Indonesia, mulai dari resolusi rendah (Terra/Aqua, NOAA, dll), resolusi menengah (Landsat) dan tinggi (SPOT). Data ini bisa diperoleh dengan gratis karena sudah dianggarkan oleh negara. Data satelit dapat dipergunakan untuk pemetaan dan pemantauan sumberdaya laut/pesisir, pemetaan pulau-pulau kecil terdepan, kelayakan lokasi budidaya laut, dinamika laut, identifikasi kapal, dll.

Selain itu, Alan Koropitan (Lektor Kepala bidang Oseanografi) mengingatkan bahwa lingkungan sudah berubah dengan adanya pencemaran dan perubahan iklim. Perubahan iklim adalah persoalan sains yang harus diselesaikan secara akademik, namun sayangnya saat ini berkembang menjadi isu politik karena terkait dengan pembatasan emisi gas rumah kaca yang dapat mengganggu ekonomi suatu negara. Ancaman perubahan iklim perlu upaya nyata untuk beradaptasi, untuk itu Alan mengusulkan untuk merestorasi pesisir sebagai upaya adaptasi alami, yaitu upaya mengembalikan sistem lingkungan pada kondisi semula. Bukan sekedar menutup suatu kawasan ataupun menamam mangrove atau transplantasi karang semata. Ini hanya sekedar rehabilitasi, bukan restorasi.

Terkait adaptasi dalam bidang perikanan laut, Alanmenambahkan bahwa perlu adanya pembenahan dan ekspansi lahan budidaya laut. Indonesia saat ini masih memanfaatkan 117 ribu ha dari 12 juta ha potensi yang ada. Upaya adaptasi lainnya adalah memperkuat layanan prediksi iklim dan laut serta pembenahan tata kelola riset, kebijakan dan data kelautan. Dengan karakteristik oseanografis tertentu, Alan mengusulkan perairan selatan Jawa dan Laut Arafura menjadi daerah cadangan ikan masa depan.

Ayi Rahmat (Praktisi energi terbarukan dan dosen IPB) mengingatkan bahwa potensi energi terbarukan di laut sangat menjanjikan karena sudah tersedia banyak rancangan dan aplikasinya misalnya: energi gelombang menggunakan buoy di AS (satu power buoy bisa memanen 40 KW), ini cocok untuk desa-desa pesisir, kemudian Oregon State University mengembangkan Wave Park, ada juga Pelamis Wave Power di Portugal, dll. Selain gelombang juga terdapat energi pasut, arus dan OTEC.

Pada akhir acara, telah dideklarasi Himpunan Alumni ITK IPB, yang intinya adalah IPB dan alumni siap menjawab panggilan Indonesia menuju poros maritim dunia. Kemudian, membentuk pengurusan pertama dimana Presidium Alumni ITK IPB terdiri dari: Ilan Rohilan, Agus Soesilo, Agus Trisulo, Syarief Budhiman, Alan Koropitan, Tri Hartanto, Heidi Retnoningtyas, Ferdy Gustian dan Anggi Afif Muzaki, serta Sekjen: Arief B. Purwanto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s