Inilah Cara Menjaga Pergaulan


Menjaga Pergaulan Untuk Keselamatan‎

Sesungguhnya seorang hamba tidak akan bermaksiat kecuali jika lalai.

Kelalaian ini dapat disebabkan karena menghadiri pertemuan² yg penuh dengan ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), omong kosong dan sgala hal yg tercela.

Siapapun bergaul dengan orang lalai, ia akan ikut lalai. ‎Dan siapa pun bergaul dengan orang yg slalu ingat اَللّهُ, ia pun akan ingat اَللّهُ.

Dalam pergaulan dengan ahli dzikir terdapat kebaikan yg sangat banyak.
Jika mereka mengingat اَللّهُ, qta pun akan ingat kepada اَللّهُ

Dalam sbuah Hadist Qudsi, اَللّهُ Ta’ala mewahyukan, “AKU bersama hamba-KU ketika ia mengingat-KU.
Jika ia mengingat-KU dalam dirinya, AKU akan mengingatnya dalam diri-KU.
Dan jika ia mengingat-KU dalam sebuah kumpulan manusia, AKU akan mengingatnya dalam kumpulan yg lebih baik..!” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Barangsiapa mengingat اَللّهُ, maka اَللّهُ akan mengingatnya dengan limpahan rahmat, ridha dan ampunan.

Seorang hamba hendaknya mempersiapkan bekal untuk perjalanan akhirat, agar ketika maut datang, ia tidak menyesal. Jika seseorang meninggal, maka sesungguhnya telah tiba kiamatnya.

يــــــااللــــه بــــها يـــــــااللـــــه بــــــهايـــــااللــــه بحســــــــن الخـــــاتـــــــمة

(“Tuhfah Al-Asyraf”, Kalam Sayyidinal Imam Al-Allamah Al-‘Arif billah, Sayyid Muhammad bin Hadi As-Seggaf رضي الله عنـه)

Disadur dari postingan Ust Hasan Ma’ruf  (KUTUB) di grup WhatsApp

Advertisements

Artikel : Inilah Sejarah Berdirinya Komunitas Tahajjud Berantai (KUTUB)


SEJARAH KUTUB

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat Tahajjud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji”
(QS.Al-Isra’ : ayat 79).

Pernahkah membayangkan ribuan orang dalam waktu bersamaan, saling membangunkan untuk bertahajjud ?!.. Tentu kita belum pernah membayangkan sebelumnya. Namun ketahuilah, rutinitas inilah yg dilakukan oleh ribuan muslim yg bergabung di KUTUB.

Bagaimana Sejarah KUTUB ?

Banyak dari kita umat muslim sudah pernah mendengar betapa dahsyatnya keutamaan sholat tahajjud. Sehingga banyak yang rela waktu tidurnya dikurangi dikarenakan ingin mendapatkan keutamaan sholat tahajjud. Namun, tidak sedikit pula yang mendapatkan kendala untuk bangun di sepertiga malam lantaran letih karena padatnya aktivitas di siang hari sampai akhirnya ketiduran hingga tiba waktu subuh.
TAHUN 2011
Berbagai upaya dilakukan utk meningkatkan motivasi tahajjud. Salah satunya SMS Kutipan Motivasi Tahajjud yang dilakukan oleh Ust. H. Uti Konsen dan dikirim setiap sepertiga malam kepada para jama’ah nya. Cara ini kemudian ditiru oleh Erik.

Mulai pertengahan 2011 Erik mengirim sms setiap sepertiga malam ke nomor kontak teman-teman yang tersimpan di ponselnya
TAHUN 2012
Erik dikenalkan dengan Ust.Drs.H.Abdul Hakim yang mengisi kajian Islami setiap Sabtu malam di Masjid Imam Bonjol (Kab.Ketapang) dg tema ‘Pengajian Ekonomi Berbasis Tahajjud’. Beliau yang senantiasa memberikan motivasi untuk bertahajjud.
TAHUN 2013
Erik meminta agar pengajian yang sama diadakan stiap Selasa malam di Masjid Agung Al-Ikhlas (Kab.Ketapang).
Pengajian Ekonomi Berbasis Tahajjud ini dirangkai dengan diskusi dan tahajjud bersama.
Dan tidak ketinggalan, SMS dari ust. H. Uti Konsen masih rutin pula membangunkan mereka untuk bertahajjud

Jelang Akhir 2013, Ust.Drs.H.Abdul Hakim membawa Erik untuk mengikuti Pengajian rutin ST (Silaturahmi Tahajjud) yang diselenggarakan oleh ust.H.Uti Konsen di sebuah Pendopo miliknya bernama ‘Pendopo Rose’, di sanalah kajian khusus bertema tahajjud itu digelar setiap Jum’at petang dari Maghrib hingga Isya’ berjama’ah.

Ust.H.Uti Konsen adalah Tokoh Ulama yang menjadi Inspirasi sebelum KUTUB terbentuk.

Desember 2013, Erik bergabung dengan Komunitas ODOJ (One Day One Juz), sebuah komunitas yang memanfaatkan Aplikasi Whatsapp untuk berkomunikasi sesama anggotanya dan saling memotivasi untuk mengaji 1 juz setiap hari. Erik berkenalan dengan banyak teman di Komunitas ODOJ, salah satunya Huda Budiarto berasal dari Riau. Dan ada Suhardi dan Wawan teman dekat Erik sama asal dari Ketapang juga ikut bergabung di Komunitas ODOJ.
TAHUN 2014
Semangat membangunkan tahajjud dipadukan dengan Aplikasi whatsapp seperti yang digunakan oleh Komunitas ODOJ akhirnya melahirkan ide KUTUB (Komunitas Tahajjud Berantai)

Erik mengusulkan ide KUTUB kepada Suhardi dan Wawan serta teman di Komunitas ODOJ. Ide itu kemudian disambut baik oleh teman di Komunitas ODOJ, langsung pada tanggal 29 Januari 2014 oleh Huda Budiarto dibuatkanlah KUTUB dengan menggunakan sarana whatsapp seperti sekarang ini.

Ternyata KUTUB ini mulai banyak diminati dan dengan cepat tersebar ke seluruh Indonesia. Malam pertama 10 orang yang bergabung, jalan sepekan 100 orang bergabung, pekan ke tiga ada 1000 orang bergabung, memasuki 4 bulan ada 4000 orang lebih bergabung dalam KUTUB.

Jumlah ini mestinya terus bertambah seiring menyebarnya informasi mengenai KUTUB melalui media maya dan aksi nyata berupa acara-acara yang diadakan oleh para anggotanya di berbagai daerah yang tersebar di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Ust.Drs.H.Abdul Hakim sangat mendukung dgn keberadaan KUTUB ini, beliau menyatakan bersedia menjadi Penasehat KUTUB.

Pernyataan serupa juga diperoleh dari Ust.Amir Faishol Fath, MA dan juga kesediaan beliau untuk menjadi Penasehat KUTUB.

Yang juga penting yakni Ust. H. Uti Konsen yang merupakan Inspirasi awal KUTUB juga menyatakan bersedia menjadi Penasehat KUTUB.

Begitulah kisah di balik penyebaran KUTUB sampai saat ini. Semoga kita senantiasa diberi keistiqomahan serta kemampuan untuk mengajak saudara-saudara kita lainnya agar lebih giat bertahajjud sesuai dengan Visi KUTUB membudayakan Tahajjud setiap malam kepada seluruh lapisan masyarakat muslim dari berbagai kalangan.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Cara Mengatasi Blackberry Mati Mendadak


Jika anda mengalami masalah mati mendadak Blakcberry tidak perlu panik, coba cara berikut

1. Cabut kartu memori dan SIM dari BB anda
2. Charger  BB anda
3. Charge msh terhubung, cabut baterai BB anda beberapa detik…
4. Charger masih terhubung, pasang lagi baterainya
5. Berhasil, ditandai bb melakukan booting
Sudah berhasil pada : BB 9000, 8330, BB Curve

Trik lain Tottaly Dead BB ( Mati Total)
Seelum mulai pastikan kartu  memori dan sim sudah dilepas.
2. Run Blackberry Software anda…
3. Hubungkan Blackberry dengan ke laptop/PC  PC menggunakan kabel USB
4 Setelah muncul gambar batre di silang, buka batre bb tanpa melepas usb.
5. Pasang batre kembali tanpa melepas sambungan blackberry dengan Laptop/PC
6. Blackberry menyala, biarkan charge sampai beberapa garis batre
7. Cabut koneksi, segera charge dengan charger

Semoga bermanfaat,
SIGMA Digital & Repairing Studio

Inilah Hasil Konferensi Asia Afrika 1955


Dasasila Bandung

1. Menghormati hak-hak dasar manusia
dan tujuan-tujuan serta asas -asas yang
termuat di dalam piagam PBB
( Perserikatan Bangsa-Bangsa )
2. Menghormati kedaulatan dan integritas
teritorial semua bangsa
3. Mengakui persamaan semua suku
bangsa dan persamaan semua bangsa,
besar maupun kecil
4. Tidak melakukan intervensi atau campur
tangan dalam soalan-soalan dalam negeri
negara lain
5. Menghormati hak-hak setiap bangsa
untuk mempertahankan diri secara
sendirian ataupun kolektif yang sesuai
dengan Piagam PBB
6. Tidak menggunakan peraturan-
peraturan dari pertahanan kolektif untuk
bertindak bagi kepentingan khusus dari
salah satu negara besar dan tidak
melakukannya terhadap negara lain
7. Tidak melakukan tindakan-tindakan
ataupun ancaman agresi maupun
penggunaan kekerasan terhadap integritas
wilayah maupun kemerdekaan politik suatu
negara
8. Menyelesaikan segala perselisihan
internasional dengan jalan damai, seperti
perundingan, persetujuan, arbitrasi
(penyelesaian masalah hukum) , ataupun
cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-
pihak yang bersangkutan sesuai dengan
Piagam PBBcc
9. Memajukan kepentingan bersama dan
kerjasama
10. Menghormati hukum dan kewajiban–
kewajiban internasional

Rundown Asia African Summit 2015


ASIAN-AFRICAN SUMMIT
Apr 22nd, 2015 –
Apr 22nd, 2015 / Location : Jakarta Convention Center
08:00 – 08:45 Arrival of HoS/G at the venue
President of the Republic of Indonesia greets HoS/G
Holding Room: Assembly Hall 1, JCC
09:00 – 09:10 Photo Session
Venue: Main Lobby, JCC
09:15 – 09:45 Opening Ceremony
Venue: Plenary Hall, JCC
Cultural Performance
Opening Statement by the President of the Republic of Indonesia
09:50 – 10:15 Coffee Break
Venue: Assembly Hall 1
10:20 – 12:30 Plenary Session I
Venue: Plenary Hall, JCC
12:35 – 13:30 Lunch
Venue: Assembly Hall 2 and 3,
13:35 – 15:30 Plenary Session II
Venue: Plenary Hall, JCC
15:35 – 15:55 Coffee Break
Venue: Assembly Hall 1
16:00 – 17:00 Plenary Session III
Venue: Plenary Hall, JCC
PM Departure to Hotel
PM Departure to Istana Merdeka
19:15 – 19:50 Arrival at the Istana Merdeka
President of the Republic of Indonesia greets HoS/G
20:00 – 22:00 Gala Dinner Hosted by the President of the Republic of Indonesia
Venue: Istana Negara
As of April 15, 2015
Agenda is subject to change without prior notice
SIDE EVENT: ASIA AFRICA SMART CITY SUMMIT
Apr 22nd, 2015 –
Apr 22nd, 2015 / Location : The Trans Luxury Hotel, Bandung
OPENING SESSION (Grand Ballroom 2 & 3)
09:00–09:10 Cultural Session (Opening Act)
09:10–09:55 Opening Session:
Mr. Suhono H. Supangkat, General Chairman
Mr. Ridwan Kamil, Mayor of Bandung, Indonesia
Mr. Irman Gusman, Chairman of DPD
H.E. Jusuf Kalla, Vice President of the Republic of Indonesia
09:55–10:15 Coffee Break
09:55–10:15 Message from the Host
Mr. Ridwan Kamil, Mayor of Bandung, Indonesia
PANEL SESSION (Grand Ballroom 2 & 3)
10:30–12.00 Speaker: Dr. Galal Moustafa Said, Governor of Cairo, Egypt
Mrs. Mira Aggarwal, Mayor of North New Delhi Municipal Corporation, India
Mr. Joseph Estrada, Mayor of Manila, Philiphines
Prof. Toshio Obi, Waseda University, Japan
Mr. Francesc Giralt, City Protocol Society
12:00 – 13:00 Lunch Foyer Grand Ballroom
PARALLEL SESSIONS
13:00–14:30 Cluster I:Smart City Model (Boardroom 6)
Cluster II:Disaster & Environment (Boardroom 3&5)
Cluster III:Smart Government (Boardroom 2)
14:30–14:45 Coffee Break
14:45–16:15 Cluster IV:Smart Energy (Boardroom 6)
Cluster V:Smart City Business Model (Boardroom 3&5)
Cluster VI:Smart Transport (Boardroom 2)
Cluster VII:Youth Generation and Entrepreneur (Boardroom 9 & 10)
KEYNOTE SESSIONS (Grand Ballroom 2 & 3)
16:15–17:00 Speaker: Mr. Sufian Shadid, Mayor of Allar, Palestine
Mr. Alex J Sinaga, President Director of TELKOM, Indonesia
Agenda is subject to change without prior notice. Further information please visit: http://asiaafricasmartcity.com/

Inilah Sejarah Konferensi Asia Afrika


SEJARAH KONFERENSI ASIA AFRIKA
Berakhirnya Perang Dunia II pada bulan Agustus 1945,tidak berarti berakhir pula situasi permusuhan di antara bangsa-bangsa di dunia dan tercipta perdamaian dan keamanan. Ternyata di beberapa pelosok dunia, terutama dibelahan bumi Asia Afrika,masih ada masalah dan muncul masalah baru yang mengakibatkan masalah baru yang mengakibatkan permusuhan yang terus berlangsung,bahkan pada tingkat perang terbuka, seperti di Jazirah Korea, Indo Cina, Palestina, Afrika Selatan, Afrika Utara.
Masalah-masalah tersebut sebagian disebabkan oleh lahirnya dua blok kekuatan yang bertentangan secara ideology maupun kepentingan,yaitu Blok Barat dan Blok Timur.Blok Barat dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur dipimpin oleh Uni Sovyet. Tiap-tiap Blok berusaha menarik negara-negara Asia dan afrika agar menjadi pendukung mereka. Hal ini mengakibatnkan tetap hidupnya dan bahkan tumbuhnya suasana permusuhan yang terselubung diantara dua Blok itu dan pendukungnya. Suasana permusuhan tersebut dikenal dengan nama “Perang Dingin”.
Timbulnya pergolakan didunia disebabkan pula masih adanya penjajahan di bumi kita ini, terutama di belahan Asia dan Afrika. Memang sebelum tahun 1945, pada umumnya dunia Asia dan Afrika merupakan daerah jajahan bangsa Barat dalam aneka bentuk. Tetapi sejak tahun 1945, banyak di daerah Asia Afrika menjadi negara merdeka dan banyak pula yang masih berjuang bagi kemerdekaan negara dan bangsa mereka seperti Aljazair, Tunisia, dan Maroko di wilayah Afrika Utara; Vietnam di Indo Cina; dan di ujung selatan Afrika. Beberapa negara Asia Afrika yang telah merdeka pun masih banyak yang menghadapi masalah-masalah sisa penjajahan seperti Indonesia tentang Irian Barat , India dan Pakistan terpaksa mengungsi, karena tanah air mereka diduduki secara paksa oleh pasukan Israel yang di Bantu oleh amerika Serikat.
Sementara itu bangsa-bangsa di dunia, terutama bangsa-bangsa Asia Afrika, sedang dilanda kekhawatiran akibat makin dikembangkannya senjata nuklir yang bisa memusnahkan umat manusia. Situasi dalam negeri dibeberapa Asia Afrika yang telah merdeka pun masih terjadi konflik antar kelompok masyarakat sebagai akibat masa penjajahan (politik divide et impera) dan perang dingin antar blok dunia tersebut.
Walaupun pada masa itu telah ada badan internasional yaitu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berfungsi menangani masalah-masalah dunia, namun nyatanya badan ini belum berhasil menyelesaikan persoalan tersebut. Sedangakan kenyataannya, akibtan yang ditimbulkan oleh masalah-masalah ini, sebagian besar diderita oleh bangsa-bangsa di Asia Afrika.
Keadaan itulah yang melatarbelakangi lahirnya gagasan untuk mengadakan Konferensi Asia Afrika.
LAHIRNYA IDE KONFERENSI
Keterangan Pemerintah Indonesia tentang politik luar negeri yang disampaikan oleh Perdana Menteri Mr.Ali Sastroamidjojo, di depan parlemen pada tanggal 25 Agustus 1953, menyatakan;
“Kerja sama dalam golongan negara-negara Asia Arab (Afrika) kami pandang penting benar, karena kami yakin, bahwa kerja sama erat negara-negara tersebut tentulah akan memperkuat usaha ke arah perdamaian dunia yang kekal. Kerjasama antar negara-negara Asia Afrika tersebut adalah sesuai benar dengan aturan-aturan dalam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang menyenangi kerjasama kedaerahan (regional arrangements). Lain dari itu negara-negara itu pada umumnya memang mempunyai pendirian-pendirian yang sama dalam beberapa soal di lapangan internasional, jadi mempunyai dasar sama (commonground)untuk mengadakan golongan yang khusus. Dari sebab itu kerja sama tersebut akan kami lanjutkan dan pererat”.
Bunyi pernyataan tersebut mencerminkan ide dan kehendak Pemerintah Indonesia untuk mempererat kerja sama di antara negara-negara Asia Afrika.
Pada awal tahun 1954, Perdana Menteri Ceylon (Srilangka) Sir Jhon Kotelawala mengundang para Perdana Menteri dari Birma (U Nu), India (Jawaharlal Nehru), Indonesia (Ali Sastroamidjojo), dan Pakistan (Mohammed Ali) dengan maksud mengadakan suatu pertemuan informal di negaranya. Undangan tersebut di terima baik oleh semua pimpinan pemerintah negara yang diundang.
Pertemuan yang kemudian disebut Konferensi Kolombo itu dilaksanakan pada tanggal 28 April sampai dengan 2 Mei 1954. konferensi ini membicarakan masalah-masalah yang menjadi kepentingan bersama.
Yang menarik perhatian para peserta konferensi, diantaranya pernyataan yang diajukan oleh Perdana Menteri Indonesia :
“Where do we stand now, we the peoples of Asia , in this world of ours to day?” (“Dimana sekarang kita berdiri, bangsa Asia sedang berada di tengah-tengah persaingan dunia?”), kemudian pernyataan tersebut dijawab sendiri dengan menyatakan:
“We have noe indeed at the cross-roads of the historyof mankind. It is therefore that we Prime Minister of five Asian countries are meeting here to discuss those crucial problems whice urge Indonesia to propose that another conference be convened wide3r in scope, between the African and Asian Nations. I am convined that the problems are not only convened to the Asian countries represented here but also are of equal importance to the Afrika and other Asian countries”.
(Kita sekarang berada dipersimpangan jalan sejatah umat manusia. Oleh karena itu kita Lima Perdana Menteri negara-negara Asia bertemu disini untuk membicarakan masalah-masalah yang krusial yang sedang dihadapi oleh masyarakat yang kita wakili. Ada beberapa hal yang mendorong Indonesia mengajukan usulan untuk mengadakan pertemuan lain yang lebih luas, antara negara-negara Afrika dan Asia . Saya percaya bahwa masalah-masalah itu tidak terjadi hanya di negara-negara Asia yang terwakili disini, tetapi juga sama pentingnya bagi negara-negara Afrika dan Asia lainnya”).
Pernyataan tersebut memberi arah kepada lahirnya Konferensi Asia Afrika.
Selanjutnya, soal perlunya Konferensi Asia Afrika diadakan, diajukan pula oleh Indonesia dalam sidang berikutnya. Usul itu akhirnya diterima oleh semua konferensi, walaupun masih dalam suasana keraguan.
Perdana Menteri Indonesia pergi ke Kolombo untuk memenuhi undangan Perdana Menteri Srilangka dengan membawa bahan-bahan hasil perumusan Pemerintah Indonesia . Bahan-bahan tersebut merupakan hasil rapat dinas Kepala-kepala Perwakilan Indonesia di negara-negara Asia dan Afrika yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Mr.Sunario. rapat dinas tersebut diadakan di tugu ( Bogor ) pada tanggal 9 Sampai dengan 22 Maret 1954.
Akhirnya, dalam pernyataan bersama pada akhir Konferensi Kolombo, dinyatakan bahwa para Perdana Menteri peserta konferensi mkembicarakan kehendak untuk mengadakan konferensi negara-negara Asia Afrika dan menyetujui usul agar Perdana Menteri Indonesia dapat menjejaki sampai dimana kemungkinannya mengadakan konferensi semacam itu.
USAHA-USAHA PERSIAPAN KONFERENSI
Konferensi Kolombo telah menugaskan Indonesia agar menjejaki kemungkinan untuk diadakannya Konferensi Asia Afrika. Dalam rangka menunaikan tugas itu Pemerintah Indonesia melakukan pendekatan melalui saluran diplomatic kepada 18 negara Asia Afrika. Maksudnya, untuk mengetahui sejauh mana pendapat negara-negara tersebut terhada ide mengadakan Konferensi Asia Afrika. Dalam pendekatan tersebut dijelasakan bahwa tujuan utama konferense tersebut ialah untuk membicarakan kepentingan bersama bangsa-bangsa Asia afrika pada saat itu, mendorong terciptanya perdamaian dunia, dan mempromosikan Indonesia sebagai tempat konferensi. Ternyata pada umumnya negara-negara yang dihubungi menyambut baik ide tersebut dan menyetujui Indonesia sebagai tuan rumahnya, walaupun dalam hal waktu dan peserta konferensi terdapat berbagai pendapat yang berbeda.
Pada tanggal 18 Agustus 1954, Perdana Menteri Jawaharlal Nehru dari India, melalui suratnya, mengingatkan Perdana Menteri Indonesia tentang perkembangan situasi dunia dewasa ini yang semakin gawat, sehubungan dengan adanya usul untuk mengadakan Konferensi Asia Afrika. Memang Perdana Menteri India dalam menerima usul itu masih disertai keraguan akan berhasil-tidaknya usul itu dilaksanakan. Barulah setelah kunjungan Perdana Menteri Indonesia pada tanggal 25 September 1954, beliau yakin benar akan pentingnya diadakan konferensi semacam itu, seperti tercermin dalam pernyataan bersama pada akhir kunjungan Perdan Menteri Indonesia :
“The prime reprensentatives discussed also the proposal to have a conference of representatives of Asians and African countries and were agreed that a conference of this kind was desirble and world be helpful in promoting. Is should be held at an early date”.
(“Para Perdana Menteri telah membicarakan usulan untuk mengadakan sebuah konferensi yang mewakili negara-negara Asia dan Afrika serta menyetujui konferensi seperti ini sangat diperlukan dan akan membantu terciptanya perdamaian sekaligus pendekatan bersama ke arah masalah (yang dihadapi). Hendaknya konferensi ini diadakan selekas mungkin”).
Keyakinan serupa dinyatakan pula oleh Perdana Menteri Birma U Nu pada tanggal 28 september 1954.
Dengan demikian, maka usaha-usaha penyelidikan atas kemungkinan diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika dianggap selesai dan berhasil serta usaha selanjutnya ialah mempersiapkan pelaksanaan konferensi itu.
Atas undangan Perdana Menteri Indonesia, para Perdan Menteri peserta Konferensi Kolombo (Birma, Srilangka, India, Indonesia, dan Pakistan) mengadakan Konferensi di Bogor pada tanggal 28 dan 29 Desember 1954, yang dikenal dengan sebutan Konferensi Panca Negara. Konferensi ini membicarakan persiapan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika.
Konferensi Bogor berhasil merumuskan kesepakatan bahwa Konferensi Asia Afrika diadakan atas penyelenggaraan bersama dan kelima negara peserta konferensi tersebut menjadi negara sponsornya. Undangan kepada negara-negara peserta disampaikan oleh Pemerintah Indonesia atas nama lima negara.
TUJUAN KONFERENSI
Konferensi Bogor menghasilkan 4 tujuan pokok Konferensi Asia Afrika yaitu :
1. Untuk memajukan goodwill (kehendak yang luhur) dan kerjasama antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika , untuk menjelajah serta memajukan kepentingan-kepentingan mereka , baik yang silih ganti maupun yang bersama, serta untuk menciptakan dan memajukan persahabatan serta perhubungan sebagai tetangga baik.
2. Untuk mempertimbangkan soal-soal serta hubungan-hubungan di lapangan social , ekonomi , dan kebudayaan Negara yang diwakili.
3. Untuk mempertimbangkan soal-soal yang berupa kepentingan khusus bangsa-bangsa Asia dan Afrika, misalnya soal-soal yang mengenai kedaulatan nasional dan tentang masalah-masalah rasialisme dan kolonialisme.
4. Untuk meninjau kedudukan Asia dan Afrika , serta rakyat-rakyatnya didalam dunis dewasa ini serta sumbangan yang dapat mereka berikan guna memajukan perdamaian serta kerja sama didunia.
PESERTA DAN WAKTU KONFERENSI
Negara-negara yang diundang disetujui berjumlah 25 negara.yaitu : Afganistan, Kamboja, Federasi Afrika Tengah, Republik Rakyat Tiongkok (China), Mesir, Ethiopia, Pantai Emas (Gold Coast), Iran, Irak, Jepang, Yordania, Laos, Libanon, Liberia, Libya, Nepal, Filipina, Saudi Arabia, Sudan, Syria, Thailand (Muang thai), Turki, Republik Demokrasi Vietnam (Vietnam Utara), Vietnam Selatan, dan Yaman . Waktu Konferensi ditetapkan pada minggu terakhir April 1995.
Mengingat Negara-negara yang akan diundang mempunyai politik luar negeri serta system politik dan social yang berbeda-beda.Konferensi Bogor menentukan bahwa menerima undangan untuk turut dalam konferensi Asia Afrika tidak berarti bahwa Negara peserta tersebut akan berubah atau dianggap berubah pendiriannya mengenai status dari negara-negara lain.Konferensi menjunjung tinggi pula asas bahwa bentuk pemerintahan atau cara hidup sesuatu negara sekali-sekali tidak akan dapat dicampuri oleh negara lain.Maksud utama konferensi ialah supaya negara-negara peserta menjadi lebih saling mengetahui pendirian mereka masing-masing
PELAKSANAAN KAA 1955 DI BANDUNG
Gedung Dana Pensiun dipersiapkan sebagai tempat sidang-sidang Konferensi . Hotel Homann, Hotel Preanger, dan 12 (duabelas) hotel lainnya serta perumahan perorangan dan pemerintah dipersiapkan pula sebagai tempat menginap para tamu yang berjumlah 1300 orang.
Keperluan transport dilayani oleh 143 mobil, 30 taksi, 20 bus, dengan jumlah 230 sopir dan 350 ton bensin tiap hari serta cadangan 175 ton bensin.
Dalam kesempatan memeriksa persiapan-persiapan terakhir di Bandung pada tanggal 17 April 1955, Presiden RI Soekarno meresmikan penggantian nama Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka, Gedung Dana Pensiun menjadi Gedung Dwi Warna, dan sebagian Jalan Raya Timur menjadi Jalan Asia Afrika. Penggantian nama tersebut dimaksudkan untuk lebih menyemarakkan konferensi dan menciptakan suasana konferensi yang sesuai dengan tujuan konferensi.
Pada tanggal 15 Januari 1955, surat undangan Konferensi Asia Afrika dikirimkan kepada Kepala Pemerintahan 25 (dua puluh lima ) negara Asia dan Afrika. Dari seluruh negara yang diundang hanya satu negara yang menolak undangan itu, yaitu Federasi Afrika Tengah (Central African Federation), karena memang negara itu masih dikuasai oleh orang-orang bekas penjajahnya. Sedangkan 24 (dua puluh empat) negara lainnya menerima baik undangan itu, meskipun pada mulanya ada negara yang masih ragu-ragu. Sebagian besar delegasi peserta konferensi tiba di Bandung lewat Jakarta pada tanggal 16 April 1955.
Dalam penutup komunike terakhir dinyatakan bahwa Konferensi Asia Afrika menganjurkan menganjurkan supaya kelima negara penyelenggara mempertimbangkan untuk diadakan pertemuan berikutnya dari konferensi ini, dengan meminta pendapat negara-negara pesreta lainnya. Tetapi usaha untuk mengadakan Konferensi Asia Afrika kedua sesalu mengalami hambatan yang sulit diatasi. Tatkala usaha itu hampir terwujud (1964), tiba-tiba di negara tuan rumah (Aljazair) terjadi pergantian pemerintahan, sehingga konferensi itu jadi.
Konferensi Asia Afrika di Bandung, telah berhasil menggalang persatuan dan kerja sama di antara negara-negara Asia dan Afrika,baik dalam menghadapi masalah internasional maupun masalah regiobal . Konferensi serupa bagi kalangan tertentu di Asia dan Afrika beberapa lkali diadakan pula, seperti Konferensi Wartawan Asia Afrika , Konferensi Islam Asia Afrika, Konferensi Pengarang Asia Afrika, dan Konferensi Mahasiswa Asia Afrika.
Konferensi Asia Afrika telah membakar semangat dan menambah kekuatan moral para pejuang bangsa-bangsa Asia da Afrika yang pada masa itu tengah memperjuangkan kemerdekaan tanah air mereka, sehingga kemudian lahirlah sejumlah negara merdeka dibenua Asia dan Afrika. Semua itu menandakan bahwa ciat-cita dan semangat Dasa Siala Bandung semakin merasuk kedalam tubuh bangsa-bangsa Aia dan Afrika.
Jiwa Bandung dengan Dasa Silanya telah mengubah pandangan dunia tentang hubungan internasional. Bandung telah melahirkan faham Dunia Ketiga atau “ Non-Aligned”terhadap dunia pertamanya Washington dan Dunia keduanya Moscow Jawa Bandung telah mengubah juga struktur perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Forum PBB bukan lagi forum eksklusif Barat dan Timur.
Sebagai penutup uraian singkat ini, dikutip bagian terakhir pidato penutupan Ketua Konferensi Asuia Afrika sebagai berikut : “May we continue on the way we have taken together and may the Bandung Conference stay as a beacom guiding the future progress of Asia and Afrika”
( “ Semoga kita dapat meneruskan perjalanan kita diatas jalan yang telah kita pilih bersama-sama dan semoga Konferensi Bandung ini tetap tegak sebagai sebuah mercusuar yang membimbing kemajuan dimasa depan dari Asia dan Afrika “)
KOMUNIKE AKHIR KONFERENSI ASIA AFRIKA
Konferensi Asia Afrika bersidang di Bandung dari tanggal 18 sampai 24 April 1955, atas undangan dari para Perdana Menteri Birma, Srilanka , India , Indonesia , dan Pakistan . Kecuali negara-negara sponsor, konferensi ini juga dihadiri oleh 24 negara sebagai berikut :
1. Kamboja
2. Republik Rakyat Cina
3. Ethiopia
4. Pantai Emas
5. Iran
6. Irak
7. Jepang
8. Yordania
9. Laos
10. Lebanon
11. Liberia
12. Libya
13. Nepal
14. Filipina
15. Saudi Arabia
16. Sudan
17. Syiria
18. Muang Thai
19. Turki
20. Republik Demokrasi Viet-Nam
21. Viet-nam Selatan
22. Yaman
23. Afganistan
24. Mesir
Konferensi Asia Afrika membicarakan masalah-masalah yang menjadi perhatian dan kepentingan bersama negara-negara Asia dan Afrika dan membahas cara-cara dan upaya-upaya agar rakyat mereka dapat mencapai kerjasama ekonomi , kebudayaan, dan politik yang lebih erat.
KERJASAMA EKONOMI
KERJASAMA KEBUDAYAAN
HAK-HAK ASASI MANUSIA DAN HAK MENENTUKAN NASIB SENDIRI
MASALAH RAKYAT-RAKYAT YANG BELUM MERDEKA
MASALAH-MASALAH LAINNYA
PENINGKATAN PERDAMAIAN DAN KERJASAMA DUNIA
DEKLARASI TENTANG PENINGKATAN PERDAMAIAN DAN KERJASAMA DUNIA
Konferensi Asia Afrika menyatakan keyakinannya, bahwa kerukunan kerjasama yang sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut akan memberikan sumbangan yang berhasilguna bagi pemeliharaan dan peningkatan perdamaian dan keamanan internasional, sedang bekerjasama dibidang ekonomi, sosial dan kebudayaan akan membantu terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran semua.
Konferensi Asia Afrika menganjurkan agar kelima negara sponsor memikirkan penyelenggaraan konferensi berikutnya, setelah berkonsultasi dengan negara-negara peserta.
Sumber : http://www.bandung.eu/2011/11/sejarah-konferensi-asia-afrika.html?m=1

Kilas Balik Konferensi Asia Afrika Bandung


Konferensi Asia–Afrika

Gedung Merdeka saat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika (disingkat KTT Asia Afrika atau KAA; kadang juga disebut Konferensi Bandung) adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon), India dan Pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.
Sebanyak 29 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu mengirimkan wakilnya. Konferensi ini merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan kekuatan-kekuatan Barat untuk mengkonsultasikan dengan mereka tentang keputusan-keputusan yang memengaruhi Asia pada masa Perang Dingin; kekhawatiran mereka mengenai ketegangan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Serikat; keinginan mereka untuk membentangkan fondasi bagi hubungan yang damai antara Tiongkok dengan mereka dan pihak Barat; penentangan mereka terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Perancis di Afrika Utara dan kekuasaan kolonial perancis di Aljazair; dan keinginan Indonesia untuk mempromosikan hak mereka dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat.
Sepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam apa yang disebut Dasasila Bandung, yang berisi tentang “pernyataan mengenai dukungan bagi kerusuhan dan kerjasama dunia”. Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru.
Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961.
Kilas balik
23 Agustus 1953 – Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo ( Indonesia ) di Dewan Perwakilan Rakyat Sementara mengusulkan perlunya kerjasama antara negara-negara di Asia dan Afrika dalam perdamaian dunia.
25 April– 2 Mei 1954 – Berlangsung Persidangan Kolombo di Sri Lanka. Hadir dalam pertemuan tersebut para pemimpin dari India, Pakistan, Burma (sekarang Myanmar), dan Indonesia. Dalam konferensi ini Indonesia memberikan usulan perlunya adanya Konferensi Asia-Afrika.
28 – 29 Desember 1954 – Untuk mematangkan gagasan masalah Persidangan Asia-Afrika, diadakan
Persidangan Bogor. Dalam persidangan ini dirumuskan lebih rinci tentang tujuan persidangan, serta siapa saja yang akan diundang.
18 – 24 April 1955 – Konferensi Asia-Afrika berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung. Persidangan ini diresmikan oleh Presiden Soekarno dan diketuai oleh PM Ali Sastroamidjojo. Hasil dari persidangan ini berupa persetujuan yang dikenal dengan Dasasila Bandung.
Pertemuan kedua (2005)
Prangko peringatan 50 tahun Konferensi Asia–Afrika
Prangko peringatan 50 tahun Konferensi Asia–Afrika
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika 2005
Untuk memperingati lima puluh tahun sejak pertemuan bersejarah tersebut, para Kepala Negara negara-negara Asia dan Afrika telah diundang untuk mengikuti sebuah pertemuan baru di Bandung dan
Jakarta antara 19 -24 April 2005. Sebagian dari pertemuan itu dilaksanakan di Gedung Merdeka, lokasi pertemuan lama pada 50 tahun lalu. Sekjen PBB , Kofi Annan juga ikut hadir dalam pertemuan ini. KTT Asia–Afrika 2005 menghasilkan NAASP (New Asian-African Strategic Partnership, Kerjasama Strategis Asia-Afrika yang Baru), yang diharapkan akan membawa Asia dan Afrika menuju masa depan yang lebih baik berdasarkan ketergantungan-sendiri yang kolektif dan untuk memastikan adanya lingkungan internasional untuk kepentingan para rakyat Asia dan Afrika.
Pertemuan ketiga (2015)
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika 2015
Terkait kepastian para kepala negara yang akan hadir dalam KAA, sampai saat ini sudah ada 72 kepala negara yang menyatakan kesiapan hadir dalam KAA. Kementerian Luar Negeri memastikan 72 negara telah mengonfirmasi kehadirannya. KAA ke-60 akan dilaksanakan di 2 kota yaitu Jakarta pada 19-23 April dan Bandung pada 24 April. Agenda KAA meliputi “Asia-Afrika Bussiness Summit” dan “Asia-Africa Carnival”. Tema yang dibawa Indonesia dalam acara yang akan dihadiri 109 pemimpin negara dan 25 organisasi internasional tersebut adalah peningkatan kerja sama negara-negara di kawasan Selatan, kesejahteraan, serta perdamaian. [1]
Menurut informasi, dari 109 negara, 17 observer yang diundang, sampai beberapa hari lalu yang menyatakan partisipasi 85 negara. Kepala negara yang konfirmasi hadir itu sebanyak 24 kepala negara. Tapi, konten lebih lengkap ada di Kementerian Luar Negeri. Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un sempat dikabarkan akan hadir dalam Konferensi Asia Afrika (KAA). Hal tersebut sebelumnya diberitakan di yonhap.kr.co, Minggu 25 Januari lalu. Jika kehadiran itu benar-benar terjadi, hal ini merupakan yang pertama bagi pemimpin Korea Utara itu menghadiri pertemuan internasional. Semenjak dia mengambil alih pemerintahan Korea Utara pada 2011, belum pernah ada laporan resmi mengenai perjalanan luar negeri Kim Jong-un. Tetapi sebelumnya dikabarkan, Dubes Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK/Korut) untuk Indonesia Ri Jong Ryul membantah informasi kedatangan ‘Supreme Leader’. Dia mengatakan, Presiden Presidium Majelis Tertinggi Rakyat DPRK Kim Yong-nam yang bakal datang ke Tanah Air, bukan Kim Jong-un. [2] Apabila Kim Jong-un bisa hadir di KAA ke-60, maka ini merupakan sejarah baru.
Sebentar lagi acara skala internasional Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun ini akan digelar. Undangan untuk beberapa negara terkait pun telah dikirim. Penanggung jawab Panitia Nasional Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) Luhut Pandjaitan mengatakan, dari 109 negara di Asia dan Afrika, tidak semua mendukung kemerdekaan Palestina. Karena itu, Pemerintah RI akan mendorong peserta KAA yang hadir, agar turut mendukung deklarasi tersebut. Dukungan pemerintah Indonesia terhadap Palestina sebagai negara merdeka, akan diwujudkan dalam pelaksaan Konferensi Asia Afrika (KAA). Indonesia akan menggalang deklarasi dukungan penuh. Hingga saat ini draf dukungan Palestina merdeka masih dibahas perwakilan Indonesia di New York. Luhut di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa 31/3/2015 mengatakan, “Saya belum tahu perkembangan terakhir. Tapi itu menjadi usulan dari pemerintah Indonesia dan itu janji presiden. Kementerian Luar Negeri kita masih melobi itu. Mudah-mudahan bisa kita capai.” Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, Indonesia mempunyai arti penting bagi Palestina. Seperti komitmen Jokowi sejak awal menjadi presiden, pemerintah RI akan terus mendorong deklarasi ini, agar Palestina menjadi negara merdeka dan masuk anggota PBB. “Dan itu saya pikir, sangat penting untuk kita dorong mengenai kemerdekaan Palestina dan dukungan penuh Palestina masuk PBB,” tegas Luhut.
[3] ) Hal ini, mendukung bagi kemerdekaan suatu bangsa, merupakan komitmen Indonesia sejak diproklamasikan sebagaimana tertuang di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Salah satu yang telah menerima undangan dan menyatakan ingin menghadiri acara yang akan dilaksanakan di Jakarta dan Bandung pada 22-24 April mendatang adalah Yordania. Namun kepastian kehadiran Raja Yordania, Abdullah II belum bisa dipastikan. Masih perlu menunggu konfirmasi dari pihak protokol kerajaan. Hal itu, disampaikan Raja Abdullah II kepada Utusan Khusus Presiden RI, Alwi Shihab, di Istana Hussainiya, Amman, Yordania, Rabu 18 Maret 2015. Pada pertemuan tersebut, Raja Yordania dan Utusan Khusus Presiden RI juga mendiskusikan berbagai isu penting di kawasan yang menjadi perhatian bersama. Salah satu isu yang mengemuka adalah mengenai pentingnya pengembangan pemikiran dan pemahaman Islam yang moderat di kalangan umat Islam. “Kedua pihak memandang bahwa langkah tersebut dapat mendorong berkembangnya pemikiran dan gerakan umat Islam yang membawa pesan damai dan manfaat bagi seluruh umat manusia,” demikian dijelaskan pihak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) yang diterima Jumat, 20/3/2015. [4]
Peserta
Pelopor KAA
Ali Sastroamidjojo
Mohammad Ali Bogra
Jawaharlal Nehru
Sir John Kotelawala
U Nu
Afganistan
Arab Saudi
Burma
Ceylon
Republik Rakyat Tiongkok
Ethiopia
India
Indonesia
Irak
Iran
Jepang
Kamboja
Laos
Lebanon
Liberia
Libya
Mesir
Nepal
Pakistan
Filipina
Siprus 1
Sudan
Suriah
Thailand
Turki
Republik Demokratik Vietnam
Negara Vietnam (Republik Vietnam)
Kerajaan Mutawakkilīyah Yaman
Yordania
Lihat pula
Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika 2005
Perserikatan Bangsa Bangsa
Gerakan Non Blok
Perang Dingin
Dunia Ketiga
Referensi
1. ^ http://news.liputan6.com/read/2212836/72-negara-pastikan-ikut-kaa-di-jakarta-bandung
2. ^ 24 Kepala Negara Akan Hadir di KAA, Termasuk Kim Jong-un? – Liputan6.com
3. ^ Indonesia Galang Deklarasi Dukungan Palestina Merdeka di KAA – Liputan6.com
4. ^ Terima Undangan KAA, Raja Yordania Bahas Pemahaman Islam – Liputan6.com
5. ^ Cyprus and the Non–Aligned Movement , Ministry of Foreign Affairs, (April, 2008)
Bacaan lebih lanjut
Asia-Africa Speaks From Bandung. Jakarta: Ministry of Foreign Affairs, Republic of Indonesia, 1955.
Kahin, George McTurnan. The Asian-African Conference: Bandung, Indonesia, April 1955. Ithaca: Cornell University Press, 1956.
Mackie, Jamie. Bandung 1955: Non-alignment and Afro-Asian Solidarity. Singapore: Editions Didier Millet, 2005. ISBN 981-4155-49-7
Ampiah, Kweku. The Political and Moral Imperatives of the Bandung Conference of 1955 : the Reactions of the US, UK and Japan. Folkestone, UK : Global Oriental, 2007. ISBN 190-5246-40-4
Finnane, Antonia, and Derek McDougall, eds, Bandung 1955: Little Histories. Melbourne: Monash Asia Institute, 2010. ISBN 9781876924737
Pranala luar
Modern History Sourcebook: Prime Minister Nehru: Speech to Asian-African Conference Political Committee, 1955
Modern History Sourcebook: President Sukarno of Indonesia: Speech at the Opening of the Asian-African Conference, 18 April 1955
“Asian-African Conference: Communiqué; Excerpts” . Egyptian presidency website. 24 April 1955. Diarsipkan dari aslinya tanggal 23 April 2011.

Sumber : Wikipedia