Inilah Keutamaan Shalat Malam dan Anjurannya


​KEUTAMAAN SHALAT MALAM DAN ANJURANNYA

Oleh : Muhammad bin Suud Al-Uraifi

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan di dalam al-Qur-an pada banyak ayat dan juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits tentang besarnya pahala yang diperoleh dari melaksanakan shalat malam. Bahkan, ketahuilah wahai pembaca yang budiman –sebelum kami memaparkan ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut– bahwa shalat yang paling baik setelah shalat wajib adalah shalat malam, dan hal ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan) ulama.[1]

Ayat-Ayat Tentang Keutamaan Shalat Malam Dan Anjurannya

Di dalam banyak ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan kepada Nabi-Nya yang mulia untuk melakukan shalat malam. Antara lain adalah:

ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻓَﺘَﻬَﺠَّﺪْ ﺑِﻪِ

“Dan pada sebagian malam hari shalat Tahajjud-lah kamu….” [Al-Israa’/17: 79]

ﻭَﺍﺫْﻛُﺮِ ﺍﺳْﻢَ ﺭَﺑِّﻚَ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴﻠًﺎ ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻓَﺎﺳْﺠُﺪْ ﻟَﻪُ ﻭَﺳَﺒِّﺤْﻪُ ﻟَﻴْﻠًﺎ ﻃَﻮِﻳﻠًﺎ

“Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” [Al-Insaan/76: 25-26].

ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻓَﺴَﺒِّﺤْﻪُ ﻭَﺃَﺩْﺑَﺎﺭَ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ

“Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai shalat.” [Qaaf/50: 40].

ﻭَﺍﺻْﺒِﺮْ ﻟِﺤُﻜْﻢِ ﺭَﺑِّﻚَ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﺑِﺄَﻋْﻴُﻨِﻨَﺎ ۖ ﻭَﺳَﺒِّﺢْ ﺑِﺤَﻤْﺪِ ﺭَﺑِّﻚَ ﺣِﻴﻦَ ﺗَﻘُﻮﻡُ ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻓَﺴَﺒِّﺤْﻪُ ﻭَﺇِﺩْﺑَﺎﺭَ ﺍﻟﻨُّﺠُﻮﻡِ

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabb-mu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu ketika kamu bangun berdiri, dan bertasbihlah kepada-Nya pada be-berapa saat di malam hari dan waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).” [Ath-Thuur/52: 48-49]

Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan memerintahkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah selesai melakukan shalat wajib agar melakukan shalat malam,[2] hal itu sebagaimana terdapat pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻓَﺮَﻏْﺖَ ﻓَﺎﻧْﺼَﺐْ ﻭَﺇِﻟَﻰٰ ﺭَﺑِّﻚَ ﻓَﺎﺭْﻏَﺐْ

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabb-mu-lah hendaknya kamu berharap.” [Asy-Syarh/94 : 7-8)

Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memuji para hamba-Nya yang shalih yang senantiasa melakukan shalat malam dan bertahajjud, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻣَﺎ ﻳَﻬْﺠَﻌُﻮﻥَ ﻭَﺑِﺎﻟْﺄَﺳْﺤَﺎﺭِ ﻫُﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻭﻥَ

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” [Adz-Dzaariyaat/51: 17-18]

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Tak ada satu pun malam yang terlewatkan oleh mereka melainkan mereka melakukan shalat walaupun hanya beberapa raka’at saja.”[3]

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Setiap malam mereka tidak tidur kecuali sangat sedikit sekali.”[4]

Al-Hasan juga berkata, “Mereka melakukan shalat malam dengan lamanya dan penuh semangat hingga tiba waktu memohon ampunan pada waktu sahur.”[5]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam memuji dan menyanjung mereka:

ﺗَﺘَﺠَﺎﻓَﻰٰ ﺟُﻨُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻀَﺎﺟِﻊِ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺭَﺑَّﻬُﻢْ ﺧَﻮْﻓًﺎ ﻭَﻃَﻤَﻌًﺎ ﻭَﻣِﻤَّﺎ ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻢُ ﻧَﻔْﺲٌ ﻣَﺎ ﺃُﺧْﻔِﻲَ ﻟَﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﻗُﺮَّﺓِ ﺃَﻋْﻴُﻦٍ ﺟَﺰَﺍﺀً ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkah-kan sebagian dari rizki yang Kami berikan ke-pada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [As-Sajdah/32: 16-17]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan apa yang mereka lakukan adalah shalat malam dan meninggalkan tidur serta berbaring di atas tempat tidur yang empuk.”[6]

Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Cobalah renungkan bagaimana Allah membalas shalat malam yang mereka lakukan secara sembunyi dengan balasan yang Ia sembunyikan bagi mereka, yakni yang tidak diketahui oleh semua jiwa. Juga bagaimana Allah membalas rasa gelisah, takut dan gundah gulana mereka di atas tempat tidur saat bangun untuk melakukan shalat malam dengan kesenangan jiwa di dalam Surga.”[7]

Dari Asma’ binti Yazid Radhiyallahu anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺇِﺫَﺍ ﺟَﻤَﻊَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍْﻷَﻭَّﻟِﻴْﻦَ ﻭَﺍْﻵﺧِﺮِﻳْﻦَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﺟَﺎﺀَ ﻣُﻨَﺎﺩٍ ﻓَﻨَﺎﺩَﻯ ﺑِﺼَﻮْﺕٍ ﻳَﺴْﻤَﻊُ ﺍﻟْﺨَﻼَﺋِﻖُ : ﺳَﻴَﻌْﻠَﻢُ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟْﺠَﻤْﻊِ ﺍَﻟْﻴَﻮْﻡَ ﻣَﻦْ ﺃَﻭْﻟَﻰ ﺑِﺎﻟْﻜَﺮَﻡِ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﺟِﻊُ ﻓَﻴُﻨَﺎﺩِﻱ : ﻟِﻴَﻘُﻢَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻛﺎَﻧَﺖْ ‏( ﺗَﺘَﺠَﺎﻓَﻰ ﺟُﻨُﻮْﺑُﻬُﻢْ ‏) ﻓَﻴَﻘُﻮْﻣُﻮْﻥَ ﻭَﻫُﻢْ ﻗَﻠِﻴْﻞٌ .

“Bila Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga yang terakhir pada hari Kiamat kelak, maka datang sang penyeru lalu memanggil dengan suara yang terdengar oleh semua makhluk, ‘Hari ini semua yang berkumpul akan tahu siapa yang pantas mendapatkan kemuliaan!’ Kemudian penyeru itu kembali seraya berkata, ‘Hendaknya orang-orang yang ‘lambungnya jauh dari tempat tidur’ bangkit, lalu mereka bangkit, sedang jumlah mereka sedikit.”[8]

Di antara ayat-ayat yang memuji orang-orang yang selalu melakukan shalat malam adalah firman Allah:

ﺃَﻣَّﻦْ ﻫُﻮَ ﻗَﺎﻧِﺖٌ ﺁﻧَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﺳَﺎﺟِﺪًﺍ ﻭَﻗَﺎﺋِﻤًﺎ ﻳَﺤْﺬَﺭُ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓَ ﻭَﻳَﺮْﺟُﻮ ﺭَﺣْﻤَﺔَ ﺭَﺑِّﻪِ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabb-nya?…” [Az-Zumar/39: 9].

ﻟَﻴْﺴُﻮﺍ ﺳَﻮَﺍﺀً ۗ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺃُﻣَّﺔٌ ﻗَﺎﺋِﻤَﺔٌ ﻳَﺘْﻠُﻮﻥَ ﺁﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺁﻧَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﻫُﻢْ ﻳَﺴْﺠُﺪُﻭﻥَ

“Mereka itu tidak sama, di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat).” [Ali ‘Imraan/3: 113]

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺒِﻴﺘُﻮﻥَ ﻟِﺮَﺑِّﻬِﻢْ ﺳُﺠَّﺪًﺍ ﻭَﻗِﻴَﺎﻣًﺎ

“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” [Al-Furqaan/25: 64]

ﺳِﻴﻤَﺎﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﺛَﺮِ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ

“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud….” [Al-Fat-h/48: 29]

ﺍﻟﺼَّﺎﺑِﺮِﻳﻦَ ﻭَﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻗِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻘَﺎﻧِﺘِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﻨْﻔِﻘِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻐْﻔِﺮِﻳﻦَ ﺑِﺎﻟْﺄَﺳْﺤَﺎﺭِ

“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” [Ali-‘Imran/3: 17].

Dan lain sebagainya dari ayat-ayat al-Qur-an.

Saya katakan, “Barangsiapa yang menginginkan pengetahuan yang bermanfaat dan faidah yang banyak, hendaknya menelaah penafsiran ayat-ayat ini dalam kitab-kitab tafsir, karena di sana terdapat manfaat dan faidah yang amat besar. Saya sengaja tidak memaparkannya di sini, semata karena komitmen saya untuk membahas secara ringkas dan tidak mendalam.”

Hadits-Hadits Tentang Keutamaan Shalat Malam Dan Anjurannya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan kepada para Sahabatnya untuk melakukan shalat malam dan membaca al-Qur-an di dalamnya. Hadits-hadits yang mengungkapkan tentang hal ini sangat banyak untuk dapat dihitung. Namun kami hanya akan menyinggung sebagiannya saja, berikut panda-ngan para ulama sekitar masalah ini.

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﺑَﻌْﺪَ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﻤَﻔْﺮُﻭْﺿَﺔِ، ﺻَﻼَﺓُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ .

“Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat yang dilakukan di malam hari.”[9]

Al-Bukhari rahimahullah berkata: “Bab Keutamaan Shalat Malam.” Selanjutnya ia membawakan hadits dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa ia berkata: “Seseorang di masa hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bermimpi menceritakannya kepada beliau. Maka aku pun berharap dapat bermimpi agar aku ceritakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat aku muda aku tidur di dalam masjid lalu aku bermimpi seakan dua Malaikat membawaku ke Neraka. Ternyata Neraka itu berupa sumur yang dibangun dari batu dan memiliki dua tanduk. Di dalamnya terdapat orang-orang yang aku kenal. Aku pun berucap, ‘Aku berlindung kepada Allah dari Neraka!’ Ibnu ‘Umar melanjutkan ceritanya, ‘Malaikat yang lain menemuiku seraya berkata, ‘Jangan takut!’ Akhirnya aku ceritakan mimpiku kepada Hafshah dan ia menceritakannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda:

ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ .

‘Sebaik-baik hamba adalah ‘Abdullah seandainya ia melakukan shalat pada sebagian malam.’

Akhirnya ‘Abdullah tidak pernah tidur di malam hari kecuali hanya beberapa saat saja.”[10]

Ibnu Hajar berkata: “Yang menjadi dalil dari masalah ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Sebaik-baik hamba adalah ‘Abdullah seandainya ia melakukan shalat pada sebagian malam.’ Kalimat ini mengindikasikan bahwa orang yang melakukan shalat malam adalah orang yang baik.”[11]

Ia berkata lagi, “Hadits ini menunjukkan bahwa shalat malam bisa menjauhkan orang dari adzab.”[12]

‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melakukan shalat malam hingga kedua telapak kakinya pecah-pecah.”[13]

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻳَﻌْﻘِﺪُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﺎﻓِﻴَﺔِ ﺭَﺃْﺱِ ﺃَﺣَﺪِﻛُﻢْ ﺇِﺫَﺍ ﻫُﻮَ ﻧَﺎﻡَ ﺛَﻼَﺙَ ﻋُﻘَﺪٍ ﻳَﻀْﺮِﺏُ ﻛُﻞَّ ﻋُﻘْﺪَﺓٍ : ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻟَﻴْﻞٌ ﻃَﻮِﻳْﻞٌ ﻓَﺎﺭْﻗُﺪْ ! ﻓَﺈِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻴْﻘَﻆَ ﻓَﺬَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍِﻧْﺤَﻠَّﺖْ ﻋُﻘْﺪَﺓٌ، ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﻮَﺿَّﺄَ ﺍِﻧْﺤَﻠَّﺖْ ﻋُﻘْﺪَﺓٌ، ﻓَﺈِﻥْ ﺻَﻠَّﻰ ﺍِﻧْﺤَﻠَّﺖْ ﻋُﻘْﺪَﺓٌ، ﻓَﺄَﺻْﺒَﺢَ ﻧَﺸِﻴْﻄًﺎ ﻃَﻴِّﺐَ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ، ﻭَﺇِﻻَّ ﺃَﺻْﺒَﺢَ ﺧَﺒِﻴْﺚَ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ﻛَﺴْﻼَﻥَ .

“Syaitan mengikat di pangkal kepala seseorang darimu saat ia tidur dengan tiga ikatan yang pada masing-masingnya tertulis, ‘Malammu sangat panjang, maka tidurlah!’ Bila ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, maka satu ikatan lepas, bila ia berwudhu’ satu ikatan lagi lepas dan bila ia shalat satu ikatan lagi lepas. Maka di pagi hari ia dalam keadaan semangat dengan jiwa yang baik. Namun jika ia tidak melakukan hal itu, maka di pagi hari jiwanya kotor dan ia menjadi malas.”[14]

Ibnu Hajar berkata: “Apa yang terungkap dengan jelas dalam hadits ini adalah, bahwa shalat malam memiliki hikmah untuk kebaikan jiwa walaupun hal itu tidak dibayangkan oleh orang yang melakukannya, dan demikian juga sebaliknya. Inilah yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya:

ﺇِﻥَّ ﻧَﺎﺷِﺌَﺔَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻫِﻲَ ﺃَﺷَﺪُّ ﻭَﻃْﺌًﺎ ﻭَﺃَﻗْﻮَﻡُ ﻗِﻴﻠًﺎ

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih terkesan.” [Al-Muzzammil/73: 6]

Sebagian ulama menarik kesimpulan dari hadits ini bahwa orang yang melakukan shalat malam lalu ia tidur lagi, maka syaitan tidak akan kembali untuk mengikat dengan beberapa ikatan seperti semula.”[15]

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡِ ﺑَﻌْـﺪَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺷَﻬْﺮُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡُ، ﻭَﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻔَﺮِﻳْﻀَﺔِ ﺻَﻼَﺓُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ .

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (berpuasa pada) bulan Allah yang mulia (Muharram) dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[16]

An-Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini menjadi dalil bagi kesepakatan ulama bahwa shalat sunnah di malam hari adalah lebih baik daripada shalat sunnah di siang hari.”[17]

Ath-Thibi berkata: “Demi hidupku, sungguh, seandainya tidak ada keutamaan dalam melakukan shalat Tahajjud selain pada firman Allah:

ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻓَﺘَﻬَﺠَّﺪْ ﺑِﻪِ ﻧَﺎﻓِﻠَﺔً ﻟَﻚَ ﻋَﺴَﻰٰ ﺃَﻥْ ﻳَﺒْﻌَﺜَﻚَ ﺭَﺑُّﻚَ ﻣَﻘَﺎﻣًﺎ ﻣَﺤْﻤُﻮﺩًﺍ

“Dan pada sebagian malam hari bershalat ta-hajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengang-katmu ke tempat yang terpuji.” [Al-Israa’/17: 79]

Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ﺗَﺘَﺠَﺎﻓَﻰٰ ﺟُﻨُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻀَﺎﺟِﻊِ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺭَﺑَّﻬُﻢْ ﺧَﻮْﻓًﺎ ﻭَﻃَﻤَﻌًﺎ ﻭَﻣِﻤَّﺎ ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻢُ ﻧَﻔْﺲٌ ﻣَﺎ ﺃُﺧْﻔِﻲَ ﻟَﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﻗُﺮَّﺓِ ﺃَﻋْﻴُﻦٍ ﺟَﺰَﺍﺀً ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata…” [As-Sajdah/32: 16-17].

Juga ayat-ayat yang lainnya, maka hal itu sudah cukup menjadi bukti keistimewaan shalat ini.”[18]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma ia menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺃَﺣَﺐُّ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻼَﺓُ ﺩَﺍﻭُﺩَ، ﻭَﺃَﺣَﺐُّ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻِﻴَﺎﻡُ ﺩَﺍﻭُﺩَ : ﻛﺎَﻥَ ﻳَﻨَﺎﻡُ ﻧِﺼْﻒَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﻳَﻘُﻮْﻡُ ﺛُﻠُﺜَﻪُ ﻭَﻳَﻨَﺎﻡُ ﺳُﺪُﺳَﻪُ، ﻭَﻳَﺼُﻮْﻡُ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻭَﻳُﻔْﻄِﺮُ ﻳَﻮْﻣًﺎ .

“Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Nabi Dawud Alaihissallam dan puasa yang paling dicintai Allah juga puasa Nabi Dawud Alaihissallam. Beliau tidur setengah malam, bangun sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam serta berpuasa sehari dan berbuka sehari.”[19]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Al-Mahlabi mengatakan Nabi Dawud Alaihissallam mengistirahatkan dirinya dengan tidur pada awal malam lalu ia bangun pada waktu di mana Allah menyeru, ‘Adakah orang yang meminta?, niscaya akan Aku berikan permintaannya!’ lalu ia meneruskan lagi tidurnya pada malam yang tersisa sekedar untuk dapat beristirahat dari lelahnya melakukan shalat Tahajjud. Tidur terakhir inilah yang dilakukan pada waktu Sahur. Metode seperti ini lebih dicintai Allah karena bersikap sayang terhadap jiwa yang dikhawatirkan akan merasa bosan (jika dibebani dengan beban yang berat,-ed) dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻻَ ﻳَﻤَﻞُّ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻤَﻠُّﻮْﺍ .

‘Sesungguhnya Allah tidak akan pernah merasa bosan sampai kalian sendiri yang akan merasa bosan.’

Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin selalu melimpahkan karunia-Nya dan memberikan kebaikan-Nya.”[20]

Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻟَﺴَﺎﻋَـﺔً، ﻻَ ﻳُﻮَﺍﻓِﻘُﻬَﺎ ﺭَﺟُـﻞٌ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ ﻳَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ ﺇِﻻَّ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺇِﻳَّﺎﻩُ، ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻞَّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ .

“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam.”[21]

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menetapkan adanya waktu dikabulkannya do’a pada setiap malam, dan mengandung dorongan untuk selalu berdo’a di sepanjang waktu malam, agar mendapatkan waktu itu.”[22]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺭَﺣِﻢَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺭَﺟُـﻼً، ﻗَﺎﻡَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻓَﺼَﻠَّﻰ، ﻭَﺃَﻳْﻘَﻆَ ﺍِﻣْﺮَﺃَﺗَﻪُ ﻓَﺼَﻠَّﺖْ، ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺑَﺖْ ﻧَﻀَﺢَ ﻓِﻲْ ﻭَﺟْﻬِﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ، ﻭَﺭَﺣِﻢَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍِﻣْﺮَﺃَﺓً، ﻗَﺎﻣَﺖْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻓَﺼَﻠَّﺖْ، ﻭَ ﺃَﻳْﻘَﻈَﺖْ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ، ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺑَﻰ ﻧَﻀَﺤَﺖْ ﻓِﻲْ ﻭَﺟْﻬِﻪِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ .

“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di waktu malam lalu shalat dan ia pun membangunkan isterinya lalu sang istri juga shalat. Bila istri tidak mau bangun ia percikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang isteri yang bangun di waktu malam lalu ia shalat dan ia pun membangunkan suaminya. Bila si suami enggan untuk bangun ia pun memercikkan air ke wajahnya.”[23]

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻴْﻘَﻆَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﺃَﻳْﻘَﻆَ ﺃَﻫْﻠَﻪُ ﻓَﺼَﻠَّﻴَﺎ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺟَﻤِﻴْﻌًﺎ، ﻛُﺘِﺒَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺬَّﺍﻛِﺮِﻳْﻦَ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﺍﻟﺬَّﺍﻛِﺮَﺍﺕِ .

“Barangsiapa yang bangun di waktu malam dan ia pun membangunkan isterinya lalu mereka shalat bersama dua raka’at, maka keduanya akan dicatat termasuk kaum laki-laki dan wanita yang banyak berdzikir kepada Allah.”[24]

Al-Munawi berkata, “Hadits ini seperti dikemukakan oleh ath-Thibi menunjukkan bahwa orang yang mendapatkan kebaikan seyogyanya menginginkan untuk orang lain apa yang ia inginkan untuk dirinya berupa kebaikan, lalu ia pun memberikan kepada yang terdekat terlebih dahulu.”[25]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻳُﺒْﻐِﺾُ ﻛُﻞَّ ﺟَﻌْﻈَﺮِﻱٍّ ﺟَﻮَّﺍﻅٍ، ﺻَﺤَّﺎﺏٍ ﻓِﻲ ﺍْﻷَﺳْﻮَﺍﻕِ، ﺟِﻴْﻔَﺔٍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﺣِﻤَﺎﺭٍ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻋَﺎﻟِﻢٍ ﺑِﺄَﻣْﺮِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺑِﺄَﻣْﺮِ ﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ .

“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang perilakunya kasar, sombong, tukang makan dan minum serta suka berteriak di pasar. Ia seperti bangkai di malam hari dan keledai di siang hari. Dia hanya tahu persoalan dunia tapi buta terhadap urusan akhirat.’”[26]

Dari Anas Radhiyallahu anhu ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻَﻼَﺓَ ﻗَﻮْﻡٍ ﺃَﺑْﺮَﺍﺭٍ ﻳَﻘُﻮْﻣُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞَ ﻭَﻳَﺼُﻮْﻣُﻮْﻥَ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ، ﻟَﻴْﺴُﻮْﺍ ﺑِﺄَﺛَﻤَﺔٍ ﻭَﻻَ ﻓُﺠَّﺎﺭٍ .

“Allah telah menjadikan pada kalian shalat kaum yang baik; mereka shalat di waktu malam dan berpuasa di waktu siang. Mereka bukanlah para pelaku dosa dan orang-orang yang jahat.”[27]

Dari ‘Abdullah bin Salam Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Yang pertama kali aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sabda beliau:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺃَﻓْﺸُﻮﺍ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡَ، ﻭَﺃَﻃْﻌِﻤُﻮﺍ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ، ﻭَﺻِﻠُﻮﺍ ﺍْﻷَﺭْﺣَـﺎﻡَ، ﻭَﺻَﻠُّﻮْﺍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻧِﻴَﺎﻡٌ، ﺗَﺪْﺧُﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺑِﺴَﻼَﻡٍ .

“Wahai manusia, tebarkan salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah di malam hari saat manusia tertidur, niscaya kalian akan masuk ke dalam Surga dengan selamat.”[28]

‘Abdullah bin Qais mengatakan, bahwa ‘Aisyah Radhiyallahun anhuma berkata: “Janganlah kalian meninggalkan shalat malam karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit atau malas, beliau shalat dalam keadaan duduk.”[29]

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻓَﻀْﻞُ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟﻠَّـﻴْﻞِ ﻋَﻠَﻰ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻛَﻔَﻀْﻞِ ﺻَﺪَﻗَﺔِ ﺍﻟﺴِّﺮِّ ﻋَﻠَﻰ ﺻَﺪَﻗَﺔِ ﺍﻟْﻌَﻼَﻧِﻴَﺔِ .

“Keutamaan shalat malam atas shalat siang, seperti keutamaan bersedekah secara sembunyi atas bersedekah secara terang-terangan.”[30]

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu ia menuturkan pula, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺃَﻻَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻳَﻀْﺤَﻚُ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺟُﻠَﻴْﻦِ : ﺭَﺟُﻞٌ ﻗَـﺎﻡَ ﻓِﻲْ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﺑَﺎﺭِﺩَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻓِﺮَﺍﺷِﻪِ ﻭَﻟِﺤَﺎﻓِﻪِ ﻭَﺩِﺛَﺎﺭِﻩِ، ﻓَﺘَﻮَﺿَّﺄَ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻡَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ، ﻓَﻴَﻘُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻟِﻤَﻼَﺋِﻜَﺘِﻪِ : ﻣَﺎ ﺣَﻤَﻞَ ﻋَـﺒْﺪِﻱْ ﻫَﺬَﺍ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﺻَﻨَﻊَ؟ ﻓَﻴَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ : ﺭَﺑُّﻨَﺎ ﺭَﺟَﺎﺀً ﻣَﺎ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﻭَﺷَﻔَﻘَﺔً ﻣِﻤَّﺎ ﻋِﻨْﺪَﻙَ، ﻓَﻴَﻘُﻮْﻝُ : ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻗَﺪْ ﺃَﻋْﻄَﻴْﺘُﻪُ ﻣَﺎ ﺭَﺟَﺎ ﻭَﺃَﻣَّﻨْﺘُﻪُ ﻣِﻤَّﺎ ﻳُﺨَﺎﻑُ .

“Ketahuilah, sesungguhnya Allah tertawa terhadap dua orang laki-laki: Seseorang yang bangun pada malam yang dingin dari ranjang dan selimutnya, lalu ia berwudhu’ dan melakukan shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada para Malaikat-Nya, ‘Apa yang mendorong hamba-Ku melakukan ini?’ Mereka menjawab, ‘Wahai Rabb kami, ia melakukan ini karena mengharap apa yang ada di sisi-Mu dan takut dari apa yang ada di sisi-Mu pula.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan.’”[31]

Masih banyak lagi hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang keutamaan shalat malam, dorongan terhadapnya dan kedudukan orang-orang yang senantiasa melakukannya.

Atsar Sahabat Dan Kaum Salaf Tentang Keutamaan Shalat Malam Dan Anjurannya

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Sesungguhnya di dalam Taurat tertulis, ‘Sungguh Allah telah memberikan kepada orang-orang yang lambungnya jauh dari tempat tidur apa yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia, yakni apa yang tidak di-ketahui oleh Malaikat yang dekat kepada Allah dan Nabi yang diutus-Nya.’”[32]

Dari Ya’la bin ‘Atha’ ia meriwayatkan dari bibinya Salma, bahwa ia berkata, “‘Amr bin al-‘Ash berkata, ‘Wahai Salma, shalat satu raka’at di waktu malam sama dengan shalat sepuluh raka’at di waktu siang.”[33]

‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata, “Seandainya tidak ada tiga perkara; seandainya aku tidak pergi berjihad di jalan Allah, seandainya aku tidak mengotori dahiku dengan debu karena ber-sujud kepada Allah dan seandainya aku tidak duduk bersama orang-orang yang mengambil kata-kata yang baik seperti mereka mengambil kurma-kurma yang baik, maka aku merasa senang berjumpa dengan Allah.”[34]

Saat menjelang wafatnya Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Tidak ada sesuatu yang sangat aku sedihkan di dunia ini selain rasa dahaga di siang hari dan kelelahan di malam hari.”

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata, “Kemulian seseorang terletak pada shalatnya di malam hari dan sikapnya menjauhi apa yang ada pada tangan orang lain.”[35]

Thalhah bin Mashraf berkata, “Aku mendengar bila seorang laki-laki bangun di waktu malam untuk melakukan shalat malam, Malaikat memanggilnya, ‘Berbahagialah engkau karena engkau telah menempuh jalan para ahli ibadah sebelummu.’” Thalhah mengatakan lagi, “Malam itu pun berwasiat kepada malam setelahnya agar membangunkannya pada waktu di mana ia bangun.” Thalhah mengatakan lagi, “Kebaikan turun dari atas langit ke pembelahan rambutnya dan ada penyeru yang berseru, ‘Seandainya seorang yang bermunajat tahu siapa yang ia seru, maka ia tidak akan berpaling (dari munajatnya).’”[36]

Dari al-Hasan al-Bashri berkata, “Kami tidak mengetahui amal ibadah yang lebih berat daripada lelahnya melakukan shalat malam dan menafkahkan harta ini.”[37]

Al-Hasan juga pernah ditanya, “Mengapa orang yang selalu melakukan shalat Tahajjud wajahnya lebih indah?” Ia menjawab, “Sebab mereka menyendiri bersama ar-Rahman (Allah), sehingga Allah memberikan kepadanya cahaya-Nya.”[38]

Syuraik berkata, “Barangsiapa yang banyak shalatnya di malam hari, maka wajahnya akan tampak indah di siang hari.”[39]

Yazid ar-Riqasyi berkata, “Shalat malam akan menjadi cahaya bagi seorang mukmin pada hari Kiamat kelak dan cahaya itu akan berjalan dari depan dan belakangnya. Sedangkan puasa seorang hamba akan menjauhkannya dari panasnya Neraka Sa’ir.”[40]

Wahab bin Munabih berkata, “Shalat di waktu malam akan menjadikan orang yang rendah kedudukannya, mulia, dan orang yang hina, berwibawa. Sedangkan puasa di siang hari akan mengekang seseorang dari dorongan syahwatnya. Tidak ada istirahat bagi seorang mukmin tanpa masuk Surga.”[41]

Al-Awza’i berkata, “Aku mendengar barangsiapa yang lama melakukan shalat malam, maka Allah akan meringankan siksanya pada hari Kiamat kelak.”[42]

Ishaq bin Suwaid berkata, “Orang-orang Salaf memandang bahwa berekreasi adalah dengan cara puasa di siang hari dan shalat di malam hari.”[43]

Saya katakan, “Dari pemaparan terdahulu jelaslah bahwa shalat malam memiliki keutamaan yang besar dan hanya orang yang merugi yang meninggalkannya.”

Kita berlindung kepada Allah dari kerugian dan hanya Dia-lah tempat memohon pertolongan.

[Disalin dari kitab “Kaanuu Qaliilan minal Laili maa Yahja’uun” karya Muhammad bin Su’ud al-‘Uraifi diberi pengantar oleh Syaikh ‘Abdullah al-Jibrin, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Shalat Tahajjud, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

_______

Footnote

[1]. Lihat Haasyiyatur Raudhil Murbi’, (II/219).

[2]. Lihat Tafsiir Fat-hul Qadiir oleh as-Syaukani, (V/667).

[3]. Tafsiir ath-Thabari, (XIII/197)

[4]. Ibid (XIII/200).

[5]. Ibid.

[6]. Tafsiir Ibni Katsir (VI/363).

[7]. Baca Haadil Arwaah ilaa Bilaadil Afraah oleh Ibnul Qayyim (hal. 278).

[8]. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam al-Musnadul Kabiir (IV/373) dari hadits Asma’ binti Yazid x. Juga diriwayatkan oleh al-Mundziri dalam at-Targhiib wat-Tarhiib, (I/215).

[9]. HR. Muslim, kitab ash-Shiyaam bab Fadhli Shaumil Mu-harram, (no. 1163).

[10]. HR. Al-Bukhari, kitab al-Jumu’ah, bab Fadhli Qiyaamul Lail, (hadits no. 1122) dan Muslim, kitab Fadhaa-ilish Sha-haabah bab Fiqhi Fadhaa-ili ‘Abdillah bin ‘Umar c, (hadits no. 2479).

[11]. Fat-hul Baarii (III/9).

[12]. Ibid, (III/10).

[13]. HR. Al-Bukhari, kitab Tafsiirul Qur-aan bab Liyaghfirallaahu laka maa Taqaddama min Dzanbika… (hadits no. 4837) dan Muslim, kitab Shifatul Qiyaamah bab Iktsaaril A’maal wal Ijtihaadi fil ‘Ibaadah (hadits no. 2820).

[14]. HR. Al-Bukhari, kitab at-Tahajjud, bab ‘Aqdisy Syaithaani ‘alaa Qaafiyatir Ra’-si idzza lam Yushshalli bil Lail, (hadits no. 1142) dan Muslim, kitab Shalaatil Musaafiriin, bab Maa Warada fii man Naamal Laila Ajma’a hatta Ashbaha, (hadits no. 776).

[15]. Fat-hul Baarii (III/33).

[16]. Telah ditakhrij sebelumnya.

[17]. Lihat Shahiih Muslim bi Syarhin Nawawi (VIII/55).

[18]. Lihat Tuhfatul Ahwadzii bisy Syarh Jaami’it Tirmidzi oleh al-Mubarakfuri, (II/425).

[19]. HR. Al-Bukhari dalam Shahiihnya kitab Ahaadiitsil Anbiyaa’, bab Ahabbish Shalaati ilallaah Shalaati Dawud… (hadits no. 3420) dan Muslim dalam kitab ash-Shiyaam bab an-Nahyi ‘an Shawmid Dahr, (hadits no. 1159).

[20]. Fat-hul Baarii (III/21).

[21]. HR. Muslim dalam kitab Shalaatul Musaafiriin, bab Fil Laili Saa’tun Mustajaabun fii had Du’aa’, (hadits no. 757).

[22]. Lihat Shahiih Muslim bi Syarhin Nawawi (VI/36).

[23]. HR. Abu Dawud dalam kitab ash-Shalaah, bab Qiyaamul Lail, (hadits no. 1308), an-Nasa-i dalam kitab Qiyaamul Lail, bab at-Targhiibu fii Qiyaamil Lail, (hadits no. 1610), Ibnu Majah dalam kitab Iqaamatush Shalaah, bab Maa Jaa-a fii man Ayqazha Ahlahu minal Lail, (hadits no. 1336), Ibnu Khuzaimah dalam Shahiihnya, (II/183), Ibnu Hibban dalam Shahiihnya (VI/306) sebagaimana yang terdapat dalam al-Ihsaan), al-Hakim dalam al-Mustadrak, (I/309) dengan komentarnya, “Ini adalah hadits shahih sesuai kriteria yang ditetapkan Muslim.” Penilaian al-Hakim disepakati pula oleh adz-Dzahabi. Sedangkan al-‘Allamah al-Albani dalam Shahiihut Targhiib (no. 621) menilai hadits ini hasan.

[24]. HR. Abu Dawud dalam kitab ash-Shalaah, bab al-Hatstsu ‘ala Qiyaamil Lail, (hadits no. 1451), Ibnu Majah, dalam kitab Iqaamatish Shalaah, bab Maa Jaa-a fii man Ayqazha Ahlahu minal Lail, (1339), Ibnu Hibban dalam Shahiihnya, (VI/307) sebagaimana dalam al-Ihsaan, al-Hakim (I/316) dan ia berkata, “Ini adalah hadits shahih sesuai kriteria al-Bukhari dan Muslim, hanya saja keduanya tidak mengeluarkannya.” Penilaian ini disepakati oleh adz-Dzahabi. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (hadits no. 330).

[25]. Lihat Faidhul Qadiir oleh al-Munawi, (IV/25).

[26]. HR. Al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra, (X/194) dan al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (hadits no. 195) menilai hadits ini shahih.

[27]. HR. ‘Abd bin Humaid, (II/147) dan adh-Dhiya’ al-Maqdisi dalam al-Mukhtaarah, (V/74), melalui jalur periwayatan yang bersumber dari ‘Abd bin Humaid. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (hadits no. 1810).

[28]. HR. At-Tirmidzi dalam kitab Shifatil Qiyaamah bab Minhu…, (hadits no. 2485). Beliau mengomentari hadits ini dengan mengatakan, “Ini adalah hadits yang shahih.” Hadits ini juga dikeluarkan Ahmad dalam Musnadnya, (hadits no. 23272) dan ad-Darimi dalam Sunannya, (hadits no. 1460). Al-Hakim mengatakan, “Hadits ini sanadnya shahih,” lihat al-Mustadrak, (IV/176).

[29]. HR. Abu Dawud dalam kitab ash-Shalaah, bab Qiyaamil Lail, (hadits no. 1307), Ahmad dalam Musnadnya, (hadits no. 25583), al-Hakim dalam al-Mustadraknya, (I/452). Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Muslim.” Penilaian al-Hakim disetujui oleh adz-Dzahabi.

[30]. HR. Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd, (hal. 8) dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, (IV/166). Al-Haitsami (II/251) berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir dan para perawinya adalah tsiqah.”

[31]. HR. Ahmad, (I/416), Ibnu Hibban (VI/297, sebagaimana yang terdapat dalam al-Ihsaan), al-Hakim, (II/112), Ibnu ‘Ashim dalam as-Sunnah, (I/249). Al-Hakim berkata: “Sanad hadits ini shahih.” Penilaian al-Hakim disetujui oleh adz-Dzahabi. Sedangkan al-Haitsami dan al-Albani menilainya hasan.

[32]. HR. Al-Marwazi. Lihat Mukhtashar Qiyaamil Lail, (hal. 36) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, (II/414). Al-Hakim menilai hadits ini shahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

[33]. Lihat ash-Shalaah wat Tahajjud oleh Ibnu al-Khirath, (298).

[34]. Mukhtashar Qiyaamil Lail (hal. 62).

[35]. Ibid (hal. 63).

[36]. Atsar ini diriwayatkan oleh al-Aajuri dalam Fadhlu Qiyaamil Laili wat Tahajjud (hal. 58).

[37]. Lihat ash-Shalaatu wat Tahajjud (hal. 298).

[38]. Atsar ini diriwayatkan oleh al-Marwazi. Lihat Mukhtashar Qiyaamil Lail (hal. 58).

[39]. Lihat al-Kaamil karya Ibnu ‘Adi, (II/526). Komentar saya (penulis): Sebagian ulama ada yang menisbatkan ini kepada sabda Nabi dan penisbatan ini tidak benar. Ibnul Jauzi menyebutkan atsar ini dalam al-Maudhuu’aat, (II/109) dan Ibnu Thahir dalam Tadzkiratul Maudhuu’aat, (hal. 351). Kisah atsar ini selengkapnya adalah seperti berikut:Tsabit bin Musa, seorang zahid, datang kepada Syuraik al-Qadhi, sedang al-Mustamli ada di depannya. Syuraik mengatakan al-A’masy menceritakan kepada kami dari Abu Sufyan dari Jabir, ia menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda -tanpa menyebut matan haditsnya-, lalu ketika ia memandang Tsabit ia berkata, “Barangsiapa yang selalu melakukan shalat di malam hari maka wajahnya akan tampak indah di siang hari.” Yang dimaksudkan dengan ucapannya itu adalah Tsabit bin Musa karena kezuhudannya, lalu Tsabit mengira bahwa ia meri-wayatkan hadits ini bersumber dari Nabi (hadits marfu’) dengan sanad ini. Lihat perkataan as-Sakhawi dalam Fat-hul Mughiits (I/311).

[40]. Lihat as-Shalaatu wat Tahajjud (hal. 298).

[41]. Ibid, (299).

[42]. Lihat Mukhtashar Qiyaamil Lail, (hal. 66).

[43]. Ibid, (hal. 67)

Sumber : Almanhaj.or.id

Advertisements

Rinastkip : Belajar Dari Ekspresi Wajah


​Belajar Dari Wajah
Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.
Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : “Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?” karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah irtri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapapun hari ini, marilah kita belajar ilmu tentang wajah.
Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.
Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya… sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.
Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka caru tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu; bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.
Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.
Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.
Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang

Ahlakul Karimah Sebagai Fondasi Ummat


AKHLAKUL KARIMAH SEBAGAI FONDASI UMMAT
Disampaikan  oleh  M. Lukmanul  Hakim, S.Pd. I

(Founder  KODHAM)

Pada  KOL  Komunitas  Thalabul  Ilmi.

Kamis 28 Desember 2016. Pk 1

20.00-21.30 WIB

Sebaik-baik  akhlak  adalah  akhlak  Rasulullah SAW, karena beliau diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak manuasia.  

Berkaitan dengan berbagai bentuk akhlakul karimah, Ibnu Miskawaih menunjukkan berbagai macam kebajikan sebagai berikut:

A. Kearifan

1. Pandai (al-dzaka), kecepatan dalam mengembangkan kesimpulan yang melahirkan pemahaman

2. Ingat (al-dzikru), kecepatan dan kemampuan berimajinasi

3. Berfikir (al-ta’aqqul), kemampuan untuk menyesuaikan antara ide dengan realitas

4. Kejernihan pikiran (shafau al-dzihni), kesiapan jiwa menyimpulkan hal yang dikehendaki.

5. Ketajaman dan kekuatan otak (jaudat al-dzihni), kemampuan jiwa untuk merenungkan masa lalu atau sejarah.

6. Kemampuan belajar dengan mudah (suhulat at-ta’allum), kekuatan dan ketajaman jiwa dalam memahami sesuatu.

B. Kesederhanaan

1. Rasa malu (al-haya’)

2. Senang (al-da’at)

3. Sabar (as-shabru)

4. Dermawan (al-sakha’)

5. Integritas (al-hurriyah)

6. Puas (al-qana’ah)

7. Loyal (al-damatsah)

8. Berdisiplin diri (al-intizham)

9.Optimis atau berp (husn-al-huda)

10. Kelembutan (al-musalamah)

12. Anggun berwibaWara’
C. Keberanian

1. Kebesaran jiwa

2. Tegar

3. Ulet

4.Tabah

5. Menguasai diri

6. Perkasa
D. Kedermawanan

1. Murah hati (al-karam)

2. Mementingkan orang lain (al-itsar)

3. Rela (al-nail)

4. Berbakti (al-muwasah)

5. Terbuka (al-samahah)

E.  Keadilan

1. Bersahabat

2. Bersemangat sosial (al-ulfah)

3. Silaturrahmi

4. Memberi imbalan (mukafa’ah) 

5. Baik dalam bekerja sama (syarikah) 

6. Persoalan (husn al-qadha)

7. Cinta (tawaddu)

8. Beribadah kepada Allah

9. Taqwa kepada Allah
Muhammad Iqbal menjelaskan bahwa untuk mencapai martabat manusia sempurna, manusia harus memiliki syarat syarat sebagai berikut:

1. Isyqo Muhabbat , artinya kecintaan yang sangat mendalam kepada Allah yang akan melahirkan rasa kasih sayang terhadap makhluk-makhluk-Nya.

2. Syaja’ah , artinya keberanian yang tertanam di dalam pribadi seseorang sehingga berani beramar ma’ruf nahi munkar.

3. Faqr , artinya orang yang memiliki pendirian yang teguh dan perwira sehingga mempunyai rasa kemandirian yang tinggi, tidak suka tergantung kepada orang lain.

4. Tasamuh (toleransi) , artinya semangat tenggang rasa yang ditebarkan diantara sesama manusia sehingga mencegah terjadinya konflik yang berkepanjangan.

5. Kasbi halal , artinya usaha-usaha yang sesuai dengan ketentuan agama (halal).

6. Kreatif , artinya selalu mencari hal-hal barun untuk meingkatkan kualitas kehidupan.
Ancaman Akhlak Dalam Kehidupan Modern
Yusuf Qardhawi menyebutkan bahwa paling tidak ada tiga macam ancaman terhadap akhlak manusia dalam kehidupan modern dewasa ini, yaitu 

1. Ananiyyah

Aniyah artinya individualisme, yaitu faham yang bertitik tolak dari sikap egoisme, mementingkan dirinya sendiri, sehingga mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri. Orang orang yang berpendirian semacam ini tidak memiliki semangat ukhuwah Islamiyah, rasa persaudaraan dan toleransi (tasamuh) sehingga sulit untuk merasakan penderitaan orang lain. Padahal seseorang baru dikatakan berakhlak mulia tatkala ia memperhatikan nasib orang lain juga.
2. Madiyyah

Madiyyah artinya sikap materialistik yang lahir dari kecintaan pada kehidupan duniawi yang berlebihan. Hal demikian dijelaskan oleh Allah dalam Al Qur’an surat Hud (11) : 15-16 yang berbunyi :

Artinya : “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan., Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan.”

3. Naf’iyyah

Naf’iyyah artinya pragmatis yaitu menilai sesuatu hanya berdasarkan pada aspek kegunaan semata. Ketiga ancaman terhadap akhlak mulia ini hanya akan dapat diatasi manakala manusia memiliki pondasi aqidah yang kuat dan senantiasa melakukan amal ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
REFERENSI

Al-Qur’an al-Karim

Marzuki, Dr. M.Ag, Buku PAI UNY. Kumpulan Materi Aqidah Islam, Surabaya : MPPU Madani . Bandung : PT. Alma’arif. Cet. 13. Tauhid dengan Ibadah dan Akhlakul Karimah, Yogyakarta : UII Press Jogjakarta.

Zaki Mubarok Latif, dkk., 2001, Akidah Islam, Yogyakarta : UII Press.
Sumber Tulisan : 

Aris Badaruddin Thoha, S.Ag., M.Ag,

The Last Lecture : Personality,  community & Life


​Dikutip dari Buku Karya Ausberg 49 tahun buku yang berjudul

“THE LAST LECTURE”(Pengajaran Terakhir) yang menjadi salah satu buku best-seller di tahun 2007.””

KUNCI UNTUK MEMBUAT HIDUP ANDA LEBIH BAIK terdiri atas  

1. Personality,

2. Community

3.Life.
Berikut penjelasannya:

A.  PERSONALITY

1. Jangan membandingkan hidup Anda dengan orang lain karena Anda tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui.

2.Jangan berpikir negatif akan hal-hal yang berada diluar kendali Anda, melainkan salurkan energi Anda menuju kehidupan yang dijalani saat ini, secara positif

3. Jangan bekerja terlalu keras, jangan lewati batasan Anda.

4. Jangan memaksa diri Anda untuk selalu perfect, tidak ada satu orang pun yang sempurna.

5. Jangan membuang waktu Anda yang berharga untuk gosip.

6. Bermimpilah saat anda bangun (bukan saat tertidur).

7. Iri hati membuang-buang waktu, Anda sudah memiliki semua kebutuhan Anda.

8. Lupakan masa lalu. Jangan mengungkit kesalahan pasangan Anda di masa lalu. Hal itu akan merusak kebahagiaan Anda saat ini.

9. Hidup terlalu singkat untuk membenci siapapun itu. Jangan membenci.

10. Berdamailah dengan masa lalu Anda agar hal tersebut tidak mengganggu masa ini.

11. Tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas kebahagiaan Anda kecuali Anda.

 12. Sadari bahwa hidup adalah sekolah, dan Anda berada di sini sebagai pelajar. Masalah adalah bagian daripada kurikulum yang datang dan pergi seperti kelas aljabar (matematika) tetapi, pelajaran yang Anda dapat bertahan seumur hidup.

13. Senyumlah dan tertawalah.

14. Anda tidak dapat selalu menang dalam perbedaan pendapat. Belajarlah menerima kekalahan.

B. COMMUNITY:

15. Hubungi keluarga Anda sesering mungkin

16. Setiap hari berikan sesuatu yang baik kepada orang lain.

17. Ampuni setiap orang untuk segala hal

18.Habiskan waktu dengan orang-orang di atas umur 70 dan di bawah 6 tahun.

19. Coba untuk membuat paling sedikit 3 orang tersenyum setiap hari.

20.Apa yang orang lain pikirkan tentang Anda bukanlah urusan Anda.

21. Pekerjaan Anda tidak akan menjaga Anda di saat Anda sakit, tetapi keluarga dan teman Anda. Tetaplah berhubungan baik

C. LIFE:

22. Jadikan Tuhan sebagai yang pertama dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan Anda.

23. Tuhan menyembuhkan segala sesuatu.

24. Lakukan hal yang benar.

25. Sebaik/ seburuk apapun sebuah situasi, hal tersebut akan berubah.

26. Tidak peduli bagaimana perasaan Anda, bangun, berpakaian, dan keluarlah!.

27. Yang terbaik belumlah tiba.

28. Buang segala sesuatu yang tidak berguna, tidak indah, atau mendukakan.

29. Ketika Anda bangun di pagi hari, berterima kasihlah pada Tuhan untuk itu.

30. Jika Anda mengenal Tuhan, Anda akan selalu bersukacita. So, be happy.

Mati tdk menunnggu tua, mati tidak menunggu sakit, nikmati hidup  dengan  bersyukur  dan  beribadah. . Sebelum hidup tidak bisa di nikmati.  

Biodata Rasulullah SAW


BIODATA RASULULLAH SAW

· Nama : Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim.
· Tarikh lahir : Subuh hari Isnin, 12 Rabiulawal bersamaan 20 April 571
Masehi (dikenali sebagai Tahun Gajah; sempena peristiwa tentera bergajah
Abrahah yang menyerang kota Kaabah).
· Tempat lahir : Di rumah Abu Talib, Makkah Al-Mukarramah.
· Nama bapa : Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim.
· Nama ibu : Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf.
· Pengasuh pertama : Barakah Al-Habsyiyyah (digelar Ummu Aiman. Hamba
perempuan bapa Rasulullah SAW).
· Ibu susu pertama : Thuwaibah (hamba perempuan Abu Lahab).
· Ibu susu kedua : Halimah binti Abu Zuaib As-Saadiah (lebih dikenali
Halimah As-Saadiah. Suaminya bernama Abu Kabsyah).

USIA 5 TAHUN

· Peristiwa pembelahan dada Rasulullah SAW yang dilakukan oleh dua malaikat
untuk mengeluarkan bahagian syaitan yang wujud di dalam hatinya.

USIA 6 TAHUN

· Ibunya Aminah binti Wahab ditimpa sakit dan meninggal dunia di Al-Abwa ‘
(sebuah kampung yang terletak di antara Makkah dan Madinah).
· Baginda dipelihara oleh Ummu Aiman (hamba perempuan bapa Rasulullah SAW)
dan dibiayai oleh datuknya Abdul Muttalib.

USIA 8 TAHUN

· Datuknya, Abdul Muttalib pula meninggal dunia.
· Baginda dipelihara pula oleh bapa saudaranya, Abu Talib.

USIA 9 TAHUN (Setengah riwayat mengatakan pada usia 12 tahun).

· Bersama bapa saudaranya, Abu Talib bermusafir ke Syam atas urusan
perniagaan.
· Di kota Busra, negeri Syam, seorang pendita Nasrani bernama Bahira
(Buhaira) telah bertemu ketua-ketua rombongan untuk menceritakan tentang
pengutusan seorang nabi di kalangan bangsa Arab yang akan lahir pada masa
itu.

USIA 20 TAHUN

· Terlibat dalam peperangan Fijar . Ibnu Hisyam di dalam kitab ‘ Sirah ‘ ,
jilid1, halaman 184-187 menyatakan pada ketika itu usia Muhammad SAW ialah
14 atau 15 tahun. Baginda menyertai peperangan itu beberapa hari dan
berperanan mengumpulkan anak-anak panah sahaja.
· Menyaksikan ‘ perjanjian Al-Fudhul ‘ ; perjanjian damai untuk memberi
pertolongan kepada orang yang dizalimi di Makkah.

USIA 25 TAHUN

· Bermusafir kali kedua ke Syam atas urusan perniagaan barangan Khadijah
binti Khuwailid Al-Asadiyah.
· Perjalanan ke Syam ditemani oleh Maisarah; lelaki suruhan Khadijah.
· Baginda SAW bersama-sama Abu Talib dan beberapa orang bapa saudaranya
yang lain pergi berjumpa Amru bin Asad (bapa saudara Khadijah) untuk
meminang Khadijah yang berusia 40 tahun ketika itu.
· Mas kahwin baginda kepada Khadijah adalah sebanyak 500 dirham.

USIA 35 TAHUN

· Banjir besar melanda Makkah dan meruntuhkan dinding Kaabah.
· Pembinaan semula Kaabah dilakukan oleh pembesar-pembesar dan penduduk
Makkah.
· Rasulullah SAW diberi kemuliaan untuk meletakkan ‘ Hajarul-Aswad ‘ ke
tempat asal dan sekaligus meredakan pertelingkahan berhubung perletakan
batu tersebut.

USIA 40 TAHUN

· Menerima wahyu di gua Hira ‘ sebagai perlantikan menjadi Nabi dan Rasul
akhir zaman.

USIA 53 TAHUN

· Berhijrah ke Madinah Al-Munawwarah dengan ditemani oleh Saidina Abu Bakar
Al-Siddiq.
· Sampai ke Madinah pada tanggal 12 Rabiulawal/ 24 September 622M.

USIA 63 TAHUN

· Kewafatan Rasulullah SAW di Madinah Al-Munawwarah pada hari Isnin, 12
Rabiulawal tahun 11Hijrah/ 8 Jun 632 Masihi.

ISTERI-ISTERI RASULULLAH SAW

§ Khadijah Binti Khuwailid.
§ Saudah Binti Zam’ah.
§ Aisyah Binti Abu Bakar (anak Saidina Abu Bakar).
§ Hafsah binti ‘ Umar (anak Saidina ‘ Umar bin Al-Khattab).
§ Ummi Habibah Binti Abu Sufyan.
§ Hindun Binti Umaiyah (digelar Ummi Salamah).
§ Zainab Binti Jahsy.
§ Maimunah Binti Harith.
§ Safiyah Binti Huyai bin Akhtab.
§ Zainab Binti Khuzaimah (digelar ‘ Ummu Al-Masakin ‘ ; Ibu Orang Miskin).

ANAK-ANAK RASULULLAH SAW

1. Qasim
2. Abdullah
3.. Ibrahim
4. Zainab
5. Ruqaiyah
6. Ummi Kalthum
7. Fatimah Al-Zahra ‘

ANAK TIRI RASULULLAH SAW

Halah bin Hind bin Habbasy bin Zurarah al-Tamimi (anak kepada Saidatina
Khadijah bersama Hind bin Habbasy. Ketika berkahwin dengan Rasulullah,
Khadijah adalah seorang janda).

SAUDARA SESUSU RASULULLAH SAW

IBU SUSUAN/SAUDARA SUSUAN
1. Thuwaibah 1. Hamzah
2. Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad

SAUDARA SUSUAN
1. Halimah Al-Saidiyyah 1. Abu Sufyan bin Harith bin Abdul Mutallib
2. Abdullah bin Harith bin Abdul ‘ Uzza
3. Syaima ‘ binti Harith bin Abdul ‘ Uzza
4. ‘ Aisyah binti Harith bin abdul ‘ Uzza

BAPA DAN IBU SAUDARA RASULULLAH SAW
(ANAK-ANAK KEPADA ABDUL MUTTALIB)

1. Al-Harith
2. Muqawwam
3. Zubair
4. Hamzah ***
5. Al-Abbas ***
6. Abu Talib
7. Abu Lahab (nama asalnya Abdul Uzza)
8. Abdul Ka ‘ bah
9. Hijl
10. Dhirar
11. Umaimah
12. Al-Bidha (Ummu Hakim)
13. Atiqah ##
14. Arwa ##
15. Umaimah
16. Barrah
17. Safiyah (ibu kepada Zubair Al-Awwam) ***

*** Sempat masuk Islam.
## Ulama berselisih pendapat tentang Islamnya.

Sabda Rasulullah SAW:
“Sesiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sesungguhnya dia telah mencintai
aku. Dan sesiapa yang mencintai aku nescaya dia bersama-samaku di dalam
syurga.” (Riwayat Al-Sajary daripada Anas )

اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه وسلم

Nabi Muhammad SAW – Manusia agong

KENALI NABI MUHAMMAD S.A.W. SECARA LAHIRIAH. Begitu indahnya sifat fizikal
Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bersua
muka dengan Baginda lantas melafazkan keIslaman dan mengaku akan kebenaran
apa yang disampaikan oleh Baginda.

Di antara kata-kata apresiasi para sahabat ialah:

– Aku belum pernah melihat lelaki yang sekacak Rasulullah saw..
– Aku melihat cahaya dari lidahnya.
– Seandainya kamu melihat Baginda, seolah-olah kamu melihat matahari
terbit.
– Rasulullah jauh lebih cantik dari sinaran bulan.
– Rasulullah umpama matahari yang bersinar.
– Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah.
– Apabila Rasulullah berasa gembira, wajahnya bercahaya spt bulan purnama.
– Kali pertama memandangnya sudah pasti akan terpesona.
– Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat.
– Wajahnya seperti bulan purnama.
– Dahi baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya.
– Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa
marah.
– Mata baginda hitam dengan bulu mata yang panjang.
– Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli
di bahagian sudut.
– Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali
pertama kali melihatnya.
– Mulut baginda sederhana luas dan cantik.
– Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.
– Apabila berkata-kata, cahaya kelihatan memancar dari giginya.
– Janggutnya penuh dan tebal menawan.
– Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca.
– Warna lehernya putih seperti perak, sangat indah.
– Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya.
– Rambutnya sedikit ikal.
– Rambutnya tebal kdg-kdg menyentuh pangkal telinga dan kdg-kdg mencecah
bahu tapi disisir rapi.
– Rambutnya terbelah di tengah.
– Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur
dari dada ke pusat.
– Dadanya bidang dan selaras dgn perut. Luas bidang antara kedua bahunya
lebih drpd biasa.
– Seimbang antara kedua bahunya.
– Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya, jarinya juga besar
dan tersusun dgn cantik.
– Tapak tangannya bagaikan sutera yang lembut.
– Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik.
– Kakinya berisi, tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air.
– Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.
– Warna kulitnya tidak putih spt kapur atau coklat tapi campuran coklat dan
putih.
– Warna putihnya lebih banyak.
– Warna kulit baginda putih kemerah-merahan.
– Warna kulitnya putih tapi sihat.
– Kulitnya putih lagi bercahaya.
– Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kukuh.
– Badannya tidak gemuk.
– Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran
sederhana lagi kacak.
– Perutnya tidak buncit.
– Badannya cenderung kepada tinggi, semasa berada di kalangan org ramai
baginda kelihatan lebih tinggi drpd mereka.

KESIMPULANNYA :
Nabi Muhammad sa.w adalah manusia agung yang ideal dan sebaik-baik contoh
sepanjang zaman.
Baginda adalah semulia-mulia insan di dunia

Silahkan di share….
https://rinastkip.wordpress.com
http://kodham.wordpress.com

TANPA ETIKA, BERDEBAT DAPAT MEMECAH BELAH UMMAT ISLAM


TANPA ETIKA,  BERDEBAT DAPAT MEMECAH BELAH UMMAT ISLAM
Oleh : M. Lukmanul Hakim, S.Pd.I

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dari tahun ke tahun penulis mengamati sering terjadi perdebatan-perdebatan sengit antar golongan dalam keluarga besar muslim, bahkan tidak sedikit antar sesama muslim saling bermusuhan karena berbeda cara melakukan ritual ibadah, cara bersedekah, cara berpakaian Islami dan amalan-amalan lainnya. Bahkan akibat perdebatan banyak mempermasalahkan cara beribadah orang-orang yang sudah jelas rajin shalat, sedangkan masih banyak ummat islam yang lain yang nyata-nyata tidak shalat jarang bahkan tidak pernah di perdebatkan sampai sesengit itu.

Banyak yang keliru menyikapi perdebatan yang timbul karena tidak memliki etika dalam berdebat.
Apa yang disebut dengan etika berdebat ?
1. Berdebat itu harus menghasilkan sebuah solusi yang diterima oleh semua pihak yang berdebat. Sebaik-baik berdebat jika kedua belah pihak memiliki ilmu yang mumpuni dari materi yang di perdebatkan dan harus memiliki sudut pandang yang sama mengenai materi debat. Contoh : Materi perebatan mengenai  “Bid’ah ”. Jika yang berdebat berbeda golongan misal  antara panelis Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah. Jelas akhir perdebatan bisa diprediksi tidak akan ada solusi, karena keduanya memiliki Imam yang berbeda, Imam Safi’i dan Imam Maliki, tentu cara pandangnya akan berbeda.
2. Jadikan perdebatan itu sebagai wadah menuntut ilmu Islam, sebagai sarana pembanding jika berbeda golongan dengan tetap berkhusnudzon, dengan tetap tidak menuduh menyimpang terhadap golongan yang lain yang masih satu Islam.
3. Hindari debat kusir tak berujung, tetap tidak memprovokasi, menyalahkan ataupun tindakan negatif lain. Karena mungkin anda tidak mengerti apa yang boleh atau tidak boleh dalam golongan islam lain yang anda debat.
4. Fokus pada solusi syiar Islam, menjadikan yang tidak shalat menjadi shalat, mendukung yang sudah beribadah menjadi tenang ibadahnya.
5. Menjunjung tinggi asas menghormati keberagaman, belum tentu kelompok anda yang paling baik tatacara ibadahnya.
Saya menghimbau, jika ada provokator perdebatan, dan mengangkat materi perdebatan yang dapat menimbulkan respon permusuhan lebih baik jangan di tanggapi, lebih baik anda fokus pada keyakinan anda dan terus beristiqomah dengan ibadah tersebut jangan lupa ajak orang-orang terdekat untuk selalu meningkatkan amal ibadah kepada Allah SWT.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

ITK IPB Gelar Saresehan Lintas Angkatan


Sarasehan Lintas Angkatan, Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan (Prodi ITK) IPB
image

Jauh sebelum poros maritim dunia dikumandangkan, 32 tahun yang lalu IPB telah menggagas pembentukan program studi baru, yaitu Prodi ITK dimana proses inisiasi dimulai pada tahun 1983.

Kemudian, pada tahun 1985-1989, inisiasi IPB diadopsi secara nasional melalui Proyek Pengembangan dan Pendidikan Ilmu Kelautan (Marine Science Education Project). Proyek ini telah mendirikan mendirikan prodi ITK di 6 universitas, dengan ciri khas tersendiri, yaitu:

●      Institut Pertanian Bogor: Eksplorasi Sumberdaya Hayati Laut

●      Universitas Riau: Lingkungan Laut

●      Universitas Diponegoro: Budidaya Laut

●      Universitas Hasanudin: Budidaya Laut

●      Universitas Sam Ratulangi: Farmakologi Laut

●      Universita Pattimura: Eksplorasi Sumberdaya Hayati Laut

Keenam prodi ITK ini memiliki fasilitas peralatan, kapal riset dan stasiun lapang yang tergolong canggih di Asia Tenggara pada era itu. Melalui proyek ini juga telah disekolahkan 160 PhD dan banyak master.

Sebagai pionir prodi ITK, saat ini IPB telah menghasilkan sekitar 1600 lulusan yang tersebar di hampir seluruh negara kepulauan Indonesia dan luar negeri dengan berbagai profesi dan masih mempertahankan semangat ITK.

Bonar P. Pasaribu (Inisiator Prodi ITK di IPB dan Nasional, serta Guru Besar Akustik Kelautan, IPB) menambahkan bahwa IPB lebih siap sehingga mendahului membuka angkatan pertama prodi ITK pada tahun 1987. Kemudian diikuti oleh 5 universitas lainnya pada 3 tahun kemudian. Prodi ITK IPB memiliki 4 fokus utama dalam menunjang eksplorasi sumberdaya hayati laut, yaitu: Oseanografi dan Biologi Laut untuk kompetensi keilmuan dasar kelautan, serta Inderaja & Sistem Informasi Geografis dan Akustik & Instrumentasi Kelautan. Bonar juga menegaskan bahwa kepeloporan IPB juga dibuktikan dengan diakreditasinya program studi ITK IPB secara internasional (akreditasi IMarESTwww.imarest.org) pada tahun 2014.

Indra Jaya (Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB dan Guru Besar bidang Akustik, Instrumentasi dan Robotika Kelautan IPB) menambahkan bahwa sejak 2013, IPB sudah menetapkan mandat baru yang tertuang dalam statuta IPB, yaitu: Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika (yang tadinya hanya Pertanian untuk menghasilkan pangan sebagaimana pidato Presiden Soekarno pada peletakan batu pertama pembangunan kampus IPB). Indra menambahkan bahwa saat ini sedang digagas arsitektur kelembagaan IPB menuju 2045, dimana bukan tidak mungkin Prodi ITK menjadi Fakultas ITK atau malah IPB melahirkan suatu universitas baru, yaitu Universitas Ilmu dan Teknologi Kelautan.

Bonar menambahkan bahwa memang sudah seharusnya Indonesia memiliki Universitas Ilmu dan Teknologi Kelautan, seperti negara-negara lain, yaitu: Taiwan yang hanya sebesar Jawa Barat memiliki National Taiwan Ocean University di kota kecil bernama Keelung (sekecil Pelabuhan Ratu), kemudian Tiongkok memiliki dua universitas, yaitu: Shanghai Ocean University dan University of Ocean Science and Technology di Qin Dao. AS memiliki Scripps Institution of Oceanography, University of California San Diego dan Jepang memiliki University of Marine Science and Technology di Tokyo.

Bonar mencontohkan Jepang, mereka mencurahkan seluruh perhatian akademik mereka sejak 1946 (setelah kalah perang dunia kedua) untuk mencari pangan di laut. Sampai saat ini pemerintah Jepang denga menyediakan fasilitas laboratorium, serta beberapa kapal riset untuk PT dengan ukuran rata-rata di atas 1000 GT. Namun sayang, Indra menegaskan bahwa pengadaan sarana di kampus berjalan lamban, serta anggaran terbatas untuk menunjang pendidikan kelautan. Sebagai catatan, peralatan laboratorium dan kapal riset di IPB telah usang dan rusak karena berusia lebih dari 25 tahun.

Tanggung jawab IPB seperti tertuang dalam statuta, “kelautan” maka menurut Bonar ITK bertanggung jawab untuk mengisinya dengan: pangan, energi, kedaulatan dan basis ekonomi, karena ini ada di laut. Kemudian hari, perkembangan akademik di laut akan berkembang nano technology, robotika, sensor, bioteknologi dan etika. Indra menambahkan bahwa ITK pun mengembangkan teknologi roket (command and control). Bidawi Hasyim (Ahli Peneliti Utama LAPAN) menambahkan bahwa untuk pembangunan kelautan menuju poros maritm dunia, kita memerlukan teknologi satelit untuk penginderaan jauh. LAPAN memiliki data satelit seluruh Indonesia, mulai dari resolusi rendah (Terra/Aqua, NOAA, dll), resolusi menengah (Landsat) dan tinggi (SPOT). Data ini bisa diperoleh dengan gratis karena sudah dianggarkan oleh negara. Data satelit dapat dipergunakan untuk pemetaan dan pemantauan sumberdaya laut/pesisir, pemetaan pulau-pulau kecil terdepan, kelayakan lokasi budidaya laut, dinamika laut, identifikasi kapal, dll.

Selain itu, Alan Koropitan (Lektor Kepala bidang Oseanografi) mengingatkan bahwa lingkungan sudah berubah dengan adanya pencemaran dan perubahan iklim. Perubahan iklim adalah persoalan sains yang harus diselesaikan secara akademik, namun sayangnya saat ini berkembang menjadi isu politik karena terkait dengan pembatasan emisi gas rumah kaca yang dapat mengganggu ekonomi suatu negara. Ancaman perubahan iklim perlu upaya nyata untuk beradaptasi, untuk itu Alan mengusulkan untuk merestorasi pesisir sebagai upaya adaptasi alami, yaitu upaya mengembalikan sistem lingkungan pada kondisi semula. Bukan sekedar menutup suatu kawasan ataupun menamam mangrove atau transplantasi karang semata. Ini hanya sekedar rehabilitasi, bukan restorasi.

Terkait adaptasi dalam bidang perikanan laut, Alanmenambahkan bahwa perlu adanya pembenahan dan ekspansi lahan budidaya laut. Indonesia saat ini masih memanfaatkan 117 ribu ha dari 12 juta ha potensi yang ada. Upaya adaptasi lainnya adalah memperkuat layanan prediksi iklim dan laut serta pembenahan tata kelola riset, kebijakan dan data kelautan. Dengan karakteristik oseanografis tertentu, Alan mengusulkan perairan selatan Jawa dan Laut Arafura menjadi daerah cadangan ikan masa depan.

Ayi Rahmat (Praktisi energi terbarukan dan dosen IPB) mengingatkan bahwa potensi energi terbarukan di laut sangat menjanjikan karena sudah tersedia banyak rancangan dan aplikasinya misalnya: energi gelombang menggunakan buoy di AS (satu power buoy bisa memanen 40 KW), ini cocok untuk desa-desa pesisir, kemudian Oregon State University mengembangkan Wave Park, ada juga Pelamis Wave Power di Portugal, dll. Selain gelombang juga terdapat energi pasut, arus dan OTEC.

Pada akhir acara, telah dideklarasi Himpunan Alumni ITK IPB, yang intinya adalah IPB dan alumni siap menjawab panggilan Indonesia menuju poros maritim dunia. Kemudian, membentuk pengurusan pertama dimana Presidium Alumni ITK IPB terdiri dari: Ilan Rohilan, Agus Soesilo, Agus Trisulo, Syarief Budhiman, Alan Koropitan, Tri Hartanto, Heidi Retnoningtyas, Ferdy Gustian dan Anggi Afif Muzaki, serta Sekjen: Arief B. Purwanto.