MAKALAH PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN


MAKALAH PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN
SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui seberapa pentingnya sistem pendidikan nasional itu, dan mengetahui begitu berperan pentingnya sistem pendidikan nasional terhadap dunia pendidikan, kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “ Sistem pendidikan nasional ” dan sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PEGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
B. PERUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN
BAB II PEMBAHASAN
A. PEGERTIAN SISTEM PENDIDIKAN
B. TUJUAN DAN FUNGSI DARI SISTEM PENDIDIKAN
C. VISI – MISI SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
D. JALUR PENDIDIKAN NASIONAL
E. SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA SAAT INI
F. SISTEM PENDIDIKAN YANG SEHARUSNYA BERJALAN
G. PASAL – PASAL YANG MENYANGKUT SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
C. HARAPAN
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokraris serta bertanggung jawab.Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sistem pendidikan Indonesia yang telah di bagun dari dulu sampai sekarang ini, teryata masih belum mampu sepenuhnya menjawab kebutuhan dan tantangan global untuk masa yang akan datang, Program pemerataan dan peningkatan kulitas pendidikan yang selama ini menjadi focus pembinaan masih menjadi masalah yang menonjol dalam dunia pendidikan di Indonesia ini.

Sementara itu jumlah penduduk usia pendidikan dasar yang berada di luar dari sistem pendidikan nasional ini masih sangatlah banyak jumlahnya, dunia pendidikan kita masih berhadapan dengan berbagai masalah internal yang mendasar dan bersifat komplek, selain itu pula bangsa Indonesia ini masih menghadapi sejumlah problematika yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan mendasar sampai pendidikan tinggi.

Kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh yang di harapkan, menurut hasil penelitian The political and economic rick consultacy ( PERC ) medio September 2001, dinyatakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia ini berada di urutan 12 dari 12 negara di asia, bahkan lebih rendah dari Vietnam, dan berdasarkan hasil pembangunan PBB ( UNDP ) pada tahun 2000, Kualitas SDM Indonesia menduduki urutan ke 109 dari 174 negara.

Nah upaya untuk membagun SDM yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, di butuhkanya partisipasi yang strategis dari berbagai komponen yaitu : Pendidikan awal di keluarga , Kontrol efektif dari masyarakat, dan pentingnya penerapan sistem pendidikan pendidikan yang khas dan berkualitas oleh Negara.

B.PERUMUSAN MASALAH
1. Apa yang di maksud dengan sistem pendidikan nasional ?
2. apa saja tujuan dan fungsi dari pendidikan nasional ?
3. apa saja Visi dan Misi dari sistem pendidikan nasional ?
4. apa saja jalur pendidikan nasional ?
5. Bagaimana sistem pendidikan nasional yang berlangsung saat ini ?
6. Bagaimana upaya – upaya untuk pengembangan sistem pendidikan nasional ?

C.TUJUAN
1. Mengetahui pengertian Sistem Pendidikan Nasional.
2. Mengetahui tujuan dan fungsi dari sistem pendiikan nasional.
3. Mengetahui visi dan misi dari sistem pendidikan nasional.
4. Mengetahui jalur pendidikan mnasional.
5. Mengetahui bagaimana sistem pendidikan yang berlangsung saat ini.
6. Mengetahui upaya – upaya untuk pengembangan sistem pendidikan nasional.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PEGERTIAN SISTEM PENDIDIKAN
· Sistem : Suatu perangkat yang saling bertautan, yang tergabung menjadi suatu keseluruhan.
· Pendidikan : Suatu usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan.
· Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan pancasila dan UUD negara republik indonesia tahun 1945 yang berakar pada pada nilai – nilai agama , kebudayaan nasional indonesia dan tanggap terhadap tuntutan jaman .
Undang – undang dasar 1945
Pasal 31 ayat 1 bahwa setiap warga berhak mendapatkan pendidikan.
Pasal 31 ayat 2 bahwa setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayaiya.
· Sistem Pendidikan Nasional : Satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh yang saling bertautan dan berhubungan dalam suatu sistem untuk mencapai tujuan pendidikan nasional secara umum.
Menurut UU no.2 thn 1989 yang ditetapkan pada 27-03-1989
BAB I pasal 1
Sistem Pendidikan Nasional : Suatu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional.
UU No.20 tahun 2003
Sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevasi dan efesiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah dan berkesinambungan.

B. TUJUAN DAN FUNGSI SISTEM PENDIDIKAN

· Tujuan sistem pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, agar berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab

· Fungsi sistem pendidikan nasional
Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional.

C. VISI MISI SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

· Visi

Pendidikan nasional itu mempunyai visi yaitu terwujudnya sistem pendidikan nasional sebagai pranata social yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas, sehingga mampu dan prokatif memjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

· Misi

Dengan visi pendidikan nasional tersebut tentu aka nada misi dari pendidikan nasional tersebut yaitu :
1. Mengupayakan peluasan dan pemerataan kesempatan memperolel pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia.
2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar.
3. Meningkatkan kualitas proses pendidikan untuk megoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral.
4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pegalaman, siakap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global

5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan RI.

D. JALUR PENDIDIKAN NASIONAL
Di dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional pada Pasal 13 ayat (1) disebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.
· Pendidikan formal
Pendidikan formal yang disebut juga dengan Pendidikan pesekolahan, yang sudah tidak asing lagi kita degar yaitu ;

Pendidikan Dasar
– Sekolah dasar (SD), Madrasah ibtidaiyah ( MI )
– Sekolah menegah pertama ( SMP ), Madrasah Tsanawiyah ( Mts )

Pendidikan Menegah
– Sekolah menegah atas ( SMA )
– Madrasah Aliyah ( MA )
– Sekolah Menegah Kejuruan ( SMK )
– Madrasah Aliyah Kejuruan ( MAK )
Mengenyam pendidikan pada pendidikan formal yang diakui oleh lembaga pendidikan Negara adalah sesuatu yang wajib dilakukan diindonesia. Mulai dari kalangan yang miskin samnpai yang kaya itu harus bersekolah, minimal 9 tahun lamanya hingga lulus SMP.
Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah yang lahir dan berkembang secara efektif dan efisien dari pemerintah untuk masyarakat merupakan perangkat yang berkewajiban untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam menjadi warga Negara.

· Pendidikan Nonformal
Pendudikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.
Contoh pendidikan nonformal yaitu :
1. Lembaga kursus
2. Lembaga penelitian
3. Kelompok belajar
4. Pusat kegiatan belajar masyarakat
Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian peyetaraan oleh lembaga yang ditunjukan oleh pemerintah atau pemerintahan daerah dengan mengacu pada setandar nasional pendidikan.
· Pendidikan Informal
Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar mandiri.
Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

E .SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA SAAT INI
Sistem pendidikan yang telah berlangsung saat ini masih cenderung mengeksploitasi peserta didik, indikator yang digunakanpun cenderung menggunakan indikator kepintaran, sehingga secara secara nilai dirapot maupun izasa tidak serta merta menunjukkan peserta didik akan mampu bersaing maupun bertahan di tegah gencarnya industrialisasi yang berlangsung saat ini.
Nah bagaimana sistem pendidikan di Indonesia menciptakan anak bangsa yang memiliki sensitifitas terhadap lingkungan hidup yang krisis sumber – sumber kehidupan, serta mendorong terjadinya sebuah kebersamaan dalam keadilan hak. Sistem pendidikan harus lebih ditunjukan agar terjadi keseimbangan terhadap ketersediaan sumber daya alam serta kepentingan – kepentingan ekonomi dengan tidak meninggalkan sistem sosial dan budaya yang telah dimiliki oleh bangsa indonesia.

F . SISTEM PENDIDIKAN YANG SEHARUSNYA BERJALAN
Padasarnya sebuah sIstem pendidikan dibuat untuk mempermudah pendidikan itu sendiri,Tapi kenyataannya sekarang sistem yang ada saat ini terkesan ada indikasi sedikit mempersulit keadan.
Indikasi itu muncul bukan hanya karena system pendidikan yang ada saat ini tidak baik,melainkan oknum-oknum yang menjalankan system tersebut yang kualitasnya belum merata dan sama baiknya.

Jadi seharusnya sistem pendidikan di Indonesia itu

Sistem yang bersifat objektif dalam baerbagai aspek
(dalam hal ini adalah sitem pendidikan di Indonesia)

Kemudian setelah system itu dibuat secara objektif
Orang-orang yang menjalankan system itu haruslah berkualitas

Sehingga terciptalah sebuah system yang berjalan dengan baik
Dan kemudian menciptakan kondisi yang baik pula

· Sistem Pendidikan Nasional ditetapkan melalui undang-undang berupa Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 dan ditetapkan pada tanggal 27 Maret 1989.

G .PASAL – PASAL YANG MENYANGKUT SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
Peserta Didik
Pasal 23
1. Pendidikan nasional bersifat terbuka dan memberikan keleluasaan gerak kepada peserta didik.
2. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh Menteri.
Pasal 24

Setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak-hak berikut:
1. mendapat perlakuan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya;
2. mengikuti program pendidikan yang bersangkutan atas dasar pendidikan berkelanjutan, baik untuk mengembangkan kemampuan diri maupun untuk memperoleh pengakuan tingkat pendidikan tertentu yang telah dibakukan;
3. mendapat bantuan fasilitas belajar, beasiswa, atau bantuan lain sesuai dengan persyaratan yang berlaku;
4. pindah ke satuan pendidikan yang sejajar atau yang tingkatnya lebih tinggi sesuai dengan persyaratan penerimaan peserta didik pada satuan pendidikan yang hendak dimasuki;
5. memperoleh penilaian hasil belajarnya;
6. menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang ditentukan;
7. mendapat pelayanan khusus bagi yang menyandang cacat.
Pasal 25
1. Setiap peserta didik berkewajiban untuk ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan yang berlaku;
2. mematuhi semua peraturan yang berlaku;
3. menghormati tenaga kependidikan;
4. Ikut memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan, ketertiban, dan keamanan satuan pendidikan yang bersangkutan.
5. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh Menteri.
Pasal 26

Peserta didik berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan dirinya dengan belajar pada setiap saat dalam perjalanan hidupnya sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan masing- masing.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Sistem pendidikan nasional adalah suatu sistem dalam suatu negara yang mengatur pendidikan yang ada di negaranya agar dapat mencerdaskan kehidupan bangsa, agar tercipta kesejahteraan umum dalam masyarakat. Penyelenggaraan sistem pendidikan nasional disusun sedemikian rupa,meskipun secara garis besar ada persamaan dengan sistem pendidikan nasional bangsa-bangsa lain, sehingga sesuai dengan kebutuhan akan pendidikan dari bangsa itu sendiri yang secara geografis, demokrafis, histories, dan kultural berciri khas.
Jenjang pendidikan diawali dari jenjang pendidikan dasar yang memberikan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat dan berupa prasyarat untuk mengikuti pendidikan menengah. yang diselenggarakan di SLTA. Pendidikan menengah berfungsi memperluas pendidikan dasar. Dan mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.

SARAN
Ø Penyelenggaraan sistem pendidikan nasional harus di tingkatkan lagi .

Ø Kepada masyarakat agar ikut berpartisifasi dalam memajukan pendidikan di indonesia.

Ø Kepada pemerintah diharapkan agar dalam pembuatan sistem pendidikan nasional ini hendaknya melibatkan pihak – pihak yang dapat ikut dalam memajukan pendidikan nasional.

HARAPAN
Agar pendidikan di Indonesia ke depannya menjadi lebih baik lagi dan berkualitas, sehingga diharapkan kepada seluruh lapisan masyarakat agar mendapat pengajaran yang sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 Ayat 1.

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1989. UU RI No. 2 Tahun 1982 tentang Sistem Pendidikan Nasional besrta penjelasannya. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdikbud. 1989. UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta penjelasannya. Jakarta: Balai Pustaka.
Nawawi, Hadari. 1983. Perundang-Undangan Pendidikan. Jakarta: Ghalia.
Tirtarahardja, Umar dan La sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
SUMBER : http://makalahsistempendidikanasional.blogspot.com/

Makalah / Bahan Kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan : Pendidikan Sebagai Sistem


Makalah/Bahan Kuliah :  Pendidikan Sebagai Sistem 

Bab 1
P e n d a h u l u a n

a. Latar belakang

Bisa dikatakan bahwa setiap negara atau bangsa selalu menyelenggarakan pendidikan dan cita-cita Nasional bangsa yang bersangkutan. Beranjak dari sinilah nantinya Pendidikan Nasional yang didasarkan pada filsafat bangsa dan cita-cita nasional.
Pendidikan Nasional merupakan pelaksanaan pendidikan suatu negara berdasarkan sosial kultura, psikologis, ekonomis, dan politis pendidikan tersebut ditujukan untuk membentuk ciri khusus atau watak bangsa yang bersangkutan, yang sering juga disebut dengan kepribadian nasional pada umumnya Pendidikan Nasional ditujukan sebagaimana yang tersimpul dan dilukiskan oleh Wids, berikut ini:
“Nasionalism in education aims, in its ultimate analysis, as the preservation and glorificationof the state. The state is usually conceived of as a society organized for the primary purpose of protecting those who make up this society from the danger of external attack and internal disentegration.”1
Nasionalisme dalam pendidikan bertujuan terurama memelihara dan memuliakan negara. Negara biasanya diartikan sebagai suatu masyarakat yang disusun demi tujuan utamanya melindungi warga negara dari bahaya serangan dari luar dan disentegrasi yang terjadi di dalam negara itu.
Melalui proses pendidikan, suatu bangsa berusaha untuk mencapai kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang kehidupannya, baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik, ilmu pengetahuan, teknologi, dan dalam bidang-bidang kehidupan budaya lainnya. Melalui proses pendidikan pula, suatu bangsa berusaha untuk mencapai tujuan tertentu yang direncanakan.
b. Rumusan masalah

Agenda pembangunan pendidikan suatu bangsa tidak akan pernah berhenti dan selesai. Ibarat patah tumbuh hilang berganti, selesai memecahkan suatu masalah, muncul masalah lain yang kadang tidak kalah rumitnya. Begitu pula hasil dari sebuah strategi pemecahan masalah pendidikan yang ada, tidak jarang justru mengundang masalah baru yang jauh lebih rumit dari masalah awal. Itulah sebabnya pembangunan bidang pendidikan tidak akan pernah ada batasnya. Selama manusia ada, persoalan pendidikan tidak akan pernah hilang dari wacana suatu bangsa. Oleh karena itu, agenda pembangunan sektor pendidikan selalu ada dan berkembang sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat suatu bangsa.Bangsa Indonesia tidak pernah berhenti membangun sektor pendidikan dengan maksud agar kualitas sumber daya manusia yang dimiliki mampu bersaing secara global. Jika demikian halnya, persoalan unggulan kompetitif bagi lulusan suatu institusi pendidikan sangat perlu untuk dikaji dan diperjuangkan ketercapaiannya dalam proses belajar mengajar oleh semua lembaga pendidikan di negeri ini agar lembaga pendidikan yang bersangkutan mampu menegakkan akuntabilitas kepada lingkungannya. Untuk dapat melakukan hal-hal yang demikian, lembaga pendidikan perlu melakukan berbagai upaya ke arah peningkatan kualitas secara berkesinambungan. Tanpa ada peningkatan kualitas secara berkesinambungan, pembangunan pendidikan akan terjebak pada upaya sesaat dan hanya bersifat tambal sulam yang reaktif. Upaya yang demikian itu tidak akan mampu memecahkan persoalan pendidikan yang sedang dan akan kita hadapi pada era milenium III ini.
c. Tujuan penulisan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah agar kita sadar bahwa proses pendidikan yang diselenggarakan dan dilaksanakan suatu bangsa dalam upaya menumbuhkan dan mengembangkan watak atau kepribadian bangsa, memajukan kehidupan bangsa dalam berbagai bidang kehidupannya, serta mencapai tujuan nasional bangsa yang bersangkutan, itulah yang disebut dengan Sistem Pendidikan Nasional. Biasanya Pendidikan Nasional tumbuh dan berkembang dari sejarah bangsa yang bersangkutan, dipengaruhi oleh berbagai faktor dan sumber daya serta potensi-potensi yang ada dikalangan bangsa itu disamping faktor-faktor luar.
Pendidikan sebagaimana juga ilmu pengetahuan itu sendiri selalu berubah dan berkembang secara progresif, sejauh mana pendidikan nasional sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, itulah sebenarnya perkembangan suatu bangsa.

Bab 2  P e m b a h a s a n

a. Pengertian dan ciri-ciri sistem

Sistem merupakan istilah yang memiliki makna sangat luas dan dapat digunakan sebagai sebutan yang melekat pada sesuatu. Suatu perkumpulan atau organisasi adalah sebagai sistem, yang kemudian orang menyebutnya dengan istilah sistem organisasi. Pendidikan sebagai sebuah sistem, yang kemudian orang menyebutnya dengan istilah sistem pendidikan. Begitu seterusnya, bahwa setiap jenis organisasi, apapun bentuknya, ia disebut sistem.
Defensi sistem banyak dikemukakan oleh para tokoh dengan sudut pandangnya masing-masing. Bela H. Banathy dalam bukunya Instructional System mengemukakan bahwa sistem adalah satuan atau kaitan objek-objek yang disatukan oleh suatu bentuk interaksi atau saling ketergantungan. Menurut Suhardjo (1985), sistem adalah kesatuan fungsional dari unsur-unsur yang ada untuik mencapai tujuan. Pengertian kedua ini lebih menunjukkan kejelasan diantaranya: sistem terdiri dari unsur-unsur, fungsi dari masing-masing unsur, ada kesatuan fungsi dari setiap unsur, dan ada tujuan yang ingin dicapai.

1. Tujuan

Tujuan merupakan sesuatu yang akan dicapai oleh sebuah sistem. Adapun tujuan dari pendidikan sebagai sistem yaitu untuk memberikan layanan bagi yang memerlukan. Pengajaran sebagai sistem, tujuannya agar siswa belajar untuk dapat menampilkan perilaku tertentu, begitu seterusnya.
2. Fungsi

Fungsi disini merupakan suatu aktifitas/fungsi sistem untuk dapat mencapai tujuan sistem itu sendiri.

3. Komponen
Komponen merupakan bagian yang ada dalam suatu sistem, yang melakukan atau memainkan fungsi tertentu dalam rangka mencapai tujuan sistem. Masing-masing komponen atau unsur sistem tersebut harus melakukan fungsinya sendiri-sendiri, tetapi ia juga harus saling berhubungan (berinteraksi) dan saling memiliki ketergantungan (interdependensi) dengan koponen lainnya.
Perlu diketahui pula, setiap komponen sistem sesungguhnya juga merupakan suatu sistem tersendiri. Mengapa demikian? Karena setiap komponen sistem juga memiliki komponennya sendiri. Dapat dikatakan bahwa komponen sistem juga merupakan subsistem dari suatu sistem yang lebih besar, atau setiap sistem terdiri dari sub-subsistem.
Dalam suatu sistem terdapat dua komponen sistem yaitu komponen sistem integral dan komponen sistem tidak integral. Komponen sistem integral mempunyai keterkaitan fungsi secara langsung dan atau merupakan bagian tak terpisahkan dari sub-subsistem yang ada, sehingga bila komponen sistem ini tidak berfungsi maka akan sangat mengganggu pencapaian tujuan sistem. Sedang komponen sistem tidak integral adalah komponen sistem yang mempunyai arti bagi subsistem lain tetapi bukan merupakan bagian integral dari subsistem lain tersebut, sehingga apabila komponen ini terpaksa tidak ada, maka tidak akan mengganggu pencapaian tujuan sistem.

4. Interaksi atau Saling Hubungan

Setiap komponen tidak berdiri sendiri-sendiri tetapi saling mempunyai keterkaitan bahkan dapat dikatakan saling memiliki ketergantungan antara komponen satu dengan komponen lainnya. Dengan kata lain, fungsi dari komponen yang satu sangat menentukan fungsi dari komponen yang lainnya. Dengan demikian apabila suatu sistem diharapkan dapat mencapai tujuan sistem dengan baik, harus ditunjang oleh fungsi yang baik dari tiap-tiap komponen sistem yang ada.

5. Penggabungan yang Menimbulkan Jalinan Keterpaduan

Keterpaduan komponen sistem tersebut akan memperkuat kerja dan fungsi sistem karena masing-masing komponen merupakan jalinan yang saling menunjang.
6. Proses transformasi

Proses transformasi merupakan suatu aktifitas untuk mengubah masukan/bahan mentah menjadi suatu produk atau bahan jadi. Produk atau bahan jadi ini akan terslurkan menjadi masukan sistem lain, sistem lain inijuga akan dilakukan proses transformasi, proses transformasi pada suatu sistem bisa teradi secara bertingkat-transformasi terjadi pafa tingkat sub-subsistem, baru kemudian terjadi transformasi pada sistem yang lebih luas.

7. Umpan balik

Umpan balik merupakan aktifitas pemantauan atau kontrol terhadap efektifitas dan efisiensi kerja sistem.

8. Daerah batasan dan lingkungan

Suatu sistem akan berinteraksi atau berhadapan dengan sistem lain, atau lingkungan sistem yang berada di luar sistem. Karena lingkungan yang berada di luar sistem itu juga merupakan sistem tersendiri, perlu ada ketegasan batasan tentang sistem tertentu. Setiap lingkungan sistem merupakan sistem tersendiri, maka secara otomatis akan terdapat macam sistem, yang merupakan suatu sistem yang lebih besar. Sistem lebih besar ini kemudian disebut dengan istilah “Supra Sistem”.
B. PENDIDIKAN SEBAGAI SUATU SISTEM

Raw Input merupakan bahan mentah yang akan diproses dalam suatu unit usaha atau organisasi. Dalam konteks pendidikan, yang dimaksud raw input adalah calon siswa.
Instrumental Input merupakan unsur pendukung yang mempengaruhi aktifitas organisasi atau unit usaha dan dapat dirancang atau dipersiapkan oleh unit usaha atau organisasi yang besangkutan. Dalam konteks pendidikan, yang termasuk instrumental input adalah unsur sumber daya manusia (guru dan non guru), sistem administrasi sekolah, kurikulum, anggaran pendidikan, prasarana dan sarana.
Enviromental Input merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi aktifitas suatu organisasi atau unit usaha, tetapi tidak dapa dirancang atau dipersiapkan oleh unit usaha atau organisasi yang bersangkutan. Dalam konteks pendidikan, enviromental input digambarkan seperti pengaruh TV, ekonomi, politik, sosial budaya dll.

C. SISTEM PENDIDIKAN

Dalam pengertian umum, yang dimaksud dengan sistem adalah jumlah keseluruhan dari bagian-bagiannya yang saling bekerja sama untuk mencapai hasil yang diharapkan berdasarkan kebutuhan yang telah ditentukan. Setiap sistem pasti mempunyai tujuan, dan semua kegiatan dari semua komponen atau bagian-bagiannya diarahkan dari tercapainya tujuan tersebut. Karena itu, proses pendidikan merupakan sebuah sistem yang disebut sebagai sistem pendidikan.
Secara teoritis, suatu sistem pendidikan terdiri dari komponen-komponen atau bagian-bagian yang menjadi inti dari proses pendidkan. Adapun komponen atau faktor faktor tersebut adalah:
a. Tujuan
Tujuan disebut juga sebagai cita-cita pendidikan yang berfiungsi untuk memberikan arah terhadap semua kegiatan dalam proses pendidikan.

b. Peserta didik
Fungsinya dalah sebagai objek sekaligus sebagai subjek pendidikan. Sebagai objek peserta didik tersebut menerima perlakuan-perlakuan tertentu, tetapi dalam pandangan pendidikan modern, peserta didik lebih dekat dikatakn sebagai subjek atau pelaksana pendidikan.

c. Pendidik
Berfungsi sebagai pembimbing pengaruh, untuk menumbuhkan aktifitas peserta didik dan sekaligus sebagai pemegang tanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan.

d. Alat Pendidikan
Maksudnya adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang berfungsi untuk mempermudah atau mempercepat tercapainya tujuan pendidikan.

e. Lingkungan
Maksudnya lingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai alat dalam proses pendidikan. Lingkungan berfungsi sebagai wadah atau lapangan terlaksananya proses pendidikan.

Faktor-faktor atau komponen sistem pendidikan itu, berkaitan erat satu dan lainnya, dan merupakansuatu kesatuan yang tak terpisahkan.

1. Sistem Pendidikan Nasional

Tujuan sistem pendidikan nasional berfungsi memberikan arah pada semua kegiatan pendidikan dalam satuan-satuan pendidikan yang ada. Tujuan pendidikan nasional tersebut merupakan tujuan umum yang hendak dicapai oleh semua satuan pendidikannya. Meskipun setiap satuan pendidikan tersebut mempunyai tujuan sendiri, namun tidak terlepas dari tujuan pendidikan nasional.
Dalam sistem pendidikan nasional, peserta didiknya adalah semua warga negara. Artinya, semua satuan pendidikan yang harus memberikan kesempatan menjadi peserta didiknya kepada semua warga negara yang memenuhi persyaratan tertentu sesuai dengan kekhususannya, tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama, suku bangsa, dan sebagainya. Hal ini sesuai dengan UUD 1945 pada Pasal 31 ayat (1) berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”.
Umunya, bangsa-bangsa yang telah maju memberi kewajiban belajar kepada warga negaranya lebih lama dibandingkan dengan negara-negara lain, sistem pendidikan (persekolahan) kita tampakkan cukup bagus meskipun bukan tanpa kekurangan. Pada jenjang pendidkan dasar di Indonesia dibagi dalam dua satuan pendidikan yaitu Sekolah Dasar yang dilakasanakan selama 6 tahun dan Sekaloh Lanjutan Tingkat Pertama selama 3 tahun. Jadi kalau persyaratan masuk SD/MI adalah anak yang sudah memenuhi usia 7 tahun, pada waktu lulus pendidikan dasar setidak-tidaknya anak sudah berusia 16 tahun karena harus melampaui pendidikan dasar selama sembilan tahun.
Di dalam sistem pendidikan nasional suatu bangsa, seluruh wilayah, budaya dan masyarakat, bangsa dan negara merupakan lingkungan dari sistem pendidikan nasional yang bersangkutan. Pengertian tentang lingkungan pendidikan sangat luas, meliputi lingkungan fisik, lingkungan kebudayaa, dan lingkungan sosial (manusia).
d. Warga negara dan haknya memperoleh pendidikan

Pendidikan merupakan sarana utama di dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Tanpa pendidikan akan sulit diperoleh hasil dari kualitas sumber daya manusia yang maksimal. Hal ini tercermin dalam tujuan pendidikan yang mengaktualisasikan pada kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya.
Kebutuhan akan pendidikan merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri, bahkan semua itu merupakan hak asasi semua warga negara sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 ayat (1). Secara lebih rinci lagi tentang hak warga negara untuk memperoleh pengajaran itu telah disebutkan dalam UU No. 2 Tahun 1989 yaitu terdapat pada pasal 5, 6, dan 7, 8. Dan kepada warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau keterbelakangan mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa. Pendidikan Luar Biasa adalah pendidikan yang disesuaikan dengan kelainan peserta didik berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bersangkutan.

e. Pengembangan kebudayaan & pendidikan nasional

Pendidikan Nasional dikehendaki haruslah bersifat fungsional, yaitu berfungsi untuk kepentingan kelembagaan masyarakat menuju perkembangan kehidupan bangsa yang menyangkut perkembangan pribadi dan watak bangsa. Sebab kedua-duanya ini merupakan kriteria dasae dalam upaya mewujudkan suatu sistem pendidikan nasional.
Secara esensial, pengembangan bangsa terus dapat dilihat dan dipahami melalui proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia. Sedangkan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dalam rangka mewujudkan cita-cita nasional. Semua itu hanya dapat diwujudkan secara kongkret dengan usaha pembangunan nasional.
Dalam upaya pembangunan bangsa, tampaknya pengembangan SDM yang paling penting dan utama jika dibandingkan dengan pengembangan SDA, meskipun kedua-duanya saling berkaitan dan tak terpisahkan. Dalam konteks ini maka pengembangan sumber daya manusia pada hakikatnya adalah proses pembudayaan

Bab 3 P E N U T U P
a. Kesimpulan
Sebagai kesimpulan dapat kita pastikan bahwa kebutuhan akan pendidikan merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri, bahkan semua itu merupakan hak asasi semua warga negara sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 ayat (1). Secara lebih rinci lagi tentang hak warga negara untuk memperoleh pengajaran itu telah disebutkan dalam UU No. 2 Tahun 1989 yaitu terdapat pada pasal 5, 6, dan 7, 8. Dan kepada warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau keterbelakangan mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa. Pendidikan Luar Biasa adalah pendidikan yang disesuaikan dengan kelainan peserta didik berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bersangkutan.
Pendidikan itu merupakan sebuah komponen/sistem atau lembaga yang mempunyai tujuan agar terciptanya situasi atau potensi-potensi dasar apa saja yang dimiliki anak-anak dapat dikembangkan sesuai dengan ketentuan kebutuhan mereka pada suatu zaman. Sedangkan sistem pendidikan nasional bertujuan untuk memberikan arah pada semua kegiatan pendidikan dalam satuan-satuan pendidikan yang ada. Tujuan pendidikan nasional tersebut merupakan tujuan umum yang hendak dicapai oleh semua satuan pendidikannya. Meskipun setiap satuan pendidikan tersebut mempunyai tujuan sendiri, namun tidak terlepas dari tujuan pendidikan nasional.
Sistem pendidikan nasional mempunyai peranan yang strategis dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang. Upaya sistem pendidikan nasional yang dapat diandalkan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia yang seutuhnya merupakan suatu usaha besar yang cukup rumit pengaturan maupun pelaksanaanya.

Daftar pustaka

Jumali, M., Drs., Surtikanti, SH., Dra., dkk., 2008. Landasan Pendidikan. Surakarta: Muhammadiyah Universitas Press.

Hasbullah. 2003. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.

Suber : http://rhyaria.blogspot.com/2011/03/makalah-pendidikan-sebagai-sistem.html

PENGANTAR ULUMUL QUR’AN


Ulumul Quran

Definisi
Ulumul Quran adalah sebuah kompilasi pelbagai macam disiplin ilmu,sebagai pendahuluan atau pengantar untuk memahami Al-Quran, seperti ilmu akan turunnya Al-Quran, pengumpulan, qiroat, mu’jizatnya (di antaranya tidak dapat ditahrif), nasikh dan mansukh, muhkan wa mutasyabihah, tafsir, tajwid dan lain sebagainya.
Jumlah Ilmu Al-Quran
Ulama’ berbeda pendapat tentang jumlah dari ilmu-ilmu Al-Quran; ada yang mengatakan 50 jenis, ada yang mengatakan 80, dan ada yang mengatakan jumlahnya sekitar 400 jenis ilmu, bahkan ada pula yang mengatakan lebih dari itu.

Pencetus Awal
Orang-orang yang pertama melangkahkan kakinya dalam mengkaji dan membahas ilmu ini adalah;
1. Imam Ali as.[1]
2. Abdulah bin Abbas.
3. Abdullah Bin Mas’ud.
4. Ubay bin Ka’ab bin Qais.

Poin-Poin Penting
q Awal penulisan disiplin ilmu ini dimulai sejak akhir-akhir abad pertama hijriyah.
q Ulumul Quran pada awalnya mulanya bermakna universal, dan mencakup tafsir dan tajwid.
q Abu Aswad Ad-Dualimerupakan orang pertama yang mengi’rab Al-Quran. Hal itu ketika beliau mendengar ada seseorang membaca ayat ketiga surat Taubah, orang itu membaca yang memberikan arti:”Allah berlepas diri dari kaum musyrikin dan rasulNya”.
q Orang pertama yang mencetuskan cara baca Al-Quran adalah: 1. Abul Aswad di abad I hijriyah. 2. Hasan bashri di abad II hijriyah.
q Kitab paling komplit pertama dalam kajian ulumul Quran ditulis pada abad kedelapan hijriyah, dengan nama Al-Burhan fi Ulumil Quran hasil karya Zarkasyi.
q Kitab-kitab yang dapat dijadikan rujukan dalam mengkaji ulumul Quran di antaranya: Al-Itqan fi Ulumil Quran, karya Jalaludid Syuyuthi, Manahilul Quiran karya Zarqani, Al-Bayan fi Tafsiril Quran karya Ayatullah Khui, Al-Tamhid fi Ulumil Quran karya Ayatullah Ma’rifat. Quran dar Islam karya Allamah Thabathabai, Quran Syenasi karya Ayatullah Misbah Yazdi, Vejhuhes dar Tarikhe Quran, karya Dr Hujati Kirman.

Nama Al-Quran
Dalam hal ini telah terjadi polemik dan perbedaan yang sangat santer dan tajam diantara para mufassir, sebagian mengatakan Al-Quran hanya memilki satu nama saja yaitu Al-Quran sendiri, ada yang mengatakan nama Al-Quran berjumlah 43, 55 dan ada yang mengatakan Al-Quran memiliki sekitar 80 buah nama.
Perlu ditambahkan di sini, mayoritas nama-nama yang mereka bawakan tersebut adalah adjectif sifat-sifat bagi kitab suci yang termaktub dalam Al-Quran. Dengan demikian salah satu penyebab terjadinya polemik itu adalah tidak dibedakannya antara nama dan sifat Al-Quran serta perbedaan saliqeh atau selera masing-masing person dari mereka dalam menentukan nama atau sifat.

Adapun pendapat yang benar adalah Al-Quran memiliki empat nama;
1. Al-Quran. (Buruj 21)
2. Kitab. (Shad 29)
3. Zikr. (Anbiya’ 50)
4. Furqan. (Furqan 1)
Dari keempat nama di atas tiga di antaranya; Kitab, Zikr, dan Furqan juga digunakan oleh kitab-kitab lain sebelum Al-Quran seperti Taurat dan Injil, sedang Al-Quran merupakan nama khusus bagi kitab yang telah diturunkan kepada baginda nabi Muhammad SAWW.

Arti Al-Quran
Quran yang merupakan masdar berwazan Gufran dan Rujhan diambil dari akar kata Qara’a yang bermakna membaca, akan tetapi masdar ini berarti seperti isim maf’ul, dengan demikian Quran adalah sesuatu yang dibaca / bacaan. Sebagaimana telah disebutkan oleh Allah dalam Al-Quran ayat ke 17-18 dari surat Qiyamah:”sesungguhnya atas Kami pengumpulan dan bacaannya, maka jika Kami membaca, ikutilah bacaannya”.

Sebab Penamaan Dengan Al-Quran
Adapun sebab penamaannya dengan Al-Quran adalah kitab suci ini pada mulanya berada di Lauh Mahfudz yang tidak berbentuk harfiyah / lafaz serta mempunyai maqam yang amat tinggi, akan tetapi sekarang dapat dibaca dan telah turun dari maqamnya supaya manusia dapat memahaminya.:”Sesungguhnya Kami telah turunkan Al-Kitab sebagai sebuah bacaan berbahasa arab supaya kalian bertaqwa, dan sesungguhnya ia di sisi Kami di Ummul kitab (lauh mahfuz) benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah”. (Zukhruf 3-4).

Sifat-Sifat Al-Quran
Sifat-sifat Al-Quran di antaranya: Majid (Qaf: 2), Karim (Waqi’ah 77), Hakim (Yasin 2), ‘Adhim (Hijr 87), ‘Aziz (Fuussilat 41-42), Mubarak (Anbiya’ 5) Mubin (Hijr 1), Mutasyabih (Zumar 23), Matsani, ‘Arabi (Yusuf 2), Gairu dzi Iwaj (Zumar 28) Dzi Dikr (Shad 2), Basyir (Fusilat 2-3), Nazdir (Fusilat 2-3), Qayyim (Kahf 1-2).
Sejarah Al-Quran

Wahyu
Secara linguistik wahyu bermakna; petunjuk, ilham, kabar yang samar, waswasah, bisikan dan lain sebagainya. Sedang Secara terminologis wahyu adalah hubungan spiritual para nabi dalam menerima misi yang berasal dari langit melalui relasi dengan alam gaib. Perlu dicamkan, kendati pada penggalan awal definisi kita katakan hubungan spiritual, namun ia juga memiliki dampak material.

Penggunaan Kata Wahyu dalam Al-Quran
Al-Quran banyak menggunakan kata wahyu dan tentunya dengan arti dan maksud yang beragam: terkadang berkaitan dengan para malaikat, setan, manusia non nabi, lebah dan bumi.
1. Ilham ruhaniyah kepada para malaikat. (Anfal 12).
2. Ilham ruhaniyah kepada manusia non nabi. (Qashash 7).
3. Ilham ruhaniyah kepada benda mati. (Zalzalah 3-5).
4. Petunjuk atau bimbingan instingtif: (An-Nahl 68).
5. Bisikan dan godaan setan. (Al’An’am 112).
6. Petunjuk samar. (Maryam 11).

Macam-Macam Wahyu
Allah SWT berfirman:”Dan tidak ada bagi seorang manusia bahwa Allah berkata-kata dengannya kecuali dengan prantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan”.(Asy-Syura 51)
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa wahyu terbagi dalam tiga macam:
1. Firman Tuhan yang tiada prantara antara tuhan dan rasulNya. (wahyu secara langsung)
2. Firman Tuhan yang terdengar dari balik tabir gaib.
3. Firman Tuhan yang sampai kepada para nabi melalui malaikat. (wahyu secara tidak langsung)
Dari ketiga macam dan jenis wahyu di atas, jenis pertama dan ketiga sering kali dirasakan dan dialami oleh nabi saww, dengan kata lain Al-Quran diturunkan kepada beliau dengan dua jalan; secara langsung dan tidak langsung dari Allah swt.
Wahyu yang turun kepada nabi secara tidak langsung dibawa oleh malaikat Jibrail, Jibril pun terkadang datang dengan bentuknya sendiri, terkadang dengan bentuk Dahiyah bin Khalifah Kalbi (sahabat rasul yang paling rupawan).

Adapaun ciri-ciri dari wahyu secara langsung diantaranya;
1. Suara lonceng.
2. Kelelahan yang sangat.
3. Perasaan ruh keluar dari raga.
4. Panas yang sangat.
5. Pingsan.
6. Panas di malam hari disertai rasa dingin dan keringat.
7. Pening dan pusing.

Turunnya Al-Quran
Allah berfirman:”Dalam bulan Ramadhan kami turunkan Al-Quran. (Baqarah 185). Dalam ayat pertama surat Qadar Ia juga berfirman:”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam qadar. Sebagaimana Allah juga berfirman:”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam yang telah diberkahi. (Dukhan 3).
Soal: Apakah ketiga ayat di atas mengindikasikan atas turunnya Al-Quran pada bulan Ramadhan secara spontan / keseluruhan pada hati nabi SAWW? Lalu bulan Ramadhan itu yang mana? Setelah pengutusan beliau (27 Rajab) atau setelahnya?
Dari dhahir ketiga ayat tadi kita dapat memahami bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan suci Ramadhan. Pengutusan nabi (Bi’sat) seiring dengan diturunkannya lima ayat pertama dari surat Al-‘Alaq, dan peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Ahli Sunnah berasumsikan bahwa bi’sat beliau pada bulan Ramadhan, dengan berdalilkan tiga ayat di atas. Untuk menjawab mereka kita dapat megatakan:
1. ayat-ayat ini hanya menjelaskan waktu turunnya Al-Quran.
2. Dhahirnya ayat-ayat ini menunjukkan bahwa seluruh Al-Quran turun pada bulan ini, sedang sesuai kesepakatan para ulama’ baik dari Syiah maupun Ahli sunnah ayat yang turun pada bi’sah nabi, hanya lima pertama ayat dari surat ‘Alaq.
Soal; Dalam tiga ayat di atas Al-Quran turun secara spontan / keseluruhan ataukah tidak?
Jawab: ketiga ayat di atas menjelaskan bahwa Al-Quran turun secara keseluruhan pada hati nabi SAWW.

Argumentasi- Argumentasi turunnya Al-Quran secara keseluruhan.
• Al-Kitab yang tersebut dalam surat Dukhan berarti seluruh Quran.
• Ayat-ayat yang menyuruh nabi untuk tidak mendahului bacaannya. (Qiyamah 16; Thaha 114).
• (ayat Hud 1)
• (Zukhruf 1-4)
• (Isra’ 116; Furqan 32)

Allamah Thaba’thabai mengatakan:”kata inzal menunjukkan turunnya Al-Quran secara keseluruhan (daf’i), sedang kata tanzil menunjukkan turunnya Quran secara bertahap (tadriji).
Urutan Turunnya Al-Quran:
1. tanggal 27 Rajab ; turunnya 5 ayat dari surat Al-‘Alaq.
2. dari awal Bi’sat sampai pertengahan bulan Ramadhan; beberapa ayat dari surat Muzammil, Qalam, dan Mudatsir.
3. bulan Ramadhan Al-Quran secara menyeluruh turun pada hati nabi SAWW, pada turunnya kali ini, dimulai dari surat

Al-Fatihah.
Rahasia dan Hikmah Turunnya Al-Quran Secara Bertahap
Ø Untuk lebih menguatkan hati nabi dan kaum muslim.
Ø Bertahapnya pemberian undang-undang dan hukum ilahi, seperti pengharaman minuman keras.
Ø Mencegah Al-Quran dari Tahrif.
Ø Untuk mempermudah pengajaran pengkajiannya.
Ø Terjadinya hubungan yang utuh antara wahyu dan peristiwa di zaman nabi. Dengan kata lain karena peristiwa terjadi secara bertahap maka ayat juga harus demikian.

Ayat
Secara linguistik ayat berarti: tanda dan bukti yang gamblang.
Ayat dalam Al-Quran
Dalam Al-Quran ayat dipakai dalam berbagai arti:
1. Tanda dan bukti. (Maryam 10)
2. Mu’jizat (A’raf 73)
3. Hukum. (Baqarah 106)
4. Para nabi dan para wali. (Yusuf 71)

Adapun secara terminologis ayat berarti kata atau beberapa kata yang terpisah dari awal dan akhirnya yang terdapat dalam sebuah surat.
Surat
Dalam bahasa surat berarti; sesuatu yang tersisa dari makanan atau sebagian dari makanan(su’r), dinding atau benteng kota (sur), dan juga memiliki arti ketiga yaitu maqam, kedudukan atau keutamaan (sur).
Dengan demikian dinamakan surat karena;
• merupakan bagian dari Al-Quran.
• seperti benteng yang sulit ditembus.
• setiap darinya memiliki maqam yang agung dan siapa yang membacanya akan sampai pada maqam tersebut.
Akan tetapi arti ketiga lebih cocok dan lebih sesuai., karena jamak dai kemungkinan pertama su’r adalah Asar dan jamak dari kemungkinan kedua adalah siran atau uswar sedang kemungkinan ketiga memiliki jamak suar.

Hikmah Pembagian Al-Quran Pada Beberapa Surat
Hikmah dari hal tersebut adalah:
1. tujuan berbeda-beda dan topik yang beragam, seperti surat Fil dan surat Yusuf yang berbeda satu sama lain.
2. mempermudah pengajaran dan penghafalannya.
3. mencaga Al-Quran dari tahrif.
4. tidak dapat disamainya Al-Quran walau dalam surat yang paling pendek sekalipun.

Pembagian Surat-Surat Al-Quran
Surat Al-Quran dapat terbagi dalam beberapa pembagian, pembagian pertama surat terbagi pada empat macam:
1. Sab’ Thual ; surat-surat yang sangat panjang, jumlahnya sekitar tujuh buah surat, diantaranya; Baqarah, Ali-Imran, Nisa’, Maidah, An’am, A’raf, para ulama’ berbeda pendapat dalam menentukan surat ketujuh yang termasuk jenis ini, ada yang mengatakan surat Yunus dan ada yang mengatakan surat Al-Kahfi.
2. Al-Miun; surat-surat Al-Quran yang lebih pendek dari bagian pertama serta mengandung lebih dari 100 ayat, surat yang semacam ini tak lebih dan tak kurang dari 11 buah surat.
3. Al-Matsani; surat-surat Al-Quran yang mengandung kurang dari 100 ayat, surat katagori ketiga ini berjumlah 20 buah.
4. Al-Mufasal; surat-surat pendek, surat-surat mufasal ini dimulai dari surat Ar-Rahman sampai akhir Quran.
v Secara ringkas dapat kita katakan bahwa Al-Quran memiliki;
q 114 buah surat.
q 6236 ayat.
q 77807 huruf.
v Ayat pertama yang turun adalah lima ayat pertama dari surat Al-‘Alaq.
v Surat kamil pertama yang turun adalah surat Al-Fatihah.
v Ayat terakhir yang turun dalam hal ini terdapat ikhtilaf ada yang mengatakan;
1. ayat 281 Al-Baqarah.
2. ayat 281 Al-Baqarah.
3. ayat 278 Al-Baqrah.
4. ayat Ikmal Din, ayat 3 Al-Maidah.
v Pendapat yang benar dari keempat pendapat di atas adalah pendapat terakhir, yaitu ayat Ikmaludin yang turun setelah peristiwa agung Al-Gadir, Ya’quby dari kalangan Ahli Sunah mendukung pendapat ini.
v Adapun surat kamil yang turun adalah surat An-Nashr.
Imam shadiq bersaba:”wahyu pertama yang turun kepada nabi SAWW adalah bismillahirrahmanirahim Iqra’ dan dan empat ayat setelahnya, adapun yang terkhir adalah surat An-Nashr”.
Surat-surat Al-Quran juga tebagi kepada surat-surat Makiyah dan surat Madaniyah.

Tolok Ukur Untuk Mengenal Surat-Surat Makiyah Dan Madaniyah.
1. Tolok ukur zamani: setiap surat yang turun sebelum hijrah nabi berarti ia surat Makiyah sedang surat-surat yang diturunkan setelah hijrah beliau disebut surat Madaniyah.
2. Tolok ukur makani; setiap surat yang turun di kota Makah itu tergolong surat-surat Makiyah, sedang surat-surat yang diturunkan di Madinah berarti surat Madaniyah.
3. Tolok ukur khithabi; setiap surat yang memuat seruan Ya Ayyuhannas berarti surat Makiyah, sedang surat yang terdapat seruan Ya Ayuhal Ladzina Amanu berarti surat Madaniyah.

Ciri-Ciri Surat-Surat Makiyah
Ø Seruan terhadap pondasi atau dasar keyakinan (ushul aqa’iad), seperti keimanan kepada tuhan dan keyakinan akan hari kebangkitan dan lain sebaginya.
Ø Pendek dan singkatnya surat.
Ø Perdebatan dengan kaum Musyrikin.
Ø Banyaknya sumpah.
Ø Banyaknya cerita-cerita para nabi.
Ø Banyaknya seruan Ya Ayyuhannas.
Ø Laknat yang yang amat keras.

Ciri-Ciri Surat-Surat Madaniyah
Ø Suratnya panjang-panjang.
Ø Banyak memuat tuntunan hukum agama (furu’ din) seperti jihad, warisan dan had-had.
Ø Perdebatan dengan kaum Ahli kitab.
Ø Perlawanan terhadap kaum Munafiq.
Ø Penjelasan akan kebanaran agama.
Ø Banyak memuat seruan Ya Ayyuhal ladzina amanu.

Sesuai pendapat para muafassir jumlah surat-surat yang tergolong Makiyah berjumlah kurang lebih 86 buah surat, sedang jumlah surat-surat Madaniyah berjumlah 28 buah surat.

Tahapan Penulisan Al-Quran
Tahapan pertama; menghafal Al-Quran, sejak awal Nabi selalu menganjurkan untuk melaksanakan hal ini.
Tahapan kedua; penulisan. Adapun mereka yang disebutkan para mufassir sebagai penulis wahyu adalah;
1. Imam Ali as
2. Mu’ad bin Jabal
3. Ubay bin Ka’ab
4. Zaid bin Tsabit
5. Abdullah bin Mas’ud
Para ulama’ sepakat bahwa kelima orang di atas sebagai penulis wahyu, namun ada sekitar empat puluhan orang lebih tidak disepakati para ulama’.
Selain mereka menulis wahyu tersebut di atas kertas[2] ada alat-alat lain yang mereka gunakan utuk mencatat dan menulisnya diantaranya adalah: 1. Lihaf. 2. Adim. 3. ‘Usub. 4. Riqa. 5. Aktaf. 6 Adlla. 7 Syadhadh. 8. Aqtab. 9. Sutra

Metode Penulisan Ayat-Ayat Al-Quran
Minimal ada tiga cara penulisan yang disebutkan oleh para ulama’;
Ø Penulisan sesuai urutan turunnya ayat.
Ø Penulisan dengan tanpa melihat urutan turunnya ayat dan atas perintah rasulullah SAWW.
Ø Penulisan dengan tanpa melihat urutan turunnya ayat dengan ijthad para sahabat.

Secara global dapat dikatakan bahwa penulisan dan penyusunan ayat-ayat dalam surat-surat Al-Quran adalah Tawqifi artinya disusun sesuai perintah dari nabi. Sedang penyusunan dan penulisan surat tidak demikian artinya tidak tauqifi, adapun ayat sesuai ijtihad dari para sahabat terdapat polemik di antara para ulama’, sebagian mengatakan hal ini tidak terjadi sedang sekelompok yang lain mengatakan sebaliknya.
Sesuai kesepakatan antara ulama’ Syiah dan Ahli Sunnah orang pertama yang mengumpulkan Al-Quran setelah nabi SAWW adalah Imam Ali as.

Ciri-Ciri Dan Keistimewaan Mushhaf Imam Ali as

Ciri-ciri dan keistimewaan mushhaf Ali as adalah;
1. pengurutan surat sesuai urutan turunnya.
2. bacaannya sesuai dengan bacaan nabi SAWW.
3. memuat sebab-sebab dan tempat turunnya ayat, nasikh dan mansukh dan lain sebagainya.
4. memuat tafsiran ayat.
Salah satu faktor yang membuat para sahabat merubah penyusunan surat Al-Quran tidak sesuai urutan turunnya, adalah hadis nabi yang mengatakan:”aku telah diberi sab’ thual sebagai pengganti dari Taurat, dan diberi miun sebagai ganti dari Zabur, dan diberi matsani sebagai ganti dari Injil, lalu aku diberi Mufassal sebagai anugerah khusus bagiku”
Pengumpulan Dan Penyusunan Al-Quran
Pengumpul Al-Quran adalah mereka yang menulis ayat dan surat Al-Quran di zaman nabi saww.
Sedang apakah Al-Quran sendiri telah tersusun dalam sebuah mushaf ataukah tidak? Di sini ada polemik diantara para ulama’, ada yang mengingkarinnya dan ada pula yang menjawab sebaliknya.
Kelompok ulama’ yang mengatakan Al-Quran disusun setelah kepergian nabi saww berargumentasikan berbagai dalil yang diantaranya;
1. Adanya bukti-bukti sejarah.
2. Turunnya Al-Quran secara bertahap sampai detik-detik terakhir kehidupan nabi saww.
3. Riwayat-riwayat yang berasal dari kalangan Syiah maupun Ahli Sunnah yang menuturkan bahwa Ali as penyusun pertama Al-Quran. Jika memang Al-Quran disusun di zaman nabi maka apa arti dari perintah beliau pada imam untuk menyusunnya dan mengumpulkannya kembali.
4. Perbedaan yang ada antara penyusunan nabi dan imam, hal ini berdasarkan asumsi Al-Quran yang sekarang hasil dari pengumpulan nabi saww.

Pertanyaan selanjutnya yang harus dijawab adalah apa yang memotifasi khalifah pertama, Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Quran?
Faktor uatama yang memotifasi Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Quran adalah terjadinya perang Yamamah[3] yang berakhir dengan syahidnya sekurang-kurangnya 70 hafiz Quran, usulan pengumpulan ini buah pikir Umar, khalifah kedua.

Penyusunan Al-Quran Di Zaman Utsman

Faktor dan sebab penyatuan mushaf-mushaf di zaman Utsman adalah terjadinya perbedaan yang sangat santer diantara kaum muslimin berkaitan dengan cara baca Al-Quran, usulan penyatuan ini merupakan buah pikir Khudaifah al-Yamani.
Adapun orang yang menentang penyatuan ini adalah Ibn Mas’ud, hal ini karena ia tidak setuju akan pemilihan orang-orang yang melaksanakan penysunan ini.
Tahapan penyatuan mushaf ini sebagai berikut;
1. dikumpulkannya semua Al-Quran lalu dibakar.
2. bersandar pada mushhaf Zaid bin Tsabit dan mushhaf Ubay bin Ka’ab.
3. ditulis dengan melihat teks.
4. dikirimkannya mushhaf tersebut ke berbagai kota-kota penting disertai qari’.
Sikap para imam suci terhadap penyatuan mushhaf positif, mendukung, dan tidak melakukan penentangan sama sekali.

Keistimewaan Dan Ciri Mushhaf Utsman

Keistimewaan mushhaf tersebut adalah:
1. urutan dimulai dengan sab’thual, miun, matsani, dan mufashshalat.
2. mushhaf ini ditulis dengan khath ibdai (tanpa titik, tanpa harakat, dan tanpa tanda).
Khath dapat dibagai menjadi dua:
1. Khath syuryani yang sekarang dikenal dengan kufi. Tulisan ini bertahan dan digunakan sampai abad kelima.
2. khath sibthi yang sekarang dikenal dengan nama khath naskh.
Pada waktu itu tidak ada titik, harakat dan tanda-tanda sehingga terjadi perbedaan dalam cara baca Al-Quran.

I’rab Dan Peletakan Harakat

Orang pertama yang mengi’rab Al-Quran adalah Abul Aswad Ad-Duali murid Imam Ali as, beliau melakukannya dengan memberikan titik. Untuk menandai sebuah huruf berharakat fathah beliau meletakkan satu titik di atasnya, untuk kasrah beliau letakkan titik di bawahnya, dan untuk harakat dhammah sebuah titik di depannya.
Adapun orang yang melengkapi karya Abul Aswad ini dan mengi’rab Al-Quran seperti yang kita lihat sekarang adalah Khalil bin Ahmad Farahidi.
Dengan demikian i’rab Al-Quran dibagi pada dua: melalui titik dan melalui harakat.
I’jam
Kata arab berarti fasih dan gamblang sedang ‘ajam berarti mubham dan kurang jelas, sedang ‘i’jam yang merupakan bab i’fal dari kata ini berarti mengangkat atau melenyapkan kemubhaman dan kesamaran. Dan pemberian titik pada huruf yang serupa dinamakan i’jam. Pemberian titik ini pertama kali dilakukan oleh Yahya bin Ya’mar dan Nashr bin ‘Ashim, keduanya murid dari Abul Aswd Ad-Duali.

Tahrif Al-Quran

Secara linguistik Tahrif adalah condong dan penyimpangan, tahrif kalimat bermakna mengganti kalimat kepada yang bukan arti sebenarnya. (tahrif secara makna), seperti barangsiapa yang membunuh Ammar berarti ia orang lalim, Muawiyah pembunuhnya di perang Shifin, muawiyah mntahrif hadis ini dengan mengatakan Imam Ali yang membunuhnya, karena ia yang membawanya ke medan peperangan.
Sedang tahrif secara terminologis berarti; merubah lafaz baik dengan pengurangan maupun penambahan.
Macam-Macam Tahrif

Tahrif terbagi pada dua macam:
1. ma’nawi (perubahan dengan pendapat) tahrif semacam ini telah terjadi dalam Al-Quran, dan menjadi sebab munculnya aliran-aliran keislaman seperti Jabariyah dan lain sebaginya.
2. tahrif secara lafzi; a. Dengan penambahan; jenis tahrif ini sesuai kesepakatan Sunnah dan Syiah juga tidak terjadi. Sedang perubahan tahrif dengan pengurangan, di sini terdapat polemik yang cukup tajam, ada yang mengatakan telah terjadi dan ada pula yang mengatakan tidak.
Argumentasi Tidak Adanya Tahrif
1. firman Allah SWT pada surat Hijr ayat 9. ayat ini dimulai dengan jumlah ismiyah dan didahului oleh haruf inna juga dhamir nahnu dan adanya lam ta’kid semuanya memperkuat kalau Al-Quran telah diturunkan oleh Allah dan Ia senatiasa menjaganya.
2. firman Allah SWT pada surat Fusilat ayat 41. pada ayat ini kata ‘Aziz telah dibawa yang berarti Yang Tidak Pernah kalah, dan tidak bsa dikalahkan, artinya tidaka ada jalan satupun untuk membatilkan Al-Quran. Dengan demikian tidaka ada jalan untuk berupaya mentahrif Al-Quran baik lewat penambahan maupun pengurangan.
Argumentasi Logis
Al-Quran diturunkan sebagai kitab pedoman dan petunjuk bagi manusia, di samping itu ia merupakan kitab terakhir, jika kitab ini terkena tahrif, maka ia tidak lagi dapat menunaikan tugasnya untuk membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia. Dan ini jelas bertentangan dengan tujuan awal yang diinginkan, dan Allah SWT, zat yang tidak akan mungkin menyimpang dari tujuanNya.

Bukti-Bukti Historis

Al-Quran mendapatkan tempat yang amat berarti di tengah-tengah muslimin, mereka mengahfalkannya, mengkajinya, serta dalam setiap masa terdapat para hafiz Quran, ditambah kehadiran para Imam ma’sum di tengah-tengah mereka yang menegaskan bahwa Al-Quran tidak lah ditahrif.
Bukti-Bukti Lain
Dengan merujuk keistimewaan dan ciri yang dimiliki oleh Al-Quran asumsi bahwa kitab langit ini dapat ditahrif akan lenyap, ciri-ciri Al-Quran tersebut diantaranya:
1. Surat-surat makiyah lebih dulu turun sebelum surat-surat madaniyah, makiyah pendek-pendek, sedang surat-surat madaniyah terbilang panjang-panjang.
2. Al-Quran diturunkan secara bertahap, hal ini memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk menghafalkannya.
3. teori menarik yang diperaktekan Al-Quran dalam menjelaskan ma’arif, definisi, celaan terhadap individu yang membuat sipapun tak bisa mentahrifnya.

Soal:
Dalam riwayat disebutkan bahwa setiap pristiwa yang terjadi pada umat terdahulu, akan terjadi pula pada umatku, dengan demikan sebagaimana Taurat dan Injil telah ditahrif, Al-Quran juga harus demikian?
Jawab:
1. Dengan memperhatikan ayat Inna nahnu nazalna zdikra wa inna lahu laha fizdun, Al-Quran sama sekali tidak akan dapat ditahrif. Dengan demikian riwayat ini bertentangan dengan kandungan Al-Quran, dengan demikian riwayat ini menjadi batil.
2. Umat nabi Muhammad dalam berbagi kasus tidak menyerupai atau tertimpa dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada umat sebelumnya, seperti penyembahan anak sapi, mi’raj ke langit, tenggelamnya Fir’aun, dan sapinya bany Israel kesemuanya tersebut tidak pernah dialami oleh umat nabi Muhammad SAWW, dengan demikian keserupaan itu tidak pada semuany

Soal:
Di dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Al-Quran Imam Ali as memiliki beberapa tambahan, riwayat-riwayat seperti ini merupakan dalil akan adanya tahrif dalam Al-Quran?
Jawab:
1. tambahan-tambahan yang berada dalam mushaf beliau hanya menyangkut tentang masalah nuzul, keterangan tentang nasikh dan mansukh dan beberapa tafsiran ayat Al-Quran.
2. jika Al-Quran telah ditahrif dalam masa pemerintahannya Imam pasti akan memberontak dan menyangkalnya, dan hal tersebut tidak dapat kita saksikan dalam sejarah.

Soal:
dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa nama imam Ali as di sebagian ayat Al-Quran, dan sekarang kita tidak dapat menemukan ayat yang memuat nama beliau itu, dengan demikian Al-Quran telah ditahrif?
Jawab:
1. riwayat seperti ini dalam rangka menjelaskan kondisi turun dan tafsiran Al-Quran dan tidak mengatakan bahwa nama imam atau nama para imam ma’sum lainnya tercatat dalam Al-Quran.
2. jika nama imam Ali as termaktub dalam Al-Quran maka peristiwa monumental Al-Gadir dan pelanntikan beliau di sana tidak bernilai dan sia-sia belaka.

Soal:
bagaimana kita menjelaskan dan mentaujih berbagai riwayat yang mengindikasikan tahrif dalam Al-Quan?
Jawab;
1. riwayat-riwayat tersebut sangat lemah sanadnya, karena ada seorang pembohong yang bernama Ahmad bin Muhammad sayari atau Ali bn Ahmad Kufi.
2. dengan mencermati berbagai bukti yang ada, sebagian riwayat-riwayat ini berkaitan dengan ikhtilaf bacaan Al-Quran sedang yang lain berkaitan dengan tahrif dari sisi arti bukan lafaz.

I’zajul Quran

Salah satu metode mengenal dan membedakan seorang yang betul-betul nabi dan yang bukan adalah melalui mu’jizat.
Secara linguistik i’jaz mempunyai tiga arti; 1. sesuatu lenyap 2. merasa tidak mampu dan tak berdaya. 3. melemahkan dan memperdaya.
Adapun secara terminologis i’jaz adalah : sebuah hal luar biasa seiring dengan klaiman kenabian, disertai oleh tantangan dan juga tidak ada satu orang yang mampu menandingi dan mengalahkannya yang menjadi bukti akan kebenaran klaiman seorang nabi.

Hikmah keanekaragaman mu’jizat para nabi

Mu’jizat terbaik adalah mu’jizat yang menyerupai pan dan san’at zamannya karena setiap spesialis akan lebih mampu menentukan dan mempercayai mu’jizat para nabi, dengan demikian mu’jizat para nabi sesuai dengan kondisi zamannya. Seperti nabi Musa memiliki mu’jizat tongkat menjadi ular, karena yng paling poluler di zamanya adalah sihr, nabi Isa as membangkitkan orang mati, sedang nabi kita Muhammad SAWW Al-Quran.
Dalam definisi disebutkan adanya tantangan, pertanyaan kita adalah apa arti dari tantangan tersebut? Tantangan itu dengan berapa surat? Tantangan berarti meminta tandingan.
Tantangan secara umum, seperti tantangan Al-Quran yang menantang penentangnya membikin seprti Al-Quran, sepuluh surat, dan satu surat. Tantangan secara umum.
Allah SWT dalam firmanNya “menganjurkan” jika Al-Quran bukan berasal dari langit, supaya manusia dan jin berembuk dan berkumpul bahu-membahu untuk mendatangkan kitab yang sepadan Al-Quran, atau 10 surat darinya, atau satu surat saja.

Aspek-aspek mu’jizat Al-Quran

1. pribbadi rasul SAWW; Al-Quran yang mengandung pengetahuan-pengetahuan dan hikmah dibawa oleh seseorang yang tidak bisa baca dan tulis.
2. kefasihan dan balagah; aspek kedua ini merupakan aspek paling terkenal dari mu’jizat Al-Quran, sebuah contoh ayat qishash “di dalam qishash terdapat kehidupan bagi kalian” memiliki 20 keistimewaan dibanding julah terfasih arab ”pembunuhan mencegah kematian.
3. pengetahuan yang tinggi dan dalam (mu’jzat ma’ani); seperti dalam pembahasan ketuhanan, kenabian. Ma’ad, ushul, undang-undang yang beragan tentang; ekonomi, politik, sosial, budaya, sistem dan hak-hak. Dalam hal ini kita dapat bawakan asl amanah, dan keadilan.
4. keharmonisan dan tidak adanya kontradiksi; kendati Al-Quran turun dalam kurun waktu 23 tahun, dengan situasi dan kondisi yang beragam, ditambah topik-topik yang beraneka ragam, namun tetap saja tidak perbedaan dan tumpang tindih antara satu dan yang lain.
5. kabar-kabar gaib baik dari pristiwa terdahulu seperti cerita nabi Yusuf (cerita terbaik), maryam dan yang lain. Atau kabar akan pristiwa dan hal masa datang:
1. kabar kemenangan Rum
2. kemenangan muslimin pada perang Badr
3. fath Makah
4. keterjagaan Al-Quran
5. keunggulan Islam atas agama-agama lain
6. kajian-kajian ilmiah yang detaill seperti kandungan Al-Quran tentang tumbuhan dan berputarnya alam dan bentuknya yang bulat.
7. muatannya yang kaya dengan keelokan seni, seperti pengilustrasian berbagai arti.
8. I’jaz adadi, seperti telah tersingkap kalau kata Syahr yang berarti bulan disebutkan dalan Al-Quran sebanyak 12 kali, Yaum dengan bentuk kata tunggal disebut sebanyak 256 kali, sedang dalam bentuk jamak sejumlah 30 kali.

Soal:
Apa maksud dari teori Sharfah?
Jawab:
Teori ini mengatakan maksud dari kemu’jizatan Al-Quran adalah Allah SWT melenyapkan atau memalingkan motifasi dan kemauan manusia untuk menentang dan menantang Al-quran. Teori ini jelas tidak benar dan tidak berdasar sama sekali, Karena dengan teori ini menggambarkan bahwa seakan-akan Al-Quran tidak memiliki mu’jizat dan keunggulan.
Naskh
Secara linguistic naskh berarti: perubahan, penghapusan pembatalan, dan pemindahan. Arti yang terakhir ini adalah istinsakh.
Rukun-Rukun Naskh:
1. Mansukh, hukum pertama.
2. Mansukh Bih, hukum kedua.
3. Nasikh, atau Allah SWT.
Syarat-Syarat Naskh:
1. Mansukh (hukum pertama) hendaknya hukum Syar’i bukan hukum rasional, seperti jika secara rasional sebuah perbuatan itu boleh dilakukan, tapi ada hukum syar’i datang mengharamkannya, hal semacam ini tidak dapat dikatakan sebagai naskh.
2. Mansukh tidak terbatas dengan waktu tertentu.
3. Mansukh bih (hukum kedua) hendaknya datang atau turun setelah hukum pertama.
4. Tasyri’/Pensyariatan kedua hukum itu hendaknya bersumber dari Syari’ bukan dari akal atau ijma’ para ulama’.
5. Dalil mansukh bih sesuai atau ada kaitannya dengan dalil mansukh.
6. Hendaknya ada pertentangan secara zati (subtansial) bukan aradhi.
7. Hendaknya pertentangan yang terjadi kulli (totalitas) dan tam; bukan antara ;
• Muthlaq dan muqayad.
• ‘Am dan Khash.
• Mubham dan Mufassir.
• Mujmal dan mubayin.
8. Nasikh hanya Allah SWT saja.

Arti terminologis naskh adalah; dicabutnya hukum syar’i yang secara lahiriyah akan berlanjut dan berkesinambungan, baik melalui penurunan hukum berikutnya yang secara zati (subtansial) atau karena dalil khusus yang lain keduanya tidak dapat disatukan.
Mungkinkah Naskh (Penghapusan Hukum) Terjadi Dalam Al-Quran?
Sebelum menjawab soal ini perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa penghapusan hukum dan undang-undang yang biasa terjadi dalam keseharian manusia berarti munculnya sebuah ide dan pendapat baru, yang mengkonsekwensikan ketidaktahuan peletak dan penggagas undang-undang itu.
Sedang dalam hukum Islam pemberlakuan/persyariatan undang-undang bergantung pada maslahat dan kerugian yang ditimbulkan, jika maslahat dan kerugiannya tidak permanen dan temporal sifatnya, kehendak tuhan akan demikian adanya, dan Allah sudah dari awal telah mengetahui maslahat dan kerugian yang terdapat dalam hukum yang diturunkanNya, jadi tidak melazimkan ketidaktahuanNya.
Adapun dalil kedua yang dapat kita pakai dalam hal ini adalah: kaidah adallu dalilin ‘ala imkani sya’i wuqu’uh, artinya paling gamblangnya sebuah argument akan kemungkinan terjadinya sebuah sesuatu adalah terjadinya hal tersebut di alam nyata.

Adapun ayat-ayat Al-Quran yang dapat kita gunakan sebagai argumen akan kemungkinan terjadinya naskh adalah:
1. ayat ke 106 dari surat Al-Baqarah. :”tidaklah Kami menghapus hukum atau Kami melupakannya, kecuali Kami datangkan apa yang lebih baik atau yang sepadan dengannya”.
2. ayat ke 101 dari surat An-Nahl:”dan ketika Kami ganti (hapus) ayat/hukum dengan hukum lain, dan sesungguhnya Allah SWT lebih mengetahui apa yang Ia turunkan…”.
3. ayat ke 39 dari surat Ar-ra’d:”Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki, dan disisiNya Umul kitab.

Dalam kaitannya dengan Jumlah ayat naskh dan mansukh, ada yang mengatakan 500 ayat, ada yang mengatakan 124 ayat, ada yang mengatakan 20, ada yang 10, Ayatullah Ma’rifat berpendapat 8 ayat, sedang Ayatullah Khu’I berasumsi hanya satu ayat saja.

Macam-macam naskh

Macam naskh itu ada tiga;
1. penghapusan hukum dan bacaanya. Seperti ayat radha’at (pada mulanya sepuluh kali menyusui anak seseorang akan membuat ia mahram, kemudian dihapus dengan hanya lima kali susuan saja.)
2. penghapusan bacaan tanpa hukum. Seperti ayat As-Syaikh (hukum tentang dirajamnya kakek dan nenek yang telah berzina)[4]
3. penghapusan hukum tanpa bacaannya.
Dari ketiga macam tersebut sebagian dari kelompok Ahli sunah menerima dua jenis naskh pertama, sedang Syi’ah imamiyah hanya mau menerina naskh jenis ketiga, karena yang pertama dan yang kedua mengkonsekwensikan akan terkuranginya

Al-Quran dan termasuk sebuah bentuk tahrif.

Adapun ayat naskh dan mansukh yang terdapat dalam Al-Quran adalah sebagai berikut:
1. ayat ‘afw (pemberian maaf dan ampunan). Ayat 109 surat Al-Baqarah, ayat ini memberikan maaf dan keringanan terhadap ahli kitab pada awal-awal hijrah, karena kaum muslimin belum memiliki kekuatan memadai, kemudian –hukum- ayat ini dihapus oleh ayat Qital, ayat ke 9 surat Taubah, ayat yang menyuruh kaum muslimin untuk memerangi mereka.
2. ayat pengharaman bergaul dengan istri di malam bulan Ramadhan, hukum ini dihapus dengan ayat ke 187 surat Al-Baqarah, hanya saja para alhi tafsir berbeda pendapat tentang ayat mana yang dihapus, sekelompok dari mereka berpendapat kelanjutan dari ayat tersebut yang telah dihapus.
3. ayat hukuman bagi para penzina, ayat ke 15 dari surat Nisa’, ayat ini mengandung sebuah hukum yang mengatakan sekaplah wanita penzina di dalam rumah sampai Ia menemui ajalnya. Kemudian ayat jild turun ayat ke 2 dari surat Nur, yang mengatakan cambuklah setiap dari laki dan perempuan yang berzina.
4. ayat tawarus (warisan dapat diterima) melalui hubungan keimanan dan aqidah, setelah beliau mengikat persaudaraan para muhajir dan anshar. Ayat ke 71 Anfal. Kemudian turun hukum warisan hanya dapat diperoleh melalui keturunan, hukum tersebut berada dalam ayat ke 6 dari surat Ahzab.
5. ayat najwa; ayat ke 12 surat mujadalah; di sini disebutkan, mengingat banyaknya para sahabat yang datang bertemu rasul, dimana sebagian hanya menyita waktu istirahat beliau, maka hukum ini diturunkan oleh Allah swt: barangsiapa yang ingin berdialog dengan nabi hendaknya bersedekah dengan satu dirham.[5] Allamah Thaba’thaba’I mengatakan setelah ayat ini turun tidak ada sahabat yang datang menemui belia, kecuali Imam Ali as, beliau datang sebanyak 10 kali, sampai pada akhirnya ayat berikutnya turun, menghapus hukum yang memberatkan kaum muslimin ini.
6. ayat mengenai jumlah bala tentara, pada awalnya hukum yang berlaku mengatakan: 20 melawan 200 orang kapir, dan jika muslimin 100, dapat berhadapan dengan 1000 orang kapir. Hal ini terdapat dalam ayat ke 65 surat Anfal. Yang kemudian dihapus oleh setelahnya.

Muhkam dan Mutasyabih

I. Allah SWT berfirman:”Dialah yang menurunkan al-kitab kepadamu, sebagian darinya ayat-ayat yang muhkam ia adalah ummul kitab, sedang sebagian yang lain mutasyabih, maka mereka-mereka yang di hatinya ada virus dan penyakit, mereka mengikuti apa yang tidak jelas, dengan mengharap pitnah, dan ta’wilannya, tiada yang mengetahui ta’wilannya kecuali Allah, Rasul, dan orang-orang yang berilmu (para Imam), mereka berkata setiap dari kami mempercayainya, dan tidak teringat kecuali orang-orang yang mempunyai pemahaman. Ayat 7 surat Ali-Imran.
Ayat Al-Quran;
1. Muhkamat; adalah umuml kitab, arti dari kata muhkam adalah tetap, kokoh, dan tertentu, sedang kata um adalah tujuan, tempat rujukan, dan sumber, dinamakan muhkamat karena ayat-ayat mutasyabih harus dikembalikan padanya.
2. Mutasyabihat; memiliki beberapa arti dan tafsiran.
II. Definisi muhkam; ayat adalah ayat yang kandungannya dapat dipahami tanpa adanya kesamaran di dalamnya, dan dengan gamblang menjelaskan arti yang tersimpan.
Sedangkan maksud dari mutasyabihat adalah; ayat yang memiliki kemungkinan arti dan makna lebih dari satu, oleh karena sangat dimungkinkan di sana ada kerancuan dan kesamaran. Seperti ayat yang berkata:”tangan tuhan di atas tangan mereka (kaum mu’min)”. surat Fath ayat 10. sekelompok berkeyakinan maksud dari yad tadi adalah tangan biasa, sebagian lagi dalam hal ini mengatakan arti dan tujuan dari kata yad tangan itu adalah kekuatan absolut tuhan.
Ayat muhkamat disebut oleh Al-Quran sebagai umul kitab induk Quran, artinya tempat kembali, dan tujuan, dengan demikian tempat kembali semua ayat-ayat mutasyabih dan metode pelenyapan kesamaran adalah merujuk kepada ayat-ayat muhkam.

Faktor dan Hikmah Adanya Ayat-Ayat Mutasyabih

Ada beberapa hikmah dan sebab kenapa ayat Mutasyabih terdapat dalam Al-Quran diantaranya:
• petunjuk dan bimbingan agama diperuntukan pada semua lapisan masyarakat, dan pemikiran dan intelektualitas mereka itu bertingkat-tingkat dan berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, hal ini jelas menyebabkan kesamaran dan ketidak gamblangan Al-Quran pada sebagian mereka.
• Adanya mutasyabih dalam Al-Quran adalah hal lumrah dan biasa, karena Al-Quran seperti ucapan manusia, ia menggunakan segala teori dan metode dalam menjelaskan sebuah kajian mulai dari yang paling simpel sampai ke yang paling sulit, sebagaimana kita ketahui dalam Al-Quran terdapat; majaz, isti’ar, tamtsil, kinayah, dan digunakannya hal-hal seperti itu secara alami menciptakan ketidakjelasan arti dalam Al-Quran.
________________________________________
[1]Jalaluddin Suyuthi dalam kitab Al-Itqannya menuturkan bahwa:” Di antara para Khalifah yang paling banyak meriwayatkan hadis tentang ulumul Quran adalah Ali as”.
[2]pada waktu itu kertas diimpor dari India masuk ke Saudi Arabia lewat jalur perdagangan dari Yaman.
[3] Perang ini terjadi antara kaum muslimin dengan Musailamah Kadzab (pengklaim kenabian) dan para pengikutnya.
[4] Ayat ini dibaca oleh Umar lalu ditolak oleh Zaid bin Tsabit ketika terjadi proses penulisan Al-Quran.
[5] Ayatullah Khu’I berpendapat hanya ayat inilah yang dihapus hukumnya dalam Al-Quran.