MODEL DAN PENDEKATAN KEBIJAKAN


KEBIJAKAN PUBLIK

 MAKALAH

MODEL DAN PENDEKATAN KEBIJAKAN
Disusun  untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teori dan Strategi Kebijakan
Yang dibina oleh:
Dr. Amrin Batubara, S.Pd, M.Pd.
Oleh :
Shilatul Hamri (201110240211035)
Sulistyorini (201110240211045)
Estri Novita (201110240211065)
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
Program Pascasarjana
Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan
2012

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

Kebijakan adalah sebuah kegiatan pemahaman manusia mengenai pemecahan masalah. Kebijakan dibuat untuk dapat membuat solusi akan problematika manusia yang bermacam-macam. Pemerintah merupakan lembaga tinggi negara yang merupakan pengambil alih kebijakan bagi rakyatnya, akan tetapi kadang kala kebijakan tersebut dapat diterima dan kadang kala pun ditolak oleh masyarakat. Makalah ini merupakan mata kuliah Teorydan Strategi Kebijakan yang berjudul “Model dan pendekatan kebijakan”
Tugas ini membahas masalah berbagai jenis model dan pendekatan kebijakan beserta pembahasannya yang dijelaskan secara gamblang dan jelas yang di kutip dari berbagai referensi terpercaya.
Penulis sadar bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, tugas ini tidak akan terwujud. Oleh karena itu, sebagai tanda terima kasih sedalam dan setulus hati penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah Model dan Pendekatan kebijakan ini.
Gresik, 24 Maret 2012
           DAFTAR ISI
BAB I Pendahuluan
           A. Latar Belakang
           B. Sistematika Pembahasan
 BAB II Pembahasan
           A. Model- Model Studi Kebijakan
                1. Pengertian Model Kebijakan
                2. Fungsi Model Kebijakan
                3. Model- Model Studi Kebijakan
           B. Pendekatan dalam Studi Kebijakan
BAB III Penutup
           A. Kesimpulan
           B. Saran
Dartar Pustaka
  BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
       Dalam beberapa tahun belakangan ini, dimana persoalan-persoalan yang dihadapi pemerintah sedemikiankompleks akibat krisis multidimensional, maka bagaimanapun keadaan ini sudah barang tentu membutuhkan perhatian yang besar dan penanganan pemerintah yang cepat namun juga akurat agar persoalan-persoalan yang begitu kompleks dan berat yang dihadapi oleh pemerintah segera dapat diatasi. Kondisi seperti ini pada akhirnya menempatkan pemerintah dan lembaga tinggi Negara lainnya berada pada pilihan-pilihan kebijakan yang sulit.Kebijakan yang diambil tersebut terkadang membantu pemerintah dan rakyat Indonesia keluar dari krisis, tetapi dapat juga terjadi sebaliknya, yakni malah mendelegitimasi pemerintah itu sendiri.
       Dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul diperlukan pengambilan kebijakan yang tepat, sehingga kebijakan tersebut tidak menimbulkan permasalahan baru.  Pengambilan suatu kebijakan tentunya memerlukan analisis yang cukup jeli, dengan menggunakan berbagai model serta pendekatan yang sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan.
      Untuk bisa mengambil kebijakan yang sesuai dengan permasalahan yang ada, dipandang sangat perlu bagi pengambil kebijakan untuk mengerti serta memahami berbagai model dan pendekatan yang dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan suatu kebijakan.
B.     Sistematika Pembahasan
       Siatematika dalam penulisan makalah berjudul Model dan Pendekatan kebijakan. Pada makalah ini akan disajikan dalam beberapa bab dimana dalam penulisannya terdiri dari tiga bab yang terdiri dari:
     Bab I akan membahas pendahuluan yang didalamnya terdapat pembahasan singkat mengenai model dan pendekatan sebuah kebijakan yang disajikan dalam latar belakang masalah dan juga terdapat sistematika penulisan makalah.
      Bab II akan membahas inti dari permasalahan yang akan dijelaskan secara gambalang dan terperinci melalaui subbab-subab yang telah disediakan. Subab pertama akan membahas model-model studi kebijakan dimana didalamnya terdapat pengertian model kebijakan, fungsi, dan juga model studi kebijakan. Selanjutnya dalam subab kedua akan dibahas mengenai pendekatan dalam studi kebijakan yang berisis tentang berbagai macam pendekatan dam kebijakan.
      Selanjutnya yaitu Bab III merupakan bab terakhir yang akan membahas mengenai kesimpulan dan saran mengenai pembahasan model dan pendekatan kebijakan yangtelah dibahas dalam bab terdahulu.
BAB II
PEMBAHASAN
(Model dan Pendekatan Kebijakan)

A.    Model-Model Studi Kebijakan

1    Pengertian Model Kebijakan
   Model kebijakan adalah representasi sederhana mengenai aspek-aspek yang terpilih dari suatu kondisi masalah yang disusun untuk tujuan-tujuan tertentu.Seperti halnya masalah-masalah kebijakan yang merupakan bangunan mental yang berdasarkan pada konseptualisasi dan spesifikasi elemen-elemen kondisi masalah, model-model kebijakan merupakan rekonstruksi artificial dari realitas dalam wilayah yang merentang dari energi dan lingkungan sampai ke kemiskinan, kesejahteraan dan kejahatan.
   Model kebijakan dapat dinyatakan sebagai konsep, diagram, grafik atau persamaan matematika. Mereka dapat digunakan tidak hanya untuk menerangkan, menjelaskan dan memprediksikan elemen-elemen suatu kondisi masalah melainkan juga untuk memperbaikinya dengan merekomendasikan serangkain tindakan untuk memecahkan masalah-masalah tertentu.
   Model adalah wakil ideal dari situasi-situasi dunia nyata.Model adalah menyederhanakan dari realitas yang diwakili. Model dapat dibedakan atas model fisik dan model abstrak. Model fisik adalah reproduksi ukuran kecil dari benda atau objek fisik.Model pesawat terbang, model pakaian, model rumah dibuat untuk menggambarkan bentuk asli dari benda yang ingin digambarkannya. Model abstrak adalah penyederhanaan fenonema sosial atau konsep-konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan-pernyataan teoritis, simbol-simbol, gambar atau rumusan-rumusan matematis mengenai fenomena yang dideskripsikannya.

2.  Fungsi Model Kebijakan

     Fungsi utama model adalah untuk mempermudah kita menerangkan suatu benda atau konsep. Dalam beberapa kasus, model dapat didasarkan suatu teori, tetapi model juga dapat dipakai untuk menguji atau menjelaskan hipotesis sebagai bagian dari proses perumusan teori. Untuk mempermudah dalam menjelaskan gedung, pasar, pemerintah, partisipasi, atau kesejahteraan tentunya diperlukan model, benda dan konsep di atas tidak mungkin kita bawa kemana-mana.Kita hanya dapat membawa benda dan konsep tersebut dalam bentuk model. Oleh karena itu, model memiliki fungsi :
a.        Membantu kita untuk memperoleh pemahaman tentang peroperasinya sistem alamiah atau system buatan manusia. Model membantu kita menjelaskan sistem apa, dan bagaimana sistem tersebut beroperasi.
b.        Membantu kita dalam menjelaskan permasalahan dan memilah-milah elemen-elemen tertentu yang relevan dengan permasalahan.
c.        Membantu kita memperjelas hubungan antara elemen-elemen tersebut.
d.       Membantu kita dalam merumuskan kesimpulan dan hipotesis mengenai hakekat hubungan antar elemen.
3.      Model-Model Studi Kebijakan
        Ada beberapa model  studi kebijakan menurut James Anderson, James P.Lester dan Joseph Stewart,  masing-masing model memiliki keunggulan dan kelemahan.  Model-model tersebut adalah :
a.       Model Pluralis
    Model ini berangkat dari dalil bahwa interaksi antara kelompok-kelompok merupakan titik pusat kenyataan politik. Kelompok dipandang sebagai jembatan antara individu dan pemerintah.Politik adalah arena perjuangan kelompok untuk memenangkan kebijakan publik.Tugas sistem politik adalah untuk mengelola konflik kelompok. Tindakannya berupa :
1) Menentukan aturan permainaan dalam perjuangan kelompok.
2) Mengatur kompromi-kompromi ke dalam bentuk kebijakan publik.

3) Mengatur kompromi dan mengembangkan kepentingan-kepentingan.

4) Memperkuat kompromi-kompromi.

    Model pluralis memiliki keunggulan bahwa kebijakan yang diambil didasarkan pada kepentingan kelompok dan tidak atas dasar kepentingan pribadi.  Kelemahan pada model ini adalah apabila kelompok tersebut tidak memikirkan kepentingan kelompok lain,  sehingga kebijakan yang diambil hanya akan menguntungkan kelompok tertentu.
b.      Model Elitis
      Dalam hal ini kebijakan publik dapat di pandang sebagai preferensi dan nilai dari elite penguasa.Teori elite menyatakan bahwa masyarakat bersifat apatis dan kekurangan informasi mengenai kebijakan publik. Karena itu kelompok elite yang akan mempertajam pendapat umum. Pejabat administrator hanyalah pelaksana kebijakan yang telah ditentukan oleh kelompok elite tersebut.
    Model elitis memiliki keunggulan bahwa proses pengambilan kebijakan tidak menyita banyak waktu bisa dikatakan bahwa model elitis memiliki efektifitas waktu, mengingat dalam pengambilan kebijakan hanya ditentukan oleh kelompok elit dan tidak terlalu benyak melibatkan pribadi atau kelompok lain.  Adapun kelemahan model elitis adalah apabila kelompok elit yang mengambil kebijakan hanya didasarkan pada kepentingan pribadi tanpa memperhatikan kepentingan public, itu artinya kebijakan yang diambil menurut kelompok elite merupakan kebijakan terbaik akan tetapi bagi publik justru malah menimbulkan permasalahn yang lebih besar.
c.       Model Sistem
      Model ini menganggap bahwa kebijakan sebagai keluaran dari suatu sistem (policy as system output).Menurut model ini kebijaksanaan publik merupakan respons suatu sistem politik terhadap kekuatan-kekuatan lingkungan (sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, geografis dan sebagainya) yang ada disekitarnya. Model ini mencoba menggambarkan bahwa kebijakan publik sebagai suatu keluaran (output) dari sistem politik.
        Model sistem dilihat dari proses pengambilan kebijakan, lebih baik dibandingkan dua model terdahulu, mengingat dalam model sistem ini pengambilan kebijakan merupakan respon dari berbagai kekuatan yang ada dalam sistem politik, yang mana dasar-dasar pengambilan kebijakaan tentunya akan lebih luas dengan pertimbangan dari berbagai aspek dan kekuatan yang ada.
d.      Model Rasional
    Model ini menyatakan bahwa kebijakan merupakan suatu pencapaian sasaran secara efisien.Satu kebijakan rasional merupakan satu rancangan untuk memaksimalkan pencapaian nilai.Model ini menekankan pada pembuatan keputusan yang rasional dengan bermodalkan pada komprehensivitas informasi dan keahlian pembuat keputusan.
e.       Model Inskrementalis
      Memandang kebijakan publik sebagai kelanjutan aktivitas pemerintah yang lalu dengan modifikasi-modifikasi yang sepotong demi sepotong (bersifat inkremental). Penyaji model : Charles E. Lobdblom sebagai kritik pembuatan keputusan tradisional – rasional. Menurutnya pembuat keputusan tidak pernah melakukan evaluasi tahunan, menunjukkan ketidakpastian pembuatan kebijakan dengan pendekatan rasional komprehensif sebagai ganti menyajikan pembahasan program pembuatan keputusan secara lebih konsesuatif sifatnya menonjol dalam pandangan menguasai program, kebijakan, pengeluaran yang ada.Pada umumnya para pembuat kebijakan, menerima legitimasi program yang telah ditetapkan dan secara diam-diam setuju untuk meneruskan kebijakan-kebijakan yang terdahulu.  Dalam model ini memiliki kelebihan apabila kebijakan yang dikeluarkan oleh pengambil kebijakan sebelumnya merupakan sebuah kebijakan yang tepat maka model ini tidak akan menimbulkan konfik dan juga efektif dilihat dari waktu serta anggaran.  Akan tetapi apabila pengambil kebijakan sebelumnya salah dalam mengambil kebijakan dan pengambil kebijakan selanjutnya menggunakan model ini maka akan muncul permasalahan yang kompleks.
f.       Model Institusional
    Menurut Islami (1997)  model ini biasanya menggambarkan tentang struktur organisasi, tugas-tugas dan fungsi-fungsi pejabat organisasi, serta mekanisme organisasi, tetapi sayangnya kurang membuat analisa tentang hubungan antara lembaga-lembagan pemerintahan itu dengan kebijaksanaan negara. Padahal telah diakui bahwa kaitan dan pengaruh seperti itu pasti ada.Kalau dilihat secara seksama, lembaga-lembaga pemerintahan itu adalah sebenarnya merupakan pola-pola perilaku individu dan kelompok yang terstruktur – yang dapat berpengaruh terhadap isi kebijaksanaan negara.
          Hubungan antara kebijakan public dan lembaga-lembaga pemerintah adalah amat erat. Dikatakan suatu kebijakan tidak akan menjadi kebijakan publik sebelum diangkat, dilaksanakan dan diperkuat oleh lembaga pemerintah.
Lembaga-lembaga pemerintah memberikan kebijakan publik 3 karakteristik yang berbeda :
(1)  Pemerintah memberikan legitimasi pada kebijakan.
(2)  Kebijakan pemerintah melibatkan aspek universitas.
(3)  Pemerintah memegang monopoli untuk melaksanakan kehendaknya kepada masyarakat.
B.     Pendekatan dalam Studi Kebijakan
1.      Pendekatan Kelompok
      Pendekatan kelompok ini memiliki asumsi bahwa individu – individu yang memiliki kepentingan yang sama akan bergabung dan membentuk sebuah kelompok sehingga mampu mempengaruhi pemerintah dalam mengambil sebuah kebijakan. Kelompok – kelompok yang mewakili aspirasi individu lainnya akan bersaing dan saling mencari pengaruh untuk mencapai kebijakan yang diinginkan. Contohnya adalah pembentukan koalisi diantara partai politik sehingga koalisi besar akan memiliki pengaruh kuat dalam suatu pemerintahan. Dampak positif dari model ini adalah adanya sebuah wadah misalkan partai politik untuk menyalurkan aspirasi individu yang tergabung didalamnya, sedangkan dampak negatifnya adalah adanya overlapping atau tumpang tindih dalam sebuah kelompk yang bersatu, selain itu persaingan tidak sehat acap kali terjadi dalam model ini.
2.      Pendekatan Proses Fungsional
    Pendekatan model fungsional adalah pendekatan yang dilakukan dalam studi kebijakan publik dimana dilakukan dengan cara memusatkan perhatian kepada berbagai kegiatan fungsional yang terjadi dalam proses kebijakan. Harold Laswell mengemukakan beberapa kategori analisis fungsional yang dapat di gunakan sebagai dasar bagi pembahasaan teori fungsional.
a. Intelegensi: Bagaimana informasi tentang masalah-masalah kebijakan mendapat perhatian para pembuat keputusan kebijakan dikumpulkan dan diproses.
b. Rekomendasi: Bagaimana rekomendasi-rekomendasi atau alternatif-alternatif untuk memngatasi suatu masalah tertentu.
c. Aplikasi: Bagaimana undang-undang atau peraturan-peraturan sebenarnya diberlakukan atau diterapkan.
d. Penilaian: Bagaiamana pelaksanaan kebijakan ,keberhasilan tau kegagalan itu di nilai.
e. Terminasi: Bagaiamana peraturan-peraturan atau ungdang-undang semula dihentukanatau dilanjutkan dalam bentuk yang berubah atau dimodifikasi.
Pendekatan fungsioanl memiliki beberapa keuntungan yaitu tidak adanya keterikatan dengan lembaga – lembaga pemerintah ataupun peraturan politik khusus, serta memberikan keuntungan untuk analisis komparasi kebijakan publik.Namun model ini juga memiliki kelemahan yaitu pengabaian terhadap politik pembentukan kebijakan dan pengaruh variabel- variabel lingkungan karena merupakan porses intelektual.
3.      Pendekatan Kelembagaan
    Pendekatan kelembagaan diasumsikan bahwa sebuah kebijakan publik diambil, dilaksanakan, dan dipaksakan secara otoritatif oleh lembaga yang ada dalam pemerintahan, misalnya parlemen, kepresidenan, pemerintah daerah, kehakiman, partai politik dan sebagainya. Kebijakan publik model ini memiliki beberapa karakteristik yaitu pemerintah mampu memberikan legitimasi atas kebijakan yang dikeluarkan, kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah mampu bersifat universal artinya menjangkau semua lapisan masyarakat, terakhir adalah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah mampu memonopoli paksa semua masyarakat, adalam artian mampu menjatuhkan sanksi bagi pelanggar kebijakan. Model ini juga memiliki kelemahan yaitu dalam ilmu politik tidak memberikan curahan perhatian kepada hubungan antar lembaga – lembaga pemerintahan dan substansi dari kebijakan publik.
4.      Pendekatan Peran Serta Warga Negara
    Pendekatan peran serta warganegara, kebijakan ini didasarkan pada pemikiran demokrasi klasik dari John Locke dan pemikiran John Stuart Mill, yang menekankan pengaruh yang baik dari peran warganegara dalam perkembangan kebijakan public.Dengan keikutsertaan warganegara dalam maslah-masalah masyarakat, maka para warganegaraakam memproleh pengetahuan dan pemahaman, mengembangkan rasa tanggung jawab sosial yang penuh, dan menjangkay persepektif mereka diluar batas-batas kehidupan peribadi.
    Peran serta warganegara didasarkan pada harapan-harapanyang tinggi tentang kualitas warganegara dan keingginan merekauntuk terlibat dalam kehidupan public.menurut teori ini,dibutuhkan warganegara yang memiliki struktur-struktur yang memiliki kepribadianyang sesuai dengan nilai-nilai dan fungsi-fungsi demokrasi.setaiap warganegara harus memiliki cukup kebebasan untuk berpean serta dalam masalah-masalah politik,mempunyai sifat kritis yang sehat dan harga diri yang cukup dan lebih penting adalah perasaan mampu.
      Beberapa penelitian berkenaan dengan peran serta warganegara mengungkapkan bahwa para pembuat kebijkan lebih responsive terhadap warganegara yang mempunyai peran serta .Disamping itu ,merekacenderung menerima tuntutan –tuntutan pilihan-pilihan agenda-agenda yang diusulkan oleh kelompok warganegarayang berperan serta dalam memecahkan masalah.para pembuat kebijakn lebih responsive dalam suatu masyarakat yang mempunyai tingkat peran serta yang tinggi, dengan tanggapan utama pada masyarakat aktivis,yang biasanya mempunyai tingkat pendapatan yang lebih tinggi dan pencapaian pendidikan yang lebih baik , Namun mereka tidak mewakili masyarakat bawah.
5.      Pendekatan Psikologis
    Pendekatan diberikan pada hubungan antara pribadi dan faktor-faktor kejiwaan yang mempengaruhi tingkah laku orang-orang yang terlibat dalam proses pelaksanaan kebijakan.
     Psikologi banyak memberi kontribusi untuk memahami pembuatan keputusan. Para psikolog seperti Mayo dan Maslow banyak memberi kontribusi untuk perkembangan teori manajemen. Tetapi, meskipun fakta bahwa perkembangan awal dan pendekatan kebijakan banyak berhubungan dengan penggabungan pandangan psikologi ke dalam kebijakan publik, pengaruh psikologi terhadap studi pembuatan kebijakan tidak sebesar pengaruh terhadap manajemen. Dengan munculnya manajerialisme dalam sektor publik, diharapkan bahwa pengaruh psikologi terhadap studi kebijakan publik akan bertambah. Pengabaian konteks psikologis dari analisis kebijakan ini menghalangi pemahaman kita tentang pembuatan keputusan.
      Gagasan tentang keputusan dalam ilmu kebijakan pada umumnya didasarkan pada gagasan tentang rasionalitas dan kepentingan diri yang, jika dikaji dari sudut pandang psikologis, seperti ditunjukkan oleh aliran hubungan manusia, adalah konsep yang terlalu sederhana. Seperti diyakini Harold Lasswell, dimensi psikologis sangat penting untuk memahami politik kekuasaan. Akan tetapi, terlalu banyak teori yang menunjukkan bahwa analisis kebijakan didasarkan pada pandangan yang dangkal dan parsial tentang perilaku “rasional” manusia. Ini terutama kelihatan dalam ilmu ekonomi yang, seperti dikatakan Boulding, memberikan penjelasan yang tidak memadai untuk pembuatan keputusan entah itu di level individu atau kelompok.
6.      Pendekatan Proses
     Pendekatan proses, yaitu untuk mengidentifikasi tahap-tahap dalam proses dalam kebijakan publik dan kemudian menganalisisnya.
7.      Pendekatan Subtantib
    Pendekatan substantif, yaitu spesialis substantif dalam suatu bidang tertentu, misalnya menganalisa determinan dari perumusan kebijakan lingkungan, implentasi, atau perubahan.
8.      Pendekatan Logis-positivis
    Pendekatan logical positivis, yaitu pendekatan prilaku behavioral approach atau pendekatan keilmuan scientific approach.
9.      Pendekatan Ekonomentrik
    Pendekatan ekonometrik, disebut dengan pendekatan pilihan public ( the public choice approach) atau pendekatan ekonomi politik.
10.  Pendekatan Fenomenologik/Pospositivis
  Pendekatan fenomologik (postpositivist) adalah kekecewaan yang semakin meningkat dengan menggunakan metode-metode keilmuan.
11.  Pendekatan Partisipatori
      Pendekatan partisipatori adalah, inklusi perhatian yang besar dan nilai-nilai dari berbagai stakcholders dalam proses pembuatan keputusan kebijakan.
12.  Pendekatan Normatif/Preskriptif
     Pendekatan normatif atau preskriptif, adalah seorang analis perlu mendefinisikan tugasnya sebagai analis kebijakan sama seperti orang yang mendefinisikan “end state” dalam arti bahwa preskripsi ini bisa diinginkan dan bisa dicapai.
13.  Pendekatan Ideologik
     Pendekatan ideologik, adalah secara eksplisit mengadopsi pandangan konservatif atau pandangan liberal, Thomas Sowell menamakan pendekatan ideologi ini “visi” (visions) dan mengidentifikasi dua perspektif yang bersaing. Yaitu pertama “visi yang dibatasi” the constrained vision merupakan suatu gambaran manusia egosenttrik dengan keterbatasan moral, kedua. “visi yang tidak dibatasi” the unconstrained vision memberikan suatu pandangan tentang sifat manusia di mana pemahaman dan disposisi manusia adalah mampu untuk memperoleh keuntungan-keuntungan sosial.
14.  Pendekatan Historis/Sejarah
   Pendekatan historis /sejarah, adalah makin meningkatkan perhatian mereka kepada evolusi kebijakan publik melintasi waktu.
PENUTUP
    Model kebijakan adalah representasi sederhana mengenai aspek-aspek yang terpilih dari suatu kondisi masalah yang disusun untuk tujuan-tujuan tertentu.Model adalah wakil ideal dari situasi-situasi dunia nyata.Model adalah menyederhanakan dari realitas yang diwakili. Model dapat dibedakan atas model fisik dan model abstrak. Model memiliki fungsi antara lain: Membantu kita untuk memperoleh pemahaman tentang peroperasinya sistem alamiah atau system buatan manusia. Model membantu kita menjelaskan sistem apa, dan bagaimana sistem tersebut beroperasi, membantu kita dalam menjelaskan permasalahan dan memilah-milah elemen-elemen tertentu yang relevan dengan permasalahan, membantu kita memperjelas hubungan antara elemen-elemen tersebut, membantu kita dalam merumuskan kesimpulan dan hipotesis mengenai hakekat hubungan antar elemen. Selain fungsi yang di miliki model, model kebijakan juga memiliki jenis yaitu model pluralis, elitis, sistem, rasional, inskrementalis, dan institusional. Sedangkan untuk pendekatan kebijakan juga memiliki berbagai macam yaitu pendekatan kelompok, proses fungsional, kelembagaan, peran serta warga negara, psikologis, proses, subtantip, logis-positivis, ekonomentrik, Fenomenologik/Pospositivis, partisipatori, Normatif/Preskriptif, ideologik,Historis.
B.     SARAN
    Dalam sebuah kebijakan yang di tetapkan oleh pemerintah dan telah direalisasikan kepada masyarakat ada kalanya merupakan sebuah kebijakan yang dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, karena kebijakan tersebut mampu menanggulangi krisis dan ketimpangan serta masalah-masalah yang ada dalam masyarakat, akan tetapi ada kalanya dalam pemerintah membuat sebuah kebijakan tidak diterima oleh masyarakat karena kebijakan tersebut dinilai tidak sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu, saran dalam makalah ini adalah sebaiknya pemerintah dalam membuat sebuah kebijakan hendaklah melihat realita dalam masyarakat sehingga kebijakan yang akan ditetapkan dapat diterima oleh masyarakat dan kebijakan tersebut dapat menjadi solusi yang tepat bagi problematika dalam masyarakat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
AG.Subarsono. 2005. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Budi Winarno. 2007. Kebijakan Publik: Teori dan Proses. Yogyakarta: Media Pressindo.
Dr. Syafaruddin, M.Pd, 2008. Efektifitas Kebijakan Pendidikan, Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Edi Suharto, Ph.D, 2010, Analisa Kebijakan Publik panduan praktis mengkaji masalah dan kebijakan public, Bandung:Alfabeta.
Miftah toha. 2005. Dimensi-Dimensi Prima Ilmu Aministrasi Negara. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Riant Nugroho. 2003. Kebijakan Publik: formulasi, implementasi, dan evaluasi. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Riant Nugroho. 2008. Public Policy. Jakarta: Elex Media Komputindo.
William N. Dunn, 1999, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

MODEL DAN PENDEKATAN KEBIJAKAN


MODEL DAN
PENDEKATAN
KEBIJAKAN
Disusun untuk memenuhi tugas
mata kuliah
Teori dan
Strategi
Kebijakan
Yang dibina oleh:
Dr. Amrin Batubara,
S.Pd, M.Pd.
Oleh :
Shilatul Hamri
(201110240211035)
Sulistyorini (201110240211045)
Estri Novita (201110240211065)
UNIVERSITYAS
MUHAMMADIYAH
MALANG
Program
Pascasarjana
Magister Kebijakan
dan Pengembangan
Pendidikan
2012
PENGANTAR
Bismillaahirrohmaanirrohii
m,
Kebijakan adalah sebuah
kegiatan pemahaman
manusia mengenai
pemecahan masalah.
Kebijakan dibuat untuk
dapat membuat solusi
akan problematika
manusia yang bermacam-
macam. Pemerintah
merupakan lembaga tinggi
negara yang merupakan
pengambil alih kebijakan
bagi rakyatnya, akan tetapi
kadang kala kebijakan
tersebut dapat diterima
dan kadang kala pun
ditolak oleh masyarakat.
Makalah ini merupakan
mata kuliah Teorydan
Strategi Kebijakan yang
berjudul “Model dan
pendekatan kebijakan”
Tugas ini membahas
masalah berbagai jenis
model dan pendekatan
kebijakan beserta
pembahasannya yang
dijelaskan secara
gamblang dan jelas yang di
kutip dari berbagai
referensi terpercaya.
Penulis sadar bahwa tanpa
bantuan dari berbagai
pihak, tugas ini tidak akan
terwujud. Oleh karena itu,
sebagai tanda terima kasih
sedalam dan setulus hati
penulis ucapkan kepada
semua pihak yang telah
membantu dalam
pembuatan makalah
Model dan Pendekatan
kebijakan ini.
Gresik, 24 Maret 2012
DAFTAR ISI
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Sistematika
Pembahasan
BAB II Pembahasan
A. Model- Model
Studi Kebijakan
1. Pengertian
Model Kebijakan
2. Fungsi Model
Kebijakan
3. Model- Model
Studi Kebijakan
B. Pendekatan
dalam Studi Kebijakan
BAB III Penutup
A. Kesimpulan
B. Saran
Dartar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam beberapa
tahun belakangan ini,
dimana persoalan-
persoalan yang dihadapi
pemerintah
sedemikiankompleks
akibat krisis
multidimensional, maka
bagaimanapun keadaan
ini sudah barang tentu
membutuhkan perhatian
yang besar dan
penanganan pemerintah
yang cepat namun juga
akurat agar persoalan-
persoalan yang begitu
kompleks dan berat yang
dihadapi oleh
pemerintah segera dapat
diatasi. Kondisi seperti
ini pada akhirnya
menempatkan
pemerintah dan lembaga
tinggi Negara lainnya
berada pada pilihan-
pilihan kebijakan yang
sulit.Kebijakan yang
diambil tersebut
terkadang membantu
pemerintah dan rakyat
Indonesia keluar dari
krisis, tetapi dapat juga
terjadi sebaliknya, yakni
malah mendelegitimasi
pemerintah itu sendiri.
Dalam menyelesaikan
persoalan-persoalan
yang muncul diperlukan
pengambilan kebijakan
yang tepat, sehingga
kebijakan tersebut tidak
menimbulkan
permasalahan baru.
Pengambilan suatu
kebijakan tentunya
memerlukan analisis
yang cukup jeli, dengan
menggunakan berbagai
model serta pendekatan
yang sesuai dengan
permasalahan yang akan
dipecahkan.
Untuk bisa mengambil
kebijakan yang sesuai
dengan permasalahan
yang ada, dipandang
sangat perlu bagi
pengambil kebijakan
untuk mengerti serta
memahami berbagai
model dan pendekatan
yang dapat digunakan
sebagai dasar dalam
pengambilan suatu
kebijakan.
B. Sistematika
Pembahasan
Siatematika dalam
penulisan makalah
berjudul Model dan
Pendekatan kebijakan.
Pada makalah ini akan
disajikan dalam beberapa
bab dimana dalam
penulisannya terdiri dari
tiga bab yang terdiri dari:
Bab I akan membahas
pendahuluan yang
didalamnya terdapat
pembahasan singkat
mengenai model dan
pendekatan sebuah
kebijakan yang disajikan
dalam latar belakang
masalah dan juga
terdapat sistematika
penulisan makalah.
Bab II akan
membahas inti dari
permasalahan yang akan
dijelaskan secara
gambalang dan terperinci
melalaui subbab-subab
yang telah disediakan.
Subab pertama akan
membahas model-model
studi kebijakan dimana
didalamnya terdapat
pengertian model
kebijakan, fungsi, dan
juga model studi
kebijakan. Selanjutnya
dalam subab kedua akan
dibahas mengenai
pendekatan dalam studi
kebijakan yang berisis
tentang berbagai macam
pendekatan dam
kebijakan.
Selanjutnya yaitu Bab
III merupakan bab
terakhir yang akan
membahas mengenai
kesimpulan dan saran
mengenai pembahasan
model dan pendekatan
kebijakan yangtelah
dibahas dalam bab
terdahulu.
BAB II
PEMBAHASAN
(Model dan Pendekatan
Kebijakan)
A. Model-Model Studi
Kebijakan
1 Pengertian Model
Kebijakan
   Model kebijakan adalah
representasi sederhana
mengenai aspek-aspek
yang terpilih dari suatu
kondisi masalah yang
disusun untuk tujuan-
tujuan tertentu.Seperti
halnya masalah-masalah
kebijakan yang
merupakan bangunan
mental yang berdasarkan
pada konseptualisasi dan
spesifikasi elemen-
elemen kondisi masalah,
model-model kebijakan
merupakan rekonstruksi
artificial dari realitas
dalam wilayah yang
merentang dari energi
dan lingkungan sampai
ke kemiskinan,
kesejahteraan dan
kejahatan.
Model kebijakan dapat
dinyatakan sebagai
konsep, diagram, grafik
atau persamaan
matematika. Mereka
dapat digunakan tidak
hanya untuk
menerangkan,
menjelaskan dan
memprediksikan
elemen-elemen suatu
kondisi masalah
melainkan juga untuk
memperbaikinya dengan
merekomendasikan
serangkain tindakan
untuk memecahkan
masalah-masalah
tertentu.
Model adalah wakil
ideal dari situasi-situasi
dunia nyata.Model
adalah
menyederhanakan dari
realitas yang diwakili.
Model dapat dibedakan
atas model fisik dan
model abstrak. Model
fisik adalah reproduksi
ukuran kecil dari benda
atau objek fisik.Model
pesawat terbang, model
pakaian, model rumah
dibuat untuk
menggambarkan bentuk
asli dari benda yang ingin
digambarkannya. Model
abstrak adalah
penyederhanaan
fenonema sosial atau
konsep-konsep tertentu
yang dinyatakan dalam
bentuk pernyataan-
pernyataan teoritis,
simbol-simbol, gambar
atau rumusan-rumusan
matematis mengenai
fenomena yang
dideskripsikannya.
2. Fungsi Model
Kebijakan
Fungsi utama model
adalah untuk
mempermudah kita
menerangkan suatu
benda atau konsep.
Dalam beberapa kasus,
model dapat didasarkan
suatu teori, tetapi model
juga dapat dipakai untuk
menguji atau
menjelaskan hipotesis
sebagai bagian dari
proses perumusan teori.
Untuk mempermudah
dalam menjelaskan
gedung, pasar,
pemerintah, partisipasi,
atau kesejahteraan
tentunya diperlukan
model, benda dan
konsep di atas tidak
mungkin kita bawa
kemana-mana.Kita hanya
dapat membawa benda
dan konsep tersebut
dalam bentuk model.
Oleh karena itu, model
memiliki fungsi :
a. Membantu kita
untuk memperoleh
pemahaman tentang
peroperasinya sistem
alamiah atau system
buatan manusia. Model
membantu kita
menjelaskan sistem apa,
dan bagaimana sistem
tersebut beroperasi.
b. Membantu kita
dalam menjelaskan
permasalahan dan
memilah-milah elemen-
elemen tertentu yang
relevan dengan
permasalahan.
c. Membantu kita
memperjelas hubungan
antara elemen-elemen
tersebut.
d. Membantu kita
dalam merumuskan
kesimpulan dan hipotesis
mengenai hakekat
hubungan antar elemen.
3. Model-Model Studi
Kebijakan
Ada beberapa model
studi kebijakan menurut
James Anderson, James
P.Lester dan Joseph
Stewart, masing-masing
model memiliki
keunggulan dan
kelemahan. Model-
model tersebut adalah :
a. Model Pluralis
Model ini berangkat
dari dalil bahwa interaksi
antara kelompok-
kelompok merupakan
titik pusat kenyataan
politik. Kelompok
dipandang sebagai
jembatan antara individu
dan pemerintah.Politik
adalah arena perjuangan
kelompok untuk
memenangkan kebijakan
publik.Tugas sistem
politik adalah untuk
mengelola konflik
kelompok. Tindakannya
berupa :
1) Menentukan aturan
permainaan dalam
perjuangan kelompok.
2) Mengatur kompromi-
kompromi ke dalam
bentuk kebijakan publik.
3) Mengatur kompromi
dan mengembangkan
kepentingan-
kepentingan.
4) Memperkuat
kompromi-kompromi.
Model pluralis
memiliki keunggulan
bahwa kebijakan yang
diambil didasarkan pada
kepentingan kelompok
dan tidak atas dasar
kepentingan pribadi.
Kelemahan pada model
ini adalah apabila
kelompok tersebut tidak
memikirkan kepentingan
kelompok lain, sehingga
kebijakan yang diambil
hanya akan
menguntungkan
kelompok tertentu.
b. Model Elitis
Dalam hal ini
kebijakan publik dapat di
pandang sebagai
preferensi dan nilai dari
elite penguasa.Teori
elite menyatakan bahwa
masyarakat bersifat
apatis dan kekurangan
informasi mengenai
kebijakan publik. Karena
itu kelompok elite yang
akan mempertajam
pendapat umum. Pejabat
administrator hanyalah
pelaksana kebijakan
yang telah ditentukan
oleh kelompok elite
tersebut.
Model elitis memiliki
keunggulan bahwa
proses pengambilan
kebijakan tidak menyita
banyak waktu bisa
dikatakan bahwa model
elitis memiliki efektifitas
waktu, mengingat dalam
pengambilan kebijakan
hanya ditentukan oleh
kelompok elit dan tidak
terlalu benyak
melibatkan pribadi atau
kelompok lain. Adapun
kelemahan model elitis
adalah apabila kelompok
elit yang mengambil
kebijakan hanya
didasarkan pada
kepentingan pribadi
tanpa memperhatikan
kepentingan public, itu
artinya kebijakan yang
diambil menurut
kelompok elite
merupakan kebijakan
terbaik akan tetapi bagi
publik justru malah
menimbulkan
permasalahn yang lebih
besar.
c. Model Sistem
Model ini
menganggap bahwa
kebijakan sebagai
keluaran dari suatu
sistem (policy as system
output).Menurut model
ini kebijaksanaan publik
merupakan respons
suatu sistem p