Inilah Hasil Penelitian Bagaimana Cara Memuji Anak yang Baik


Good Article…

Tolong jangan bilang anakku “pintar”…. (Fixed Mindset Vs Growth Mindset)

Emangnya kenapa? Kata pujian “anak pintar” itu bukannya sebuah tanda penghargaan ya buat si anak? Plus dobel fungsi jadi topik obrolan basa-basi di ruang tunggu dokter, bangku di toko mainan, dan sambil mengawasi anak-anak main di taman? Triple plus di acara arisan keluarga, saat semua ponakan/cucu/kakak-adik lagi berkumpul bersama.

Lalu, ada apa dengan label “pintar” itu?

Beberapa bulan yang lalu, saya diberikan kesempatan untuk bantu menterjemahkan artikel pendidikan untuk sebuah program sekolah. Di antara sekian banyak artikel, satu yang benar-benar membuat saya berhenti, membaca berulang-ulang, dan berpikir kembali adalah artikel mengenai fixed vs. growth mindset.  Kedua kubu tersebut merupakan bahasan penelitian berjangka yang dilakukan oleh Carol Dweck, yg dipublish dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006).

Dweck meneliti efek jenis pujian yang diberikan ke anak-anak:

satu kelompok dipuji “kepintarannya” (“You must be smart at this.”)

dan kelompok yang lain dipuji atas usaha (effort) mereka (“You must have worked really hard.”) setelah setiap anak menyelesaikan serangkaian puzzle non-verbal secara individual.

Puzzle di ronde pertama memang dibuat sedemikian mudah sehingga setiap anak pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Setelah dipuji, anak-anak tersebut diberikan pilihan jenis puzzle buat ronde kedua: satu puzzle yang lebih sulit daripada puzzle di ronde pertama, namun mereka akan belajar banyak dari mencoba menyelesaikan puzzle tsb; dan pilihan puzzle lainnya adalah puzzle yang mudah, serupa dengan yang di ronde pertama. 

Dari kelompok anak-anak yang dipuji atas usaha mereka, 90% anak-anak memilih rangkaian puzzle yang lebih sulit. Mereka yang dipuji atas kepintarannya sebagian besar memilih rangkaian puzzle yang mudah.

Lho, kenapa anak-anak yang dipuji “pintar” malah memilih puzzle yang mudah??

Menurut Dweck, sewaktu kita memuji anak karena kepintarannya, kita menyiratkan bahwa mereka harus selalu mempertahankan label “anak pintar” tsb, sehingga nggak perlu ambil risiko yang menyebabkan mereka akan berbuat salah alias terlihat “tidak pintar” (“look smart, don’t risk making mistakes.”)

Dalam ronde tes berikutnya, anak-anak itu tidak mempunyai pilihan: mereka semua harus menyelesaikan rangkaian puzzle yang diberikan memang dibuat sulit, 2 tahun di atas usia anak-anak itu. Seperti yang sudah diperkirakan, semua anak gagal menyelesaikannya. Namun, kelompok anak-anak yang dari awal dipuji atas usaha mereka menganggap mereka kurang fokus dan kurang keras upayanya untuk menyelesaikannya. Mereka menjadi sangat terlibat dan berusaha mencoba semua solusi yang dapat mereka pikirkan. Tak banyak dari mereka yang berkomentar bahwa “tes ini adalah yang paling saya sukai”.. kok gitu? Sedangkan kelompok yang dipuji atas kepintarannya menganggap kegagalan mereka sebagai bukti bahwa mereka sebenarnya memang tidak pintar. Tim peneliti mengamati bahwa anak-anak ini berkeringat dan tampak sangat terbebani selama mengerjakan tes.

 

Nah, setelah semua mengalami kegagalan, pada ronde tes terakhir, mereka diberikan tes yang dibuat semudah tes pada ronde pertama. Kelompok yang dipuji atas usaha mereka mengalami peningkatan skor hingga 30%. Sedangkan anak-anak yang diberitahu bahwa mereka “anak pintar” malah menurun skornya hingga 20%.

 

sudah curiga bahwa jenis pujian akan memberikan dampak, namun dia tidak menyangka sejauh ini efeknya. Menurutnya, “penekanan pada usaha memberikan anak-anak variabel yang bisa mereka kendalikan, mereka akan menilai bahwa mereka sendirilah yang pegang kendali atas kesuksesan mereka. Sedangkan penekanan pada kecerdasan alami justru mengambil kendali dari tangan anak dan menyebabkan cara berespons yang jelek terhadap sebuah kegagalan.”

Pada wawancara yang dilakukan setelahnya, Dweck menemukan bahwa mereka yang menganggap bahwa kecerdasan alami adalah kunci dari kesuksesan mulai mengecilkan pentingnya upaya yang diberikan. Penalaran mereka adalah “aku kan anak pintar, aku tidak perlu susah-susah berusaha”. Ketika mereka diminta untuk berusaha lebih keras, mereka malah menganggap hal tersebut sebagai bukti bahwa mereka nggak sepintar anggapan mereka. Efek jenis pujian ini terlihat pada penelitian yang dilakukan pada anak-anak pada kelas sosioekonomi yang berbeda-beda, baik pada laki-laki maupun perempuan, bahkan pada anak prasekolah juga menunjukkan adanya pengaruh.

 

Okay. Nafas dulu. Setidaknya, saya setelah baca hasil penelitiannya harus ambil nafas dan bercermin. Anak sulungku sudah sering dipuji “pintar”, alhamdulillah. Tapi memang pada beberapa kesempatan, dia enggan mencoba hal-hal baru (yang menurutnya susah) dan sempat mudah menyerah ketika mengalami hambatan, misalnya dalam upayanya membuat kreasi Lego sendiri (tanpa instruksi) atau saat dia latihan lagu piano yang lebih susah buat lomba. Kalau menggambar bebas, masih suka frustrasi saat “salah” dan minta ganti kertas atau malah ganti kegiatan yang lain. Oh my little boy, I’m so sorry. I didn’t know. Apalagi dia termasuk anak yang introvert dan lebih mudah cemas. Nah, jelas kan kenapa penelitian ini sangat menohok buat saya.

 

Meskipun saya dulu pernah baca artikel yang menyebutkan kenapa lebih baik memuji upaya daripada hasil, namun saya baru kali ini membaca penelitian yang terkait. Dan jadi sadar betul betapa besar efeknya jenis pujian yang kita berikan. Namun demikian, old habits die hard. Especially with the older generation. Gimana caranya saya ngasih tau ke mertua kalau mau muji cucunya tersayang, jangan bilang kalau dia “pinter” melainkan harus memuji upaya kerasnya? Padahal budaya kita sangat sarat dengan “label” pada anak-anak, dengan label “anak pintar” menjadi primadona segala label. Belum lagi kebiasaan membandingkan anak satu dengan anak lainnya, cucu satu dengan cucu lainnya. Oh boy, pe-er nya banyak banget ini.

 

Okay , balik lagi ke konsep growth vs. fixed mindset , jadi intinya anak-anak yang dipuji atas upaya mereka akan memiliki growth mindset, bahwa otak itu adalah sebuah otot, yang makin “dilatih” maka akan semakin kuat dan terampil. Dilatihnya ya dengan tantangan, masalah, dan kesalahan yang harus diperbaiki dan diambil hikmahnya. Sedangkan anak-anak dengan fixed mindset menanggap pintar/tidak pintar itu sudah dari sananya dan nggak bisa diubah. Jadi mereka cenderung menghindari hal-hal yang membuat mereka tidak terlihat pintar dan tidak menyukai tantangan, mementingkan hasil akhirnya.

 

Dweck memberikan beberapa perbedaan fixed vs. growth mindset dalam bukunya:

a.      Fixed mindset (FM)mengkomunikasikan ke anak-anak kalau sifat dan kepribadian mereka adalah permanen, dan kita sedang menilainya. Growth mindset (GM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau mereka adalah seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang, dan kita tertarik untuk melihat perkembangan mereka.

b.     Nilai yg bagus akan diatribusikan pada “kamu emang anak yang pintar” pada FM. Sedangkan GM akan mengatakan “Nilai yg bagus!  Kamu telah berusaha keras/menerapkan strategi yang tepat/berlatih dan belajar/tidak menyerah.”

c.      Nilai yang jelek akan diartikan sebagai “kamu memang lemah pada bidang ini” dengan FM. GM akan mengatakan “saya suka upaya yang telah kamu lakukan, tapi yuk kita kerjasama lebih banyak lagi untuk mencari tahu bagian mana yang kamu belum pahami”. “Kita semua punya kecepatan belajar yang berbeda, mungkin kamu butuh waktu yang lebih lama untuk mengerti ini tapi kalau kamu terus berusaha seperti ini, aku yakin kamu akan bisa mengerti.” “Semua orang belajar dengan cara yang berbeda, ayo kita terus berusaha mencari cara yang lebih cocok untuk kamu.”

d.     FM: “wah, kamu cepet banget menyelesaikannya, tanpa salah lagi!” GM: “Ooops, ternyata itu terlalu mudah buat kamu ya. Saya minta maaf sudah membuang waktumu, ayo cari sesuatu yang bisa memberikan pelajaran baru buat kamu.”

e.      FM mementingkan kecerdasan atau bakat dari lahir. GM mementingkan proses belajar dan kegigihan berusaha (perseverance).

f.       FM percaya kalau tes mengukur kemampuan. GM percaya kalau tes mengukur penguasaan materi dan mengindikasikan area untuk pertumbuhan.

g.      Guru dengan FM menjadi defensif mengenai kesalahan yang dia lakukan. Guru dengan GM merenungkan kesalahannya secara terbuka dan mengajak bantuan dari anak-anak lagi supaya bisa menyelesaikan masalahnya.

h.     Guru dengan FM memiliki semua jawaban. Guru dengan GM menunjukkan ke anak-anak bagaimana dia mencari jawaban-jawaban tersebut.

i.        Guru dengan FM menurunkan standar supaya anak-anak bisa merasa pintar. Guru dengan GM mempertahankan standar yang tinggi dan membantu setiap siswa untuk mencapainya.

 

Hosh-hosh, mulai kelihatan kan bedanya? Kami sudah mulai berusaha mengubah cara kami memuji anak-anak, tapi menang butuh waktu dan upaya ekstra untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama, apalagi dengan lingkungan teman-teman dan saudara dan orang-orang yang tidak dikenal yang SKSD. Plus, kosa kata “you worked hard… ” itu kalau diterjemahakan ke dalam Bahasa Indonesia itu masih terdengar tidak umum plus panjang, “kamu udah bekerja/berupaya keras ya untuk….”— masih lebih praktis bilang “anak pinter”, hehehe. Yah, namanya juga sudah membudaya. Belum lagi ada ucapan bahwa kata-kata adalah doa. Akupun sepakat dengan itu. Jadi jangan salah sangka, bukannya nggak boleh memuji, tapi pujilah upaya mereka. Dan penelitian ini khusus berkenaan dengan persepsi terhadap kecerdasan ya, bukan label-label lain seperti sholeh/sholehah, rajin, empatik, penyayang, dsb. Jadi pentingnya perubahan mindset dari fixed menjadi growth supaya anak-anak (dan kita sebagai orang tua juga) nggak terpaku hanya pada hasil. Kalau menurut saya, terlalu terpakunya masyarakat kita pada hasil malah melahirkan upaya-upaya negatif untuk mencapai hasil yang “baik” di mata orang, terlepas caranya. Makanya ada bocoran soal UN, contekan ulangan, lalu stress berlebihan atas sebuah kegagalan. Kalau pada anak sulung saya, ya kelihatan pas dia ngambek nggak mau lanjut latihan sebuah lagu di piano karena “susah”, nggak mau nyoba gambar karena takut “jelek”, dan nggak mau nyoba bikin freestyle build dari Lego karena “susah”.

 

Buat saya, kalau ada yang mengatakan anak-anak “pintar”, maka saya akali dengan langsung menimpali secara halus plus senyum manis dengan komentar atas usahanya anak-anak. Misalnya, tante A, “Wah Little Bug udah pinter main pianonya…”, lalu saya menimpali dengan “Alhamdulillah, Little Bug selama ini rajin latihan dan nggak nyerah kalau belum bisa.” Atau “Little Bug dah pinter ya bacanya” “lalu saya bilang “alhamdulillah, Little Bug tiap hari berusaha baca buku-buku baru dan kalau ada kata-kata yang susah, dia akan berusaha membacanya”. Intinya, nggak pernah lupa untuk memuji usaha/prosesnya. Dan nggak lupa mendoktrin secara berulang tentang otak sebagai otot yang semakin kuat kalau dilatih dengan tantangan. Intinya, menekankan bahwa they are special just the way they are. Bahwa kami bangga karena dia berusaha mencoba meskipun menantang, dan gak menyerah meskipun gagal. Hal-hal seperti itu yang suka tertutup oleh pujian “anak pintar”. Terlebih karena kami homeschool, jadi kelihatan banget gregetnya kalau anak belum bisa maupun kelihatan ketika dia sengaja menghindari sesuatu yang tampak “susah” atau “baru” buat dia, belum lagi kalau ngambek ketika gagal atau hasilnya “nggak perfect”. Jadi ngeh juga, mungkin salah satu alasan kenapa anak-anak Jepang itu begitu rajin adalah karena sejak kecil, pujian setelah melakukan sesuatu umumnya adalah “yoku ganbatta ne” atau “kamu sudah banyak berusaha” dan “otsukaresamadeshita” (terima kasih atas kerja kerasnya), mau apapun hasilnya. 

 

Kita bisa berusaha dan perlahan, insyaaAllah akan lebih positif kepribadian anak-anak kita. Daripada mengeluhkan, mendingan berusaha dan berdoa, semoga Allah bisa membentuk jiwa anak-anak dengan kelembutan-Nya sehingga kelak menjadi anak-anak sholeh/sholehah yang berani menghadapi tantangan demi menghasilkan kebaikan. Semoga artikel ini bisa memberikan sudut pandang yang berbeda buat kita semua.

 

Referensi:

1.       Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.

2.       Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Kids: The Inverse Power of Praise. http://nymag.com/news/features/27840/#

Inilah cara Dedy Corbuzier Mendidik Anak


Repost tulisan dedy corbuzier.
______________________
School of Parenting

“BELAJAR YANG KALIAN SUKA”

Kisah ajaib di siang suntuk saat jemput sekolah.

Azka, ” Pa, tadi lomba renang. I get urutan ke 5!!!”

Me, ” Woooow, I’m so proud of you. You are amazing!!!!”

Azka, ” Yeaaaaaay”

Ibu-ibu entah arisan di belakang, “Mas Ded, yang tanding kan per 6 orang. Masak anaknya urutan ke 5 malah bangga. Anak saya aja urutan ke 3 saya bilang payah. Nanti malas, Mas Ded.”

Me, “Hahaha, iya yah. Wah, saya soalnya waktu kecil diajari ayah & ibu saya kalau tujuan renang itu yah supaya gak tenggelam aja sih. Bukan supaya duluan sampe tembok. Hehehe”

Ibu,  “Ah Mas Ded bisa aja. Jangan gitu mas ngajar anaknya. Bener deh nanti malas.”

Me, “Hahah, Azka gak malas kok mbak. Tenang aja, kemarin mathnya juara 3, catur nya lawan saya aja saya kalah sekarang. Eh, anu Mbak, saya juga gak masalah punya anak malas di hal yang dia gak bisa atau gak suka. Yang penting dia usaha. Daripada anak rajin tapi stress punya ibu yang stress juga marahi anaknya karena cuma dapat juara 3 lomba renang.”

Ibu, “Hehehe, Mas, saya jalan dulu yah.”

Me, “Gak renang aja, Mbak?”

Senyap……

Ya, ini kejadian benar dan tidak saya ubah-ubah.
Apa sih yang sebenarnya terjadi secara gamblang?

Tahukah si ibu kalau Azka luar biasa di catur nya?
(Penting? NO!! Sama dengan Renang)

Atau Azka juga mendalami bela diri yang cukup memukau dibanding anak seusianya.

Atau.. Azka.. Atau Azka…
Banyak kelebihan Azka..
Sama dengan kalian.
Banyak kelebihan yang kalian punya. Artinya banyak kelemahan yang kalian punya juga.

Tapi, apabila para orang tua memaksakan kalian sempurna di semua bidang dan menerapkannya dengan paksaan, maka hanya akan terjadi 2 hal.

1. Si anak stress dan membenci hal itu.

2. Si anak sukses di hal itu dan membenci orang tuanya (Michael Jackson contohnya)

Yuk, kita lihat apa yang baik di diri anak kita. (bila anda orang tua)

Yuk, kita komunikasikan apa yang kita suka (bila kita anak tersebut)

Mengajari dengan kekerasan tidak akan menghasilkan apapun. Memarahi anak karena pelajaran adalah hal yang bodoh.

Saya sampai sekarang masih bingung, mengapa naik kelas tidak naik adalah hal yang menjadi momok bagi ortu (kecuali masalah finansial)

Siapa sih yang menjamin naik kelas jadi sukses kelak?

Saya…
Saya 2 kali tidak naik kelas…
Yes, iam. Proudly to say.

Ayah saya ambil raport. Merah semua.
Dia tertawa, “Kamu belajar sulap tiap hari, kan? Sampai gak belajar yang lain.”

Me, “Iya, Pa.”

“Sulapnya jago. Belajarnya naikin yuk.. Gak usah bagus. Yg penting 6 aja nilainya. Ok?
Pokoknya kalau nilai nya kamu 6, Papa beliin alat sulap baru. Gimana?”

Wow… My target is 6…..
Not 8.. Not 9…
NOT 10!!!!
It’s easy….. Its helping… Its good communication between me and my father….
Its a GOOD Deal…
Dan Ibu saya? Mendukung hal itu.

Apa yang mereka dapat saat ini?
Anaknya yang nilainya tidak pernah lebih dr 6/7 tetap sekolah. Kuliah.
Jadi dosen tamu .. Mengajar di beberapa kampus.

Oh.. Anaknya…
Become one thing they never imagine…
World Best Mentalist

Apa yang terjadi kalau saat itu saya dihukum. Dimarahi. Di larang lagi bermain sulap?

Apa? Maybe I be one of the people working on bus station.
(other Bad… Not Great)

Yuk, stop memarahi anak krn pelajarannya. Karena ke unikan nya.
Kita cari apa yang mereka suka.
Kita dukung.

U never know what it will bring them in the future.
Might indeed surprise you.

–Deddy Corbuzier–

Gawat, 5 Kebiasaan Buruk Ini Tak Sengaja Diajarkan Orang Tua ke Anak


Gawat, 5 Kebiasaan
Buruk Ini Tak Sengaja
Diajarkan Orang Tua
ke Anak
Rahma Lillahi Sativa – detikHealth
Jakarta – Setiap orang tua pasti
ingin yang terbaik untuk anak-
anaknya, apalagi demi
kesehatan si anak. Namun
meski sebagian besar orang tua
tahu panduan hidup sehat itu
seperti apa tapi sebenarnya tak
banyak orang yang benar-benar
mempraktikkannya sendiri.
Sayangnya anak cenderung
belajar dan meneladani perilaku
orang tuanya, bahkan tanpa
disadari oleh orang tua itu
sendiri.
Lalu kebiasaan buruk apa saja
yang orang tua ajarkan secara
tidak langsung atau tanpa
mereka sadari? Simak ulasannya
seperti dilansir health24 , Rabu
(27/2/2013) berikut ini.
1. Melewatkan sarapan
Melewatkan sarapan telah lama
diketahui menghambat
perkembangan dan kemampuan
belajar seorang anak. Sebab
tanpa sarapan yang penting itu,
kadar gula darah anak akan
tetap rendah sehingga
menyebabkan kelelahan,
kelesuan, kurangnya
konsentrasi di kelas, mudah
tersinggung, performa kerja
yang buruk dan peningkatan
kecenderungan untuk
melakukan kesalahan saat
mengerjakan tugas atau tes.
Tak sarapan juga telah lama
dikaitkan dengan obesitas pada
anak-anak karena remaja dan
anak-anak yang tidak
melakukannya akan cenderung
mengonsumsi makanan tak
sehat seperti makanan cepat
saji, keripik, permen dan cokelat
dalam rangka meningkatkan
energi mereka.
Solusi:
Meski setiap pagi, rumah akan
selalu dipenuhi dengan
kepanikan sebelum berangkat
beraktivitas, penting untuk
meluangkan waktu beberapa
menit untuk sarapan singkat.
Tak perlu dengan menu yang
lengkap, cukup kombinasikan
protein dan karbohidrat (seperti
sereal berserat tinggi dan susu
rendah lemak; atau roti gandum
panggang dan telur rebus).
Jangan lupa juga tambahkan
buah.
2. Kurang makan buah dan
sayur
Buah-buahan dan sayur-
sayuran sarat dengan nutrisi
super. Berbagai studi telah
menunjukkan bagaimana
besarnya manfaat
mengonsumsi sedikitnya lima
porsi buah dan sayur sehari
dapat menurunkan tekanan
darah, mengurangi risiko
penyakit jantung, stroke hingga
beberapa jenis kanker.
Solusi:
Mengonsumsi lima porsi buah
dan sayur dalam sehari
sebenarnya tidaklah sulit:
sempatkan makan dua buah di
pagi hari, lalu makan salad atau
sup sayur saat makan siang
(bisa juga dengan
menambahkan cemilan seperti
cocktail tomat, wortel atau
mentimun pada kotak makan
siang anak) dan konsumsi dua
jenis sayuran untuk makan
malam.
Selain itu, dorong anak untuk
lebih banyak makan buah dan
sayuran dengan selalu
menyiapkan buah-buahan dan
sayuran segar di lemari es.
Lebih dari itu, biasakan nyemil
buah atau sayuran di depan
anak, dengan begitu cepat atau
lambat anak akan menirunya.
3. Tidak rutin berolahraga
Padahal olahraga rutin banyak
sekali manfaatnya, mulai dari
meningkatkan kesehatan tulang,
otot dan sendi; menambah
energi dan daya konsentrasi;
mendorong sistem kekebalan
tubuh; memperbaiki kualitas
tidur dan menurunkan risiko
sejumlah penyakit serius akibat
gaya hidup seperti diabetes.
Bahkan untuk anak-anak,
manfaat olahraga jauh lebih
kentara karena aktivitas fisik ini
dapat meningkatkan
kemampuan koordinasi tubuh,
mempertajam daya pikir,
membangun harga diri
sekaligus kepercayaan diri serta
mengurangi tingkat kecemasan
dan stres.
Solusi:
Meski orang dewasa
direkomendasikan untuk
berolahraga sedikitnya 30 menit
perharinya tapi anak-anak
justru harus didorong untuk
berolahraga selama 60 menit
perhari. Tak perlu melakukan
satu jenis latihan fisik selama
durasi itu karena orangtua bisa
mengajari anak untuk
mengkombinasikan sejumlah
latihan fisik, misalnya jalan kaki
selama 30 menit, bersepeda 10
menit dan 20 menit bermain
seperti lompat tali atau
berkejaran dengan anjing.
Anda juga bisa
mengarahkannya agar fisiknya
lebih aktif dengan
mendorongnya berpartisipasi
dalam olahraga, kelas tari atau
bela diri. Bisa juga dengan
mengajak mereka melakukan
aktivitas bersama seperti
mengajak anjing jalan-jalan,
menyapu dedaunan yang
berjatuhan di taman rumah
atau membersihkan karpet.
Beri contoh pada anak dengan
aktif berolahraga atau
melakukan kegiatan fisik dan
luangkan waktu untuk family
outing seperti bersepeda atau
mendaki gunung bersama.
4. Kurang tidur
Kurang tidur mungkin terdengar
sepele tapi hal ini telah lama
diketahui menyebabkan
berbagai gangguan kesehatan.
Bahkan kurang tidur kronis
dapat menimbulkan
konsekuensi negatif untuk
seumur hidup.
Pasalnya, ketika tidur tubuh
memperoleh kesempatan untuk
memulihkan dirinya sendiri
setelah seharian beraktivitas.
Lagipula jam tidur yang cukup
dapat membantu Anda
mempertajam daya pikir
sekaligus melawan infeksi.
Tak hanya itu, kurang tidur juga
mempengaruhi stok energi,
mood, kebiasaan makan,
kemampuan memecahkan
masalah (problem-solving skill)
serta kemampuan belajar,
termasuk mencegah tubuh
memulihkan diri dari cedera.
Apalagi bagi anak-anak tidur itu
begitu penting karena aktivitas
ini membantu mereka tumbuh,
berkembang dan berfungsi
secara optimal.
Bahkan sejumlah studi telah
mengaitkan antara kurang tidur
dengan obesitas, gangguan
pemusatan pikiran, diabetes
hingga penyakit jantung paa
anak-anak.
Solusi:
Tanamkan rutinitas tidur yang
teratur pada anak. Salah
satunya dengan membatasi
waktu anak untuk menonton
televisi atau bermain game di
malam hari serta memastikan
anak berangkat tidur di jam
yang sama setiap malamnya
dalam lingkungan rumah yang
nyaman, aman dan tenang.
Namun seberapa besar
kebutuhan tidur anak
bergantung pada usia dan
kadar aktivitasnya, biasanya
berkisar antara 9-12 tahun.
Untuk mengetahui apakah anak
Anda mendapatkan jam tidur
yang cukup atau tidak, cobalah
amati apakah di pagi hari anak
Anda bisa bangun sendiri atau
tidak. Jika iya, itu tandanya ia
mendapatkan jam tidur yang
memadai. Jika harus
dibangunkan, biasakan si anak
untuk tidur lebih cepat.
5. Malas mencuci tangan
Lini pertama pertahanan Anda
terhadap berbagai kuman dan
penyakit terdapat pada
kebiasaan mencuci tangan
dengan sabun dan air. Tapi
sayangnya banyak orang yang
enggan melakukannya atau tak
melakukannya dengan benar.
Padahal kuman dan penyakit
yang masuk ke dalam tubuh
karena malas mencuci tangan
bisa mengakibatkan berbagai
masalah kesehatan mulai dari
flu biasa hingga penyakit parasit
seperti E. coli, Giardia dan
Salmonella yang dapat
menyebabkan sakit serius.
Solusi:
Ajari anak untuk rajin mencuci
tangan menggunakan sabun
dan air sebelum makan, setelah
memakai toilet, setelah
memegang hewan peliharaan,
sebelum dan setelah
menyentuh makanan mentah,
setelah batuk, bersin atau
melecit. Namun yang terpenting
adalah berikan aturan yang
sama untuk diri Anda sendiri.

Inilah Cara Agar Anak Anda Lebih Pintar dan Cerdas


Benkyou Methods  Artikel by M. Lukmanul Hakim, S.Pd.I :

Inilah Cara Agar Anak Anda Lebih Pintar dan Cerdas 

1. Lakukan permainan yang mengajak berpikir

Misalnya dengan mengajak bermain catur atau teka-teki silang selain menyenangkan juga mendukung strategi berpikir anak-anak, bagaimana cara menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan yang kompleks. Bagi anak usia balita bisa juga diajak bermain yang bersifat edukatif seperti bermain puzzle.

2. Ajaklah untuk Mengenal Musik

Agaranak pintar, ajaklah bermain music. Bermain musik merupakan cara yang menyenangkan untuk merangsang pertumbuhan otak kanan.

3. Berikan ASI

Ternyata, makanan otak yang paling dasar adalah ASI. Berbagai penelitian secara konsisten terus menunjukkan begitu signifikannya keuntungan ASI yang behubungan dengan pertumbuhan bayi. dibandingkan dengan anak yang mengkonsumsi ASI hanya beberapa bulan saja, anak yang mengkonsumsi ASI eksklusif memiliki tingkat kepintaran yang lebih tinggi.

4. Biasakanlah Berolahraga

Ajaklah anak untuk beraktifitas fisik agar anak pintar. Semakin bugar badan seorang anak maka kemampuan otaknya dalam menerima pelajaran juga meningkat. Bimbinglah agar anak mau turut dalam kegiatan fisik atau olahraga sesuai dengan minatnya.

5. Jauhkan makanan cepat saji

Memberikan makanan bergizi tinggi adalah sangat baik untuk perkembangan mental anak usia dini serta berfungsi dalam perkembangan motorik anak pada usia 1-2 tahun pertama. Misalnya anak-anak memerlukan zat besi untuk perkembangan jaringan otak yang sehat, anak yang kekurangan zat besi akan lambat dalam menerima rangsangan. Untuk itu, hindari makanan cepat saji yang kandungan gizinya tidak seimbang.

6. Kembangkanlah rasa ingin tahu

Agar merangsang anak untuk berpikir, orang tua harus mengembangkan rasa ingin tahunya pada anak sehingga mendorong anak untuk mencari ide-ide baru. Dengan Mengajarkan anak keterampilan baru serta pendidikan di luar rumah juga bisa mengembangkan rasa ingin tahu anak dan intelektualnya.

7. Ajak Anak Agar Gemar Membaca

Agar anak pintar, ajaklah anak untuk mencintai membaca. Karena, membaca adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan pembelajaran dan perkembangan kognitif anak-anak dari segala usia. Mulailah dengan sering membacakan anak dongeng sebelum tidur dan sering-seringlah memberikan anak hadiah buku yang bisa menarik perhatiannya.

8. Berikan Kepercayaan Diri

Orang tua sebaiknya selalu memberikan semangat dan optimisme kepada anak-anak. Ajaklah anak untuk ikut kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan tim.

9. Berikan Sarapan yang Sehat

Anak-anak yang tidak sarapan lebih mudah marah dan kurang konsentrasi pada waktu belajar, sementara anak yang sarapan akan tetap fokus dan bergerak selama jam sekolah. Untuk itu, awali hari mereka dengan sarapan yang sehat, agar anak pintar dan cerdas.

Sumber : http:// berbinarbinar.com

Artikel Populer : Membangun kecerdasan Emosi Pada Anak


Membangun kecerdasan Emosi Pada Anak

by Rinastkip

 

Dahulu, orang mengagung-agungkan kepandaian otak (IQ) sebagai kunci sukses. Namun faktanya, menurut hasil penelitian para ahli, orang sukses tidak selalu jenius atau memiliki IQ tinggi dan orang yang memiliki IQ tinggi belum tentu sukses. Ada faktor lain yang menunjang kesuksesan seseorang di luar IQ yaitu EQ. EQ memiliki peranan yang lebih besar pada keberhasilan seseorang dibandingkan IQ. Orang yang mampu menggabungkan IQ dan EQ akan memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi.

Kecerdasan emosional atau Emotional Quotation (EQ) adalah kemampuan untuk memahami gejolak emosi , kemampuan mengungkapkan perasaan secara benar, kemampuan untuk mengendalikan emosi, kemampuan untuk mengelola emosi dan kemampuan untuk mengerti keadaan yang dialami oleh orang lain (empati). Tidak ada patokan resmi untuk mengukur tingkat EQ seseorang tetapi dampaknya dapat dirasakan baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Banyak ahli berpendapat kecerdasan emosi yang tinggi akan sangat berpengaruh pada peningkatan kualitas hidup. Kecerdasan emosi terus berkembang dari lahir hingga tutup usia.

Kecerdasan emosi dibentuk sejak kecil karena itu orang tua memiliki peranan sangat penting dalam membangun kecerdasan emosi anak. Orang tua harus membina, mengajar, membimbing, dan memberi teladan.

Unsur yang membangun kecerdasan emosi, yaitu :

  1. Memahami diri sendiri
    Kecerdasan emosi seseorang akan membantu anak tersebut untuk dapat menerima diri apa adanya. Nyaman dengan keadaan yang ada padanya. Hal ini membuat dia merasa percaya diri dan mampu menggali hal-hal yang baik dalam dirinya dan menerima hal-hal yang kurang baik.
  2. Mampu mengelola emosi sendiri
    Luapan emosi yang timbul tidak meledak-ledak dan tidak terkontrol tapi mampu disalurkan dengan benar sehingga emosi itu bisa membawa dampak positif bagi dirinya dan orang lain.
  3. Memotivasi diri sendiri
    Memiliki semangat juang yang tinggi untuk maju, untuk belajar, suka tantangan, suka hal-hal baru dan mampu mengembangkan potensinya dengan baik.
  4. Kemampuan memahami masalah dan memecahkan masalah itu
    Ketika menghadapi masalah, anak mampu memahami penyebab dari masalah itu dan mampu mencari solusi sekalipun peran orang tua untuk membimbing diperlukan.
  5. Kemampuan beradaptasi
    Mampu mengenali lingkungan sekitar dan menyesuaikan diri serta menjadi teman yang menyenangkan bagi orang lain.
  6. Memahami emosi orang lain (empati)
    Dapat mengerti dan merasakan apa yang terjadi pada anak lain. Hal ini membantu anak untuk menentukan sikap dalam suatu keadaan.
  7. Mampu membina hubungan sosial
    Kemampuannya beradaptasi dan berempati membuat seorang anak memiliki hubungan sosial yang baik di antara teman-temannya. (JC)

(sumber : anakibu.com)

Artikel :15 Cara Meningkatkan Kecerdasan Anak


15 Cara Meningkatkan Kecerdasan Anak

Linda Mayasari – detikHealth

Jakarta, Memiliki anak yang kreatif dan cerdas adala impian semua orang tua. Membangun kecerdasan anak, sepenuhnya adalah kewajiban Anda sebagai orang tua. Oleh karena itu, Anda harus mempelajari hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan kemampuan berpikir anak.

Seperti dilansir dari ivillage, Rabu (17/7/2012), berikut 15 hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu meningkatkan kecerdasan intelektual anak, antara lain:

1. Sediakan sarapan sehat setiap pagi

Menurut penelitian yang dilakukan di Ulm University, Jerman, pelajar yang mengawali hari dengan sarapan pagi setiap harinya, memiliki memori yang tajam dan lebih waspada dibandingkan dengan pelajar lain yang melewatkan sarapan pagi.

Sebuah studi dari Inggris juga menemukan bahwa sarapan yang kaya karbohidrat kompleks membantu anak-anak mempertahankan kinerja mental, khususnya mempengaruhi perhatian dan memori.

Berikan sarapan sehat seperti buah, sereal gandum, susu rendah lemak dan makanan kaya protein seperti kacang-kacangan dan telur agar anak mendapatkan sumber utama bahan bakar yang dibutuhkan otak.

2. Berikan beberapa pertanyaan untuk memancing ide anak

Tanyakan kepada anak beberapa pertanyaan, seperti bagaimana harinya di sekolah, atau dimana liburan terbaik menurutnya. Hal ini akan mendorong anak Anda untuk memikirkan ide-ide baru yang dapat membantu menciptakan hubungan saraf baru di otak.

3. Bangun suasana keluarga yang hangat

Penelitian menunjukkan bahwa suasana emosional yang hangat dan stabil sangat penting untuk perkembangan fungsi kognitif dan ketrampilan anak. Sebaliknya, anak-anak dengan orang tua yang keras memiliki risiko yang lebih besar terhadap masalah ketrampilan.

4. Memprioritaskan jam tidur anak

Jika anak Anda tidak memiliki waktu yang cukup untuk tidur, dirinya mungkin akan kehilangan kemampuan otak yang berharga.

Tidur mempengaruhi setiap aspek fungsi kognitif anak, termasuk perhatian, memori, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak mendapatkan cukup tidur lebih mungkin untuk berperilaku buruk di sekolah dan kesulitan memusatkan perhatian pada pelajaran.

Tetapkan waktu tidur yang konsisten dan waktu bangun untuk anak Anda, matikan TV, komputer atau perangkat lain dua jam sebelum anak berangkat tidur.

5. Penuhi asupan asam lemak omega-3 pada anak

Asam lemak omega-3 bermanfaat bagi otak dengan mengaktifkan area otak yang berpotensi mendorong peningkatan perhatian, memori dan aspek kognitif lainnya.

Berikan suplemen minyak ikan dan beberapa makanan lain yang diperkaya oleh asam lemak omega-3 dan DHA.

6. Ajak anak berolahraga

Aktivitas fisik yang teratur bermanfaat terhadap kesehatan secara keseluruhan dan juga fungsi otak.

Sebuah penelitian terbaru di Medical College of Georgia di Augusta menemukan bahwa ketika anak-anak yang kelebihan berat badan pada usia 7 sampai 11 dan berolahraga selama 20 atau 40 menit sehari, mengalami perbaikan fungsi kognitif otak setelah 13 minggu.

Hal tersebut terjadi karena gerak mengaktifkan daerah penting di otak yang mempengaruhi daya pikir anak. Ajak anak untuk melakukan olahraga pilihannya atau ajaklah anak bersepeda secara rutin.

7. Kenalkan permainan edukatif pada anak

Permainan seperti teka-teki membutuhkan ketrampilan, strategi dan memori otak untuk menyelesaikannya. Bermain permainan yang edukatif dapat membantu otak anak Anda menjalin hubungan saraf baru.

8. Batasi waktu anak menonton TV

Terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk menonton TV dan bermain video game telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kelebihan berat badan, makan makanan tidak sehat dan hal lainnya yang berhubungan dengan masalah kesehatan.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa siswa yang menghabiskan lebih banyak waktu menonton TV selama minggu, tidak dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya di sekolah.

American Academy of Pediatrics merekomendasikan untuk membatasi waktu menonton TV maksimal dua jam per hari.

9. Sediakan camilan sehat untuk anak

Makanan ringan dapat memberikan tambahan asupan pada otak, tetapi tergantung pada konten gizinya.

Para peneliti di University of Southern California Institute for Prevention Research menemukan bahwa kemampuan fungsi kognitif anak berhubungan negatif dengan asupan makanan ringan yang tinggi kalori dan berhubungan positif dengan asupan buah dan sayuran.

Anak-anak yang kurang makan tidak memiliki nutrisi yang tepat untuk perkembangan otak, sehingga penuhi kebutuhan makanan anak dengan emnyediakan makanan ringan yang sehat.

10. Ajak anak berlatih memainkan alat musik

Peneliti dari Perancis menyatakan bahwa pelatihan musik selama 6 bulan saja dapat mempengaruhi kemampuan kognitif anak.

Kemampuan membaca anak meningkat dan anak menjadi mudah menangkap arah pembicaraan orang lain. Pelatihan musik juga mendorong pengembangan saraf yang tercermin dalam pola tertentu dari gelombang otak.

11. Berikan asupan vitamin melalui buah dan sayuran

Buah dan sayuran yang sarat akan kandungan vitamin dan mineral dapat meningkatkan kesehatan phytochemical. Buah dan sayuran juga kaya antioksidan, yang melawan radikal bebas dan melindungi perkembangan otaknya.

Dalam studi di University of Southampton di Inggris menemukan bahwa anak yang mengonsumsi sayuran dan buah-buahan memiliki skor IQ lebih tinggi baik secara keseluruhan maupun verbal.

12. Bantu anak mengatasi stres

Stres pada anak dapat mengganggu fungsi otaknya. Dalam sebuah penelitian terhadap anak-anak usia 9 sampai 12 tahun, para peneliti di University of Malaga di Spanyol menemukan bahwa anak yang merasa stres memiliki hasil ujian yang melibatkan kecepatan memori dan perhatian yang lebih buruk daripada anak-anak yang tidak stres.

Jika anak Anda cemas tentang suatu hal, ajak anak berkomunikasi dan selesaikan masalah yang dialamai anak bersama. Ajak anak melakukan hal-hal yang menyenangkan agar terhindar dari stres.

13. Kurangi kebisingan

Penelitian yang dilakukan di University of London menemukan bahwa anak-anak yang tinggal di lingkungan yang bising akan kesulitan dalam memahami buku yang dibacanya.

Sementara itu, peneliti dari Kyoto University di Jepang menemukan bahwa anak-anak yang secara konsisten terkena kebisingan memiliki nilai yang lebih rendah pada tes memori.

Jika lingkungan rumah Anda rentan dengan kebisingan eksternal, lakukan langkah-langkah seperti memasang jendela ganda, tirai yang berat dan alat peredam kebisingan.

14. Biarkan anak Anda mengakrabkan diri dengan alam

Menghabiskan waktu di luar rumah dapat meningkatkan fungsi otak anak Anda, terutama perhatian, konsentrasi, kontrol impuls dan memori.

Alam tampaknya meremajakan otak dengan memberikan kesempatan pada mental otot untuk beristirahat.

Biarkan anak bermain-main di alam setidaknya selama 20 menit sehari. Anak dapat menghabiskan waktu di alam dengan membaca buku di taman, bersepeda di jalanan yang ditumbuhi pepohonan, dan bermain sepak bola.

15. Rapikan rumah Anda

Keadaan rumah yang berantakan dan tidak teratur mengarah pada pikiran yang kacau. Penelitian menunjukkan bahwa keadaan rumah yang berantakan dapat mempengaruhi fungsi intelektual anak.

Anak-anak yang berkembang dalam lingkungan yang rapi dan terstruktur, memiliki daya pikir yang lebih cemerlang dan fokus.

Sumber : http://www.detik.com

Artikel : Membangun Karakter melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)


Kawan, jika saya ditanya kapan sih waktu yang tepat untuk menentukan kesuksesan dan keberhasilan seseorang? Maka, jawabnya adalah saat masih usia dini. Benarkah? Baiklah akan saya bagikan sebuah fakta yang telah banyak diteliti oleh para peneliti dunia.

Pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (golden age).

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.

Nah, oleh karena itu, kita sebagai orang tua hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang. Kita sebagai orang tua kadang tidak sadar, sikap kita pada anak justru akan menjatuhkan si anak. Misalnya, dengan memukul, memberikan pressure yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri atau minder, penakut dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa. Ketika dewasa karakter semacam itu akan menjadi penghambat baginya dalam meraih dan mewujudkan keinginannya. Misalnya, tidak bisa menjadi seorang public speaker gara-gara ia minder atau malu. Tidak berani mengambil peluang tertentu karena ia tidak mau mengambil resiko dan takut gagal. Padahal, jika dia bersikap positif maka resiko bisa diubah sebagai tantangan untuk meraih keberhasilan. Anda setuju kan?

 

Banyak yang mengatakan keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa jenius otak kita. Semakin kita jenius maka semakin sukses. Semakin kita meraih predikat juara kelas berturut-turut, maka semakin sukseslah kita. Benarkah demikian? Eit tunggu dulu!

Saya sendiri kurang setuju dengan anggapan tersebut. Fakta membuktikan, banyak orang sukses justru tidak mendapatkan prestasi gemilang di sekolahnya, mereka tidak mendapatkan juara kelas atau menduduki posisi teratas di sekolahnya. Mengapa demikian? Karena sebenarnya kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan otak kita saja. Namun kesuksesan ternyata lebih dominan ditentukan oleh kecakapan membangung hubungan emosional  kita dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Selain itu, yang tidak boleh ditinggalkan adalah hubungan spiritual kita dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Tahukah anda bahwa kecakapan membangun hubungan dengan tiga pilar (diri sendiri, sosial, dan Tuhan) tersebut merupakan karakter-karakter yang dimiliki orang-orang sukses. Dan, saya beritahukan pada anda bahwa karakter tidak sepenuhnya bawaan sejak lahir. Karakter semacam itu bisa dibentuk. Wow, Benarkah? Saya katakan Benar! Dan pada saat anak berusia dini-lah terbentuk karakter-karakter itu. Seperti yang kita bahas tadi, bahwa usia dini adalah masa perkembangan karakter fisik, mental dan spiritual anak mulai terbentuk. Pada usia dini inilah, karakter anak akan terbentuk dari hasil belajar dan menyerap dari perilaku kita sebagai orang tua dan dari lingkungan sekitarnya. Pada usia ini perkembang mental berlangsung sangat cepat. Pada usia itu pula anak menjadi sangat sensitif dan peka mempelajari dan berlatih sesuatu yang dilihatnya, dirasakannya dan didengarkannya dari lingkungannya. Oleh karena itu, lingkungan yang positif akan membentuk karakter yang positif dan sukses.

 

Lalu, bagaimana cara membangun karakter anak sejak usia dini?

Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya. Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.

Nah, sekarang kita memahami mengapa membangun pendidikan karakter anak sejak usia dini itu penting. Usia dini adalah usia emas, maka manfaatkan usia emas itu sebaik-baiknya.