CONTOH MAKALAH / BAHAN KULIAH TEORI SEJARAH SASTRA


CONTOH MAKALAH / BAHAN KULIAH TEORI SEJARAH SASTRA

By Rinastkip, https://rinastkip.wordpress.com

TEORI  SASTRA

Teori Sastra Transisi: Teori Sastra sangat berkaitan dengan Pengantar Ilmu Sastra. Karena pengampu Mata Kuliah Pengantar Ilmu Sastra belum tentu oleh dosen yang sama, maka materi Teori Sastra perlu dilakukan penyesuaian dengan Pengantar Ilmu Sastra, supaya tidak terjadi pendobelan (overlapping) maupun kerumpangan. Oleh karena itu perlu juga dilihat silabus materi PIS.

MATERI TEORI SASTRA

  1. Sastra dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman bersastra: apa itu sastra menurut aku? Konkretnya? Apakah sastra dekat dengan kehidupanku? Kapan aku mulai mengenal sastra? Sastra dalam hidup sehari-hari (Sastra lama). Ambil contoh sastra yang baik dan menarik (dari pengalaman mereka: dongeng, drama, film, cerpen). Dibaca bersama-sama, disharingkan & didiskusikan.
  2. Baca puisi Rendra seonggok Jagung di kamar. Bicara ttg kreativitas, majalah Jejal. Tugas membaca/menikmati sastra yang menarik (puisi, cerita, drama).
  3. Sastra menurut Wellek, Sartre.
  4. Ragam Bahasa: kekhasan bahasa Sastra dibanding dengan bahasa lainnya: contoh puisi Muh. Yamin, puisi Rendra, Chairil, Rintrik, Iwan Smtpang. 
  5. Sastra sebagai fiksi (contoh-contoh).  Mengapa sastra sebagai fiksi berguna bagi manusia? Keuntungan sastra sebagai fiksi?
  6. Sastra sebagai seni. Apa itu seni? Keindahan dan sifat-sifatnya. Pengalaman Estetis
  7. Prosa, puisi dan drama
  8. Sastra yang baik? Dulce et Utile dalam Sastra.
  1. Sastra yang indah: apanya yang indah? Bahasa, ataukah isinya yang mampu menyentuh hati?  Atau imaginasinya? Contoh bahasa yang indah; contoh imaginasi yang menarik: “bulan di atas kuburan”; ”sepotong senja”; “aku ingin mencintaimu secara sederhana”. Yang indah dalam sastra, tergantung pada masing-masing genre: puisi, drama, fiksi.
  2. Sastra yang bermanfaat. Sastra yang menyentuh hati, mengharukan, sastra yang indah ataukah yang baik? Atau kedua-duanya?
  1. Studi Sastra: teori, sejarah & kritik sastra berada di dalam wilayah ilmu pengetahuan, namun yang menjadi objek pembicaraan adalah  sastra sebagai seni (karya sastra).
  2. Munculnya aliran-aliran dan pendekatan dalam sastra.
  3. Mengapa orang membaca sastra? Apa fungsi & peran sastra dalam kehidupan sehari-hari?

 

 

1. SASTRA DALAM HIDUP SEHARI-HARI: DALAM TRADISI MASYARAKAT, KETOPRAK, LENONG, SENDRATARI, DRAMA, LAGU-LAGU, FILM, SINETRON, TELENOVELA,  DSB

Sejak kecil kita sebenarnya sudah akrab dengan sastra.

  1. Ketika bayi, waktu mau tidur, dilagukan lagu Ninabubuk; ketika manangis, ditembahkan lagu Tak lela lela lela ledung; waktu masih balita, diajar nyanyi Keplok ame-ame, walang kupu-kupu. Ketika di TK, menyanyi Pelangi-pelangi, Bintang Kecil, Menanam Jagung, Satu-satu aku saying Ibu, Balonku Ada Lima. Lagu-lagu tanah air, perjuangan, kebangsaan lagu pop, bahkan lagu dangdut, dsb. Dongeng sebelum tidur:
  2. Ketika kita masih kecil dulu, belum mau tidur kalau belum dikeloni dan diceritain tentang dongeng Timun Emas dengan Buto Ijo, tentang bagaimana Timun Emas dikejar-kejar Buto Ijo hendak dijadikan santapan/dikawini. Bagaimana Timun Emas itu lari dan bersembunyi; bagaimana Timun Emas itu akhirnya menyebarkan garam pemberian Nini Buto Ijo, menjadi danau embel atau danau lumpur, sehingga Buto Ijo terperosok ke dalam lumpur itu. Dengan demikian Timun Emas bisa lari meninggalkan Buto Ijo. Bawang Merah, Cindelaras, Kancil Nyolong Timun. Dongeng-dongeng itulah sastra.
  3. Ketika seorang pawang, dukun, dalam acara bersih desa, kendurenan, berkisah tentang asal-usul desa tersebut, dia terlibat dalam sastra lisan, yaitu cerita, dongeng atau mitos. Dalam sastra tradisional, kita mengenal cerita asal-usul, cerita binatang, cerita jenaka, cerita pelipur lara, pantun.
  4. Asal-usul Tangkuban Perahu; Rawa Pening; Banyuwangi; Ciamis; mengapa gadung beracun, harimau berbelang, ayam jago bertanduk. Gunung Tidar sebagai pathok tanah Jawa; orang Jepang percaya diri sebagai putra matahari; orang Jawa berasal dari dewa; raja2 Jawa sebagai titisan dewa; Suharto sebagai keturunan raja2 Jawa, dsb. Cerita asal-usul biasanya untuk mencari legitimasi bahwa suku, bangsa, atau keluarga, tokoh berasal dari keturunan raja atau dewa, bukan orang sembarangan atau keturunan pidak-pedarakan. Seperti Suharto, mengatakan bahwa dirinya itu masih keturunan raja2 Jawa (Majapahit-Mataram?).
  5. Cerita binatang: Cerita Kancil paling populer. Tokoh binatang yang kecil  tetapi cerdik. Bahkan bisa mengalahkan atau menipu binatang2 hutan yang lebih besar. Misalnya Kancil berlomba lari dengan Siput (keong). Kancil menjaga seruling, sabuk, gong, jenang nabi Sulaeman. Kancil menipu Gajah. Kancil kalah dengan orang-orangan Pak Tani, tapi bisa menipu Anjing. Binatang yang tak tahu balas budi: Buaya yang mau memakan Lembu yang baru saja menolongnya dari tindihan pohon. Cerita binatang berasal dari India, karena kepercayaan Hindu akan inkarnasi. Cerita binatang yang juga terkenal adalah Sukasaptati. Terjemahan versi Melayu bernama Bayan Budiman.
  6. Cerita Jenaka: Cerita Pelipur Lara
  7. Epos India: Ramayana dan Mahabharata.
  8. Lagu-lagu yang saban hari kita dengar dan kita gemari, dari lagu pop, campur sari, hingga lagu dangdut, bukankah syair-syairnya berbentuk puisi? Hiburan-hiburan apa yang kita saksikan di televisi? Cerita apa saja yang saya senangi? Ketoprak Humor, Srimulat, Ludruk, pementasan Wayang  Orang maupun Wayang Kulit, bukankah itu merupakan bentuk teater? Acara-acara film dari Shinchan, Doraemon, Scoobidoo, Sinetron Tersanjung, Maha Kasih, Mak Lampir, Dendam Nyi Pelet, hingga Telenovela, film-film Hindia, film silat Cina sampai film-film Hollywood, bukankah itu cerita fiksi yang diolah dari skenario yang bersifat sastra? Belum lagi cerita-cerita daerah, tulisan-tulisan di berbagai koran, majalah dalam bentuk Cerita pendek, Cerita bersambung, puisi, dsb.
  9. Cerita kanak2 Harry Potter, cerita HC. Anderson, Bayan Budiman. Dalam acara tivi: cerita horor, ketoprak humor, kartoon, film cerita silat, India, Mahabharata, detektif, spionase, cerita kartoon dari Jepang, dsb. Pengalaman pribadi: buat cerita (memetik bulan dan matahari), cerpen “Sepotong Senja untuk Sang Pacar”, cerber. Cerita lucu2.
  10. Dalam seni gerak (Tari) pun biasanya terselip (cerita) sastra secara implisit (Ramayana, Tari Merak, dsb). Demikian pula dalam lukisan2-pun terdapat cerita sastra secara implisit. Ada cerita yang melatar-belakanginya. Drama, cerita film: merupakan cerita dalam gerak dan kata.
  11. Tradisi lisan dan tradisi tulis dalam masyarakat dulu. Tradisi lisan dan tradisi tulis dalam masyarakat kita sekarang. Suka ngobrol, ngegosip, bikin isu, provokator, tidak suka baca, tidak suka ke perpust. Kita sebagai mahasiswa berada dalam transisi, menuju ke tradisi tulis sebagai calon cendekiawan, biasakan ke perpust.
  12. Bisa dikatakan setiap saat kita sebenarnya bertemu dengan sastra.
  13. Tapi jangan kebablasan, euforia (latah). Mentang mahasiswa lalu nulis di meja2 kuliah, tembok, tempat2 umum, WC, dsb.

Tugas 1: saling bercerita kepada teman sekelompok

1. Kumpulkan Cerita2 rakyat, dongeng menjelang tidur, terutama yang saudara senangi. Buat ringkasan 5 cerita!

2. Atau cari 5 cerita asal-usul; 5 cerita binatang; 5 cerita lucu.

3. Atau 5 jenis berbagai cerita: dongeng, legenda, asal-usul, cerita binatang, cerita Jenaka, Epos India.

Tugas 2:

  1. Sejauh mana saya membaca/menikmati sastra?
  2. Buku sastra apa saja yang pernah saya baca/nikmati? Sebutkan jenis sastra mana yang pernah saya nikmati (novel, cerpen, puisi, drama)!
  3. Seringkah saya menonton dan menikmati drama, ketoprak, wayang, cerita, cerita film, sinetron, cerita Barat,  China, Timur Tengah?
  4. Sering membacakan puisi, mendeklamasikan puisi? Pernah menulis puisi?

2. Menikmati: SEONGGOK JAGUNG DI KAMAR

Pembelajaran

  1. Mencoba untuk menguji kemampuan menyimak (semua mhswa), membacakan untuk orang lain (bagi yang ditugasi membacakan “Sajak Seonggok Jagung”).
  2. Menguji pemahaman mhswa tentang “pemuda” yang digambarkan di dalam sajak tsb. Pembacaan diulang beberapa kali kalau perlu.
  3. Menarik kesimpulan:

1)      Ada berapa tipe pemuda yang digambarkan di dalam sajak?

2)      Apa kesimpulan yang bisa diambil dari pembacaan sajak tsb?

3)      Apakah ada kritik yang ingin disampaikan oleh ”aku lirik” dari sajak itu? Bagaimana kritiknya?

4)      Bagaimana pendidikan seharusnya berfungsi untuk hidup ini?

Tugas 3:

  1. Menurut saya selama ini, yang dimaksud dengan sastra adalah ….
  2. Sejak kapan saya mulai mengenal sastra?
  3. Sastra menurut saya pada saat itu, sesuatu yang jauh, atau sesuatu yang menarik, ataukah sesuatu yang sulit dimengerti?

Laporan Bacaan:

4. APA ITU SASTRA?

DISKUSI:

a. Sastra menurut para ahli (Wellek, kamus, Sartre, Teeuw, Luxemburg, Eagleton, dst)?

Tugas 4: membaca Wellek & Warren BAGIAN 1, bab 1 & 2

b. Sastra yang dekat dan disenangi masyarakat?

c. Mahasiswa dalam kelompok, coba bandingkan 3 macam tulisan: tulisan sastra, jurnalistik, dan percakapan sehari-hari.

4. APA ITU SASTRA MENURUT AHLI?

Sastra menurut beberapa ahli: Wellek & Warren, dan Sartre.

A. SASTRA DAN STUDI SASTRA (Wellek & Warren, Bab 1)

Sastra: kegiatan kreatif; sebuah seni.  Studi sastra: cabang ilmu pengetahuan.

Hubungan sastra dan studi sastra menimbulkan beberapa masalah rumit. Beberapa tawaran jalan keluar.

Pertama-tama harus dibedakan antara sastra dan studi sastra. Semula ada usaha mengaburkan perbedaan ini. Katanya, seorang penyair harus bisa menilai syair-syair yang baik maupun yang jelek. Sebaliknya seorang pemerhati drama, puisi haruslah seorang dramawan maupun penyair. Tidak mungkin kita mempelajari drama Inggris dari periode tsb, tanpa mencoba belajar mengarang drama dalam bentuk blank verse, ciri khas drama zaman Elizabeth di  Inggris.  Demikian pula,  orang tidak bisa mempelajari pantun maupun syair tanpa terlebih dulu mencoba membuat bentuk puisi khas Melayu itu. Kita harus belajar membuat bentuk puisi  tembang sebelum mencoba membicarakan jenis bentuk puisi Jawa tersebut.

Latihan kreatif ini barangkali memang berguna, tetapi tugas seorang penelaah sastra sama sekali lain dengan pencipta sastra. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif dan hasilnya: karya seni. Sedang studi sastra adalah cabang ilmu pengetahuan. Seorang penelaah sastra harus bisa menelaah sastra dalam bahasa ilmiah, dengan uraian yang jelas dan rasional, meskipun bahan studinya

sedikit banyak mengandung unsur yang tidak rasional.

Sejumlah teoritikus menolak mentah-mentah bahwa telaah sastra adalah ilmu, karena sastra itu sendiri adalah karya seni (Wellek, 1989: 3). Mereka masih mengaburkan antara sastra dan telaah sastra. Telaah sastra dianggapnya juga sebagai bagian dari proses kreatif  yang tak terpisahkan dan tak terbedakan dengan kegiatan sastra itu sendiri. Mereka belum sampai pada kesadaran bahwa telaah sastra bisa dilakukan secara ilmiah, rasional dan obyektif.

Sejumlah teoritikus menolak bahwa telaah sastra sebagai ilmu. Mereka mengusulkan telaah sastra sebagai “penciptaan kedua” . Seperti dilakukan oleh Walter Pater dan John Addington Symonds.

  1. Walter Pater menterjemahkan lukisan Mona Lisa (Leonardo da Vinci) dalam bentuk tulisan.
  2. John Addington Symonds mengulas karya sastra dengan gaya bahasa sastra yang berbunga-bunga.

Teoretikus lain juga mengambil kesimpulan yang sama skep­tisnya. Menurut mereka, sastra tidak bisa ditelaah sama sekali. Sastra hanya untuk dibaca, dinikmati, dan diapresiasi. Selebihnya yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan berbagai macam informasi mengenai karya sastra. Justru sikap2 skeptis inilah yang menyebar dan berkembang ke masyarakat.

Masalahnya adalah bagaimana secara intelektual, mendekati seni, khususnya seni sastra. Bisakah itu dilakukan? Dan bagaimana bisa dilakukan? Salah satu jawaban adalah hal itu bisa dilakukan dengan metode2 yang dikembangkan oleh ilmu-ilmu alam, yang hanya perlu ditransfer ke dalam studi sastra. Beberapa transfer semacam itu bisa dibedakan (Terj. Prapta).

  1. Salah satunya adalah mencoba menyamakan cita2 ideal dari ilmu pengetahuan umumnya mengenai objektivitas, impersonalitas (bersifat umum), dan kepastian.
  2. Yang lain adalah mencoba meniru metode-metode ilmu alam melalui studi sebab-akibat dan studi sumber; ‘metode genetik’ ini pada prakteknya membenarkan penelusuran segala macam hubungan selama masih kronologis.

 

Diterapkan secara lebih ketat, kausalitas ilmu pengetahuan  untuk menjelaskan fenomena sastra, dengan tugas menentukan sebab2nya  pada bidang ekonomi, sosial, dan politik. Lagi, ada introduksi mengenai metode2 kuantitatif yang hampir digunakan dalam ilmu2 seperti statistik, peta, grafik. Dan akhirnya ada usaha menggunakan konsep biologis dalam menelusuri evolusi sastra. …

Hubungan sebab-akibat, kausalitas ilmiah digunakan untuk menjelaskan fenomena sastra: mengacu kondisi ekonomi, sosial, dan politik sebagai faktor-faktor penyebab.

Ada wilayah di mana dua metodologi (IPA & Pasti >< Ilmu Kemanusiaan/Humaniora) bertumpang tindih, yaitu dengan menggunakan metode dasar induksi, deduksi, analisis, sintesis dan perbandingan.

Ada pemecahan lain yang muncul: studi sastra memiliki metode2 yang absah dan ilmiah, walau tidak selalu sama dengan metode ilmu pengetahuan alam.

METODE ILMU ALAM SEJARAH
1. Ilmuwan melihat penyebab peristiwa (Dilthey) 1. Sejarawan mencoba memahami maknanya. Proses pemahaman: individual & subjektif.
2. Berlaku hukum yang  umum (Wilhem Windelband) 2.Setiap fakta itu unik.
  Ilmu budaya melihat hal yang konkret dan invidual (Heinrich Rickert).
3. IPA pelajari fakta2 yang berulang (Xenopol) 3. Sejarah mengkaji fakta-fakta yang silih berganti. Ahli sastra mencari kekhususan, ciri2 khas dan kualitas tertentu.
   

Singkatnya ada 2 jalan keluar ekstrem:

  1. Mengikuti metode2 ilmiah dengan menyusun hukum-hukum umum.
  2. Menekankan subjektivitas dan individualitas serta keunikan karya sastra.

Jalan tengah:

Setiap karya sastra pada dasarnya bersifat umum, sekalligus khusus; individual sekaligus umum.

Kritik Sastra dan Sejarah Sastra mempelajari ciri khas sebuah karya sastra, sedangkan Teori Sastra berusaha menemukan hukum umum.

Seperti setiap manusia – memiliki kesamaan dengan umat manusia pada umumnya, dengan sesama jenisnya, dengan bangsanya, dengan kelasnya, dengan rekan2 seprofesinya – setiap karya sastra memiliki sifat2 yang sama dengan karya seni lainnya, tetapi juga memiliki ciri2 khas.

  1. SASTRA & STUDI SASTRA
           
       
     
 

Teori Sastra berada dalam wilayah ilmu, tetapi yang menjadi objek dari Teori Sastra adalah sastra sebagai seni.

2. Sifat-sifat Sastra Menurut Wellek

    1. Tertulis atau tercetak.

Salah satu batasan sastra, segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Oleh karena itu wilayah studi sastra segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah kebudayaan. Bahkan menurut teori Greenland, studi sastra identik dengan sejarah kebudayaan.

Etimologi Sastra (Sastra dan ilmu Sastra, 1984. Teeuw, a, hlm. 22-24).

BARAT

H     u     r     u     f   –   l  e  t  e  r 
YUNANI LATIN PERANCIS INGGRIS JERMAN
gramma littera lettre letter  
 SASTRA –  LITERATURE
Grammatika Litteratura Litterature Literature Literatur
T     u    l   i    s    a      n

TIMUR

SASTRA
SANSKERTA INDONESIA JAWA (Kuno?)
Sas-: mengarahkan, mengajar, mberi petunjuk; tra: alat untuk … Sastra: alat untuk mengajar; buku petunjuk.

Kamasastra (buku petunjuk tentang seni cinta), silpasastra (buku arsistektur).

Sastra: tulisan Sastra: tulisan
    1. Mahakarya
BARAT TIMUR
MAHAKARYA/MASTERPIECE: KARYA AGUNG > SASTRA  YANG BAIK
Perancis Inggris Belanda Jawa (Kuno?)  
belles-lettres:sastra yang baik belles-lettres:sastra yang baik Bellettrie:sastra yang baik Susastra: sastra yang baik  

Kriteria: segi estetis (indah)  &  nilai ilmiah (berbobot). Buku ilmiah Inggris yang dianggap layak: karya Thomas Huxley yang bersifat populer.

    1. Karya Imajinatif, fiksi

Fiksi –

Imaginatif –

Apakah tokoh-tokoh yang kita jumpai di dalam sastra itu ada benar-benar? Sinchan, Manusia Kelelawar, Laba-laba, Doraemon, Harry Porter, Timun Emas, …..

Keunggulan akal budi manusia, bisa menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Bisa berimajinasi. Manusia mempunyai wilayah & perangkat CIPTA, RASA, KARSA;  PIKIRAN, PERASAAN, KEHENDAK.

Wilayah CIPTA adalah wilayah kreativitas. Wilayah berpikir. Wilayah penjelajahan dan penajaman. Wilayah RASA, adalah wilayah afeksi & keseimbangan: kesantunan, bela-rasa, harmonisasi, .

d. Penggunaan bahasa yang khas

Perlu dibedakan bahasa sastra, bahasa sehari-hari, bahasa ilmiah

  BAHASA ILMIAH BAHASA SASTRA
  Pikiran Perasaan
  Denotatif Konotatif, asosiatif
  Simbol logika Ambigu, homonim
  Lugas Ekspresif – sikap pembicara > pmbca

 

  BAHASA SEHARI-HARI BAHASA SASTRA
  Tidak Seragam: percakapan, perdagangan, keagamaan, bhs resmi, slank Lebih sistematis; ada kesatuan, kesengajaan
                                    Fungsi Ekspresif
                                Penuh konsep irasional                            Bertujuan mencapai sesuatu

Mempengaruhi sikap & tindakan

                            Perbedaan Pragmatik
  Pengaruhi secara langsung Pengaruhi secara substil
  Dalam dunia nyata Di luar dunia nyata
                               Aspek Referensial
  Dunia realita Dunia imaginatif

APA YANG DIMAKSUD DENGAN SASTRA TERLIBAT?

SASTRA MENURUT SARTRE

Seni lukis, seni pahat maupun musik tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Memang, jenis-jenis seni dalam suatu periode saling mempengaruhi satu sama lain dan dikondisikan oleh factor-faktor sosial yang sama. Ada yang menganggap bahwa ada kesejajaran di dalam macam-macam seni tsb.

Menurut Sartre, tidak ada paralelisme di dalam seni-seni itu. Bentuk dan bahannya (isinya) berbeda. Seni lukis dan seni musik di satu pihak, dan seni sastra di pihak lain. Nada, warna dan bentuk bukanlah suatu tanda. Hal-hal tersebut di atas tidak mengacu di luar mereka sendiri. Dalam lukisan, warna merah, hijau adalah hal/benda.

Mungkin seseorang memberi nilai tanda kepada benda-benda itu. Misalnya kita bicara mengenai bahasa bunga. Berdasarkan persetujuan, mawar putih bisa melambangkan ‘kesetiaan’. Namun begitu kita melihat mawar putih sebagai lambang kesetiaan, kita berhenti melihatnya sebagai bunga mawar. Perhatian kita sudah menerobos jauh di luar bunga mawar. Bagi seniman, warna dan buket bunga adalah sesuatu benda.

Pelukis tidak ingin melukis tanda di kanvas. Ia menciptakan sesuatu. Meskipun pelukis dalam menggunakan kombinasi warna-warna mungkin didasari alasan tertentu (mungkin tersembunyi), namun dia tidak pernah mengekspresikan kemarahannya lewat lukisannya. Tintoretto (pelukis) tidak memilih langit kuning di atas Golgotha untuk menandakan penderitaan maupun memprovokasikan-nya. Adalah derita dan langit kuning sekaligus yang hendak dinyatakan. Bukannya langit dari kemurungan maupun langit yang murung; di sini kemurungan menjadi benda (fisik), dan murung telah berubah menjadi langit kuning. Apabila pelukis menggambar sebuah rumah, ia mencipta sebuah rumah imaginer di kanvas; bukan tanda dari sebuah rumah.

Dalam sastra, penulis bukan hanya ingin menulis dengan gaya yang indah saja (l’art pour l’art); atau hanya sekedar ingin mengungkapkan isi hati (ekspresif); maupun tidak hendak mengambil model alam, maupun mencipta suatu dunia sendiri yang otonom (memetik, realisme, obyektif). Ia  harus dilandasi keinginan mengirim pesan kepada pembaca. Seni prosa digunakan di dalam wacana. Substansinya bersifat signifikatif: kata-kata bukan obyek-obyek tetapi tanda dari obyek. Penulis prosa pada pokoknya membuat kata-kata menjadi berguna.

Penulis berurusan dengan makna. Prosa pada pokoknya utiliter/bermanfaat. Penulis prosa adalah manusia yang membuat kata-kata menjadi berguna. Penulis adalah pembicara; ia menandakan, mendemonstrasikan, memerintah, menolak, memohon, memarahi, melakukan persuasi, menyindir, dsb. Apabila ia melakukan demikian tanpa efek apapun, ia bukan penyair; penulis yang tidak berbicara apa-apa.

Ketika orang dalam bahaya maupun dalam kesulitan, ia menggapai instrumen: pukul maupun tongkat. Ketika bahaya berlalu, ia bahkan tidak ingat apakah yang dibawanya itu tongkat atau pukul. Yang penting, instrumen merupakan perpanjangan dari tubuhnya. Ia adalah jari keenam, kaki ketiga. Demikian pula, bahasa adalah rumah kerang dan antena kita. Ia melindungi kita dan menginformasikan kita mengenai sekeliling kita. Ia merupakan perpanjangan dari indera kita; mata ketiga yang bisa melihat hati orang lain. Kita berada dalam bahasa seperti berada dalam tubuh. Kita merasakannya secara spontan. Apabila prosa tidak mempunyai  efek bagi orang lain, kita mempunyai hak untuk bertanya kepada penulis, ‘Apakah tujuan anda menulis? Apa yang anda lakukan untuk melibatkan diri? Apakah anda memiliki sesuatu untuk dikomunikasikan?’

Apabila anda mengatakan perilaku seseorang, anda menyingkapnya kepadanya; ia melihat diri sendiri. Ia menerima dimensi baru. Dengan berbicara, saya menyingkap keadaan dengan maksud untuk merubahnya. Saya menyingkapnya pada diri sendiri dan kepada orang lain untuk merubahnya.

Oleh karenanya kita bisa bertanya kepada penulis, ‘Aspek mana dari dunia yang hendak anda singkap? Perubahan apa yang hendak anda bawakan kepada dunia dengan penyingkapan ini?’ Bagi penulis yang terlibat, kata-kata adalah aksi. Menyingkap sama dengan merubah. Manusia adalah makluk terhadapnya makluk lain tidak bisa tidak terlibat. Bahkan juga Tuhan tidak. Karena Tuhan, apabila Ia ada, seperti telah dilihat kaum mistikus, akan berguna dalam hubungannya dengan manusia. Tuhan adalah juga keberadaan yang tidak bisa melihat suatu situasi tanpa merubahnya.

Kegunaan penulis adalah bertindak sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun bisa tidak peduli akan dunia dan tak seorang pun bisa berkata bahwa ia inosen terhadap apa pun juga. Oleh karenanya, penulis harus berbicara mengenai sesuatu. Ia harus bermaksud mengirimkan pesan-pesan kepada pembaca. Penulis harus bertanggung jawab sepenuhnya dalam karyanya.

Penulis menyingkap dunia, terutama orang-orangnya, kepada orang lain (pembaca).  Penulis prosa adalah orang yang memilih metode tertentu untuk tindakan penyingkapan. Ia tidak bisa lagi tidak memihak. Ia mau tidak mau harus memihak pada masyarakat dan kondisi manusia di sekitarnya. Di dalam karyanya  penulis harus mengajak pembaca untuk terlibat/melibatkan diri sendiri secara penuh kepada dunia, lingkungannya.

Inilah tema sentral dari buku What is Literature? Penulis hendaknya mengajukan dalam setiap karyanya, suatu kebebasan konkret atas dasar situasi yang spesifik. Sastra, menurut dia, bisa merupakan sarana yang baik untuk membebaskan pembaca dari alienasi/keterasingan yang berkembang di dalam situasi tertentu. Lewat proses sastra penulis juga membebaskan dirinya sendiri dan mengatasi keterasingannya sendiri. Ia memperlihatkan bahwa sastra terasing ketika sastra melupakan dan tidak peduli akan  otonominya dan  tempatnya sendiri. Tugas penulislah menjauhkan manusia dari ketidakberdayaan, ketidaktahuan, prasangka dan emosi yang salah.

Kesimpulan: Konsep  Sartre mengenai kebebasan ini secara logis menuntut perlunya komitmen penulis. Maka sastra yang baik adalah apa yang disebut ‘sastra terlibat’, litterature engagee. Sartre menyatakan bahwa penulis tak bisa tidak harus terlibat. Tidak bisa tidak, ia terlibat dalam jamannya sendiri. Sastra harus membantu pembaca untuk menjadi manusia yang penuh dan bebas di dalam dan melalui sejarah. Sastra seharusnya tidak bersifat membius melainkan harus membangkitkan manusia mengubah dunia dan dengan demikian mengubah diri sendiri.  Ia menyebut sastra sebagai bentuk aksi penyingkapan. Sastra harus bersifat praksis: mengubah dan membebaskan pembaca, dunia, diri sendiri. Buku-buku bukannya kuburan sastra; Buku sastra tidak hanya untuk ditulis saja, melainkan terutama untuk dibaca. Pena harus bisa berfungsi sebagai pedang. Alat penulis mempengaruhi pembaca dan dunia.

 

 

RAGAM BAHASA SASTRA

 

Penggunaan bahasa yang khas menurut Wellek: bahasa sastra, bahasa sehari-hari, bahasa ilmiah

  BAHASA ILMIAH BAHASA SASTRA
  Pikiran Perasaan
  Denotatif Konotatif, asosiatif
  Simbol logika Ambigu, homonim
  Lugas Ekspresif – sikap pembicara > pmbca

 

  BAHASA SEHARI-HARI BAHASA SASTRA
  Tidak Seragam: percakapan, perdagangan, keagamaan, bhs resmi, slank Lebih sistematis; ada kesatuan, kesengajaan
                                    Fungsi Ekspresif
                                Penuh konsep irasional                            Bertujuan mencapai sesuatu

Mempengaruhi sikap & tindakan

                            Perbedaan Pragmatik
  Pengaruhi secara langsung Pengaruhi secara substil
  Dalam dunia nyata Di luar dunia nyata
                               Aspek Referensial
  Dunia realita Dunia imaginatif

RAGAM BAHASA MENURUT SLAMET SOEWANDI

  RAGAM ILMU RAGAM SASTRA RAGAM JURNALISTIK
  Mengungkapkan hal-hal yang bersifat ilmiah: pengutaraan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Oleh karena itu sifat umum dari ragam ini adalah pemakaian unsur-unsur bahasa selengkap dan sebaku mungkin Mengungkapkan kehidupan manusia secara utuh: harapan, kerinduan, keinginan, kegembiraan, kebencian, kegalauan, pikiran, angan-angan, cita-cita, dan “realistis”, dengan carayang  estetis: menyentuh manusia. Mengungkapkan hal-hal yang dialami, diketahui dan dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat. Hal2 itu berupa fakta (berita), opini, pemberitahuan, dsb. Sifat umum dari ragam ini adalah penggunaan unsur-unsur bahasa seefektif-efektifnya mengingat keterbatasan ruang dan waktu.

 

RAGAM BAHASA MENURUT WIDHARYANTO

  BAHASA AKADEMIK Dalam lingkungan akademisi, “manusia kampus perguruan tinggi”, untuk menimba ilmu, mengembangkan ilmu serta memanfaatkannya.Ungkapan, cara penuturan yang tepat dan seksama, lugas, objektif, rasional dalam mengungkapkan kebenaran, memiliki daya abstraksi untuk konsep-konsep dan teori.
  BAHASA BISNIS Oleh para usahawan untuk meyakinkan orang lain, konsumen, agar mereka tersugesti dan tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu, misalnya membeli produk yang ditawarkannya (bahasa hiperbola)
  BAHASA SASTRA Menonjol dalam daya kejut, daya imajinasi pengarangnya. Lebih bersifat emosional, mengandung ambiguitas, simbolisme bunyi, efek estetis, bersifat konotatif.
  BAHASA FILSAFAT Medium penyampai hasil renungan kontemplatif yang sulit dipahami oleh orang awam karena sifat abstraksinya sangat tinggi, bahkan melebihi abstraksi bahasa akademik
  BAHASA BERITA Oleh para jurnalis untuk menyajikan informasi  faktual  harus bersifat aktual/hangat, dekat (proximity) dengan persoalan pembaca, penting, memiliki nilai dalam masyarakat. Bahasa berita sederhana, mudah dipahami, singkat, padat, tak bertele-tele, dan komunikatif.

 

Oleh Wellek, sastra dikatakan bersifat tertulis (menggunakan bahasa: tulis, lisan), mahakarya, imaginative atau konotatif, menggunakan bahasa yang khas.

Bahasa Sastra dibanding dengan bahasa ilmiah, bahasa sehari-hari, dan bahasa jurnalistik, memiliki kekhususan, yaitu afektif- emosional (menonjolkan unsur perasaan), estetis, ambigu, konotatif, simbolis, dan memiliki daya kejut. Bahasa sastra dikatakan sebagai bahasa bergaya.

Sastra sebagai seni memiliki sifat-sifat yang kreatif. Kreatif artinya mampu menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum ada menjadi ada. Orang yang kreatif harus selalu tidak puas dengan yang ada. Selalu mencari yang baru. Mencari sesuatu yang  lain daripada yang sudah ada. Dia harus berani lain daripada yang lain. Kalau perlu Menyimpang dari yang sudah ada. Yang penting bagaimana dia bisa menciptakan suatu  keindahan.

Puisinya Moh. Yamin merupakan contoh sebagai ekspresi perasaan kagum terhadap tanah air Indonesia. Di samping itu pada jamannya puisi Moh. Yamin ini merupakan sesuatu yang baru dibanding puisi umumnya (pantun, syair, gurindam, seloka, dsb)

Indonesia, Tumpah Darahku

(seorang mahasiswa/i diminta mendeklamasikan dan membayangkan dia duduk di pantai)

Duduk di pantai tanah yang permai

Tempat gelombang pecah berderai

Berbuih putih di pasir terderai

Tampaklah pulau di lautan hijau

Gunung-gemunung bagus rupanya

Dilingkari air mulia tampaknya

Tumpah darahku Indonesia namanya

 

Lihatlah kelapa melambai-lambai

Berdesir bunyinya sesayup sampai

Tumbuh di pantai bercerai-berai

Memagar daratan aman kelihatan

Dengarlah ombak datang berlagu

Mengejari bumi ayah dan ibu

Indonesia namanya, tanah airku

 

Bahasa Sastra juga merupakan bahasa bergaya, yaitu bahasa dengan maksud untuk menarik perhatian pembaca. Untuk menarik perhatian, bahasa sastra harus memiliki sesuatu yang menonjol. Usaha untuk menarik perhatian sering berupa sesuatu yang baru, menyimpang, lain daripada yang lain. Contoh puisi Chairil,

 

ISA

 

Itu Tubuh

mengucur darah

mengucur darah

 

rubuh

patah

 

mendampar Tanya:  aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah

Aku berkaca dalam darah

Sutardji C. Bachri,

 

Tragedi Winka dan Sihka

Kawin

kawin

kawin

kawin

kawin

ka

win

ka

win

ka

win

ka

winka

winka

winka

sihka

sihka

sihka

 

Rendra

UNDANGAN

Dengan segala hormat

Kami harapkan kedatangan tuan nyonya dan nona

untuk menghadiri kami dikawinkan ….

 

Bahan roti dalam adonan

Tepung dan ragi disatukan

Pohonan bertunas dan berbuah

Benih tersebar dan berkembang biak

Di seluruh muka bumi.

 

Tempat:

Di gereja St. Yosef, Bintaran, Yogyakarta ….

 

Rumah Tuhan yang tua

Pangkuan yang aman Bapa Tercinta.

Segala kejadian

Mesti bermula di suatu tempat

Pohon yang kuat

Berakar di bumi keramat.

 

Waktu:

Selasa, tempat 31 Maret 1959

Jam 10 pagi, waktu di Jawa …..

 

Hari baru terbuka

Menyambung lingkaran waktu

Berputar tak bermula

Sejak cahaya yang pertama

……….

 

Dengan segala hormat

Kamu ucapkan terimakasih

Sebelum dan sesudahnya

Bahasa Sastra adalah Bahasa Bergaya. Ciri bahasa sastra dapat dilihat dari gaya bahasanya, yaitu penggunaan bahasa secara khusus yang menimbulkan efek tertentu, efek estetis. Menurut Slametmuljana (dan Simorangkir Simanjuntak, Tanpa tahun: 20) gaya bahasa (ekspresif) yaitu susunan perkataan yang terjadi karena perasaan2 dalam hati pengarang yang menimbulkan perasaan tertentu dalam hati pembaca. Menurut Gorys Keraf (1984: 113) bahwa gaya bahasa itu cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Menurut Kridalaksana (1983: 49-50) bahwa gaya bahasa adalah pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, untuk memperolah efek2 tertentu.

Gaya bahasa juga digunakan dalam bahasa sehari-hari maupun bahasa ilmiah, tetapi gaya itu tidak disengaja untuk mendapatkan nilai estetis, di samping biasanya bersifat klise (kebiasaan) saja. Dalam bahasa sastra, gaya bahasa dieksploitasi secara sengaja dan sistematis, untuk mendapatkan efek estetis.

Bahasa sastra menekankan kreaitivitas dan keaslian. Itulah sebabnya pengarang selalu berusaha membentuk gaya bahasa asli dan baru.

Pada umumnya gaya bahasa merupakan defamiliarisasi atau diotomatisasi, yaitu penyimpangan dari bahasa normatif (menurut Skhlovsky dalam Hawkes, 1978: 62). Menurut Jakobson (1978:363), gaya bahasa merupakan harapan yang dikecewakan (frustrated expectation).

Contoh lain dari Iwan Simatupang (Ziarah) dan Danarto (Rintrik).

Diksi Danarto

 

“Dataran tandus dataran batu, tumbuh lurus tak kenal waktu.” (Armagedddon)

“Gagak-gagak hitam bertebahan dari angkasa, sebagai gumpalan-gumpalan batu yang dilemparkan, kemudian mereka berpusar-pusar, …”

“Matahari makin condong, bagai gumpalan emas raksasa yang bagus, membara menggantung di awang-awang…”

“Hujan deras membasahi angin dan angin menerbangkan hujan bagai anak panah salju dan hujan dan angin itu dibelah-belah petir dan ekor-ekor petir jadi melempem oleh suasana dingin yang beku bagai kerupuk dalam lemari es. “ (dari cerpen yang berjudul gambar hati tertusuk anak panah, dengan tokoh Rintrik).

Diksi Iwan Simatupang

“Juga pagi itu dia bangun dengan rasa hari itu dia bakal bertemu isterinya di salah satu tikungan, entah tikungan mana. Sedang isterinya telah mati entah berapa lama.”

“Geledek seolah menggegar dalam tubuh opseter kita. “

“Kemelut dalam dirinya memuncak. Nuraninya berbenturan dengan kesediaan dan kebukaan hati kawan barunya ….”

“…Tiap langkahnya adalah dia yang ziarah pada kemanusiaan.

Pada dirinya sendiri.”

 

Sastra Sebagai Seni

Sastra merupakan sebuah seni. Seni mau tak mau berkaitan dengan keindahan. Oleh karena itu dalam berbicara mengenai seni sastra kita harus juga berbicara mengenai keindahan. Perihal keindahan dibicarakan di dalam ilmu yang namanya estetika. Maka mengenai keindahan itu kita ambil batasan keindahan dari ilmu estetika.

Keindahan dalam kehidupan sehari-hari: rumah, kamar, pakaian (mode), kendaraan (motor, mobil, pesawat), rumah ibadat (candi, klenteng, gereja, mesjid), menu makanan, dll. Mengapa? Membuat hidup ini lebih menyenangkan, menyegarkan. Tidak menjenuhkan.

 

APA ITU SENI?

Diskusi tentang pengalaman akan keindahan

  1. Dalam kesempatan apa saja, kapan, di mana keindahan digunakan oleh manusia (Keindahan dalam kehidupan sehari-hari: rumah, kamar, pakaian (mode), kendaraan (motor, mobil, pesawat), rumah ibadat (candi, klenteng, gereja, mesjid), menu makanan, dll.
  2. Kapan aku mengalami keindahan? (melihat keindahan alam: di gunung, pantai, lukisan, saat liburan, saat mendengarkan koor di gereja, nonton film, konser, drama, membaca karya sastra).
  3. Apa yang aku alami/rasakan ketika berhadapan dengan keindahan. Lalu apa yang aku lakukan ketika aku mengalami keindahan? (Senang, kagum, bahagia, merasakan kepuasan batin, memaknai semua yang kulihat, kusentuh, kudengar, tidak hanya lewat pikiran, tetapi lewat hati, bersyukur, diam)
  4. Pernahkah aku tersentuh oleh sebuah karya sastra? Jawablah secara konkret pengalamanku menikmati s karya sastra (membaca novel yang bagus, pementasan drama, sendratari, film, puisi, musikalisasi puisi, dsb).
  5. e.           Menurut Saudara, apa itu seni? (Mencari di perpustakaan: kamus, ensiklopedi, buku).

Apa itu  seni? Apa itu keindahan? Apa bedanya antara seni dan keindahan?

SENI,  menurut kamus Webster, th.

  1. Disposisi (pengaturan) maupun modifikasi sesuatu berkat ketrampilan manusia, sesuai dengan yang dimaksud. Dalam arti ini, seni dipertentangkan dengan alam.
  2. Karya kreatif yang memiliki bentuk & keindahan: seni lukis, patung, arsitektur, musik, sastra, drama, tari, dsb. Istilah fine art biasanya digunakan secara terbatas: seni grafis, gambar, lukis, patung, keramik, dan arsitektur.
  3. Istilah seni digunakan dalam cabang ttt seperti sastra, musik. Dalam arti ini, seni  (art) dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan (science).

 

RANGKUMAN:

Seni: Karya Kreatif Yang Dihasilkan Oleh Bakat & Ketrampilan Manusia, Yang Memiliki Bentuk & Keindahan: Seni Lukis, Patung, arsitektur, musik, sastra, drama, tari, dsb.

 

Apa itu keindahan? Menurut Internet,

  1. Suatu anugerah khusus, sifat, perhiasan maupun sesuatu yang luar biasa; sesuatu yang indah, misalnya alam yang indah.
  2. Bakat khusus maupun kepemilikan khusus yang menyenangkan mata, telinga, intelek, fakultas estetis , maupun indera (sense) moral.
  3. Orang tampan, misalnya wanita cantik.

Kamus

  1. Suatu kualitas yang memberi kesenangan pada indera.
  2. Wanita yang tampak sangat menawan dan menggoda.

 

Kesimpulan

Keindahan: anugerah maupun sifat khusus yang luar biasa, yang memberi kesenangan pada indera, intelek  & batin manusia.

 

Keindahan indera meliputi aspek yang berkaitan dengan penglihatan (alam, lukisan, manusia; warna, bentuk bundar, lonjong), pendengaran (alam, musik), perabaan (halus, lembut), pencecapan (enak, lezat), penciuman (wangi, harum, sedap).

Keindahan batin: cinta, baik, …

Beda Seni dan keindahan? Keindahan lebih dimiliki oleh alam? Bersifat alami, sedang seni sudah merupakan campur tangan dari kreativitas  & rekayasa manusia?

Batasan estetika cukup beraneka ragam. Hal-hal yang biasanya dibicarakan dalam estetika (hlm. 21).

1. Keindahan

2. Keindahan dalam alam dan seni

3. Keindahan khusus pada seni

4. Keindahan dan Seni

5. Seni (segi penciptaan dan kritik seni serta hubungan dan peranan seni)

6. Citarasa

7. Ukuran nilai baku

8. Keindahan dan kejelekan

9. Nilai non-moral (nilai estetis)

10. Benda estetis

11. Pengalaman estetis.

Jack Marritain

Proses penghayatan estetis bersumber pada persepsi alamiah-faktual lewat daya2 indera. Ketika kita di sore hari …. Atau di puncak gunung menyaksikan fajar menyibak di ufuk Timur. Dalam suasana hening, kita merasakan keindahan yang memukau.

Berhadapan dng keindahan:

    1. Terpesona; rasakan keindahan memukau; kenikmatan rohani; larut dalam kontemplasi; mengagumi keindahan alam; terbawa kekuatan alam. Hilang kesadaran.
    2. Merasa diri kecil, tersedot oleh kekuatan alam. Lenyap perbedaan antara Subjek dengan Objek. Lebur antara dunia besar (makro kosmos, alam) dengan dunia kecil (mikro kosmos, aku). Aku terangkat ke dalam  sesuatu yang agung.  Berbagai daya kekuatan dalam diriku melebur, menyatu sempurna sbg manusia.
    3. Orang tsb ingin sekali mengabadikan pengalaman tsb. Kemudian ia ingin mengungkapkan pengalaman yang mencengkam itu lewat kanvas, tarian, lagu, bahasa.  Lahirlah karya itu. Bila pengungkapan itu tercapai, hilanglah perasaan tercengkam/tertekan itu. Dia lega dan puas, berhasil membebaskan ketercekaman yang menindihnya. Maka lahirnya hasil sastra itu merupakan katharsis bagi pengarang.

Dalam pengalaman estetis, lenyaplah perbedaan antara subyek (aku yang mengamati alam) dan obyek (alam). Aku seolah meluluh dengan alam sekitar, aku merasa terangkat dalam sesuatu yang lebih besar dan agung daripada aku. Sekaligus lenyaplah (untuk sementara) perbedaan antara berbagai daya kekuatan dalam diriku sendiri, misalnya perbedaan antara jiwa dan tubuh, perbedaan antara akal budi, kemauan, emosi dan lain2. Tercapailah dalam diriku suatu keseimbangan, suatu peleburan dan keutuhan sempurna sebagai manusia.

Terjadi semacam interpenetrasi (saling menerobos) antara alam dan manusia. Kedua belah pihak saling meluluh tanpa kehilangan identitasnya masing2. Manusia yang merasakan getaran keindahan alam mengadakan semacam identifikasi spiritual dengan alam itu, bahkan alam memasuki kalbunya. Sebaliknya manusia memasuki alam (Maritain). Para ahli menganalisa pengalaman tentang keindahan timbul dari perjumpaan dengan alam.

PENGALAMAN ESTETIS (Barat)

Proses penghayatan pengarang berpangkal dari pengalaman yang bersumber pada persepsi alamiah-faktual lewat daya2 indera. Ketika kita di sore hari entah di sebuah desa maupun di pantai, menghadap ke barat, kita terpesona oleh keindahan bola mentari yang mau tenggelam. Atau di puncak gunung menyaksikan fajar menyibak di ufuk Timur. Dalam suasana hening, kita merasakan keindahan yang memukau. Dalam sekejap kita akan merasakan kenikmatan rohani. Kita akan larut dalam kontemplasi sejenak, mengagumi keindahan alam. Terdiam.  Orang merasa terbawa oleh kekuatan alam. Orang merasa lebur dalam alam. Merasa diri kecil. Kesadaran seolah terhisap oleh sebuah kekuatan.

Keadaan tsb berlangsung dalam sesaat. Beberapa detik, atau menit. Orang tsb ingin sekali mengabadikan pengalaman tsb. Kemudian ia ingin mengungkapkan pengalaman yang mencengkam itu lewat kanvas, tarian, lagu, bahasa.  Lahirlah karya itu. Bila pengungkapan itu tercapai, hilanglah perasaan tercengkam/tertekan itu. Dia lega dan puas, berhasil membebaskan ketercekaman yang menindihnya. Maka lahirnya hasil sastra itu merupakan katarsis bagi pengarang. Itulah proses penciptaan karya sastra: penghayatan poetik. (Bandingkan dengan “pengalaman estetik” dari Dick Hartoko).

Lenyaplah perbedaan antara subyek (aku yang mengamati alam) dan obyek (alam). Aku seolah meluluh dengan alam sekitar, aku merasa terangkat dalam sesuatu yang lebih besar dan agung daripada aku.

Sekaligus lenyaplah (untuk sementara) perbedaan antara berbagai daya kekuatan dalam diriku sendiri, seperti misalnya perbedaan antara jiwa dan tubuh, perbedaan antara akal budi, kemauan, emosi dan lain2. Tercapailah dalam diriku suatu keseimbangan, suatu peleburan dan keutuhan sempurna sebagai manusia. Terjadi semacam interpenetrasi (saling menerobos) antara alam dan manusia. Kedua belah pihak saling meluluh tanpa kehilangan identitasnya masing2. Manusia yang merasakan getaran keindahan alam mengadakan semacam identifikasi spiritual dengan alam itu, bahkan alam memasuki kalbunya. Sebaliknya manusia memasuki alam (Maritain).

Para ahli menganalisa pengalaman tentang keindahan timbul dari perjumpaan dengan alam.

Monroe C. Beardsley mengungkapkan bahwa pengalaman estetis menentramkan dan menggembirakan manusia.

Plotinos mendekatkan pengalaman estetis dengan pengalaman religius, bahkan puncak perkembangan estetis itu sendiri adalah pengalaman religius yang disebut pengalaman mistik.

Cuplikan sepenggal kisah Affandi melukis di pantai Bali untuk beri contoh inspirasi seni dan pengalaman estetis; atau hubungan antara alam dengan seni.

 

Edgard Allan  Poe mengatakan, sastra berfungsi sekaligus mengajarkan sesuatu. Horatius menyatakan bahwa puisi itu indah dan berguna, dulce et utile. Seni yang mampu mengartikulasikan perenungan itu memberikan rasa senang. Pengalaman mengikuti artikulasi itu memberikan rasa lega. Kedua segi itu bukan hanya harus ada, melainkan harus saling mengisi. Kesenangan yang diperoleh dari seni bukan hanya kesenangan fisik, melainkan kesenangan yang lebih tinggi, yaitu kontemplasi yang tidak mencari keuntungan. Akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk membuktikan bahwa manfaat sastra terletak pada segi pengetahuan yang disampaikannya. Sekarang hendak dibuktikan bahwa sastra memberikan pengetahuan dan filsafat. Salah satu nilai kognitif drama dan novel adalah segi psikologisnya. “Novelist dapat mengajarkan lebih banyak tentang sifat-sifat manusia daripada psikolog. Karen Horney menunjuk Dostoyevsk, Shakespeare, Ibsen, dan Balzac sebagai sumber studi psikologi. E.M. Forster dalam Aspect of the novel mengatakan, novel sangat berjasa mengungkapkan kehidupan batin tokoh-tokohnya. Novel-novel besar barangkali bisa menjadi buku sumber bagi para psikolog (Oediphus complex).

Fungsi sastra, menurut sejumlah teoritikus, adalah untuk membebaskan pembaca maupun penulisnya dari tekanan emosi. Mengekspresikan emosi berarti melepaskan diri dari emosi itu. Goethe konon terbebas dari Weltschmerz dengan menciptakan karyanya, The Sorrows  of Werther. Seorang pembaca novel maupun penonton drama-tragedi juga mengalami perasaan lega. Apakah sejumlah karya sastra membangkitkan emosi?

SENI (Ernst Cassirer)

Bahasa dan seni terus menerus bergerak di antara 2 kutub yang bertentangan, yaitu kutub objektif dan kutub subjektif. Fungsi utama keduanya adalah fungsi mimetis. Bahasa dikatakan imitasi bunyi-bunyi, sedang seni adalah imitasi benda-benda lahiriah. Imitasi merupakan naluri fundamental. Kata Aristoteles, “Imitasi merupakan hal yang wajar bagi manusia sejak kanak-kanak. Manusia ialah binatang paling suka meniru dibanding binatang lain. Manusia belajar lewat cara meniru.”

Musik pun merupakan gambaran dari benda-benda. Permainan seruling, tari-tarian tak lain adalah peniruan. Pemain seruling dan penari, melalui irama-irama, lagu, gerak menirukan apa yang dilakukan dan dialami manusia. Tindakan dan watak manusia.   Horatius mengatakan, “Ut pictura poesis” (puisi bagaikan lukisan). Simonides berkata, “lukisan adalah puisi diam, dan puisi adalah lukisan  kata-kata. Puisi dan lukisan berbeda hanya dalam cara dan sarananya, bukan karena fungsi utamanya.

Namun teori-teori imitasi tidak membatasi karya seni hanya pada reproduksi realitas secara mekanis saja. Terbuka bagi kreativitas dan spontanitas  seniman. Aristoteles mengatakan, bahwa kemustahilan yang menyakinkan lebih disukai daripada ketidakmustahilan yang tidak menyakinkan.

Para Neoklasik pada abad XVI hingga Abbe Batteux berpendapat, bahwa seni tidak mereproduksi alam secara umum tanpa pilih-pilih, melainkan hanya alam yang molek saja (la belle nature).

Teori imitasi ini bisa bertahan hingga paruh pertama abad XVI. Rousseau menolak teori klasik maupun neoklasik. Menurutnya, seni bukanlah deskripsi maupun reproduksi dunia empiris, melainkan luapan emosi perasaan  (Nouvelle Heloise). Di Jerman, paham Rousseau ini diikuti oleh Herder dan Goethe. Sejak itu teori keindahan memperoleh bentuk baru. Menurut Goethe, seni kreatif lahir, karena manusia tergoda untuk memperindah dunia sekitar. Maka seni karakteristik (unik, individual, “muncul dari dalam”, orisinal, mandiri) merupakan seni sejati.

Seni karakteristik atau seni ekspresif merupakan “luapan spontan daya-daya perasaan”.  Seni bersifat reproduktif, meskipun bukan reproduksi benda-benda atau objek fisik, melainkan reproduksi hidup batiniah, afeksi-afeksi dan emosi-emosi.

 

Art Meaning and Definition – internet

  1. Kemahiran; ketrampilan; keahlian
  2. Penerapan ketrampilan menghasilkan sesuatu yang indah dengan tiruan maupun rancangan, misalnya  seperti lukisan, pahatan.
  3. Hasil dari kreativitas manusia; karya seni secara kolektif.
  4. Kreasi dari hal-hal yang penting dan indah.
  5. Ketrampilan khusus yang bisa dipelajari dengan studi dan latihan maupun pengamatan.

 

 

KEDUDUKAN SENI (Rendra)

Manusia terdiri dari unsur Rohani dan Jasmani. Manusia mempunyai kebutuhan yang sifatnya jasmani dan rohani. Pertanian, perdagangan, keamanan, teknologi, kesehatan dan industri adalah bidang yang berkaitan dengan jasmani. Percintaan, persahabatan, penghayatan agama/iman, ibadah, kesenian adalah bidang rohani. Pendidikan sebagian bersifat jasmani, yaitu pengajarannya, sedang penanaman nilai bersifat rohani. Bidang2 jasmani memerlukan efisiensi. Di dalam hidup ada hal2 yang tidak praktis dan tidak efisien, tetapi sangat diperlukan, misalnya bercinta, berrumah tangga, bersahabat, upacara keagamaan, ibadah, dsb.

Aneh menuntut percintaan dengan kekasih atau bercengkarama dengan putra-putri secara praktis dan efisien. Demikian pula dalam persahabatan, peribadatan, doa, dsb.

Unsur Rohani dan Jasmani sama pentingnya. Tanpa roh, manusia menjadi robot, tanpa jasmani manusia menjadi hantu. Kesenian adalah urusan roh. Keduanya tidak praktis dan tidak efisien. Manusia tidak akan mati tanpa seni, dan kesehatannya baik2 saja. Tetapi tanpa seni dan sastra, masyarakat akan miskin rohaninya. Dalam kehidupan suatu bangsa, prestise yang dihasilkan oleh penyair dan sastrawan sering lebih panjang umurnya dibandingkan prestise sosial, politik, dan ekonomi. Kekayaan sosial, politik, ekonomi Yunani purba, Prusia, Singasari dan Majapahit sudah lama dilupakan orang, tetapi kejayaan seni, filsafat dan sastra masih bisa dirasakan sampai detik ini: Plato, Sophocles, Heinrich Heine, Empu Sedah, dan Empu Prapanca, Shakespeare, Ronggowarsito, Raden Saleh.

Dalam masyarakat primitif, menurut Eliade, mitos2 tidak hanya penting, melainkan sangat menentukan manusia purba. Demikian pula puisi dan drama mendapat tempat istimewa. Puisi dan drama muncul sebagai keperluan upacara2 penting dalam hidup manusia, misalnya upacara kelahiran, turun-tanah, khitanan, tunangan, menikah, kematian, menanam, menuai, mendirikan rumah, masuk rumah, pindah rumah, dsb.

Para penyair dan dramawan sangat fungsional dalam masyarakat. Mereka punya kedudukan sebagai saman atau pawang. Demikian pula tukang cerita, tukang kentrung dalam masyarakat kita.

Dalam masyarakat sekarang, kebutuhan roh akan agama, kesenian dan filsafat disederhanakan menjadi kebutuhan akan hiburan. Dalam alam industri dan teknologi modern, kesenian beralih-fungsi menjadi hiburan untuk komersial: night club, bar, diskotik dan klub karaoke.

Apakah roh telah mati? Apakah roh bisa sirna hanya karena industri dan teknologi? Ternyata tidak! Agama tidak bisa dihilangkan dari satu bangsa, begitu pula kesenian dan filsafat. Selalu saja muncul seniman2 yang bertahan menderita dan kesepian, akhirnya menjelma menjadi raksasa tanpa mengkompromikan seninya menjadi hiburan. Kesenian yang unggul tetap muncul dan dihargai. Berapa banyak hadiah seni bergengsi diberikan kepada tokoh seni. Agama, filsafat berkembang di mana2. …

KEINDAHAN: PANDANGAN ROMANTIK

Menurut Ernest Cassirer, keindahan tak pernah selesai diperdebatkan. Penyair Romantik, John Keats (1750 – 1821), dalam Endymion (1817), mengatakan, A thing of beauty is a joy forever: Its loveliness increases; it will never pass into nothingness.

Sesuatu yang indah adalah kegembiraan, kesukaan, kebahagiaan selama-lamanya. Kemolekannya bertambah, dan tak pernah berlalu ke ketiadaan. Konsep keindahan baru dapat berkomunikasi dengan penciptanya sendiri setelah ada bentuk yang diberikan oleh imaginasi. Apa yang ditangkap oleh imaginasi sebagai keindahan adalah kebenaran.

Keats mengatakan, sesuatu yang indah memberi perasaan suka cita yang dalam, dan daya tariknya selalu bertambah. Dengan demikian, sesuatu yang indah adalah abadi. Karya Dante (126-1321), Beethoven (1770 – 1827), Michaelangelo (1745-1864), Basuki Abdullah, Affandi, yang tidak pernah dilupakan orang adalah indah, dan karena itu abadi. Dari jaman ke jaman orang selalu menikmatinya, dan setiapkali orang menikmatinya, daya tarik karya selalu bertambah. Lukisan “Monalisa” sampai sekarang menjadi legenda yang tak pernah padam. Bahkan sampai dilagukan.

Dalam sikap estetis, digunakan istilah-istilah detachment (tak terpengaruh), disinterested (tanpa pamrih), impartially (netral, tak memihak), aesthetic distance (Mudji Sutrisno, 1993: 16). Keindahan dalam arti terluas merupakan pengertian semula dari bangsa Yunani dulu yang di dalamnya tercakup pula ide kebaikan. Plato misalnya menyebut tentang watak yang indah dan hukum yang indah.

Menurut Plato, yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana. Kesederhanaan sebagai ciri khas dari keindahan, baik dalam alam maupun dalam karya seni. Di samping itu kepaduan juga merupakan ciri keindahan. Yang paling indah adalah idea. Karya seni bagi Plato merupakan tiruan dari tiruan, yang jauh dari kebenaran sejati.

Sedang Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang selain baik juga menyenangkan. Menurut Aristoteles, keindahan menyangkut keseimbangan dan keteraturan ukuran material. Katharsis adalah puncak dan tujuan karya seni drama dalam bentuk tragedi. Menurut Aristoteles, segala peristiwa, pertemuan, wawancara, permenungan, keberhasilan, kegagalan dan kekecewaan, harus disusun dan dipentaskan sedemikian rupa sehingga pada suatu saat secara serentak semuanya tampak “logis” tetapi juga seolah-olah “tak terduga”. Katharsis sebagai pembebasan batin dari segala pengalaman penderitaan. Memiliki makna terapeutis dari segi kejiwaan. Ada unsur perubahan sikap batin menuju ke kebaikan.

Plotinos menulis tentang ilmu yang indah dan kebajikan yang indah. Orang Yunani dulu berbicara pula mengenai buah pikiran yang indah dan adat kebiasaan yang indah (414). Menurut Plotinos, keindahan terbentuk apabila ada persatuan antara pelbagai bagian yang berbeda satu sama lain. Persatuan hanya bisa terjadi jika ada heteroginitas.

Dalam lingkungan Stoa, seni dikaitkan dengan keteraturan dan simetri, karena itu mendukung dan menimbulkan ketentraman jiwa. Tetapi bangsa Yunani juga mengenal pengertian keindahan dalam arti estetis yang disebutnya ‘symmetria’ untuk keindahan berdasarkan penglihatan (misalnya pada karya pahat dan arsitektur) dan ‘harmonia’ untuk keindahan pendengaran (musik).

Pengertian keindahan yang seluas-luasnya meliputi: keindahan alam, seni, moral dan intelektual (hlm. 35).

Kualitas yang paling sering disebut adalah unity (kesatuan), harmony (keselarasan), symmetry (kesetangkupan), balance (keseimbangan) dan contrast (pertentangan)  416.  Teori agung tentang keindahan menjelaskan bahwa: “keindahan terdiri dari perimbangan dari bagian2, lebih tepat perimbangan dan susunan dari bagian2, atau lebih tepat lagi terdiri dari ukuran, persamaan dan jumlah dari bagian2 serta hubungan2 satu sama lain (5. 22).

De Witt H. Parker menulis dalam bukunya The Analysis of Art mengenai ciri2 dari bentuk estetis. Buku yang lain, The Priciples of Aesthetics (1920) menyebut ciri2 umum dari bentuk estetika menjadi 6 asas, yaitu asas kesatuan utuh, asas tema, asas variasi menurut tema, asas keseimbangan, asas perkembangan, dan asas hierarki (5.32).

Monroe Beardsley dalam Aesthetics: problems in the Philosophy of Criticism) yang menjelaskan adanya 3 ciri keindahan, a. Kesatuan; b. Kompleksitas; c. intensitas (5.33).

Agustinus juga menghubungkan keindahan dengan keselarasan, keseimbangan, keteraturan. Bagi Thomas Aquinas, keindahan harus mencakup 3 kualitas: integritas, proporsi atau keselarasan yang benar dan kecemerlangan.

(EVALUASI TENGAH SEMESTER)

PROSA, DRAMA, dan PUISI

(Atmazaki, Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. 1990.Padang: Penerbit Angkasa Raya)

Prosa: merupakan narasi, terdiri dari rangkaian peristiwa. Setiap peristiwa ditandai oleh tindakan tokoh dalam kesatuan ruang dan waktu. Tindakan saja tanpa ruang dan waktu, sulit dipahami. Bukanlah suatu peristiwa. Sama saja dengan  monolog dan atau dialog. Apabila hanya ada ruang & waktu tanpa tindakan, hanya menjadi deskripsi, juga bukan peristiwa. Narasi itu diarahkan dalam tema tertentu. Jadi di dalam rangkaian peristiwa itu terdapat alur, yang digerakkan oleh tindakan tokoh, dalam kerangka latar, dan tema tertentu.

Sedang puisi lebih tersusun dengan menggunakan pola struktur baris dan bait, tipografik, daripada dalam struktur sintaksis kalimat. Juga, puisi lebih diwarnai oleh aspek irama, rima, citraan, diksi dan gaya bahasa. Puisi lebih berupa monolog. Bahasanya lebih cenderung padat dan lebih konotatif.

 

  PUISI   PROSA DRAMA
1 Monolog Campuran monolog & dialog Dialog
2 Pola larik yang membentuk bait Pola kalimat yang membentuk alinea Pola kalimat
3 Padat Cair Cair – Dramatik
4 Versifikasi: tipografi bunyi, ritme, diksi, gaya, citraan Diksi & gaya Retorik
5 Bersifat lirik, epik Bersifat naratif  (alur) Retorik-dramatik
6. Dibawakan, dideklamasikan Dibaca Dilakonkan

 

BAGAIMANA SASTRA MEMILIKI UNSUR PESONA (DULCE)?

CONTOH-CONTOH dari prosa, drama dan puisi.

1. PUISI

Sastra menarik antara lain karena dibuat dalam bentuk puisi, misalnya pantun, syair, seloka, parikan, wangsalan, gurindam, dsb. Puisi memiliki sarana-sarana estetis yang bisa menggugah pembaca, seperti diksi, gaya ekspresi seperti persajakan, aliterasi, asonansi, metafora, personifikasi, perlambangan, citraan, dst. Cara masyarakat lama dulu menanamkan nilai-nilai moral & masyarakat lewat pantun, syair, gurindam, parikan, wangsalan, dst. Mengapa puisi menarik? Masing-masing jenis puisi menggunakan bentuk-bentuk yang sudah tetap, yang mudah dihafal. Sedang puisi modern menarik karena singkat dan provokatif. Bahasanya “bergaya”. Ekspresif Puitis.. CONTOH-CONTOHNYA:

2. LAGU

Puisi akan menjadi lebih menarik lagi apabila dilagukan dalam bentuk nyanyian. Syair-syair lagu itu dihafal dan dikuasai banyak orang karena diberi lagu, sehingga banyak orang yang tertarik akan lagunya dan menyanyikannya. Banyak syair dihafal dan dimengerti isinya karena dilagukan, seperti misalnya lagu Melayu, khasidahan, pop, campursari, lagu kenangan, dangdut, tembang (Iwan Fals, Bimbo, Panbers, Kusplus, dsb).

3. CERITA SELALU MENARIK?

Cerita selalu menarik. Orang selalu ingin mendengar cerita, sesuatu yang baru. Orang selalu ingin tahu. Juga karena cerita memberi kemungkinan orang berimaginasi. Cerita membawa orang ke dunia tersendiri, yang lain dengan dunia nyata yang hanya terbatas pada peristiwa-peristiwa konkret yang terbatas pada waktu, tempat dan fisik. Dunia dongeng, cerita bisa menyajikan sesuatu yang tidak mungkin dialami oleh dunia sehari-hari; sesuatu yang ruarr biasa! Orang bebas berfantasi. Contoh: Harry Porter yang menghipnotis banyak orang.

Salah satu nafsu manusia yang berguna adalah rasa ingin tahu. Manusia berakal-budi. Pada dasarnya semua orang senang mendengar berita, sesuatu yang baru untuk menambah wawasan. Sesuatu yang baru selalu menarik. Kita lihat setiap pagi orang mencari koran, mendengarkan warta berita, berita dalam dunia, sekilas info, dst. Bagaimana kita sehari tanpa berita? Apabila tivi kita rusak, koran tidak terbit, kita sudah bingung. Pagi-pagi kita berebut koran. Ibu-ibu juga sibuk jual-beli berita. Ngrumpi, bikin gosip. Dalam tivi ada acara KIS, BETIS, BIBIR plus, KABAR-KABARI, INTIP, CEK & RICEK, NGOBRAS, KLISE, POSTER, … dll yang menjual berita mengenai para selibritis. Majalah, koran mendapatkan banyak untung karena gosip. Gosip bisa dibisniskan. Para selebritis, bintang film, artis, banyak dikejar-kejar wartawan. Berita-berita koran, majalah sengaja dibuat sensasional. Entah tentang politik, bintang film, dunia dhemit, dsb.

Cerita lain dengan berita. Berita menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi dan benar-benar terjadi, sedang cerita adalah sebuah rekaan mengenai peristiwa-peristiwa. Dalam cerita orang bisa merancang, merekayasa, mengurutkan, memilih peristiwa agar menarik orang lain. Dalam cerita, orang membuat dan menciptakan alur atau jalan cerita. Dalam fiksi cerita, diciptakan pelaku-pelaku dan tema-tema tertentu agar cerita itu bermakna. Sebab dalam cerita itu pencerita mempunyai maksud, yaitu agar pendengar tertarik, terharu, dan mengambil hikmah darinya. Pencerita mengirim pesan terselubung. Pencerita berharap agar pembaca bisa membaca dan memaknai pesan yang dikirimnya

Setiap orang ingin mendengar cerita. Tentang sesuatu yang belum pernah didengar. Sesuatu yang baru, yang memberi pelajaran hidup, menggugah hati, meneguhkan, memberi inspirasi,  mengejutkan, lain dari yang lain, sensasional. Cerita merupakan salah satu genre karya sastra. Dalam cerita orang mengungkapkan pengalaman hidupnya lewat bentuk narasi. Mengapa berita politik jaman Suharto menarik? Ingin sesuatu lain terjadi. Mengharapkan kejutan. Dasar Suharto begitu cerdik untuk memainkan politik. Suharto cerdik membuat ‘berita’, mengemudikan peristiwa politik. Mengapa berita politik pada jaman Gus Dur tidak menarik? Gus Dur lebih banyak ngomong daripada bertindak (membuat berita). Beritanya membuat orang bingung, tidak ada kemajuan, hanya begitu-begitu saja, bisa ditebak yang diomongkan: bicara tentang cara menggoyang dan mengganti presiden, Sidang Istimewa dari pihak anti-Gus Dur, dan tentang pembelaan dari pihak yang pro.

Sesuatu yang terbungkus, mengandung misteri, selalu menarik. Kado dalam bungkus, surat dalam amplop, menarik untuk dibuka. Wanita yang masih menyimpan misteri, menarik laki-laki. Setiap hari orang cari berita untuk ungkap misteri. Cerita yang mengandung misteri diburu orang. Cerita bisa menghibur orang (dongeng menjelang tidur). Menimbulkan keprihatinan. Cerita bisa memberi inspirasi. Memberi peneguhan dalam menjalani hidup ini (cerita tentang kebijaksanaan). Cerita bisa menyelamatkan, mendidik orang: Bayan budiman. Kadang-kadang orang mengalami kesepian. Orang butuh peneguhan. Cerita yang baik bisa menghibur, tetapi juga bisa memberi sesuatu yang bermanfaat, kebijaksanaan, pendidikan, penyadaran, dsb. Cerita yang menarik digunakan orang untuk membungkus sebuah pesan yang hendak disampaikan kepada pendengar/pembaca sebagai sarana pendidikan. Tidak hanya cerita yang terjadi sekarang saja yang menarik.

Cerita yang terjadi dahulu sering lebih menarik karena menceritakan tentang kejadian-kejadian yang telah lalu, yang ajaib dan mengandung misteri: cerita tentang terjadinya Gunung Tangkuban Perahu, Rawa Pening, Cerita Rara Jonggrang. Dari situ muncul cerita-cerita mitos, legenda, dsb. Juga tidak hanya cerita nyata saja yang menarik, tetapi cerita-cerita khayal, imaginatif, rekaan, buatan manusia. Sebaliknya ada orang yang senang bercerita. Ada orang yang ingin mensharingkan pengalamannya kepada orang lain untuk meneguhkan bahwa orang lain memiliki pengalaman yang tidak jauh berbeda pula. Ada orang yang ingin agar ceritanya menarik. Bagaimana supaya cerita menarik? Agar cerita itu menarik, diusahakan menggunakan bahasa yang baik dan indah, serta teknik (pengaluran, penokohan, pelataran dan penceritaan) yang canggih.  Alurnya tidak terlalu sederhana, melainkan menantang. Temanya tidak hanya biasa-biasa saja, melainkan menyentuh dan menggerakkan hati manusia. Mengandung moral serta pendidikan, memberi inspirasi dan memberi peneguhan kepada manusia. Bahasanya dikemas dengan bahasa lincah, bergaya dan bernilai seni tinggi. Sudut pandang penceritaan (akuan, diaan), cara penceritaan (panorama, adegan) secara seimbang. Yang penting diberi tekanan dengan cara adegan, dengan teknik akuan, sedangkan yang hanya sekedar diketahui diceritakan secara panorama, dengan teknik diaan.

Cerita yang baik memiliki plot yang mengandung teka-teki, menyembunyikan sesuatu dan menggelitik rasa ingin tahu, sehingga orang bertanya, “habis ini apa?”. Tokohnya simpatik. Ada harapan, pertanyaan yang mengandung harapan, bagaimana sang jagoanku? Semoga jagoanku menang atau bebas dari ancaman. Semoga antagonisnya yang menimbulkan antipati itu kalah. Semoga yang baik menang, yang jahat kalah.

Bagaimana cerita yang indah itu?

Yang mampu menyentuh hati manusia. Bagaimana cerita bisa menyentuh hati? Cerita bisa menyentuh hati karena mengandung nilai-nilai kemanusiaan, mengandung moral yang luhur. Biasanya mengandung tema human interest. Mengenai kesetiaan, cinta sejati, kejujuran dan perjuangan yang berujung kepada kemenangan, kebahagiaan. Cerita yang menarik mengandung gerak alur yang dinamis, berliku-liku, kompleks, tegang, menuju kepada klimaks mengejutkan, memuaskan, melegakan. Memiliki tokoh seorang ksatria tampan, membela kebaikan dan keadilan,  berpihak pada orang kecil, tertindas.

Keindahan di sini seperti keindahan menurut pandangan Plato/Aristoteles: mengandung kebaikan. Indah artinya baik.

Menurut Plato, yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana. Kesederhanaan sebagai ciri khas dari keindahan, baik dalam alam maupun dalam karya seni. Di samping itu kepaduan juga merupakan ciri keindahan.

Sedang Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang selain baik juga menyenangkan. Menurut Aristoteles, keindahan menyangkut keseimbangan dan keteraturan ukuran material. Katharsis adalah puncak dan tujuan karya seni drama dalam bentuk tragedi. Menurut Aristoteles, segala peristiwa, pertemuan, wawancara, permenungan, keberhasilan, kegagalan dan kekecewaan, harus disusun dan dipentaskan sedemikian rupa sehingga pada suatu saat secara serentak semuanya tampak “logis” tetapi juga seolah-olah “tak terduga”. Katharsis sebagai pembebasan batin dari segala pengalaman penderitaan. Memiliki makna terapeutis dari segi kejiwaan. Ada unsur perubahan sikap batin menuju ke kebaikan.

Cerita menarik antara lain karena alurnya.

4. SENI PENTAS: MENGAPA DRAMA MENARIK?

Antara lain karena tata pemanggungnya, diragakan, bahasa yang digunakan dramatis & puitis, mengandung alur cerita. Sesuatu ajaran tidak membosankan apabila dibungkus dengan seni pentas (drama, pantomim, tablo). Sebuah cerita akan menjadi hidup apabila diragakan dalam pemanggungan. Drama tari maupun sendratari lebih menarik daripada cerita yang hanya dibacakan saja. CONTOH-CONTOHNYA:

5. CERITA BERGAMBAR: Komik, film.

MORAL DALAM SASTRA

UTILE: SASTRA YANG BERGUNA

Kalau dulce lebih menyangkut bidang lahiriah, utile lebih menyangkut nilai batin. “Berguna” di sini bukan dalam arti ekonomis-praktis.

NILAI-NILAI DALAM SASTRA

Orang bisa belajar banyak dari sebuah novel yang baik. Dari situ bisa digali berbagai macam nilai-nilai kehidupan, misalnya nilai kejujuran, kesetiaan, nilai sosial, religius, dst. Novel yang baik bisa memantulkan bermacam-macam dimensi kehidupan.

Menurut Hazel, novel yang baik memiliki lebih dari satu lapis makna. Ia mengandung lebih daripada yang dinyatakannya (1984: 3). Dia mengambil contoh Animal Farm karangan George Orwell. Pada tataran lapis pertama, ia bercerita mengenai dunia binatang yang mengambil-alih Petani Jones. Anak-anak kecil pun bisa membacanya sebagai cerita mengenai binatang yang berperilaku seperti manusia.  Bisa dibandingkan dengan cerita Kancil. Pada tataran kedua Animal Farm membuat perbandingan historis dengan peristiwa yang sebenarnya terjadi selama Revolusi Rusia. Ia menggunakan apa yang disebut alegori. Dalam sastra Indonesia karya-karya sastra di Jaman Jepang seperti “Tinjaulah Dunia Sana”, atau sebuah drama Bebasari mengandung maksud-maksud tertentu di samping yang tersurat. Karya-karya tersebut bersifat simbolis maupun alegoris. Demikian pula novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari, Belenggu karya Armijn Pane, Burung Manyar karangan Mangunwijaya, Ziarah karangan Iwan Simatupang.

Di samping itu novel yang baik bisa dibaca-ulang secara menyenangkan, tidak membosankan.

Novel yang baik memiliki sesuatu yang sangat penting dalam hubungan manusiawi misalnya beberapa nilai kehidupan, seperti nilai sosial, religius, psikologis, nilai sosial, religius, dsb.

Dan tentu saja, novel yang baik menggunakan bahasa yang baik dan benar (Hazel, 1984: 5).

Menurut Sapardi Djoko Damono, sastra modern kita pun ternyata sudah sejak awal perkembangannya merupakan arena untuk menggambarkan ketimpangan sosial, dan lebih jauh lagi untuk menyampaikan kritik terhadap kepincangan itu. Novel-novel pertama terbitan Balai Pustaka kebanyakan sekaligus merupakan propaganda dan protes sosial. Sebagai badan penerbit pemerintah kolonial Belanda, sebanarnya adalah kantor propaganda. Ia ditugasi untuk menyediakan bacaan bagi rakyat agar mereka menjadi warga yang baik dalam lingkungan negeri jajahan. Dengan caranya masing-masing, Sitti Nurbaya oleh Marah Rusli, Salah Asuhan oleh Abdul Muis, dan Layar Terkembang oleh Takdir alisjahbana mencoba mengetengahkan dan sekaligus mengoreksi ketidakberesan dalam masyarakat. Ketiganya menampilkan problem penyesuaian diri manusia di tengah masyarakat yang berkembang. Juga novel-novel tersebut mengambil posisi politis yang netral (Damono, 1983: 23).Masalah korupsi juga pernah disinggung oleh Mochtar Lubis dalam novelnya Jalan Tak Ada Ujung (1952).

Pak Guru yang selama ini jujur mengalami krisis mental yang luar biasa ketika untuk pertama kali ia mencuri alat-alat tulis di sekolahnya. Akhirnya ia melakunnya juga. Selanjutnya peristiwa semacam itu menjadi biasa seperti sudah seharusnya saja. Di samping kemiskinan, korupsi ternyata merupakan problem utama dalam masyarakat kita yang juga mendapat perhatian sastrawan (Damono, 1983: 24). Novel bisa memperlihatkan masalah psikologis seperti Belenggu, Layar Terkembang, Telegram dan Stasiun. Oleh karenanya novel-novel tersebut menawarkan sesuatu baru kepada kita.  Novel-novel tersebut memperlihatkan suatu proses berpikir itu sendiri. Tokoh-tokoh dalam novel tersebut senantiasa berpikir dan menyusun citra-citra (Damono, 1983: 14). Tidak seperti novel-novel sebelumnya di mana tokoh-tokohnya tidak mengalami perkembangan kejiwaan mulai dari awal sampai akhir cerita, karena kebanyakan tidak berpikir sama sakali (Damono,1983: 8). Masalah sosial dan religius dimunculkan dalam Kemarau-nya A.A. Navis. Cerita yang menampilkan masalah psikologis dan religius dengan jelas misalnya Atheis, Di Bawah lindungan Kaabah. Bahkan Atheis memunculkan ketiga aspek tersebut  (masalah-masalah religius, psikologis dan sosial).

SASTRA SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN

Seperti telah disebut di atas, sastra yang baik memiliki sifat indah, menarik untuk dibaca, tetapi juga bersifat mendidik. Dengan demikian novel sebagai karya sastra bisa sebagai sarana pendidikan. Novel harus mampu menggugah minat orang untuk membaca, tetapi juga memberi sesuatu kearifan hidup, sehingga mampu menggerakkan pembaca untuk menjalani hidup yang lebih baik. Dengan demikian pembelajaran novel di sekolah sangat menunjang pendidikan.

Menurut kurikulum 1994, tujuan umum pembelajaran sastra di SMU adalah siswa mampu menikmati, menghayati, memahami dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa (Depdikbud, 1995: 1). Memahami, menghayati, serta menggali nilai-nilai bermanfaat bagi kehidupan, yaitu nilai-nilai  religius, sosial, moral, dan budaya (Depdikbud, 1995: 1). Penghayatan nilai-nilai itu meningkatkan kualitas kepribadian yang pada gilirannya ikut mempengaruhi manusia dalam mencapai kesejahteraan maupun kebahagiaan (Rahmanto, 1988: 16).

Pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh dengan meningkatkan ketrampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya dan mengembangkan cipta dan rasa serta menunjang pembentukan watak  (Rahmanto, 1988: 19).

Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia dan alam. Melalui karya sastra siswa diperkenalkan dengan fakta-fakta kehidupan, mengenai “Manusia itu apa?”, “Mengapa dia begitu?”. Lebih lanjut pembelajaran karya sastra mengembangkan daya penalaran siswa, daya cipta dan rasa, serta menanamkan nilai-nilai religius dan sosial.Sehubungan dengan pengembangkan watak, pengajaran novel khususnya, mampu membina perasaan yang lebih tajam, dan memberikan bantuan untuk mengembangkan kualitas kepribadian: ketekunan, kesetiaan, kebahagiaan, penciptaan (Rahmanto, 1988: 25). Menurut Driyarkara, pendidikan adalah memanusiakan manusia-muda (Hartoko, 1985: 36) atau dengan kata lain mendewasakan manusia muda. Mata pelajaran yang berlandaskan pada humaniora seperti bahasa, sastra, sejarah, musik, sangat menunjang pendewasaan manusia. Bidang-bidang itu mengolah kepekaan hati manusia untuk menjadi manusia yang bermoral dan bermartabat.

Seni, sastra, sejarah, falsafah membudayakan manusia. Sastra mengolah kehidupan manusia dalam bergulat menghadapi lingkungan hidupnya. Seni mempertajam kepekaan nurani manusia.Humaniora membentuk manusia pembangun yang bermoral dan bermental tinggi, yang tetap mempertahankan citra keselarasan dengan alam dunia maju, manusia intelektual dan terdidik yang  menjaga harmoni dengan tradisi sejarah serta budaya bangsa. Humaniora tidak membentuk manusia robot, mesin, teknik, dan budak produksi. Pendidikan humaniora memperkembangkan segala unsur kepribadian manusia: budi, cipta, rasa, dan karsa. Kepekaan rasa keindahan, rasa empan papan.

SASTRA SEBAGAI HUMANIORA

Mata pelajaran yang berlandaskan pada humaniora seperti bahasa, sastra, sejarah, musik, mengolah kepekaan hati manusia untuk menjadi manusia yang bermoral dan bermartabat. Seni, sastra, sejarah, falsafah membudayakan manusia. Sastra mengolah kehidupan manusia dalam bergulat menghadapi lingkungan hidupnya. Seni mempertajam kepekaan nurani manusia. Seni yang adiluhung, adalah seni yang indah. Keindahan bisa menyentuh inti terdalam kejiwaan manusia, menyebabkan manusia menjadi peka. Mencapai keindahan adalah juga merupakan hakekat “humanitas”. Sastra yang baik akan  membentuk jiwa “humanitat”.

Pendidikan humaniora memperkembangkan segala unsur kepribadian manusia: budi, cipta, rasa, dan karsa. Kepekaan rasa keindahan, rasa empan papan. Orang bisa belajar banyak dari sebuah novel yang baik. Dari situ bisa digali berbagai macam nilai-nilai kehidupan, misalnya nilai kejujuran, kesetiaan, nilai sosial, religius, dst. Novel yang baik bisa memantulkan bermacam-macam dimensi kehidupan. Lalu bagaimana novel disampaikan kepada siswa? Lewat pengajaran dan pembelajaran.Sastra yang baik bagaikan intan, memiliki banyak dimensi. Sastra memiliki sifat estetis, mendidik, juga merupakan sebuah kritik. Kritik terhadap kehidupan itu sendiri. Menurut Matthew Arnold, Sastra adalah “criticism of life.”  Sebagai kritik kehidupan, sastra lebih luas daripada kritik sosial. Yang penting dalam sastra memang adalah keindahannya. Keindahan itu pun bukan hanya keindahan bahasanya, melainkan karena keberhasilan tulisan sastra tsb mendekati kebenaran (Darma, 1983: 51).

Sastra sebagai unsur kebudayaan, memberikan hidup yang lebih mulia kepada manusia. Mengangkat dunia dan martabat manusia dengan mendasarkan diri pada nilai-nilai yang paling tinggi, indah, agung dan benar. Sastra menjadikan manusia lebih menusiawi. Sastra yang baik memiliki sifat indah, menarik untuk dibaca, tetapi juga bersifat mendidik. Dengan demikian novel sebagai karya sastra bisa sebagai sarana Pendidikan. Novel harus mampu menggugah minat orang untuk membaca, tetapi juga memberi sesuatu kearifan hidup, sehingga mampu menggerakkan pembaca untuk menjalani hidup yang lebih baik.

Dengan pendidikan humaniora manusia tahu menilai yang baik dengan mata hati yang bening, bisa memilih dengan bijak dan dengan tekad yang bulat melakukan yang dianggapnya baik. Manusia humaniora mencintai keselarasan, yang dilihat dalam alam, dirasai dalam dirinya.

HUMANIORA: mendidik manusia untuk menjadi manusia dewasa yang integral dan peka (manusia terasah). Peka terhadap keindahan, peka budinya, peka hatinya. Terasah akal-budinya, rasa-perasaannya, karya dan hatinya, sehingga manusia yang berkembang maksimal dan berselera tinggi. Manusia bermartabat.

UTILE ET MOVERE

SASTRA SEBAGAI ILMU (ILMU SASTRA)

 

Ilmu Sastra?

Sastra merupakan seni dan kegiatan kreatif. Tetapi studi sastra sebagai cabang ilmu, apa mungkin? Untuk menjawab itu perlu diperjelas apa itu sastra dan apa itu ilmu.

ASAL-USUL PENGETAHUAN, ILMU PENGETAHUAN, FILSAFAT

Mencari kebenaran & kebijaksanaan. Berhadapan dengan alam yang masih misteri, timbul keinginan manusia untuk mengetahui rahasia alam. Untuk memahami rahasia alam itu, manusia berusaha menafsirkannya lewat beberapa hal.

  1. Mitologi: mencari keterangan tentang asal-usul alam semesta sendiri disebut mite kosmogonis; mencari keterangan tentang asal-usul kejadian dalam alam semesta disebut mite kosmologis. Bagaimana orang menjelaskan pelangi, petir, hujan, gempa bumi, peredaran matahari. Bandingkan dengan timbulnya mitos Jawa (Betara Kala, Nyai Lara Kidul, Cerita Asal-usul, dsb). Upacara2 maupun ritual mitis merupakan wujud dari kepercayaan mitos (upacara bersih desa, mohon hujan, jauh dari musibah, dsb)
  2. Kesusastraan (Yunani): dipelopori oleh Homeros dengan karya besarnya berjudul Eliade dan Odessea.
  3. Dari mitos ke logos: Sejak abad ke-6 SM mulai berkembang suatu sikap rasional. Orang mulai mencari jawaban2 rasional tentang problem2 yang diajukan oleh alam semesta. Logos (akal budi, rasio) mengganti mythos. Mulailah filsafat & ilmu pengetahuan. Filsafat Yunani hampir mempelajari seluruh ilmu pengetahuan. Seorang filsuf sekaligus seorang  ilmuwan. Aristoteles, pelajari logika, fisika, ilmu hokum, politik, sastra, psikologi, etika, metafisika, dsb.

Berbagai Jalan mencari Kebenaran (Nazir + Winarno Surachman)

  1. Penemuan kebenaran secara kebetulan: mis., menemukan kinine sebagai  obat malaria secara kebetulan. Demikian pula orang menemukan dalam kopi ada unsur untuk mencegah ngantuk. Orang sakit perut, menemukan obat (jambu muda, sawo). Orang menemukan tembakau sebagai sesuatu yang sebabkan kecanduan, mariyuana, ganja, jamur kotoran sebagai cara orang fly, sirih sebagai obat. Orang menemukan madu sebagai obat mujarab. Krupuk + gula jawa, jeruk nipis dan kecap, sbg obat batuk
  2. Penemuan lewat wahyu: lewat para orang2 tertentu: nabi, orang besar seperti Budha, Lao Tze, Yesus (Isa Al Masih), Mohammad S.A.W, dsb.
  3. Penemuan secara intuitif (firasat). Sering orang bisa merasai kebenaran. Meramalkan akan ada sesuatu hanya dengan ‘rasa’. Firasat akan terjadi kematian; merasa dagang ini akan laris; ketemu teman, pasangan yang cocok.
  4. Penemuan secara trial dan error. Orang menemukan obat dengan mencoba-coba dan gagal, jatuh bangun penuh perjuangan akhirnya menemukan hasil: penisilin. Memperoleh tanaman/ternak jenis unggul; telur dari persilangan kate dan ayam ras; bekisar.
  5. Penemuan lewat spekulasi. Para pedagang, pengusaha biasanya lewat perhitungan kasar, akhir memutuskan untuk melakukan sesuatu secara untung-untungan. Bulan Juni, Juli, berdagang  pakaian seragam sekolah; mendekati bulan Ramadhan dan Idul Fitri membuat kartu ucapan yang unik.
  6. Penemuan karena kewibawaan. Sering orang menghormati pendapat yang keluar dari badan maupun orang yang dianggap punya kewibawaan, tidak lagi ingin menguji kebenarannya. Pendapat para ahli mudah menjadi pendapat umum tanpa kritik. Biasanya pemimpin agama memaklumkan suatu pernyataan yang harus dianggap kebenaran oleh umat. Misalnya Paus menyatakan Galileo bersalah besar karena berpendapat bahwa bumi bulat dan mengelilingi matahari, sehingga harus dihukum mati. Pemuka agama dalam menentukan kapan umat Islam mulai berpuasa, kapan mengakhiri puasanya dengan melihat bulan.
  7. Penemuan secara akal sehat (pandangan umum). “Mendidik anak harus dengan keras”. “Anak itu ibarat kertas kosong (tabula rasa)”. “Peran wanita itu no. 2”: melayani laki-laki. Tugas wanita menyangkut 3 M. Wanita harus di rumah saja, tak perlu sekolah tinggi, tak bisa jadi pemimpin (jaman Siti Nurbaya, Kartini); tak boleh menyatakan cinta. Mendidik anak yang baik adalah dengan memberi kebebasan seluasnya.
  8. Berpikir kritis berdasarkan pengalaman. “Semua orang akan mati. Ahmad adalah manusia. Ahmad akan mati” .
  9. Lewat penyelidikan Ilmiah. Cara mencari kebenaran lewat penyelidikan dipandang cara yang ilmiah. Kebenaran ilmiah hanya akan diakui apabila didukung dengan bukti-bukti yang menyakinkan, bukti-bukti yang diperoleh lewat prosedur yang sistematik, jelas dan terkontrol. Kebenaran yang diperoleh dengan cara penyelidikan ini disebut ilmu pengetahuan.

 

 

ILMU PENGETAHUAN

 

Pengetahuan: segala sesuatu yang diketahui manusia. Hasil tahu manusia mengenai sesuatu.

Ilmu adalah pengetahuan yang terorganisasi serta tersusun secara  sistematik menurut kaidah  umum, sehingga bisa disimpulkan dalil-dalil tertentu menurt kaidah-kaidah umum (Nazir).

Ilmu muncul karena manusia merupakan makhluk yang  punya akal budi untuk berpikir. Karena itu manusia punya kodrat selalu ingin tahu. IP muncul karena adanya pengetahuan yang dimiliki manusia. Pengetahuan yang tersusun secara sistematik itu disebut ilmu. Ilmu muncul karena manusia berpikir dan mengetahui.

Proses berpikir manusia untuk  menghasilkan ilmu itu menurut Dewey sebagai berikut.

    1. Muncul masalah atau rasa sulit yang dialami dengan alam sekitar: adaptasi terhadap alat, mengenali sifat-sifat lingkungan, menerangkan gejala alam, dsb.
    2. Masalah itu kemudian didefinisikan atau dirumuskan dalam bentuk permasalahan.
    3. Muncul kemungkinan pemecahannya yang berupa hipotesa, inferensi, atau teori.
    4. Ide-ide pemecahan diuraikan secara rasional dengan jalan mengumpulkan bukti2 (data)
    5. Mengolah bukti2 dan menyimpulkannya lewat percobaan2 maupun penjelasan rasional.

ILMU PENGETAHUAN

Menurut Suriasumantri (1987: 4), ilmu adalah kumpulan penge­tahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dari pengetahuan-pengetahuan lainnya.

Ilmu adalah pengetahuan yang terorganisasi serta tersusun secara  sistematik menurut kaidah  umum, sehingga bisa disimpulkan dalil-dalil tertentu menurt kaidah-kaidah umum (Nazir).

Ilmu meneliti gejala alam yang bisa di­tangkap oleh panca-indera manusia. Ilmu bersifat  material. Gejala alam mempunyai pola-pola hukum tertentu yang tetap dan sama, yang berlaku  bagi semua (universal) jenis dalam kelompok tertentu. Dikata­kan, jenis besi  dipanasi memuai. Ini berlaku umum bagi semua jenis besi. Air mendidih pada suhu 100 derajad Celcius. Ini juga berlaku bagi semua jenis air. Dengan kata lain, ilmu memiliki ciri umum dan universal. Oleh karena sifat material tersebut, usaha pemahaman obyek ilmu dilakukan dengan pendekatan empirik, berdasarkan pengalaman inderawi.

Mulanya ilmu pengetahuan alamlah yang disebut  ilmu, sebab memiliki hukum yang pasti, umum dan universal. Mengapa? Karena memiliki hukum-hukum yang  lebih konsisten dan mantab, yaitu  alam; benda mati atau materi. Maka yang disebut ilmu pengetahuan pada waktu itu adalah pengetahuan sistematis terhadap gejala alam. Dengan kata lain ilmu pengetahuan alam, itulah ilmu yang sesung­guhnya. Karena yang menentukan sesuatu itu ilmu adalah obyeknya. Bukan subyek, manusia yang mengamatinya. Maka yang berkembang jaman dahulu adalah pengetahuan yang bersifat obyektif, empirik. Itulah pandangan kaum positifisme logis. Ilmu (pengetahuan alam) pada waktu itu menggunakan metode eksperimen (laboratorium), satu-satunya.

Ilmu pengetahuan  alam membatasi diri dengan hanya membahas gejala-gejala alam yang bisa diamati. Tuntutan lebih lanjut bagi gejala alam yang lazim dibahas dalam ilmu-ilmu alam adalah bahwa pengamatan gejala itu bisa diulangi orang lain (reproducible).
Masing-masing gejala alam itu tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dalam suatu pola sebab akibat. “Jika A maka B, jika B maka C, jika C maka D dst.”

Pengetahuan dan cara berpikir manusia semakin berkembang. Pengetahuan manusia tidak hanya mengenai gejala-gejala alam saja yang memiliki hukum-hukum yg pasti, tetap dan universal, tetapi juga mengenai makluk hidup.

Yang menjadi objek pengetahuan manusia tidak hanya gejala alam yang mati (memililki sifat tetap dan pasti), melainkan juga makhluk hidup: binatang, manusia itu sendiri. Hukum yang diperlakukan terhadap gejala-gejala alam itu ternyata berbeda dengan  gejala-gejala manusiawi yang memiliki jiwa kebebasan, dan kesadaran. Muncul pertanyaan, bagai­mana pengetahuan mengenai perilaku manusia (psikologi), mengenai hubungan antara manusia dengan manusia (sosiologi), mengenai kelompok manusia tertentu (etnografi), budaya manusia (anthropologi), dan akhirnya mengenai hasil karya manusia yang disebut sastra? Dari pertanyaan dan pemikiran itu, muncul perkembangan yang kemudian dinamakan ilmu sosial dan budaya.

Ternyata gejala sosial lebih kompleks dibandingkan dengan gejala-gejala alami (Suriasumantri, 1987: 134). Ilmu-ilmu sosial-budaya mempelajari manusia baik selaku perseorangan maupun selalu anggota dari suatu kelompok sosial yang semakin rumit dan kom­pleks. Gejala sosial tidak hanya mencakup faktor-faktor fisik saja, melainkan mencakup aspek-aspek psikologis, sosiologis, biologis, dan kombinasi dari aspek-aspek tsb.

Gejala sosial-budaya banyak yang bersifat unik dan sukar diprediksi dan tidak berulang kembali. Masalah sosial kerapkali bersifat spesifik dalam konteks historis tertentu. Oleh karena itu kemunculan ilmu-ilmu sosial-budaya mendapat banyak kritik dari kalangan ilmuwan (alam). Mereka meragukan ilmu sosial sebagai suatu ilmu. Dipertanyakan status keilmuan dari ilmu-ilmu sosial-budaya. Hukum-hukum ilmu sosial, jika ada, bersifat proba­bilistik (bersifat kemungkinan). Tidak mempunyai kepastian (Suriasumantri, 1987: 140).

Apakah pendekatan empiris ini membawa kita lebih dekat kepada kebenaran? Ternyata tidak, sebab gejala yang terdapat dalam pengalaman kita baru mempunyai arti kalau kita memberikan tafsiran terhadap mereka. Fakta yang ada sebagai dirinya sendiri, tidaklah mampu berkata apa-apa. Kitalah yang memberi mereka sebuah arti, sebuah nama, tempat, atau apa saja (Jujun S. Suriasumantri, 1981: 11).

PEMBAGIAN ILMU: Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Sosial-budaya

IPA: eksak/pasti, dapat dikontrol.

Ilmu Humaniora: proses dalam masyarakat tidak kaku, fleksibel, bisa berubah, lebih kompleks

Peneliti/pengamat dalam IPA imparsial, di luar objek; sedangkan dalam Humaniora tidak imparsial.

METODOLOGI

Berpikir secara nalar mempunyai 2 kriteria penting: unsur logis dan analitis.

Berpikir logis artinya berpikir menurut jalan pikiran yang runtut. Contoh:

  1. Manusia akan mati. Andi manusia. Andi akan mati.
  2.  Makluk hidup harus makan. Binatang makluk hidup. Maka binatang harus makan.

Berpikir analitis adalah berpikir dengan menjelaskan hubungan antara hal yang satu dengan lainnya, dengan data dan bukti2.

Untuk bisa berpikir secara logis dan analitis, diperlukan rasio maupun pengalaman sebagai sumber dari pengetahuan. Oleh karenanya ilmu pengetahuan bisa diperoleh manausia baik lewat rasio (rasionalisme) maupun pengalaman (empirisme). Sesuai dengan obyeknya, ilmu hanya bisa diperoleh dengan cara empirik dan rasional. Ilmuwan, sebagai subyek pengetahuan harus mampu menempuh kedua cara itu. Kemampuan tsb hanya bisa dimiliki apabila ia punya pancaindera dan rasio yang normal. Maka metode ilmu adalah dialektika antara metode empirik dengan metode rasional.

Oleh karenanya ilmu pengetahuan pada dasarya mencakup kemampuan  rasio maupun pengalaman. Ilmu yang lebih mendasarkan pengalaman sebagai pijakan bernalar, menggunakan metode induksi. Sedang cara berpikir yang lebih mendasarkan rasio sebagai pijakan bernalar, menggunakan metode deduksi.

Oleh karena itu pencapaian ilmu bisa diperoleh lewat penalaran induksi maupun deduksi.

A. Induksi: khusus – umum.

1. Pernyataan a posteriori: kebenaran didasarkan pengalaman/empi­ris. Dari gejala-gejala  yang khusus, individual, dari yang banyak lalu dicari kesamaannya, dan disimpulkan dari kesamaannya itu untuk membuat teori yang umum.

2. Merupakan kumpulan dari bukti-bukti individual, yang sama, kemudian menjadi kesimpulan yang merupakan teori.

B. Deduksi: Umum – khusus.

1. Bersifat a priori: tidak perlu dibuktikan dengan pengalaman, karena sudah menjadi hukum umum dan pasti: semua logam dipanasi memuai. Mulai dari teori/rumus umum, menuju ke gejala-gejala khusus, untuk membuktikan apakah gejala khusus itu juga tercakup ke dalam teori yang umum itu. Di sini orang bertugas membuktikan bahwa gejala khusus itu tercakup ke dalam teori umum.

2. Merupakan persetujuan bersama: 1 kg = 10 ons.

3. Pernyataan sistem tertutup: tidak perlu diperdebatkan maupun

disangsikan/diuji dengan fakta: pasti, matematis.

 

C. Abduksi: jalan tengah antara induksi dan deduksi.

Metode ini diusulkan oleh C.S. Pierce. Abduksi adalah suatu metode dalam menyusun hipotesis setelah diawali dengan metode induksi. Tetapi dalam pengkajiannya tidak menggunakan metode deduksi murni tertutup. Artinya dalam kita mengadakan pengkajian tersebut masih terbuka bagi masuknya kritik, pertanyaan, peruba­han dsb. Bahkan Pierce menyatakan, bahwa metode yang paling penting dalam Ilmu Pengetahuan adalah metode abduksi, karena masih membuka kemungkinan untuk menerima masukan. Masukan justru penting untuk memperkuat hipotesis.

Ada pun tahap-tahap yang ditempuh oleh pengetahuan untuk menjadi suatu ilmu, melalui beberapa tahapan:

a. Tahap spekulasi

Pada tahap ini peneliti sebenarnya sudah mempunyai dugaan kuat mengenai suatu teori tertentu. Hanya saja, dugaan itu belum dibuktikan kebenarannya dengan data-data yang akurat.

b. Tahap observasi dan klasifikasi

Tahap ini peneliti mulai mengadakan observasi, penelitian, servey yang cermat dengan mengumpulkan data-data yang akurat. Data-data itu diklasifikasikan menurut ukuran dan maksud tertentu.

c. Tahap perumusan teori

Dari data tersebut, dibandingkan, dikelompokkan dan dianalisis, kemudian disintesiskan sehingga menghasilkan suatu teori.

Teori yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1) Tuntas: mencakup semua fakta; tak ada yang terlewatkan maupun terkecualikan

2) Konsisten: tidak mengandung pernyataan-pernyataan yang saling

bertentangan

3) Sederhana: mengungkapkan secara lugas, tidak ambigu.

Sifat keilmiahan harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  a. Eksplisit: bahwa teori itu harus dirumuskan secara jelas.

b. Sistematis: metode yang dipergunakan harus rapi, menggunakan

sistem yang konsisten.

  c. Obyektif:

– terbuka thd analisis

– kritis dengan “mencurigai” setiap hipotesa sampai

bisa dibuktikan secara memadai

– hati-hati terhadap prasangka.

– menggunakan prosedur standar yg ditentukan

Medan yang digunakan dalam Ilmu Pengetahuan meliputi tiga macam.

a. Penelitian laboratorium. Biasanya digunakan oleh Ilmu Pengeta­huan Alam. Ilmu

Pasti    menggunakan metode deduksi dan induksi.

b. Penelitian lapangan (wawancara, riset, angket). Metode ini biasanya lebih cocok

untuk Ilmu-ilmu Sosial.

c. Penelitian kapustakaan. Penelitian ini lebih banyak digunakan oleh Ilmu-ilmu

budaya.

 

Menurut Max Weber, untuk sampai pada suatu pengertian yang diperlukan dalam ilmu-ilmu sosial-budaya, harus lewat pengertian yang mendalam tentangnya. Pengertian yang mendalam itu disebut Verstehen. Menurut Weber dan teman-temannya, Verstehen merupakan metode satu-satunya untuk mencapai tujuan tersebut. Khas bagi ilmu-ilmu sosial-budaya karena sifat yang hakiki dari ilmu-ilmu tsb.

Verstehen merupakan metode baru: metode pemahaman. Memahami berarti  mengerti sungguh-sungguh sedalam-dalamnya. Tidak hanya sekedar mengerti saja. Pemahaman sesuatu sedikit berbau subyek­tif-emosional. Dalam metode pemahaman, perlu penafsiran. Herme­neutik merupakan cara menafsirkan atau menginterpretasi. Juga merupakan proses perubahan dari tidak tahu menjadi tahu; dari tidak mengerti menjadi mengerti (Sumaryono, l993: 24).

Manusia hidup di alam simbol: hakekatnya yang mengandung pengertian di dalamnya. Mengandung nilai, perilaku, penafsiran. Maka harus selalu berkembang. Selalu berubah dan baru. Ilmu selalu ada penemuan baru. Kreatif dan dinamis.

Bila seseorang mengerti, dia sebenarnya telah melakukan interpretasi. Mengerti dan interpretasi merupakan ‘lingkaran hermeneutik’. Emilio Betti menyatakan, bahwa tugas orang yang melakukan interpretasi adalah menjernihkan persoalan mengerti.

Menurut Gadamer, penafsiran itu berlangsung berdasarkan adanya suatu arus timbal-balik antara yang mengenal dengan yang dikenal, khususnya antara pembaca dan pengarang (Verhaak, l989:  176).

STUDI SASTRA

 

STUDI SASTRA memiliki 3 bagian atau cabang, yaitu teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra (Wellek, 1977: 27; Pradopo, 1994; 9).

  ILMU SASTRA: TEORI SASTRA, SEJARAH SASTRA, KRITIK SASTRA
1. Teori studi prinsip, kategori, dan kriteria. Teori sastra beroperasi dlm hal hakekat sastra, dasar-dasar sastra, hal-hal yang berkaitan dengan gaya, teori komposisi, jenis-jenis sastra (genre), teori penilaian, dsb.
2. Sejarah sastra menyusun perkembangan sastra dari awal kemunculannya hingga perkembangan mutakhir. Menurut Wellek, sejarah sastra melihat karya-karya sastra secara kronologis (Wellek, 1977: 38).
3. Sedangkan kritik sastra mempelajari sastra secara khusus (Wellek, 1977: 38), langsung dan konkret.
Ketiganya  bisa dibedakan, tetapi tak terpisahkan satu  sama lain di dalam studi sastra.

ALIRAN-ALIRAN SENI/SASTRA

Romantik (Dictionary of Literary Terms, Harry Shaw. Amerika Serikat: McGraw-Hill, 1972).

 

Istilah Romantik tak bisa tepat dikenakan pada keadaan maupun sifat yang khas, * sudut pandang, maupun teknik sastra. Sebagai gerakan, ia muncul perlahan-lahan dalam berbagai aspek yang sangat berlainan dalam berbagai tempat di Eropa, sehingga definisi yang memuaskan tidak mungkin.

Di Perancis, Victor Hugo (1802-1885), menekankan sebagai controlling idea yang dalam romantisisme “kebebasan sastra”, kebebasan seniman dari tekanan2 maupun aturan2 yang dipaksakan oleh para klasikus dan keberanian dari gagasan politik revolusioner. Di Jerman, Heinrich Heine (1797-1856) berpikir, aspek dominan dari romantisisme adalah penghidupan kembali dari masa lampau (abad pertengahan) dalam sastra, seni dan kehidupan. Penulis Inggris terakhir (Walter Pater, 1839-1894) mengusulkan bahwa penambahan dari kelainan terhadap keindahan merupakan semangat romantik dari abad ini. Penulis lain menyatakan bahwa apa yang dikatakan mood romantik merupakan kehendak untuk lari dari kenyataan, khususnya realitas yang tidak menyenangkan. Gerakan yang merambah dari abad 18 dan 19 ini menunjukkan masing-masing karakteristik.

Romantisisme secara khusus bisa dikatakan sebagai sikap sastra di mana imaginasi dianggap lebih penting daripada aturan formal dan alasan an (*klasisisme) dan daripada semangat jaman (*realisme).

Akibatnya, romantisisme merupakan teori sastra maupun filsafat yang cenderung untuk menempatkan individu di pusat kehidupan dan pengalaman dan menunjukkan pergeseran dari objektivitas ke subjektivitas. Konsep2 romantik itu sangat menyumbang kepada pendirian dunia modern demokratis (Shaw, 327).

Romantik (Webster’s ..)

Ditandai dengan pesona emosional dan imaginative, idealisme, misteri, petualangan, heroik, jauh. Berkaitan dengan musik dari abad 19 yang ditandai oleh tekanan emosional subjektif, kebebasan.

 

Romantisme

Gerakan filsafat, seni, dan sastra, yang berasal dari abad 18, ditandai terutama oleh reaksi terhadap neoklasisme dan tekanan pada emosi dan imaginasi, terutama dalam sastra Inggris, dengan sensibillitas dan penggunaan bahan otobiografi, mengangkat manusia jelata dan primitif, apresiasi terhadap sifat eksternal, …

Naturalisme

Dalam sastra, usaha untuk mencapai kesetiaan terhadap alam dengan menolak gambaran hidup yang dicita-citakan. Naturalisme bisa didefinisikan lebih jauh sebagai teknik maupun cara menyajikan pandangan objektif manusia dengan akurasi yang sangat tinggi dan terus-terang. Penulis naturalistic berpegang bahwa keberadaan orang dibentuk dengan warisan/keturunan dan lingkungan, terhadapnya ia tidak bisa mengendalikannya tetapi bisa sedikit melatihnya apabila ada pilihan.

Novel-novel dan drama dalam gerakan ini, menekankan kodrat kebinatangan dari manusia, potret tokoh2 yang asyik dalam perjuangan liar untuk hidup. Emile Zola, pendiri dari aliran Naturalis Perancis, berpegang bahwa novelis hendaknya membedah dan menganalisis subjeknya dengan ketelitian ilmiah dan tidak memihak (tanpa pamrih). Ernest Hemingway, Eugene O’Neill, William Faullner.

Naturalisme (Webster’s …)

Tindakan, kecenderungan, maupun pemikiran yang hanya berdasarkan pada nafsu dan instink alami.

Realisme

1)      Teori penulisan yang sangat familiar, aspek2 biasa dari kehidupan digambarkan secara apa adanya, langsung, dirancang untuk merefleksikan kehidupan sebagai adanya.

2)      Penanganan dari pokok pembicaraan dengan cara menyajikan deskripsi secara hati-hati mengenai kehidupan sehari-hari, kerapkali mengenai kehidupan kelas menengah ke bawah.

Realisme yang mengacu baik isi maupun teknik kreasi sastra, sudah jelas dari awalnya.

Meskipun realisme selalu mengesankan keakuratan pengucapan dan rinci, seluruh latar belakang informasi, dan berkepentingan dalam *verisemilitude, istilah mengambil makna yang ditambahkan selama abad 19 dan awal 20-an di Kontinen dan di Inggris dan Amerika Serikat: menekankan fotografi, detail, analisis penelitian dari “hal-hal senyatanya”, frustrasi tokoh2-nya dalam atmosfir kebobrokan, kebusukan, kemaksiatan. Realisme telah tetap agak elusive (sukar dipahami), istilah yang masih remang2, tetapi terus-terang, berbagai aspek dari teknik dan pokok bahasan “realistic” tampak dalam berbagai drama, puisi dan cerita pendek dari jaman modern maupun novel-novel dari penulis2 seperti Daniel Defoe, Henry Fielding, Thackeray, Dickens, Balzac, Tolstoi, Mark Twain, John O’Hara, ………… Lihat juga determinisme, mimetik, naturalisme, pragmatisme, versimilitude, dsb.

 

Realisme

 

Ekspresionisme

Istilah dengan beberapa pengertian yang secara bervariasi dikenakan pada bentuk yang bermacam-macam, ekspresionisme mustahil didefinisikan secara tegas dan singkat. Dalam seni murni (seni lukis, patung), ia melibatkan teknik di mana bentuk yang berasal dari alam berlebihan maupun menyimpang dan

Absurd

Pragmatisme

Suatu gerakan filsafat yang menekankan konsekuensi praktis dan nilai. Pragmatisme menekankan kegunaan dan kepraktisan (practicality). Dipelopori oleh psikolog dan filsof Amerika, William James.  James, John Dewey, dan tokoh pragmatik berpendapat, bahwa hidup lebih penting daripada pikiran logis. Berpengaruh dalam perkembangan *realisme dalam sastra modern seluruh dunia.

 

MENGAPA ORANG MEMBACA SASTRA?

(B. Rangkuti, Pramudya Anantatoer, 1963).

Sebagian besar masyarakat membaca sastra hanya sekedar mengisi waktu luang (menunggu, sebelum tidur, nganggur, dsb), atau sebagai hiburan, sebagai pelarian rasa jenuh dari kerutinan hidup, melupakan masalah yang dihadapinya, lari ke dunia khayal untuk membius-diri (seperti candu, ekstasi). Graham Greene membagi buku2nya menjadi roman dan hiburan.

Di Indonesia kita mengenal roman picisan dan roman serius. Buku hiburan ada yang mematikan semangat dan menghidupkan semangat. Ada yang memberikan kesegaran, ada yang mampu menyingkap rahasia aspek watak manusia.

Sebagian masyarakat membaca sastra tidak hanya sekedar hiburan dan untuk melupakan persoalan yang dihadapi (escapism), melainkan sebagai inspirasi dalam memecahkan persoalan. St. Takdir Alisyahbana dan St. Syahrir berpendapat, sastra harus mendidik rakyat. Sanusi Pane mengatakan bahwa pengarang merupakan bagian dari masyarakat dan alam. Sastra bisa dianggap meracuni, tapi bisa juga memberi inspirasi (Pramudya Ananta Toer, pengarang fiksi ilmiah, wayang). Sastra: rekaan (imagi) dibungkus, dikemas sedemikian rupa sehingga menarik untuk dibaca. Bandingkan dengan vit.C sekarang, dikemas dalam bentuk permen manis dengan rasa dan gambar jeruk. Diemut, hisap, memberi efek pada kesehatan. Karya sastra disajikan supaya dibaca, dicerna, dimasukkan ke dalam renungan, refleksi, dan memberi pengalaman, kekuatan, dorongan untuk berbuat sesuatu, berbuat baik > dewasa. Contoh orang nonton film yang bagus dan menarik. Pulang nonton, merenung. Awalnya mungkin terkesan oleh bintang film. Tapi lalu ceritanya, mengolahnya. Salah satu hakikat sastra adalah menggambarkan manusia sebagai mana adanya.

Karya sastra yang baik mengajak pembaca melihat karya tsb sebagai cermin dirinya sendiri, dengan jalan menimbulkan “pathos”, yaitu simpati terhadap kehidupan, dan merasa terlibat dalam peristiwa mental yang terjadi dalam karya. Sastra memiliki fasilitas yang lebih luas untuk menggerakkan “pathos” pembaca, untuk ikut prihatin terhadap masalah-masalah dunia (Budi Dharma). Seni yang adiluhung adalah seni yang indah, yang bisa menyentuh perasaan dan nurani manusia untuk berbuat yang baik.

Perjuangan untuk menciptakan keindahan belum tentu sejalan dengan kepentingan moral. Apa yang mendorong pengarang untuk mengarang biasanya ketidakpuasan akan apa yang seharusnya menurut moral tidak terjadi. Itulah sebabnya karya sastra yang baik biasanya malah menggambarkan kepahitan hidup. Itulah sebabnya pula nada protes dalam sastra sangat dominan, seperti ironi, sinisme, paradoks, dsb. Matthew Arnold menyebut sastra sebagai kritik kehidupan. Tema adalah masalah hakiki manusia, seperti cinta kasih, ketakutan, kebahagiaan, keterbatasan, penderitaan, kesetiaan, dsb.

Ditambah dengan Manfaat Karya Sastra (Sumardjo, 1991: 8)

Manfaat Karya Sastra

  1. Karya sastra yang baik memberi kesadaran kepada pembacanya tentang kebenaran-kebenaran hidup ini. Dari padanya kita dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang manusia, dunia dan kehidupan.
  2. Karya sastra memberikan kegembiraan dan kepuasan batin. Hiburan ini adalah jenis hiburan intelektual dan spiritual. Hiburan yang lebih tinggi, lebih dalam daripada hiburan karena menang lotere, memiliki mobil baru, misalnya.
  3. Karya sastra besar itu abadi. Karya sastra seperti Mahabharata, Ramayana yang ditulis 2500 tahun yang lampau tetap aktual untuk dibaca pada hari ini juga. Demikian juga seperti Romeo & Yuliet, Oedipus, Macbeth, dsb. Karya sastra besar memiliki sifat-sifat abadi karena memuat kebenaran-kebenaran hakiki yang selalu ada selama manusia masih ada.

 

MENGAPA SASTRA SEBAGAI FIKSI BERGUNA BAGI MANUSIA?

Karena fiksi, ia merupakan rekayasa dari akal budi untuk mencapai sebuah kesatuan antara alur, tema, amanat, tokoh dan setting supaya karya sastra yang merupakan sebuah dunia/peristiwa fiksi bisa diarahkan untuk memberi sebuah dunia yang bersistem, sehingga dunia fiksi menyerupai dunia keseharian, namun lebih terarah, sehingga manusia (pembaca) tertarik untuk masuk (membaca) dan bisa mengambil manfaat yang bersifat moral, bernilai pendidikan, mengandung nilai sosial, religius, dsb. > Nilai moral di dalam sastra.

PERAN  SASTRA  DALAM   MASYARAKAT (Sastra dan Tekniknya, Mochtar Lubis)

Karya-karya sastra lama ini, mulai dari drama India, Melayu, Yunani, seperti Ramayana, Bhagavad Gita, Hang Tuah, Illiad, Odyssey, Cindur Mata, Sabai Nan Aluih, adalah karya-karya sastra yang telah ikut membentuk dan mempengaruhi nilai dan sikap hidup orang. Cerita Wayang misalnya, baik wayang kulit, golek, potehi (wayang Jawa, Sunda, Cina maupun Melayu) sangat mempengaruhi nilai dan sikap orang Indonesia.

Mengapa buku-buku sastra disita dan dibakar oleh penguasa, pengarang ditangkap dan disekap dalam penjara? Karena dianggap karya-karya mereka bisa mempengaruhi cara hidup, bahkan bisa menggerakkan orang banyak. Dostoyevsky dibuang, dijatuhi hukuman mati ke Siberia. Boris Pasternak, pengarang buku Dr. Zhivago, dikucilkan oleh Kruschev karena bukunya mengutuk tindakan sewenang-wenang pemerintah melawan perikemanusiaan. George Orwell, pengarang Animal Farm, mengkritik tajam kekuasaan otoriter. Buku Mochtar Lubis, Senja di Jakarta pernah “diharamkan” pada pemerintahan Soekarno. Pramoedya Ananta Toer beberapa kali dijebloskan ke penjara karena buku-bukunya, baik jaman Soekarno maupun Soeharto.

Sejak jaman dulu hingga sekarang, sastra mencakup semua sisi kehidupan, dari kehidupan pribadi, kehidupan social, maupun kehidupan iman. Dari masalah cinta, kebencian, kesetiaan, penyelewengan, kesewenang-wenangan, ketamakan, kepahlawanan, dst.

 

DAFTAR PUSTAKA

Atmazaki. 1990. Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Padang: Penerbit Angkasa Raya

Dick Hartoko. 19984.  Manusia dan Seni. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.

Koesbyanto, J.A. Dhanu. & Firman Adi Yuwono. 1997. Pencerahan: Suatu

             Pencarian Makna Hidup dalam Zen Buddhisme. Yogyakarta: Kanisius.

Luxemburg, Jan van. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.

—————-. 1987. Tentang Sastra. Jakarta: Intermasa.

Sachari, Agus. 2002. Estetika. Bandung: ITB.

Sutrisno, Mudji & Christ Verhaak, SJ. 1993. Estetika Filsafat Keindahan.

Yogyakarta: Kanisius.

Sutrisno, Mudji.. 1999. Kisi-kisi Estetika. Yogyakarta: Kanisius.

Teeuw, A. 1983.  Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.

The Liang Gie. 1983. Garis Besar Estetik (Filsafat Keindahan). Yogyakarta:

Supersukses.

The Liang Gie. 1996. Filsafat Seni, Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Pusat Belajar

Ilmu Berguna.

Wellek & Austin Warren. 1977. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia

(Terj. 1989).

PENDALAMAN (BACAAN TAMBAHAN)

 

PENGERTIAN SENI

(B. Rahmanto, Simbolisasi dalam Seni, BASIS Maret 1992)

Seni sebagai kegiatan rohani manusia yang merefleksi realitas dalam suatu karya yang berkat dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya (Akhdiat Karta Miharja, 1961: 17). Susanne Langer mendefinisikan seni sebagai kreasi bentuk simbolis dari perasaan manusia (Sudiarja, 1982: 74).

Seni merupakan kreasi (pengadaan sesuatu yang tadinya belum ada). Penciptaan lukisan, memang sebelumnya sudah ada bahan-bahan tertentu yang disiapkan seperti cat, kuas, dan kanvas. Namun lukisan itu sendiri merupakan “ciptaan” si pelukis.

Bentuk simbolis dipertentangkan dengan isi atau materi dari simbol. Sebagai bentuk simbolis, seni sudah mengalami transformasi. Seni sudah merupakan universalisasi dari pengalaman. Seniman dalam menciptakan seni sudah merenungkan dan merasakan pengalaman yang langsung dan membuatnya menjadi suatu pengalaman umum, yang bisa dicernakan juga oleh orang lain.

Seni merupakan perasaan manusia? Perasaan di sini mengacu pada bentuk-bentuk simbolis yang dituangkan sang seniman ke dalam karya atau dalam kreasi seninya itu, tidak berasal dari pikirannya melainkan dari perasaannya, atau lebih tepat formasi pengalaman emosinya.

Menurut Benedetto Croce (1965: 172), seni berusaha menggambarkan alam sekitar dengan tertib seperti apa adanya. Pemahaman tentang seni bermula di Yunani sekitar abad VI seb. Masehi. Bagi Plato seni merupakan tiruan alam atau “mimesis”. Teori mimesis ini sangat berpengaruh sampai berabad-abad di Eropa. Patung-patung di candi Borobudur bukan hanya gambaran orang atau dewa yang sedang bersemedi saja, melainkan gambaran tentang ketenangan, keluhuran, atau kesempurnaan sang Budha. Kita lihat bahwa tangannya tidak anatomis, rambutnya tidak wajar, telinganya terlalu panjang. Menurut Herbert Read dalam The Meaning of Art, fungsi seni bukanlah memindahkan perasaan agar orang lain dapat mengalami perasaan yang sama. Seni sesungguhnya mengekspresikan perasaan dan memindahkan pengertian. Aristoteles menyebutnya dalam seni drama sebagai katarsis dari penontonnya. Dalam karya seni murni yang kita lihat bukanlah emosi tertentu tetapi perasaan tenang, santai dan seimbang. Kita dapat menyadari adanya irama, harmoni, kesatuan yang mempengaruhi syaraf kita.

Menurut Aristoteles kita bisa menyuci dan membersihkan jiwa kita, bila kita menyaksikan sebuah drama yang bagus. Kita menyaksikan suka dan duka manusia di atas panggung dan hati kita turut tergetar dan emosi2 kita dilepaskan dari bobot materialnya (Dick Hartoko dalam Pencerapan Estetis dalam Sastra Indonesia, BASIS Januari 1986: 12).

Menurut  Langer, seni sungguh menghasilkan sesuatu yang lain sama sekali dari realitas alamiah. Karya seni meskipun memiliki “kemiripan” dengan alam, namun sudah tercerabut dalam kenyataan alamiah. Pada seni terdapat prinsip kelainan dari alam. Karya seni sungguh-sungguh berdiri sendiri sebagai sebuah ciptaan.

SASTRA MERUPAKAN DUNIA ALTERNATIF, OTONOM

Sastra merupakan dunia tersendiri yang otonom. Dunia rekaan.  Rekaan lebih dekat dengan karangan (bunga). Bukan khayalan belaka. Artinya bertitik tolak dari pengalaman kehidupan yang nyata, diolah menjadi sebuah cerita. Seperti orang mengarang rangkaian bunga. Dia memilih dari bahan2 bunga yang tersedia, direka-reka menjadi sebuah karangan yang menarik. Tidak setiap orang bisa merangkai bunga. Masing2 orang merangkai bunga dengan cara yang berbeda2, dengan hasil yang berbeda2 pula, tergantung pada ketrampilan dan seni merangkai. Demikian pula orang membuat menu makanan.

Di dalam karangan bunga, berbagai-macam bunga, dimungkinkan menjadi satu di dalam pot. Hanya di dalam karangan bunga berbagai jenis bunga dengan berbagai sifat menjadi sebuah alternatif baru, dunia baru. Namun tidak sembarang bunga menjadi satu dengan bunga lainnya. Harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga karangan bunga menjadi serasi dan indah. Apabila penyatuan di dalam karangan (pot) tidak serasi, akan terasa janggal.

Fiksi: merupakan dunia tersendiri. Dunia imaginatif. Dunia rekaan bisa lebih luas kemungkinannya, misalnya binatang bisa bicara, manusia bisa punya kesaktian, bisa terbang, ambles di bumi. Dunia imaginasi bisa lebih leluasa dan bebas daripada dunia kenyataan.

Bisa dibedakan antara bunga dari alam, hutan, kebun dengan bunga yang sudah dirangkai dalam karangan bunga. Bunga yang masih di hutan, alam, kebun masih alami, tumbuh secara alami. Sedangkan bunga dalam karangan sudah direkayasa oleh perangkai bunga. Sudah dibentuk dengan sengaja sesuai dengan selera keindahan seni dari si perangkai. Karangan bunga dibentuk dari bunga alam, hutan, kebun, dijadikan sebuah karangan, rangkaian yang lebih indah. yang unsur-unsurnya diambil dari alam, dijadikan satu di dalam karangan bunga sebagai suatu satuan tersendiri, bagus dan asri.

Fiksi dan kenyataan/fakta. Contoh biografi dan fiksi. Fiksi sejarah. Kasus Ki Panji Kusmin dengan Langit makin Mendung.

Bandingkan contoh fiksi (Ki Panji Kusmin, cerita wayang) dengan biografi (sejarah panggilan Rm. Yan), atau berita dari koran. Bandingkan antara hasil rangkaian/karangan bunga dengan bunga alam di kebun, di halaman, hutan, taman. Bandingkan antara batu di kali dan patung pahatan di Muntilan. Antara kehidupan nyata dengan cerita fiksi. Antara yang spontan, asli, tidak

terorganisir, bahasa pragmatis dengan yang direkayasa, terorganisir, sistematis, bahasa provokatif. Dalam fiksi ada rekayasa pangaluran demi sebuah tema tertentu. Dalam peristiwa sehari-hari, peristiwa muncul begitu saja, mengalir dengan sendirinya, alami.

Sastra adalah seni. Seni yang menggunakan media bahasa. Bahasa sastra adalah bahasa yang digayakan sehingga menjadi seni yang menarik. Oleh karenanya jika kita bicara mengenai sastra, mau tak mau kita juga harus bicara mengenai seni, estetika atau keindahan.

Contoh hasil rekaan yang disenangi masyarakat luas: ketoprak humor, wayang humor, Mak Lampir, ShinChan, Teletabis, Doraemon, Pokemon, Dendam Nyi Pelet, Keluarga Cemara. Film bioskop, VCD, novel, komik, cerita lisan, legenda.

KEBEBASAN MENCIPTA (SEJARAH SASTRA INDONESIA ABAD XX)

(H.B. Jassin) (E. Ulrich Kratz).

Menurut H.B. Jassin, pengarang dan seniman merupakan hati nurani masyarakat dan bangsanya. Pengarang harus diberi kebebasan dengan kepercayaan bahwa ia tidak akan menyalahgunakan kebebasannya. Apa yang dirasakan, dipikirkan, diharapkan, dihasratkan oleh bangsanya juga bergetar di dalam jiwanya. Yang dikuatirkan, diprihatinkan dan diimpikan juga dirasakannya. Yang menjadi pedoman hati nuraninya adalah kejujuran, kebenaran dan keadilan.

Tugas hidupnya adalah menegakkan keadilan dan kebenaran. Tidak jarang pengarang dan seniman menjadi musuh penguasa dan keadaan yang korup, kebohongan, kemunafikan, kekerasan dan kebatilan.

Hakekat seni ialah imaginasi. Apa yang tidak mungkin dalam kenyataan objektif, bisa mungkin dalam kenyataan imajiner. Tanpa imajinasi yang bebas orang tak akan sampai pada imajinasi yang indah-indah dan ajaib seperti Baron von Muenchhausen, Perjalanan Guliver, Devina Comedia, Lampu Aladin, Sindbad si Pelaut, Robinson Crusoeau dan cerita-cerita Seribu Satu Malam yang digemari oleh orang tua dan muda dari jaman ke jaman dan diterjemahkan ke berbagai bangsa.

Dari kebebasan imajinasi pengarang itu lahirlah gagasan-gagasan yang  orisinil yang pada mulanya ditertawakan orang dan dianggap sebagai mimpi di siang bolong, tetapi di kemudian hari bisa terwujud dalam kenyataan. Jauh sebelum ada kapal selam, kapal udara, pesawat ruang angkasa ulang-alik, seorang Jules Verne telah memproyeksikan penemuan-penemuan baru itu dalam dunia imaginasinya, seperti yang kita kenal dalam buku-bukunya seperti 20.000 Mil di bawah Permukaan Laut, Mengelilingi Dunia selama 80 hari, Perjalanan ke Bulan, yang dulu dianggap mustahil.

Horatius memberi batasan pada karya sastra: dulce dan utile: seniman/sastrawan mempunyai kewajiban untuk memberikan kenikmatan/hiburan dan ajaran (moral) di dalam berkarya; seringkali ditambah lagi dengan istilah movere: menggerakkan pembaca ke kegiatan yang bertanggungjawab. Sastra berfungsi untuk menciptakan keindahan dan mendidik. Mampu menghibur dan memberi ajaran moral.

Contoh sastra yang menghibur dan mendidik: Bayan Budiman, ..

 

SENI MENURUT PLATO

 

DUALISME PLATO

DUALISME TENTANG DUNIA

A DUNIA IDE DUNIA JASMANI
  Realitas yang sebenarnya Bukanlah realitas yang sebenarnya
  Sempurna, abadi, langgeng, tetap, satu. Plural, banyak, tidak sempurna, berubah-ubah, fana
  Model atau contoh – gambaran tak sempurna, meniru
  – partisipasi
  – hadir dan menjadi nyata dalam benda2 konkret
  Menjadi sebab dari benda jasmani. Yang jasmani tergantung yang Idea.

DUALISME TENTANG MANUSIA

B JIWA BADAN/TUBUH
  Abadi Fana
  Prinsip yang menggerak badan  
  Mengenal Idea  

 

TATARAN PROSES PENCIPTAAN

Dengan  mengikuti  pola pemikiran Plato, ada    3  tataran  dalam proses penciptaan:

a. Tahap I: Tuhan mencipta, misalnya kursi azali. Kursi ini kursi sejati; tidak  material atau mewujud dari suatu  bahan  tertentu,  melainkan dalam  wujudnya  yang murni, yang disebut forma.  Dunia ide adalah satu-satunya  yang dikenal oleh akal budi.

b.  Tahap II: Tukang kayu yang membuat kursi dari kayu  menirukan model  pertama  tadi. Kursi yang dibuatnya  adalah  imitasi  dari kursi  azali yang berada dalam forma tadi. Peniruan  ini  menurut Plato  hanya  “menyerupai apa yang ada”,  tetapi  bukan  “menjadi adanya sendiri”.

c. Tahap III: Seniman yang membuat lukisan kursi, bergerak  lebih jauh  lagi  dari kenyataan. Seniman  menghasilkan  gambaran  atau lukisan bukan mengenai kenyataan yang ada di dunia idea,  melainkan keserupaan saja dari tiruan yang nyata. Dengan demikian Plato menganggap bahwa seni merupakan tindakan imitasi tahap kedua.

 

PANDANGAN PLATO MENGENAI REALITAS& SENI

Untuk menelusuri seni, kita harus tahu pandangan para ahli tentang seni. Pandangan seni mulai dibicarakan sejak berabad-abad sebelum Masehi. Salah satu pandangan yang sangat kuno dan terkenal adalah pandangan seorang filsuf Yunani bernama Plato. Seni, bagi Plato memiliki nilai sekunder, hanya meniru kenyataan yang ada di dunia ini.  Kesenian hanyalah suatu imitasi dari kenyataan materiil. Padahal kenyataan materiil hanyalah tiruan dari dunia forma. Dunia kita ini  hanyalah  penampakan  dari  dunia abadi, dunia  ide.

Wujud yang ideal tidak  bisa  terjelma  langsung dalam  karya  seni.  Namun seni tidak  kehilangan  nilainya  sama sekali.  Sebab  walaupun  seni terikat pada  tataran  yang  lebih rendah dari kenyataan yang tampak, seni sungguh mencoba mengatasi kenyataan sehari-hari. Seni yang baik harus truthful, benar; dan seniman harus bersifat modest, rendah hati. Lewat seni dia hanya  dapat  mendekati yang ideal, dari jauh dan serba salah. Jadi, seni hanya dapat meniru dan membayangkan hal-hal yang ada dalam kenyataan yang tampak, terletak di bawah kenyataan itu sendiri. Tetapi seni yang terbaik adalah lewat mimesis, peneladanan.

Untuk memahami pandangan Plato, mungkin perlu terlebih dahulu kita harus tahu latar belakang pemikirannya tentang realitas, tentang manusia.           Plato memikirkan realitas dunia ini semu, sebab tidak sempurna. Semuanya hanyalah sementara saja. Kuncup bunga, mekar, layu, dibuang. Semuanya itu hanyalah gambaran dari yang sempurna. Yang sempurna letaknya bukan di dunia realitas, melainkan di dunia ide. Dunia ide adalah dunia kesempurnaan.

BAGAIMANAKAH SENI TERCIPTA?

MUSE, INSPIRASI SENI-nya Plato

Penyair – muse > “gila” (suci) > ekstase > kualitas seni sejati. Bdk dng “orang waras”.  Muse: daya dorong buta; mata air membual; ilahi; ada pula inspirasi cinta, inspirasi kebenaran.

Hubungan muse dengan mimesis: jiwa meniru dunia ide yang pernah dipandangnya.

Dalam hubungannya dengan kepenyairan, Plato membicarakan juga tentang inspirasi seni, yang disebut muse. Dalam Ion dikatakan, bahwa penyair yang dihinggapi Muse menjadi gila, sehingga ia merasakan ekstase. Tetapi di sini gila bukan dalam arti penyakit jiwa. Bagi Plato ada kegilaan suci untuk mengejar kebenaran. Ia hanya mau menegaskan bahwa ekstase sangat perlu untuk mencapai kualitas seni sejati. “Apabila orang yang tanpa kegilaan ilahi memasuki pintu kepenyairan, meskipun mengandalkan ketrampilan, ia pasti akan gagal menjadi penyair. Sebab syair dari orang sehat akan kalah di hadapan syair orang gila yang memperoleh inspirasi.” Dalam Laws (hukum2) ia mengatakan: “….. apabila seorang penyair dikuasai oleh inspirasi (muse), dia tak lagi menguasai dirinya, melainkan menyerupai sebuah mata air yang membiarkan segala hal mengalir dari budinya.”

Dalam alam pikiran Yunani, inspirasi (Muse) adalah daya dorong yang buta yang menggerakkan penyair atau seniman untuk berkarya. Dalam kesadaran yang rasional, penyair malahan bisa kehilangan daya kreasinya. Maka dengan menyerahkan diri seluruhnya pada dorongan inspirasi, sang penyair sebetulnya kehilangan akal sehatnya karena ia memperlihatkan sesuatu hal yang tak terjangkau pikiran.

Dalam tradisi Yunani, dipercayai, bahwa inspirasi bersifat ilahi. Di lain pihak, seperti dalam Phaedrus, inspirasi seni hanyalah salah satu dari berbagai macam inspirasi. Di atas inspirasi seni masih ada inspirasi cinta akan keindahan abadi. Inilah inspirasi yang mendorong para filsuf untuk mencari kebenaran.

Muse (inspirasi seni) adalah sesuatu yang baik karena memberi dorongan untuk menghasilkan seni yang baik, menghindari penciptaan seni yang hanya berdasarkan keahlian tehnis.

Hubungan antara muse dengan mimesis. Jiwa tidak hanya baka (tak mati), tetapi juga kekal. Sebelum bersatu dengan badan, jiwa mengalami pra-eksistensi, memandang Idea-idea. Mengenal sesuatu berarti mengingat akan Idea-idea. Dalam keadaan kemasukan muse, jiwa penyair bersentuhan dengan dunia ilahi, dunia idea, dia mengingat akan idea-idea. Maka dalam keadaan kemasukan muse, penyair hanya bisa meneladan dunia idea. Meniru dunia Idea yang pernah dipandangnya.

Kreasio Aristoteles

Aristoteles,  murid Plato menolak pandangan gurunya  tentang filsafat  Ide  dan mimesis. Menurut  Aristoteles,  penyair  tidak meniru  kenyataan,  tidak  mementaskan manusia  yang  nyata  atau peristiwa sebagaimana adanya. Seniman mencipta dunianya  sendiri, dengan  probabilitas  yang tak-terelakkan.  Menurut  Aristoteles, seniman  lebih  tinggi nilai karyanya  daripada  seorang  tukang. Karena  di  dalam mencipta itu seniman membuat dunia  yang  baru. Karya  seni adalah sesuatu yang pada hakekatnya baru, asli, ciptaan dalam arti sesungguhnya. Teori ini selanjutnya lebih dikenal teori kreasio.

Dua pendekatan ekstrem mempengaruhi pandangan dan aliran sastra di Barat. Bergerak dinamis dari paham yang satu ke paham lainnya.

Seni yang meneladani alam: Barat, Timur (India, China, Jepang, Melayu, Jawa: Basuki Abdullah & Affandi). Abad Pertengahan: ut natura poesis (seni harus seperti [meneladani] alam). Di dunia Arab, Cina, Jawa ada unio mystica (manunggaling kawula-gusti lewat keindahan).

 

BERBAGAI PANDANGAN TENTANG SENI SETELAH PLATO & ARISTOTELES

NO WILAYAH PANDANGAN TENTANG SENI
  Arab Penyair bukan pencipta dalam  arti  yang mutlak. Pencipta sejati: Tuhan.
     
  Jawa Kuno Penyair  sebagian besar mencari ilham dalam keindahan alam, dengan berkelana, lelangon, menelurusuri keindahan ini. Dalam puisi Jawa  Kuno, puisi  disamakan  dengan unio mystica: Keindahan  dianggap  penjelmaan  dari  Yang Mutlak.
  India Seni: meluapnya gairah kehidupan. Menurut kepercayaan Hindu, dunia merupakan  manifestasi kehidupan Bhatara Siwa yang sedang menari, penuh gairah hidup dan rasa bahagia. Nampak dalam relief-relief candi-candi maupun seni lukis di Bali. Tak dibiarkan ada kekosongan dalam kanvas.
  Cina Seni, sastra, harus meneladani tata semesta, kebenaran  sejarah dan kebenaran kemanusiaan. Pelukis tidak dihanyutkan oleh hiruk pikuk keramaian dunia. Yang disasar  oleh pelukis adalah untuk menangkap Ch’I, roh yang memberi kehidupan. Mengesampingkan keramaian dalam bentuk dan warna yang memabokkan. Seni Cina memberi tempat pada bidang yang kosong maupun waktu hening untuk kontemplasi.

Pandangan Plato tentang keindahan terdapat dalam buku Republic X, diturunkan dari pandangannya mengenai pengetahuan manusia.

ESTETIKA INDIA, CINA DAN JEPANG

Seni Zen Buddhisme (Koesbyanto, J.A. Dhanu, hlm. 65)

Koesbyanto, J.A. Dhanu, Firman Adi Yuwono. 1997.

Pencerahan, suatu Pencarian Makna Hidup dalam Zen Buddhisme. Yogyakarta: Kanisius. Seni merupakan luapan yang sangat natural, sangat dekat dengan alam, menggambarkan bentuk-bentuk dengan jelas dan hidup. Penggambaran alam dikenal sebagai suatu bentuk lukisan asimetris, atau disebut juga sbg gaya ‘satu-sudut’ (Suzuki, 1988: 26-27). Dalam seni Zen, kekosongan juga merupakan bagian dari seni (lukisan). Ungkapan salah satu master seni ‘sudut’ (Mayuan) adalah ‘painting by not painting’. Zen mengungkapkan ‘memainkan kecapi tak bersenar’. Perlu seni menyeimbangkan bentuk-bentuk terhadap ruang ‘kosong’.

“Ketidakseimbangan, ketidaksejajaran suatu ruangan, kemiskinan, sabi atau wabi, kepalsuan, kesunyian, merupakan ciri khas budaya dan seni Jepang (Suzuki, 1988: 27-28).

“Bentuk yang mudah dilihat, disentuh, dan dirasakan sebagai suatu hasil pengetahuan intuitif ditemukan dalam seni. Alasan mengapa seni mendapat tempat khusus untuk memahami ajarah Zen, karena karya seni dalam Zen merupakan wujud nyata yang bisa dirasa atau direfleksi. Ajaran tentang hidup dalam Zen ditemukan dalam seni. Suzuki menyatakan, Life is an art, yaitu hidup merupakan manifestasi kebebasan. Seperti burung-burung di awan dan ikan-ikan di air, itulah hidup. Bentuk kebebasan hidup tergambar dalam seni, yang tidak lain adalah kehidupan itu sendiri (Suzuki, 1969: 69).

Estetika Jawa

(Sastra dan Ilmu Sastra, Teeuw)

Dalam puisi Jawa Kuno, khususnya dalam kakawin, aspek memetik, peneladanan alam oleh penyair kuat sekali: penyair sebagian besar mencari ilham dalam keindahan alam, dan dia biasa berkelana, lelangon, menelurusuri keindahan ini. Dalam puisi Jawa Kuno, puisi disamakan dengan unio mystica, persatuan antara manusia dengan Tuhan lewat keindahan: manunggaling kawula-gusti. Keindahan yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda-beda selalu dianggap penjelmaan dari Yang Mutlak. Segala keindahan pada hakekatnya satu dan sama (223-224).

Jauh sebelum Maritain, para kawi (penyair) di Jawa pada zaman Kediri dan Majapahit melukiskan pengalaman itu dalam kakawin2 dengan istilah2 yang hampir sama. Mereka berkelana ke pantai, mendaki lereng2 gunung untuk berjumpa dengan alam dan menangkap getaran keindahannya, lalu merasa terhanyut di dalamnya. Mereka seolah2 mengalami suatu ekstasis (harafiah: berdiri di luar dirinya sendiri), terangkat jauh di atas kekerdilannya sendiri. Suara burung elang pada akhir musim kemarau mereka umpamakan dengan rasa rindu seorang pemuda akan kekasihnya. Perasaan subyektif mereka proyeksikan ke dalam alam, dan sebaliknya alam bercerita tentang manusia. “Kalau kau nanti menjelma sebagai bunga asana, aku menjadi kumbangnya”.

Saling penetrasi antara manusia dan alam kita jumpai dalam karya sastra klasik dan oleh Van Peursen dilukiskan sebagai ciri khas alam pikiran mitis. Dan sang Profesor dari Leiden mengingatkan kita, bahwa alam pikiran mitis tidak hanya terbatas pada manusia dahulu kala tetapi dalam manusia modern pun kadang-kadang masih muncul, yaitu pada saat-saat ia merasakan kebersatuannya dengan alam raya. Adapun suatu tanda keterasingan, bila saat-saat itu makin jarang kita alami(hal.12). Kant dan banyak filsuf lain menandaskan, bahwa pengalaman estetik itu bersifat “sepi ing pamrih”, manusia tidak mencari keuntungan, tidak terdorong oleh pertimbangan praktis. Bagi Kant dan para filsuf dan seniman sebelumnya alamlah yang merupakan sumber utama bagi pengalaman estetik. Pendapat itu dibantah oleh sementara filsuf modern. Bagi mereka obyek utama pengalaman tentang keindahan adalah karya seni, bukan alam (hal.13-14). Menurut pandangan klasik itu pula, maka terjadilah suatu karya seni berpangkal pada pengalaman estetik yang timbul dari perjumpaan dengan alam. pada saat pengalaman setetik manusia merasa bahagia, merasakan suatu “ekstatis”. Tetapi pada saat itu mungkin hanya berlangsung selama bebrapa detik, pasti tidak lama.

Lalu seniman ingin mengabadikan saat yang membahagiakan itu, dan terjadilah karya seni.

Contoh seni sastra yang menarik & bermanfaat: “TEMPAYAN RETAK”

Tiga macam ukuran

– Gedung itu tinggi, batu itu besar – sektor matematik (fenomena)

– Rumah itu indah – sektor estetis (pengalaman estetis)

– Perbuatan itu jahat – sektor moral (pengalaman moral)

Kant, Windelband, Ricket: kehidupan manusia digerakkan oleh 4 nilai dasar: kebaikan, kebenaran, keindahan dan ketuhanan. Mashab Skolastik pada Abad Pertengahan: Segala sesuatu yang ada, sejauh itu ada, bersifat tunggal, benar, baik dan indah.

Sikap estetis dibedakan dari:

– sikap praktis (untuk apa, hasilnya apa, untungnya apa?)

– usaha menggunakan demi tujuan tersembunyi

– sikap “ingin tahu”, misalnya dalam melihat sebuah candi atau dalam mengagumi pelangi.

Menurut Susanne Langer, (Manusia multi dimensional), ada 3 hal yang perlu diperhatikan tentang seni.

  1. Seni merupakan kreasi. Penciptaan sesuatu yang tadinya belum ada. Memang sebelumnya sudah ada bahan-bahan tertentu yang dipersiapkan seperti cat, kuas, kanvas. Tetapi lukisan itu merupakan ‘ciptaan’ pelukis. Pelukis bukan hanya ‘melepotkan’ cat dalam secarik kain sehingga kain itu menjadi kotor berlepotan cat, melainkan ia sungguh ‘mencipta’ lukisan yang sesuai dengan konsepsi seninya, sehingga lukisan itu belum pernah ada sebelumnya.
  2. Seni bersifat simbolis. Transformasi dari pengalamannya. Universalisasi dari pengalaman. Seniman itu sudah merenungkan dan merasakan pengalaman langsung itu lalu membuatnya menjadi suatu pengalaman umum.
  3. Pengalaman seniman dalam kreasi itu bukan berasal dari pikirannya, melainkan dari perasaannya. Jadi merupakan pengalaman emosional.

ESTETIKA PERTENTANGAN DAN SENI MODERN (Manusia dan Seni, Dick

Hartoko, hlm. 43).

Seorang kolektor lukisan senior mengunjungi sebuah pameran lukisan modern hendak melihat-lihat lukisan yang bisa dibawanya pulang untuk menambah koleksinya. Tetapi sesampai di sana dia kecewa karena tak satu pun lukisan yang dia taksir. Menurut dia, lukisan-lukisan di sana tidak indah. Tidak menerbitkan selera untuk mengoleksinya. Dia mengeluh terhadap seni modern.

Seni modern rupanya sukar dimengerti, bahkan mengejutkan. Para seniman modern tidak tertarik lagi oleh keindahan, keharmonisan, dan kesedapan, melainkan oleh sesuatu yang menggemparkan dan merisaukan hati. Yang dalam kesenian tradisional disinggung saja, atau disublimir, diabstrakkan atau dilapisi dengan cahaya keindahan, kini ditonjolkan secara blak-blakan, kasar dan serba menantang.

Sifat umum yang dewasa ini sering nampak dalam kesenian dunia Barat tak lain dan tak bukan ialah usaha untuk menimbulkan efek “shock”, memperlihatkan rasa frustasi dan kejemuan yang dirasakan oleh sang seniman …. sebagai masyarakat.

“Shock”: menggoncangkan yang dulu dianggap mapan dan stabil, melemparkan batu ke kaca-kaca yang melindungi harta nilai-nilai tradisional, dengan sengaja menertawakan dan mencemoohkan apa yang oleh angkatan-angkatan dulu dianggap suci dan keramat, memberontak terhadap tata tertib yang dulu tak pernah diragu-ragukan serta membubuhkan tanda tanya di belakang setiap pernyataan atau ucapan.

Kita sering melihat sebuah lukisan yang rasanya ‘tidak indah’, mendengar musik yang ‘tidak enak didengar’, tarian kontemporer yang ‘tidak bisa dinikmati’. Dalam sastra kita kenal ‘puisi mbeling’, puisi konkret, sastra kontemporer. Para seniman modern sepertinya tidak tertarik lagi oleh keindahan, keharmonisan dan keserasian, melainkan oleh sesuatu yang menggemparkan dan merisaukan hati. Seni modern menjungkir-balikkan tatanan lama yang dianggap mapan dan stabil, mencemoohkan apa yang oleh angkatan lama disanjung-sanjung, dianggap keramat. Seni kontemporer memberontak terhadap tata-tertib klasik.

Untuk menghadapi seni modern itu, Jurij Lotman mengajukan teorinya mengenai estetika keselarasan dan estetika pertentangan. Estetika keselarasan untuk mewadhai seni klasik maupun seni tradisional, sedang estetika pertentangan  untuk mewadhai seni modern. Tetapi kita bisa bertanya, benarkah bahwa semua seni modern menganut estetika pertentangan, sedang semua seni tradional menganut estetika keselarasan? Mungkin juga tidak bisa ditarik garis lurus demikian. Tidak sedikit kiranya seni modern yang indah, dan seni tradisional yang mengejutkan (Hartoko, 45).

Menurut estetika klasik, yang indah itu membawa keselarasan dan keteraturan; membawa ketenangan dan kebahagiaan, sedangkan seni modern menggoncangkan, menyimpang dari tradisi.

Seni sejati tumbuh dari kewajaran dan kejujuran. Jujur menurut suara hatinya, wajar menurut situasi diri dan lingkungannya (Bakat Alam dan Intelektualisme, Subagja Sastrawardaja, 31).

Seni modern membawa corak dan norma2 penilaiannya sendiri. Seni lama telah berabad-abad berkumandang dalam sanubari masyarakat, telah memperoleh penerimaan dari masyarakat. Telah membentuk selera dan menentukan norma2 penilaian. Sudah selayaknya merasa berhak memandang diri wajar dan “asli” dan berhak mendapatkan nama “seni klasik”. Kedatangan seni modern yang membawa ukuran2 penilaian sendiri menimbulkan kekhawatiran akan menggoyahkan

selera dan penilaian yang telah mendarah-daging dalam masyarakat (Bakal Alam dan Intelektualisme, 32-33).  … teruskan hlm. 33

Pendukung serta pemelihara seni lama amat cenderung memandang pertumbuhan seni modern sebagai peniruan belaka dari seni asing yang berpokok pada kebudayaan Barat.

Seni modern membawa ukuran-ukuran penilaian sendiri dan kedatangannya menimbulkan kekwatiran akan menggoyahkan selera serta penilaian yang telah ada (hal.33).

Sebaliknya seni modern mendasarkan kekuatannya pada “kemodernan”nya, kepada kesanggupan mencerminkan semangat zamannya. Semangat zaman itu biasa dinyatakan dalam kemauannya yang hendak “asli” selalu, bukan “asli” dalam arti asal dan milik bangsa sendiri yang bertentangan dengan yang asing, seperti yang hendak dicita-citakan oleh pendukung lama, melainkan “asli” dalam arti mendukung orisinalitas, tidak mengulang ungkapan penciptaan yang telah ada. tuduhan yang pokok yang dilontarkan kepada seni lama adalah kecendrungannya mengulang-ulang berbagai anasir pengungkapan seni bahkan sebagai dasar pikiran beserta perumusannya. Pengulangan itu telah menumbuhkan ikatan tradisi berupa norma-norma-norma penciptaan seni yang beku dan kaku, yang menurut persangkaan pendukung seni modern akan menghambat pemikiran dan pemikiran seni yang “asli”, yang orisinil. Pernyataan diri dalam seni lama hanya berupa “klise” belaka, “jiplakan” atau “blangkon” (menurut istilah Jawa), yang tak ada nilainya sebagai seni  (hal. 33).

Kedua pandangan yang betentangan itu ada kebenarannya dan ada kelemahannya. Kalau kita perhatikan dengan seksama, maka kedua-duanya mempergunakan rumusan pandangan yang bersamaan: menghendaki yang “asli” dan menolak “peniruan”, hanya pandangan itu masing-masing memiliki titik tolak yang berbeda (hal. 33)

Seni lama mendasarkan nilai dan penilaian seni pada sifat “asli” yang sesuai dengan tradisi bangsanya, sedang keaslian itu tidak hanya mengenai segi pengungkapannya yang lahir belaka, melainkan harus sesuai juga dengan isi dan taraf moral bangsa sendiri yang hendak diungkapkan. Peniruan kepada pengungkapan seni bangsa yang asing dengan bayangan moral yang asli tidak direlakan di dalam kehidupan seni.

Dapatkah berhadapan dengan ukuran penilaian demikian, seni modern berhak melangsungkan hidupnya, kalau ia bertolak dari pandangan bahwa nilai seni asli tergantung dari sifat “asli”nya, menolak tradisi pemikiran dan pengungkapan bangsanya, yang tidak lagi dipandang sebagai “asli” dan tidak mengandung orisinilitas?

Dengan perkataan lain: Adakah perkembangan seni modern wajar di Indonesia?

SENI SASTRA

(Sastra dan Ilmu Sastra, Teeuw)

Seni hanya dapat meniru dan membayangkan hal-hal yang ada dalam kenyataan yang tampak, terletak di bawah kenyataan itu sendiri di dalam hirarki. Wujud yang ideal tidak bisa terjelma langsung dalam karya seni. Namun seni tidak kehilangan nilainya sama sekali. Sebab walaupun seni terikat pada tataran yang lebih rendah dari kenyataan yang tampak, seni sungguh mencoba mengatasi kenyataan sehari2.

Di dunia Arab pun penyair bukan pencipta dalam arti yang mutlak. Penyair terikat pada ciptaan Tuhan yang merupakan model yang sempurna. Dalam puitik Cina pun aspek mimetik ditekankan. Seni, sastra harus meneladani tata semesta, kebenaran sejarah dan kebenaran kemanusiaan.

Dalam puisi Jawa Kuno, khususnya dalam kakawin, aspek memetik, peneladanan alam oleh penyair kuat sekali: penyair sebagian besar mencari ilham dalam keindahan alam, dan dia biasa berkelana, lelangon, menelurusuri keindahan ini. Dalam puisi Jawa Kuno, puisi disamakan dengan unio mystica, persatuan antara manusia dengan Tuhan lewat keindahan: manunggaling kawula-gusti. Keindahan yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda-beda selalu dianggap penjelmaan dari Yang Mutlak. Segala keindahan pada hakekatnya satu dan sama (223-224).

Jauh sebelum Maritain, para kawi (penyair) di Jawa pada zaman Kediri dan Majapahit melukiskan pengalaman itu dalam kakawin2 dengan istilah2 yang hampir sama. Mereka berkelana ke pantai, mendaki lereng2 gunung untuk berjumpa dengan alam dan menangkap getaran keindahannya, lalu merasa terhanyut di dalamnya. Mereka seolah2 mengalami suatu ekstasis (harafiah: berdiri di luar dirinya sendiri), terangkat jauh di atas kekerdilannya sendiri. Suara burung elang pada akhir musim kemarau mereka umpamakan dengan rasa rindu seorang pemuda akan kekasihnya. Perasaan subyektif mereka proyeksikan ke dalam alam, dan sebaliknya alam bercerita tentang manusia. “Kalau kau nanti menjelma sebagai bunga asana, aku menjadi kumbangnya”.

Kant dan banyak filsuf lain menandaskan, pengalaman estetis bersifat “sepi ing pamrih”, manusia tidak mencari keuntungan, tidak terdorong oleh pertimbangan praktis. Tiga macam orang menyaksikan kuningnya padi.

Alamlah sumber utama bagi pengalaman estetik. Pengalaman estetik timbul dari perjumpaan dengan alam. Pengalaman estetik hanya berlangsung beberapa detik/menit. Lalu sang seniman ingin mengabadikan saat yang membahagiakan itu. Terjadilah karya seni. Setiap kali ia memandang karyanya, teringat kembali akan saat yang indah itu, yang bersifat simbolik. Sang seniman ingin meng-ungkapkan isi hati dan pengalaman spiritual lewat lambang2, entah lambang visual (lukisan patung), auditif (bahasa, musik) entah lambang jasmani (tari). Alamlah yang memberi ilham pertama kepada seorang seniman.

Estetika Cina: tao – jalan; – prinsip kehidupan, penggerak. Peran seniman menangkap tao, menampilkan/menerjemahkan dalam karya seni. Perlu kontemplasi, penyucian indra seniman, jernihkan jiwa. Hsieh Ho, akhir abad ke-5, mengatakan gerak kehidupan ch’i. Ruang kosong (lukis) dan waktu sunyi (musik) melambangkan dimensi spiritual, sama penting dengan yang ada (coretan, nada). Tsung Ping, seorang pelukis pemandangan alam, sebelumnya bermeditasi sambil memetik kecapi.

Estetika Jawa: kalangwang – seni puisi, keindahan; kakawin – syair; kawi – penyair, pujangga, s profesional dalam bidang (seni) sastra. Kawindra, kawi raja, kawi nagara, wiku, sunya,  taruna, wadhu. Manggala kepada Wisnu, Siwa, Kama, Ratih, Saraswati. Pengalaman estetis: ahanyutan, lango, lengeng, lengleng – rapture, ekstasis, berdiri di luar diri sendiri.

SENI SASTRA

(Sejarah Sastra Ind. Abad XX, 2000, Kratz. Jakarta: KPG).

Seni adalah keindahan dan kehalusan (Kratz, 2000, 90). Keindahan dan kebagusan bahasa, itulah kesusastraan. Susunan bahasa yang bagus, teratur dan menarik sanggup menaklukkan hati sekeras batu, bisa mendingin hati sepanas api dan bisa menghangatkan hati sedingin es. Kesusastraan sanggup menyihir dan mempesona orang yang mendengarkannya. Bisa lebih tajam daripada pedang dan senjata.

Seorang ahli pidato bisa menyihir pendengar karena gaya pidatonya yang memikat sehingga apa yang dikatakannya meresap ke dalam hati dan dilakukannya. Contoh cerita 1001 malam. …

Seni untuk seni dan seni untuk masyarakat merupakan kesatuan. Pengarang adalah seorang individu yang berdiri sendiri, anggota masyarakat dan makluk Tuhan (Kratz, 422).

Tanggung jawab dan sumbangan sastrawan terhadap masyarakat (650). Fungsi sastra sebagai kritik sosial; moral. …Mengapa orang senang hasil rekaan? Ingin hiburan. Mencari pelarian. Contoh sastra lama: Bayan Budiman. Sastra yang menghibur dan mendidik.

Kesenian memiliki saham penting dalam pembangunan karena dapat mempengaruhi, mengilhami dan membimbing masyarakat dewasa ini dan yang akan datang. Mencipta dan memelihara seni adalah tanggung jawab, dan tanggung jawab ini banyak hubungannya dengan hal-hal lain di luar bidang seni yang merupakan masalah-masalah besar (Kratz, 464).

Dalam seni hadirlah manusia. Dalam karya seni sejati, kemanusiaan apa yang hadir? Kebenaran, kejujuran dan rasa indah, ekspresi-subjek dan ekspresi-objek, semua ini cukup untuk menentukan nilai sebuah karya (467).

Pandangan dari Plato – pandangan modern; dari Barat, Timur, Jawa. Beri contoh-contoh dalam pelukisan (Arjuna Wiwaha), pencandraan Jawa!

SENI SASTRA

BAHASA SASTRA mempunyai fungsi estetik yang menonjol. Bahasa Sastra adalah bahasa bergaya. Ciri bahasa sastra dapat dilihat dari gaya bahasanya, yaitu penggunaan bahasa secara khusus yang menimbulkan efek tertentu, efek estetis. Menurut Slametmuljana (dan Simorangkir Simanjuntak, Tanpa tahun: 20) gaya bahasa (ekspresif) yaitu susunan perkataan yang terjadi karena perasaan-perasaan dalam hati pengarang yang menimbulkan perasaan tertentu dalam diri pembaca.

Fiksi bisa berfungsi sebagai hiburan, pelipur lara, tetapi juga sarana yang baik bagi pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan. Horatius mengatakan sastra harus memiliki sifat-sifat indah (dulce) dan berguna (utile) (Teeuw, 1984: 51). Demikian pula novel sebagai karya sastra harus bisa dinikmati pembaca tetapi harus juga memiliki sesuatu yang bersifat mendidik. Novel yang menghibur saja tanpa bisa mendidik, tidak banyak gunanya, bahkan bisa menjadi candu dan meracuni bangsa. Sebaliknya novel yang hanya bersifat mendidik saja, tidak ubahnya sebagai buku petunjuk pendidikan yang bersifat menggurui dan akan ditinggalkan anak karena membosankan.

Vitamin maupun obat untuk anak kecil diberi rasa jeruk agar disenangi anak-anak. Demikian pula novel sebagai karya sastra harus diolah sedemikian rupa sehingga orang maupun anak tertarik untuk membaca dan menikmatinya, dengan demikian bisa mendapatkan sesuatu yang berguna untuk hidupnya, terutama kehidupan spiritual.

Pembaca yang serius membaca cerita rekaan tidak hanya sebagai pengisi waktu atau sebagai hiburan. Ia ingin memperoleh suatu pengalaman baru dari karya yang dibacanya itu. Ia ingin memperkaya batinnya dengan memperoleh wawasan yang menyebabkan ia lebih dapat memahami liku-liku hidup ini. Karya sastra yang baik dapat membekali dirinya dengan kearifan hidup (Sudjiman, 1991: 12). Menurut Budi Darma, kalau perlu karya sastra justru membuka kebobrokan untuk bisa menuju ke arah pembinaan jiwa yang halus, manusiawi dan berbudaya (1984: 47). Seni, termasuk sastra, filsafat dan agama pada hakekatnya adalah cara-cara yang berbeda dengan tujuan yang sama, yaitu membentuk jiwa “humanitat”.

Novel merupakan sarana yang baik untuk pendidikan di sekolah. Menurut Driyarkara, pendidikan adalah memanusiakan manusia-muda. Humaniora membentuk manusia pembangun yang bermoral dan bermental tinggi. Pendidikan humaniora memperkembangkan segala unsur kepribadian manusia: budi, cipta, rasa, dan karsa. Kepekaan rasa keindahan, rasa empan papan.

Orang bisa belajar banyak dari sebuah novel yang baik. Dari situ bisa digali berbagai macam nilai-nilai kehidupan, misalnya nilai kejujuran, kesetiaan, nilai sosial, religius, dst. Novel yang baik bisa memantulkan bermacam-macam dimensi kehidupan. Lalu bagaimana novel disampaikan kepada siswa? Lewat pengajaran dan pembelajaran.

Karya sastra muncul dari pengalaman hidup manusia: pengalaman diri sendiri (pencarian diri, pembrontakan diri dsb); pengalamannya di dalam berhubungan dengan orang lain, di dalam keluarga, masyarakat; pengalaman iman dengan yang transendens (ilahi) (Hartoko (ed.), 1985: 59). Menurut Rahmanto, ada 3 dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan munculnya penulisan sastra, yaitu dorongan religius, dorongan sosial dan personal (1988: 13-14).

Ada hubungan yang sangat dialektik antara sastra dengan masyarakat. Karya sastra dipengaruhi oleh keadaan masyarakat. Bahkan menurut Duvignaud, karya sastra dilihat sebagai dokumen sosio-budaya. Di pihak lain sastra diharapkan mampu mempengaruhi masyarakat. Menurut Horatius, seniman bertugas untuk menghibur dan mendidik, dan menggerakkan pembaca (movere) ke kegiatan yang bertanggung jawab (Teeuw, 1984: 51).

Ada berbagai cara manusia menuliskan pengalamannya sebagai karya sastra. Pada hakekatnya, karya-karya sastra selalu menghembuskan semangat jaman dan nafas lingkungan tempat tumbuh dan berkembangnya. Semangat jaman dan nafas lingkungan itu bisa sekedar hanya tersirat tetapi bisa juga secara terbuka dan jelas. Dengan demikian, ia bisa berbentuk penghidangan utuh (representasi), penghidangan sebagian maupun tersamar (imitasi), tanggapan (reaksi), maupun merupakan pengolahan pengalaman di dalam perenungan yang dalam (refleksi). Sastra sanggup memuat berbagai medan pengalaman yang sangat luas (Rahmanto, 1988: 25).

HUBUNGAN ANTARA FAKTA DAN FIKSI

Karya sastra atau fiksi terjadi karena manusia mengalami persentuhan dengan alam kehidupan. Dia mengalami pengalaman estetis. Dari pengalaman estetis itu manusia ingin mengabadikan pengalaman yang membahagiakan untuk diri sendiri dan juga untuk membagikan kepada orang lain. Dengan demikian ia menjadi lega, menjadi plong. Dia mengalami katharsis atau pengosongan. Pengungkapan pengalaman estetis itu bisa lewat lukisan di kanvas, lewat kata-kata yang intens (puisi) maupun pengungkapan yang bebas (cerita), lewat lagu, gerak (tari), maupun lewat bentuk (pahatan). Ia ingin menyajikannya secara gamblang atau mengolah-nya menjadi sesuatu yang tersamar.

Maka tidak mengherankan apabila dalam karya sastra ada keserupaan dengan dunia nyata. Perbedaan: sastra lebih leluasa. Hal yang tidak mungkin di dalam kehidupan nyata bisa dimungkinkan di dalam dunia fiksi. Unsur kemungkinan sastra lebih besar daripada dunia nyata yang terbatas. Unsur rekaan ini yang memungkinkan lebih leluasa.

Cerita ada yang dibuat berdasarkan fakta (mimesis). Tetapi ada unsur yang direka-reka (kreasi). Cerita Rekaan bisa diarahkan, dibentuk sesuai dengan kemauan pencerita. Bisa diberi tema ttt. Kadang lebih leluasa daripada cerita faktual. Cerita bisa mengenai hal yang aneh2, dunia ‘sana’, filsafat, psikologis, dsb.

Bedanya cerita dengan laporan. Dalam laporan yang penting adalah kesesuaiannya dengan data. Sedangkan dalam cerita yang penting adalah pesannya. Temanya.

Cerita rekaan biasanya berangkat dari kenyataan. Ada kenyataan yang hanya terbatas pada ukuran indera: kenyataan lahiriah. Ada kenyataan batin, yang di luar ukuran indera.

Pengarang dalam mengolah realitas pengalaman hidup menggunakan proses mencipta kembali lewat imaginasi dan renungannya. (Dari Mochtar Lubis hingga Mangunwijaya, Rahayu Priyatmi, 9:)

Kenyataan tsb diolah dengan renungan, imajinasi dan teknik. Hasil olahan menjadi ‘kenyataan baru’. Schorer menyatakan, bahwa berbicara tentang teknik dapat dikatakan berbicara tentang segalanya. Keberhasilan sebuah cerkan banyak bergantung pada bagaimana teknik menampilkan tokoh, alur, latar, pusat pengisahan dan bahasa.

Iwan Simatupang menyimpulkan bahwa karya seni yang berhasil adalah yang memberi sugesti tentang sekian dimensi lainnya yang masih tersembunyi yang merangsang pembaca untuk terus-menerus mencari dan menemukannya.

Ada berbagai cara manusia menuliskan pengalamannya sebagai karya sastra:

  1. Menyuguhkannya secara langsung apa yang menjadi pengalamannya,    sebagai penghidangan yang utuh (representasi) lewat pengalaman    estetis (Film Tampomas, Zarima, Tsunami, Gempa Bumi di Jawa, Lumpur Sidoarjo).
  2. Membuatnya tersamar, menghidangkannya sebagian (imitasi) (Marsinah).
  3. Membuat tanggapan atas pengalamannya itu (reaksi) (Kasus 27 Mei).
  4. Mengolah pengalaman itu di dalam perenungan yang dalam (re- fleksi).

Pada hakekatnya, karya2 sastra (lisan) selalu menghembuskan semangat jaman dan nafas lingkungan tempat tumbuh dan berkembangnya. Semangat jaman dan nafas lingkungan itu bisa sekedar hanya tersirat atau secara terbuka lagi jelas. Dengan demikian, ia bisa berbentuk penghidangan utuh (representasi), penghidangan sebagian/tersamar (imitasi) maupun tanggapan (reaksi). Sejumlah Masalah Sastra, Satyagraha Hoerip (ed.) hlm. 195: Karya Sastra sebagai suatu renungan, Umar Junus

Karya sastra merupakan suatu reaksi terhadap suatu keadaan atau peristiwa. Reaksi itu bisa berupa reaksi spontan atau reaksi yang direnungkan. Reaksi spontan biasa terjadi apabila penulisan itu lebih dekat dengan waktu peristiwa. Oleh karenanya lebih dipengaruhi oleh emosi. Maka lebih emosional, merupakan ungkapan mentah, berupa rasa marah, senang. Reaksi spontan biasanya kurang pengolahan, dan merupakan luapan yang kurang terkontrol. Sedangkan reaksi yang direnungkan biasanya diolah dan dipikirkan sehingga lebih matang. Biasanya renungan dibawa ke tahap pemikiran yang abstrak dan mengandung filsafat yang dalam.

Korupsi-nya Pramudya Ananta Toer, 1954 lebih merupakan reaksi spontan terhadap keadaan di Indonesia pada masa itu karena ia bereaksi terhadap gejala yang mulai berkembang ketika itu, yaitu korupsi. Dekat dengan peristiwa konkret. Dokter Zhivago-nya Boris Pasternak, lebih merupakan renungan kembali dari peristiwa yang terjadi pada revolusi Rusia. Ia melihat sisi negatif dari peristiwa tersebut, hal yang mustahil dilukiskan Pasternak kalau saja ia masih berada dalam suasana romantika revolusi itu.

Tak ada Hari Esok (1950) terkesan merupakan reaksi spontan. Tetapi Tanah Gersang (1964) maupun Maut dan Cinta (1977) sudah merupakan renungan.

Kering dinyatakan ditulis pada awal tahun 60-an, tapi mungkin sekali telah diolah kembali pada tahun ’68 atau sesudah ’68. Di sana disebut Sirhan, pembunuh Kennedy tahun 68. Tidak dapat dirasakan sebagai reaksi spontan terhadap keadaan.

Ketiga novel Iwan berhubungan dengan keadaan Indonesia. Merahnya Merah berhubungan dengan revolusi dan kehidupan orang yang keluar dari revolusi, serta kehidupan gelandangan. Ziarah berhubungan dengan kehidupan sosial-budaya-politik Indonesia yang dikuasai hal-hal irrasional. Kering berhubungan dengan keterikatan Indonsia kepada kondisi, terutama kondisi alam, dan bagaimana orang berhasil bila ia dapat memanipulasi kondisi itu.

Tetapi semua ini tak mungkin dengan cepat bisa kita temui pada novel-novel tsb. Karena ia tak mengucapkannya dalam pernyataan yang jelas. Ia terselubung dalam keseluruhan jalinan, sehingga tak tampak kalau tidak dianalisa lebih dulu secara dialektik. Tak ada hubungan langsung antara satu peristiwa dalam novel itu dengan satu peristiwa dalam kehidupan konkret.

Keadaan ini terjadi karena Iwan mengambil jarak dengan kenyataan yang dilukiskannya. Kenyataan bukan dilihatnya sebagai suatu fenomena an sich, tapi sebagai realisasi dari suatu konsep filsafat yang agak abstrak. Fenomena yang konkret diangkat ke tingkat yang abstrak, dinyatakan dalam sistem filosofi yang abstrak pula.

Secara filsafat Iwan melihat kehidupan sosio-budaya-politik Indonesia  sebagai kehidupan yang dikuasai oleh pemikiran irrasional. Suasana irrasional ini memang menguasai setiap novel Iwan. Suasana irrasional, bukan unsur-unsur konkret, yang terdapat dalam novel-novel Iwan.

Iwan dalam menulis novelnya telah mengadakan jarak terhadap fakta konkret. 1) Ia telah mengadakan jarak waktu. Ia menunggu persoalan telah menjadi persoalan yang kompleks, bukan hanya merupakan permukaan sebagai novel Korupsi-nya Pramudya. 2) Ia juga mengadakan jarak emosional. Ia tidak merasa dirinya terlibat langsung dalam fakta yang disaksikannya. 3) Iwan melihat fenomena sebagai manifestasi suatu konsep yang bisa dihubungkan dengan suatu pemikiran filsafat. Fenomena konkret telah diabstrakkannya menjadi fenomena filsafat.

Hal-hal tsb membuat novel lebih terasa sebagai suatu renungan, bukan lagi reaksi spontan. Ini selanjutnya menyebabkan novel tsb tampak sebagai karya yang padat, padu dan menyeluruh, saling berintegrasi unsur-unsurnya. Dengan menggunakan istilah Goldmann novel itu memenuhi 2 syarat novel yang kuat, yaitu unity (kesatuan, kepadatan) serta kompleksity (keragaman).

Begitulah renungan sebagai pengadaan jarak telah memungkinkan karya ini menjadi karya yang berhasil. Karya yang lebih merupakan hasil renungan. Demikian pula Belenggu-nya Armijn Pane sebagai suatu karya sastra yang kuat, yang sulit tertandingi sebelum kedatangan novel-novel Iwan. Karya-karya yang tidak tenggelam pada ‘propaganda’ dan reaksi spontan yang menguasai novel-novel sebelum Perang Dunia II.

KEBUDAYAAN INDONESIA DAN KEPRIBADIAN BANGSA.

Pada suatu hari seorang kawan, orang Jawa, datang berkunjung dan mengamati kedua lukisan itu. Segera saja kawan itu memberikan pendapatnya tentang kedua lukisan itu. Dia tidak menyukai lukisan Popo karena lukisan itu “bukan lukisan Indonesia” dan dengan demikian “tidak mencerminkan kepribadian Indonesia”. Sedangkan lukisan gaya Kamasan itu dia sukai karena menurutnya lukisan itu adalah “lukisan Indonesia” yang mencerminkan “kepribadian Indonesia”.

Kawan yang menyukai lukisan gaya Kamasan itu menyukai gaya itu karena dia merasa akrab dengan tema lukisan itu. Dia tidak menyukai lukisan Popo karena dia merasa asing dengan “pesan” yang dilukis pelukis itu. Atau setidaknya dia merasa asing dengan cara Popo menggarap “pesan” itu.

Kawan itu merasa akrab dengan tema lukisan itu karena dia mengerti simbol-simbol yang disampaikan pelukis itu kepadanya. Yakni simbol-simbol yang ditimba dari cerita pewayangan dari Mahabarata.

Jadi kita melihat bagaimana satu lukisan seperti lukisan gaya Kamasan itu dilahirkan sebagai bagian dari dunia yang utuh. Satu jagad, satu kosmos. Lukisan itu sama seperti wayang, relief, pura, lontar, gamelan mereka, adalah  satu dari sekian media komunikasi kebudayaan banjar itu. Fungsinya adalah untuk mengikat solidaritas warganya, menyatakan kesetiaan warganya kepada komunitas, dalam hal ini banjar Sangging itu. Maka setiap kali satu lukisan selesai dan dibeberkan di atas tanah atau meja, orang-orang baik tua-muda, lai-perempuan maupun anak-anak akan datang mengerumi dan mengagumi untuk kesekian kali tema-tema yang sudah dikenal dengan akrabnya.

Dengan demikian Popo Iskandar adalah seorang pelukis individualistis, hampi-hampir soliter, kuat dan teguh dalam pengungkacapan identitasnya sendiri. sementara dia memelihara identitasnya sebagai seorang cendikiawan Sunda Popo Iskandar muncul sebagai pelukis dengan “cap”-nya sendiri. Satu “cap” yang dia kembangkan lewat satu formal training yang banyak menimba pengaruh dari dunia Barat ditambah dengan penghayatan sendiri.

Para pelukis Kamasan adalah pelukis komunitas yang ditempa oleh proses sosialisasi nilai-nilai budaya dalam satu komunitas yang (relatif) masih merupakan satu jagad agraris yang masih utuh. Kepribadian yang muncul dalam lukisan yang kemudian dikenal sebagai Kamasan itu adalah cermin dari proses sosialisasi yang demikian itu. Maka akan sangat sulitlah umpamanya untuk minta kepada seorang pelukis Kamasan melukis dalam gaya yang berlainan bahkan melukis obyek-obyek yang menyimpang dari tokoh-tokoh mitologi Bali ataupun  Mahabarata dan Ramayana.

Sedangkan Popo Iskandar adalah seorang pelukis individual, perorangan, mandiri, yang tumbuh dan dibesarkan dalam satu komunitas yang jauh lebih cair dari satu komunitas sepeti banjar Sangging di Kamasan itu. Maka “budaya”-nya adalah budaya yang muncul dari satu situasi yang cair dan sangat komunikatif dengan berbagai pengaruh itu. Kepribadiannya menjadi anggota dari suatu kepribadian komunitas.

Lukisan Kamasan adalah lukisan Indonesia dengan kepribadian Indonesia. Tentu saja. Dengan catatan ia akan terus tergarap dari titik pangkal nilai-nilai “masyarakat lama” ke perubahan baru.Lukisan Popo Iskandar adalah lukisan Indonesia dengan kepribadian Indonesia. Tentu saja. Dengan catatan ia akan terus digarap dari titik pangkal dialog gencar dengan nilai-nilai budaya asing. Orang-orang Batak, Minang dan suku-suku “non-wayang” lainnya akan tidak paham lukisan Kamasan. Tentu saja.

Orang-orang yang jauh dari dialog nilai-nilai budaya asing akan tidak paham lukisan Popo iskandar dan sebangsanya. Tentu saja. Dialog budaya di persada Indonesia akan terus juga berjalan (Umar Kayam, hal.11-20)

PENGHAYATAN SENI DAN EKSPLORASI SENI

Dua wajah kehidupan kebudayaan kita

Di samping pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang menyangkut lukisan-lukisan, dalam variasi yang agak lain tetapi dalam esensi yang sama bukankah agak sering juga kita dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti apakah sajak-sajak dan teater Rendra adalah “sajak-sajak dan teater Indonesia”, novel Iwan Simatupang “novel Indonesia”, musik Amir Pasaribu “musik Indonesia” dan apa yang Kaucari Palupi?” Asrul Sani “film Indonesia”?

Dalam berkonfrontasi itu dia tidak berhasil atau gagal mengenal dan menemui hal-hal yang dia sudah merasa akrab sebelumnya. Dia merasa gelisah dan tidak enak serta tidak comfortable pada waktu dia membaca “Nyanyia Angsa”, serta melihat “Minikata” Rendra. Juga pada waktu dia membaca Merahnya merah dan  Ziarah Iwan Simatupang. Asosiasi yang Ia dapat dalam percobaannya untuk menagnkap dan merangkai simbol-simbol yang ada dalam sajak, teater dan novel itu merupakan asosiasi yang jauh dari mengenakkan perasaanya, bahkan mungkin sekali juga menyiksa dan merusak imajinasinya.

Menurut dia “itulah lukisan indonesia yang asli”. Ia mengolah “tema yang asli” dan dilukis dalam “gaya yang asli”. Memang, tanpa sesuatu kesulitan tamu saya itu – seorang Jawa “asli” – mengnal tema itu. Yakni satu episode dari Arjuna Wiwaha, pada waktu Arjuna duduk bersamadi digoda oleh tujuh bidadari Suralaya yang cantik jelita. Dia merasa “enak” dan “senang” at ease dan comfortable- melihat lukisan itu karena dia ikut membagi dengan pelukisnya simbol dan pengalaman yang sama. Ia memiliki “kerangka fantasi” yang sama, setidak-tidaknya yang mirip dengan pelukisnya. Tidak terlalu penting baginya untuk sedikit meragukan, apakah Arjuna Wiwaha itu satu cerita yang “asli” betul atau cerita impor dari India…

Banyak tamu yang gelisah pada waktu ada acara deklamasi sajak-sajak Rendra serta pementasan drama satu babak “Lawan Catur” adaptasi Rendra. Mereka gelisah dan memberikan komentar yang lucu-lucu.

Sebaliknya, pada sedra tari Ramayana mereka bertemu kembali dengan idiom yang telah mereka kenal dengan akrab dan mesra.Dan mereka telah terbiasa membaca sajak-sajak gaya klasik melayu juga merasa tidak comfortable membaca Soneta Sanusi Pane dan sajak-sajak Amir Hamzah.

W.S Rendra menempatkan dirinya sebagai seorang “urakan” tetapi sekaligus juga seorang “tradisionalis”. Kedengarannya aneh tetapi sesungguhnya bisa dimengerti. Dia melihat dirinya sebagai urakan karena dia dengan sadar ingin memainkan peranannya sebagai seorang seniman kreatif yang ingin sewaktu-waktu menggoncangkan kelaziman-kelaziman yang membeku. Orang yang memilih peranan yang demikian melihat kelaziman yang sudah menjadi sleur,yang “secara reserve”lagi diterima oleh masyarakat sebagai sesuatu “kebenaran” yang berlaku, berbahaya. Seniman-seniman yang memilih tempat yang demikian selalu ingin melihat masyarakat sewaktu-waktu disegarkan oleh pikiran-pikiran dan pendapat-pendapat baru yang bisa merangsang masyarakat untuk terus memelihara dinamikanya.

Rendra bukan orang pertama yang mengambil sikap demikian. Sutan Takdir Alisjahbana dan Sudjojono pernah mengambil posisi demikian pada tahun tigapuluhan. Kemudian Chairil Anwar dan kawan-kawannya yang berkumpul di sekitar “Gelanggang” yang dikenal dengan sebutan Angkatan’45.

Orang-orang yang demikian, apakah dia seniman,sarjana, cendikiawan, seringkali berdiri di luar jalur-waktu perjalanan di masyarakatnya. Orang-orang demikian sering kali mempunyai kepekaan yang aneh yang dapat menerobos “jadwal normal” lingkungannya. Mereka adalah penjelajah-penjelajah kemungkinan-kemungkinan.

Maka dengan setting masyarakat seperti kita punyai sekarang, dimana beberapa segi wajah dan perjalanannya tadi telah sama-sama kita bahas, bagaimana dengan orang-orang tadi? Orang-orang seperti Rendra dan para avant-gardist lainnya itu? Tidak selalu lancar, hubungan itu. Salah-Tampa adalah ciri hubungan yang lebih sering terjadi daripada harmoni antara seniman-seniman yang memilih modernitas ini dengan masyarakat.

Mereka yang memilih peran menjadi peletak “suasana pembaruan”, penunjuk modern temper, bergerak tidak menurut jalur dua itu tetapi secara zig-zag menyerempeti jalur-jalur itu. Mereka inilah yang merasa belum cocok dengan simbol-simbol dan  image-image yang ditawarkan oleh penjelajah-penjelajah kemungkinan baru itu (Umar Kayam, hal. 22-36).

KREATIVITAS SENI DAN MASYARAKAT.

Pada waktu masyarakat masih merupakan masyarakat pertanian yang merupakan suatu “sistem ekologi” (Redfield, 1956) yang utuh dan saling berkaitan antara unsur pendukungnya, status suatu kreativitas seni agaknya sama dengan “kreativitas pertanian” seperti sabit, cangkul, bajak, jembatan bambu. Yakni suatu kreativitas yang berfungsi mengisi kelengkapan masyarakat.

Bagaimanapun, Cak sekarang adalah tarian-rakyat. Sebagaimana seni-rakyat lainnya juga Cak ini adalah suatu kesenian milik komunitas dan dari komunitas. Pencipta atau pencipta-penciptanya telah hilang ditelan masa dan untuk waktu yang lama telah di-“claim” oleh masyarakat. Dialog “tradisi agung” dan “tradisi kecil” di bidang kesenian di Bali agaknya berjalan lebih lancar dan integrative daripada jalan dialog antara dua tradisi ini di Jawa.

Mengacu pada analisis Redfield selalu terjadi dialog antara “tradisi kecil” dari dunia pedesaan dengan “tradisi agung” dari dunia kota.Kreativitas, sembarang kreativitas, adalah proses pengungkapan yang akan melahirkan satu inovasi. Inovasi itu karena ditemukan oleh manusia yang hidup bermasyarakat, berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Demikianlah dengan kretivitas kesenian.

Pada waktu kesenian kita tidak lagi mengacu kepada komunitas kecil, harus bagaimanakah kreativitas kesenian itu? Mengacu kepada komunitas besar yang disebut kota, yang sekarang cendrung untuk melalap desa itu?

Sudah waktunya kreativitas kesenian dipahami dalam konteks perkembangan masyarakat. Sudah waktunya “strategi pengembangan kesenian” mengacu kepada kaitan kreativitas seni dengan perkembangan masyarakat (hal.38-48).

PENGANTAR ILMU SASTRA

Perkenalan: dosen memberi contoh perkenalan diri. Asal, pendidikan, mengapa senang sastra, sejak kapan, dsb. Pengalaman menulis sastra dan studi sastra. Perkenalan satu per satu mahasiswa: mengapa (terdampar) di PBSID. Setiap kali ada yang menarik dikomentari.

Prospek PBSID: guru, wartawan, guru bahasa Indonesia untuk orang asing, redaksi, editor, penerbitan, pengarang. Kemungkinan dari PBSID. Jadi guru. Apa sih enaknya jadi guru? Guru sastra. Apakah sastra itu? Sastra adalah bidang humaniora. Humaniora adalah …… menjadikan orang bermoral, terdidik, beradap dan kreatif.

Sekarang, kenyataannya kuliah di PBSID. Bisa asal jalan nantinya jadi orang mogol, frustrasi, atau sadar akan keadaan, menerima dan mencintai, mau serius, sedikit demi sedikit mencintai PBSID, putar haluan. Perjalanan hidup/nasib: antara yang ideal dan kenyataan.

Saudara untuk menikmati hidup di PBSID hendaknya mulai mencintai dunia PBSID. Menyenangi sastra. Suka membaca karya sastra. Mulailah mencintai sastra.Penting: jangan setengah2 -> mogol: kuliah tidak tuntas, lulus2-an, sulit cari kerjaan. Prospek PBSID: guru yang punya peran penting dalam masyarakat, dalam profesi guru (Bu Sigit, Pak guru De Britto); guru dan penulis; dosen dan wartawan, dosen dan penyair;  penyair yang dapat penghargaan (Joko Pinurba).

Baca puisi Rendra, Seonggok Jagung di Kamar. Hubungkan dengan pendidikan yang kreatif, bukan pendidikan yang konsumtif. Pendidikan yang memerdekakan. Contoh pendidikan Rm. Mangun mengajari orang bertanya. Tanya tanda ingin tahu. Orang yang pasif: lulus sekolah menunggu orang memberi/menawari pekerjaan. Atau mungkin melamar pekerjaan, menunggu. Tidak bisa mencipta pekerjaan.

Ambil contoh mengenai majalah anak jalanan “JEJAL”. Mereka meskipun tak terpelajar, bisa membuat majalah. Meskipun tulisan tangan, jadilah. Mereka miliki kemauan dan keberanian. Itu yang penting.Contoh seri buku JEJAL. Anak tidak terpelajar, tak tamat SD,SMP, sanggup menulis semacam majalah. Kere yang sukses adalah …, hlm 15; Cerita Feri, hlm. 10.

Salah satu kegunaan sastra adalah membuat orang kreatif. Kreativitas bisa mengatasi masalah dalam hidup. Orang yang kreatif bisa menghadapi tantangan2 kehidupan. Bisa bertahan hidup bahkan hidup dengan sukses. Contoh dari kreativitas.

Orang yang kreatif: dagadu, pabrik kata2,  Kreativitas itu penting dalam kehidupan. Dengan kehendak gila dan kreativitas kita tidak akan mati kelaparan. Sebaliknya bisa mengantar orang menjadi orang sukses. Nyoman Togog tidak lulus SD tetapi karena kreativitas dan hoki, akhirnya dia menjadi seniman erkenal. Gagasannya sebetulnya sederhana, yaitu membuat pahatan yang menyerupai uah-buahan: pisang, jambu, apel, salak, alpokad, dsb. Dan ternyata gagasannya itu disenangi khalayak. Laku jual.

Adiknya Jaya Suprana di Bali mencipta ‘pabrik kata-kata’. Dia membuat slogan-slogan, kata-kata plesetan yang menyebabkan orang tersenyum, entah dalam tulisan kaos, dalam souvenir, dalam bahasa Inggris, Indonesia. Ungkapan-ungkapannya menarik minat banyak orang. Para turis ingin membawa slogan-slogan itu ke tempat asal mereka. Maka mereka membeli souvenir. Lakulah dagangannya dan digemari. Hampir setiap turis ingin mampir ke pondok ‘pabrik kata-kata’. Larislah dagangannya. Dia hanya berdagang ide. Bisa dibandingkan dengan Dagadu Yogya. Kalau kaum muda, pelajar, mahasiswa luar Yogya pergi ke Malioboro, yang diburu adalah kaos Dagadu. Ke Yogya belum membeli paling tidak tas, dompet, maupun souvenir merk Dagadu, rasanya belum puas.

Orang yang kreatif itu bisa membuat barang yang tidak dipakai, bekas, maupun sesuatu yang semestinya mengganggu, menjadi berguna. Misalnya lihat artikel majalah ini: “Mengais rejeki lewat sampah enceng gondhok.” Di sini dikatakan bahwa Enceng Gondhok yang biasanya dianggap sebagai pengganggu, sebetulnya banyak yang bisa dimanfaatkan. Banyak orang di sekitar Rawa Pening antara Ambarawa dengan Salatiga, hidup dari mengais rejeki kotoran Enceng Gondhok. Lumpur, kotoran dari Enceng dikumpulkan orang, dicampur sedikit kapur, jadilah pupuk hebat. Dijual ke Dieng untuk pupuk jamur merang, dibungkus plastik per kilo dijual untuk pupuk taman. Beberapa perusahaan menumpuk lumpur itu menjadi pegunungan dan setiap hari membawanya bertruk-truk ke Dieng.

Lalu batang atau pelepah Enceng Gondhok itu juga dibudidayakan menjadi bahan untuk tas, yang banyak digemari kaum muda. – Pemulung jadi jutawan berkat plastik sampah – Menghias cangkok telur; pakaian dari bahan bekas.- Budi daya jangkrik makin dilirik

Coba buat kreasi baru

Semangat manusia ke bulan; semangat Columbus; ide gila; penemuan pesawat, telephon, tivi, berawal dari ide gila.

Menghapus t dari I can’t: perasaan ‘tidak bisa’ melumpuhkan  kehidupan. Sebaliknya perasaan ‘tak ada lautan yang tak terseberangi, tak ada gunung yang tidak terdaki, tak ada jurang yang tidak bisa dituruni’. Berpikirlah bahwa ‘saya bisa’. Seorang cedera lutut yang menjadi juara main ski. Buku2 yang laris di Amerika dan dunia: Chicken soup for the soul, positif thinking, Emotional Inteligent, seven habits.

Cara mengampu mata kuliah yang baik, dengan contoh. Contoh yang dekat dengan mahasiswa. Yang up-to-date dan kontekstual. “Aku ingin jadi …” atau “Cita2 saya.” Cita-cita semula maupun cita2 sekarang (setelah saya sekarang ini jadi mahasiswa PBSID). Untuk mencapai cita2 itu, apa yang harus kukerjakan.

Pembelajaran di PT, bukan pengajaran. Dalam pembelajaran, jangan hanya menerima mata pelajaran dan menghafal, tapi harus menerimanya secara kritis, mengolahnya dan merefleksikannya. Baru membatinkannya. Menurut pemikiran Sudarminto, salah satu tantangan pendidikan masa depan adalah bagaimana mengupayakan pendidikan yang membentuk pribadi yang mampu belajar sendiri seumur hidup (lifelong learning) (Atmadi (ed.), 2000: 6). Menghadapi tantangan perubahan sosial yang cepat, pendidikan masa depan perlu sejak dini melatih peserta didik untuk mampu belajar secara mandiri dengan memupuk sikap gemar membaca, dan mencari serta memanfaatkan sumber informasi yang diperlukan untuk menjawab persoalan yang dihadapinya. Tidak kalah penting dari itu semua adalah belajar bagaimana belajar (learning how to learn), baik secara mandiri maupun dalam kerja sama dengan orang lain (Atmadi (ed.),  2000: 7).

Situasi pendidikan sekarang? Pendidikan di sekolah sekarang ini diisi kurikulum yang sangat padat. Murid dibebani banyak tugas, dijejali oleh hafalan2, sehingga murid dan orang tua sangat menderita. Anak2 dipaksa masuk IPA, mendapatkan NEM yang tinggi dengan cara apa pun. Les tambahan di mana2. —> manusia2 menghafal, robot, tidak kreatif. Pengajaran sekarang = indoktrinasi.

Sistem pendidikan kita: seperti bank, guru pandai – murid bodoh. Penuh ilmunya; murid kosong, guru mengerti semuanya, mengajar, menentukan, siswa menurut; guru aktif: indoktrinasi.Di PT pun, mahasiswa sulit bertanya. Sulit diajak untuk aktif. Karena apa? Pddk di SD, SMP, SMU dijejali ajaran2 untuk jadi penurut, bersikap pasif. Tidak pernah diajak dialog. Menurut penggagas pendidikan modern, Paulo Freire, pendidikan harus membebaskan dan memerdekan siswa. membentuk pribadi yang mampu belajar sendiri terus-menerus seumur hidup (life-long learning). Mampu mengolah masalah. Untuk menjadi manusia kritis dan kreatif. Siswa diajak untuk tidak hanya menelan saja apa yang diberikan di sekolah. Tapi harus mencernanya. Mengkritisinya.

Proyek sekolah Mangunan oleh Rm. Mangunwijaya, sejak SD peserta didik perlu dilatih aktif bertanya, mengamati, menyelidiki, serta membaca untuk mencari dan menemukan jawaban. Sarana: perpustakaan, tempat penelitian (lab.). Stasi2 di mana pr siswa van Lith mengajar agama, merupakan salah satu lab yang bagus.

Di era reformasi pendidikan ini, sbg pendidik, guru harus mampu berdialog untuk perkembangkan peserta didik. Sebagai siswa, apakah kita hanya berperan pasif sebagai pendengar saja, duduk manis di bangku kelas, melainkan mau aktif sebagai manusia yang mencari, dengan membaca di perpus, bertanya, bereksperimen sebagai manusia eksploratif di laboratorium. Hanya dengan demikian kita bisa mewujudkan manusia Indonesia kreatif. Justru hidup dengan tantangan. Seperti korek api yang menyala saat hadapi benda keras.

Sikap mahasiswa yang diharapkan

– berusaha mengenal dan menyenangi/mencintai sastra.

– menjalani kegiatan2 kuliah dengan sepenuh hati.

– mengikuti kuliah dengan sikap aktif, selalu ingin tahu.

– tanda ingin tahu: menaruh perhatian, bertanya. Tanda mahasiswa yang acuh, males, asal jalan: tidak pernah bertanya. (Ber-) tanya, itu tanda kemajuan. Tanda orang berpikir, tidak hanya menghafal. Cogito ergo sum. Bingung tanda berpikir. Lebih baik bingung awal daripada bingung waktu kuliah. Berpikir itu mengaktifkan otak, mengasah, mengembangkan sel otak. Sedang menghafal itu hanya memfungsikan bagian memori saja. Hafalan kuat tanpa disertai pengolahan pikiran seperti robot yang tidak kreatif.

– Pendidikan baru:

– Cara belajar yang baik: a. membaca; b. mempraktekkan/melatih; c. bertanya.

Latihan bertanya

Untuk melatih mahasiswa berani dan senang bertanya, mungkin perlu ada latihan sendiri: dosen menerangkan masalah yang agak sulit. Mahasiswa diminta untuk memberi 2 macam pertanyaan.

Pertama, pernyataan bahwa mahasiswa bisa menangkap sejelas-jelasnya apa yang diterangkan dosen. Untuk ngecek itu dosen bisa memberi pertanyaan kepada mahasiswa.

Kedua, kalau masih ada sesuatu yang belum jelas, mahasiswa diminta untuk merumuskan ketidakjelasan itu dalam bentuk pertanyaan. Minimal satu pertanyaan.

Latihan ini bisa dilakukan beberapa kali.

Oleh2 dari PILNAS HISKI XIII. Laporan dari Taufik Ismail tentang pembelajaran sastra di SMU. Perbandingan antara SMU ASEAN, Eropa, dan Amerika.

APA ITU SASTRA?

DISKUSI:

a. Sastra menurut pengertianku, pengalaman dan pengamatan kita adalah ………

b. Sastra menurut para ahli (Wellek, kamus, Teeuw, Luxemburg, Eagleton, dst)?

c. Sastra yang dekat dan disenangi masyarakat?

Mahasiswa dalam kelompok, coba bandingkan 3 macam tulisan: tulisan sastra, jurnalistik, dan percakapan sehari-hari.

  1. Ketika kita masih kecil dulu, belum mau tidur kalau belum dikeloni dan diceritain tentang dongeng Timun Emas dengan Buto Ijo, tentang bagaimana Timun Emas dikejar-kejar Buto Ijo hendak dijadikan santapan/dikawini. Bagaimana Timun Emas itu lari dan bersembunyi; bagaimana Timun Emas itu akhirnya menyebarkan garam pemberian Nini Buto Ijo, menjadi danau embel atau danau lumpur, sehingga Buto Ijo terperosok ke dalam lumpur itu. Dengan demikian Timun Emas bisa lari meninggalkan Buto Ijo. Dongeng itulah sastra.
  2. Ketika seorang pawang, dukun, dalam acara bersih desa, kendurenan, berkisah tentang asal-usul desa tersebut, dia terlibat dalam sastra lisan, yaitu cerita, dongeng atau mitos. Dalam sastra klasik, kita mengenal cerita asal-usul, cerita binatang, cerita jenaka, cerita pelipur lara, pantun.
  3. Asal-usul Tangkuban Perahu; Rawa Pening; Banyuwangi; Ciamis; mengapa gadung beracun, harimau berbelang, ayam jago bertanduk. Gunung Tidar sebagai pathok tanah Jawa; orang Jepang sebagai putra matahari; orang Jawa berasal dari dewa; raja2 Jawa sebagai titisan dewa; Suharto sebagai keturunan raja2 Jawa, dsb. Cerita asal-usul biasanya untuk mencari legitimasi bahwa suku, bangsa, atau keluarga, tokoh berasal dari keturunan raja atau dewa, bukan orang sembarangan atau keturunan pidak-pedarakan. Seperti Suharto, mengatakan bahwa dirinya itu masih keturunan raja2 Jawa (Majapahit-Mataram?).
  4. Ketika Edhi minta Neneknya bercerita ttg bagaimana Ibu tercinta yang sudah meninggal itu dijemput oleh malaekat2 (bidadari) ke surga, lalu bagaimana di surga Ibu mendoakan anaknya agar dia tidak nakal, dia sedang menikmati sastra.

Cerita binatang

Cerita Kancil paling populer. Tokoh binatang yang kecil  tetapi cerdik. Bahkan bisa mengalahkan atau menipu binatang2 hutan yang lebih besar. Misalnya Kancil berlomba lari dengan Siput (keong). Kancil menjaga seruling, sabuk, gong, jenang nabi Sulaeman. Kancil menipu Gajah. Kancil kalah dengan orang-orangan Pak Tani, tapi bisa menipu Anjing. Binatang yang tak tahu balas budi: Buaya yang mau memakan Lembu yang baru saja menolongnya dari tindihan pohon. Cerita binatang berasal dari India, karena kepercayaan Hindu akan inkarnasi. Cerita binatang yang juga terkenal adalah Sukasaptati. Terjemahan versi Melayu bernama Bayan Budiman.

Cerita Jenaka

Cerita Pelipur Lara

Epos India: Ramayana dan Mahabharata

Tugas: cari 5 cerita asal-usul; 5 cerita binatang; 5 cerita lucu.

Tugas 1:

1. Kumpulkan Cerita2 rakyat, dongeng menjelang tidur, terutama

yang saudara senangi. Buat ringkasan 5 cerita!

SASTRA DALAM HIDUP SEHARI-HARI: SINETRON, TELENOVELA, FILM, DRAMA, KETOPRAK, LENONG, LAGU-LAGU, SENDRATARI, DSB

Sejak kecil kita sebenarnya sudah akrab dengan sastra.  Ketika bayi, waktu mau tidur, dilagukan lagu Ninabubuk; ketika manangis, ditembahkan lagu Tak lela lela lela ledung; waktu masih balita, diajar nyanyi Keplok ame-ame, walang kupu-kupu. Ketika di TK, menyanyi Pelangi-pelangi, Bintang Kecil, Menanam Jagung, Balonku Ada Lima. Lagu-lagu tanah air, perjuangan, kebangsaan lagu pop, bahkan lagu dangdut, dsb. Dongeng sebelum tidur: Timun Emas, Buta Ijo, Bawang Merah, Cindelaras, Kancil Nyolong Timun.

                Lagu-lagu yang saban hari kita dengar dan kita gemari, dari lagu pop, campur sari, hingga lagu dangdut, bukankah syair-syairnya berbentuk puisi? Hiburan-hiburan apa yang kita saksikan di televisi? Cerita apa saja yang saya senangi? Ketoprak Humor, Srimulat, Ludruk, pementasan Wayang  Orang maupun Wayang Kulit, bukankah itu merupakan bentuk teater? Acara-acara film dari Shinchan, Doraemon, Scoobidoo, Sinetron Tersanjung, Maha Kasih, Mak Lampir, Dendam Nyi Pelet, hingga Telenovela, film-film Hindia, film silat Cina sampai film-film Hollywood, bukankah itu cerita fiksi yang diolah dari skenario yang bersifat sastra? Belum lagi cerita-cerita daerah, tulisan-tulisan di berbagai koran, majalah dalam bentuk Cerita pendek, Cerita bersambung, puisi, dsb. Bisa dikatakan setiap saat kita sebenarnya bertemu dengan sastra.

Cerita kanak2 Harry Potter, cerita HC. Anderson. Mahabharata, Ramayana, Bayan Budiman. Dalam acara tivi: cerita horor, ketoprak humor, kartoon, film cerita silat, India, Mahabharata, detektif, spionase, dsb. Pengalaman pribadi: buat cerita (memetik bulan dan matahari), cerpen “Sepotong Senja untuk Sang Pacar”, cerber. Cerita lucu2.

Dalam seni gerak (Tari) pun biasanya terselip (cerita) sastra secara implisit (Ramayana, Tari Merak, dsb). Demikian pula dalam lukisan2-pun terdapat cerita sastra secara implisit. Ada cerita yang melatar-belakanginya.

Prospek: kalau sekarang mau belajar, nanti siapa tahu jadi pengarang. Contoh dari Kompas, seorang berumur 86 tahun yang berani pecahkan rekord Guinnes Book.

Drama, cerita film: merupakan cerita dalam gerak dan kata.

Dalam bentuk tontonan, seni pertunjukan.

Tradisi lisan dan tradisi tulis dalam masyarakat dulu. Tradisi lisan dan tradisi tulis dalam masyarakat kita sekarang. Suka ngobrol, ngegosip, bikin isu, provokator, tidak suka baca, tidak suka ke perpust. Kita sebagai mahasiswa berada dalam transisi, menuju ke tradisi tulis sebagai calon cendekiawan, biasakan ke perpust. Tapi jangan kebablasan, maginat (latah). Mentang mahasiswa lalu nulis di meja2 kuliah, tembok, tempat2 umum, WC, dsb.

Tugas 2

Perhatikan acara di tivi. Acara apa yang saudara senangi?

1. Manakah yang saudara senangi: menonton film di bioskop, vcd,    membaca komik, cerita, nonton sinetron, telenovela, film kartun, film cerita, menyaksikan/mendengarkan pagelaran wayang, ketoprak, drama/teater, dsb? Mengapa?

  1. Sebutkan jenis atau judul (bisa pilih salah satu atau keduanya) cerita, lagu apa yang saudara senangi?
  2. Mengapa saudara menyenangi cerita atau acara tsb?
  3. Masalah apa muncul dalam fiksi tsb (magin, religius, psiko logi,pendidikan)?

Terangkan!

  1. Manakah cerita/film yang senangi: cerita/film asing (terjemahan) atau cerita

Indonesia.

  1. Apakah saudara puas menikmati cerita2  sinetron, film tsb? Ungkapkan kritik saudara!

Ternyata cerita fiksi itu sudah merupakan bagian dari kehidupan kita, sangat digemari oleh masyarakat kita. Ternyata yang kita gemari selama ini adalah cerita karya fiksi. Mengapa kita tak berpikir, aku bisa membuat cerita2 itu. Kita punya peluang. Tidak kalah dengan mereka. Kita lihat sinetron2 itu. Kelemahannya. Kurang logis, didramatisir, dilebih-lebihkan, tidak wajar. Tema: monoton: cinta, perselingkuhan; perang/perkelaian begitu2 saja, gunakan tenaga dalam. Mengapa kita tidak mencoba?

CONTOH perbedaan antara tulisan sastra, ilmiah dan jurnalistik, bahasa sehari-hari (diskusi). Berbedaan dalam hal bahasa, isi, sudut pandang, suasana, dsb.

Dengan demikian sastra berarti segala sesuatu yang tertulis yang bersifat rekaan yang memiliki nilai estetik (Teuuw, 1984: 22). Dalam praktek tidak hanya meliputi sesuatu yang tertulis tetapi juga yang lisan. Yang pasti, sastra menggunakan medium bahasa. Maka sastra bisa dikatakan penggunaan media bahasa (baik tulis maupun lisan) yang bersifat rekaan (maginative) dan estetis. Rekaan di sini bukan merupakan lawan kenyataan, melainkan memberitahukan sesuatu mengenai kenyataan. Dalam sastra, sastrawan memberi makna lewat kenyataan yang bisa diciptakannya. Dunia yang diciptakannya adalah dunia alternatif (Teuuw, 1984: 248).

Menurut Aristoteles, sastra berurusan dengan kebenaran universal (Teeuw, 1983: 22). Horatius mencanangkan pedoman untuk penciptaan sastra: dulce dan utile; indah dan berguna. Sastra harus memiliki estetika tinggi dan bermanfaat bagi pembentukan pribadi manusia yang baik. Maka sastra sebagai pendidikan humaniora memusatkan perhatian pada nilai-nilai yang paling tinggi bagi umat manusia (Hartoko, 1985: 52-53).

TEMPAYAN RETAK

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, Masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh. Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air kerumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna.

Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidak sempurnaannya, dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannnya. Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, “Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu. “Kenapa?” tanya si tukang air, “Kenapa kamu merasa malu?” “Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa,karena adanya retakan pada sisisnya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi.” kata tempayan itu.

Si tukang air merasa kasihan pada sitempayan retak, Dan dalam belaskasihannya, ia berkata,”Jika kita kembali ke rumah majikan

besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu  memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan si sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu ? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu, dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu  mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”

Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Allah akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias-Nya. Di mata Allah, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Allah. Ketahuilah, di dalam kelemahan kita,  kita menemukan kekuatan kita.

EVALUASI PEMBELAJARAN SASTRA

  1. Kurang memberi tugas membaca secara rutin kepada mahasiswa dan kurang menantang dengan repetisi mendadak, sehingga kuliah sering terasa kurang intensif, dan mahasiswa kurang siap membaca & belajar.
  2. Setiap kali kuliah, mhs baik diberi tugas membaca sebelumnya dengan disertai pertanyaan2 terarah. Agar mhs selalu siap dan banyak membaca.
  3. Jangan terlalu banyak ceramah dan menerangkan. Cramah meninabobokan mhs dan membodohkan mereka.
  4. Perlu latihan bertanya untuk mahasiswa. Kita ajukan sebuah subjek (ballpoin, pisau, buku, kapur). Paksa, rangsang mereka untuk bertanya apa saja tentang subjek tsb. Semua mahasiswa harus membuat pertanyaan. Mulai dari 1 pertanyaan, meningkat menjadi 5, atau sebanyak-banyaknya. Kalau  perlu beri hadiah bagi yang berprestasi.
  5. Perlu disiapkan fotokopian secara menyeluruh beserta tugas-tugasnya.
  6. Persiapkan secara matang sebelum kuliah. Sejak awal sudah jelas materi-materi yang harus dibaca.
  7. Mahasiswa perlu diberi hand out dan fotokopi tambahan. Langkah-langkah per kuliah harus sudah jelas sejak awal.
  8. Beri tugas membaca dan membaca. Wajib bertanya. Buat soal untuk checking. Terangkan yang belum jelas.
  9.  Membuat makalah, diskusi, belajar bersama, dsb.
  10. Buat variasi mengajar: diskusi di kelas, presentasi, latihan, mengerjakan di kelas, permainan, pertanyaan, ceramah, dsb.
  11. Pikirkan portofolio: beri tugas & kesempatan untuk berkarya, beraktivitas dan berkreativitas
  12. Usahakan belajar mandiri dengan system seminar & presentasi.
  13. Beri kesempatan pada mhsw untuk bentuk Sanggar Sastra sebagai wadah kreativitas.
  14. Setiap akhir semester, paksa mereka untuk berkarya: buat musikalisasi puisi, kumpulan puisi, cerpen, novelet, drama.
  15. RENCANA: NULIS BUKU “TEORI SASTRA YANG MEMBUMI”

ESTETIKA MELAYU:  (I. Kuntara Wiryamartana, BASIS Juni 1986: 207)

Aspek pertama, secara ontologis, keindahan hanyalah sifat dari Tuhan. Dalam ‘pengantar’ sastra Melayu Klasik, penyair biasanya menyatakan bahwa dirinya tidak berdaya untuk mencipta, sedang Allah, mahakuasa untuk mencipta, maka ia mohon pertolonganNya dalam menciptakan sya’irnya.

Aspek kedua, secara imanen, keindahan mengandung sifat:

Luar biasa, menakjubkan; nampak istilah-istilah: heran, ajaib, gharib, tamasya (Hikayat Inderaputera). Beraneka warna; nampak dalam istilah2: berbagai, aneka warna, aneka bagai jenis, banyak ragam (Hikayat Inderaputera). Tertib dan serasi; keanekaragaman yang tersusun secara harmonis; misalnya rangkaian mutiara (mutia dikarang terlalu indahnya), susunan bunyi yang merdu (Hikayat Isma Yatim).

Aspek ketiga berhubungan dengan psikologi persepsi keindahan. Proses psikologis itu bisa dirumuskan sebagai berikut:

Sesuatu yang luar biasa itu menarik perhatian dan lewat persepsi indera membangkitkan berahi, rasa tertarik pada yang indah (Hikayat Inderaputera). Kekuatan daya tarik keindahan itu tergantung pada kemampuannya untuk mempengaruhi beberapa indera sekaligus. Dalam sastra Melayu lukisan mengenai sesuatu yang indah memuat unsur-unsur penglihatan, pendengaran dan penciuman. Ketertarikan pada yang indah atau berahi itu menimbulkan heran dalam jiwa, begitu menyita segenap indera, hingga lemahlah daya kontrol pikiran atas jiwa dan kacaulah hirarki “kemampuan-kemampuan” jiwa, yang mengakibatkan hilang akal, merca, lupa dan seterusnya Hikayat Isma Yatim, Hikaya Inderaputera).Akibat keindahan yang demikian itu berbahaya bagi orang yang tidak mampu menguasai atau menyalurkannya.

Mengatasi daya tarik keindahan itu merupakan kemenangan yang setara dengan kemenangan pahlawan dalam pertempuran atau percintaan. Berhadapan dengan keindahan, sang pemandang tetap teringat, tetap menguasai dirinya. Akal, budi orang yang arif bijaksana mengatasi bahasa maut keindahan (Hikayat Inderaputera).

Bila daya tarik yang kuat dari keindahan itu diatasi, maka timbullah efek penyembuh dari yang indah. Yang indah merupakan penglipur atau penghibur hati (Hikayat Pandawa Jaya). Jadi yang indah dalam aspek psikologisnya membangkitkan berahi akan keindahan dan menimbulkan heran. Bila berahi dan heran itu begitu kuat, hingga akal hilang dayanya, maka timbullah kegoncangan jiwa, lupa dan merca. Tetapi bila orang dapat menguasai jiwanya atau bijaksana, maka yang indah menjadi penglihatan dan penghibur hati.

ESTETIKA DALAM KAKAWIN JAWA KUNA

Seperti dalam sastra Melayu, estetik dalam kakawin Jawa Kuno hanya bisa dirumuskan berdasarkan ucapan-ucapan sang kawi, yang terdapat dalam kakawin, khususnya dalam manggala dan penutup. Tidak terdapat teks khusus mengenai teori keindahan dan poetika. Pokok2 estetis dalam kakawin Jawa Kuna dapat dirumuskan sebagai berikut:

Sang kawi memulai karyanya dengan menyembah dewa pilihannya (istadewata), yang dipujanya sebagai dewa keindahan. Bagi sang kawi dewa itu baik menjadi asal dan tujuan segala yang indah, maupun menjelma di dalam segala sesuatu yang indah (lango).  Sang kawi mohon pertolongan dewa jujaannya dengan mempersatukan diri dengannya (dewasraya).

Persatuan dengan dewa keindahan itu merupakan sarana dan tujuan. Sarana: persatuan itu membuat sang kawi “bertunas keindahan” (alung lango); dengan begitu ia berhasil menciptakan karya keindahan (kalangwan), yakni kakawin. Tujuan: dengan persatuan dengan dewa keindahan serta penciptaan karya keindahan itu sang kawi berharap akan mencapai kelepasan (moksa). Kakawin menjadi candi, tempat semayam dewa keindahan, dan silunglung, bekal kematian sang kawi. Persatuan dengan dewa keindahan dan penciptaan kakawin merupakan yoga yang khas bagi sang kawi, yakni yoga keindahan dan yoga sastra. Dewa keindahan, sebagai Yang Mutlak dalam alam niskala, berkat samadi sang kawi, berkenan turun dan bersemayam di dalam sakala-niskala, yakin jiwa atau hati sang kawi (jnana, hidep, tutur).

Keadaan itu membuat sang kawi dapat berhubungan dengan dewa yang nampak dalam alam sakala, dalam Segala sesuatu yang indah. Dengan menyadari kesatuannya dengan dewa di dalam aneka ragam  pernyataannya itu, sang kawi pun menyadari kesatuannya dengan dewa di alam niskala, yang menjadi tujuan akhir dari yoga.

Untuk menemukan dewa keindahan, yang menjelma dalam alam sakala itu, sang kawi mengembara, menjelajah gunung (awukiran) dan pantai, hutan dan petirtaan (atirtha), sambil berlaku tapa (abrata). Sang kawi rindu akan keindahan alam dan ingin menjelmakannya dalam kakawin. Alam pun rindu untuk ditangkap keindahannya oleh sang kawi dan dijelmakan dalam kakawin.

Keindahan yang ditemukan oleh sang kawi dalam alam juga terbayang di mana-mana, khususnya dalam pertempuran, kecantikan wanita dan percintaan. Pertempuran kerap kali dilukiskan dengan gambaran2 dari alam. Begitu pula kecantikan wanita. Bahkan wanita yang sangat  cantik dikatakan: kecantikannya melebihi keindahan alam. Berhadapan dengan wanita dalam percintaan menimblkan rasa, seperti yang dialami, bila orang berhadapan dengan keindahan alam dan terlibat dalam pertempuran.

Alam dan manusia menyatu dalam keindahan. Berhadapan dengan alam, yang begitu menarik dan “mempeseona” (alango), sang kawi, pencinta keindahan (mango), “terpesona (alango), terserap seluruhnya dan tenggelam dalam obyek yang dipandangnya (lengeng, lengleng), hingga segala sesuatu yang lain lenyap dan terlupakan. Semua kegiatan budi berhenti. Persepsi obyek sendiri menjadi samar-samar dan dalam pengalaman kesatuan, yang mengaburkan pemisahan subjek dengan obyek itu, kesadaran diri pun lenyap pula. Itulah pengalaman ekstatis, yang merangkum pengalaman estetis dan mistis/religius.

Pengalaman estetis sang kawi itu bukan melulu ketertengggelaman dalam keindahan alam, yang sensual dan fenomental belaka, belainkan ketertenggalaman dalam Yang Mutlak, di mana sang kawi mengatasi segala macam nafsu dan godaan. Diterapkan dalam hubungan kakawin dengan pembaca atau pendengarnya, dapat dikatakan, bahwa kakawin menimbulkan pada pembaca atau pendengarnya pengalaman sang kawi itu: tenggelam dalam alam fenomenal, tembus sampai ke hakekatnya, bertemu dengan “Sang Keindahan” sendiri.

Berdasarkan pokok2 estetik di atas, dapat dikatakan bahwa istilah lango, lengeng, lengleng merupakan konsep sentral dalam estetik pada kawi. Aspek2nya dapat dirumuskan sebagai berikut:

Aspek Ontologis dari lango memiliki 3 taraf:

Taraf imaterial/transenden: dewa, “Sang Keindahan”, sebagai Yang Mutlak (alam niskala).

Taraf imaterial-material/transenden-imanen: dewa, “Sang Keindahan”, yang bersemayam dalam hati sang kawi dan dipuja dalam samadi (alam sakala-niskala).

Taraf material/imanen: dewa “Sang Keindahan” yang menjelama dalam segala sesuatu yang nampak, terindera dan dijelmakan kembali oleh sang kawi dalam kakawin (alam sakala).

Sesuai dengan aspek ontologis itu, aspek psikologis dari lango, yang sekaligus juga merupakan aspek religius -seperti dalam yoga – memuat tiga tahap:

Tahap konsentrasi (dhyana): jiwa sang kawi terpusat pada obyek (alam fenomenal). Tahap meditasi (dharana): jiwa sang kawi terpenuhi “bayangan” dewa, sehingga aneka ragam rupa obyek lenyap.

Tahap unifikasi (samadhi): kesadaran diri lenyap, sang kawi tenggelam dalam persatuan dengan Yang Mutlak. Aspek psikologis lango pada sang kawi itu mutatis mutandis juga merupakan aspek psikologis pada pembaca atau pendengar, bila berhadapan dengan obyek, kalangwan, ‘karya keindahan’, yakni kakawin.

Mengingat aspek ontologis dan psikologis-religius itu, dapat dikatakan, bahwa dalam kakawin fungsi estetis berpadu dengan fungsi religius. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa kerap kali dalam kakawin terdapat bagian-bagian, yang memuat ajaran etis-religius (niti, tutur).Mengingat aspek2 itu pula, nampaklah bahwa dalam estetik para kawi termuat ciri2 idealis dan materialis.

Dari uraian di atas nampaklah bahwa ada persamaan dan perbedaan dalam estetik sastra Melayu Klasik dan kakawin Jawa Kuna. Namun demikian, yang diutarakan dalam tulisan ini berulah pokok2-nya saja. Perumusan teoritis beserta dengan segala nuansanya masih perlu dikerjakan. Jika bahasa itu terungkap dalam tulisan yang bermakna, berbobot, mengesankan, maka kita masuk ke dalam dunia sastra. Jadi sastra pada dasar filsafahnya adalah primer: suatu pewahyaan ada (en offenbar werden des Seins). Dan baru secara sekunder atau tersier berciri pewahyaan secara indah, menarik, kolosal, penuh hikmah, simbolisasi, impresionistik, surrealistik, magis-realistik, absurd, mitologis, religius (Y.B. Mangunwijaya, dan Basis, Januari 1986, XXXV, 1, berjudul Sastra dan Bentuk Hidup).

REPETISI

  1. Bagaimana etimologi Barat maupun etimologi Timur tentang sastra?
  2. Pendapat Sartre tentang sastra dipengaruhi oleh pendapatnya tentang keberadaan. Bagaimana pendapat Sartre tentang keberadaan? Apa pendapat Sartre tentang sastra?
  3. Apa yang dimaksud dengan sastra terlibat?

Soal Sisipan untuk Teori Sastra

  1. Tunjukkan bahwa sastra itu dekat kehidupan kita sehari-hari!
  2. Sebutkan dan jelaskan yang menjadi sifat-sifat sastra menurut Wellek?
  3. Bagaimana pandangan Sartre mengenai sastra? Apa yang dimaksudkan dengan ‘sastra terlibat’? Jelaskan!

Hasil diskusi, sharing kelompok ttg KEINDAHAN

  1. Saat merasakan keindahan
  1. Pemandangan alam, sunset di pantai, sungai.
  2. Keindahan alam: masuk ke hutan, pepohonan hijau, suara burung cenderawasih, tebing yang terjal – melihat pemandangan di bawahnya dan pantai indah, dengan pulau2 kecil di sekitarnya, jalan berliku-liku, gunung Merapi di pagi hari.
  3. Ketika berkhayal, naik gunung, berdoa, melihat seseorang yang memberi senyuman, membaca karya sastra, membaca karya sastra.
  4. Melihat wanita cantik, membangkitkan gairah, menimbulkan rasa mendalam, melihat film romantis, di dampingi seseorang yg dicintai, liburan di tempat sejuk.
  5. Melihat sepak bola, musik yg menyentuh hati, pantai yang damai.
  6. Melihat anak yang ceria; melihat senja merah uda; jatuh cinta;melihat bunga-bunga di taman; pemandangan di pantai; naik gunung; hijau atau kuningnya sawah,  mendengarkan musik cinta.
  7. Melihat penderitaan dan kesedihan, orang2 yang kekurangan – masih bisa bersyukur karena masih hidup; melihat pemandangan hijau, air terjun yg mengalir; di pantai bersama keluarga; melihat
  1. Yang dirasakan saat alami keindahan
  1. Kagum, terpesona, tenang, damai, bahagia, senyum sendiri.
  2. Kagum, kepuasan batin, suka cita
  3. Kagum, terpesona, happy, menikmatinya, senang.
  4. Terbawa suasana, membangkitkan imaginasi, angan-angan, terpesona, kagum.
  5. Takjub, bersyukur kepada Tuhan, senang.
  6. Sadar bahwa diriku kecil di hadapan semesta, bagai sebutir debu di Nebula Raya, bersyukur kepada pemberi kehidupan.

MITOS  GUA

Untuk menjelaskan tataran pengetahuan manusia, Plato dalam Republic VII  memberi gambaran yang dikenal dengan mitos tentang  gua.

Orang  I yang tidak mempunyai pengetahuan  mengenai  kenyataan adalah  seperti tahanan yang dirantai lehernya dalam sebuah  gua. Ia  tidak bisa melihat apa-apa kecuali dinding gua dan bayang-bayang  yang terpantul  padanya.  Ia hanya mampu melihat apa yang  oleh  Plato disebut angan-angan atau  ilusi (eikasia).

Orang II: Apabila orang ini  dibebaskan  dan  boleh menghadap ke mulut gua, ia akan  lebih  mendekati kenyataan dengan melihat api dan orang yang hilir mudik di  sana.

Orang III: Akan tetapi, ia akan lebih bebas, apabila   dikeluarkan dari gua  sama sekali  dan  melihat kenyataan di luar  gua.  Pengetahuan  sejati tercapai bila ia sampai menengadah ke atas dan melihat matahari.

Mitos Gua: 1. Orang tahanan dalam gua (eikasia).  2. Orang bebas dalam gua (api). 3. Orang bebas di luar gua (matahari)

 

Sumber :  asahasih.wordpress.com

 

 

 

Contoh Artikel Pendidikan dalam Bahasa Inggris


Contoh Artikel Pendidikan dalam Bahasa Inggris – Artikel merupakan karangan faktual yang membahas secara lengkap tentang sebuah topik tertentu yang dibuat untuk dipublikasikan diberbagai media dengan tujuan menyampaikan gagasan dan fakta yang dapat meyakinkan, mendidik, dan sekaligus menghibur.

Dalam tulisan kali ini akan dipublikasikan tentang sebuah contoh artikel pendidikan dalam bahasa Inggris. Artinya karangan faktual yang akan dibahas, yaitu tentang dunia pendidikan dan didalam pembahasan artikel pendidikan tersebut akan menggunakan bahasa Inggris.

Untuk melihat contoh artikel pendidikan dalam bahasa Inggris tersebut secara lengkap, maka berikut ini Anda bisa langsung membaca atau menyalinnya, dimana artikel tentang pendidikan yang berbahasa Inggris ini berjudul How Children Learn by Playing.

How Children Learn by Playing

The idea of children learning by playing may seem outrageous to some parents and educational institutions, which firmly believe that learning is all about getting good grades in school. Here, we talk about how the focus of learning goes beyond grades, and how kids can be taught some of the most complex concepts simply by playing and engaging in some activities.

The concept of learning by playing is not new. In fact, for ages, children have been taught highly complex concepts by means of games and activities – concepts that they wouldn’t have otherwise grasped. Such games and activities enhance personal learning and development that no book can provide. It is true that a school provides education, but knowledge is subjective and can be increased and improved by means of some very simple methods such as playing games. There are so many things that you have your kids do, without realizing the kind of message it is imparting to them, or the kind of effect it has on their minds. Playing particularly has a positive effect on kids and helps develop their personality and skills.

What Children Learn By Playing

Instead of having kids cram information and simply talking to them about various concepts, parents, along with several educational institutions, are adopting the art of teaching by playing with children. This, they believe, is a better way of inculcating not only concepts but also essential values, particularly in the most formative stages of a child’s life. It is human nature to learn by experience, rather than when told or explained by someone else. Children should be allowed to learn from the consequences of their actions, and then realize why they were or weren’t asked to do something. With parent and teacher participation and involvement, for children, learning can be made fun rather than a mundane, stressful task that emphasizes only on cramming as much information as possible.

A lot of concepts that education cannot impart are taught by the simple act of engaging in various indoor and outdoor activities. Here’s what kids learn when they engage in such activities:
• By being allowed to play, children are free to explore their surroundings and develop experiences that are unique to them.
• They learn to take control and are capable of making their own decisions.
• They learn to respect rules and the choice of others around them.
• Children learn how to use their imagination in play and this helps develop creativity. The use of imagination also helps them shut out unpleasantness and tackle inherent fears.
• Free play allows kids to indulge and appease their inquisitiveness.
• Interactions with others help develop communication skills and aid personality development.
• The involvement of parents in the entire process helps strengthen the bond between the child and parent, as children learn how to share their experiences with their parents.
Examples of How Children Learn by Playing
• Why are kids taught mathematics on the Abacus before they are taught it in the classroom? It is because the abacus lays a strong foundation upon which the subject revolves. The basics of addition, subtraction, multiplication, and division are all taught on this colorful tool, where kids learn how these concepts work by manually moving the beads. This makes it a playful activity that allows learning by playing.
• Board games such as Monopoly teach children how to use money wisely at a young age. It teaches them how to carry out transactions, and how to make decisions for themselves. Games such as Scrabble help children strategize and score more points by placing appropriate letters in the right spots.
• In the digital age, a lot of educational computer games and video games have been designed to teach children basic concepts such as strategy, the importance of teamwork, along with enhancing focus and concentration. Some schools in the US have started allowing kids to design video games that help them learn in the process of designing.
• In the classroom, children are also taught the power of healthy communication, of group effort, and the benefits of team building. It teaches children not only to function as a group, but to lead and manage large groups of people, thereby helping them develop leadership skills.
• Similar is the case with outdoor games and activities. Being the captain of a football team teaches a child how to lead, manage and achieve goals by means of the aforementioned concepts. In activities like camping, children are taught the importance of nature, and the value of having the comfort of a home and a bed, when they are roughing it up outdoors.
Encouraging Learning by Playing

In order to encourage learning by playing, it is important that kids be allowed to learn in their own way. There is a difference between guiding and pressurizing, and as a parent/teacher, you ought to know where to draw the line. Here are some guidelines that will help you aid learning through the process of playing.
• The activities and games introduced to children should be age-appropriate.
• The activity that kids are allowed should be divided into structured and unstructured play. This means, say for 30 minutes, an adult should be guiding kids in their activities, and for another 30 minutes, the child should be allowed to do what he pleases, i.e. free play.
• Schools should allot specific periods for children to free play and engage in teacher-led activities. This can be a time for structured play, during which they can enhance communication and other skills.
• They should be allowed to be in control of the situation, even during structured play. This helps them develop their own methods of working on different activities.
• A child should be allowed to indulge in play for as long as he wants to, and should not be forced to sit through a period of play just because it has been allotted. What is meant to be a fun activity to aid learning should not get frustrating for the child.
All in all, this idea of enabling children to learn by playing can be implemented in different manners. Not all children take to a particular activity and may have other ways of imbibing knowledge and wisdom. Yet, this is a very effective way of laying a strong foundation of concepts that are not taught by books to children. There is a lot for children to learn in life, and though not everything, playing with children and teaching them in the process will be highly beneficial to all of them.

Demikianlah sebuah contoh artikel dalam bahasa Inggris dengan judul How Children Learn by Playing. Semoga informasi tentang artikel pendidikan yang dipublikasikan tersebut diatas dapat bermanfaat bagi Anda yang sudah menyempatkan membaca artikel ini.

7 Cara Menjaga Kemampuan Daya Ingat


7 Cara Menjaga Kemampuan Daya Ingat

Tahan penurunan kemampuan daya ingat sebisa mungkin agar bisa digunakan selama mungkin.

Daya ingat yang baik dan kuat adalah salah satu faktor penting dalam menunjang keberhasilan dalam banyak hal, terutama karier. Supaya tak lekas menurun, coba gunakan beberapa tips berikut untuk menjaga daya ingat seoptimal mungkin.

Alaminya, kemampuan kognitif manusia pada umumnya menurun di sekitar usia 45 tahun, namun, proses penurunannya bisa diperlambat dengan cara-cara tertentu.

Kehilangan memori dalam jumlah besar umumnya terjadi karena masalah kelainan organis, kerusakan pada otak, atau masalah saraf. Sebelum terjadi masalah pada daya ingat, coba lakukan tips-tips berikut ini:

1. Gunakan sebelum terhilang
Sejak lama dipercaya, olah fisik yang menstimulasi otak, seperti membaca, berkelana, main kartu, bermain permainan yang melatih daya ingat, bermain alat musik, bahkan mengubah rutinitas harian bisa menstimulasi hippocampus, bagian pada otak yang bertanggung jawab pada memori. Bisa pula dengan menantang otak lewat aktivitas-aktivitas yang belum pernah dilakukan.

2. Bergerak
Saat Anda mulai berolahraga, otot akan menggunakan oksigen dalam jumlah yang tinggi, meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh, termasuk area memori pada otak.

Olahraga membantu membuat pembuluh darah menuju jantung terbuka, olahraga juga akan melakukan hal yang sama untuk pembuluh darah pada otak. Bahkan olahraga dengan intensitas kecil pun bisa membantu menajamkan daya ingat, namun, penting untuk diingat, olahraganya harus konsisten. Beberapa studi mengindikasikan, olahraga rutin bisa memperlambat penuaan pada otak.

3. Mengurai stres
Stres kronis, yang mengaktivasi hormon kortisol, adalah penyumbang utama hilangnya daya ingat. Menghindari stres adalah hal yang mustahil, karenanya, akan lebih baik bila mencoba untuk mengendalikan stres yang sudah pasti datang.

Cobalah untuk belajar teknik relaksasi, seperti latihan pernapasan untuk mengurai reaksi biokimia dan fisiologi terhadap stres.

Ambil napas dalam-dalam lewat hidung hingga dada penuh dalam hitungan 4, tahan napas beberapa detik, lalu keluarkan napas lewat mulut, kurang lebih 8 detik.

Upayakan untuk bersenang-senang, tertawalah bila memungkinkan. Belajarlah untuk berkata tidak sebelum menerima tanggung jawab dari atasan ketika Anda sendiri sudah sangat sibuk.

4. Pertemanan yang menyenangkan
Pertahankan sistem dukungan yang kuat lewat interaksi dengan teman-teman, bisa lewat telepon maupun bertemu langsung. Dalam studi terkini dari Harvard School of Public Health, para periset menemukan, orang dengan kehidupan sosial yang aktif memiliki tingkat penurunan memori yang rendah. Bila teman-teman sedang tak ada, jangan lupakan persahabatan juga cinta terhadap hewan peliharaan. Kedua hal itu memberi manfaat lebih terhadap kognitif seseorang.

5. Tidur yang cukup
Pertarungan melawan insomnia sesekali memang tak memberikan dampak permanen, tetapi kekurangan waktu tidur yang berulang-ulang dan tak ada henti bisa memengaruhi kemampuan daya ingat. Bila Anda merasa sulit tidur, coba dengarkan rekaman lagu-lagu relaksasi setiap sebelum tidur, saat ini sudah ada banyak dijual di toko musik.

6. Hidrasi
Minumlah air putih sebelum mulai merasa haus. Kekurangan air sedikit saja bisa mengurangi energi mental, mengakibatkan masalah memori. Disarankan untuk mengkonsumsi air minum sekitar 8 gelas per hari.

7. Makanan yang baik untuk otak
Makanan mengandung asam lemak omega 3 sangat baik untuk otak. Sumber-sumber asam lemak omega 3 antara lain; salmon, tuna, halibut, sarden, makerel, dan lainnya. Selain ikan-ikanan, asam lemak omega 3 juga bisa berasal dari biji labu, kedelai, dan walnut.

Selain itu, buah-buahan berwarna cerah, serta sayuran juga mengandung antioksidan, yang punya peran penting dalam mendukung fungsi memori.

Makanan yang kaya akan asam folat, seperti bayam, kale, asparagus, dan selada air. Selain itu, telur juga dikabarkan baik untuk mendukung memori. Makanan-makanan ini juga baik dan penting untuk menutrisi pusat memori di otak.

Sumber : 7 Cara Menjaga Kemampuan Daya Ingat | Kesehatan | Beritasatu.com

Sejarah Berdirinya Muhammadiyah (Versi Lengkap)


Bahan kuliah & Makalah : Sejarah Berdirinya Muhammadiyah (Versi Lengkap)

Oleh : Rinawati, STKIP Muhammadiyah Bogor

Pendidikan barat yang diperkenalkan kepada penduduk pribumi sejak paruh kedua abad XIX sebagai upaya penguasa kolonial untuk mendapatkan tenaga kerja, misalnya, sampai akhir abad XIX pada satu sisi mampu menimbulkan restratifikasi masyarakat melalui mobilitas sosial kelompok intelektual, priyayi, dan profesional. Pada sisi lain, hal ini menimbulkan sikap antipati terhadap pendidikan Barat itu sendiri, yang diidentifikasi sebagai produk kolonial sekaligus produk orang kafir.

Sememara itu, adanya pengenalan agama Kristen dan perluasan kristenisasi yang terjadi bersamaan dengan perluasan kekuasaan kolonial ke dalam masyarakat pribumi yang telah terlebih dahulu terpengaruh oleh agama Islam, mengaburkan identitas politik yang melekat pada penguasa kolonial dan identitas sosial -keagamaan pada usaha kristenisasi di mata masyarakat umum.

Bagi sebagian besar penduduk pribumi, tekanan politis, ekonomis, sosial, maupun kultural yang dialami oleh masyarakat secara umum sebagai sesuatu yang identik dengan kemunculan orang Islam dan kekuasaan kolonial yang menjadi penyebab kondisi tersebut tidak dapat dipisahkan dari agama Kristen itu sendiri. Hal ini semakin diperburuk oleh struktur yuridis formal masyarakat kolonial, yang secara tegas membedakan kelompok masyarakat berdasarkan suku bangsa. Dalam stratifikasi masyarakat kolonial; penduduk pribumi menempati posisi yang paling rendah, sedangkan lapisan atas diduduki orang Eropa, kemudian orang Timur Asing, seperti: orang Cina, Jepang, Arab, dan India.

Tidak mengherankan jika kebijakan pemerintah kolonial ini tetap dianggap sebagai upaya untuk menempatkan orang Islam pada posisi sosial yang paling rendah walaupun dalam lapisan sosial yang lebih tinggi terdapat juga orang Arab yang beragama Islam. Di samping itu, akhir abad XIX juga ditandai oleh terjadinya proses peng-urbanan yang cepat sebagai akibat dari perkemhangan ekonomi, politik, dan sosial.

Kota-kota baru yang memiliki ciri masing-masing sesuai dengan faktor pendukungnya muncul di banyak wilayah. Perluasan komunikasi dan ransportasi mempermudah mobilitas penduduk. Sementara itu pembukaan suatu wilayah sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, industri, dan perdagangan telah menarik banyak orang untuk datang ke tempat tersebut. Sementara itu pula, tekanan ekonomi, politik, maupun sosial yang terjadi di daerah pedesaan telah mendorong mereka datang ke kota-kota tersebut.

Memasuki awal abad XX sebagian besar kondisi yang telah terbentuk sepanjang abad XIX terus berlangsung. Dalam konteks ekonomi, perluasan aktivitas ekonomi sebagai dampak perluasan penanaman modal swasta asing maupun perluasan pertanian rakyat belum mampu menimbulkan perubahan ekonomi secara struktural sehingga kondisi hidup sebagian besar penduduk masih tetap rendah. Di beberapa tempat penduduk pribumi memang berhasil mengembangkan pertanian tanaman ekspor dlan mendapat keuntungan yang besar, akan tetapi ekonomi mereka masih sangat labil terhadap perubahan pasar.

 

Sementara itu perluasan aktivitas ekonomi menimbulkan persaingan yang semakin besar sehingga para pengusaha industri pribumi harus bersaing dengan produk impor yang lebih berkualitas dan lebih murah di pasar lokal, sedangkan para peclagang pribumi juga harus bersaing ketat dengan pedagang asing yang terus mendominasi perdagangan lokal, regional, maupun internasional. Dalam perkembangan selanjutnya persaingan ini di beberapa tempat tidak lagi hanya terbatas pada masalah ekonomi, melainkan juga telah berkembang menjadi persoalan sosial, kultural, ataupun politik. Walaupun dalam bidang politik terjadi pergeseran dari kekuasan administratif yang tersentralisasi ke arah desentralisasi pada tingka t lokal, kontrol yang ketat pejabat Belanda terhadap pejabat pribumi masih tetap berlangsung.

Sementara itu, kebijakan Politik Balas Budi atau Politik Etis yang difokuskan pada bidang edukasi, irigasi, dan kolonisasi yang dilaksanakan sejak dekade pertama abad XX, telah memberikan kesempatan yang lebih luas kepada penduduk pribumi mengikuti pendidikan Barat dibandingkan dengan masa sebelumnya melalui pembentukan beberapa lembaga pendidikan khusus bagi penduduk pribumi sampai tingkat desa. Akan tetapi, kesempatan ini tetap saja masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pribumi secara keseluruhan.

Kesempatan itu masih tetap diprioritaskan bagi kelompok elit penduduk pribumi, atau kesempatan yang ada hanya terbuka untuk pendidikan rendah, sedangkan kesempatan untuk mengikuti pendidikan menengah dan tinggi masih sangat terbatas. Seperti pada masa sebelumnya, kondisi seperti ini terbentuk selain disebabkan oleh kebijakan pemerintah kolonial, juga dilatarbelakangi sikap antipati dari kelompok Islam, yang menjadi pendukung utama masyarakat pribumi terhadap pendidikan Barat itu sendiri.

Secara umum mereka lebih suka mengirimkan anak-anak mereka ke pesantren, atau hanya sekedar ke lembaga pendidikan informal lain yang mengajarkan pengetahuan dasar agama Islam. Akan tetapi, sebenarnya ada dualisme cara memandang pendidikan Barat ini. Di samping dianggap sebagai perwujudan dari pengaruh Barat atau Kristen terhadap lingkungan sosial dan budaya lokal maupun Islam, pendidikan Barat juga dilihat secara objektif sebagai faktor penting untuk mendinamisasi masyarakat pribumi yang mayoritas beragama Islam.

Pendidikan Barat yang telah diperkenalkan kepada penduduk pribumi secara terbatas ini ternyata telah menciptakan kelompok intelektual dan profesional yang mampu melakukan perubahan-perubahan maupun memunculkan ide-ide baru di dalam masyarakat maupun sikap terhadap kekuasaan kolonial. Perubahan dan pencetusan ide-ide baru itu pada masa awal hanya terbatas pada bidang sosial, kultural, dan ekonomi, akan tetapi kemudian mencakup juga permasalahan politik. Walaupun feodalisme dalam sikap maupun struktur yang lebih makro di dalam masyarakat, khususnya di Jawa masih tetap berlangsung, pembentukan “organisasi modern” merupakan salah satu realisasi yang penting dari upaya perubahan dengan ide-ide baru tersebut.

Pada tahun 1908 organisasi Budi Utomo didirikan oleh para mahasiswa sekolah kedokteran di Jakarta. Walaupun dasar, tujuan, dan aktivitas Budi Utomo sebagai suatu organisasi masih terikat pada unsur-unsur primordial dan terbatas, keberadaan Budi Utomo secara langsung maupun tidak berpengaruh terhadap bentuk baru dari perjuangan kebangsaan melawan kondisi yang diciptakan oleh kolonialisme Belanda. Berbagai organisasi baru kemudian didirikan, dan perjuangan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial yang dulu terkosentrasi di kawasan pedesaan mulai beralih terpusat di daerah perkotaan.

Dunia Islam dan Masyarakat Muslim Indonesia Secara makro perkembangan dunia Islam pada akhir abad XIX dan awal abad XX ditandai oleh usaha untuk melawan dominasi Barat setelah sebagian besar negara yang penduduknya beragama Islam secara politik, sosial, ekonomi, maupun budaya telah kehilangan kemerdekaan dan berada di bawah kekuasaan kolonialisme dan imprialisme Barat sejak beberapa abad sebelumnya. Dalam masyarakat Muslim sendiri muncul usaha untuk mengatasi krisis internal dalam proses sosialisasi ajaran Islam, akidah, maupun pemikiran pada sebagian besar masyarakat, baik yang disebabkan oleh dominasi kolonialisme dan imperialisme Barat, maupun sebab-sebab lain yang ada dalam masyarakat Muslim itu sendiri.

Dalam kehidupan beragama ini terjadi kemerosotan ruhul Ishmi, jika dilihat dari ajaran Islam yang bersumber pada Quran dan Sunnah Rasulullah. Pengamalan ajaran Islam bercampur dengan bid’ah, khurafat, dan syi’ah. Di samping itu, pemikiran umat Islam juga terbelenggu oleh otoritas mazhab dan taqlid kepada para ulama sehingga ijtihad tidak dilakukan lagi. Dalam pengajaran agama Islam, secara umum Qur’an yang menjadi sumber ajaran hanya

diajarkan pada tingkat bacaan, sedangkan terjamahan dan tafsir hanya boleh dipelajari oleh orang-orang tertentu saja. Sementara itu, pertentangan yang bersumber pada masalah khilafiyah dan firu’iyah sering muncul dalam masyarakat Muslim, akibatnya muncul berbagai firqah dan pertentangan yang bersifat laten.

Di tengah-tengah kemerosotan itu, sejak pertengahan abad XIX muncul ide-ide pemurnian ajaran dan kesadaran politik di kalangan umat Islam melalui pemikiran dan aktivitas tokoh-tokoh seperti: Jamaludin Al-Afgani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan para pendukung Muhammad bin Abdul Wahab. Jamaludin Al-Afgani banyak bergerak dalam bidang politik, yang diarahkan pada ide persaudaraan umat Islam sedunia dan gerakan perjuangan pembebasan tanah air umat Islam dari kolonialisme Barat.

Sementara itu, Muhammad Abduh dan muridnya, Rasyid Ridha, berusaha memerangi kestatisan, syirik, bid’ah, khurafat, taqlid, dan membuka pintu ijtihad di kalangan umat Islam. Restrukturisasi lembaga pendidikan Islam dan mewujudkan ide-ide ke dalam berbagai penerbitan merupakan wujud usaha pemurnian dan pembaharuan yang dilakukan oleh dua orang ulama dari Mesir ini. Rasyid Ridha, misalnya, menerbitkan majalah Al-Manar di Mesir, yang kemudian disebarkan dan dikenal secara luas di seluruh dunia Islam. Sementara itu, ide-ide pembaharuan yang dikembangkan oleh pendukung Muhammad bin Abdlul Wahab dalam gerakan Al Muwahhidin telah mendapat dukungan politis dari penguasa Arab Saudi sehingga gerakan yang dikenal oleh para orientalis sebagai Wahabiyah itu berkembang menjadi besar dan kuat.

Seperti yang terjadi di dalam dunia Islam secara umum, Islam di Indonesia pada abad XIX juga mengalami krisis kemurnian ajaran, kestatisan pemikiran maupun aktivitas, dan pertentangan internal. Perjalanan historis penyebaran agama Islam di Indonesia sejak masa awal melalui proses akulturasi dan sinkretisme, pada satu sisi telah berhasil meningkatkan kuantitas umat Islam. Akan tetapi secara kualitas muncul kristalisasi ajaran Islam yang menyimpang dari ajaran Islam yang murni.

Di Pulau Jawa, misalnya, persoalan kemurnian ajaran Islam ini sangat terasa karena unsur-unsur lokal sangat berpengaruh dalam proses sosialisasi ajaran di dalam masyarakat seperti yang terlihat pada: sekaten, kenduri, tahlilan, dan wayang. Kondisi seperti ini dapat dilihat pada laporan T.S. Raffles tentang Islam di Jawa pada awal abad XIX, yang menyatakan bahwa orang Jawa yang berpengetahuan cukup tentang Islam dan berprilaku sesuai dengan ajaran Islam hanya beberapa orang saja.

Selain itu, K.H. Ahmad Rifa’i, salah seorang ulama di Jawa yang sangat disegani oleh pemerintah kolonial, pada pertengahan abad XIX menyatakan bahwa pengamalan agama Islam orang Jawa banyak menyimpang dari aqidah Islalamiyah dan harus diluruskan. Interaksi reguler antara sekelompok masyarakat Muslim Indonesia dengan dunia Islam memberi kesempatan kepada mereka untuk mempelajari dan memahami lebih dalam ajaran Islam sehingga tidak mengherankan kemudian muncul ide-ide atau wawasan baru dalam kehidupan beragama di dalam masyarakat Indonesia. Mereka mulai mempertanyakan kemurnian dan implementasi ajaran Islam di dalam masyarakat. Oleh sebab itu, di samping unsur-unsur lama yang terus bertahan seperti pemahaman dan pengamalan ajar-an Islam yang sinkretik dan sikap taqlid terhadap ulama, di dalam masyarakat Muslim Indonesia pada akhir abad XIX dan awal abad XX juga berkembang kesadaran yang sangat kuat untuk melakukan pembaharuan dalam banyak hal yang berhubungan dengan agama Islam yang telah berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Hal ini tentu saja menimbulkan konflik antarkelompok, yang terpolarisasi dalam bentuk gerakan yang dikenal sebagai “kaum tua” berhadapan dengan “kaum muda” atau antara kelompok “pembaharuan” berhadapan dengan “antipembaharuan”. Sementara itu, krisis yang terjadi di dalam Islam di Indonesia, selain disebabkan oleh dinamika internal juga tidak dapat dipisahkan dengan perluasan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Islam sejak awal muncul sebagai kekuatan di balik perlawanan terhadap kolonialisme, baik dalam pengertian idiologis maupun peran langsung para ulama dan umat Islam secara keseluruhan. Hal ini dapat dilihat berbagai perlawanan yang terjadi sepanjang abad XIX dan awal abad XX, seperti: Perang Diponegoro, Perang Bonjol, Perang Aceh, dan protes-protes petani, yang semuanya diwarnai oleh unsur Islam yang sangat kental.

Akibatnya, pemerintah kolonial cenderung melihat Islam sebagai ancaman langsung dari eksistensi kekuasaan kolonial ini. Setiap aktivitas yang berhubungan dengan Islam selalu dicurigai dan dianggap sebagai langkah untuk melawan penguasa. Oleh sebab itu, berdasarkan konsep yang dikembangkan oleh C. Snouck Hurgronje pada akhir abad XIX pemerintah kolonial secara tegas memisahkan Islam dari politik, akan tetapi Islam sebagai ajaran agama dan kegiatan sosial dibiarkan berkembang walaupun tetap berada dalam pengawasan yang ketat. Kecurigaan pemerintah kolonial yang berlebihan terhadap Islam ini membatasi kreativitas umat, baik dalam pengertian ajaran, pemikiran, maupun penyesuaian diri dengan dinamika dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat secara umum.

Hal ini semakin diperburuk oleh munculnya sikap taqlid kepada para ulama tertentu pada sebagian besar umat Islam di Indonesia pada waktu itu.  Pemerintah kolonial juga berusaha mengeksploitasi perbedaan yang ada dalam masyarakat yang berhubungan dengan Islam, seperti perbedaan sosio-antropologis antara kelompok santri dan abangan yang menjadi konflik sosial berkepanjangan. Selain itu, aktivitas kristenisasi yang dilakukan oleh missi Katholik maupun zending Protestan terhadap penduduk pribumi yang telah beragama Islam terus berlangsung tanpa halangan dari penguasa kolonial. Lembaga pendidikan dari tingkat dasar sampai menengah, panti asuhan, dan rumah sakit yang didirikan oleh missi dan zending sebagai pendukung utama dalam proses kristenisasi, secara reguler mendapat bantuan dana yang besar dari pemerintah.

 

Ahmad Dahlan dan Pembentukan Muhammmadiyah di tengah-tengah kondisi tidak menentu seperti yang digambarkan di atas, Ahmad Dahlan muncul sebagai salah seorang yang perduli terhadap kondisi yang sedang dihadapi masyarakat pribumi secara umum maupun masyarakat Muslim secara khusus. Ahmad Dahlan lahir di Kampung Kauman Yogyakarta pacla tahun 1868 dengan nama Muhammad Darwis. Ayahnya K.H. Abu Bakar adalah imam dan khatib Masjid Besar Kauman Yogyakarta, sementara ibunya Siti Aminah adalah anak K.H. Ibrahim, penghulu besar di Yogyakarta. Menurut salah satu silsilah, keluarga Muhammad Darwis dapat dihubungkan dengan Maulana Malik Ibrahim, salah seorang wali penyebar agama Islam yang dikenal di Pulau Jawa.

Sebagai anak keempat dari keluarga K.H. Abubakar, Muhammad Darwis mempunyai 5 orang saudara perempuan dan I orang saudara laki-laki. Seperti layaknya anak-anak di Kampung Kauman pada waktu itu yang diarahkan pada pendidikan informal agama Islam, sejak kecil Muhammad Darwis sudah belajar membaca Quran di kampung sendiri atau di tempat lain. Ia belajar membaca Quran dan pengetahuan agama Islam pertama kali dari ayahnya sendiri dan pada usia delapan tahun ia sudah lancar dan tamat membaca Quran. Menurut cerita, sejak kecil Muhammad Darwis sudah menunjukkan beberapa kelebihan dalam penguasaan ilmu, sikap, dan pergaulan sehari-hari dibandingkan teman-temannya yang sebaya.

Ia juga mempunyai keahlian membuat barang-barang kerajinan dan mainan.  Seperti anak laki-laki yang lain, Muhammad Darwis juga sangat senang bermain layang-layang dan gasing. Seiring dengan perkembangan usia yang semakin bertambah, Muhammad Dalwis yang sudah tumbuh remaja mulai belajar ilmu agama Islam tingkat lanjut, tidak hanya sekedar membaca Quran. Ia belajar fiqh dari K.H. Muhammad Saleh dan belajar nahwu dari K.H. Muhsin. Selain belajar dari dua guru di atas yang juga adalah kakak iparnya, Muhammad Darwis belajar ilmu agama lslam lebih lanjut dari K.H. Abdul Hamid di Lempuyangan dan KH. Muhammad Nur.

Muhammad Darwis yang sudah dewasa terus belajar ilmu agama Islam maupun ilmu yang lain dari guru-guru yang lain, termasuk para ulama di Arab Saudi ketika ia sedang menunaikan ibadah haji. Ia pernah belajar ilmu hadist kepada Kyai Mahfudh Termas dan Syekh Khayat, belajar ilmu qiraah kepada Syekh Amien dan Sayid Bakri Syatha, belajar ilmu falaq pada K.H. Dahlan Semarang, dan ia juga pernah belajar pada Syekh Hasan tentang mengatasi racun binatang.  Menurut beberapa catatan, kemampuan intelektual Muhammad Darwis ini semakin berkembang cepat dia menunaikan ibadah haji pertama pada tahun 1890, beberapa bulan setelah perkawinannya dengan Siti Walidah pada tahun 1889.

Proses sosialisasi dengan berbagai ulama yang berasal dari Indonesia seperti: Kyai Mahfudh dari Termas, Syekh Akhmad Khatib dan Syekh Jamil Jambek dari Minangkabau, Kyai Najrowi dari Banyumas, dan Kyai Nawawi dari Banten, maupun para ulama dari Arab, serta pemikiran baru yang ia pelajari selama bermukim di Mekah kurang lebih delapan bulan, telah membuka cakrawala baru dalam diri Muhammad Darwis, yang telah berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Perkembangan ini dapat dilihat dari semakin, luas dan bervariasinya jenis kitab yang dibaca Ahmad Dahlan. Sebelum menunaikan ibadah haji, Ahmad Dahlan lebih banyak mempelajari kitab-kitab, dari Ahlussunnah waljamaah dalam ilmu aqaid, dari madzab Syafii dalam ilmu Fiqh dari Imam Ghozali dan ilmu tasawuf.

Sesudah pulang dari menunaikan ibadah haji, Ahmad Dahlan mulai membaca kitah-kitab lain yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Semangat membaca Ahmad Dahlan yang besar ini dapat dilihat pada kejadian ketika ia membeli buku menggunakan sebagian dari modal sebesar 1500 setelah ia pulang dari menunaikan ibadah haji yang pertama, yang sebenarnya diberikan oleh keluarganya untuk berdagang. Sementara itu, keinginan untuk memperdalam ilmu agama Islam terus muncul pada diri Ahmad Dahlan. Dalam upaya untuk mewujudkan cita-citanya itu, ia menunaikan ibadah haji kedua pada tahun 1903, dan bermukim di Mekah selama hampir dua tahun. Kesempatan ini digunakan Ahmad Dahlan untuk belajar ilmu agama Islam baik dari para guru ketika ia menunaikan ibadah haji pertama maupun dari guru-guru yang lain.

Ia belajar fiqh pada Syekh Saleh Bafadal, Syekh Sa’id Yamani, dan Syekh Sa’ id Babusyel. Ahmad Dahlan belajar ilmu hadist pada Mufti Syafi’i, sementara itu ilmu falaq dipelajari pada Kyai Asy’ari Bawean. Dalam bidang ilmu qiruat, Ahmad Dahlan belajar dari Syekh Ali Misri Makkah. Selain itu, selama bermukim di Mekah ini Ahmad Dahlan juga secara reguler mengadakan hubungan dan membicarakan berbagai masalah sosial-keagamaan, termasuk masalah yang terjadi di Indonesia dengan para Ulama Indonesia yang telah lama bermukim di Arab Saudi, seperti: Syekh Ahmad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kyai Fakih dari Maskumambang.

Berdasarkan koleksi buku-buku yang ditinggalkan oleh Ahmad Dahlan, sebagian besar adalah buku yang dipengaruhi ide-ide pembaharuan. Di antara buku-buku yang sering dibaca Ahmad Dahlan antara lain: Kosalatul Tauhid karangan Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amma karangan Muhammad Abduh, Kanz AL-Ulum, Dairah Al Ma’arif karangan Farid Wajdi, Fi Al -Bid’ah karangan Ibn Taimiyah, Al Tawassul wa-al-Wasilah karangan Ibn Taimiyah, Al-Islam wa-l-Nashraniyah karangan Muhammad Abduh, Izhar al-Haq karangan Rahmah al Hindi, Tafsshil al-Nasyatain Tashil al Sa’adatain, Matan al-Hikmah karangan Atha Allah, dan Al-Qashaid al-Aththasiyvah karangan Abd al Aththas.

Pengalaman Ahmad Dahlan mengajar agama Islam di dalam masyarakat dimulai setelah ia pulang dari menunaikan ibadah haji pertama. Ahmad Dahlan mulai dengan membantu ayahnya mengajar para murid yang masih kanak-kanak dan remaja. Dia mengajar pada siang hari sesudah dzuhur, dan malam hari, antara maghrib sampai isya. Sementara itu, sesudah ashar Ahmad Dahlan mengikuti ayahnya yang mengajar agama Islam kepada orang-orang tua. Apabila ayahnya berhalangan, Ahmad Dahlan menggantikan ayahnya memberikan pelajaran sehingga akhirnya ia mendapat sebutan kyai, sebagai pengakuan terhadap kemampuan dan pengalamannya yang luas dalam memberikan pelajaran agama Islam.

Sebagai Khatib Amin, Ahmad Dahlan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan agama Islam yang dimiliki, pengalaman berinteraksi dengan berbagai kelompok dalam  dunia Islam, serta pengalamannya memberi pelajaran agama Islam selama ini sehingga sering muncul ide dan aktivitas baru. Berbeda dengan para khatib lain yang cenderung menghabiskan waktu begitu saja ketika sedang bertugas piket di serambi masjid besar Kauman, Ahmad Dahlan secara rutin memberikan pelajaran agama Islam kepada orang-orang yang datang ke masjid besar ketika ia sedang melakukan piket.

Ahmad Dahlan juga mulai menyampaikan ide-ide baru yang lebih mendasar, seperti persoalan arah kiblat salat yang sebenarnya. Akan tetapi, ide baru ini tidak begitu saja bisa dilaksanakan seperti yang diajarkan di serambi masjid besar karena mempersoalkan arah kiblat salat merupakan suatu hal yang sangat peka pada waktu itu. Ahmad Dahlan memerlukan waktu hampir satu tahun untuk menyampaikan masalah ini. Itu pun hanya terbatas pada para ulama yang sudah dikenal dan dianggap sepaham di sekitar Kampung Kauman. Pada satu malam pada tahun 1898, Ahmad Dahlan mengundang 17 orang ulama yang ada di sekitar kota Yogyakarta untuk melakukan musyawarah tentang arah kiblat di surau milik keluarganya di Kauman.

Diskusi antara para ulama yang telah mempersiapkan diri dengan berbagai kitab acuan ini berlangsung sampai waktu subuh, tanpa menghasilkan kesepakatan. Akan tetapi, dua orang yang secara diam-diam mendengar pembicaraan itu beberapa hari kemudian membuat tiga garis putih setebal 5 cm di depan pengimaman masjid besar Kauman untuk mengubah arah kiblat sehingga mengejutkan para jemaah salat dzuhur waktu itu. Akibatnya, Kanjeng KyaiPenghulu H.M. Kholil Kamaludiningrat memerintahkan untuk menghapus tanda tersebut dan mencari orang yang melakukan itu.

Sebagai realisasi dari ide pembenahan arah kiblat tersebut, Ahmad Dahlan yang merenovasi surau milik keluarganya pada tahun 1899 mengarahkan surau tersebut ke arah kiblat yang sebenarnya, yang tentu saja secara arsitektural berbeda dengan arah masjid besar Kauman. Setelah dipergunakan beberapa hari untuk kegiatan Ramadhan, Ahmad Dahlan mendapat perintah dari Kanjeng Penghulu untuk membongkar surau tersebut, yang tentu saja ditolak. Akhirnya, surau tersebut dibongkar secara paksa pada malam hari itu juga. Walaupun diliputi perasaan kecewa, Ahmad Dahlan membangun kembali surau tersebut sesuai dengan arah masjid besar Kauman setelah berhasil dibujuk oleh saudaranya, sementara arah kiblat yang sebenarnya ditandai dengan membuat garis petunjuk di bagian dalam masjid.

Setelah pulang dari menunaikan ibadah haji kedua, aktivitas sosial-keagamaan Ahmad Dahlan di dalam masyarakat di samping sebagai Khatib Amin semakin berkembang. Ia membangun pondok untuk menampung para murid yang ingin belajar ilmu agama Islam secara umum maupun ilmu lain seperti: ilmu falaq, tauhid, dan tafsir. Para murid itu tidak hanya berasal dari wilayah Residensi Yogyakarta, melainkan juga dari daerah lain di Jawa Tengah.  Walaupun begitu, pengajaran agama Islam melalui pengajian kelompok bagi anak- anak, remaja, dan orang tua yang telah lama berlangsung masih terus dilaksanakan. Di samping itu, di rumahnya Ahmad Dahlan mengadakan pengajian rutin satu minggu atau satu bulan sekali bagi kelompok-kelompok tertentu, seperti pengajian untuk para guru dan pamong praja yang berlangsung setiap malam Jum`at.

Pembentukan ide-ide dan aktivitas baru pada diri Ahmad Dahlan tidak dapat dipisahkan dari proses sosialisasi dirinya sebagai pedagang dan ulama serta dengan alur pergerakan sosial- keagamaan, kultural, dan kebangsaan yang sedang berlangsung di Indonesia pada awal abad XX. Sebagai seorang pedagang sekaligus ulama, Ahmad Dahlan sering melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Residensi Yogyakarta maupun daerah lain seperti: Periangan, Jakarta, Jombang, Banyuwangi, Pasuruan, Surabaya, Gresik, Rembang, Semarang, Kudus, Pekalongan, Purwokerto, dan Surakarta. Di tempat-tempat itu ia bertemu dengan para ulama, pemimpin lokal, maupun kaum cerdik cendekia lain, yang sama-sama menjadi pedagang atau bukan.

Dalam pertemuan-pertemuan itu mereka berbicara tentang masalah agama Islam maupun masalah umum yang terjadi dalam masyarakat, terutama yang secara langsung berhubungan dengan kemunculan, kestatisan, atau keterbelakangan penduduk Muslim pribumi di tengah- tengah masyarakat kolonial. Dalam konteks pergerakan sosial keagamaan, budaya, dan kebangsaan, hal ini dapat diungkapkan dengan adanya interaksi personal maupun formal antara Ahmad Dahlan dengan organisasi seperti : Budi Utomo, Sarikat Islam, dan Jamiat Khair, maupun hubungan formal antara organisasi yang ia cirikan kemudian, terutama dengan Budi Utomo.

Secara personal Ahmad Dahlan mengenal organisasi Budi Utomo melalui pembicaraan atau diskusi dengan Joyosumarto, seorang anggota Budi Utomo di Yogyakarta yang mempunyai hubungan dekat dengan dr. Wahidin Sudirohusodo, salah seorang pimpinan Budi Utomo yang tinggal di Ketandan Yogyakarta. Melalui Joyosumarto ini kemudian Ahmad Dahlan berkenalan dengan dr. Wahidin Sudirohusodo secara pribadi dan sering menghadiri rapat anggota maupun pengurus yang diselenggarakan oleh Budi Utomo di Yogyakarta walaupun secara resmi ia belum menjadi anggota organisasi ini. Setelah banyak mendengar tentang aktivitas dan tujuan organisasi Budi Utomo melalui pembicaraan pribadi dan kehadirannya dalam pertemuan -pertemuan resmi, Ahmad Dahlan kemudian secara resmi menjadi anggota Budi Utomo pada tahun 1909.

Dalam perkembangan selanjutnya, Ahmad Dahlan tidak hanya menjadi anggota biasa, melainkan ia menjadi pengurus kring Kauman dan salah seorang komisaris dalam kepengurusan Budi Utomo Cabang Yogyakarta. Sementara itu, pada sekitar tahun 1910 Ahmad Dahlan juga menjadi anggota Jamiat Khair, organisasi Islam yang banyak bergerak dalam bidang pendidikan dan mayoritas anggotanya adalah orang-orang Arab. Keterlibatan secara langsung di dalam Budi Utomo memberi pengetahuan yang banyak kepada Ahmad Dahlan tentang cara berorganisasi dan mengatur organisasi secara modern.

Sementara itu, walaupun Ahmad Dahlan tidak terlibat secara aktif di dalam Jamiat Khair, selain belajar berorganisasi secara modern di kalangan orang Islam, ia juga mendapat pengetahuan tentang kegiatan sosial, terutama yang berhubungan dengan pendirian dan pengelolaan lembaga pendidikan model sekolah. Semua ini tentu saja merupakan suatu hal yang baru dan sangat berpengaruh bagi langkah-langkah yang dilakukan Ahmad Dahlan pada masa selanjutnya, seperti pendirian sekolah model Barat maupun pembentukan satuorganisasi.

Sebagai pengurus Budi Utomo, aktivitas Ahmad Dahlan tidak hanya terbatas pada hal-hal yang berhubungan langsung dengan masalah organisasi. Ia sering memanfaatkan forum pertemuan pengurus maupun anggota Budi Utomo sebagai tempat untuk menyampaikan informasi tentang agama Islam, bidang yang sangat ia kuasai. Kegiatan ini biasanya dilakukan setelah acara resmi selesai. Kepiawaian Ahmad Dahlan dalam menyampaikan informasi tentang agama Islam dalam berbagai pertemuan informal itu telah menarik perhatian para pengurus maupun anggota Budi Utomo yang sebagian besar terdiri dari pegawai pemerintah dan guru sehingga sering terjadi diskusi yang menarik di antara mereka tentang agama Islam.

Di antara pengurus dan anggota Budi Utomo yang tertarik pada masalah agama Islam adalah R. Budiharjo dan R. Sosrosugondo, yang pada saat itu menjabat sebagai guru di Kweekschool Jetis. Melalui jalur dua orang guru ini Ahmad Dahlan mendapat kesempatan mengajar agama Islam kepada para siswa Kweekschool Jetis, setelah kepala sekolah setuju dan memberikan izin.  Pelajaran agama Islam di sekolah guru milik pemerintah itu diberikan di luar jam pelajaran resmi, yang biasanya dilakukan pada setiap hari Sabtu sore.

Dalarn mengajarkan pengetahuan agama Islam secara umum maupun membaca Quran, Ahmad Dahlan menerapkan metode pengajaran yang disesuaikan dengan kemampuan siswa sehingga mampu menarik perhatian para siswa untuk menekuninya. Tentu saja sebagian siswa merasa bahwa waktu pelajaran agama Is1am pada hari Sabtu sore itu belum cukup. Oleh sebab itu, beberapa orang siswa, termasuk mereka yang belum beragama Islam sering datang ke rumah Ahmad Dahlan di Kauman pada hari Ahad untuk bertanya maupun melakukan diskusi lebih lanjut tentang berbagai persoalan yang berhubungan dengan agama Islam.

Dalam perkembangan selanjutnya, pengalaman berorganisasi di Budi Utomo dan Jamiat Khair memberikan pelajaran kepada siswa Kweekschool dan didukung oleh perkembangan pendapat masyarakat umum pada waktu itu yang mulai menyadari bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana yang penting bagi kemajuan penduduk pribumi. Oleh karena itu, Ahmad Dahlan secara pribadi mulai merintis pembentukan sebuah sekolah yang memadukan pengajaran ilmu agama Islam dan ilmu umum. Dalam berbagai kesempatan Ahmad Dahlan menyampaikan ide pendirian sekolah yang mengacu pada metode pengajaran seperti yang berlaku pada sekolah milik pemerintah kepada berbagai pihak, termasuk kepada para santri yang belajar di Kauman maupun penduduk Kauman secara umum. Sebagian besar dari mereka bersikap acuh tak acuh, bahkan ada yang secara tegas menolak ide pendidikan sistem sekolah tersebut karena dianggap bertentangan dengan tradisi dalam agama Islam.

Akibatnya, para santri yang selama ini belajar kepada Ahmad Dahlan satu per-satu berhenti. Walaupun belum mendapat dukungan dari masyarakat sekitarnya, Ahmad Dahlan tetap berkeinginan untuk mendirikan lembaga pendidikan yang menerapkan model sekolah yang mengajarkan ilmu agama Islam maupun ilmu pengetahuan umum. Sekolah tersebut dimulai dengan 8 orang siswa, yang belajar di ruang tamu rumah Ahmad Dahlan yang berukuran 2,5 m x 6 m dan ia bertindak sendiri sebagai guru. Keperluan belajar dipersiapkan sendiri oleh Ahmad Dahlan dengan memanfaatkan dua buah meja miliknya sendiri. Sementara itu, dua buah bangku tempat duduk para siswa dibuat sendiri oleh Ahmad Dahlan dari papan bekas kotak kain mori dan papan tulis dibuat dari kayu suren.

Delapan orang siswa pertama itu merupakan santrinya yang masih setia, serta anak-anak yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Ahmad Dahlan. Pendirian sekolah tersebut ternyata tidak mendapat sambutan yang baik dari masyarakat sekitarnya kecuali beberapa orang pemuda. Pada tahap awal proses belajar mengajar belum berjalan dengan lancar. Selain ada penolakan dan pemboikotan masyarakat sekitarnya, para siswa yang hanya berjumlah 8 orang itu juga sering tidak masuk sekolah. Untuk mengatasi hal tersebut, Ahmad Dahlan tidak segan-segan datang ke rumah para siswanya dan meminta mereka masuk sekolah kembali, di samping ia terus mencari siswa baru. Seiring dengan pertambahan jumlah siswa, Ahmad Dahlan juga menambah meja dan bangku satu per satu sehingga setelah berlangsung enam bulan jumlah siswa menjadi 20 orang.

Ketika pendirian sekolah tersebut dibicarakan dengan anggota dan pengurus Budi Utomo serta para siswa dan guru Kweekschool Jetis, Ahmad Dahlan mendapat dukungan yang besar. Di antara para pendukung itu adalah : Mas Raji yang menjadi siswa, R. Sosro Sugondo, dan R. Budiarjo yang menjadi guru di Kweekschool Jetis sangat membantu Ahmad Dahlan mengembangkan sekolah tersebut sejak awal.

R. Budiharjo yang bersama-sama Ahmad Dahlan menjadi pengurus Budi Utomo Yogyakarta banyak memberikan Saran tentang penyelenggaraan sebuah sekolah sesuai dengan pengalamannya menjadi kepala sekolah di Kweekschool Jetis. Ia juga menyarankan kepada Ahmad Dahlan untuk meminta subsidi kepada pemerintah jika sekolah yang didirikan itu sudah teratur, dengan dukungan dari Budi Utomo. Selain itu, pendirian sekolah itu juga mendapat dukungan dari kelompok terpelajar yang berasal dari luar Kauman serta para siswa Kweekschool Jetis yang biasa datang ke rumahnya pada setiap hari Ahad.

Sebagai realisasi dari dukungan Budi Utomo, organisasi ini menempatkan Kholil, seorang guru di Gading untuk mengajar ilmu pengetahuan umum pada sore hari di sekolah yang didirikan Ahmad Dahlan. Oleh sebab itu, para siswa masuk dua kali dalam satu hari karena Ahmad Dahlan mengajar ilmu pengetahuan agama Islam pada pagi hari. Walaupun masih mendapat tantangan dari beberapa pihak, jumlah siswa terus bertambah sehingga Ahmad Dahlan harus memindahkan ruang belajar ke tempat yang lebih luas di serambi rumahnya.

Akhirnya setelah proses belajar mengajar semakin teratur, sekolah yang didirikan oleh Ahmad Dahlan itu diresmikan pada tanggal 1 Desember 1911 dan diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Ketika diresmikan, sekolah itu mempunyai 29 orang siswa dan enam bulan kemudian dilaporkan bahwa terdapat 62 orang siswa yang belajar di sekolah itu. Sebagai lembaga pendidikan yang baru saja terbentuk, sekolah yang didirikan oleh Ahmad Dahlan memerlukan perhatian lebih lanjut agar dapat terus dikembangkan. Dalam kondisi seperti itu, pengalaman Ahmad Dahlan berorganisasi dalam Budi Utomo dan Jamiat Khair menjadi suatu hal yang sangat penting bagi munculnya ide dan pembentukan satu organisasi untuk mengelola sekolah tersebut, di samping kondisi makro pada saat itu yang telah menimbulkan kesadaran akan arti penting suatu organisasi modern maupun masukan yang didapat dari para pendukung, termasuk dari para murid Kweekschool Jetis.

Salah seorang siswa kweekschool yang biasa datang ke rumah Ahmad Dahlan pada hari Ahad, misalnya, menyarankan agar sekolah tersebut tidak hanya diurus oleh Ahmad Dahlan sendiri melainkan dilakukan oleh suatu organisasi supaya sekolah itu dapat terus berlangsung walaupun Ahmad Dahlan tidak lagi terlibat di dalamnya atau setelah ia meninggal. Ide pembentukan organisasi itu kemudian didiskusikan lebih lanjut dengan orang-orang yang selama ini telah mendukung pembentukan dan pelaksanaan sekolah di Kauman, terutama para anggota dan pengurus Budi Utomo serta guru dan murid Kweekschool Jetis.

Dalam satu kesempatan untuk mendapatkan dukungan dalam rangka merealisasi ide pembentukan sebuah organisasi, Ahmad Dahlan melakukan pembicaraan dengan Budiharjo yang menjadi kepala sekolah di Kweekschool Jetis dan R. Dwijosewoyo, seorang aktivis Budi utomo yang sangat berpengaruh pada masa itu. Pembicaraan tersebut tidak hanya terbatas pada upaya mencari dukungan, melainkan juga sudah difokuskan pada persoalan nama, tujuan, tempat kedudukan, dan pengurus organisasi yang akan dibentuk. Berdasarkan pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan didapatkan beberapa ha1 yang berhubungan secara langsung dengan rencana pembentukan sebuah organisasi.

Pertama, perlu didirikan sebuah organisasi baru di Yogyakarta. Kedua, para siswa Kweekschool tetap akan mendukung Ahmad Dahlan, akan tetapi mereka tidak akan menjadi pengurus organisasi yang akan didirikan karena adanya larangan dari inspektur kepala dan anjuran agar pengurus supaya diambil dari orang-orang yang sudah dewasa. Ketiga, Budi Utomo akan membantu pendirian perkumpulan baru tersebut. Pada bulan-bulan akhir tahun 1912 persiapan pembentukan sebuah perkumpulan baru itu dilakukan dengan lebih intensif, melalui pertemuan-pertemuan yang secara ekplisit membicarakan dan merumuskan masalah seperti nama dan tujuan perkumpulan, serta peran Budi Utomo dalam proses formalitas yang berhubungan dengan pemerintah Hindia Belanda.

Walaupun secara praktis organisasi yang akan dibentuk bertujuan untuk mengelola sekolah yang telah dibentuk lebih dahulu, akan tetapi dalam pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan selanjutnya tujuan pembentukan organisasi itu berkembang lebih luas, mencakup penyebaran dan pengajaran agama Islam secara umum serta aktivitas sosial lainnya. Anggaran dasar organisasi ini dirumuskan dalam bahasa Belanda dan bahasa Melayu, yang dalam penyusunannya mendapat bantuan dari R. Sosrosugondo, guru bahasa Melayu di Kweekscbool Jetis.

Organisasi yang akan dibentuk itu diberi nama “Muhammadiyah”, nama yang berhubungan dengan nama nabi terakhir Muhammad SAW.”‘ Berdasarkan nama itu diharapkan bahwa setiap anggota Muhammadiyah dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat dapat menyesuaikan diri dengan pribadi Nabi Muhammad SAW dan Muhammadiyah menjadi organisasi akhir zaman. Sementara itu, Ahmad Dahlan berhasil mengumpulkan 6 orang dari Kampung Kauman, yaitu: Sarkawi, Abdulgani, Syuja, M. Hisyam, M. Fakhruddin, dan M. Tamim untuk menjadi anggota Budi Utomo dalam rangka mendapat dukungan formal Budi Utomo dalam proses permohonan pengakuan dari Pemerintah Hindia Belanda terhadap pembentukan Muhammadiyah.

Setelah seluruh persiapan selesai, berdasarkan kesepakatan bersama dan setelah melakukan shalat istikharah akhirnya pada tanggal 18 November 1912 M atau 8 Dzulhijjah 1330 H persyarikatan Muhammadiyah didirikan. Dalam kesepakatan itu juga ditetapkan bahwa Budi Utomo Cabang Yogyakarta akan membantu mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar pembentukan Muhammadiyah diakui secara resmi sebagai sebuah badan hukum. Pada hari Sabtu malam, tanggal 20 Desember 1912, pembentukan Muhammadiyah diumumkan secara resmi kepada masyarakat dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, pejabat pemerintah kolonial, maupun para pejabat dan kerabat Kraton Kasultanan Yogyakarta maupun Kadipaten Pakualaman.

Pada saat yang sama, Muhammadiyah yang dibantu oleh Budi Utomo secara resmi mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mengakui Muhammadiyah sebagai suatu badan hukum. Menurut anggaran dasar yang diajukan kepada pemerintah pada waktu pendirian, Muhammadiyah merupakan organisasi yang bertujuan menyebarkan pengajaran agama Nabi Muhammad SAW kepada penduduk bumiputra di Jawa dan Madura serta memajukan pengetahuan agama para anggotanya. Pada waktu itu terdapat 9 orang pengurus inti, yaitu: Ahmad Dahlan sebagai kctua, Abdullah Sirat sebagai sekretaris, Ahmad, Abdul Rahman, Sarkawi, Muhammad, Jaelani, Akis, dan Mohammad Fakih sebagai anggota. Sementara itu, para anggota hanya dibatasi pada penduduk Jawa dan Madura yang beragama Islam.

******

Sumber : http://www.muhammadiyah.or.id

 

Makalah Populer : PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS DALAM PENGEMBANGAN SEKOLAH


 I.  Sekolah Sebagai Lembaga Pendidikan Dan Pusat Pembudayaan

Dalam pengelolaan pendidikan menganut konsep demokratisasi sebagaimana dituangkan dalam UU Sisdiknas 2003 bab III tentang prinsip penyelenggaraan pendidikan (pasal 4) disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan, serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan , nilai kultural, dan kemajemukan bangsa (ayat 1). Karena pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat (ayat 3), serta dengan memberdayakan semua komponen masyarakat, melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

Pendidikan dalam arti luas adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan pada diri seseorang tiga aspek dalam kehidupannya, yakni pandangan hidup, sikap dan keterampilan hidup. Upaya untuk mengembangkan ketiga aspek tersebut bisa dilaksanakan di sekolah, luar sekolah dan keluarga. Kegiatan di sekolah direncanakan dan dilaksanakan secara ketat dengan prinsip-prinsip yang sudah ditetapkan. Pelaksanaan di luar sekolah, meski telah memiliki rencana dan program namun pelaksanaannya relatif longgar dengan berbagai pedoman yang lebih fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lokal. Pendidikan dalam keluarga dilaksanakan secara informal tanpa tujuan yang dirumuskan secara baku dan tertulis.

Dengan mendasarkan pada konsep pendidikan tersebut, maka sesungguhnya pendidikan merupakan pembudayaan (encultural), suatu proses untuk mentasbihkan seseorang mampu hidup dalam suatu budaya tertentu. Konsekuensi dari pernyataan ini, maka praktik pendidikan harus sesuai dengan budaya masyarakat (Zamroni, 2000:82).

Oleh karena itu pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemampuan, dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Pembinaannya pun harus oleh semua guru. Semua guru harus menjadi sosok teladan yang berwibawa bagi para siswanya.

 

Kebijakan Strategis Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan

 

1. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah

Manajemen berbasis sekolah atau School Based Management adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah dalam mencapai tujuan mutu sekolah dalam pendidikan nasional.

Makna dari MBS yaitu otonomi dan pengambilan keputusan partisipasi untuk mencapai sasaran mutu sekolah. Otonomi dapat diartikan sebagai kewenangan (kemandirian) yaitu kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri. Jadi, otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah sesuai dengan dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. Kemandirian yang-dimaksud harus didukung oleh sejumlah kemampuan, yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan yang terbaik, kemampuan berdemokrasi/menghargai perbedaan pendapat, kemampuan memobilisasi sumber daya, kemampuan memilih cara pelaksanaan yang terbaik, kemampuan berkomunikasi dengan cara yang efektif, kemampuan memecahkan persoalan-persoalan sekolah, kemampuan adaftif dan antisipatif, kemampuan bersinergi dan berkolaborasi, dan kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri.

Pengambilan keputusan partisipatif adalah suatu cara untuk mengambil keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik, di mana warga sekolah (guru, karyawan, siswa,orang tua, tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat secara langsung dalam proses pengambilan keputusan yang akan dapat berkontribusi terhadap pencapaian tujuan sekolah. Pengambilan keputusan partisipasi berangkat dari asumsi bahwa jika seseorang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan tersebut, sehingga yang bersangkutan akan merasa memiliki keputusan tersebut, sehingga yang bersangkutan akan bertanggung jawab dan berdedikasi sepenuhnya untuk mencapai tujuan sekolah. Dengan demikian semakin besar tingkat partisipasi, makin besar pula rasa memiliki, makin besar rasa memiliki, makin besar pula rasa tanggung jawab, dan makin besar rasa tanggung jawab makin besar pula dedikasinya.

Melalui MBS, sekolah memiliki kewenangan (kemandirian) yang lebih besar dalam mengelola manajemennya sendiri. Kemandirian tersebut di antaranya meliputi penetapan sasaran peningkatan mutu, penyusunan rencana peningkatan mutu, pelaksanaan rencana peningkatan mutu dan melakukan evaluasi peningkatan mutu. Di samping itu, sekolah juga memiliki kemandirian dalam menggali partisipasi kelompok yang berkepentingan dengan sekolah (Anonim,2000).

Melalui penerapan MBS akan nampak karakteristik lainnya dari profil sekolah mandiri, di antaranya sebagai berikut : i) pengelolaan sekolah akan lebih desentralistik, ii) perubahan sekolah akan lebih didorong oleh motivasi internal dari pada diatur oleh luar sekolah, iii) regulasi pendidkan menjadi lebih sederhana, iv) peranan para pengawas bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dari mengarahkan menjadi menfasilitasi dan dari menghindari resiko menjadi mengelola resiko, v) akan mengalami peningkatan manajemen, vi) dalam bekerja akan menggunakan team work , vii). pengelolaan informasi akan lebih mengarah kesemua kelompok kepentingan sekolah, viii) manajemen sekolah akan lebih menggunakan pemberdayaan dan struktur organisasi akan lebih datar sehingga akan lebih sederhana dan efisien.

 

2. Pendidikan Berbasis Pada Partisipasi Komunitas (Community Based   Education)

            Adanya reformasi yang menimbulkan tuntutan demokratisasi, yang mengarah kepada dua hal yaitu pemberdayaan masyarakat dan pemberdayaan pemerintah daerah (otda). Ini artinya peranan pemerintah akan dikurangi dan memperbesar partisipasi masyarakat. Demikian juga peranan pemerintah pusat yang bersifat sentralistis dan yang telah berlangsung selama 50 tahun lebih, akan diperkecil dengan memberikan peranan yang lebih besar kepada pemerintah daerah yang dikenal dengan sistem desentralisasi. Kedua hal ini harus berjalan secara simultan; inilah yang merupakan paradigma baru, yang menggantikan paradigma lama yang sentralistis.

Dengan desentralisasi penyelenggaraan pendidikan, maka pendanaan pendidikan menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah (pusat), pemerintah daerah, dan masyarakat (pasal 46 ayat 1 UU Siskdiknas). Bahkan, pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah bertanggungjawab menyediakan anggaran pendidikan sebagaimana diatur dalam pasal 31 ayat (4) Undang Undang Dasar Negara RI tahun 1945 – (“Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya duapuluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”) – (pasal 46 ayat 2). Itulah sebabnya dana pendidikan, selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan, harus dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan, dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah (APBD) (pasal 49 ayat 1). Khusus gaji guru dan dosen yang diangkat oleh pemerintah (pusat) dialokasikan dalam APBN (pasal 49 ayat 2).

Sehubungan dengan hal tersebut konsep pendidikan berbasis pada partisipasi masyarakat layak diterapkan, salah satu wujud kerjasama sekolah dengan masyarakat adalah pembentukan Komite Sekolah. Komite Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka peningkatan mutu, pemerataan dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan  pendidikan baik pada pendidikan pra sekolah, jalur pendidikan sekolah maupun   jalur pendidikan luar sekolah.

Komite sekolah berkedudukan di satuan pendidikan. Komite sekolah dapat terdiri dari    satu satuan pendidikan, atau beberapa satuan pendidikan dalam jenjang yang sama atau beberapa satuan pendidikan yang berbeda jenjang tetapi berada pada lokasi yang berdekatan, atau satuan pendidikan yang dikelola oleh suatu penyelenggara pendidikan.

Komite sekolah bertujuan untuk mewadahi dan menjalankan aspirasi dan prakarsa  masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di satuan pendidikan dan meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan serta menciptakan suasana dan kondisi trasnparan, akuntabel dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan pendidikan.

Peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan, pendukung, pengontrol dan  mediator.

Keanggotaan Komite Sekolah terdiri dari unsur masyarakat dan dewan guru/penyelenggara sekolah/aparat desa dengan anggota sekurang-kurangnya 9 orang.

Tata hubungan antara komite sekolah dengan satuan pendidikan Dewan Pendidikan dan institusi lain yang bertanggung jawab dalam pengelolaan pendidikan bersifat koordinatif.

 

3. Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill Education)

Agar pendidikan dapat membekali peserta didik dengan kecakapan hidup yakni memiliki keberanian dari kemauan menghadapi problema hidup dan kehidupan yang wajar tanpa merasa tertekan kemudian secara kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya diperlukan pendidikan yang menerapkan prinsip pendidikan berbasis luas (Broad Based Education) yang tidak hanya berorientasi pada bidang akademik atau keterampilan saja tetapi juga belajar teori dan mempraktekkannya untuk memecahkan problema kehidupannya.

Pendidikan dengan berorientasi pada kecakapan hidup (Life Skill) bertujuan untuk mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi dan memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lingkungan sekolah dengan memberi peluang pemanfaatan sesuai dengan yang ada di masyarakat sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.

Kecakapan hidup lebih luas dari keterampilan untuk bekerja, kecakapan hidup dapat dipilah menjadi kecakapan mengenal diri (kemampuan personal) kecakapan berfikir rasional, kecakapan sosial kecakapan akademik dan kecakapan vokasional.

Prinsip Pelaksanaan pendidikan life skill adalah :

a. Tidak mengubah sistem pendidikan yang berlaku saat ini

b. Tidak menurunkan  pendidikan menjadi pelatihan terintegrasi

c. Penerapan  manajemen  berbasis  sekolah dan  masyarakat

d. Mengarahkan  peserta   didik agar hidup sehat dan   berkualitas, memperoleh    wacana pengetahuan yang luas dan memiliki keinginan untuk mampu hidup layak

4. Pengelolaan sekolah Yang Efektif Dan Efisien

Pengertian tentang sekolah efektif dikemukakan oleh Cheng (1994) yakni sekolah efektif menunjukkan pada kemampuan sekolah dalam menjalankan fungsinya secara maksimal, baik fungsi ekonomis, fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya maupun fungsi pendidikan.  Fungsi ekonomis sekolah adalah memberi bekal kepada siswa agar dapat melakukan aktivitas ekonomi sehingga dapat hidup sejahtera.  Fungsi sosial kemanusiaan sekolah adalah sebagai media bagi siswa untuk beradaptasi dengan kehidupan masyarakat.  Fungsi politis sekolah adalah sebagai wahana untuk memperoleh pengetahuan tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara.  Fungsi budaya adalah media untuk melakukan transmisi dan transformasi budaya.  Adapun fungsi pendidikan adalah sekolah sebagai wahana untuk proses pendewasaan dan pembentukkan kepribadian siswa.

Dalam upaya menuju sekolah mandiri, terlebih dahulu kita perlu menciptakan sekolah yang efektif. Ciri sekolah yang efektif adalah sebagai berikut (i) visi dan misi yang jelas dan target mutu yang harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan secara lokal, (ii)  Sekolah memiliki output yang selalu meningkat setiap tahun.(iii) Lingkungan sekolah aman, tertib, dan menyenangkan bagi warga sekolah.(iv) Seluruh personil sekolah memiliki visi, misi, dan harapan yang tinggi untuk berprestasi secara optimal (v) Sekolah memiliki sistem evaluasi yang kontinyu dan komprehensif terhadap berbagai aspek akademik dan non akademik.

Disamping efektif sekolah juga efisien dalam penyelenggaraan sekolah. Efisiensi dalam pendidikan artinya pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang terbatas sehingga mencapai optimalisasi yang tinggi. Sekolah akan dikatakan efisien jika tercapai: i)  penurunan DO dan mengulang kelas, ii) pemetaan mutu sekolah berdasarkan pada SPM (Standar Pelayanan Minimal) dan Manajemen, iii)  Pengembangan sistem penilaian hasil belajar (penilaian kelas dan ujian akhir sekolah), iv) pengawasan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas publik.

II. IMPLIKASI PARADIGMA BARU PENDIDIKAN TERHADAP MODEL PERENCANAAN PENDIDIKAN DALAM RANGKA IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI ERA OTONOMI DAERAH

Era reformasi telah membawa perubahan-perubahan mendasar dalam berbagai kehidupan termasuk kehidupan pendidikan. Salah satu perubahan mendasar adalah manajemen Negara, yaitu dari manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis daerah. Secara resmi, perubahan manajemen ini telah diwujudkan dalam bentuk Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 1999, yang kemudian direvisi dan disempurnakan menjadi Undang-Undang No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pedoman pelaksanaannyapun telah dibuat melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Konsekuensi logis dari Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tersebut adalah bahwa manajemen pendidikan harus disesuaikan dengan jiwa dan semangat otonomi.

Penyesuaian dengan jiwa dan semangat otonomi itu, antara lain terwujud dalam bentuk perubahan arah paradigma pendidikan, dari paradigma lama ke paradigma baru, yang tentu juga berdampak pada paradigma perencanaan pendidikannya. Secara ideal, paradigma baru pendidikan tersebut mestinya mewarnai kebijakan pendidikan baik kebijakan pendidikan yang bersifat substantif maupun implementatif. Seperti yang dinyatakan oleh Azyumardi Azra (2002: xii) bahwa dengan era otonomi daerah :

”lembaga-lembaga pendidikan, seperti sekolah, madrasah, pesantren, universitas (perguruan tinggi), dan lainnya – yang terintegrasi dalam pendidikan nasional- haruslah melakukan reorientasi, rekonstruksi kritis, restrukturisasi, dan reposisi, serta berusaha untuk menerapkan paradigma baru pendidikan nasional”. Selain itu, implementasi kebijakan tersebut diharapkan berdampak positif terhadap kemajuan pendidikan di daerah dan di tingkat satuan pendidikan.

Agar dampak positif dapat benar-benar terwujud, kemampuan perencanaan pendidikan yang baik di daerah sangatlah diperlukan. Dengan kemampuan perencanaan pendidikan yang baik diharapkan dapat mengurangi kemungkinan timbulnya permasalahan yang serius. Fiske (1996) menyatakan bahwa berdasarkan pengalaman berbagai negara sedang berkembang yang menerapkan otonomi di bidang pendidikan, otonomi berpotensi memunculkan masalah: perbenturan kepentingan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, menurunnya mutu pendidikan, inefisiensi dalam pengelolaan pendidikan, ketimpangan dalam pemerataan pendidikan, terbatasnya gerak dan ruang partisipasi masyarakat dalam pendidikan, serta berkurangnya tuntutan akuntabilitas pendidikan oleh pemerintah serta meningkatnya akuntabilitas pendidikan oleh masyarakat.

Selain itu, dengan perencanaan yang baik, konon, merupakan separoh dari kesuksesan dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang telah diotonomikan di daerah. Sayangnya, kata Abdul Madjid dalam tulisannya ”Pendidikan Tanpa Planning” (Kedaulatan Rakyat, 2006), bahwa rendahnya mutu pendidikan kita disebabkan oleh belum komprehensifnya pendekatan perencanaan yang digunakan. Perencanaan pendidikan, katanya, hanya dijadikan faktor pelengkap atau dokumen ”tanpa makna” sehingga sering terjadi tujuan yang ditetapkan tidak tercapai secara optimal. Dapat juga terjadi, seperti dinyatakan H. Noeng Muhadjir (2003:89), bahwa ”pembuatan implementasi kebijakan berupa perencanaan, mungkin saja dilakukan oleh para eksekutif tanpa penelitian lebih dahulu. Kemungkinan resikonya beragam, misalnya membuat kesalahan yang sama dengan eksekutif terdahulu, tidak realistis, tidak menjawab masalah yang dihadapi masyarakat, sampai ke dugaan manipulatif-koruptif ”.

 

Konsep Desentralisasi Pendidikan

Bila otonomi daerah menunjuk pada hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat, maka hal tersebut hanya mungkin jika Pemerintah Pusat mendesentralisasikan atau menyerahkan wewenang pemerintahan kepada daerah otonom. Inilah yang disebut dengan desentralisasi. Mengenai asas desentralisasi, ada banyak definisi. Secara etimologis, istilah tersebut berasal dari bahasa Latin “de”, artinya lepas dan “centrum”, yang berarti pusat, sehingga bisa diartikan melepaskan dari pusat. Sementara, dalam Undang-undang No. 32 tahun 2004, bab I, pasal 1 disebutkan bahwa desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan RI. Sedangkan menurut Jose Endriga (Verania Andria & Yulia Indrawati Sari,2000:iii) desentralisasi diartikan sebagai “systematic and rasional dispersal of governmental powers and authority to lower level institutions so as to allow multi–sectoral decision making as close as possible to problem area”. Lain halnya dengan Nuril Huda (1998:4), dia mengartikan desentralisasi sebagai “delegations of responsibilities and powers to authorities at the lower levels”.

Secara konseptual, penerapan asas desentralisasi didasari oleh keinginan menciptakan demokrasi, pemerataan dan efisiensi. Diasumsikan bahwa desentralisasi akan menciptakan demokrasi melalui partisipasi masyarakat lokal. Dengan sistem yang demokratis ini diharapkan akan mendorong tercapainya pemerataan pembangunan terutama di daerah pedesaan dimana sebagian besar masyarakat tinggal. Sedangkan efisiensi dapat meningkat karena jarak antara pemerintah lokal dengan masyarakat menjadi lebih dekat, penggunaan sumber daya digunakan saat dibutuhkan dan masalah diidentifikasi oleh masyarakat lokal sehingga tak perlu birokrasi yang besar untuk mendukung pemerintah lokal. Sementara itu, Kotter (1997) dalam buku “Leading Change”, menyatakan bahwa lembaga yang terdesentralisasi memiliki beberapa keunggulan, antara lain : (1) lebih fleksibel, dapat memberikan respon dengan cepat terhadap lingkungan dan kebutuhan yang selalu berubah, (2) lebih efektif, (3) lebih inovatif, dan (4) menghasilkan semangat kerja yang lebih tinggi, lebih komitmen dan lebih produktif. Sedangkan Achmad Budiono, M.Irfan & Yuli Andi (1998:216) menyatakan bahwa dengan pengambilan keputusan dalam organisasi ke tingkat yang lebih rendah maka akan cenderung memperoleh keputusan yang lebih baik. Desentralisasi bukan saja memperbaiki kualitas keputusan tetapi juga kualitas pengambilan keputusan. Dengan desentralisasi, pengambilan keputusan lebih cepat, lebih luwes dan konstruktif.

Istilah desentralisasi muncul dalam paket UU tentang otonomi daerah yang pelaksanaannya dilatarbelakangi oleh keinginan segenap lapisan masyarakat untuk melakukan reformasi dalam semua bidang pemerintahan. Menurut Bray dan Fiske (Depdiknas, 2001:3) desentralisasi pendidikan adalah suatu proses di mana suatu lembaga yang lebih rendah kedudukannya menerima pelimpahan kewenangan untuk melaksanakan segala tugas pelaksanaan pendidikan, termasuk pemanfaatan segala fasilitas yang ada serta penyusunan kebijakan dan pembiayaan. Senada dengan itu, Husen & Postlethwaite (1994:1407) mengartikan desentralisasi pendidikan sebagai “the devolution of authority from a higher level of government, such as a departement of education or local education authority, to a lower organizational level, such as individual schools”. Sementara itu, menurut Fakry Gaffar (1990:18) desentralisasi pendidikan merupakan sistem manajemen untuk mewujudkan pembangunan pendidikan yang menekankan pada keberagaman, dan sekaligus sebagai pelimpahan wewenang dan kekuasaan dalam pembuatan keputusan untuk memecahkan berbagai problematika sebagai akibat ketidaksamaan geografis dan budaya, baik menyangkut substansi nasional, internasional atau universal sekalipun.

Bila dicermati, esensi terpenting dari berbagai pengertian di atas adalah otoritas yang diserahkan. Williams (Depdiknas, 2001:3-4) membedakan adanya dua macam otoritas (kewenangan dan tanggung jawab) yang diserahkan dari pemerintah pusat ke pemerintah yang lebih rendah, yaitu desentralisasi politis (political decentralization) dan desentralisasi administrasi (administrative decentralization).Perbedaan antar keduanya terletak dalam hal tingkat kewenangan yang dilimpahkan.

Pada desentralisasi politik, kewenangan yang dilimpahkan bersifat mutlak. Pemda menerima kewenangan melaksanakan tanggung jawab secara menyeluruh. Ia memegang otoritas untuk menentukan segala kebijakan tentang penyelenggaraan pendidikan untuk masyarakatnya. Hal itu mencakup kewenangan untuk menentukan model, jenis, sistem pendidikan, pembiayaan, serta lembaga apa yang akan melaksanakan kewenangan-kewenangan tersebut. Sedangkan dalam desentralisasi administrasi, kewenangan yang dilimpahkan hanya berupa strategi pelaksanaan tugas-tugas pendidikan di daerah. Dengan kata lain, kewenangan yang diserahkan berupa strategi pengelolaan yang bersifat implementatif untuk melaksanakan suatu fungsi pendidikan. Dalam desentralisasi model ini, pemerintah pusat masih memegang kekuasaan tertinggi dalam menentukan kebijakan makro, sedangkan pemerintah daerah mempunyai kewajiban dan kewenangan untuk merencanakan, mengatur, menyediakan dana dan fungsi-fungsi implementasi kebijakan lainnya.

Mengapa bidang pendidikan didesentralisasikan? Tentang hal itu, ada berbagai pendapat dari para ahli. Husen & Postlethwaite (1994:1407) menguraikan mengenai alasan desentralisasi (reasons for decentralization), yaitu (a) the improvement of schools, (b) the belief that local participation is a logical form of governance in a democracy, dan (c) in relation to fundamental values of liberty, equality, fraternity, efficiency, and economic growth. Sementara itu, setelah melakukan studi di berbagai negara, Fiske (1998:24-47) menyebutkan sekurang-kurangnya ada empat alasan rasional diterapkannya sistem desentralisasi, termasuk pendidikan, yaitu (a) alasan politis, seperti untuk mempertahankan stabilitas dalam rangka memperoleh legitimasi pemerintah pusat dari masyarakat daerah, sebagai wujud penerapan ideologi sosialis dan laissez-faire dan untuk menumbuhkan kehidupan demokrasi, (b) alasan sosio-kultural, yakni untuk memberdayakan masyarakat lokal, (c) alasan teknis administratif dan paedagogis, seperti untuk memangkas manajemen lapisan tengah agar dapat membayar gaji guru tepat waktu atau untuk meningkatkan antusiasme guru dalam proses belajar mengajar, (d) alasan ekonomis-finansial, seperti meningkatkan sumber daya tambahan untuk pembiayaan pendidikan dan sebagai alat pembangunan ekonomi.

Pendapat lain yang lebih sesuai dengan konteks desentralisasi pendidikan di Indonesia dikemukakan oleh Nuril Huda (1998:3-5). Ia berpendapat bahwa desentralisasi pendidikan di Indonesia dimaksudkan untuk mencapai efisiensi pendidikan dengan mengakomodasi aspirasi masyarakat lokal. Ia juga memberi alasan rinci mengapa pertanggungjawaban implementasi pendidikan didesentralisasikan, yaitu:

Pertama, secara politik desentralisasi adalah cara mendemokratiskan manajemen urusan-urusan publik (politically decentralization is a way of democratizing the management of public affairs). Di bawah skema desentralisasi, pertanggungjawaban pendidikan tertentu diberikan kepada pemerintah daerah. DPRD mengawasi perencanaan dan pelaksanaan pendidikan di daerah. Dengan melibatkan wakil rakyat di dalam urusan pendidikan, diharapkan akan mendukung partisipasi masyarakat yang lebih besar di dalam pelaksanaan pendidikan dan dalam memecahkan masalah yang berhubungan dengannya.

Kedua, secara teknis adalah sulit untuk mengelola pendidikan secara efisien di dalam sebuah wilayah yang luas yang berisi banyak pulau (technically it is difficult to manage education efficiently in a vast area consisting of islands). Masalah komunikasi dan transportasi antara pemerintah pusat dan daerah, khususnya pada masa lalu, telah menjadi pertimbangan penting untuk desentralisasi. Lagi pula, sentralisasi akan membuat sulit untuk memecahkan masalah – masalah perbedaan-perbedaan regional dan untuk mempertemukan kebutuhan dan tuntutan khusus mereka. Perbedaan-perbedaan budaya dan tingkat perkembangan masing-masing daerah menyumbang perbedaan-perbedaan dalam kebutuhan-kebutuhan dan hakekat pendekatan untuk menyelesaikan masalah.

Ketiga, alasan utama desentralisasi pendidikan adalah efisiensi dan efektifitas dalam menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan pendidikan (efficiency and effectiveness in handling problems related to the implementation of education). Dan, alasan keempat, untuk mengurangi beban administrasi yang berlebihan dari pemerintah pusat (to reduce the overloaded burden of administration of the central government).

Sementara itu, berbeda dengan empat argumen itu, Kacung Marijan (Abdurrahmansyah, 2001:58) melihat penerapan desentralisasi pendidikan di Indonesia justru sebagai gejala keputusasaan pemerintah dalam menghadapi persoalan keuangan. Sedangkan Arbi Sanit (2000:1) memandang penerapan desentralisasi secara umum sebagai “jalan keluar” bagi problematik ketimpangan kekuasaan antara pemerintah nasional dan pemerintah lokal. Karena itu, menurutnya, konsep desentralisasi bertolak dari asumsi pemberian sebagian kekuasaan pemerintah pusat kepada pemerintah lokal atau yang lebih rendah dalam rangka mencapai tujuan nasional. Pemberian sebagian kekuasaan tersebut untuk mengatasi kekecewaan daerah terhadap pemerintah pusat, yang berakar pada persoalan: (1) ketimpangan struktur ekonomi Jawa-Luar Jawa, (2) sentralisasi politik, (3) korupsi birokrasi, (4) eksploitasi SDA, (5) represi dan pelanggaran HAM, dan (6) penyeragaman politik hingga kultural.

Tujuan desentralisasi pendidikan adalah untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan dengan melibatkan lebih banyak stakeholders di daerah, untuk menghasilkan integrasi sekolah dengan masyarakat lokal secara terus menerus, untuk mendekatkan sekolah dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat, dan akhirnya untuk memperbaiki motivasi, kehadiran dan pencapaian murid. Selain itu, desentralisasi tersebut juga dalam rangka memberi kesempatan kepada rakyat atau masyarakat luas untuk berpartisipasi secara aktif dan kreatif sehingga pendidikan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas yang akan bermanfaat bagi pembangunan daerah.

 

Model-Model Desentralisasi Pendidikan

Tingkat kewenangan yang dilimpahkan kepada pemda membawa konsekuensi pada model pelaksanaannya. William (Depdiknas, 2001:5) memerinci desentralisasi ke dalam tiga model, yaitu dekonsentrasi (deconcentration), delegasi (delegation), dan devolusi (devolution). Dekonsentrasi adalah model pengalihan tanggung jawab pengelolaan pendidikan dari pemerintah pusat ke pemerintah yang lebih rendah sedemikian rupa sehingga lembaga di pemerintah pusat masih memegang kendali pelaksanaan pendidikan secara penuh. Model desentralisasi ini seringkali dilaksanakan dengan membentuk lembaga setingkat direktorat di daerah yang dapat melaksanakan tanggung jawab pemerintah pusat.

Berbeda dengan itu, dalam model delegasi pemerintah pusat meminjamkan kekuasaannya pada pemerintah daerah atau kepada organisasi/lembaga semiotonom. Kekuasaan pemerintah pusat ini tidak diberikan, namun dipinjamkan. Jika pemerintah

memandang perlu, otoritas itu bisa ditarik kembali. Sementara, dalam model devolusi pemerintah pusat menyerahkan kewenangan dalam seluruh pelaksanaan pendidikan meliputi pembiayaan, administrasi serta pengelolaan yang lebih luas. Kewenangan yang diberikan ini lebih permanen dan tidak dapat ditarik kembali lagi hanya karena tingkah/permintaan pemegang kekuasaan di pusat.

Ketiga model tersebut berbeda dalam hal tingkat kewenangan yang disampaikan. Model dekonsentrasi adalah model penyerahan kewenangan yang paling rendah, model delegasi lebih besar/tinggi, dan model devolusi yang paling tinggi. Tingkat kewenangan yang dilimpahkan ini juga akan berkonsekuensi lebih jauh pada pelaksanaannya. Semakin besar kewenangan yang diterima dari pemerintah pusat, semakin besar sumberdaya yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan kewenangan tersebut. Dengan demikian, terbuka bagi penerima kewenangan untuk mencari segala upaya dalam melaksanakan kewenangan itu, termasuk bekerja sama dengan pihak-pihak lain yang mereka nilai membantu dan menguntungkan mereka.

Rondinelli (Husen & Postlethwaite, 1994:1412) menambahkan satu kategori lagi, yaitu privatisasi (privatization), yaitu model penyerahan kewenangan penyelenggaraan pendidikan kepada pihak swasta. Model ini berbeda dengan ketiga model William dari segi penerima kewenangan. Menurut Abdurrahmansyah (2001:61), dalam kasus pembicaraan desentralisasi pendidikan di Indonesia sejauh yang telah dilakukan nampaknya cenderung mengambil model yang terakhir, swastanisasi. Selain tidak terlalu rumit, menurutnya, bentuk ini terkesan hanya sekedar pemindahan pelimpahan kewajiban dari urusan pemerintah menjadi urusan masyarakat.

Sementara itu, Nuril Huda (1999:16) mengemukakan tiga model desentralisasi pendidikan, yaitu (1) manajemen berbasis lokasi (site-based management), (2) pengurangan administrasi pusat, dan (3) inovasi kurikulum. Pada model manajemen berbasis lokasi dilaksanakan dengan meletakkan semua urusan penyelenggaraan pendidikan pada sekolah. Model pengurangan administrasi pusat merupakan konsekuensi dari model pertama. Pengurangan administrasi pusat diikuti dengan peningkatan wewenang dan urusan pada masing-masing sekolah. Model ketiga, inovasi kurikulum menekankan pada inovasi kurikulum sebesar mungkin untuk meningkatkan kualitas dan persamaan hak bagi semua peserta didik. Kurikulum ini disesuaikan benar dengan kebutuhan peserta didik di daerah atau sekolah yang bervariasi. Di antara ketiga model ini, model manajemen berbasis lokasi yang banyak diterapkan, untuk meningkatkan otonomi sekolah dan memberikan kesempatan kepada guru-guru, orang tua, siswa dan anggota masyarakat dalam pembuatan keputusan.

 

Paradigma Baru Pendidikan

Era otonomi daerah telah mengakibatkan terjadinya pergeseran arah paradigma pendidikan, dari paradigma lama ke paradigma baru, meliputi berbagai aspek mendasar yang saling berkaitan, yaitu (1) dari sentralistik menjadi desentralistik, (2) dari kebijakan yang top down ke kebijakan yang bottom up, (3) dari orientasi pengembangan parsial menjadi orientasi pengembangan holistik, (4) dari peran pemerintah sangat dominan ke meningkatnya peranserta masyarakat secara kualitatif dan kuantitatif, serta (5) dari lemahnya peran institusi non sekolah ke pemberdayaan institusi masyarakat, baik keluarga, LSM, pesantren, maupun dunia usaha (Fasli Jalal, 2001: 5).

Agak berbeda dengan hal tersebut, dalam buku Depdiknas (2002:10) tentang Materi Pelatihan Terpadu untuk Kepala Dinas Kabupaten/Kota, selain perubahan paradigma dari “sentralistik ke desentralistik” dan orientasi pendekatan “dari atas ke bawah” (top down approach) ke pendekatan “dari bawah ke atas” (bottom up approach) sebagaimana yang sudah disebut dalam buku Fasli Jalal, juga disebutkan tiga paradigma baru pendidikan lainnya, yaitu dari “birokrasi berlebihan” ke “debirokratisasi”, dari “Manajemen Tertutup” (Closed Management) ke “Manajemen Terbuka” (Open Management), dan pengembangan pendidikan, termasuk biayanya, “terbesar menjadi tanggung jawab pemerintah” berubah ke “sebagian besar menjadi tanggung jawab orang tua siswa dan masyarakat (stakeholders).

Bila kedua pendapat di atas dianalisis dan disintesakan, maka wujud pergeseran paradigma pendidikan tersebut meliputi sebagai berikut.

 

a. Dari sentralisasi ke desentralisasi pendidikan

Sebelum otonomi, pengelolaan pendidikan sangat sentralistik. Hampir seluruh kebijakan pendidikan dan pengelolaan pelaksanaan pendidikan diatur dari Depdikbud. Seluruh jajaran, tingkat Kanwil Depdikbud, tingkat Kakandep Dikbud Kabupaten/Kota, bahkan sampai di sekolah-sekolah harus mengikuti dan taat terhadap kebijakan-kebijakan yang seragam secara nasional, dan petunjuk-petunjuk pelaksanaannya. Kakandep dan sekolah-sekolah tidak diperkenankan merubah, menambah dan mengurangi yang sudah ditetapkan oleh Depdikbud/Kanwil Depdikbud, sekalipun tidak sesuai dengan kondisi, potensi, kebutuhan sekolah dan masyarakat di daerah.

Dalam era reformasi, paradigma sentralistik berubah ke desentralistik. Desentralistik dalam arti pelimpahan sebagian wewenang dan tanggung jawab dari Depdiknas ke Dinas Pendidikan Propinsi, dan sebagian lainnya kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, bahkan juga kepada sekolah-sekolah. Pada perguruan tinggi negeri/swasta dilimpahkan kepada rektor, bahkan juga pada fakultas, dan juga pada jurusan/program studi.

Dengan UU dan Peraturan Pemerintah mengenai otonomi daerah, Kabupaten/Kota dan DPRD Kabupaten/Kota, diberi wewenang membuat Peraturan-Peraturan Daerah, mengenai pendidikan tingkat Kabupaten/Kota. Dengan desentralisasi manajemen pendidikan tersebut, Dinas Pendidikan tingkat Kabupaten/Kota sebagai perangkat pemerintah Kabupaten/Kota yang otonom, dapat membuat kebijakan-kebijakan pendidikan, masing-masing sesuai wewenang yang dilimpahkan kepada pemerintah Kabupaten/Kota dalam bidang pendidikan. Bahkan dalam pengelolaan pendidikan pada tingkat Kabupaten/Kota, setiap sekolah juga diberi peluang untuk membuat kebijakan sekolah (school policy) masing-masing atas dasar konsep “manajemen berbasis sekolah” dan “pendidikan berbasis masyarakat”

Dengan demikian, sebagian perubahan dan kemajuan pendidikan tingkat Kabupaten/Kota sangat bergantung pada kemampuan mengembangkan kebijakan pendidikan dari masing-masing Kepala Dinas Pendidikan tingkat Kabupaten/Kota.

Desentralisasi manajemen pendidikan tersebut, dilaksanakan sejalan dengan proses demokratisasi, sebagai proses distribusi tugas dan tanggung jawab dari Depdiknas sampai di unit-unit satuan pendidikan. Iklim dan suasana serta mekanisme demokratis bertumbuh dan berkembang pada seluruh tingkat dan jalur pengelolaan pendidikan, termasuk di sekolah-sekolah dan di kelas-kelas ruang belajar.

 

b. Dari kebijakan yang top down ke kebijakan yang bottom up;

Sebelum otonomi, pendekatan pengembangan dan pembinaan pendidikan dilakukan dengan mekanisme pendekatan “dari atas ke bawah” (top down approach) Berbagai kebijakan pengembangan/pembinaan pendidikan hampir seluruhnya ditentukan oleh Depdikbud, dan dalam hal khusus di Propinsi ditentukan oleh Kanwil Depdikbud, dan dalam hal khusus lainnya di Kabupaten/Kota ditentukan oleh Kakandepdikbud, untuk dilaksanakan oleh seluruh jajaran pelaksana di wilayah, termasuk di sekolah-sekolah.

Lain halnya dalam era reformasi, sebagian besar upaya pengembangan pendidikan dilakukan dengan orientasi pendekatan “dari bawah ke atas” (bottom up approach). Pendekatan bottom up harus terjadi dalam pengambilan keputusan di setiap level instansi, misalnya sekolah, Dinas Kabupaten/Kota, yayasan penyelenggara pendidikan, dan sebagainya. Berbagai aspirasi dan kebutuhan yang menjadi kepentingan umum, sesuai kondisi, potensi dan prospek sekolah, diakomodasi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, sesuai wewenang dan tanggung jawabnya. Dan hal-hal lainnya yang menjadi wewenang dan tanggung jawab Dinas Propinsi diselesaikan pada tingkat Depdiknas.

Oleh karenanya, tidak heran bila di Kabupaten/Kota sering terjadi “unjuk rasa” para guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat menuntut perbaikan kebijakan pendidikan yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Dan berbagai aspirasi yang baik sudah seyogyanya diterima oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota untuk ditindaklanjuti.

 

c. Dari orientasi pengembangan yang parsial ke orientasi pengembangan yang holistik

Sebelum otonomi, orientasi pengembangan bersifat parsial. Misalnya, pendidikan lebih ditekankan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, menciptakan stabilitas politik dan teknologi perakitan (Fasli Jalal, 2001:5). Pendidikan juga terlalu menekankan segi kognitif, sedangkan segi spiritual, emosional, sosial, fisik dan seni kurang mendapatkan tekanan (Paul Suparno, 2003:98). Akibatnya anak didik kurang berkembang secara menyeluruh. Dalam pembelajaran yang ditekankan hanya to know (untuk tahu), sedangkan unsur pendidikan yang lain to do (melakukan), to live together (hidup bersama), to be (menjadi) kurang menonjol. Di Indonesia kesadaran akan hidup bersama kurang mendapat tekanan, dengan akibat anak didik lebih suka mementingkan hidupnya sendiri. Selain itu, pendekatan dan pengajaran di sekolah kebanyakan terpisah-pisah dan kurang integrated. Setiap mata pelajaran berdiri sendiri, seakan tidak ada kaitan dengan pelajaran lain.

Berbeda dengan itu, setelah reformasi orientasi pengembangan bersifat holistik. Pendidikan diarahkan untuk pengembangan kesadaran untuk bersatu dalam kemajemukan budaya, menjunjung tinggi nilai moral, kemanusiaan dan agama, kesadaran kreatif, produktif, dan kesadaran hukum (Fasli Jalal, 2001:5). Menurut Paul Suparno (2003:100), pendidikan holistik dipengaruhi oleh pandangan filsafat holisme, yang cirinya adalah keterkaitan (connectedness), keutuhan (wholeness), dan proses menjadi (being).

Konsep saling keterkaitan mengungkapkan bahwa saling keterkaitan antara suatu bagian dari suatu sistem dengan bagian-bagian lain dan dengan keseluruhannya. Maka tidak mungkin suatu bagian dari suatu sistem lepas sendiri dari sistem itu dan lepas dari bagian-bagian yang lain. Saling keterkaitan dapat dijabarkan dalam beberapa konsep berikut, yaitu interdependensi, interrelasi, partisipasi dan non linier (Hent, 2001). Interdependensi adalah saling ketergantungan satu unsur dengan yang lain. Masing-masing tidak akan menjadi penuh berkembang tanpa yang lain. Ada saling ketergantungan antara guru dengan siswa, antara siswa dengan siswa lain, antara guru dengan guru lain, dan lain-lain.

Interrelasi dimaksudkan sebagai adanya saling kaitan, saling berhubungan antara unsur yang satu dengan yang lain dalam pendidikan. Ada hubungan antara pendidik dengan yang dididik, antara siswa dengan siswa lain, antara pendidik dengan pendidik lain. Relasi ini bukan hanya relasi berkaitan dengan pengajaran tetapi juga relasi sebagai manusia, sebagai pribadi. Partisipasi dimaksudkan sebagai keterlibatan, ikut andil dalam sistem itu. Dalam pendidikan secara nyata siswa hanya akan berkembang bila terlibat, ikut aktif didalamnya. Non linier menunjukkan bahwa tidak dapat ditentukan secara linier serba jelas sebelumnya. Ada banyak hal yang tidak dapat diprediksikan sebelumnya dalam pendidikan, meski kita telah menentukan unsur-unsurnya. Kita dapat membantu anak-anak dengan segala macam nilai yang baik, namun dapat terjadi mereka berkembang tidak baik. Pendekatan pendidikan yang mekanistis tidak tepat lagi. Pendidikan tidak dipikirkan lagi secara linier, seakan-akan bila langkah-langkahnya jelas lalu hasilnya menjadi jelas; tetapi lebih kompleks dan ada keterbukaan terhadap unsur yang tidak dapat ditentukan sebelumnya.

Prinsip keutuhan menyatakan bahwa keseluruhan adalah lebih besar daripada penjumlahan bagian-bagiannya. Prinsip keutuhan sangat jelas diwujudkan dengan memperhatikan semua segi kehidupan dalam membantu perkembangan pribadi siswa secara menyeluruh dan utuh. Maka, segi intelektual, sosial, emosional, spiritual, fisik, seni, semua mendapat porsi yang seimbang. Salah satu unsur tidak lebih tinggi dari yang lain sehingga mengabaikan yang lain. Kurikulum dibuat lebih menyeluruh dan memasukkan banyak segi. Pendekatan terhadap siswapun lebih utuh dengan memperhatikan unsur pribadi, lingkungan dan budaya. Pembelajaran lebih menggunakan inteligensi ganda, dengan mengembangkan IQ, SQ, dan EQ secara integral.

Prinsip ”proses menjadi” mengungkapkan bahwa manusia memang terus berkembang menjadi semakin penuh. Dalam proses menjadi penuh itu unsur partisipasi, keaktifan, tanggung jawab, kreativitas, pertumbuhan, refleksi, dan kemampuan mengambil keputusan sangat penting. Proses itu terus-menerus dan selalu terbuka terhadap perkembangan baru. Dalam pendidikan, prinsip kemenjadian ini ditonjolkan dengan pendekatan proses, siswa diaktifkan untuk mencari, menemukan dan berkembang sesuai dengan keputusan dan tanggungjawabnya. Dalam proses itu, siswa diajak lebih banyak mengalami sendiri, berefleksi dan mengambil makna bagi hidupnya. Dalam proses ini siswa dibantu sungguh menjadi manusia yang utuh, bukan hanya menjadi calon pekerja atau pengisi lowongan kerja.

 

d. Dari peran pemerintah yang dominan ke meningkatnya peranserta masyarakat secara kualitatif dan kuantitatif.

Sebelum otonomi, peran pemerintah sangat dominan. Hampir semua aspek dari pendidikan diputuskan kebijakan dan perencanaannya di tingkat Pusat, sehingga daerah terkondisikan lebih hanya sebagai pelaksana (Sumarno, 2001:3). Pendidikan dikelola tanpa mengembangkan kemampuan kreativitas masyarakat, malah cenderung meniadakan partisipasi masyarakat di dalam pengelolaan pendidikan. Lembaga pendidikan terisolasi dan tanggung jawab sepenuhnya ada pada pemerintah pusat. Sedangkan masyarakat tidak mempunyai wewenang untuk mengontrol jalannya pendidikan. Selain itu, dengan sendirinya orang tua dan masyarakat, sebagai constituent dari sistem pendidikan nasional yang terpenting, telah kehilangan peranannya dan tanggung jawabnya. Mereka, termasuk peserta didik, telah menjadi korban, yaitu sebagai obyek dari sistem yang otoriter. (Tilaar, 1999:113)

Sesudah otonomi, ada perluasan peluang bagi peran serta masyarakat dalam pendidikan baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Oleh karena itu, untuk mendorong partisipasi masyarakat, di tingkat Kabupaten/Kota dibentuk Dewan Pendidikan, sedangkan di tingkat sekolah dibentuk komite sekolah. Pembentukan komite sekolah didasarkan pada keputusan Mendiknas No.044/U/2002 tentang panduan pembentukan komite sekolah.

Menurut panduan, pembentukan komite sekolah dilakukan secara transparan, akuntabel, dan demokratis. Transparan berarti bahwa komite sekolah harus dibentuk secara terbuka dan diketahui oleh masyarakat secara luas mulai dari tahap pembentukan panitia persiapan, proses sosialisasi oleh panitia persiapan, kriteria calon anggota, proses seleksi calon anggota, pengumuman calon anggota, proses pemilihan, dan penyampaian hasil pemilihan. Akuntabel berarti bahwa panitia persiapan pembentukan komite sekolah hendaknya menyampikan laporan pertanggungjawaban kinerjanya maupun penggunaan dan kepanitiaan. Sedangkan secara demokratis berarti bahwa dalam proses pemilihan anggota dan pengurus dilakukan dengan musyawarah mufakat. Jika dipandang perlu, dapat dilakukan melalui pemungutan suara.

 

e. Dari lemahnya peran institusi non sekolah ke pemberdayaan institusi masyarakat.

Sebelum era otonomi, peran institusi non sekolah sangat lemah. Dalam era otonomi, masyarakat diberdayakan dengan segenap institusi sosial yang ada di dalamnya, terutama institusi yang dilekatkan dengan fungsi mendidik generasi penerus bangsa. Berbagai institusi kemasyarakatan ditingkatkan wawasan, sikap, kemampuan, dan komitmennya sehingga dapat berperan serta secara aktif dan bertanggung jawab dalam pendidikan. Institusi pendidikan tradisionil seperti pesantren, keluarga, lembaga adat, berbagai wadah organisasi pemuda bahkan partai politik bukan hanya diberdayakan sehingga dapat mengembangkan fungsi pendidikan dengan lebih baik, melainkan juga diupayakan untuk menjadi bagian yang terpadu dari pendidikan nasional.

Demikian juga, ada upaya peningkatan partisipasi dunia usaha/industri dan sektor swasta dalam pendidikan karena sebagai pengguna sudah semestinya dunia usaha juga ikut bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan. Apabila lebih banyak institusi kemasyarakatan peduli terhadap pendidikan maka pendidikan akan lebih mampu menjangkau berbagai kelompok sasaran khusus seperti kelompok wanita dan anak-anak kurang beruntung (miskin, berkelainan, tinggal di daerah terpencil dan sebagainya).

Dalam upaya pemberdayaan masyarakat, perlu dilakukan pembenahan sebagai kebijakan dasar, yaitu pengembangan kesadaran tunggal dalam kemajemukan, pengembangan kebijakan sosial, pengayaan berkelanjutan (continuous enrichment) dan pengembangan kebijakan afirmatif (affirmative policy) (Fasli Jalal, 2001:72-73).

 

f. Dari ”birokrasi berlebihan” ke ”debirokratisasi”.

Sebelum otonomi, berbagai kegiatan pengembangan dan pembinaan diatur dan dikontrol oleh pejabat-pejabat (birokrat-birokrat) melalui prosedur dan aturan-aturan (regulasi) yang ketat, bahkan sebagiannya sangat ketat dan kaku oleh Kandepdikbud/Kanwildikbud. Hal ini mempengaruhi pengelolaan sebagian sekolah-sekolah, dalam iklim ”birokrasi berlebihan”. Dalam kondisi yang demikian, tidak jarang ditemukan adanya ”kasus birokrasi yang berlebihan” dari sebagian pejabat birokrat yang menggunakan ”kekuasaan berlebihan” dalam pembinaan guru, siswa, dan pihak-pihak lainnya. Keadaan ini telah mematikan prakarsa, daya cipta, dan karya inovatif di sekolah-sekolah.

Dalam era reformasi, terjadi proses ”debirokratisasi” dengan jalan memperpendek jalur birokrasi dalam penyelesaian masalah-masalah pendidikan secara profesional, bukan atas dasar ”kekuasaan” atau peraturan belaka. Hal ini sesuai dengan prinsip profesionalisme dalam pendidikan, dan juga pelimpahan wewenang dan tanggung jawab dalam desentralisasi. Di samping itu juga dilakukan ”deregulasi”, dalam arti ”pengurangan” aturan-aturan kebijakan pendidikan yang tidak sesuai dengan kondisi, potensi, dan prospek sekolah, dan kepentingan masyarakat (stakeholders) untuk berpartisipasi terhadap sekolah, dalam bentuk gagasan penyempurnaan kurikulum, peningkatan mutu guru, dana dan prasarana/sarana untuk sekolah.

 

g. Dari ”manajemen tertutup” (close management) ke ”management terbuka” (open management).

Sebelum otonomi, diterapkan bentuk-bentuk ”manajemen tertutup”, sehingga tidak transparan, tidak ada akuntabilitas kepada publik dalam pengelolaan pendidikan.

Dalam era reformasi, manajemen pendidikan menerapkan ”manajemen terbuka” dari pembuatan kebijakan, pelaksanaan kebijakan sampai pada evaluasi, bahkan perbaikan kebijakan. Seluruh sumber daya yang digunakan dalam pendidikan dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada seluruh kelompok masyarakat (stakeholders), dan selanjutnya terbuka untuk menerima kritikan perbaikan bila ditemukan hal-hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

 

h. Dari pengembangan pendidikan ”terbesar menjadi tanggung jawab pemerintah” berubah ke ”sebagian besar menjadi tanggung jawab orang tua siswa dan masyarakat (stakeholders)

Sebelum otonomi, pengembangan pendidikan, termasuk pembiayaan, terbesar menjadi tanggung jawab pemerintah, dibandingkan dengan menjadi tanggung jawab orang tua siswa dan masyarakat (stakeholders).

Dalam era reformasi, pengembangan pendidikan, termasuk pembiayaan pendidikan, berupa gaji honorarium/tunjangan mengajar, penataran/pelatihan, rehabilitasi gedung dan lain-lain, diupayakan supaya sebagian besar akan menjadi tanggung jawab orang tua siswa dan masyarakat (stakeholders). Kemajuan pendidikan tingkat Kabupaten/Kota akan banyak bergantung pada partisipasi orang tua siswa dan masyarakat serta pemerintah Kabupaten/Kota masing-masing, di samping proyek-proyek khusus, dan juga kemudahan dan pengendalian mutu dan hal-hal kepentingan nasional lainnya dari DEPDIKNAS, dan dari Dinas Propinsi.

 

Paradigma Baru Perencanaan Pendidikan

Dengan terjadinya perubahan paradigma baru pendidikan, maka sistem perencanaan pendidikan dalam iklim pemerintahan yang sentralistik, sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan perencanaan pendidikan pada era otonomi daerah, sehingga diperlukan paradigma baru perencanaan pendidikan. Menurut Mulyani A. Nurhadi (2001:2), perubahan paradigma dalam sistem perencanaan pendidikan di daerah setidak-tidaknya akan menyentuh lima aspek, yaitu sifat, pendekatan, kewenangan pengambilan keputusan, produk serta pola perencanaan anggaran.

Dari segi sifat perencanaan pendidikan, maka perencanaan pendidikan pada tingkat daerah sebagai kegiatan awal dari proses pengelolaan pendidikan termasuk kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh daerah. Sementara itu, Pemerintah Pusat berkewajiban merumuskan kebijakan tentang perencanaan nasional, yang dalam pelaksanaannya telah dituangkan dalam bentuk Undang-Undang RI No.25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional. Pada tingkat Departemen, Propenas ini dijabarkan lebih lanjut ke dalam dokumen Rencana Strategis (Renstra) yang memuat strategi umum untuk mencapai tujuan program pembangunan di bidang masing-masing dan dituangkan dalam Keputusan Menteri. Berdasarkan Renstra itu, Pemerintah Pusat menyusun Program pembangunan tahunan yang disingkat Propeta yang dituangkan dalam Keputusan Menteri, sesuai dengan lingkup tugas dan kewenangan masing-masing

Selain itu, pada era otonomi daerah diharapkan akan lebih tumbuh kreativitas dan prakarsa, serta mendorong peran serta masyarakat sesuai dengan potensi dan kemampuan masing-masing daerah. Ini berarti bahwa dalam membangun pendidikan di daerah Kabupaten/Kota perlu dilandasi dengan perencanaan pendidikan tingkat daerah yang baik dan distinktif, tidak hanya bertumpu kepada perencanaan nasional yang makro, tetapi juga dapat mempertimbangkan keunikan, kemampuan, dan budaya daerah masing-masing sehingga mampu menumbuhkan prakarsa dan kreativitas daerah. Perencanaan program pendidikan di daerah bukan lagi merupakan bagian atau fotokopi dari perencanaan program tingkat nasional maupun propinsi, tetapi merupakan perencanaan pendidikan yang unik dan mandiri sehingga beragam, walaupun disusun atas dasar rambu-rambu kebijakan perencanaan nasional.

Dari segi pendekatan perencanaan pendidikan, era otonomi telah merubah paradigma dalam pendekatan perencanaan pendidikan di daerah dari pendekatan diskrit sektoral menjadi integrated dengan sektor lainnya di daerah. Sebelum otonomi, sistem alokasi anggaran pendidikan di daerah diperoleh dari APBN pusat secara sektoral pada sektor pendidikan, Pemuda dan Olahraga, serta Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, namun setelah otonomi diperoleh dari APBD yang berasal dari berbagai sumber sebagai bagian dari dana Daerah untuk seluruh sektor yang menjadi tanggung jawab daerah. Sumber-sumber itu meliputi dana bagi hasil, dana alokasi umum, dana dekonsentrasi, dana perbantuan, pendapatan asli daerah, dan bantuan masyarakat. Dengan demikian, telah terjadi perubahan sumber anggaran yang semula bersifat tunggal-hierarkhi-sektoral sekarang menjadi jamak-fungsional-regional, tetapi dalam persaingan antar sektor.

Dari segi kewenangan pengambilan keputusan, sistem perencanaan pendidikan yang sentralistik telah menutup kewenangan Daerah dalam pengambilan keputusan di bidang pendidikan baik pada tataran kebijakan, skala prioritas, jenis program, jenis kegiatan, bahkan dalam hal rincian alokasi anggaran. Namun, dalam era otonomi Daerah dapat dan harus menetapkan kebijakan, program, skala prioritas, jenis kegiatan sampai dengan alokasi anggarannya sesuai dengan kemampuan Daerah, sepanjang tidak bertentangan dengan kebijakan nasional yang antara lain dalam bentuk Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang ditetapkan.

Sementara dari segi produk perencanaan pendidikan, pada era desentralisasi produk perencanaan pendidikan diharapkan merupakan bagian tak terpisahkan dari perencanaan pembangunan Daerah secara lintas sektoral. Oleh karena itu, produk

perencanaan pendidikan yang dihasilkan harus mencakup seluruh komponen perencanaan pendidikan yang meliputi: kebijakan, rencana strategis, skala prioritas, program, sasaran dan kegiatan, serta alokasi anggarannya dalam konteks perencanaan pembangunan Daerah secara terpadu. Semua komponen itu perlu dikembangkan secara spesifik sesuai dengan kemampuan dan kharakteristik Daerah, sejauh tidak bertentangan dengan kebijakan umum, prioritas nasional, dan program-program strategis yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.

Dampak dari pergeseran paradigma dari keempat aspek tersebut di atas juga membawa dampak pada perubahan pola perencanaan anggarannya. Pola perencanaan anggaran menggunakan pendekatan integratif, sehingga pola dalam merencanakan anggaran selain mengacu pada sifat prosedural juga menggunakan prinsip efisiensi dengan berorientasi outcomes karena tingkat keberhasilan pendidikan dikontraskan dengan tingkat keberhasilan sektor lain. Pola manajemen anggaran yang tepat adalah manajemen strategik anggaran yang lebih berorientasi kepada pencapaian program dan upaya pengembangan.

 

Model Perencanaan Pendidikan Kabupaten/Kota

Dalam upaya perumusan dokumen-dokumen perencanaan pendidikan tersebut, Slamet P.H. (2005), mengemukakan sebuah model proses perencanaan pendidikan Kabupaten/ Kota sebagai berikut

 

Gambar 1.1

Proses Perencanaan Pendidikan Kabupaten/Kota

 

Model proses perencanaan pendidikan di atas sekaligus memberi gambaran mengenai tahap-tahap perencanaan pendidikan kabupaten/kota. Secara singkat, penjelasannya adalah sebagai berikut.

1. Melakukan analisis lingkungan strategis. Lingkungan strategis adalah lingkungan eksternal yang berpengaruh terhadap perencanaan pendidikan kabupaten/kota, misalnya: Propeda, Renstrada, Repetada, peraturan perundangan (UU, PP, Kepres, Perda, dsb), tingkat kemiskinan, lapangan kerja, harapan masyarakat terhadap pendidikan, pengalaman-pengalaman praktek yang baik, tuntutan otonomi, tuntutan globalisasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan lingkungan strategis harus diinternalisasikan ke dalam perencanaan pendidikan kabupaten/kota agar perencanaan tersebut benar-benar menyatu dengan perubahan lingkungan strategis.

2. Melakukan analisis situasi untuk mengetahui status situasi pendidikan saat ini (dalam kenyataan) yang meliputi profil pendidikan kabupaten/kota (pemerataan, mutu, efisiensi, dan relevansi), pemetaan sekolah/ guru/ siswa, kapasitas manajemen dan sumber daya pada tingkat kabupaten/kota dan sekolah, dan best practices pendidikan saat ini.

3. Memformulasikan pendidikan yang diharapkan di masa mendatang yang dituangkan dalam bentuk rumusan visi, misi, dan tujuan pendidikan, yang mencakup setidaknya pemerataan kesempatan, mutu, efisiensi, relevansi, dan peningkatan kapasitas pendidikan kabupaten/kota.

4. Mencari kesenjangan antara butir (2) dan butir (3) sebagai bahan masukan bagi penyusunan rencana pendidikan keseluruhan yang akan datang (5 tahun) dan rencana jangka pendek (1 tahun). Kesenjangan/tantangan yang dimaksud mencakup pemerataan kesempatan, mutu, efisiensi, relevansi dan pengembangan kapasitas manajemen pendidikan pada tingkat kabupaten dan sekolah.

5. Berdasarkan hasil butir (4) disusunlah rencana kegiatan tahunan untuk selama 5 tahun (rencana strategis) dan rencana kegiatan rinci tahunan (rencana operasional/renop).

6. Melaksanakan rencana pengembangan pendidikan kabupaten/kota melalui upaya-upaya nyata yang dapat meningkatkan pemerataan kesempatan, mutu, efisiensi, relevansi dan kapasitas manajemen pendidikan pada tingkat kabupaten/kota dan sekolah.

7. Melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan rencana dan melakukan evaluasi terhadap hasil rencana pendidikan. Hasil evaluasi akan memberitahu apakah hasil pendidikan sesuai dengan yang direncanakan.

Dengan memperhatikan substansi utamanya, model tahap-tahap perencanaan pendidikan di atas bisa digambarkan dalam bentuk sebagai berikut.

 

Gambar 1.3.

Perencanaan Pendidikan Kabupaten/Kota

 

Sebagaimana sudah disebut secara implisit di atas, bahwa pada hakekatnya sebuah perencanaan dibuat dalam rangka mengubah ”situasi pendidikan saat ini” (dalam kenyataan) menuju ke ”situasi pendidikan yang diharapkan” di masa mendatang. Untuk itu, ada tiga kata kunci yang harus dipahami, yaitu kebijakan, perencanaan dan program pendidikan.

 

1. Kebijakan Pendidikan

Kebijakan dibuat mengacu pada paradigma baru pendidikan. Kebijakan adalah suatu ucapan atau tulisan yang memberikan petunjuk umum tentang penetapan ruang lingkup yang memberi batas dan arah umum kepada para manajer untuk bergerak. Kebijakan juga berarti suatu keputusan yang luas untuk menjadi patokan dasar bagi pelaksanaan manajemen. Keputusan yang dimaksud telah dipikirkan secara matang dan hati-hati oleh pengambil keputusan puncak dan bukan kegiatan-kegiatan yang berulang dan rutin yang terprogram atau terkait dengan aturan-aturan keputusan (Nurkolis, 2004).

Sementara, menurut Slamet P.H.(2005), kebijakan pendidikan adalah apa yang dikatakan (diputuskan) dan dilakukan oleh pemerintah dalam bidang pendidikan. Dengan demikian, kebijakan pendidikan berisi keputusan dan tindakan yang mengalokasikan nilai-nilai. Menurutnya, kebijakan pendidikan meliputi lima tipe, yaitu kebijakan regulatori, kebijakan distributif, kebijakan redistributif, kebijakan kapitalisasi dan kebijakan etik. Sedangkan Noeng Muhadjir (2003: 90), membedakan antara kebijakan substantif dan kebijakan implementatif. Kebijakan implementatif adalah penjabaran sekaligus operasionalisasi dari kebijakan substantif.

Sementara itu, Sugiyono (2003) mengemukakan tiga pengertian kebijakan (policy) yaitu (1) sebagai pernyataan lesan atau tertulis pimpinan tentang organisasi yang dipimpinnya, (2) sebagai ketentuan-ketentuan yang harus dijadikan pedoman, pegangan atau petunjuk bagi setiap kegiatan, sehingga tercapai kelancaran dan keterpaduan dalam mencapai tujuan organisasi, dan (3) sebagai peta jalan untuk bertindak dalam mencapai tujuan organisasi. Menurutnya, kebijakan yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut.

􀀹 Kebijakan yang dibuat harus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat;

􀀹 Kebijakan yang dibuat harus berpedoman pada kebijakan yang lebih tinggi dan memperhatikan kebijakan yang sederajat yang lain;

􀀹 Kebijakan yang dibuat harus berorientasi ke masa depan;

􀀹 Kebijakan yang dibuat harus adil;

􀀹 Kebijakan yang dibuat harus berlaku untuk waktu tertentu;

􀀹 Kebijakan yang dibuat harus merupakan perbaikan atas kebijakan yang telah ada;

􀀹 Kebijakan yang dibuat harus mudah dipahami, diimplementasikan, dimonitor dan dievaluasi;

􀀹 Kebijakan yang dibuat harus berdasarkan informasi yang benar dan up to date;

􀀹 Sebelum kebijakan dijadikan keputusan formal, maka bila mungkin diujicobakan terlebih dulu.

Herman, J. dalam Hough, J. R. (ed) (1984) menjelaskan bahwa “Policy is sometimes used in a narrow sense to refer to formal statements of action to be followed, while others use the word ‘policy’ as a synonym for words such as ‘plan’ or ‘programme’. Many writers too do not distinguish clearly between ‘policy-making’ and ‘decision-making’”. Selanjutnya dikatakan bahwa kebijakan tersebut disamaartikan dengan konsep lain, yaitu :

􀀹 Goals : desired ends to be achieved.

􀀹 Plans or proposals : specified means for achieving goals.

􀀹 Programmes : authorized means, strategies and details of procedure for achieving goals.

􀀹 Decision : specific actions taken to set goals, develop plans, implement and evaluate programmes

􀀹 Effects : measurable impact of programmes

􀀹 Laws or regulations : formal or legal expressions providing authorization to policies.

Policy, then is focused on purposive or goal oriented action or actively rather than random or chance behaviour. It refers to courses or patterns of action, rather than separate discrete decision; usually policy development and application involves a number or related decisions, rather than a single decision. Policies may vary greatly in orientation, purpose and whether they are explicitly stated. Policies may be either positive or negative in the sense that they can have as their basis decisions to take particular action in response to a problem, as well as developing simply from failure to act, or from decisions to delay action. Policies include substantive policy as well as procedural or administrative policy.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kebijakan pendidikan adalah upaya perbaikan dalam tataran konsep pendidikan, perundang-undangan, peraturan dan pelaksanaan pendidikan serta menghilangkan praktik-praktik pendidikan di masa lalu yang tidak sesuai atau kurang baik sehingga segala aspek pendidikan di masa mendatang menjadi lebih baik. Kebijakan pendidikan diperlukan agar tujuan pendidikan nasional dapat dicapai secara efektif dan efisien.

 

2. Perencanaan Pendidikan

Perencanaan pendidikan dibuat dengan mengacu pada kebijakan pendidikan yang telah ditetapkan. Perencanaan pendidikan adalah proses penyusunan gambaran kegiatan pendidikan di masa depan dalam rangka untuk mencapai perubahan/tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam rangka membuat perencanaan pendidikan tersebut, perencana melakukan proses identifikasi, mengumpulkan, dan menganalisis data-data internal dan eksternal (esensial dan kritis) untuk memperoleh informasi terkini dan yang bermanfaat bagi penyiapan dan pelaksanaan rencana jangka panjang dan pendek dalam rangka untuk merealisasikan atau mencapai tujuan pendidikan kabupaten/kota.

Perencanaan pendidikan penting untuk memberi arah dan bimbingan pada para pelaku pendidikan dalam rangka menuju perubahan atau tujuan yang lebih baik (peningkatan, pengembangan) dengan resiko yang kecil dan untuk mengurangi ketidakpastian masa depan. Tanpa perencanaan pendidikan yang baik akan menyebabkan ketidakjelasan tujuan yang akan dicapai, resiko besar dan ketidakpastian dalam menyelenggarakan semua kegiatan pendidikan. Dengan kemampuan perencanaan pendidikan yang baik di daerah, oleh karenanya, diharapkan akan dapat mengurangi kemungkinan timbulnya permasalahan yang serius sebagai dampak dari diberlakukannya otonomi pendidikan itu di tingkat daerah kabupaten/ kota.

Sebagai dasar dalam membuat perencanaan di bidang pendidikan, umumnya orang menggunakan teknik analisis SWOT12, dimaksudkan untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, kesempatan atau peluang dan tantangan atau ancaman yang dihadapi oleh organisasi. Dengan teknik itu, diharapkan posisi organisasi dalam berbagai aspek bisa dipahami secara lebih obyektif, lalu bisa ditetapkan prioritas strategi dan program-programnya, serta peta urutan pelaksanaannya

 

3. Program pendidikan

Pada intinya, program pendidikan adalah kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pendidikan, sesuai dengan strategi dan kebijakan pendidikan yang telah ditetapkan.

 

4. Persoalan-Persoalan Mendesak Pendidikan Nasional

a. Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan.

Sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945, pada dasarnya pelayanan pendidikan yang bermutu merupakan hak bagi seluruh warga negara Indonesia. Meskipun demikian kenyataan menunjukkan bahwa saat ini belum semua warga negara dapat memperoleh haknya atas pendidikan. Oleh karena itu pemerintah sebagai penyelenggara negara wajib berupaya untuk memenuhinya.

Dalam kebijakan Ditjen Mandikdasmen, disebutkan mengenai konsep, indikator keberhasilan, dan sumber daya pendukung untuk kebijakan pemerataan dan perluasan akses pendidikan sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1.4

Kebijakan Pemerataan dan Perluasan Akses Pendidikan

 

 

Studi yang secara langsung diarahkan pada analisis kebijakan dalam pemerataan pendidikan ialah studi yang dilakukan oleh James Coleman (Ace Suryadi dan H. A. R Tilaar, 1994: 29) yang berjudul Equality of Educational Opportunity. Coleman membedakan secara konsepsional antara pemerataan kesempatan pendidikan secara pasif, dengan pemerataan pendidikan secara aktif. Pemerataan pendidikan secara pasif lebih menekankan pada kesamaan memperoleh kesempatan untuk mendaftar di sekolah, sedangkan pemerataan aktif ialah kesempatan yang sama yang diberikan oleh sekolah kepada murid-murid terdaftar agar memperoleh hasil belajar setinggi-tingginya.

Komponen-komponen konsep pemerataan pendidikan ini secara lebih jelas diungkapkan oleh Schiefelbein dan Farrel (1982). Dalam studinya di Chili, mereka menggunakan landasan konsep pemerataan pendidikan yang relatif lebih komprehensif daripada konsepsi pemerataan pendidikan yang selama ini digunakan. Berdasarkan konsep mereka, pemerataan pendidikan atau equality of educational opportunity tidak hanya terbatas pada, apakah murid memiliki kesempatan yang sama untuk masuk sekolah (pemerataan kesempatan pendidikan secara pasif menurut Coleman), tetapi lebih dari itu, murid tersebut harus memperoleh perlakuan yang sama sejak masuk, belajar, lulus, sampai dengan memperoleh manfaat dari pendidikan yang mereka ikuti dalam kehidupan di masyarakat.

Pertama, pemerataan kesempatan memasuki sekolah (equality of access). Konsep ini berkaitan erat dengan tingkat partisipasi pendidikan sebagai indikator kemampuan sistem pendidikan dalam memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak usia sekolah untuk memperoleh pendidikan. Pemerataan pendidikan ini dapat dikaji berdasarkan dua konsep yang berlainan, yaitu pemerataan kesempatan (equality of access) dan keadilan (equity) di dalam memperoleh pendidikan dan pelatihan.

Kedua, pemerataan kesempatan untuk bertahan di sekolah (equality of survival). Konsep ini menitikberatkan pada kesempatan setiap individu untuk memperoleh keberhasilan dalam pendidikan dan pelatihan. Jenis analisis ini mencurahkan perhatian pada tingkat efisiensi internal sistem pendidikan dilihat dari beberapa indikator yang dihasilkan dari metode Kohort. Metode ini mempelajari efisiensi pendidikan berdasarkan murid-murid yang berhasil dibandingkan dengan murid-murid yang mengulang kelas dan yang putus sekolah.

Ketiga, pemerataan kesempatan untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar (equality of output). Dilihat dari sudut pandang perseorangan equality of output ini menggambarkan kemampuan sistem pendidikan dalam memberikan kemampuan dan ketrampilan yang tinggi kepada lulusan tanpa membedakan variabel suku bangsa, daerah, status sosial ekonomi, dan sebagainya. Konsep output pendidikan biasanya diukur dengan prestasi belajar akademis. Di pandang dari sudut sistemnya itu sendiri, konsep ini menggambarkan seberapa jauh sistem pendidikan itu efisien dalam memanfaatkan sumber daya yang terbatas, efektif dalam mengisi kekurangan tenaga kerja yang dibutuhkan, dan mampu melakukan kontrol terhadap kemungkinan kelebihan tenaga kerja dalam hubungannya dengan jumlah yang dibutuhkan oleh lapangan kerja.

Keempat, pemerataan kesempatan dalam menikmati manfaat pendidikan dalam kehidupan masyarakat (equality ot outcome). Konsep ini menggambarkan keberhasilan pendidikan secara eksternal (exsternal efficiency) dari suatu sistem pendidikan dan pelatihan dihubungkan dengan penghasilan lulusan (individu), jumlah dan komposisi lulusan disesuaikan dengan kebutuhan akan tenaga kerja (masyarakat), dan yang lebih jauh lagi pertumbuhan ekonomi (masyarakat). Teknik-teknik analisis yang digunakan biasanya meliputi analisis rate of return to education, hubungan pendidikan dengan kesempatan kerja, fungsi produksi pendidikan dengan menggunakan pendekaan ”status attainment analytical model”, dan sebagainya.

Kebijakan pemerataan kesempatan, meliputi aspek persamaan kesempatan, akses dan keadilan atau kewajaran. Contoh-contoh pemerataan kesempatan, misalnya, beasiswa untuk siswa miskin, pelatihan guru PLB, pembenahan SMP terbuka, perencanaan bagi daerah-daerah terpencil atau gender, peningkatan APK dan APM, peningkatan angka melanjutkan, pengurangan angka putus sekolah, dan lain-lain.

b. Kualitas pendidikan

Realitas menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia relatif rendah yang menyebabkan sulitnya bangsa Indonesia bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Kualitas pendidikan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh dua faktor yang mendukung, yaitu internal dan eksternal (Dodi Nandika, 2007:16). Faktor internal meliputi jajaran dunia pendidikan, seperti Depdiknas, Dinas Pendidikan daerah dan sekolah yang berada di garis depan, dan faktor eksternal yaitu masyarakat pada umumnya. Dua faktor ini haruslah saling menunjang dalam upaya peningkatan kualitas tersebut. Salah satu implikasi langsungnya ialah pada perlunya program-program yang terkait seperti penyediaan dan rehabilitasi sarana dan prasarana belajar, guru yang berkualitas, buku pelajaran bermutu yang terjangkau masyarakat, alat bantu belajar untuk meningkatkan kreativitas, dan sarana penunjang belajar lainnya.

Kualitas pendidikan mencakup aspek input, proses dan output, dengan catatan bahwa output sangat ditentukan oleh proses, dan proses sangat dipengaruhi oleh tingkat kesiapan input. Contoh perencanaan kualitas misalnya, pengembangan tenaga pendidik/kependidikan (guru, kepala sekolah, konselor, pengawas, staf dinas pendidikan, pengembangan dewan pendidikan, dan komite sekolah, rasio (siswa/guru, siswa/kelas, siswa/ruang kelas, siswa/ sekolah), pengembangan bahan ajar, pengembangan tes standar di tingkat kabupaten/kota, biaya pendidikan per siswa, pengembangan model pembelajaran (pembelajaran tuntas, pembelajaran dengan melakukan, pembelajaran kontektual, pembelajaran kooperatif dan sebagainya).

c. Efisiensi pendidikan;

Efisiensi menunjuk pada hasil yang maksimal dengan biaya yang wajar. Efisiensi dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Efisiensi internal merujuk kepada hubungan antara output sekolah (pencapaian prestasi belajar) dan input (sumber daya) yang digunakan untuk memproses/menghasilkan output sekolah. Efisiensi eksternal merujuk kepada hubungan antara biaya yang digunakan untuk menghasilkan tamatan dan keuntungan kumulatif (individual, sosial, ekonomi dan non-ekonomik) yang didapat setelah kurun waktu yang panjang di luar sekolah. Contoh-contoh perencanaan peningkatan efisiensi, misalnya, peningkatan angka kelulusan, rasio keluaran/masukan, angka kenaikan kelas, penurunan angka mengulang, angka putus sekolah, dan peningkatan angka kehadiran dan lain-lain.

d. Relevansi pendidikan.

Relevansi menunjuk kepada kesesuaian hasil pendidikan dengan kebutuhan (needs), baik kebutuhan peserta didik, kebutuhan keluarga, dan kebutuhan pembangunan yang meliputi berbagai sektor dan sub-sektor. Contoh-contoh perencanaan relevansi misalnya, program ketrampilan kejuruan/ kewirausahaan/usaha kecil bagi siswa-siswa yang tidak melanjutkan, kurikulum muatan lokal, pendidikan kecakapan hidup dan peningkatan jumlah siswa yang terserap di dunia kerja.

e. Pengembangan Kapasitas

Yang dimaksud dengan kapasitas adalah kemampuan individu dan organisasi atau unit organisasi untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif, efisien, dan berkelanjutan (UNDP,1997). Suksesnya desentralisasi pendidikan sangat ditentukan oleh tingkat kesiapan kapasitas makro, kelembagaan, sumber daya dan kemitraan. Pengembangan kapasitas tingkat makro meliputi : (1) arahan-arahan, (2) bimbingan, (3) pengaturan, pengawasan dan kontrol. Pengembangan kapasitas kelembagaan mencakup kemampuan dalam merumuskan visi, misi, tujuan, kebijakan, dan strategi, perencanaan pendidikan, manajemen pada semua aspek pendidikan (kurikulum, ketenagaan, keuangan, sarana dan prasarana, dsb), sistem informasi manajemen pendidikan, pengembangan pengaturan (regulasi dan legislasi), pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan organisasi (tugas dan fungsi serta struktur organisasinya), proses pengambilan keputusan dalam organisasi, prosedur dan mekanisme kerja, hubungan dan jaringan antar organisasi, pengembangan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, pengembangan kepemimpinan pendidikan dan lain-lain.

Kesiapan kapasitas sumber daya mencakup sumber daya manusia (manajer/pemimpin, staf dan pelaksana) dan sumber daya selebihnya (uang, peralatan, perlengkapan, bahan, dsb). Sedangkan, pengembangan kapasitas kemitraan dilandasi oleh kesadaran bahwa pengembangan ikhtiar pendidikan harus dilakukan secara terpadu antara lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat karena masing-masing memiliki pengaruh terhadap pendidikan anak.

Khusus mengenai kebijakan peningkatan mutu, relevansi dan daya saing, dalam kebijakan Ditjen Mandikdasmen, disebutkan mengenai konsep, indikator keberhasilan, dan pendukung sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1.5

Kebijakan Peningkatan Mutu, Relevansi dan Daya saing

 

 

Dalam arah pengembangan manajemen Dikdasmen juga dikemukakan mengenai kebijakan penguatan tatakelola, akuntabilitas dan pencitraan publik, yang konsep, indikator keberhasilan, pendukung dan programnya sebagai berikut.

 

Tabel 1.6

Kebijakan Penguatan Tatakelola, Akuntabilitas dan Pencitraan publik

 

 

 

 

III.            LANDASAN KEBIJAKAN PERENCANAAN STRATEGIS PENGEMBANGAN SEKOLAH

 

 

Sebagai pengelola satuan pendidikan, harus mendasarkan semua kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan di sekolah pada semua kebijakan pendidikan yang berlaku baik secara nasional, propinsi, maupun kebupaten/kota. Adalah suatu keharusan bagi setiap pemimpin satuan pendidikan untuk memahami dengan seksama setiap kebijakan yang berlaku di bidang pendidikan itu. Pemahaman ini akan sangat membantu sekolah untuk memiliki wawasan dalam skala nasional maupun regional dan lokal, kemudian mewujudkannya dalam tindakan-tindakan nyata pada tingkat satuan pendidikan. Dengan demikian, setiap langkah dan kebijakan yang dilakukan di sekolah benar-benar terilhami dan didasari oleh kebijakan nasional di bidang pendidikan dan akan mengarah pada cita-cita pendidikan nasional yang dituangkan dalam visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional. Peraturan perundang-undangan utama yang harus dipahami antara lain: Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Terus mengikuti perkembangan kebijakan pendidikan lainnya baik dalam skala nasional, propinsi, maupun kabupaten/kota. Berikut diuraikan hal-hal pokok yang diatur dalam dua peraturan perundang-undangan tersebut.

 

A.    Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional

Uraian singkat berikut menyajikan hal-hal pokok yang tercantum dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 yang harus dipedomani oleh kepala sekolah dalam penyusunan rencana pengembangan sekolah, yang meliputi visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional, sumber daya pendidikan, pengelolaan pendidikan, dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.

          Visi Pendidikan Nasional

Visi Pendidikan Nasional adalah wujud sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

          Misi Pendidikan Nasional

  1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia;
  2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar;
  3. meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral;
  4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global; dan
  5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan RI.

 

1.      Dasar, Fungsi, dan Tujuan Pendidikan Nasional

Pendidikan nasional diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

2.      Pengelolaan Pendidikan

Berkaitan dengan sumber daya pendidikan, hal-hal yang perlu dijadikan acuan dalam perencanaan pengembangan sekolah adalah pasal-pasal dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 yang mengatur tentang pendidik dan tenaga kependidikan (pasal 39 sampai dengan pasal 44), sarana dan prasarana pendidikan (pasal 45), dan pendanaan pendidikan (pasal 46 sampai dengan pasal 49).

Pasal 51 ayat (1) UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 merupakan pasal penting yang harus dijadikan pijakan dalam perencanaan pengembangan sekolah. Pasal ini menentukan bahwa pengelolaan sekolah harus menerapkan manajemen berbasis sekolah, sebagaimana ditegaskan: “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah.”

 

3.      Peran Serta Masyarakat

Berkenaan dengan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, hal-hal penting yang harus dipahami oleh perencana pengembangan sekolah meliputi ketentuan-ketentuan yang diatur dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 pasal 54, 55, dan 56. Pasal 54 mengatur bentuk dan ruang lingkup peran serta masyarakat, sebagai berikut:

a.       Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan.
b.      Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan.

Pasal 55 UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 mengatur prinsip-prinsip pendidikan berbasis masyarakat. Dalam pasal ini ditetapkan bahwa:

  1. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat.
  2. Penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan standar nasional pendidikan.
  3. Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara, masyarakat, Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  4. Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana, dan sumber daya lain secara adil dan merata dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.

Selain hal-hal pokok yang diuraikan di atas, para perencana pengembangan sekolah juga perlu untuk mengkaji dan memahami secaha komprehensif ketentuan-kentuntuan lain yang diatur dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 agar setiap keputusan yang dimbil tidak bertentangan dengan kebijakan nasional di bidang pendidikan.

4.      Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

Sasaran minimal pengembangan sekolah yang dituangkan dalam setiap rencana pengembangan sekolah haruslah menggunakan standar penyelenggaraan pendidikan yang berlaku secara nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan merupakan ketentuan rinci mengenai standar-standar nasional pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003. Peraturan Pemerintah ini menetapakan arah reformasi pendidikan nasional dalam rangka mencapai visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional.

PP nomor 19 tahun 2005 menetapkan delapan standar yang meliputi:

  1. standar isi;
  2. standar proses;
  3. standar kompetensi lulusan;
  4. standar pendidik dan tenaga kependidikan;
  5. standar sarana dan prasarana;
  6. standar pengelolaan;
  7. standar pembiayaan; dan
  8. standar penilaian pendidikan.

Di antara standar-standar tersebut, standar pengelolaan pada tingkat satuan pendidikan merupakan standar terpenting yang harus djadikan acuan dalam perencanaan pengembangan sekolah. Untuk itu berikut diuraikan kententuan-ketentuan yang berkaitan dengan standar pengelolaan dan pengambilan keputusan sebagaimana ditetapkan dalam pasal 49 sampai dengan pasal 58 PP nomor 19 tahun 2005

Pasal 49 ayat (1) pada Peraturan Pemerintah ini menyatakan: “Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.” Berkaitan dengan penerapan manajemen berbasis sekolah itu di tingkat satuan pendidikan, PP nomor 19/2005 tersebut menetapkan sejumlah standar pengelolaan yang mencakup pengambilan keputusan, pedoman pendidikan, rencana kerja, prinsip-prinsip dasar pengelolaan satuan pendidikan, pengawasan, pemantauan, supervisi, dan pelaporan. Secara ringkas standar-standar pengelolaan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

Pengelolaan satuan pendidikan harus berpegang pada prinsip-prinsip kemandirian, efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas. Pelaksanaan pengelolaan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dipertanggungjawabkan oleh kepala satuan pendidikan kepada rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah.

Terkait dengan Pengambilan Keputusan, beberapa hal penting yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tersebut meliputi bidang-bidang pengambilan keputusan, prosedur pengambilan keputusan dan pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan itu. Pengambilan keputusan bidang akademik dilakukan melalui rapat Dewan Pendidik yang dipimpin oleh kepala sekolah. Sedangkan bidang non-akademik pengambilan keputusan dilakukan oleh komite sekolah/madrasah yang dihadiri oleh kepala sekolah. Rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah dilaksanakan atas dasar prinsip musyawarah mufakat yang berorientasi pada peningkatan mutu satuan pendidikan.

Rencana kerja yang harus dibuat oleh satuan pendidikan meliputi Rencana Kerja Jangka Menengah (4 tahun) dan Rencana Kerja Tahunan. Rencana Kerja Satuan Pendidikan dasar dan Menengah harus disetujui rapat dewan pendidik setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah/Madrasah.

Pengawasan penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan mencakup pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan. Pemantauan dilakukan oleh pimpinan satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau bentuk lain dari lembaga perwakilan pihak-pihak yang berkepentingan secara teratur dan berkesinambungan untuk menilai efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas satuan pendidikan. Supervisi yang meliputi supervisi manajerial dan akademik dilakukan secara teratur dan berkesinambungan oleh pengawas atau penilik satuan pendidikan dan kepala satuan pendidikan.

Standar pengelolaan tersebut mengisyaratkan bahwa sejak saat ini sekolah sebagai satuan pendidikan memiliki peran, wewenang dan tanggung jawab yang sangat strategis dan jauh lebih luas di bandingkan masa sebelumnya. Sekolah dituntut untuk lebih mandiri, lebih mampu membangun hubungan kemitraan dengan dan memperkuat partisipasi semua pemangku kepentingan (stakeholders), bersikap lebih terbuka dan akuntabel.

Kewenangan yang begitu luas yang diberikan kepada sekolah pada gilirannya menuntut setiap sekolah mereformasi dirinya. Setiap sekolah harus beralih dari budaya dan manajemen yang bersifat “menunggu dan bertindak sesuai kebijakan atas” yang bersifat konvensional kepada sebuah budaya dan manajemen baru yang menempatkan hasil telaah diri sebagai titik awal usaha pengembangan, kemandirian dan akuntabilitas sebagai instrumen utama dalam proses pengembangan dirinya, dan peningkatan mutu sebagai muara dan tujuan utama dari setiap usaha pengembangan itu.

 

 

IV.            MODEL PERENCANAAN PENGEMBANGAN SEKOLAH

 

A.    Pengertian Perencanaan Pengembangan Sekolah

Perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), menggerakkan atau memimpin (actuating atau leading), dan pengendalian (controlling) merupakan fungsi-fungsi yang harus dijalankan dalam proses manajemen. Jika digambarkan dalam sebuah siklus, perencanaan merupakan langkah pertama dari keseluruhan proses manajemen tersebut. Perencanaan dapat dikatakan sebagai fungsi terpenting diantara fungsi-fungsi manajemen lainnya. Apapun yang dilakukan berikutnya dalam proses manajemen bermula dari perencanaan. Daft (1988:100) menyatakan: “When planning is done well, the other management functions can be done well.”

Perencanaan pada intinya merupakan upaya penentuan kemana sebuah organisasi akan menuju di masa depan dan bagaimana sampai pada tujuan itu. Dengan kata lain, perencanaan berarti pendefinisian tujuan yang akan dicapai oleh organisasi dan pembuatan keputuan mengenai tugas-tugas dan penggunaan sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu. Sedangkan rencana (plan) adalah hasil dari proses perencenaan yang berupa sebuah cetak biru (blueprint) mengenai alokasi sumber daya yang dibutuhkan, jadwal, dan tindakan-tindakan lain yang diperlukan dalam rangka pencapaian tujuan.

Dalam pengertian tersebut, tujuan dan alokasi sumber daya merupakan dua kata kunci dalam sebuah rencana. Tujuan (goal) dapat diartikan sebagai kondisi masa depan yang ingin diwujudkan oleh organisasi. Dalam organisasi, tujuan ini terdiri dari beberapa jenis dan tingkatan. Tujuan pada tingkat yang tertinggi disebut dengan tujuan strategis (strategic goal), kemudian berturut-turut di bawahnya dijabarkan menjadi tujuan taktis (tactical objective) kemudian tujuan operasional (operational objective). Tujuan strategis merupakan tujuan yang akan dicapai dalam jangka panjang, sedangkan tujuan taktis dan tujuan operasional adalah tujuan jangka pendek yang berupa sasaran-sasaran yang terukur.

Dalam SD/MI, tujuan strategis merupakan tujuan tertinggi yang akan dicapai pada tingkat sekolah. Tujuan ini bersifat umum dan biasanya tidak dapat diukur secara langsung. Tujuan-tujuan taktis merupakan tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh bagian-bagian utama organisasi sekolah, misalnya bidang kurikulum, kesiswaan, atau kerja sama dengan masyarakat. Sedangkan tujuan operasional merupakan tujuan yang harus dicapai pada bagian-bagian yang secara struktur yang lebih rendah dari bagian-bagian utama sekolah tersebut. Tujuan mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran, misalnya, dapat dikategorikan sebagai tujuan operasional.

Masing-masing tingkatan tujuan tersebut terkait dengan proses perencanaan. Tujuan strategis merupakan tujuan yang harus dicapai pada tingkat rencana strategis (strategic plan). Tujuan taktis dan tujuan operasional masing-masing merupakan tujuan-tujuan yang harus dicapai pada rencana taktis (tactical plan) dan rencana operasional (operational plan).

Perlu dicatat bahwa semua sekolah, apapun bentuknya, berdiri atau didirikan atas dasar asumsi, keyakinan, sistem nilai dan mandat tertentu. Dalam kaitannya dengan perencanaan pengembangan, dasar-dasar keberadaan ini disebut dengan premis lembaga atau premis sekolah. Permis-premis sekolah itu biasanya disajikan dalam bentuk rumusan visi, misi, dan nilai-nilai fundamental organisasi. Visi dapat dipandang sebagai alasan atas keberadaan lembaga dan merupakan keadaan “ideal” yang hendak dicapai oleh lembaga; sedangkan misi adalah tujuan utama dan sasaran kinerja dari lembaga. Keduanya harus dirumuskan dalam kerangka filosofis, keyakinan dan nilai-nilai dasar yang dianut oleh sekolah yang bersangkutan dan digunakan sebagai konteks pengembangan dan evaluasi atas strategi yang diinginkan.

Premis-premis tersebut harus menjadi titik-tolak dalam perencanaan. Tujuan dan cara untuk mencapai tujuan yang tertuang dalam rencana harus berada dalam kerangka premis-premis itu. Untuk memudahkan pemahaman, Gambar 2.1 mengilustrasikan hubungan antara premis organisasi, hierarki tujuan, dan bentuk rencana sebagaimana diuraikan di atas.

Visi, Misi, dan Nilai-Nilai Dasar

(Premis Sekolah)

Manajemen Puncak

(Tingkat Sekolah)

Tujuan Strategis

Rencana Strategis

Manajemen Menengah

(Bidang Kurikulum, Kesiswaan, dsb.)

Tujuan Taktis

Rencana Taktis

Manajemen Bawah

(Mapel, Individu Guru)

Tujuan Operasional

Rencana Operasional

Tujuan (hasil)

Rencana (alat)

Gambar 1.7 Hubungan antara Premis, Tujuan, dan Rencana

Perencanaan pengembangan sekolah (school development planning) merupakan proses pengembangan sebuah rencana untuk meningkatkan kinerja sebuah sekolah secara berkesinambungan. Perbedaan pokok rencana pengembangan dengan rencana lainnya terletak pada tujuan. Sedangkan hierarki tujuan dan rencana sebagaimana telah diuraikan di atas juga berlaku dalam rencana pengembangan. Tujuan yang akan dicapai dalam rencana pengembangan merupakan hasil-hasil yang lebih baik dari apa yang selama ini telah di oleh sekolah. Rencana pengembangan sekolah disusun agar sekolah terus-menerus meningkatkan kinerjanya. Oleh karena itu, selain didasarkan pada visi dan misi sekolah, perencanaan pengembangan harus didasarkan atas pemahaman yang mendalam tentang keberadaan dan kondisi sekolah pada saat rencana pengembangan itu disusun. Pemahaman semacam ini dapat dilakukan melalui kajian dan telaah mendalam terhadap kondisi internal maupun lingkungan eksternal dimana sekolah itu berada.

 

a.       Model Perencanaan Pengembangan Sekolah

Standar nasional pendidikan sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya menunjukkan bahwa proses perencanaan menjadi perangkat yang esensial dalam pengelolaan sekolah. Dalam kaitannya dengan standar pengelolaan satuan pendidikan, sistem perencanaan pengembangan lembaga yang diterapkan pada setiap sekolah harus mampu memfasilitasi dan mengakomodasi lima pilar utama yang digariskan dalam standar pengelolaan, yaitu kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.

Model perencanaan strategis (strategis planning) hingga saat ini dipandang sebagai proses perencanaan yang demikian itu. Dengan menerapkan pendekatan perencanaan strategis, diharapkan sekolah akan terdorong untuk melakukan perencanaan secara sistematis. Sekolah diharapkan akan menyediakan waktu untuk mentelaah dan menganalisis dirinya sendiri dan lingkungannya, mengidentifikasi kebutuhannya untuk mendapatkan keunggulan terhadap yang lain, dan melakukan komunikasi dan konsultasi secara terus-menerus dengan berbagai pihak baik dari dalam maupun luar lingkungan lembaga selama berlangsungnya proses perencanaan. Di samping itu perencanaan strategis juga diharapkan akan mendorong sekolah untuk menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan strategis, secara terus-menerus memantau pelaksanaan rencana itu, dan secara teratur melakukan pengkajian dan perbaikan untuk menjaga agar perencanaan yang dibuat tetap relevan terhadap berbagai kondisi yang terus berkembang (Nickols dan Thirunamachandran, 2000).

Perencanaan strategis (strategic planning) merupakan bagian dari proses managemen strategis yang terkait dengan proses identifikasi tujuan jangka panjang dari sebuah lembaga atau organisasi, penggalian gagasan dan pilihan-pilihan, pengambilan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, dan pemantauan (monitoring) kemajuan atau kegagalan dalam rangka menentukan strategi di masa depan (Nickols dan Thirunamachandran, 2000). Secara historis, perencanaan strategis bermula dari dunia militer. Perkembangan selanjutnya, perencanaan strategis diadopsi oleh dunia usaha pada tahun 1950-an dan berkembang pesat dan sangat populer pada tahun 1960 hingga 1970-an, dan berkembang kembali tahun 1990-an Mintzberg (1994) sebagai “process with particular benefits in particular contexts.”

Penerapan perencanaan strategis di dunia pendidikan baru berkembang sekitar satu dekade yang lalu. Saat mana lembaga-lembaga pendidikan dipaksa harus berhadapan dengan berbagai perubahan baik di dalam maupun di luar lingkungan lembaga, dan dipaksa harus tanggap terhadap berbagai tantangan yang timbul seperti halnya menurunnya dukungan keuangan, pesatnya perkembangan teknologi, dan berubahnya struktur kependudukan, dan tertinggalnya program-program akademik. Sebagai dampak dari kondisi ini, sejumlah lembaga pendidikan kemudian menggunakan perencanaan strategis sebagai alat untuk “meraih manfaat dan perubahan strategis untuk menyesuaikan diri dengan pesatnya perubahan liungkungan (Rowley, Lujan, & Dolence, 1997).

 

b.      Menumbuhkan Budaya Pengembangan Berencana di Sekolah

Perencanaan pengembangan sekolah pada dasarnya merupakan proses yang berlangsung terus-menerus, bukan merupakan kegiatan “sekali jadi”. Agar perencanaan pengembangan itu efektif dalam memampukan (enabling) sekolah untuk menghadapi tantangan ganda yang berkaitan dengan peningkatan kualitas dan pengelolaan perubahan, perencanaan pengembangan harus menjadi “modus operandi” normal bagi setiap sekolah. Bagi sekolah pada umumnya, perencanaan pengembangan yang sistematis akan memerlukan perubahan mendasar dari kondisi yang ada sekarang. Bab ini memaparkan inovasi tantangan yang harus diatasi dengan cermat untuk menjamin keberhasilan pengintegrasian perencanaan pengembangan ke dalam kehidupan sekolah, sehingga perencanaan akan menjadi budaya dalam manajemen sekolah.

Berdasarkan penelitian internasional terhadap perubahan pendidikan pada umumnya, penumbuhan budaya perencanaan pengembangan sekolah dibagi menjadi tiga tahap:

Ø Pemulaan (Inisiation): tahapan ini meliputi penetapan keputusan untuk memulai perencanaan pengembangan sekolah, menumbuhkan komitmen terhadap proses perencanaan, dan penyiapan partisipan.

Ø Pembiasaan (Familirialisation): tahap ini mencakup siklus awal dari perencanaan pengembangan sekolah, dimana masyarakat sekolah belajar bagaimana melaksanakan proses perencanaan pengembangan itu.

Ø Penyatuan (Embedding): tahap ini terjadi ketika perencanaan pengembangan sekolah telah menjadi bagian pola kehidupan sekolah sehari-hari dalam melaksanakan segala sesuatu.

 

1)      . Tahap Pemulaan (Inisiation)

Secara formal semua pengelola sekolah bertanggung jawab atas inisiatif perencanaan pengembangan sekolah untuk menjamin bahwa keputusan untuk menyusun rencana pengembangan sekolah benar-benar terlaksana dan terwujud. Akan tetapi, pada praktiknya, inisiatif itu pada umumnya diambil oleh kepala sekolah atau komite sekolah.

Apabila diinginkan keberhasilan dalam inovasi sekolah, pengembangan komitmen guru terhadap inovasi itu menjadi hal yang esensial. Mereka harus benar-benar memahami hal-hal pokok berkaitan dengan apa, mengapa, dan bagaimana perencanaan pengembangan sekolah dilakukan. Guru-guru harus disadarkan tentang peran yang harus mereka ambil dalam proses perencanaan dan manfaat apa yang dapat mereka peroleh dari proses itu. Pemahaman mereka harus difokuskan pada keterkaitan antara proses dengan isu-isu yang penting bagi guru pada umumnya, sehingga relevansi proses perencanaan dan kebutuhan sekolah dapat disampaikan dengan jelas. Penjelasan serupa juga harus dilakukan kepada semua mitra kerja yang ada di lingkungan sekolah agar proses perencanaan pengembangan sekolah memperoleh dukungan dari mereka.

Kegiatan-kegiatan berikut merupakan cara-cara yang dapat membantu warga sekolah untuk mempersiapkan partisipasinya dalam proses perencanaan pengem­bang­an sekolah.

  1. Membaca berbagai panduan, buku-buku pegangan dan laporan-laporan hasil penelitian mengenai perencanaan pengembangan sekolah.
  2. Mencari saran-saran, masukan dan dukungan dari lembaga-lembaga yang peduli terhadap pendidikan yang ada di sekitar sekolah.
  3. Menghadiri seminar-seminar atau pelatihan-pelatihan yang relevan dengan perencanaan pengembangan sekolah.
  4. Menghubungi sekolah-sekolah lain yang dipandang lebih maju dibidang perencanaan pengembangan sekolah untuk menggali dan belajar dari pengalaman yang mereka miliki.
  5. Mengundang pembicara dari luar untuk menyajikan paparan tentang perencanaan pengembangan sekolah di hadapan guru, pengelola sekolah, komite sekolah, dan orang tua, baik secara bersama-sama atau terpisah.
  6. Mengundang tokoh-tokoh kunci di lingkungan sekolah untuk memaparkan pentingnya perencanaan pengembangan sekolah dan mendorong partisipasi semua pihak.
  7. Memanfaatkan fasilitator dari luar untuk membantu memulai dan mengimple­men­tasi­kan perencanaan pengembangan sekolah.
  8. Keluaran yang dicapai dari tahap pemulaan meliputi:
ü  Telah dibuatnya keputusan untuk mengawali (mengintroduksi) perencanaan pengembangan sekolah.
ü  Semua guru memiliki pemahaman yang benar mengenai perencanaan pengembangan sekolah dan memiliki komitmen terhadap proses itu.
ü  Semua mitra sekolah telah diberi penjelasan pada tahap awal proses tersebut.
ü  Terpilihnya fasilitator untuk membantu melaksanakan proses tersebut.

2)       Tahap Pembiasaan (Familirialisation)

Pada tahap pembiasaan, biasanya merupakan langkah pertama dari siklus perencanaan pengembangan sekolah secara utuh, masyarakat sekolah berada dalam proses belajar dari pengalaman bagaimana melaksanakan proses perencanaan tersebut. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan tumbuh berdasarkan pengalaman dan struktur kolaborasi yang berkembang. Hasil dari tahapan ini adalah terkonsolidasikannya dan menguatnya komitmen terhadap proses perencanaan.

Selama berlangsungnya tahap ini, fasilitator yang terampil, koordinasi yang cermat, dan dukungan yang cukup dan berkelanjutan, termasuk di dalamnya pelatihan dalam jabatan, akan sangat membantu keberhasilan proses perencanaan. Perhatian khusus harus diberikan agar timbul penguatan yang positif di kalangan guru.

a.      Penyatuan (Embedding)

Tahap penyatuan terjadi ketika perencanaan pengembangan telah menjadi bagian dari cara-cara yang biasa dilakukan sekolah dalam melaksanakan segala sesuatu. Tatanan manajemen sekolah telah berkembang menjadi pendukung yang baik terhadap pengembangan maupun pemeliharaan sekolah yang bersangkutan, dan menjadi bagian dari pola prilaku yang berterima (acceptable) bagi semua pihak. Terdapat begitu luas ragam penggunaan rencana tindakan oleh guru. Dalam hal ini rencana pengembangan sekolah harus berfungsi sebagai kerangka acuan bagi perencanaan-perencanaan yang terkoordinasi yang dilakukan oleh guru secara individual, unit-unit yang ada sekolah, tim-tim lintas kurikulum, dan dampaknya akan tampak pada praktik-praktik pembelajaran dalam kelas. Seluruh proses tersebut pada saat itu telah menjadi “cara kita melakukan segala sesuatu di sekolah ini” atau “the way we do things around here.”

b.      Langkah-Langkah Perencanaan Pengembangan Sekolah

Terdapat berbagai model yang dapat digunakan untuk diadopsi untuk menyusun rencana Pengembangan Sekolah. Dalam bahan Bintek ini hanya diberikan satu contoh struktur rencana pengembangan sekolah. Namun demikian, bukan berarti langkah-langkah yang diberikan di sini merupakan yang paling efektif bagi semua SD/MI, masing-masing SD/MI memiliki kebebasan untuk mengembangkan sendiri struktur rencana pengembangan yang dipandang paling sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah. Proses perencanaan pengembangan sekolah yang dimaksud setidak-tidaknya harus mencakup lanngkah-langkah sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 2.1.

Menyusun

Rencana Pendapatan dan Belanja Sekolah

Merumuskan:

Visi

Misi

Tujuan

Telaah Diri

(Self Review)

Memilih

Prioritas dan Strategi Pengembangan

Menyusun:

Program

Pengembangan

Menyusun

Rencana Operasional Tahunan

 

Gambar 1.8 Proses Perencanaan Pengembangan Sekolah

 

 

 

 V.            VISI, MISI, DAN TUJUAN

 

A.    Pengertian dan Ruang Lingkup Visi, Misi, dan Tujuan

Visi, misi dan tujuan merupakan titik sentral dalam siklus Perencanaan Pengembangan Sekolah. Ketiganya mensarikan apa yang menjadi dasar keberadaan sekolah dan apa yang ingin dicapai oleh sekolah. Oleh karena itu, ketiganya menjadi kerangka acuan dari semua operasi dalam siklus perencanaan dan berfungsi sebagai (1) konteks saat melakukan telaah, (2) arah dari rancangan dan implementasi, dan (3) tolok ukur dalam proses telaah.

Visi sekolah merupakan representasi masa depan yang diinginkan mengenai sebuah sekolah. Visi mensarikan prinsip-prinsip umum dan bersifat aspirasional. Rumusan visi sekolah hendaknya mencakup:

  1. Sosok lembaga macam apa yang diinginkan di masa depan,
  2. Yustifikasi sosial atas keberadaan sekolah yang diwujudkan dalam isu-isu pendidikan apa yang harus ditangani oleh sekolah atau masalah-masalah pendidikan mana yang akan diatasi oleh sekolah,
  3. Apa yang harus diakui, diantisipasi, dan dijawab oleh sekolah berkaitan dengan kebutuhan dan masalah-masalah tersebut,
  4. Siapa stakeholder utama sekolah ini, bagaimana sekolah merespon kebutuhan para stakeholder itu, dan bagaimana sekolah mengetahui keinginan yang mereka harapkan dari sekolah, dan
  5. Apa yang membuat sekolah tersebut unik atau berbeda dengan yang lain, dan karena itu, apa yang membuat sekolah ini memiliki keunggulan kompetitif.

Misi sekolah merepresentasikan raison d’etre atau alasan mendasar mengapa sebuah sekolah didirikan. Rumusan misi mencakup pesan-pesan pokok tentang (1) tujuan asal-muasal (original purpose) didirikannya sekolah, (2) nilai-nilai yang dianut dan melandasi pendirian dan operasionalisasi sekolah, dan (3) alasan mengapa sekolah itu harus tetap dipertahankan keberadaannya.

Tujuan strategis sekolah merupakan pernyataan umum tentang tujuan pendidikan di sekolah itu. Tujuan-tujuan itu harus berkait dengan usaha mendorong perkembangan semua siswa baik secara intelektual, fisikal, sosial, personal, spiritual, moral, kinestetikal, maupun estetikal. Tujuan sekolah harus memberikan fokus yang jelas bagi sekolah. Tujuan sekolah harus dirumuskan dalam kerangka visi dan misi sekolah. Aspirasi semua stakeholder harus terwadahi dalam konteks yang lebih luas dari rumusan visi dan misi sekolah.

Selain ketentuan yang bersifat umum tersebut visi, misi, dan tujuan strategis sekolah harus juga dirumuskan dalam kerangka visi, misi, dan tujuan pendidikan baik pada skala nasional, regional (propinsi) maupun, daerah (kabupaten/kota).

 

1.             Mengapa Sekolah Perlu Merumuskan Visi, Misi, dan Tujuan?

Di era perubahan sekarang ini, pengembangan rumusan visi, misi dan tujuan sebuah sekolah merepresentasikan kesiapan dan kemauan sekolah untuk bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya dan untuk mengelola perubahan dengan cara-cara yang positif dalam kaitannya dengan visinya. Rumusan misi sekolah merupakan dasar bagi kebijakan dan praktik-praktik yang berlangsung di sekolah. Tidak diragukan lagi bahwa nilai-nilai dan keyakinan yang membimbing kehidupan sekolah memiliki implikasi yang penting bagi semua pilihan dan keputusan yang harus dibuat dalam pengembangan rencana sekolah.

Maksud dirumuskannya visi dan misi sekolah adalah:

  1. Untuk memberikan arah yang jelas bagi usaha-usaha yang dilakukan sekolah;
  2. Untuk mengilhami masyarakat sekolah dengan sebuah tujuan yang bersifat umum;
  3. Untuk memberikan kerangka yang bagi penentuan kebijakan dan prioritas;
  4. Untuk membangun pusat acuan (reference point) yang digunakan sekolah dalam mengtelaah keberhasilan kegiatan-kegiatannya.

Visi dan misi sekolah tidak dapat dipindah tangankan dengan mudah dari satu pihak ke pihak yang lain. Keduanya harus dikembangkan dan diklarifikasi melalui sebuah proses refleksi bersama atas nilai-nilai, keyakinan, dan aspirasi dari warga sekolah. Visi dan misi harus mencerminkan usaha sekolah untuk memadukan nilai-nilai yang sering saling bertentangan di kalangan warga sekolah. Kesadaran atas nilai-nilai personal di kalangan warga sekolah merupakan hal yang sangat penting. Sekolah akan dapat mengakomodasi sejumlah nilai asalkan terdapat nilai-nilai yang didukukung oleh setiap individu warga sekolah. Nilai-nilai, apakah disadari atau tidak, merupakan inti dari tindakan yang kita lakukan. Waktu yang diluangkan khusu untuk mengeksplorasi nilai-nilai individual dan nilai-nilai kolektif kita sendiri merupakan waktu yang sangat berharga dan kelak akan berpengaruh terhaap segala sesuatu yang kita kerjakan di sekolah.

2.             Kapan Visi, Misi, dan Tujuan Dirumuskan?

Proses Perencanaan Pengembangan Sekolah sering bermula dengan hal pokok tersebut, yakni perumusan visi, misi, dan tujuan. Namun demikian, ada sekolah yang merasa lebih terbantu untuk memulai perencanaan dengan mentelaah (review) dan dengan mendalami pemahaman terhadap visi, misi, dan tujuan, melakukan klarifikasi melalui partisipasi dalam proses perencanaan, dan melalui refleksi terhadap faktor-faktor kontekstual yang bersifat lokal, nasional, maupun internasional yang kelak berpengaruh terhadap pembentukan masa depan sekolah.

Apabila keputusan yang diambil adalah menunda penyiapan perumusan resmi visi, misi, dan tujuan hingga dicapainya proses perencanaan pada tahap lebih lanjut, sangat dianjurkan agar sedari awal dilakukan identifikasi terhadap nilai-nilai bersama yang mendasari telaah dan mengusahakan pengembangan. Klarifikasi dan elaborasi terhadap prinsip-prinsip dasar tersebut dijadikan bagian integral dari proses perencanaan.

 

3.             Perumusan Visi

Visi merupakan gambaran positif kemana kita akan menuju di masa yang akan datang. Sistem pendidikan nasional, misalnya, memiliki visi “terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.” Untuk mencapai visi ini, kita harus mengerahkan semua daya dan upaya yang untuk mengatasi berbagai tantangan dan memanfaatkan berbagai peluang yang kita hadapi.

Rumusan visi harus spesifik dengan agenda yang jelas dan kuat, sesuatu yang bermakna untuk dicapai. Rumusan visi harus sederhana, mudah dipahami, lengkap dan menjadi milik semua pihak terkait, dan menjadi penentu arah yang kita tuju. Visi harus bersifat jangka panjang. Agar memudahkan kita untuk mengingatnya, kita sering merumuskan visi dalam bentuk yang pendek berupa sebuah frasa yang mudah ditangkap.

Pertanyaan mendasar yang harus dikemukakan ketika merumuskan visi sekolah adalah: Sosok sekolah seperti apa yang saya inginkan pada lima atau sepuluh tahun yang akan datang?

Untuk menjawab pertanyaan ini harus memanfaatkan pengatahuan tentang kondisi sekolah yang ada saat ini untuk menentukan apa yang mungkin dicapai pada kurun waktu lima atau sepuluh tahun mendatang. Langkah pertama untuk menjawab pertanyaan tersebut dapat dilakukan melalui curah pendapat (brainstorming) yang melibatkan guru, staf sekolah, orang tua, dan komite sekolah. Setiap orang diberi kesempatan untuk mengemukakan dua atau tiga kata kunci yang mengambarkan sosok sekolah yang diinginkan pada lima atau sepuluh tahun yang akan datang. Catat semua kata-kata kunci yang mengemuka.

Langkah berikutnya adalah mengelompok-kelompokkan berdasarkan karakteristik tertentu. Sekolah yang berhasil biasanya memiliki karakteristik yang dapat dikelompokkan menjadi lima kategori: hasil pendidikan, proses pendidikan, dan citra sekolah dimasyarakat. Contoh visi SD dapat dirumuskan sebagai berikut:“SDN Kesatrian I Kecamatan Pringgondani Kabupaten Amarta

menjadi sekolah yang terunggul bertaraf internasional menjelang tahun 2015”

Rumusan visi memberikan arah kemana sekolah akan dikembangkan dalam ruang lingkup yang luas. Pada contoh tersebut, makna kata terunggul dan bertaraf internasional harus disepakati oleh semua pihak terkait.

Bagi sekolah yang telah memiliki rumusan visi, langkah awal yang mungkin dilakukan dalam penyusunan rencana pengembangan sekolah adalah melakukan telaah terhadap rumusan visi yang ada untuk menentukan relevansi dan validitas dengan kondisi terkini. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam telaah ini antara lain:

1.      Aspek-aspek mana dari rumusan visi yang ada masih relevan?

2.      Dalam kaitannya dengan kebutuhan akan perubahan masyarakat yang berlangsung saat ini, apa yang perlu duperbarui, ditambahkan, atau dihilangkan dari rumusan visi tersebut?

3.      Bagaimana visi tersebut dapat dipertahankan dalam masyarakat sekolah?

4.      Sejauh mana kebijakan dan dokumentasi sekolah menceminkan visi tersebut?

5.      Sejauh mana kurikulum merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam visi sekolah?

6.      Sejauh mana manajemen sekolah merefleksikan nilai-nilai dan keyakinan yang dinyatakan dalam rumusan visi?

7.      Sejauhmana hubungan di lingkungan internal sekolah dan antara berbagai pihak di kalangan warga sekolah merefleksikan rumusan visi tersebut?

8.      Sejauhmana rumusan visi merefleksikan kebutuhan sebuah masyarakat multi-kultural yang kompleks?

Telaah tersebut dapat dilakukan melalui survei sederhana dangan meminta warga sekolah untuk memberikan tanggapan atas rumusan visi sekolah yang telah ada. Pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan terdahulu dapat menjadi titik tolak untuk mengeksplorasi persepsi warga sekolah terhadap rumusan visi yang ada dan untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang memerlukan perubahan dan pengembangan.

 

4.      Merumuskan Misi Sekolah

Misi merupakan pernyataan tentang bagaimana kita memberikan layanan kepada peserta didik dan mencapai visi yang telah dirumuskan. Misi bukan merupakan jabaran dari visi, akan tetapi misi merupakan “cara” untuk mencapai visi. Merumuskan misi sekolah berarti merumuskan pernyataan tentang bagaimana kita akan melaksanakan pendidikan dan bagaimana kita akan mencapai visi. Kita dapat melakukan hal ini hanya jika kita mampu memenuhi kebutuhan siswa. Selain itu, kita juga harus menerapkan berbagai pendekatan dan strategi yang tepat. Selanjutnya kita juga harus secara intensif memastikan bahwa filosofi dan nilai-nilai yang kita anut menjadi pijakan dan acuan dalam tindakan atau budaya yang ingin kita terapkan dalam menjalankan roda sekolah.

Rumusan misi sekolah harus memenuhi indikator-indikator berikut:

1.      Tugas utama sekolah (apa yang dikerjakan oleh sekolah)

2.      Siswa, pendidik dan tenaga kependidikan, stake holder lainnya (siapa yang dilayani oleh sekolah)

3.      Kebutuhan khusus peserta didik yang dipenuhi oleh sekolah (menunjukkan keunikan dan mengapa hal itu dibutuhkan)

4.      Strategi umum yang digunakan (bagaimana proses pendidikan yang diselenggerakan akan mencapai keunggulan yang diinginkan)

5.      Filosofi dan nilai-nilai (budaya yang diinginkan, mengapa kita melakukan sesuatu dengan cara ini)

Contoh rumusan misi: SDN Kesatrian I Kecamatan Pringgondani Kabupaten Amarta menyelenggarakan pendidikan dasar yang bertaraf internasional yang menjamin semua siswa mencapai prestasi terbaik dalam bidang akademik dan non-akademik melalui pendidikan yang membelajarkan dan pengelolaan yang strategis”

 

5. Merumuskan Tujuan .

Telah dikemukakan hierarki tujuan yang meliputi tujuan strategis, tujuan taktis, dan tujuan operasional. Tujuan yang maksud pada bagian ini adalah tujuan pada tingkat strategis, yakni tujuan yang dirumuskan untuk dicapai oleh sekolah secara keseluruhan. Sesuai dengan sifatnya, tujuan strategis merupakan pernyataan umum tentang arah kemana kelak organisasi akan menuju di masa depan.

Tujuan strategis dapat dibedakan menjadi delapan tipe. Sekolah dapat menggabungkan dua atau lebih dari tipe-tipe tujuan itu sesuai dengan rumusan visi dan misinya serta nilai-nilai dasar yang dianut.

  1. Pangsa Pasar Pendidikan: Tujuan yang mengindikasikan dimana posisi yang diinginkan sekolah di masa depan relatif terhadap sekolah lain yang sejenis terkait dengan keberterimaan lulusan oleh sekolah pada jenjang berikutnya dan juga kualitas dan kuantitas calon siswa yang berminat menjadi siswa di sekolah tersebut.
  2. Inovasi Pendidikan: Tujuan yang mengindikasikan komitmen pihak pengelola sekolah terhadap pengembangan layanan pendidikan baru dan pendekatan, strategi, atau metode baru dalam penyelenggaraan pendidikan.
  3. Produktivitas Pendidikan: Tujuan yang mengarah pada level efisiensi, produktivitas dan kualitas pendidikan.
  4. Sumberdaya fisik dan keuangan: Tujuan yang berkaitan dengan penggunaan, perolehan, dan pemeliharaan sumber-sumber investasi dan keuangan.
  5. Keuntungan: Tujuan yang memfokus pada tingkat keuntungan dan indikator-indikator yang berkaitan dengan kinerja keuangan sekolah.
  6. Kinerja dan Pengembangan Manajemen: Tujuan yang menekankan pada tingkat produktivitas dan pertumbuhan manajemen.
  7. Kinerja dan Sikap Pendidik dan Tenaga Kependidikan: Tujuan yang berkaitan dengan tingkat produktivitas dan prilaku positif yang diharapkan dari kalangan staf sekolah.
  8. Tanggung Jawab Sosial: Tujuan yang mengindikasikan tanggung jawab sosial sekolah terhadap para pihak yang berkepentingan di luar sekolah dan masyarakat.

Agar tujuan benar-benar efektif dan cukup punya peluang untuk dicapai, maka rumusan tujuan harus memenuhi sejumlah kriteria keefektifan. Kriteria keefektifan tujuan dapat dilihat dari karakteristik tujuan itu sendiri dan prilaku dalam proses tujuan itu dirumuskan. Dari segi karakteristiknya, sebuah tujuan yang efektif harus memenuhi lima kriteria: spesifik dan terukur, mencakup dimensi-dimensi kunci, realistis namun menantang, terbatasi oleh kurun waktu tertentu, dan terkait dengan imbalan atau ganjaran. Dari segi prilaku dalam proses perumusannya, sebuah tujuan akan efektif apabila mampu membangun kerjasama diantara bagian-bagian yang ada dalam organisasi sekolah dan adanya partisipasi dari semua warga sekolah untuk mengadopsi dan mengimplementasi tersebut. Uraian berikut memaparkan secara rinci kriteria keefektifan tujuan tersebut. Untuk memudahkan kita mengingat, tujuh kriteria tujuan yang efektif tersebut dapat diringkas menjadi lima kriteria yang disingkat SMART. Kelima kriteria itu meliputi: spesifik (specific), dapat dikelola pencapaiannya (manageable), disepakati (agreed upon) oleh semua warga sekolah, didukung sumber daya yang memadai (resources supported), dan terdapat batasan waktu (time-bound).

 

  1. VI.          TELAAH DIRI

 

Tujuan telaah diri adalah untuk memampukan (enabling) warga sekolah: (1) mendefinisikan kondisi dari sekolah saat ini; (2) menganalisis kondisi saat ini dalam kaitannya dengan bagaimana dan seperti apa sekolah kelak diinginkan di masa depan; dan (3) mengidentifikasi perubahan-perubahan yang harus dilakukan. Telaah diri dapat dilakukan dengan berbagai cara yang berbeda-beda. Uraian berikut ini menyajikan garis-garis besar sejumlah pendekatan yang dapat diadaptasi sesuai dengan kondisi yang beragam.

 

A.    Merencanakan Telaah Diri

1.             Pastikan bahwa telaah difokuskan pada isu-isu yang berkembang, bukan pada pribadi-pribadi

Anggota staf yang tidak terbiasa dengan proses telaah diri yang sistematis dapat merasa tidak nyaman. Pengakuan terhadap adanya sensitifitas semacam itu dan pengarahan berbagai bentuk ekspresi atas dasar kesadaran membuka diri merupakan hal yang penting. Dengan demikian, perlu ditekankan sejak awal bahwa fokus telaah adalah pada isu yang berkembang, bukan pada pribadi-pribadi, dan pembahasan mengenai keterbatasan yang ada di sekolah saat ini hendaknya dilakukan secara santun dan dalam niatan untuk membangun.

2.      Pastikan bahwa proses telaah diri memiliki orientasi positif

Dalam rangka memperkuat moral, manfaatkan peluang yang ada untuk membangkitkan kesadaran mengenai kekuatan sekolah dan untuk mengakui prestasi yang dicapai sekolah. Jika fokusnya terletak pada bagaimana membuat sekolah yang baik menjadi lebih baik, telaah tersebut dapat berupa pemberian energi pengalaman.

3.             Arahkan ruang lingkup telaah diri pada kondisi sekolah secara utuh

Perlu diingat bahwa telaah diri bukan merupakan akhir dari segalanya akan tetapi merupakan alat untuk memperjelas jalan ke masa depan, jalan menuju masa depan yang lebih baik. Keefektifan telaah diri diukur dari apa yang terjadi berikutnya. Dengan demikian, ruang lingkup Telaah diri harus memadai dalam memampukan warga sekolah untuk membentuk asesmen yang realistis terhadap kebutuhan dan peluang sekolah sebagai dasar perencanaan yang akan dilakukan. Namun demikian, telaah diri hendaknya tidak terlalu luas sehingga menguras energi warga sekolah secara berlebihan, yang dapat berakibat pada tidak adanya daya untuk bertindak yang mengarah pada pencapaian dampaknya.

Akan sangat membantu apabila kita berfikir bahwa sekolah merupakan sebuah mekanisme yang terdiri dari ratusan bagian yang sama-sama bergerak. Mekanisme itu memerlukan pemeliharaan secara teratur untuk menjamin kesinambungan kinerja yang optimal. Mekanisme itu memerlukan bongkar-pasang secara periodik yang dapat mencakup pemasangan bagian-bagian baru dalam rangka membuatnya mampu memenuhi standar-standar baru. Akan tetapi apabila Anda memisah-misahkannya untuk mengetahui apa yang membuatnya muncul, telaah diri dengan sendirinya akan terhenti. Dan semakin lengkap telaah tersebut dipisah-pisahkan, semakin sulit untuk memulainya lagi.

Atau, sekolah dapat diibaratkan sebagai organisme hidup yang rumit. Untuk menjamin kesehatannya agar selalu optimal, sekolah memerlukan asupan gizi dan pemeliharaan secara terus-menerus. Apabila dikehendaki agar kegiatan dan dinamikanya terus jaga, sekolah memerlukan perlakukan periodik untuk mencegah terjadinya luka dan sakit. Jika Anda memecah-belah sekolah untuk memahami struktur dan prosesnya, berarti Anda membunuhnya.

 

B.            Langkah-Langkah Telaah Diri: Model Analisis Strategis Komprehensif

Dalam model ini, telaah bercakupan luas dilakukan dan pandangan-pandangan stakholder digali sebelum keputusan mengenai prioritas pengembangan sekolah dibuat. Proses Telaah ini meliputi:

  1. Pengumpulan data tentang semua faktor-faktor kunci yang berpengaruh terhadap pengembangan sekolah.
  2. Pengintegrasian data kedalam pandangan strategis sekolah
  3. Identifikasi kebutuhan dan peluang pengembangan.
  4. Prioritisasi dan pemilihan opsi-opsi pengembangan

Model ini dapat disajikan dalam bentuk Gambar 1.1.

 

 

Gambar 1.9 Model Analisis Strategis Komprehensif

 

Pengumpulan Data Yang Berkaitan Dengan Faktor-Faktor Kunci

  1. 1.             Jenis Data

Sekolah membutuhkan data-data yang berkaitan dengan faktor-faktor berikut.

  1. a.             Tujuan, provisi, dan kinerja sekolah saat sekarang

1)             Situasi Sekolah: Fakta dan yang diinginkan

2)             Pandangan stakeholder terhadap situasi tersebut: persepsi dan opini

  1. b.            Faktor konteks yang mendorong perubahan dan pengembangan

1)             Keinginan dan harapan dari siswa dan orang tua (kondisi sekarang dan potensi);

2)             Keinginan dan harapan staf;

3)             Kebijakan dan peraturan yang dibuat pemerintah pusat dan daerah;

4)             Faktor-faktor lokal yang mempengaruhi populasi jumlah siswa, seperti: Pertumbuhan penduduk, Transportasi, Keberadaan sekolah lain, dan Reputasi sekolah di masyarakat;

5)             Tren perkembangan pendidikan, ekonomi, dan sosial.

  1. 2.             Teknik Pengumpulan Data
    1. a.             Data mengenai tujuan, provisi, dan kinerja sekolah saat ini.

1)             Data tentang Situasi Sekolah terkini dapat dikumpulkan melalui:

a)             Menghimpun dan mengorganisasikan informasi faktual yang telah tersedia, seperti rekaman kehadiran, tingkat putus sekolah, rekaman kedisiplinan, hasil-hasil ujian, skor ujian, kurikulum, pola-pola mata pelajaran, tujuan, kebijakan dan praktik, profil staf, profil siswa, hasil-hasil telaah dan pengawasan dari pihak eksternal yang sedang berlaku.

b)             Mengadakan survei pada aspek-aspek praktis mengenai informasi-informasi yang kurang tersedia dengan memadai, seperti gaya mengajar guru, metode pemberian pekerjaan rumah, penggunaan TIK atau perlengkapan audio-visual. Instrument survei yang dapat digunakan dapat meliputi: Kuesioner, Rekaman observasi, Log, atau Wawancara.

2)             Data-data tentang pandangan stakeholders terhadap provisi dan kinerja sekolah saat sekarang. Data ini dapat dikumpulkan melalui survey untuk menentukan pandangan stakeholder (guru, orang tua, masyarakat) terhadap bidang-bidang pokok dalam kehidupan sekolah. Instrument yang dapat digunakan antara lain:

a)             Kuesioner (pertanyaan jawaban terbuka)

b)             Kuesioner (pertanyaan jawaban tertutup)

c)             Wawancara terstruktur.

Untuk memastikan keefektifan pengumpulan data tentang pandangan stakholder sebaiknya digunakan daftar centang atau kuesioner dengan pertanyaan jawaban terbuka untuk mengidentifikasi bidang-bidang umum yang menjadi perhatian mereka. Dari hasil ini kemudian dikembangkan kuesioner rinci yang memfokus secara langsung pada masing-masing bidang itu.

  1. b.            Data mengenai faktor-faktor kontektual yang dapat mendorong perubahan dan pengembangan

1)             Data tentang keinginan dan harapan siswa, orang tua, dan staf dapat dikumpulkan dengan cara:

a)             Pengumpulan dan pengorganisasian balikan dari rapat orang tua dan guru, pendekatan individual terhadap orang tua atau siswa, himpunan orang tua, organisasi siswa, rapat staf, pendekatan individual terhadap guru atau kelompok mata pelajaran atau bidang keahlian.

b)             Survei untuk menggali keinginan, preferensi, dan harapan. Survei ini dapat dilakukan bersamaan dengan survei mengenai situasi sekolah terkini. Instrumen survei dapat berupa kuesioner atau wawancara.

2)             Data tentang kebijakan dan peraturan pemerintah dapat dikumpulkan melalui:

a)             Pelacakan sistematis (systematic scanning) terhadap dokumen-dokumen pemerintah pusat dan daerah yang beredar, berita-berita pada media masa, dan internet (website).

b)             Perekaman sistematis (systematic recording) tentang hal-hal yang berimplikasi pada sekolah dengan mengunakan format-format yang memudahkan pencarian kembali maupun untuk keperluan analisis.

Akan sangat membantu apabila tugas-tugas ini dilaksanakan oleh individu atau kelompok yang diberi tanggung jawab khusus untuk itu secara berkesinambungan.

3)             Data faktor-faktor lokal dapat dikumpulkan dengan cara:

a)             Mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi-informasi faktual yang telah tersedia, seperti statistik perkembangan penduduk di wilayah sekitar sekolah, jumlah sekolah setingkat di bawahnya, atau informasi mengenai rancana pembangunan daerah, transportasi, dan berbagai layanan yang diberikan oleh sekolah lain. Media masa lokal akan sangat membantu.

b)             Mengadakan penelitian mengenai penyebaran lulusan sekolah setingkat di bawahnya untuk melanjutnya ke sekolah-sekolah yang ada di wilayah yang bersangktuan, preferensi orang tua yang memilih sekolah lain, atau reputasi sekolah pada semua lapisan masyarakat. Instrumen-instrumen survei yang dapat digunakan untuk pengumpulan informasi itu dapat berupa Kuesioner atau Pedoman Wawancara

c)             Pelacakan sistematis sambil jalan terhadap sumber-sumber informasi lokal.

Akan sangat membantu apabila tugas-tugas ini dilaksanakan oleh individu atau kelompok yang diberi tanggung jawab khusus untuk itu secara berkesinambungan.

4)             Data tentang perkembangan nasional maupun global berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, dan sosial dapat dikumpulkan melalui:

a)             Pelacakan sistematis (systematic scanning) terhadap kecenderungan perkembangan itu.

b)             Perekaman sistematis (systematic recording) tentang hal-hal yang berimplikasi pada sekolah dengan menggunakan format-format yang dirancang khusus agar memudahkan pencarian kembali maupun untuk dianalisis.

c)             Akan sangat membantu apabila tugas-tugas ini dilaksanakan oleh individu atau kelompok yang diberi tanggung jawab khusus untuk itu secara berkesinambungan.

 

Mengintegrasikan Data Kedalam Sudut Pandang Strategis Sekolah 

Akumulasi data dapat menjadi landasan perencanaan yang efektif hanya apabila data-data itu dihimpun menjadi satu dalam bentuk yang koheren terkait dengan situasi sekolah. Oleh karena itu sekolah perlu melakukan pentelaahan berkaitan dengan:

  1. Kekuatan internal yang menjadi soko guru pengembangan sekolah;
  2. Kelemahan-kelemahan internal yang harus diatasi;
  3. Peluang pengembangan yang terdapat pada faktor-faktor latar/lingkungan
  4. Ancaman atau hambatan yang terdapat pada faktor-faktor latar/lingkungan

Telaah tersebut biasa disebut dengan analisis kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat), yang disingkat SWOT Analysis. sekolah tersebut (Lembar Kerja Telaah Sekolah A.1 Ver. 7 pada Lampiran) merupakan instrumen yang bermanfaat untuk menata data dalam bentuk yang bermakna dan untuk mengintegrasikannya kedalam pandangan strategis sekolah.

 

 

Identifikasi Kebutuhan dan Peluang Pengembangan

Hasil analisis SWOT yang tuntas akan memampukan sekolah untuk mengiden­tifi­kasi kebutuhan dan peluang pengembangan dalam cakupan yang luas. Hasil-hasil yang tercantum dalam analisis SWOT harus dikaji untuk memastikan bahwa hasil-hasil analisis itu mencakup perubahan atau pengembang­an yang harus diakomodasi oleh sekolah selama proses perencanaan.

VII.            PEMILIHAN PRIORITAS DAN STRATEGI PENGEMBANGAN

 

A.    Pemilihan Prioritisasi

Ruang lingkup kebutuhan dan peluang pengembangan ada kalanya melebihi kapasitas sekolah. Untuk itu, diperlukan adanya penentuan prioritas.

  1. Perubahan dan pengembangan yang dipilih pertama-tama harus dicatat, oleh karena sekolah tidak ada pilihan lain kecuali melaksanakannya, pengimple­men­tasian perubahan itu akan mengurangi sumber daya yang sebenarnya diperlukan untuk pengembangan yang lain.
  2. Kebutuhan dan peluang pengembangan yang lain harus disusun prioritasnya berdasarkan:

a)            Kepentingannya:

  • Relevansinya terhadap misi, visi, dan tujuan strategis sekolah.
  • Pentingnya pengembangan sekolah dalam kaitannya dengan semua faktor konteks.

b)            Keterlaksanaan (Fisibilitas):

  • Kemampuan sekolah yang ada sekarang untuk memberikan dukungan sumber daya manusia, keahlian, energi, waktu dan dana untuk mewujudkannya.

c)             Akseptabilitas:

  • Komitmen sekolah saat sekarang untuk mewujudkannya.

         

 

Teknik Penentuan Prioritas

Sebagai awal dari proses penentuan prioritas, semua pihak yang terlibat harus melakukan refleksi terhadap visi, misi,dan tujuan serta hasil analisis SWOT. Selanjutnya, para pihak itu harus mengikuti prosedur seleksi. Saran-saran berikut ini barangkali dapat membantu dalam proses penentuan pendekatan penetapan prioritas tersebut.

  1. Refleksi Individual, Diskusi Kelompok, Diskusi Pleno
  2. Dotmokrasi
  3. Jaringan/Grafik
  4. Nyata/Ideal

Dalam penentuan prioritas dan seleksi program, sekolah perlu mempertim­bang­kan hal-hal umum sebagai berikut.

  1. Jangan melakukan hal yang terlalu banyak sekaligus.
  2. Buatlah keseimbangan yang tepat antara pemeliharaan dan pengem­bang­an (maintenance and development)
  3. Buatlah keseimbangan yang tepat antara proyek pengembangan berskala besar dan berskala kecil.
  4. Buatlah keseimbangan yang tepat antara hal-hal yang wajib dan yang bersifat pilihan (the unavoidable and the discretionary)
  5. Perhatikan aspek-aspek yang merupakan akar maupun cabang-cabangnya
  6. Perhatikan hubungan antar prioritas
  7. Jangan hindari hal-hal yang tidak diharapkan
  8. Sebelum melalukan finalisasi pilihan, pertimbangkan keterpaduan pilihan-pilihan itu dalam gambaran yang lebih besar

 

B.     Merancang Strategi

 

  1. 1.             Pengertian Strategi

Hasil dari tahapan telaah diri adalah serangkaian keputusan tentang prioritas pe­ngem­bang­an sekolah selama kurun waktu siklus perencanaan yang disusun. Prio­ritas-prioritas itu dapat dinyatakan sebagai tujuan strategis. Keputusan tidak akan berdampak apapun jika tidak diwujudkan dalam tindakan yang bersifat strategis.

Strategi adalah “suatu pertimbangan dan pemikiran yang logis, analitis serta konseptualisasi hal-hal penting atau prioritas (baik dalam jangka panjang, pendek maupun mendesak), yang dijadikan acuan untuk menetapkan langkah-langkah, tindakan, dan cara-cara (taktik) ataupun kiat (jurus-jurus) yang harus dilakukan secara terpadu demi terlaksananya kegiatan operasional dan penunjang dalam menghadapi tantangan yang harus ditangani dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan ataupun sasaran-sasaran dan hasil (output) yang harus dicapai serta kebijaksanaan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Strategi paling baik didefinisikan sebagai ”melakukan hal yang benar” sementara taktik adalah “melakukan segalanya dengan benar”. Strategi yang baik datang dari cara berfikir yang benar. Dalam mengembangkan strategi, dua pertanyaan mendasar harus dijawab, yaitu:

  1. Apa yang harus dilakukan?
  2. Bagaimana melakukannya?

Daft (1988) mendefinisikan strategi sebagai rencana tindakan yang berupa penentuan alokasi sumber daya dan kegiatan untuk bergelut dengan lingkungan dan membantu organisasi mencapai tujuannya. Pada level tertinggi dalam sebuah struktur organisasi, tingkat sekolah misalnya, strategi yang digunakan disebut dengan grand strategy. Strategi ini diartikan sebagai rencana umum mengenai tindakan utama malalui mana sebuah organisasi berniat untuk mencapai tujuan jangka panjangnya.

 

  1. 2.             Macam-Macam Strategi

Terdapat berbagai opsi strategi yang dapat dipilih oleh sekolah dalam rangka mencapai tujuan strategisnya. Beberapa tipologi strategi tersebut diuraikan secara singkat sebagai berikut.

  1. a.             Kategorisasi Grant Strategy

         Grant strategy dibedakan menjadi tiga kategori: pertumbuhan, stabilitas, dan penghematan atau retrenchment.

         Pertumbuhan. Pertumbuhan atau growth dapat didorong dari dalam dengan cara meningkatkan investasi dalam bentuk peningkatan kesempatan akses masyarakat atau meningkatkan diversifikasi layanan pendidikan atau meningkatkan standar kualitas layanan di atas standar yang berlaku umum, standar nasional misalnya.

         Stabilitas. Stabilitas, kadang-kadang disebut strategi berhenti sesaat (pause strategy), berarti bahwa sekolah ingin tetap berada pada kondisinya sekarang atau tumbuh perlahan-lahan dan tetap terkendali. Ketika sebuah sekolah telah mengalami pertumbuhan yang pesat dan berhasil mencapai puncak visi yang diinginkan, sekolah itu biasanya memfokuskan diri pada strategi stabilitas untuk mengintegrasikan semua unit yang ada agar tetap berada pada kondisi puncak itu dengan terus meningkatkan efisiensi.

         Penghematan. Penghematan berarti bahwa sekolah melakukan pengurangan layanan pendidikan dengan mempersempit jenis program pendidikan yang diberikan. Cara ini dapat dilakukan dengan menghentikan sejumlah program kurikuler yang bersifat pengayaan atau menghentikan sejumlah kegiatan ekstra kurikuler tidak diminati siswa atau mengurangi jumlah siswa yang diterima. Hal ini tentu akan berdampak pada pengurangan sumber daya yang diinvestasikan, baik SDM maupun sumberdaya lainnya.

  1. b.            Tipologi Strategi Adaptif dari Miles dan Snow

Terdapat empat tipologi organisasi yang digunakan dasar dalam mengelompokkan strategi pengembangan oleh Miles dan Snow, yaitu prospector, defendor, analyzer, dan reactor. Hubungan antara masing-masing tipologi ini dengan strategi, kondisi lingkungan eksternal, dan karakteristik organisasi dirangkum pada Tabel 1.10.

Tabel 1.10 Tipologi Strategi Adaptif Menurut Miles dan Snow

 

Tipologi Organisasi Strategi Lingkungan Karakteristik Organisasi
Prospector Inovasi,

Mencari Peluang Pasar Baru,

Tumbuh

Ambil Resiko

Dinamis

Tumbuh

Kreatif

Inovatif

Fleksible

Desentralisasi

Defendor Melindungi teritorialnya

Penghematan

Mempertahankan pangsa pasar yang dimiliki

Stabil Kontrol ketat

Sentralisasi

Efisiensi produksi

Overhead rendah

Analyser Mempertahankan pasar yang ada disertai inovasi sekedarnya Perubahan tingkat menengah Kontrol dan fleksibilitas ketat

Produksi yang efisien

Kreativitas

Reactor Tidak memiliki strategi yang jelas

Bereaksi terhadap kondisi-kondisi spesifik

Mengambang, mengalir mengikuti arus

Kondisi apapun Pendekatan organisasional tidak jelas

Bergantung pada kebutuhan sesaat

 

  1. c.             Strategi Kompetitif dari Porter

Michael E. Porter meneliti sejumlah strategi pada organisasi bisnis dan menganjurkan tiga strategi yang efektif pada tingkat manajemen menengah: diferensiasi (differebtiation), kepemimpinan berbiaya (cost leadreship), dan fokus.

         Diferensiasi. Strategi ini mencakup usaha-usaha untuk membuat semua proses dan hasil pendidikan berbeda dengan sekolah yang lain. Sekolah dapat memanfaatkan promosi, program-program pendidikan yang unik, standar kualitas yang lebih unggul, piranti teknologi yang khusus sehingga dihasilkan lulusan yang memiliki kompetensi yang bersifat khas, unik dan memiliki keunggulan kompetitif. Tentu saja keunikan dan kekhasan itu harus tetap pada kerangka visi, misi, tujuan, dan kebijakan-kebijakan pendidikan yang berlaku secara nasional, regional, lokal, maupun sekolah itu sendiri.

         Kepemimpinan Pembiayaan (Cost Leadership). Dengan strategi ini berarti sekolah sacara agresif menggunakan sumber daya yang efisien, berusaha mengurangi anggaran, dan memperketat pengendalian anggaran agar pelaksanaan pendidikan lebih efisien dibandingkan lembaga lain yang sejenis.

         Fokus. Dalam strategi ini, sekolah berkonsentrasi pada kebutuhan masyarakat tertentu atau pada program-program khusus yang dijadikan unggulan. Sebuah sekolah yang melayani khusus siswa-siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri, misalnya, dapat menggunakan strategi ini dengan memberikan layanan pendidikan khusus kepada mereka yang berkemampuan dan berkemauan memperoleh pendidikan di luar negeri. Kurikulum, pendekatan pendidikan, dan sumber daya pendukung yang digunakan disesuaikan dengan usaha pembiasaan siswa untuk belajar di luar negeri. Konsentrasi pada satu program keahlian khusus untuk memenuhi standar kompetensi industri tertentu di sebuah SMK merupakan contoh lain dari penggunakan strategi terfokus ini.

 

  1. d.            Strategi Berbasis Analisis SWOT

Analisis SWOT merupakan sebuah metode untuk menguji strategi-strategi yang potensial yang dikembangkan atas dasar kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Melalui pengombinasian masing-masing unsur dan data yang luas yang telah trekumpul sebagai hasil analisis dapat berfungsi sebagai pemicu diskusi dan perbaikan strategi yang selama ini telah digunakan atau mengembangkan strategi-strategi baru. Matrik SWOT dapat membantu pengembangan strategi dengan menggunakan alat SWOT Analysis ini.

Matrik SWOT pada dasarnya merupakan daftar dari kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman, serta kombinasi dari Strengths (S) dan Opportunities (O), Strengths (S) dan Threats (T), Weaknesses (W) dan Opportunities (O), Weaknesses (W) dan Threats (T). Terdapat empat pilihan strategi dalam matrik SWOT: competition, mobilization, investment/divestemen, dan damage control.

1)             Strategi competition diterapkan apabila sekolah berada dalam posisi yang kuat dan banyak peluang yang teridentifikasi (S-O). Strategi ini merupakan pemanfaatan peluang berdasarkan kekuatan yang dimiliki.

2)             Strategi mobilization dipilih apabila organisasi memiliki kekuatan yang cukup, tetapi diluar sana banyak ancaman yang harus dihadapi (S-T). Dengan kata lain, organisasi harus menanggulangi ancaman dengan memanfaatkan kekuatan yang ada.

3)             Strategi investment/divestment diambil apabila organisasi dalam kondisi yang lemah akan tetapi banyak peluang yang tersedia (W-O). Dengan strategi ini organisasi memanfaatkan peluang yang ada untuk meningkatkan kekuatannya.

4)             Strategi damage control dipakai apabila organsasi berada pada kondisi lemah dan harus banyak menghadapi ancaman (W-T). Dengan strategi ini organisasi harus menekan kelemahan dan ancaman secara bersama-sama.

Format matrik SWOT dimaksud adalah sebagai berikut:

Tabel 1.11 Matrik SWOT

 

  OPPORTUNITIES

1. …………….….………

2. ……………………….

3. ………………..………

4. ………………..………

THREATS

1. …………………..…..

2. …………………..…..

3. …………………..…..

4. …………………..…..

STRENGTH

1. ………………………

2. ………………………

3. ………………………

4. ………………………

SO

Competition

ST

Mobilization

WEAKNESS

1. ………………………

2. ………………………

3. ………………………

4. ………………………

WO

Investment/Divestmen

WT

Damage control

 

  1. e.             Matriks MacMillan

Kisi-kisi strategi ini, yang dikembangkan oleh Dr. Ian Macmillan, dirancang khusus untuk membantu organisasi nir-laba, seperti sekolah, untuk merumuskan strategi organisasi. Terdapat tiga asumsi yang menjadi dasar pendekatan ini: (1) kebutuhan sumber daya pada dasarnya bersifat kompetitif dan semua organisasi yang ingin bertahan hidup harus menyadari dinamika itu; (2) oleh karena sumber daya yang tersedia itu sangat terbatas, maka tidak ada ruang untuk duplikasi layanan jasa kepada satu konstituen karena hal ini dipandang sebagai pemborosan dan tidak efisien; (3) layanan jasa yang berkualitas rendah atau biasa-biasa saja dan diberikan kepada kahlayak luas kurang disukai dibandingkan dengan jasa berkualitas tinggi dan diberikan kepada khalayak khusus.

Asumsi-asumsi ini memberi implikasi yang sulit dan menyakitkan bagi kebanyakan sekolah. Hal ini dapat ditindak lanjuti dengan penghentian program-program tertentu untuk meningkatkan jasa dan kompetensi utama, memberikan program-program dan khalayak sasaran yang lebih efisien dan efektif, atau berkompetisi secara agresif melalui program-program yang tingkat efesiensi dan efektifitasnya rendah. Matrik MacMillan menguji empat dimensi program yang dapat membantu penempatan dalam kisi-kisi strategi tersebut dan mengindikasikan strategi yang dapat dipilih.

1)             Kesesuaian dengan visi, misi, dan tujuan

Program-program sekolah yang tidak sejalan dengan visi, misi, dan tujuan, tidak dapat sekolah mampu didukung oleh pengetahuan dan keterampilan organisasi, tidak memampukan sekolah untuk melakukan penggunaan sumber daya bersama, dan/atau tidak memampukan sekolah untuk melakukan koordinasi kegiatan lintas program sebaiknya dikurangi.

2)             Posisi Kompetitif

Posisi kompetitif mengacu pada sejauh mana sekolah memiliki kekuatan dan potensi yang lebih kuat untuk mendanai program dan memberikan layanan berbasis klien dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain di sekitarnya.

 

3)             Kemenarikan Program

Kemenarikan program dilihat dari kompleksitasnya terkait dengan pengelolaan porgram itu sendiri. Program-program dengan penolakan yang rendah dari klien, mengalami pertumbuhan layanan berbasis klien, mudah keluar dari hambatan yang dihadapi, dan didukung sumber daya keuangan yang stabil merupakan program yang sederhana dan “mudah dikelola.” Level kemenarikan program juga mencakup perespektif ekonomi atau telaah terhadap peluang investasi sekarang dan masa yang akan datang.

4)             Cakupan Alternatif

Cakupan alternatif adalah banyaknya organisasi lain yang berusaha untuk memberikan atau ingin berhasil melaksanakan program yang sama di wilayah yang sama dan kepada konstituen yang sama pula.

Matrik MacMillan (Tabel 5.1) terdiri dari sepuluh sel untuk menempatkan program-program yang telah ditelaah atas dasar empat dimensi tersebut. Masing-masing sel digunakan untuk menetapkan strategi yang mengarahkan langkah ke depan dari program-program yang tercantum dalam sel itu.

 

Tabel 6.3 Matrik MacMillan

  Kemenarikan Program Tinggi:
Program “Mudah”
Kemenarikan Program Rendah:
Program “Sulit”
    Cakupan Alternatif Tinggi Cakupan Alternatif Rendah Cakupan Alternatif Tinggi Cakupan Alternatif Rendah
Kesesuaian dengan Visi, Misi, & Tujuan

Baik

Posisi Kompeti-tif Kuat 1. Kompetisi Agresif (Aggressive competition) 2. Pertumbuhan Agresif (Aggressive growth) 5. Meniru pesaing yang terbaik

(Build up the best competitor)

6. “Soul of the Agency
Posisi Kompeti-tif Lemah 3. Divestasi Agresif (aggressive divestment) 4. Membangun Kekuatan atau berhenti (build up strength or get out) 7. Divestasi dengan Teratur (orderly disvestment) 8. “Bantuan dari Luar” (Foreign Aid) atau Kerja Sama
Kesesuai-an dengan Visi, Misi, & Tjuan

Rendah

  9. Divestasi Agresif (aggressive divestment) 10. Divestasi Dengan Teratur (orderly disvestment)


VIII.            PROGRAM PENGEMBANGAN

 

A.    Pengertian dan Prinsip-Prinsip Program Pengembangan

Program pengembangan merupakan kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk mencapai visi, misi, dan tujuan sekolah. Program pengembangan bersifat jangka panjang (5-10 tahun). Program pengembangan merupakan bagian dari proses perencanaan strategis. Pada saat penyusunan program pengembangan, perencana harus telah menuntaskan tugas-tugas: perumusan atau telaah ulang visi, misi, dan tujuan serta analisis strategis yang meliputi telaah diri, analisis SWOT, penetapan prioritas dan strategi. Program pengembangan secara khusus mencakup pembuatan keputusan tentang siapa yang akan mengerjakan apa dan kapan dan dengan langkah-langkah bagaimana untuk mencapai tujuan-tujuan strategis. Rancangan dan implementasi program pengembangan bergantung pada sifat dan kebutuhan masing-masing sekolah.

Masalah utama yang sering muncul saat proses perencanaan sampai pada tahap penyusunan program pengembangan ini antara lain pihak perencana telah mengalami kelelahan setelah menyelesaikan tahap-tahap perencanaan sebelumnya. Penyusunan program pengembangan terasa lebih rumit dan membosankan dibandingkan tahap-tahap perencanaan strategis sebelumnya yang terkesan lebih besifat kreatif. Oleh karena itu, penyusunan program pengembangan sering terabaikan, dan membiarkan hasil-hasil yang diperoleh pada tahap-tahap sebelumnya lebih sebagai “khayalan”, pernyataan-pernyataan filosofis yang tidak bermanfaat dan tidak membumi pada realitas kegiatan sekolah sehari-hari. Langkah-langkah penting yang telah dilakukan dalam perencanaan strategis itu menjadi sama sekali tidak berguna.

Program pengembangan merupakan rencana yang harus disusun oleh setiap unit atau individu yang ada dalam struktur organisasi sekolah. Masalah yang sering ditemukan dalam penyusunan program pengembangan adalah kesulitan dalam memadukan rencana yang dibuat oleh masing-masing unit tersebut baik dari sisi substansial maupun format dan tata-tulis. Oleh karena itu sejak awal, harus terdapat kesepahaman di kalangan unit-unit itu bahwa:

  1. Sasaran dan kegiatan masing-masing program pengembangan harus mengacu pada pengembangan menyeluruh pada tingkat sekolah yang menggambarkan bagaimana masing-masing tujuan strategis akan dicapai.
  2. Masing-masing unit harus memiliki kegiatan yang memberi kontribusi terhadap program pengembangan sekolah.
  3. Masing-masing program pengembangan, secara bersama-sama, harus menunjukkan bagaimana kesemuanya akan mengarah pada implementasi program pengembangan sekolah secara keseluruhan.
  4. Masing-masing program pengembangan dari unit-unit harus menunjukkan hubungannya dengan program pengembangan sekolah secara keseluruhan baik dengan program pengembangan yang lain maupun dengan program pengembangan di tingkat manajemen puncak sekolah

Tujuan dari tahapan merancang program pengembangan ini adalah untuk memampukan masyarakat sekolah menyusun rencana bagaimana menterjemahkan keputusan-keputusan strategis kedalam tindakan. Tahapan penyusunan program pengembangan meliputi:

  1. Perencanaan Program: membangun program pengembanganan yang rinci yang menentukan apa yang sesungguhnya akan dilaksanakan untuk mencapai masing-masing tujuan.
  2. Menuliskan Program: merancang struktur program pengembangan yang bersifat menyeluruh serta menyusun draft dan mengkompilasikan semua bagian-bagiannya.

 

B.     Struktur Program Pengembangan

Penyusunan program pengembangan merupakan proses yang memampukan sekolah untuk: (1) mengidentifikasi secara tepat apa yang diinginkan atau apa yang dibutuhkan untuk mencapai hal-hal yang terkait dengan masing-masing prioritas, (2) merencanakan dan mendokumentasikan sejumlah tindakan untuk mencapainya, dan (3) melakukan monitoring dan evaluasi agar praktik-praktik tersebut dapat diperbaiki seiring dengan berkembangnya pengalaman.

Sebuah program pengembangan harus difokuskan pada prioritas tertentu. Dalam kaitannya dengan prioritas ini, program pengembangan mencakup:

  1. Sasaran
: apa yang akan dicapai
  1. Kegiatan
: jenis dan tahap-tahap pekerjaan yang akan dilaksanakan untuk mencapai sasaran itu.
  1. Sumber Daya
: sumber daya manusia, finansial, organisasi, fasilitas fisik yang dibutuhkan dalam implementasi.
  1. Pendelegasian
: siapa mengerjakan
  1. Kerangka-waktu (Time-frames):
: kapan pekerjaan sesungguhnya dilaksanakan; batas waktu tugas harus diselesaikan
  1. Kriteria Keberhasilan:
: hasil yang akan menjadi indikator bahwa rencana tersebut sedang atau telah mencapai sasaran yang diinginkan.
  1. Prosedur Monitoring dan Evaluasi

Selain terkait dengan pemahaman terhadap persoalan substansial, para penyusun program pengembangan juga harus menyepakati hal-hal yang terkait dengan format dan struktur penulisan. Hal ini sangat penting karena pertimbangan utama dalam merancang dan menulis program pengembangan sekolah adalah bahwa rencana itu harus menjadi dokumen resmi sekolah. Dengan demikian program pengembangan sekolah harus mudah dibaca, mudah diikuti, dan ditata sedemikian rupa sehingga butir-butir isinya mudah dilacak dan ditemukan. Untuk menjamin konsistensi gaya dan tata letak, atau kesesuaian antara bagian-bagian yang berbeda, akan sangat bermanfaat apabila sedini mungkin disepakati tipe dokumentasi yang akan digunakan. Format berikut ini dapat digunanakan untuk membantu menyusun program pengembangan.

 

IX.        PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS

A. Pengertian

 

Suatu proses yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai dalam kurun waktu 1 sampai dengan 5 tahun dengan memperhitungkan potensi, peluang, dan kendala yang ada atau mungkin timbul.

B. Komponen Renstra

 

Rencana strategic mengandung visi, misi, tujuan, sasaran, cara mencapai tujuan dan sasaran, yang meliputi kebijaksanaan, program, dan kegiatan yang realistic dengan mengantisipasi perkembangan masa depan (Inpres No. 7 Tahun 1999).

 

  1. Visi

Adalah gambaran masa depan tentang wujud organisasi yang realistic dan ingin diwujudkan dalam kurun waktu tertentu (biasanya 5 tahun).

Ciri kalimatnya :

 

      Menjadi ……………………… yang …………………

Atau

To be …………………………………………………..

 

Tujuan Penetapan Visi :

  • Mencerminkan apa yang ingin dicapai sebuah organisasi
  • Memberikan arah dan focus strategi yang jelas.
  • Menjadi perekat dan menyatu berbagai gagasan strategic.
  • Memiliki orientasi terhadap masa depan.
  • Menumbuhkan komitmen seluruh jajaran dalam lingkungan organisasi.
  • Menjamin kesinambungan kepemimpinan organisasi.
  • Memungkinkan fleksibilitas dan kreativitas dalam pelaksanaannya.

 

Kriteria Visi :

  • Bukan fakta tetapi justru gambaran ideal (impian) masa depan yang ingin diwujudkan.
  • Dapat mengilhami, mengarahkan, dan mendorong anggota organisasi dalam berkinerja yang berkualitas.
  • Dinyatakan dalam satu kalimat.
  • Menggambarkan kondisi ideal, keunikan, dan keunggulan lembaga.

 

Contoh Visi.

  • Menjadi Katalisator Pembaharuan Manajemen Pemerintahan melalui Pengawasan yang Profesional (BPKP).
  • Menjadi Lembaga Profesional dalam Meningkatkan Daya Saing SDM Nasional melalui Diklat Jarak Jauh dan Program Jaminan Mutu Pnedidikan lainnya. (PPPG Tertulis).

 

Penyusunan Visi

Visi harus merupakan visi bersama anggota organisasi/lembaga. Oleh karena itu visi harus :

  • Disusun oleh semua unsure organisasi.
  • Terus menerus disosialisasikan ke seluruh anggota/warga.

 

Skenario Perumusan Visi Sekolah.

  1. Jelaskan pengertian visi dan berikan contaoh-contahnya.
  2. Bagikan 1 lembar kertas kosong dan 1 batang pensil kepada masing-masing peserta.
  3. Minta masing-masing peserta menuliskan visi sekolah menurut penilaian masing-masing. Beri waktu selama 20 menit.
  4. Minta semua peserta menuliskan visi sekolah hasil renungan masing-masing di papan tulis, beri nomor 1 – 12 (untuk SD) atau 1 – 15 (untuk SMP dan SMA) untuk masing-masing visi yang dibuat peserta.
  5. Minta semua peserta membaca dan mempelajari semua visi yang ada di papan tulis.
  6. Tugaskan peserta satu persatu memilih 3 visi yang menurut mereka paling sesuai dan menantang dengan memberikan tanda Tally (1) di belakang kalimat visi yang dipilih.
  7. Hitunglah hasil pemilihan dan sisakan 3 visi dengan angka tertinggi.
  8. Hapus visi lain yang tidak terpilih.
  9. Minta 3 orang peserta yang mewakili masing-masing kelompok untuk membuat akhir visi sekolah dengan mengkombinsasikan ketiga visi dengan angka tertinggi tadi.
  10. Sementara ketiga perwakilan menyusun rumusan akhir visi sekolah, peserta lain dibagi dalam 4 kelompok, masing-masing :

Kelompok A : Manajemen

Kelompok B : KBM.

Kelompok C : SDM.

Kelompok D : Fasilitas Lingkungan Hidup.

Catatan :

Pembagian kelompok sesuai dengan pembagian y.ng disepakati

  1. Tugaskan masing-masing kelompok merumuskan 3 (tga)     tindakan atau kegiatan yang harus dilaksanakan untuk meningkatkan komponen. Rumusan harus dalam satu kalimat tuntas dan dituliskan dalam selembar kertas.

Catatan :

Seluruhnya ada 4 X 3 = 12 kegiatan.

  1. Bila tim perumus visi selesai merumuskan visi, minta perwakilan dari tim perumus menuliskan visi sekolah hasil rumusan mereka. Minta peserta untuk memberikan saran bagi penyempurnaan kalimat visi tersebut selama 10 menit.

Catatan :

Jaga jangan sampai ada yang mendominir dan mengubah rumusan secara total.

 

  1. Misi

Misi adalah tindakan atau program yang harus dilakukan oleh lembaga/organisasi guna mencapai visi.

 

Rumusan Misi

 

                ( + )                  Kriteria                Aspek

Me ……………kan   …………………  (………….) ………

 

Contoh Misi

1. Meningkatkan kecepatan dan kualitas layanan kepada pelanggan.

2. Mengutamakan keandalan produk.

 

            Skenario Penyusunan Misi

  1. Peserta diminta kemabli ke 4 kelompok. Minta tim perumus visi bergabung sesuai pembagian kelompok yang telah dirancang pembina.

Catatan :

Untuk kegiatan ini akan ditetapkan 4 misi masing-masing untuk bidang :

  • Manajemen.
  • KBM.
  • SDM.
  • Fasilitas Lingkungan Hidup.
  1. Minta masing-masing kelompok selama 10 menit menyelesaikan rumusan 3 (tiga) kegiatan yangtelah disusun ketika tim perumus visi sedang menyelesaikan tugasnya.
  2. Tugaskan juru bicara kelompok masing-masing menyajikan hasil kerja masing-masing kelompok. Minta kelompok lain menanggapi.

Catatan :

Arahkan agar pembahasan terfokus kepada :

  • Apakah rumusan tersebut mendukung pencapaian visi.
  • Apakah realitas.
  • Apakah menantang.
  • Adakah kalimat yang perlu diperbaiki.
  1. Setelah semua hasil kelompok ditanggapi, tugaskan masing-masing kelompok menyusun satu rumusan misi dari 3 rumusan sebelumnya (beri waktu 20 menit).
  2. Perwakilan kelompok masing-masing manuliskan rumusan akhir misi sekolah sehingga diperoleh 4 rumusan misi tersebut yang “final”.

Catatan :

  • Hindari debat kusir.
  • Jangan ada yang mendominir pembicaraan.

 

3. Merumuskan Moto Sekolah

 

Pengertian Moto :

Moto atau slogan adalah kata atau kalimat yang mewarnai dan menjiwai semua tindakan serta membangkitkan semangat menggunakannya. Jadi di dalam moto terkandung system nilai atau tekad dari yang membuat dan menggunakannya. Dengan kata lain moto juga menggambarkan semangat dan cirri khas lembaga atau organisai.

 

Contoh moto :

Honda                         : The power of dream.

Polytron                      : The winning team.

Tempo             : Enak dibaca dan perlu.

IAI                              : We are not the first but the best.

 

Skenario Perumusan Moto Sekolah

  1. Minta semua peserta menuliskan satu moto untuk sekolahnya.
  2. Satu persatu menuliskan moto yang dibuat di papan tulis.
  3. Minta semua peserta satu persatu memilih 3 moto (memberikan tanda tally) yang dinilainya paling sesuai dengan :
    • Ciri khas sekolah.
    • Visi dan misi sekolah.
    • Budaya dan system nilai masyarakat sekitar.
    • Tantangan lingkungan dan perkembangan eksternal (misal globalisasi, IPTEK,Otda, dll).
  4. Hitunglah jumlah pemilih untuk masing-masing moto.
  5. Sisakan 3 (tiga) moto yang paling banyak dipilih peserta.
  6. Minta semua peserta memilih 2 (dua) dari tiga moto yang tersisa.

 

Moto sekolah tersebut adalah moto yang mendapat skor tertinggi

 

C. Tujuan

  • Tujuan adalah hasil akhir yang akan dicapai dalam jangka waktu 1 – 5 tahun.
  • Tujuan harus dapat menunjukkan suatu kondisi yang ingin dicapai di masa mendatang.
  • Tujuan akan mengarahjan perumusan sasaran, kebijaksanaan, program, dan kegiatan untuk merealisasikan misi.

 

Contoh Tujuan :

  • Meningkatnya organisasi dan manajemen sekolah yang baik.
  • Menigkatnya pelayanan prima kepada masyarakat dengan biaya yang wajar.
  • Meningkatnya akuntabilitas sekolah.
  • Meningkatnya kualitas pengedalian sekolah.

 

D. Sasaran

  • Penjabaran tujuan.
  • Penggambaran hal yang ingin diwujudkan melalui tindakan-tindakan yang diambil organisasi guna mencapai tujuan (target terukur).
  • Jangka waktu sasaran dapat tahunan, semesteran, triwulan, atau bulanan.

 

Contoh Sasaran :

  • Meningkatnya kualitas SDM.
  • Meningkatnya standar pelayanan masyarakat.
  • Berkurangnya komplain dari orang tua siswa.
  • Meningkatnya efisiensi dan efektifitas pembelajaran.

 

E. Strategi

Suatu pertimbangan dan pemikiran yang logis, analitis, serta konseptual mengenai hal-hal penting atau prioritas, yang dijadikan acuan untuk menetapkan langkah-langkah, tindakan, dan cara-cara ataupun kiat-kiat yang harus dilakukan secara terpadu untuk terlaksananya kegiatan operasional dan penunjang dalam menghadapi tantangan yang harus ditangani dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan ataupun sasaran, hasil (out put) yang harus dicapai serta kebijaksanaan yang sudah ditetapkan sebelumnya.

 

 

 

F. Kebijakan

Ketentuan-ketentuan yang telah disepakati pihak-pihak terkait ditetapkan oleh yang berwenang untuk dijadikan pedoman, pegangan, atau petunjuk bagi setiap usaha dan kegiatan aparatur pemerintah maupun masyarakat agar tercapai kelancaran dan keterpaduan dalam upaya mencapai sasaran, tujuan, misi, dan visi organisasi.

Contoh Kebijakan :

Kebijakan dalam bidang kurikulum :

  • Mengembangkan kurikulum berdasarkan kompetensi.
  • Mengembangkan bahan ajar berdasarkan kompetensi.

 

 

H. Kegiatan

Kegiatan merupakan segala sesuatu yang harus dilakukan oleh organisasi untuk merealisasikan program kerja oprasional. Kriteria yang digunakan dalam merumuskan suatu kegiatan adalah SMART, yaitu :

  • Spesifik, menggambarkan hasil spesifik yang diinginkan.
  • Measureble, harus terukur dan dapat dipastikan waktu dan tingkat pencapaiannya.
  • Aggressive but attainable, kegiatan harus dijadikan standar keberhasilan dalam waktu satu tahun sehingga harus cukup menantang namun masih dalam tingkat keberhasilan.
  • Result oriented, kegiatan harus menspesifikasikan hasil yang ingin dicapai dalam periode satu tahun.
  • Time-bound, kegiatan harus dapat direalisasikan dalam waktu yang relatif pendek dari beberapa minggu sampai beberapa bulan (tidak lebih dari satu tahun)

OUTLINE RENCANA STRATEGIS

 

BAB I             PENDAHULUAN

  1. Rasional
  2. Tujuan dan Manfaat.

BAB II                        VISI DAN MISI

  1. Visi.
  2. Misi

BAB III          LINGKUNGAN STRATEGIS.

  1. Lingkungan Internal
  2. Lingkungan eksternal.
  3. Faktor Penentu Keberhasilan.

BAB IV            TUJUAN, SASARAN, DAN STRATEGI

  1. Tujuan.
  2. Sasaran.
  3. Strategi (Kebijakan, Program, dan Kegiatan).

BAB V                        RENCANA KINERJA OPERASIONAL

1.Rencana Strategis lima tahun.

2.Rencana Kerja Tahunan.

3.Pengukuran dan Evaluasi Kinerja.

BAB VI          PENUTUP

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Arismunandar. 2007. Rencana Strategis Sekolah. Makalah disajikan pada Pendidikan dan pelatihan Kemitaraan Kepala Sekolah yang diselenggarakan oleh Direktorat Tenaga Kependikan, Ditjen PMPTK, Depdiknas di Jakarta, Juli 2007.

Brodjonegoro, S.S. (2003). Higher Education Long Term Strategy 2003-2010. Directorat General of Higher Education, Ministry of National Education Republic of Indonesia.

Bryson, J. M. (1995). Strategic Planning For Public and Nonprofit Organizations. San Francisco: Jossey-Bass Publishers.

Canavan, N. & Monahan, L. (2000). School Culture and Ethos: Releasing the Potential. A resource pack to enable schools to access articulate and apply ethos values. Dublin: Marino Institute of Education.

Collins U. (1996). Developing a School Plan: A Step by Step Approach. Dublin: Marino Institute of Education.

Colman H.& Waddington D. (1996). Synergy. Australia: Catholic Education Office. Daft, Richard L. (1988). Management. Chicago: The Dryden Press.

Directorat General of Higher Education. (2003). Technological and Professional Skills Development Sector Project (TPSDP) Batch III: Guidelines for Sub-Project Proposal Submission. Jakarta: Directorat General of Higher Education, Ministery of National Education.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. (2006). Panduan Penyusunan Proposal Program Hibah Kompetisi. Jakarta: Ditjen Dikti, Depdikas.

Duke, Daniel L. & Canady, Robert L. (1991). School Policy. New York: MacGraw-Hill, Inc.

Dwyer, B. 1986. Catholic Schools at the Crossroads. Victoria: Dove Communications.

Furlong, C. & Monahan L. 2000. School Culture and Ethos. Dublin: Marino Institute of Education.

Gorton, Richard A. & Schneider, Gail T. (1991). School-Based Leadership: Callenges and Opportunities. Dubuque, IA: Wm. C. Brown Publishers.

Government of Ireland. (1999). School Development Planning – An Introduction for Second Level Schools. Dublin: Department of Education & Science.

Hargreaves, A. & Hopkins, D. The Empowered School: the Management and Practice of Developmental Planning. London: Cassell, 1991.

Hargreaves, D. and Hopkins, D. (1993). School Effectiveness, School Improvement and Development Planning, in Margaret Preedy (ed.) Managing the Effective School, London: Paul Chapman Publishing.

Hope A., Timmel S. (1999). Training for Transformation. London: The Intermediate Technology Group.

Kavanagh, A. (1993). Secondary Education in Ireland: Aspects of Changing Paradigm. Tullow: Patrician Brothers Generalate.

Lerner, A.L. (1999). A Strategic Planning Primer for Higher Education. Northridge. California: College of Business Administration and Economics, California State University.

Lyddon, J. W. (1999). Strategic Planning In Smaller Nonprofit Organizations: A Practical Guide for the Process. Michigan: W.K. Kellogg Foundation Youth Initiative Partnerships (in Website: http://www.wmich.edu/ nonprofit/Resource/index.html)

Mintzberg, H. (1994). The Rise and Fall of Strategic Planning. New York, NY: The Free Press.

Mohrman, S.A., and Wohlstetter, P. (Ed.). (1994). School Based Management: Organizing High Performance. San Francisco: Jossey-Bass Publisher

Morrison, James L., Renfro, William L., and Boucher, Wayne I. 1984. Futures Research And The Strategic Planning Process: Implications for Higher Education. ASHE-ERIC Higher Education Research Reports

Nickols, K. and Thirunamachandran, R. (2000). Strategic Planning in Higher Education: A Guide for Heads of Institutions, Senior Managers and Members of Governing Bodies. In Website: www.hefce.ac.uk.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. 2005. Jakarta: Sekretariat Jenderal Departeman Pendidikan Nasional.

Prayogo, Joko. 2007. Rencana Strategis. Makalah disajikan pada Pendidikan dan pelatihan Kemitaraan Kepala Sekolah yang diselenggarakan oleh Direktorat Tenaga Kependikan, Ditjen PMPTK, Depdiknas di Jakarta, Juli 2007.

Rowley, D. J., Lujan, H. D., & Dolence, M.G. (1997). Strategic Change in Colleges and Unviversities. San Francisco, CA: Jossey-Bass Publishers.

School Development Planning Initiative. (1999). School Development Planning: Draft Guidelines for Second Level Schools. Dublin: SDPI,

Tuohy, D. (1997). School Leadership and Strategic Planning. Dublin: A.S.T.I

Umaedi. (1999). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah: Sebuah Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Sekolah Untuk Peningkatan Mutu. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar Dan Menengah, Depdiknas.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2003. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional.

6 tips menambah kecerdasan otak


Otak manusia itu pada dasarnya seperti sebuah komputer yang canggih.
bayangkan saja berbagai memori di otak kita disimpan begitu baik, tidak seperti hardisk komputer yang masih mempunyai batasan kapasitas. Selain itu, otak juga mempunyai kemampuan canggih sehingga dapat mengendalikan semua kegiatan di tubuh kita.
Tapi, jangan lupa otak juga tetap membutuhkan nutrisi, oksigen, serta membutuhkan latihan yang rutin. Jika otak terlalu dimanja dan jarang dilatih maka menyebabkan kualitas otak akan menurun. Nah, itulah alasan mengapa otak kita lambat dalam berpikir. Berikut ini adalah cara untuk membuat otak anda kembali fresh dan dapat berpikir cepat:

1. Mengkonsumsi minyak ikan secara rutin. Riset menunjukkan bahwa minyak ikan dapat meningkatkan stamina bagi otak, Sehingga otak tidak cepat lelah dan kemampuanya dapat tetap terjaga.

2. Kerjakan sebuah permainan yang membutuhkan aktivitas otak. Permainan ini seperti mengerjakan teka-teki silang, bermain rubik, sudoku dan lain sebagainya. Sebab, permainan seperti itu bermanfaat untuk melatih otak kita. Semakin kita sering berlatih, semakin cepat kita dapat merasakan perbedaan pada otak kita. Sama halnya seperti otot, jika kita jarang melatih otot, maka otot kita pun akan menjadi semakin kaku.

3. Olahraga teratur. Olahraga tidak hanya bermanfaat untuk menyehatkan
tubuh kita, tetapi juga bermanfaat bagi otak kita. Sebab, olahraga berfungsi untuk memperlancar peredaran darah yang masuk ke otak dan membuat pikiran kita menjadi lebih jernih.

4. Pelajari bahasa yang baru. Dari mempelajari bahasa baru, kita dapat menambah impuls-impuls yang ada di otak dan juga dapat meningkatkan koneksi saraf yang baik.

5. Tertawa. Tertawa dapat meningkatkan kualitas dan fungsi otak untuk menstimulasi kedua belah otak pada saat yang sama.

6. Mencoba hal baru. Cobalah belajar suatu alat musik tertentu dan kesenian yang lain seperti melukis. Dengan mencoba hal baru, kita dapat menambah wawasan dan pengalaman, ibarat komputer yang telah ditambah program baru. Begitu juga otak kita, jika kita melakukan kegiatan yang baru maka otak kita juga semakin berkembang.

7. Cobalah belajar untuk melempar sesuatu. Maksud dari melempar sesuatu ini adalah kita belajar untuk melempar barang. Kegiatan ini anda lakukan dengan olahraga seperti basket. Hasil riset dari Jerman menunjukkan bahwa kegiatan ini dapat meningkatkan struktur jaringan otak kita.

8. Gunakan daya imajinasi anda. Apa anda tahu Einstein?? Einstein pernah mengatakan bahwa imajinasi lebih penting bagi daripada pengetahuan yang anda miliki. Coba ambillah waktu luang anda untuk berimajinasi sedalam mungkin, bebaskan diri anda untuk sementara dari pikiran-pikiran yang mengganggu anda untuk berimajinasi. Maka , anda akan menemukan suatu metode berpikir yang belum pernah anda lakukan sebelumnya.

Nah,setelah itu apa yang harus anda lakukan? Berlatih dan berlatih, jangan lupakan itu! Sebab, seperti yang dijelaskan tadi bahwa berlatih dapat meningkatkan fungsi otak dan juga menambah impuls-impuls otak. Berlatih bukan hanya sekedar mengisi teka-teki silang saja, tapi bisa diimprovisasi dengan bermain tebak-tebakan dengan anggota keluarga atau bisa juga dengan mencari informasi di berbagai media. Semoga berhasil!