PEDOMAN UMUM PEMBENTUKAN ISTILAH PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

PEDOMAN UMUM PEMBENTUKAN ISTILAH PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

KATA PENGANTAR

EDISI KETIGA

Sejak dikumandangkan sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia, penggunaan bahasa

Indonesia makin luas ke berbagai bidang kehidupan, bahkan berpeluang menjadi bahasa ilmu

pengetahuan. Peluang itu makin nyata setelah bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa Negara

(UUD 1945, Pasal 36) yang menepatkan bahasa itu sebagai bahasa resmi dalam penyelenggaraan

pemerintahan dan bahasa pengantar pendidikan serta bahasa dalam pengembangan ilmu penge-tahuan dan teknologi. Untuk itulah, diprlukan pengembangan peristilahan bahasa Indonesia da-lam berbagai bidang ilmu, terutama untuk kepentingan pendidikan anak-anak bangsa.

Kekayaan peristilahan suatu bahasa dapat menjadi indikasi kemajuan peradaban bangsa

pemilik bahasa itu karena kosakata, termasuk istilah, merupakan sarana pengungkap ilmu dan

teknologi serta seni. Sejalan dengn perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat

Indonesia dari waktu ke waktu, perkembangan kosakata/istilah trus menunjukkan kemajuan. Ke-majuan itu makin dipacu ketika kerja sama pengembangan bahasa kebangsaan bersama Malaysia

diarahkan pada pengembangan peristilahan. Dalam upaya member panduan dalam pengem-bangan peristilahan itulah disusun  Pedoman Umum Pembentukan Istilah  yang pertama terbit

tahun 1975. Setelah digunakan sekitar 14 tahun, pedoman itu disempurnakan kembali dan diter-bitkan sebagai edisi kedua dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor

0389/0/1988 tanggal 11 Agustus 1988. Di dalam prakata Pedoman Umum Pembentukan Istilah

edisi pertama berdasarkan pada Lembaran UNESCO: ISO/TC 32, International Organization for

Standardization, Draft ISO Recommendation, No. 781, Vocabulary of Terminology. Dalam edisi

ini perlu dikemukakan bahwa yang menangani peristilahan internasional bukan ISO/TC 32,

melainkan ISO/TC 37.

Perubahan tatanan kehidupan dunia yang baru, globalisasi, telah mengubah pola pikir dan

perilaku  masyarakat.   Seluruh  sendi kehidupan  masyarakat   mengalami   perubahan,  terutama

mengarah pada persiapan memasuki tatanan baru tersebut. Penggunaan bahasa asing, terutama

bahasa   Inggris,   memasuki   berbagai   sendi   kehidupan,   terutama   dalam   perkembangan   ilmu

pengetahuan  dan teknologi. Perubahan itu mewarnai perkembangan  kosakata/istilah  bahasa

3

Indonesia. Kosakata/istilah bahasa asing masuk ke dalam bahasa Indonesia bersama masuknya

ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan kebudayaan ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Berbagai perubahan itu perlu ditampung dalam proses pengalihan kosakata, khususnya istilah

bahasa asing, ke dalam  bahasa Indonesia. Untuk itu, pedoman pembentukan istilah yang tela

digunakan selama 30 tahun perlu ditinjau kembali agar menampung berbagai perubahan tersebut.

Dalam merealisasikan peninjauan kembali oedoman tersebut, pihak Indonesia mem-bentuk tim yang terdiri atas Prof. Dr. Anton M. Moeliono, Prof. Dr. Mien A. Rifai, dan Drs.

Fairul Zabadi (sekretaris) dengan penanggung jawab Dr. Dendy Sugono (Kepala Pusat Bahasa)

yang bertugas menyiapkan bahan penyempurnaan Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang

dipaparkan dalam siding ke-15 Pakar Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia

(Mabbim) yang diselenggarakan tanggal 10—14 September di Denpasar. Ihwal peninjauan

kembali pedoman tersebut dibahas dalam Sidang ke-41 Mabbim yang diadakn di Makassar pada

tanggal 13—15 Maret 2002 dan pihak Mabbim Indonesia diberi kepercayaan untuk melakukan

revisi pedoman tersebut. atas dasar itu, pihak Indonesia melanjutkan pembahasan hasil revisi

pedoman tersebut dalam rapat-rapat khusus di Pusat Bahasa Jakarta. hasil revisi pihak Indonesia

itu dibahas dalam sidang ke-42 Mabbim di Brunei Darussalam. Pedoman Umum Pembentukan

Istilah yang telah dibahas tersebut disempurnakan kembali oleh pihak Indonesia berdasarkan

hasil pembahasan dalam sidang tersebut dan selanjutnya dibahas dalam Musyawarah Sekretariat

Mabbim di Jakarta dengan wakil ketiga Negara anggota Mabbim, yaitu Dr. Dendy Sugono, Prof.

Dr. Anton M. Moeliono, Prof. Dr. Mien A. Rifai (Indonesia), Prof. Dr. DAto Hajah Asmah Haji

Omar   (Malaysia),  dan   Dr.  Mataim bin   Bakar  (Brunei  Darussalam).  Pembahasan   terutama

ditekankan   pada   bagan   prosedur   pembentukan   istilah   dan   masing-masing   negara   anggota

menyempurnakan pedoman tersebut. hasil penyempurnaan pedoman itu dibahas oleh Kelompok

Khusus yang dihadiri oleh wakil keiga negara anggota tersebut dalam Sidang Ke-17 Pakar

Mabbim di pulau Langkawi, Malaysia pada tanggal 8—12 September 2003, Indonesia diwakili

oleh Prof. Dr. Anton M. Moeliono. Akhirnya, hasil penyempurnaan pedoman tersebut diterima

sebagai hasil putusan Sidang Ke-43 Mabbim di Kuala Lumpur, Malaysia pada tanggal 9—11

Maret 2004 untuk diberlakukan di negara anggota Mabbinm dan diterbitkan sesuai dengan gaya

dan tata cara penerbitan yang berlaku di Negara masing-masing.

Pihak Mabbim Indonesia telah menerbitkan  hasil putusan Mabbim tersebut sebagai

Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Ketiga dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan

Nasional Nomor 146/U/2004 dan diluncurkan pada acara pembukaan Sidang Ke-44 Mabbim di

Mataram, Indonesia pada tanggal 7 Maret 2005. Untuk itu, kepada anggota tim revisi dan semua

pihak   yang   membantu   penyempurnaan   dan   penerbitan   pedoman   edisi   ketiga   ini   saya

menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus.

Penerbitan Pedoman Umum Pembentukan Istilah ini diharapkan dapat mempercepat laju

perkembangan istilaj bahasa Indonesia karena masyarakat dapat menciptakan istilah sendiri

berdasarkan tata cara pembentukan istilah yang dimuat dalam buku pedoman ini.

Jakarta, 28 Oktober 2005 Dendy Sugono

Kepala Pusat Bahasa

 

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

No. 146/U/2004 TENTANG PENYEMPURNAAN PEDOMAN UMUM PEMBENTUKAN ISTILAH

 

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

Menimbang    :

a.   bahwa   dengan   Keputusan   Menteri   Pendidikan   Nasional   dan

Kebudayaan  Nomor  0389/U/ 1988 tanggal 11 Agustus 1988 telah ditetapka

peresmian berlakunya Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Kedua;

b. bahwa sebagai akibat perkembangan kehidupan masyarakat, dipandang perlu

menetapkan kembali Keputusan Menteri Pendidikan Nasional tentang Penyempurnaan Pedoman

Umum Pembentukan Istilah;

Mengingat :

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 4301);

2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 102 Tahun 2000 tentang

Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Departemen,

sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun

2004;

3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 177 Tahun 2000 tentang

Susunan   Organisasi   dan   Tugas   Departemen,   sebagaimana   telah   diubah   dengan   Keputusan

Presiden Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001;

4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 mengenai

Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu.

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

Pertama :   Menyempurnakan  Pedoman   Umum   Pembentukan   Istilah,  sebagaimana

ditetapkan dengn Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0389/U/1988, menjadi

sebagimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.

Kedua :   Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 12 November 2004

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

ttd

Bambang Sudibyo

PRAKATA

EDISI PERTAMA

Kerja sama dan komunikasi di antara para ahli dan sarjana di lapangan pengetahuan dan

teknologi tambah lama perlu untuk menjamin kemajuan hidup yang dewasa ini dicirikan oleh

besarnya pengaruh ilmu dan teknologi di segala kehidupan dan kegiatan manusia.

Agar pertukaran informasi memperoleh hasil yang baik, istilah khusus, yang merupakan

sendi penting di dalam sistem ilmu pengetahuan, harus mempunyai makna yang sama bagi

semua orang yang menggunakannya. Kesepakatan umum tentang makna nama dan istilah khusus

serta penggunaannya secara konsisten akan menghasilkan keseragaman suatu kosakata khusus

yang memuat konsep, istilah, dan definisinya yang baku. Pembakuan tata nama dan tata istilah

khusus itu akan mempermudah pemahaman bersama dan memperlancar komunikasi ilmiah, baik

pada   taraf   nasional   maupun   pada   taraf   internasional,   serta   mengurangi   kekacauan,

kemaknagandaan, dan kesalahpahaman.

Di dalam pedoman umum ini, yang berdasar pada lembaran UNESCO: ISO/TC 32,

International   for   Standardization,   Draft   ISO   Recommendation,   No.   781,   Vocabulary   of

Terminology,  diberikan sekumpulan patokan dan saran yang dapat dipakai sebagai penuntun

dalam usaha pembentukan istilah. Pedoman khusus yang istimewa berlaku bagi suatu cabang

ilmu atau bidang tertentu sebaiknya   dijabarkan dari pedoman umum ini dan diperlengkapi

dengan peraturan tambahan yang perlu diterapkan.

Konsep pedoman  ini disusun oleh Profesor H. Johannes dan Anton M. Moeliono.

Naskahnya kemudian dibahas lebih lanjut di dalam Sanggar Kerja Peristilahan (Jakarta, 29—30

Juni 1973) yang dihadiri oleh empat puluh ahli terkemuka dari berbagai bidang ilmu. Naskah

yang direvisi, setelah itu, berulang-ulang diolah oleh Komisi Tata Istilah, Panitia Pengembangan

Bahasa Indonesia ( Profesor Andi Hakim Nasution, Ketua) dan Majelis Bahasa Indonesia-Malaysia (Amran Halim dan Haji Suja bin Rahiman, Ketua).

Penyusunan  Pedoman   Umum   Pembentukan   Istilah  ini   telah   dimungkinkan   oleh

tersedianya biaya Pelita II yang disalurkan melalui Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra

Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (S. W. Rujiati Mulyadi, Ketua).

Kepada   segenap   instansi,   kalangan   masyarakat,   dan   perorangan   yang   telah

memungkinkan tersusunnya Pedoman Umum ini disampaikan penghargaan dan terima kasih.

Jakarta, Agustus 1975 Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

DAFTAR SINGKATAN

K : konsonan

V : vocal

D : dasar

 

I. KETENTUAN UMUM

I.1 Istilah dan Tata Istilah

Istilah adalah kata atau frasa yang dipakai sebagai nama atau lambing dan yang dengan cer-mat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang ilmu

pengetahuan, teknologi, dan seni. Tata istilah (terminologi) adalah perangkat asas dan keten-tuan pembentukan istilah serta kumpulan istilah yang dihasilkannya.

Misalnya:

Anabolisme pasar modal

Demokrasi pemerataan

Laik terbang perangkap electron

I.2 Istilah Umum dan Istilah Khusus

Istilah umum  adalah istilah yang berasal dari bidang tertentu, yang karena dipakai secara

luas, menjadi unsur kosakata umum.

Misalnya:

Anggaran belanja penilaian

Daya radio

Nikah takwa

Istilah khusus  adalah istilah yang maknanya terbatas pada bidang tertentu saja.

Misalnya:

Apendektomi kurtosis

Bipatride pleistosen

I.3 Persyaratan Istilah yang Baik

Dalam pembentukan istilah perlu diperhatikan persyaratan dalam pemanfaatan kosakata

bahasa Indonesia yang berikut.

a. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang paling tepat untuk mengungkapkan

konsep termaksud dan yang tidak menyimpang dari makna itu,

b. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang paling singkat di antara pilihan yang

tersedia yang mempunyai rujukan sama.

11

c. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang bernilai rasa (konotasi) baik.

d. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang sedap didengar (eufonik).

e. Istilah   yang   dipilih   adalah   kata   atau   frasa   yang   bentuknya   seturut   kaidah   bahasa

Indonesia.

I.4 Nama dan Tata Nama

Nama adalah kata atau frasa yang berdasarkan kesepakatan menjadi tanda pengenal benda,

orang, hewan, tumbuhan, tempat, atau hal.  Tata nama  (nomenklatur) adalah perangkat

peraturan penamaan dalam bidang ilmu tertentu, seperti kimia dan biologi, beserta kumpulan

nama yang dihasilkannya.

Misalnya:

aldehida Primat

natrium klorida oryza sativa

II. PROSES PEMBENTUKAN ISTILAH

II.1Konsep Ilmu Pengetahuan dan Peristilahannya

Upaya kecendikiaan ilmuan (scientist) dan pandit (scholar) telah dan terus menghasilkan

konsep ilmiah, yang pengungkapannya dituangkan dalam perangkat peristilahan. Ada istilah

yang sudah mapan dan ada pula istilah yang masih perlu diciptakan. Konsep ilmiah yang su-

dah dihasilkan ilmuwan dan pandit Indonesia dengan sendirinya mempunyai istilah yang ma-pan. Akan tetapi, sebagian besar konsep ilmu pengetahuan modern yang dipelajari, diguna-kan, dan dikembangkan oleh pelaku ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia datang dari

luar negeri dan sudah dilambangkan dengan istilah bahasa asing. Di samping itu, ada ke-mungkinan bahwa kegiatan ilmuwan dan pandit Indonesia akan mencetuskan konsep ilmu

pengetahuan, teknologi, dan seni yang sama sekali baru sehingga akan diperlukan pencip-taan istilah baru.

II.2Bahan Baku Istilah Indonesia

Tidak ada satu bahasa pun yang sudah memiliki kosakata yang lengkap dan tidak memer-lukan ungkapan untuk gagasan, temuan, atau rekacipya yang baru. bahasa Inggris yang kini

dianggap bahasa internasional utama, misalnya, pernah menyerap kata dan ungkapan dari ba-hasa Yunani, Latin, Prancis, dan bahasa lain, yang jumlahnya hampir tiga perlima dari selu-ruh kosakatanya. Sejalan dengan itu, bahan istilah Indonesia diambil dari berbagai sumber,

terutama dari tiga golongan bahasa yang penting, yakni (1) bahasa Indonesia, termasuk unsur

serapannya, dan bahasa Melayu, (2) bahasa Nusantara yang serumpun, termasuk bahasa Jawa

Kuno, dan (3) bahsa asing, seperti bhasa Inggris dan bahasa Arab.

II.3Pemantapan Istilah Nusantara

Istilah yang mengungkapkan konsep hasil galian ilmuwan dan pandit Indonesia, seperti

bhinneka tunggal ika, batik, banjar, sawer, gunungan, dan pamor, telah lama diterima secara

luas sehingga dapat dimantapkan dan hasilnya dikodifikasi.

II.4Pemadanan Istilah

Pemadanan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia, dan jika perlu ke salah satu bahasa

serumpun, dilakukan lewat penerjemahan, penyerapan, atau gabungan penerjemahan dan pe-nyerapan. Demi keseragaman, sumber rujukan yang diutamakan ialah istilah Inggris yang pe-makaiannya bersifat internasional karena sudah dilazimkan oleh para ahli dalam bidangnya.

Penulisan istilah serapan itu dilakukan dengan atau tanpa penyesuaian ejaannya berdasarkan

kaidah fonotaktik, yakni hubungan urutan bunyi yang diizinkan dalam bahasa Indonesia.

II.4.1 Penerjemahan

13

II.4.1.1Penerjemahan Langsung

Istilah Indonesia dapat dibentuk lewat penerjemahan berdasarkan kesesuaian makna tetapi

bentuknya tidak sepadan.

Misalnya:

Supermarket pasar swalayan

Merger gabungan usaha

Penerjemahan dapat pula dilakukan berdasarkan kesesuaian bentuk dan makna.

Misalnya:

Bonded  zone kawasan berikat

Skyscraper pencakar langit

Penerjemahan istilah asing memiliki beberapa keuntungan. Selain memperkaya kosakata In-donesia dengan sinonim, istilah terjemahan juga meningkatkan daya ungkap bahasa Indo-nesia. Jika timbul kesulitan dalam penyerapan istilah asing yang bercorak Anglo-Sakson ka-rena perbedaan antara lafal dan ejaannya, penerjemahan merupakan jalan keluar terbaik. Da-lam pembentukan istilah lewat penerjemahan perlu diperhatikan pedoman berikut.

a. Penerjemahan tidak harus berasas satu kata diterjemahkan dengan satu kata.

Misalnya :

Psychologist ahli psikologi

Medical practitioner dokter

b. Istilah asing dalam bentuk positif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuk posi-tif, sedangkan istilah dalam bentuk negatif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia ben-tuk negatif pula.

Misalnya :

Bound form  bentuk terikat (bukan bentuk takbebas)

Illiterate niraksara

Inorganic takorganik

c. Kelas kata istilah asing dalam penerjemahan sedapat-dapatnya dipertahankan pada istilah

terjemahannya.

Misalnya :

Merger (nomina) gabung usaha (nomina)

Transparent (adjektiva) bening (adjektiva)

(to) filter (verba) menapis (verba)

d. Dalam penerjemahan istilah asing dengan bentuk plural, pemarkah kejamakannya ditang-galkan pada istilah Indonesia.

Misalnya :

Alumni lulusan

Master of ceremonies pengatur acara

Charge d’affaires kuasa usaha

II.4.1.2Penerjemahan dengan Perekaan

Adakalanya upaya pemadanan istilah asing perlu dilakukan dengan menciptakan isti-lah

baru.  Istilah  factoring,  misalnya,  sulit diterjemahkan  atau diserap  secara utuh. Da-lam

15

khazanah   kosakata   bahasa   Indonesia/Melayu   terdapat   bentuk  anjak  dan  piutang  yang

menggambarkan pengalihan hak menagih utang. Lalu, direka istilah anjak piu-tang sebagai

padanan istilah factoring. Begitu pula pemadanan catering menjadi jasa boga dan invention

menjadi rekacipta diperoleh lewat perekaan.

2.4.2 Penyerapan

2.4.2.1 Penyerapan Istilah

Penyerapan istilah asing untuk menjadi istilah Indonesia dilakukan berdasarkan hal-hal

berikut.

a. Istilah asing yang akan diserap meningkatkan ketersalinan bahasa asing dan bahasa Indo-nesia secara timbal balik (intertranslatability) mengingat keperluan masa depan.

b. Istilah asing yang akan diserap mempermudah pemahaman teks asing oleh pembaca In-donesia karena dikenal lebih dahulu.

c. Istilah asing yang akan diserap lebih ringkas jika dibandingkan dengan terjemahan Indo-nesianya.

d.  Istilah asing yang akan diserap mempermudah kesepakatan antarpakar jika padanan ter-jemahannya terlalu banyak sinonimnya.

e. Istilah asing yang akan diserap lebih cocok dan tepat karena tidak mengandung konotasi

buruk.

Proses penyerapn istilah asing, dengan mengutamakan bentuk visualnya, dilakukan dengan

cara yang berikut.

a. Penyerapan dengan penyesuaian ejaan dan lafal

Misalnya :

Camera …… kamera

Microphone….. mikrofon

System sistem

b. Penyerapan dengan penyesuaian ejaan tanpa penyesuaian lafal

Misalnya :

Design  desain

File fail

Science sains

c. Penyerapan tanpa penyesuaian ejaan, tetapi dengan penyesuaian lafal

Misalnya :

Bias bias

Nasal nasal

Radar (radio detecting  radar

and ranging)

d. Penyerapan tanpa penyesuaian ejaan dan lafal

1) Penyerapan istilah asing tanpa penyesuaian ejaan dan lafal dilakukan jika ejaan dan

lafal istilah asing itu tidak berubah dalam banyak bahasa modern, istilah itu dicetak

dengan huruf miring.

Misalnya :

Allegro moderato divide et impera

17

Aufklarung dulce et utile

Status quo in vitro

Esprit de corps vis-à-vis

2) Penyerapan istilah tanpa penyesuaian ejaan dan lafal dilakukan jika istilah itu juga di-pakai secara luas dalam kosakata umum, istilah itu tidak ditulis dengan huruf miring

(dicetak dengan huruf tegak).

Misalnya :

Golf golf

Internet internet

Lift lift

Orbit orbit

Sonar (sound navigation and ranging)  suara

2.4.2.2 Penyerapan Afiks dan Bentuk Terikat Istilah Asing

a. Penyesuaian Ejaan Prefiks dan Bentuk Terikat

Prefiks asing yang bersumber pada bahasa Indo-Eropa dapat dipertimbangkan pemakaiannya

di dalam peristilahan Indonesia setelah disesuaikan ejaannya. Prefiks asing itu, antara lain,

ialah sebagai berikut.

a-, ab-, abs- (‘dari’, ‘menyimpang dari’, ‘menjauhkan dari’) tetap a-, ab-, abs-

amoral amoral

abnormal abnormal

abstract abstrak

a-, an- ‘tidak, bukan, tanpa’ tetap a-, an-

anemia anemia

aphasia afasia

aneurysm aneurisme

ad-, ac- ‘ke’, ‘berdekatan dengan’, ‘melekat pada’, menjadi ad-, ak-adhesion adhesi

acculturation akulturasi

am-, amb- ‘sekeliling’, ‘keduanya’ tetap am-, amb-ambivalence  ambivalensi

amputation amputasi

ana-, an- ‘ke atas’, ‘ke belakang’, ‘terbalik’ tetap ana-, an-anabolism anabolisme

anatropous anatrop

ante- ‘sebelum’, ‘depan’ tetap ante-antediluvian antediluvian

anterior anterior

anti-, ant- ‘bertentangan dengan’ tetap anti-, ant-anticatalyst antikatalis

anticlinal antiklinal

antacid antacid

apo- ‘lepas, terpisah’, ‘berhubungan dengan’ tetap apo-apochromatic apokromatik

apomorphine apomorfin

19

aut-, auto- ‘sendiri’,’bertindak sendiri’ tetap aut-, auto-autarky autarki

autostrada autostrada

bi- ‘pada kedua sisi’, ‘dua’ tetap bi-biconvex bikonveks

bisexual biseksual

cata- ‘bawah’, ‘sesuai dengan’ menjadi kata-cataclysm kataklisme

catalyst katalis

co-, com-, con- ‘dengan’, ‘bersama-sama’, ‘berhubungan dengan’ menjadi ko-, kom-, kon-coordination koordinasi

commission komisi

concentrate konsentrat

contra- ‘menentang’, ‘berlawanan’ menjadi kontra-contradiction kontradiksi

contraindication kontraindikasi

de- ‘memindahkan’, ‘mengurangi’ tetap de-dehydration dehidrasi

devaluation devaluasi

di- ‘dua kali’, ‘mengandung dua…’ tetap di-dichloride diklorida

dichromatic dikromatik

dia- ‘melalui’, ‘melintas’ tetap dia-diagonal diagonal

diapositive diapositif

dis- ‘ketiadaan’, ‘tidak’ tetap dis-disequilibrium disekuilibrium

disharmony disharmoni

eco- ‘lingkungan’ menjadi eko-ecology ekologi

ecospecies ekospesies

em-, en- ‘dalam’, ‘di dalam’ tetap em-, en-empathy empati

encenphalitis ensenfalitis

endo- ‘di dalam’ tetap endo-endoskeleton endoskeleton

endothermal endotermal

epi- ‘di atas’, ‘sesudah’ tetap epi-epigone epigon

epiphyte epifit

ex- ‘sebelah luar’ menjadi eks-exclave eksklave

21

exclusive eksklusif

exo-, ex- ‘sebelah luar’, ‘mengeluarkan’ menjadi ekso-, eks-exoergic eksoergik

exogamy eksogami

extra- ‘di luar’ menjadi ekstra-

extradition ekstradisi

extraterrestrial ekstraterestrial

hemi- ‘separuh’, ‘setengah’ tetap hemi-hemihedral hemihedral

hemisphere hemisfer

hemo- ‘darah’ tetap hemo-hemoglobin hemoglobin

hemolysis hemolisis

hepta- ‘tujuh’, ‘mengandung tujuh…’ tetap hepta-heptameter heptameter

heptarchy heptarki

hetero- ‘lain’, ‘berada’ tetap hetero-heterodox heterodoks

heterophyllous heterofil

hexa- ‘enam’, ‘mengandung enam…’ menjadi heksa-hexachloride heksaklorida

hexagon heksagon

hyper- ‘di atas’, ‘lewat’, ‘super’ menjadi hiper-hyperemia hiperemia

hypersensitive hipersensitif

hypo- ‘bawah’, ‘di bawah’ menjadi hipo-hipoblast hipoblas

hypochondria hipokondria

im-, in-, il- ‘tidak’, ‘di dalam’, ‘ke dalam’ tetap im-, in-, il-immigration imigrasi

induction induksi

illegal ilegal

infra- ‘bawah’, ‘di bawah’, ‘di dalam’ tetap infra-infrasonic infrasonik

infraspecific infraspesifik

inter- ‘antara’, ‘saling’ tetap inter-interference interferensi

international  internasional

intra- ‘di dalam’, ‘di antara’ tetap intra-intradermal intradermal

intracell intrasel

intro- ‘dalam’, ‘ke dalam’ tetap intro-

23

introjections introjeksi

introvert introvert

iso- ‘sama’ tetap iso-isoagglutinin isoaglutinin

isoenzyme isoenzim

meta- ‘sesudah’, ‘berubah’, ‘perubahan’ tetap meta-metamorphosis metamorfosis

metanephros metanefros

mono- ‘tunggal’, ‘mengandung satu’ tetap mono-monodrama monodrama

monoxide monoksida

pan-, pant/panto- ‘semua’, ‘keseluruhan’ tetap pan-, pant-, panto-panacea panasea

pantisocracy pantisokrasi

pantograph pantograf

para- ‘di samping’, ‘erat berhubungan dengan’, ‘hampir’ tetap para-paraldehyde paraldehida

parathyroid paratiroid

penta- ‘lima’, ‘mengandung lima’ tetap penta-pentahedron pentahedron

pentane pentane

peri- ‘sekeliling’, ‘dekat’, ‘melingkupi’ tetap peri-perihelion perihelion

perineurium perineurium

poly- ‘banyak’, ‘berkelebihan’ menjadi poli-polyglotism poliglotisme

polyphagia polifagia

pre- ‘sebelum’, ‘sebelumnya’, ‘di muka’ tetap pre-preabdomen preabdomen

premature premature

pro- ‘sebelum’, ‘di depan’ tetap pro-prothalamion protalamion

prothorax protoraks

proto- ‘pertama’, ‘mula-mula’ tetap proto-protolithic protolitik

prototype prototipe

pseudo-, pseudo- ‘palsu’ tetap pseudo-, pseudo-pseudomorph pseudomorf

pseudepigraphy pseudepigrafi

quasi- ‘seolah-olah’, ‘kira-kira’ menjadi kuasi-quasi-historical kuasihistoris

quasi-legislative kuasilegislatif

25

re- ‘lagi’, ‘kembali’ tetap re-reflection refleksi

rehabilitation rehabilitasi

retro- ‘ke belakang’, ‘terletak di belakang’ tetap retro-retroflex retrofleks

retroperitoneal retroperitoneal

semi- ‘separuhnya’, ‘sedikit banyak’, ‘sebagian’ tetap semi-semifinal semifinal

semipermanent semipermanen

sub- ‘bawah’, ‘di bawah’, ‘agak’, ‘hampir’ tetap sub-subfossil subfosil

submucosa submukosa

super-, sur- ‘lebih dari’, ‘berada di atas’ tetap super-, sur-superlunar superlunar

supersonic supersonik

surrealism surealisme

supra- ‘unggul’, ‘melebihi’ tetap supra-supramolecular supramolekular

suprasegmental suprasegmental

syn- ‘dengan’, ‘bersama-sama’, ‘pada waktu’ menjadi sin-syndesmosis sindesmosis

synesthesia sinestesia

tele- ‘jauh’, ‘melewati’, ‘jarak’ tetap tele-telepathy telepati

telescope teleskop

trans- ‘ke/di seberang’, ‘lewat’, ‘mengalihkan’ tetap trans-transcontinental transkontinental

transliteration transliterasi

tri- ‘tiga’ tetap tri-trichromat trikromat

tricuspid tricuspid

ultra- ‘melebihi’, ‘super’ tetap ultra-ultramodern ultramodern

ultraviolet ultraviolet

uni- ‘satu’, ‘tunggal’ tetap uni-unicellular uniseluler

unilateral unilateral

b. Penyesuaian Ejaan Sufiks

Sufiks asing dalam bahasa Indonesia diserap sebagai bagian kata berafiks yang utuh. Kata se-perti standardisasi, implementasi, dan objektif diserap secara utuh di samping kata standar,

implemen, dan objek. Berikut daftar kata bersufiks tersebut.

-aat (Belanda) menjadi -at

Advocaat advokat

27

Plaat pelat

Tractaat traktat

-able, -ble (Inggris) menjadi -bel

Variable variabel

Flexible flexible

-ac (Inggris) menjadi -ak

Maniac maniak

Cardiac kardiak

Almanac almanac

-age (Inggris) menjadi -ase

Sabotage sabotase

Arbitrage arbitrase

Percentage persentase

-air (Belanda), -ary (Inggris) menjadi -er

Complementair, complementary komplementer

Primair, primary primer

Secundair, secondary sekunder

-al (Inggris) menjadi -al

Credential kredensial

Minimal minimal

Mational nasional

-ance, -ence (Inggris) menjadi –ans, -ens

Ambulance ambulans

Conductance konduktans

Termophosphorescence termosfosforensens

Thermoluminescence termoluminesens

-ancy, -ency (Inggris) menjadi –ansi, -ensi

Efficiency efisiensi

Frequency frekuensi

Relevancy relevansi

-anda, -end, -andum, -endum (Belanda, Inggris) menjadi –anda, -en, -andum, -endum

Propaganda propaganda

Divindend dividen

Memorandum memorandum

Referendum referendum

-ant (Belanda, Inggris) menjadi -an

Accountant akuntan

Informant informan

Dominant dominan

-ar (Inggris) menjadi –ar, -er

Curricular kurikuler

Solar solar

29

-archie (Belanda), -archy (Inggris) menjadi -arki

Anarchie, anarchy anarki

Monarchie, monarchy monarki

-ase, -ose (Inggris) menjadi -ase, -osa

Amylase amilase

Dextrose dekstrosa

-asme (Belanda), asm (Inggris) menjadi -asme

Sarcasm, sarcasm sarkasme

Pleonasme, pleonasm pleonasme

-ate (Inggris) menjadi -at

Emirate emirat

Private privat

-atie (Belanda), -(a)tion (Inggris) menjadi -(a)si

Actie, action aksi

Publicatie, publication publikasi

-cy (Inggris) menjadi -asi, -si

Accountancy akuntansi

Accuracy akurasi

-eel (Belanda) yang tidak ada padanan dalam bahasa Inggris menjadi -el

Materieel materiel

Moreel morel

Principieel prinsipiel

-eel, aal (Belanda), -al (Inggris) menjadi -al

Formeel, formal formal

Ideaal, ideal ideal

Materiaal,material material

-et, ette (Inggris) menjadi -et

Duet duet

Cabinet kabinet

Cassette kaset

-eur (Belanda), -or (Inggris) menjadi -ur

Amateur amatir

Importeur importer

-eur (Belanda) menjadi -ur

Conducteur, conductor kondektur

Directeur, director direktur

Inspecteur, inspector inspektur

-eus (Belanda) menjadi -us

Mesterieus misterius

Serieus serius

-ficatie (Belanda), -fication (Inggris) menjadi -fikasi

Specificatie, specification spesifikasi

31

Unificatie, unification unifikasi

-fiek (Belanda), -fic (Inggris) menjadi -fik

Specifiek, specific spesifik

Honofifiek, honorific honorific

-iek (Belanda), -ic, -ique (Inggris) menjadi -ik

Perodiek, periodic periodik

Numeriek, numeric numerik

Uniek, unique unik

Techniek, technique teknik

-isch (Belanda), -ic, -ical (Inggris) menjadi -is

Optimistisch, optimistic optimistis

Allergisch, allergic alergis

Symbolisch, symbolical simbolis

Practisch, practical praktis

-icle (Inggris) menjadi -ikel

Article artikel

Particle partikel

-ica (Belanda), -ics (Inggris) menjadi –ika, -ik

Mechanica, mechanics mekanika

Phonetics fonetik

-id, -ide (Inggris) menjadi –id, -ida

Chrysalid krisalid

Oxide oksida

Chloride klorida

-ief (Belanda), -ive (Inggris) menjadi -if

Demonstratief, demonstrative demonstratif

Descriptief, descriptive deskriptif

Depressief, depressive depresif

-iel (Belanda), -ile, -le (Inggris) menjadi -il

Kawrtiel, quartile kuartil

Percentile, percentile persentil

Stabile, stable stabil

-iet (Belanda), -ite (Inggris) menjadi -it

Favorite, favorite favorit

Dolomite, dolomite dolomit

Stalactite, stalactite stalaktit

-in (Inggris) menjadi -in

Penicillin penisilin

Insulin insulin

Protein protein

-ine (Inggris) menjadi –in, -ina

Cocaine kokain

33

Quarantine karantina

-isatie (Belanda), -ization (Inggris) menjadi -isasi

Naturalisatie, naturalization naturalisasi

Socialisatie, socialization sosialisasi

-isme (Belanda), -ism (Inggris) menjadi -isme

Expressionism, expressionism ekspresionisme

Modernism, modernism modernism

-ist (Belanda, Inggris) menjadi -is

Extremist ekstremisme

Receptionist resepsionis

-iteit (Belanda), -ity (Inggris) menjadi -itas

Faciliteit, facility falisitas

Realiteit, reality realitas

-logie (Belanda), -logy (Inggris) menjadi -logi

Analogie, analogy analogi

Technologie, technology teknologi

-loog (Belanda), -logue (Inggris) menjadi -log

Catalog, catalogue katalog

Dialog, dialogue dialog

-lyse (Belanda), -lysis (Inggris) menjadi -lisis

Analyse, analysis analisis

Paralyse, paralysis paralisis

-oide (Belanda), -oid (Inggris) menjadi -oid

Anthropoide, anthropoid antropoid

Metalloide, metalloid metaloid

-oir(e) (Belanda) menjadi -oar

Repertoire repertoar

Trottoir trotoar

-or (Inggris) menjadi -or

Corrector korektor

Dictator dictator

-ous (Inggris) ditinggalkan

Amorphous amorf

Polysemous polisem

-se (Belanda), -sis (Inggris) menjadi -sis

Synthese, synthesis sintesis

Anamnese, anamnesis anamnesis

-teit (Belanda), -ty (Inggris) menjadi -tas

Qualiteit, quality kualitas

Universiteit, university universitas

-ter (Belanda), -tre (Inggris) menjadi -ter

Diameter, diameter diameter

35

Theater, theatre teater

-uur (Belanda), -ure (Inggris) menjadi -ur

Proceduur, procedure prosedur

Structuur, structure struktur

-y (Inggris) menjadi -i

Monarchy monarki

philosophy  filosofi

2. 4. 3 Gabungan Penerjemahan dan Penyerapan

Istilah bahasa Indonesia dapat dibentuk dengan menerjemahkan dan menyerap istilah asing

sekaligus.

Misalnya :

Bound morpheme morfem terikat

Clay colloid koloid lempung

Subdivision subbagian

2. 5 Perekaciptaan Istilah

Kegiatan ilmuwan, budayawan dan seniman yang bergerak di baris terdepan ilmu, teknologi,

dan seni dapat mencetuskan konsep yang belum ada selama ini. Istilah baru untuk mengung-kapkan konsep itu dapat direkacipta sesuai dengan lingkungan dan corak bidang kegiatannya.

Misalnya, rekacipta istilah fondasi cakar ayam, penyangga sosrobahu, plasma inti rakyat,

dan tebang pilih Indonesia telah masuk ke dalam khazanah peristilahan.

Bhineka tunggal ika batik

pemantapan

Konsep dan istilah yang berasal dari nusantara

Secara langsung

Pencakar langit (skyscraper)

Kawasan berikat (bonded zone)

penerjemahan

Dengan perekaan

Jasa boga (catering)

Sintas (survive)

Pasar swalayan (supermarket)

Dengan penyesuaian ejaan dan lafal

Konsep yang sudah ada

Kamera (camera)

Mikrofon (microphone)

Dengan penyesuaian ejaan tanpa penyesuaian lafal

KODIFIKASIPenyerap-anPema-danan

Konsep yang berasal dari mancanegara

KONSEP

Desain (design)

Fail (fail)

2. 6 Pembakuan dan Kodifikasi Istilah

Istilah  yang  diseleksi  lewat  pemantapan,   penerjemahan,   penyerapan,   dan  perekaciptaan

dibakukan lewat kodifikasi yang mengusahakan keteraturan bentuk seturut kaidah dan adat

pemakaian bahasa. Kodifikasi itu tercapai dengan tersusunnya sistem ejaan, buku tata bahasa,

dan kamus yang merekam dan menetapkan bentuk bakunya.

2.7 Bagan Prosedur Pembakuan Istilah

Prosedur pembakuan istilah dapat dilihat pada bagan berikut

Bias (ias)

Nasal (nasal)

Tanpa penyesuaian ejaan dengan penyesuaian lafalKonsep yang baru

Allegro modertor

Esprit de corps

Internet (internet)

Orbit (orbit)

Tanpa penyesuaian ejaan dan lafal

Koloid lmpung (clay colloid)

Morfem terikat (bound morpheme)

Gabungan penerjemahan dan penyerapanPerekacipta-an

Konsep dan istilah yang berasal dari nusantara

(fondasi) cakar ayam

(penyangga) sosrobahu

37

III. ASPEK TATA BAHASA PERISTILAHAN

Istilah dapat berupa (1) bentuk dasar, (2) bentuk berafiks, (3) bentuk ulang, (4) bentuk

majemuk, (5) bentuk analogi, (6) hasil metanalisis, (7) singkatan, (8) akronim.

III.1Istilah Bentuk Dasar

Istilah bentuk dasar dipilih di antara kelas kata utama, seperti nomina, verba, adjektiva,

dan numeralia.

Misalnya :

Nomina :  kaidah rule

busur bow

cahaya light

Verba : keluar out

Uji test

Tekan press

Adjektiva :  kenyal elastic

Acak random

Cemas anxious

Numeralia :  gaya empat four force

(pukulan) satu-dua one-two

(bus) dua tingkat double decker

III.2Istilah Bentuk Berafiks

Istilah bentuk berafiks disusun dari bentuk dasar dengan penambahan prefiks, infiks,

sufiks, dan konfiks seturut kaidah pementukan kata bahasa Indonesia, misalnya dari

bentuk  pirsa  menjadi  pemirsa,  bukan  pirsawan  ; dari  hantar  menjadi  keterhantaran,

bukan  kehantaran.  Istilah bentuk berafiks menunjukkan pertalian yang teratur antara

bentuk dan maknanya. Istilah bentuk berafiks tersebut mengikuti paradigm berikut, yang

unsur-unsurnya demi kejelasan dimasukkan dalam berbagai kotak.

39

III.2.1 Paradigma Bentuk Berafiks ber-ber-  tani bertani petani pertanian

bel-  ajar belajar pelajar pelajaran

ber- ubah berubah peubah perubahan

Istilah berafiks petani, pelajar, peubah yang mengacu kepada pelaku atau alat, dan

pertanian, pelajaran, perubahan yang mengacu ke hal, keadaan, atau tempat dibentuk

dari verba bertani, belajar, berubah yang berasal dari bentuk dasar tani, ajar, dan

ubah.

 

III.2.2 Paradigma Bentuk Berafiks meng-men-  tulis menulis penulis penulisan tulisan

meng- ubah mengubah pengubah pengubahan ubahan

mem- besarkan membesarkan pembesar pembesaran besaran

meng- ajari mengajari pengajar pengajaran ajaran

Istilah berafiks penulis, pengubah, pembesar, pengajar, yang mengacu kepada pelaku

atau alat, dan penulisan, pngubahan, pengajaran yang mengacu ke proses atau per-buatan serta tulisan, ubahan, besaran, ajaran yang mengacu ke hasil dijabarkan dari

verba menulis, mengubah, membesarkan, mengajar yang berasal dari bentuk dasar

tu-lis, ubah, besar, dan ajar.

mem- berdayakan memberdayakan  pemberdaya  pemberdayaan

mem- berhentikanmemberhentikan pemberhenti pemberhentian

mem-  belajarkan membelajarkan pembelajar pembelajaran

Istilah berafiks pemberdaya, pemberhenti, pembelajar yang mengacu kepada pelaku

dan  pemberdayaan,   pemberhentian,   pembelajaran  yang   mengacu   ke   perbuatan

dibentuk dari verba memberdayakan, memberhentikan, membelajarkan yang dibentuk

dari berdaya, berhenti, belajar yang berasal dari bentuk dasar daya, henti, dan ajar.

41

Mem-   persatukan    mempersatukan  pemersatu  pemersatuan

persatuan

Istilah berafiks pemersatu, pemeroleh, pemelajar yang mengacu kepada pelaku dan

pemersatuan, pemerolehan, pemelajaran  yang mengacu ke perbuatan atau proses

serta  persatuan, perolehan, pelajaran  yang mengacu ke hasil dibentuk dari verba

mempersatukan, memperoleh, mempelajari  yang dibentuka dari  bersatu, beroleh,

belajar yang berasal dari bentuk dasar satu, oleh, ajar.

III.2.3 Paradigma Bentuk Berkonfiks ke—an

ke—an  saksi kesaksian

ke—an bermakna kebermaknaan

ke—an  terpuruk  keterpurukan

ke—an seragam keseragaman

Istilah berkonfiks ke—an yang mengacu ke hal atau  keadaan dibentuk dari pangkal

yang berupa bentuk dasar atau bentuk yang berprefiks ber-, ter-, se-, seperti saksi,

bermakna, terpuruk,dan seragam.

III.2.4 Paradigma Bentuk Berinfiks –er-, -el-, -em-, in-Sabut           serabut   gigi  gerigi

Tunjuk telunjuk gembung gelembung

Kelut kemelut getar gemetar

Kerja kinerja sambung sinambung

Istilah berinfiks  –er-, -el-, -em-, -in-  seperti  serabut, gerigi, telunjuk, gelembung,

kemelut, gemetar, kinerja, sinambung yang mengacu ke jumlah, kemiripan, atau hasil

dibentuk dari dasar sabut, gigi, tunjuk, gembung, kelut, getar, kerja dan sambung.

III.3Istilah Bentuk Ulang

Istilah bentuk ulang dapat berupa ulangan bentuk dasar seutuhnya atau sebagiannya dengan

atau tanpa pengimbuhan dan pengubahan bunyi.

III.3.1 Bentuk Ulang Utuh

43

Istilah bentuk ulang utuh yag mengacu ke kemiripan dapat dilihat pada contoh berikut

Ubur-ubur paru-paru anal-anal langit-langit

Undur-undur kanak-kanak kunang-kunang kuda-kuda

III.3.2 Bentuk Ulang Suku Awal

Istilah bentuk ulang suku awal (dwipurwa) yang dibentuk melalui pengulangan konsonan

awal dengan penambahan ‘pepet’ dapat dilihat pada contoh berikut.

Laki lelaki rata merata

Tangga tetangga buku bebuku

Jarring jejaring tikus tetikus

III.3.3 Bentuk Ulang Berafiks

Istilah bentuk ulang dengan afiksasi dibentuk melalui paradigma berikut

Daun  dedaunan

Pohon pepohonan

Rumput rerumputan

Istilah bentuk ulang dedaunan, pepohonan, rerumputan yang mengacu ke berbagai macam,

keanekaan dibentuk dari dasar daun, pohon, dan rumput yang mengalami perulangan.

III.3.4 Bentuk Ulang Salin Suara

Istilah bentuk ulang salin suara dibentuk melalui pengulangan dengan perubahan bunyi.

Perhatikan contoh berikut.

Sayur sayur-mayur warna warna-warni

Beras beras-petas teka teka-teki

Serta serta-merta balik bolak-balik

Dari segi makna, perulangan dengan cara itu mengandung makna ‘bermacam-macam’.

III.4Istilah Bentuk Majemuk

Istilah bentuk majemuk atau kompositum merupakan hasil penggabungan dua bentuk atau

lebih, yang menjadi satuan leksikal baru. Gabungan kata itu berupa (1) gabungan bentuk

bebas dengan bentuk bebas, (2) bentuk bebas dengan bentuk terikat, atau (3) bentuk terikat

dengan bentuk terikat.

III.4.1 Gabungan Bentuk Bebas

Istilah majemuk bentuk bebas merupakan penggabungan dua unsur atau lebih, yang unsur-unsurnya  dapat berdiri sendiri sebagai bentuk bebas. Gabungan bentuk bebas meliputi

gabungan (a) bentuk dasar dengan bentuk dasar, (b) bentuk dasar dengan bentuk berafiks

atau sebaliknya, dan (c) bentuk berafiks dengan bentuk berafiks.

III.4.1.1Gabungan Bentuk Dasar

Istilah majemuk gabungan bentuk dasar merupakan penggabungan dua bentuk dasar atau

lebih.

45

Garis lintang kereta api listrik

Masa depan  rumah sangat sederhana

Rawat jalan

III.4.1.2Gabungan Bentuk Dasar dan Bentuk Berafiks

Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan bentuk berafiks dan bentuk

berafiks atau sebaliknya.

Proses berdaur menembak jatuh

Sistem pencernaan tertangkap tangan

 

III.4.1.3Gabungan Bentuk Berafiks dan Bentuk Berafiks

Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan bentuk berafiks dan bentuk

berafiks.

Misalnya :

Kesehatan lingkungan

Perawatan kecelakaan

Pembangunan berkelanjutan

III.4.2 Gabungan Bentuk Bebas dengan Bentuk Terikat

Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan dua bentuk, atau lebih, yang

salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri. Ada sejumlah bentuk terikat yang dapat

digunakan dalam pembentukan istilah yang berasal dari bahasa Jawa Kuno dan Melayu.

Misalnya :

adi- adikarya masterpiece

adikuasa superpower

aneka- anekabahasa multilingual

anekawarna multicolored

antar- antarkota intercity

antarbangsa international

awa- awaair dewater

awalengas dehumidity

catur- caturwulan quarter

caturlarik quatrain

dasa- dasawarsa decade

dasalomba decathlon

dur- durhaka rebellious

dursila unethical

dwi-  dwimingguan biweekly

dwibahasa bilingual

eka- ekamatra unidimension

ekasuku monosyllable

lajak- lajaklaku overaction

lajakaktif overactive

lewah- lewahumur overage

47

lewahbanyak  abundant

lir-  lirintan  diamondike

lirruang  spacelike

maha-  mahatahu  omniscient

maharatu  empress

nir-  nirlaba  non-profit

nirgelar nondegree

panca- pancamuka multifaceted

pancaragam variegated

pasca-  pascapanen  postharvest

pascasarjana postgraduate

pra-   prasejarah prehistory

prasangka prejudice

pramu- pramugari  stewardess

pramuniaga  salesperson

pramuwisata touristguide

purba- purbawisesa absolute power

purbakalawan  archeologist

purna-  purnawaktu full-time

purnabakti retirement

su- sujana man of good character

susila  good morals

swa- swasembada self-reliance

swalayan self-service

tak- taksa ambiguous

takadil  unjust

tan- tansuara soundless

tanwarna colorless

tri- trilipat  threefold

triunsur triadic

tuna- tunahargadiri inferiority

tunakarya unemployed

Sementara   itu,   bentuk   terikat   yang   berasal   dari   bahasa   asing   Barat,   dengan   beberapa

perkecualian, langsung diserap bersama-sama dengan kata lain yang mengikutinya. Contoh

gabungan bentuk asing Barat dengan kata Melayu-Indonesia adalah sebagai berikut.

Globalization globalisasi

Modernization  modernisasi

Gabungan bentuk bebas dan bentuk terikat  seperti –wan dan –wati  dapat dilihat pada contih

berikut.

Ilmuwan scientist

Seniwati woman artist

49

Mahakuasa omnipotent

III.4.3 Gabungan Bentuk Terikat

Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan bentuk terikat, dan bentuk

terikat unsur itu ditulis serangkai, tidak diberi tanda hubung.

Misalnya :

Dasawarsa decade

Swatantra selfgovernment

III.5Istilah Bentuk Analogi

Istilah bentuk analogi bertolak dari pola bentuk istilah yang sudah ada, seperti berdasarkan

pola bentuk  pegulat, tata bahasa, juru tulis, pramugari,  dengan pola analogi pada istilah

tersebut dibentuk berbagai istilah lain.

Misalnya :

Pegolf  (golfer) peselancar  (surfer)

Tata graham (housekeeping) tata kelola  (governance)

Juru masak (cook) juru bicara (spokesman)

Pramuniaga (salesperson) pramusiwi  (baby-sitter)

III.6Istilah Hasil Metanalisis

Istilah hasil metanalisis terbentuk melalui analisis unsur yang keliru.

Misalnya :

Kata  mupakat  (mufakat) diuraikan menjadi  mu + pakat  ; lalu ada kata

sepakat.

Kata dasar perinci disangka terdiri atas  pe + rinci sehingga muncul istilah

rinci dan rincian.

III.7Istilah Bentuk Singkatan

Istilah bentuk singkatan ialah bentuk yang penulisannya dipendekkan menurut tiga cara

berikut.

a. Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang dilisankan sesuai

dengan bentuk istilah lengkapnya.

Misalnya :

cm yang dilisankan sentimeter

l yang dilisankan liter

sin yang dilisankan sinus

tg yang dilisankan tangen

b. Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang lazim dilisankan

huruf demi huruf.

Misalnya :

DDT (diklorodifeniltrikloroetana) yang dilisankan de-de-te

KVA(kilovolt-ampere) yang dilisankan ka-ve-a

TL (tube luminescent) yang dilisankan te-el

c. Istilah yang sebagian unsurnya ditanggalkan.

Misalnya :

51

Ekspres yang berasal dari kereta api ekpres

Kawat yang berasal dari  surat kawat

Harian  yang berasal dari  surat kabar harian

Lab yang berasal dari  laboratorium

Info yang berasal dari  informasi

Demo yang berasal dari  demonstrasi

Promo yang  berasal dari promosi

III.8Istilah Bentuk Akronim

Istilah bentuk akronim ialah istilah pemendekan bentuk majemuk yang berupa gabungan

huruf awal suku kata, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf awal dan suku kata dari

deret kata yang  diperlakukan sebagai kata.

Misalnya  :

Air susu ibu asi

Bukti pelanggaran  tilang

Pengawasan melekat waskat

Peluru kendali (guided missile)  rudal

Cairan alir (lotion)  calir

III.9Lambang Huruf

Lambang huruf ialah satu huruf atau lebih yang melambangkan konsep dasar ilmiah seperti

kuantitas dan nama unsur. Lambang huruf tidak diikuti tanda titik.

Misalnya :

F gaya

N nitrogen

Hg raksa (kimia)

m meter

NaCl natrium klorida

Rp rupiah

$ dolar

III.10Gambar Lambang

Gambar lambang ialah gambar atau tanda lain yang melambangkan konsep ilmiah menurut

konvensi bidang ilmu yang bersangkutan.

Misalnya :

≅   kongruen (matematika)

≡ identik (matematika)

Σ jumlah beruntun (matematika)

~  setara (matematika)

♂ jantan  (biologi)

♀ betina (biologi)

Х disilangkan dengan; hibrida (biologi)

↓ menunjukkan endapan zat (kimia)

53

◊ cincin benzena (kimia)

✶  bintang  (astronomi)

☼ matahari; Ahad (astronomi)

(atau) bulan; Senin (astronomi)

З dram; 3.887 gram (farmasi)

f° folio (ukuran kertas)

4° kuarto (ukuran kertas)

U pon (dagang)

& dan  (dagang)

pp pianissimo, sangat lembut (musik)

f forte, nyaring (musik)

* asterisk, takgramatikal, (linguistik)

bentuk rekonstruksi

< dijabarkan dari (linguistik)

III.11Satuan Dasar Sistem Internasional (SI)

Satuan dasar sistem Internasional (Système Internasional d’Unités) yang diperjanjikan secara

internasional dinyatakan dengan huruf lambang.

Besaran Dasar Lambang Satuan Dasar

arus listrik/elektrik A ampere

intensitas cahaya  cd kandela

kuantitas zat mol mol

massa kg kilogram

panjang m meter

suhu termodinamika K kelvin

waktu s sekon, detik

Satuan Suplementer Lambang Besar Dasar

sudut datar rad radiah

Lambang satuan yang didasarkan pada nama orang dinyatakan dengan huruf kapital. Bentuk

lengkap satuan ini ditulis dengan huruf kecil untuk membedakannya dengan nama pribadi

orang. Misalnya :

5A arus 5 ampere hukum Ampere

3C muatan 3 coulomb hukum Coulomb

6N gaya 6 newton hukum Newton

293 K suhu 293 kelvin skala suhu Kelvin

8Ci aktivitas 8 curie suhu curie

3.12Kelipatan dan Fraksi Satuan Dasar

Untuk menyatakan kelipatan dan fraksi satuan dasar atau turunan digunakan nama dan

lambang bentuk terikat berikut.

55

Faktor Lambang Bentuk Terikat Contoh

10¹² T tera- terahertz

109 G giga- gigawatt

106 M mega- megaton

10³ k kilo- kiloliter

10² h hekto- hektoliter

10¹ da deka- dekaliter

10ˉ¹ d desi- desigram

10ˉ² c senti- sentimeter

10ˉ³ m mili- milivolt

10-6 ̀̀µ mikro- mikrometer

10-9 n nano- nanogram

10-12 p piko- pikofarad

10-15 f femto- femtoampere

10-18 a ato- atogram

3.13Sistem Bilangan Besar

Sistem bilangan besar di atas satu juta yang dianjurkan adalah sebagai berikut.

109  biliun jumlah nol 9

1012 triliun jumlah nol 12

1015 kuadriliunjumlah nol 15

1018 kuintiliun jumlah nol 18

1021sekstiliun jumlah nol 21

1024 septiliun jumlah nol 24

1027 oktiliun jumlah nol 27

1030 noniliun jumlah nol 30

1033 desiliun jumlah nol 33

Sistem yang tersebut di atas antara lain juga digunakan di Amerika Serikat, Rusia, dan

Prancis. Di samping itu, masih ada sistem bilangan besar yang berlaku di Inggris, Jerman,

dan Belanda seperti dibawah ini.

109 miliar jumlah nol 9

1012 biliun jumlah nol 12

1018 triliun jumlah nol 18

1024 kuadriliunjumlah nol 24

1030 kuintiliun jumlah nol 30

3.14Tanda Desimal

Sistem Satuan Internasional menentukan bahwa tanda desimal boleh dinyatakan dengan

koma  atau  titik.  Dewasa ini beberapa negeri,  termasuk  Belanda dan Indonesia,  masih

menggunakan tanda koma desimal.

Misalnya :

3,52 atau  3.52

123,45 atau  123.45

57

15,000,000,00 atau 15.000.000,00

Bilangan desimal tidak dimulai dengan tanda desimal, tetapi selalu dimulai dengan

angka.

Misalnya  :

0,52 bukan ,52

0.52 bukan  .52

Jika perlu, bilangan desimal di dalam daftar atau senarai dapat dikecualikan dari peraturan

tersebut di atas.

Misalnya :

,550 234 atau .550 234

,552 76 .552 76

,554 051 .554 051

,556 1 .556 1

Bilangan yang hanya berupa angka yang dituliskan dalam tabel atau daftar dibagi menjadi

kelompok-kelompok tiga angka yang dipisahkan oleh spasi tanpa penggunaan tanda desimal.

Misalnya  :

3 105 724 bukan      3,105,724  atau     3.105.724

5 075 442     5,075,442     5.075.442

17 081 500   17,081,500   17.081.500

158 777 543 158,777,543 158.777.543

666 123       666,123        666.123

catatan :

dengan mengingat kemungkinan bahwa tanda desimal dapat dinyatakan dengan tanda koma

atau titik, penulis karangan hendaknya memberikan catatan cara mana yang diikutinya.

IV. ASPEK SEMANTIK PERISTILAHAN

IV.1Pemberian Makna Baru

Istilah baru dapat dibentuk lewat penyempitan dan peluasan makna kata yang lazim dan yang

tidak   lazim.   Artinya,   kata   itu   dikurangi   atau   ditambah   jangkauan   maknanya   sehingga

penerapannya menjadi lebih sempit atau lebih luas.

IV.1.1 Penyempitan Makna

Kata  gaya  yang mempunyai makna ‘kekuatan’ dipersempit maknanya menjadi ‘dorongan

atau tarikan yang akan menggerakkan benda bebas (tak terikat)’ dan menjadi istilah baru

untuk padanan  istilah inggris force. Kata kendala yang mempunyai makna ‘penghalang’,

‘perintang’ dipersempit maknanya menjadi ‘pembatas keleluasaan gerak’, yang tidak perlu

menghalangi atau merintangi, untuk dijadikan istilah baru bidang fisika sebagai padanan

istilah   Inggris  constraint.  Kata   tenaga   yang   mempunyai   makna   ‘kekuatan   untuk

menggerakkan sesuatu’ dipersempit maknanya untuk dijadikan istlah baru sebagai padanan

istilah  energy  dan kata  daya    menjadi padanan istilah  power.  Kata  ranah  dalam bahasa

Minang, yang mempunyai makna ‘tanah rata, dataran rendah’ dipersempit maknanya menjadi

‘lingkungan yang memungkinkan terjadinya percakapan yang merupakan kombinasi antara

partisipan, topic, dan tempat’ sebagai padanan istilah domain.

59

IV.1.2 Perluasan Makna

kata garam yang semula   bermakna ‘garam dapur’ (NaCl) diperluas maknanya sehingga

mencakupi semua jenis senyawaan dalam bidang kimia. Kata canggih yang semula bermakna

‘banyak cakap, bawel, ceretwet’ diperluas maknanyauntuk dipakai di bidang teknik, yang

berarti ‘kehilangan kesedarhanaan asli (seperti sangat rumit, ruwet, atau terkembang)’. Kata

pesawat  yang semula bermakna ‘alat, perkakas, mesin’ diperluas maknanya di bidang teknik

menjadi ‘kapal terbang’. Kata luah yang berasal dari bahasa Minang, dengan makna ‘(1) rasa

mual; (2) tumpah atau limpah (tentang barang cair)’, mengalami perluasan makna menjadi

‘volume zat cair yang mengalir melalui permukaan per tahun waktu’. Kata pamer yang

semula dalam bahasa Jawa bermakna ‘beraga, berlagak’ bergeser maknanya dalam bahasa

Indonesia menjadi ‘menunjukkan (mendemonstrasi) sesuatu yang dimiliki kepada orang

banyak dengan maksud memperlihatkan kelebihan atau keunggulan’.

4. 2 Istilah Sinonim

Dua istilah atau lebih yang maknanya sama atau mirip, tetapi bentuknya berlainan, disebut

sinonim. Di antara istilah sinonim itu salah satunya ditentukan sebagai istilah baku atau yang

diutamakan.

Misalnya   :

gulma  sebagai   padanan  weed  lebih   baik   daripada  tumbuhan

pengganggu

hutan bakau sebagai padanan mangrove forest lebih baik daripada hutan

payau

mikro- sebagai   padanan  micro-  dalam   hal   tertentu   lebih   baik

daripada renik

partikel sebagai padanan particle lebih baik daripada bagian kecil

atau zarah

Meskipun   begitu,   istilah   sinonim   dapat   dipakai   di   samping   istilah   baku   yang

diutamakan.

Misalnya :

istilah yang Diutamakan Istilah sinonim

absorb  serap absorb

acceleration percepatan akselerasi

diameter garis tengah diameter

frequency frekuensi kekerapan

relative relatif nisbi

temperature suhu temperatur

Berikut kelompok istilah sinonim yang menyalahi asas penamaan dan pengistilahan

Misalnya :

zat lemas dihindarkan karena ada nitrogen

saran diri dihindarkan karena ada autosugesti

ilmu pisah  dihindarkan karena ada ilmu kimia

ilmu pasti  dihindarkan karena ada matematika

Sinonim asing yang benar-benar sama diterjemahkan dengan satu istilah Indonesia.

Misalnya :

average, mean  rata-rata (rerata, purata)

grounding, earthing pengetanahan

61

Sinonim asing yang hampir bersamaan sedapat-dapatnya diterjemahkan dengan istilah yang

berlainan.

Misalnya :

axiom aksioma

law hukum

postulate postulat

rule kaidah

4.3 Istilah Homonim

Istilah   homonim   berupa   dua   istilah,   atau   lebih,   yang   sama   ejaan   dan   lafalnya,   tetapi

maknanya berbeda, karena asalnya berlainan. Istilah homonim dapat dibedakan menjadi

homograf dan homofon.

4.3.1 Homograf

Istilah homograf ialah istilah yang sama ejaannya, tetapi berbeda lafalnya.

Misalnya :

pedologi ← paedo ilmu tentang hidup dan perkembangan anak

pedologi ← pedon ilmu tentang tanah

teras inti

teras ‘lantai datar di muka rumah’

4.3.2 Homofon

Istilah homofon ialah istilah yang sama lafalnya, tetapi berbeda ejaannya.

Misalnya :

bank dengan  bang

massa  dengan masa

sanksi dengan sangsi

4.4 Istilah Polisem

Istilah polisem ialah bentuk yang memiliki makna ganda yang bertalian. Misalnya, kata

kepala (orang)  ‘bagian teratas’ dipakai dalam  kepala (jawatan), kepala (sarung).  Bentuk

asing yang sifatnya polisem diterjemahkan sesuai dengan arti dalam konteksnya. Karena

medan   makna   yang   berbeda,   suatu   istilah   asing   tidak   selalu   berpadanan   dengan   kata

Indonesia yang sama.

Misalnya :

a. (cushion) head topi (tiang pancang)

head (gate) (pintu air) atas

(nuclear) head hulu (nuklir)

(velocity) head tinggi (tenaga kecepatan)

b. (detonating) fuse sumbu (ledak)

fuse sekering

to fuse melebur, berpadu, melakur, terbakar.

4.5 Istilah Hiponim

Istilah   hiponim   ialah   bentuk   yang   maknanya   terangkum   dalam   hiperonim,   atau

63

subordinatnya, atau superordinatnya, yang mempunyai makna yang lebih luas. Kata mawar,

melati,   cempaka,  misalnya,   masing-masing   disebut  hiponim  terhadap   kata  bunga  yang

menjadi hiperonim atau superordinatnya. Di dalam terjemahan, hiperonim atau superordinat

pada umumnya tidak disalin dengan salah satu hiponimnya, kecuali jika dalam bahasa

Indonesia   tidak   terdapat   istilah   superordinatnya.   Kata  poultry,  misalnya   diterjemahkan

dengan  unggas,   dan   tidak   dengan  ayam  atau  bebek.  Jika   tidak   ada   pasangan   istilah

hiperonimnya dalam bahasa Indonesia, konteks situasi atau ikatan kalimat suatu superordinat

asing akan menentukan hiponim Indonesia mana yang harus dipilih. Kata  rice,  misalnya,

dapat diterjemahkan dengan padi, gabah, beras, atau nasi, bergantung pada konteksnya.

4.6 Istilah Taksonim

istilah taksonim ialah hiponim dalam sistem klasifikasi konsep bawahan dan konsep atasan

yang bertingkat-tingkat. Kumpulan taksonim membangun taksonimi sebagaimana takson

membangun taksonomi. Berikut ini adalah bagan taksonomi makhluk.

Makhluk

Bakteri                                          hewan tumbuhan

mamalia               burung          ikan     serangga

anjing             sapi         unggas    manuk       teri tongkol      semut  capung

pudel     herder                 itik           ayam

yang dimaksud dengan hubungan antara kelas atasan dan kelas bawahan dalam bagan di atas

ialah hubungan  makhluk    dengan  bakteri, hewan,  damn  tumbuhan  atau hubungan  hewan

dengan mamalia, burung, ikan, dan serangga. Sementara itu, hubungan kelas bawahan dan

kelas atasan ialah hubungan bakteri, hewan dan tumbuhan dengan makhluk, atau hubungan

mamalia, burung, ikan, dan serangga dengan hewan.

 

4.7 Istilah Meronim

istilah Meronim ialah istilah yang maujud (entity) yang ditunjuknya merupakan bagian dari

maujud lain yang menyeluruh. Istilah yang menyeluruh itu disebut holonim. Berikut ini

adalah bagan meronimi tubuh.

Tubuh

kepala leher dada lengan tungkai

rambu             dahi     mata hidung     telinga mulut

lidah  gigi bibir

bibir atas bibir bawah

bagan di atas memperlihatkan kata yang mengandung makna keseluruhan yang memiliki

kedudukan lebih tinggi daripada kata bagiannya atau makna keseluruhan dianggap meliputi

makna bagian. Kata tubuh mengandung makna keseluruhan yang mencakupi makna dada,

lengan, dan tungkai. Hubungan antara tubuh dan bagiannya disebut hubungan kemeroniman.

Hubungan   kemeroniman   dibedakan   atas   hubungan   tubuh   dengan   bagiannya,   hubungan

kumpulan dengan anggotanya, serta hubungan antara massa dengan unsurnya tubuh adalah

65

keseluruhan yang terjadi dari keutuhan seluruh bagiannya; kumpulan adalah keseluruhan

yang terjadi dari gabungan seluruh anggotanya; massa merupakan keseluruhan  yang terjadi

dari peleburan seluruh unsurnya.

 

 

SEKELUMIT TENTANG DIREKTORAT PENDIDIKAN KHUSUS DAN LAYANAN KHUSUS

SEKELUMIT TENTANG
DIREKTORAT PENDIDIKAN KHUSUS DAN LAYANAN KHUSUS

Memahami keberadaan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus, Depdiknas RI, berdasar Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor : 36 TAHUN 2010 adalah sangat penting bagi seorang guru Pendidikan KHusus. .

Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus berdasar Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor : 36 TAHUN 2010 diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus yang secara teknis dikelola berdasar jenjangnya. yakni sbb :
1. Pembinaan Pendidikan Khusus jenjang Pendidiikan Dasar (SDLB dan SMPLB) diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar sebagai bagian dari Direktorat Jendral Pendidikan Dasar.
2. Pembinaan Pendidikan Khusus jenjang Pendidiikan Menengah (SMALB dan SMKLB) diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Menengah sebagai bagian dari Direktorat Jendral Pendidikan Menengah.
Melalui sistem baru kami berharap, mampu meningkatkan pembinaan kualitas pengelolaan lebih lanjut.
Sebagai Pembina Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus, pihak Direktorat sudah saatnya menata sistem pengelolaan Satuan Pendidikan Khusus yang saat ini sedang berjalan disesuaikan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 36 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan Nasional.
Dewasa ini dikenal penyelelenggaraan satuan pendidikan khusus dengan pola sbb :
1. Sistem Unit yakni 1 (satu) Satuan pendidikan khusus menyelenggarakan semua jenjang pendidikan dari TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB/SMKLB.
2. Sistem Jenjang yakni 1 (satu) satuan pendidikan hanya menyelenggarakan satu jenjang satuan pendidikan khusus.

Ditinjau dari segi pembinaan kelembagaan oleh Direktorat PK LK pola yang tepat adalah pola penyelenggaraan dengan SISTEM JENJANG.
Sebagai bahan pertimbangannya adalah :
1. Penyelenggaraan dengan sistem jenjang satu satuan pendidikan pembinaannya hanya ditangani oleh 1 (satu) Direktorat PK-LK sesuai jenjangnya.
2. Pembinaan lebih terfokus dan terarah sesuai kebutuhan layanan pendidikan anak sehingga lebih professional.
3. Dari segi tenaga guru, pihak guru merasa lebih jelas atau profesional karena satu guru hanya berperan dalam 1 (satu) tugas untuk jenjang yang ada.
4. Dari segi statistic akan lebih valid datanya, karena baik sarpras maupun ketenagaannya hanya tercatat satu kali pada jenjang tersebut saja.
5. Penyediaan sarana dan prasarana lebih tepat sesuai kebutuhan pembelajaran.

Sementara untuk pola penyelenggaraan sistem unit yang menyelenggarakan pendidikan jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah maka 1 (satu) satuan pendidikan tersebut dibina oleh 2 (dua) Direktorat sekaligus, yakni Direktorat PK LK Pendidikan Dasar dan Direktorat PK LK Pendidikan Menengah. Konsekuensi Pembinaan dari pola penyelenggaraan sistem Unit adalah :
1. Penyelenggaraan dengan sistem unit, satu satuan pendidikan pembinaannya ditangani oleh 2 (dua) Direktorat PK-LK.
2. Pembinaan kurang terfokus atau terarah karena kebutuhan layanan pendidikan anak pada jenjang pendidikan dasar berbeda dengan jenjang pendidikan menengah sehingga terkesan kurang professional.
3. Dari segi tenaga guru, Pembinaan terhadap guru kurang jelas atau terlihat kurang profesional karena satu guru pada umumnya berperan dalam 2 (dua) jenjang sekaligus.
4. Dampak yang kurang menguntungkan sistem ini dari segi pembinaan tenaga guru diantaranya dalam waktu bersamaan seorang guru berstatus sebagai guru SDLB juga guru SMPLB bahkan ada yang juga merangkap sebagai guru SMALB. Adakalanya guru mengalami keterbatasan dalam mengajar sehingga ada kecenderungan memberi perlakuan yang sama saat mengajar SDLB, SMPLB dan SMALB.
5. Dari segi statistic akan lebih rancau atau kurang valid datanya, karena baik sarpras maupun ketenagaannya tercatat beberapa kali sesuai jenjang tersebutyang ada,
6. Ada kemungkinan terjadi tumpang tindih data atau double karena terlalu sulitnya membedakan mana yang harus tercatat sebagai tenaga, sarpras SDLB, SMPLB atau SMALB,
7. Karena izasah dikeluarkan sesuai jenjangnya maka pada saat penandatanganan Izasah, seorang kepala sekolah SLB Negeri ada kemungkinan menggunakan stempel SDLB Negeri, SMPLB Negeri dan SMALB Negeri manakala terdapat lulusan pada masing-masing jenjang.

Sebagai upaya pemahaman bersama berikut cuplikan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor : 36 TAHUN 2010 di bawah ini :

PERATURAN
MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

NOMOR 36 TAHUN 2010

TENTANG

ORGANISASI DAN TATA KERJA
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

Bagian Keenam
Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar

Pasal 274

Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar
mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan serta
fasilitasi penerapan standar teknis di bidang pendidikan khusus dan layanan khusus
pendidikan dasar.

Pasal 275

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 274, Direktorat
Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar
menyelenggarakan fungsi:
a. perumusan kebijakan di bidang pembelajaran, sarana dan prasarana, kelembagaan,
dan peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar;
b. koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang pembelajaran, sarana dan prasarana,
kelembagaan, dan peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan
dasar;
c. fasilitasi dan pemberian bimbingan teknis penerapan norma, standar, prosedur, dan
kriteria pembelajaran, sarana dan prasarana, kelembagaan, dan peserta didik
pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar;
d. pelaksanaan kerja sama dan pemberdayaan peran serta masyarakat di bidang
pembinaan pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar;
e. evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria pembelajaran, sarana dan
prasarana, kelembagaan, dan peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus
pendidikan dasar; dan
f. pelaksanaan administrasi Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan
Khusus Pendidikan Dasar.

Pasal 276

Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar terdiri
atas:
a. Subdirektorat Program dan Evaluasi;
b. Subdirektorat Pembelajaran;
c. Subdirektorat Sarana dan Prasarana;
d. Subdirektorat Kelembagaan dan Peserta Didik;
e. Subbagian Tata Usaha; dan
f. Kelompok Jabatan Fungsional.

Pasal 277

Subdirektorat Program dan Evaluasi mempunyai tugas melaksanakan penyusunan bahan
perumusan kebijakan, program dan anggaran, kerja sama, pemberdayaan peran serta
masyarakat, evaluasi pelaksanaan program dan anggaran, dan pelaporan Direktorat
Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar.

Pasal 278

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 277, Subdirektorat
Program dan Evaluasi menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan bahan perumusan kebijakan di bidang pembinaan pendidikan khusus
dan layanan khusus pendidikan dasar;
b. pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data dan informasi pembelajaran, sarana
dan prasarana, kelembagaan, dan peserta didik pendidikan khusus dan layanan
khusus pendidikan dasar;
c. penyusunan program, kegiatan, dan anggaran Direktorat;

d. koordinasi pelaksanaan kerja sama dan pemberdayaan peran serta masyarakat di
bidang pembelajaran, sarana dan prasarana, kelembagaan, dan peserta didik
pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar;
e. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program, kegiatan, dan anggaran Direktorat;
dan
f. penyusunan laporan Direktorat.

Pasal 279

Subdirektorat Program dan Evaluasi terdiri atas:
a. Seksi Penyusunan Program; dan
b. Seksi Evaluasi Program.

Pasal 280

(1) Seksi Penyusunan Program mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan
perumusan kebijakan, pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data dan informasi
pembelajaran, sarana dan prasarana, kelembagaan, peserta didik pendidikan khusus
dan layanan khusus pendidikan dasar, penyusunan program, kegiatan, dan anggaran
Direktorat serta penyusunan bahan koordinasi pelaksanaan kerja sama dan
pemberdayaan peran serta masyarakat.
(2) Seksi Evaluasi Program mempunyai tugas melakukan pemantauan dan evaluasi
pelaksanaan program, kegiatan, anggaran, kerja sama, dan pemberdayaan peran
serta masyarakat di bidang pembelajaran, sarana dan prasarana, kelembagaan,
peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar serta
penyusunan laporan Direktorat.

Pasal 281

Subdirektorat Pembelajaran mempunyai tugas melaksanakan penyusunan bahan
perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan, fasilitasi penerapan standar teknis
kurikulum, penilaian, dan akreditasi pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan
dasar.

Pasal 282

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 281, Subdirektorat
Pembelajaran menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan bahan perumusan kebijakan di bidang pelaksanaan kurikulum, penilaian,
dan fasilitasi akreditasi pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar;
b. koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang pelaksanaan kurikulum, penilaian, dan
fasilitasi akreditasi pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar;
c. fasilitasi dan pemberian bimbingan teknis penerapan norma, standar, prosedur, dan
kriteria kurikulum, penilaian, dan fasilitasi akreditasi pendidikan khusus dan layanan
khusus pendidikan dasar; dan
d. evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria kurikulum, penilaian, dan
akreditasi pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar.

Subdirektorat Pembelajaran terdiri atas:
a. Seksi Pelaksanaan Kurikulum; dan
b. Seksi Penilaian dan Akreditasi.

-

Pasal 283

Pasal 284

(1) Seksi Pelaksanaan Kurikulum mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan
perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan, fasilitasi, pemberian bimbingan
teknis, dan evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria pelaksanaan
kurikulum pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar.
(2) Seksi Penilaian dan Akreditasi mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan
perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan, fasilitasi, pemberian bimbingan
teknis, dan evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria pelaksanaan
penilaian dan akreditasi pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar.

Pasal 285

Subdirektorat Sarana dan Prasarana mempunyai tugas melaksanakan penyusunan bahan
perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan serta fasilitasi penerapan standar
teknis sarana dan prasarana pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar.

Pasal 286

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285, Subdirektorat
Sarana dan Prasarana menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan bahan perumusan kebijakan di bidang sarana dan prasarana pendidikan
khusus dan layanan khusus pendidikan dasar;
b. koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang sarana dan prasarana pendidikan khusus
dan layanan khusus pendidikan dasar;
c. fasilitasi dan pemberian bimbingan teknis penerapan norma, standar, prosedur, dan
kriteria sarana dan prasarana pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan
dasar; dan
d. evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria sarana dan prasarana
pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar.

Pasal 287

Subdirektorat Sarana dan Prasarana terdiri atas:
a. Seksi Sarana; dan
b. Seksi Prasarana.

Pasal 288

(1) Seksi Sarana mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan perumusan dan
koordinasi pelaksanaan kebijakan, fasilitasi, pemberian bimbingan teknis, dan
evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria sarana pendidikan khusus
dan layanan khusus pendidikan dasar.

(2) Seksi Prasarana mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan perumusan dan
koordinasi pelaksanaan kebijakan, fasilitasi, pemberian bimbingan teknis, dan
evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria prasarana pendidikan
khusus dan layanan khusus pendidikan dasar.

Pasal 289

Subdirektorat Kelembagaan dan Peserta Didik mempunyai tugas melaksanakan
penyusunan bahan perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan serta fasilitasi
penerapan standar teknis kelembagaan dan pemberdayaan sekolah serta pembinaan
bakat, prestasi, dan karakter peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus
pendidikan dasar.

Pasal 290

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 289, Subdirektorat
Kelembagaan dan Peserta Didik menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan bahan perumusan kebijakan di bidang kelembagaan, pemberdayaan
sekolah, dan peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar;
b. koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang kelembagaan dan pemberdayaan
sekolah serta pembinaan bakat, prestasi, dan karakter peserta didik pendidikan
khusus dan layanan khusus pendidikan dasar;
c. fasilitasi dan pemberian bimbingan teknis penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria kelembagaan, pemberdayaan sekolah, dan pembinaan bakat, prestasi, dan
karakter peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar; dan
d. evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria kelembagaan dan
pemberdayaan sekolah serta pembinaan bakat, prestasi, dan karakter peserta didik
pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar.

Pasal 291

Subdirektorat Kelembagaan dan Peserta Didik terdiri atas:
a. Seksi Kelembagaan; dan
b. Seksi Peserta Didik.

Pasal 292

(1) Seksi Kelembagaan mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan perumusan
dan koordinasi pelaksanaan kebijakan, fasilitasi, pemberian bimbingan teknis, dan evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria kelembagaan dan
pemberdayaan pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar.
(2) Seksi Peserta Didik mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan perumusan
dan koordinasi pelaksanaan kebijakan, fasilitasi, pemberian bimbingan teknis, dan evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria pembinaan bakat, prestasi, dan karakter peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar.

Pasal 293

Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan persuratan, Kepegawaian, keuangan, barang milik negara, dan kerumahtanggaan Direktorat.

Bagian Keenam
Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus
Pendidikan Menengah

Pasal 378

Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Menengah
mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan serta
fasilitasi penerapan standar teknis di bidang pendidikan khusus dan layanan khusus
pendidikan menengah.

Pasal 379

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378, Direktorat
Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Menengah
menyelenggarakan fungsi:
a. perumusan kebijakan di bidang pembelajaran, sarana dan prasarana, kelembagaan,
dan peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan menengah;
b. koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang pembelajaran, sarana dan prasarana,
kelembagaan, dan peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan
menengah;
c. fasilitasi dan pemberian bimbingan teknis penerapan norma, standar, prosedur, dan
kriteria pembelajaran, sarana dan prasarana, kelembagaan, dan peserta didik
pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan menengah;
d. pelaksanaan kerja sama dan pemberdayaan peran serta masyarakat di bidang
pembinaan pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan menengah;
e. evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria pembelajaran, sarana dan
prasarana, kelembagaan, dan peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus
pendidikan menengah; dan
f. pelaksanaan administrasi Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan
Khusus Pendidikan Menengah.
Pasal 380

Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Menengah
terdiri atas:
a. Subdirektorat Program dan Evaluasi;
b. Subdirektorat Pembelajaran;
c. Subdirektorat Sarana dan Prasarana;
d. Subdirektorat Kelembagaan dan Peserta Didik;
e. Subbagian Tata Usaha; dan
f. Kelompok Jabatan Fungsional.
Pasal 381

Subdirektorat Program dan Evaluasi mempunyai tugas melaksanakan penyusunan bahan
perumusan kebijakan, program dan anggaran, kerja sama, pemberdayaan peran serta
masyarakat, evaluasi pelaksanaan program dan anggaran, dan pelaporan Direktorat.

Pasal 382

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 381, Subdirektorat
Program dan Evaluasi menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan bahan perumusan kebijakan di bidang pembinaan pendidikan khusus
dan layanan khusus pendidikan menengah;
b. pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data dan informasi pembelajaran, sarana
dan prasarana, kelembagaan, dan peserta didik pendidikan khusus dan layanan
khusus pendidikan menengah;
c. penyusunan program, kegiatan, dan anggaran Direktorat;
d. koordinasi pelaksanaan kerja sama dan pemberdayaan peran serta masyarakat di
bidang pembelajaran, sarana dan prasarana, kelembagaan, dan peserta didik
pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan menengah;
e. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program, kegiatan, dan anggaran Direktorat;
dan
f. penyusunan laporan Direktorat.
Pasal 383

Subdirektorat Program dan Evaluasi terdiri atas:
a. Seksi Penyusunan Program; dan
b. Seksi Evaluasi Program.
Pasal 384

(1) Seksi Penyusunan Program mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan
perumusan kebijakan, pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data dan informasi
pembelajaran, sarana dan prasarana, kelembagaan, peserta didik pendidikan khusus
dan layanan khusus pendidikan menengah, penyusunan program, kegiatan, dan
anggaran Direktorat serta pelaksanaan kerja sama dan pemberdayaan peran serta
masyarakat.
(2) Seksi Evaluasi Program mempunyai tugas melakukan pemantauan dan evaluasi
pelaksanaan program, kegiatan, anggaran, kerja sama, dan pemberdayaan peran
serta masyarakat di bidang pembelajaran, sarana dan prasarana, kelembagaan,
peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan menengah serta
penyusunan laporan Direktorat.

Pasal 385

Subdirektorat Pembelajaran mempunyai tugas melaksanakan penyusunan bahan
perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan, fasilitasi penerapan standar teknis
kurikulum, penilaian, dan akreditasi pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan
menengah.

Pasal 386

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 385, Subdirektorat
Pembelajaran menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan bahan perumusan kebijakan di bidang pelaksanaan kurikulum, penilaian
dan fasilitasi akreditasi pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan
menengah;
b. koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang pelaksanaan kurikulum, penilaian dan
fasilitasi akreditasi pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan menengah;

c. fasilitasi dan pemberian bimbingan teknis penerapan norma, standar, prosedur, dan
kriteria kurikulum, penilaian dan fasilitasi akreditasi pendidikan khusus dan layanan
khusus pendidikan menengah; dan
d. evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria kurikulum, penilaian dan
akreditasi pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan menengah.

Pasal 387

Subdirektorat Pembelajaran terdiri atas:
a. Seksi Pelaksanaan Kurikulum; dan
b. Seksi Penilaian dan Akreditasi.

Pasal 388

(1) Seksi Pelaksanaan Kurikulum mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan
perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan, fasilitasi, pemberian bimbingan
teknis, dan evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria pelaksanaan
kurikulum pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan menengah.
(2) Seksi Penilaian dan Akreditasi mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan
perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan, fasilitasi, pemberian bimbingan
teknis, dan evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria pelaksanaan
penilaian dan akreditasi pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan
menengah.

Pasal 389

Subdirektorat Sarana dan Prasarana mempunyai tugas melaksanakan penyusunan bahan
perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan serta fasilitasi penerapan standar
teknis sarana dan prasarana pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan
menengah.

Pasal 390

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 389, Subdirektorat
Sarana dan Prasarana menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan bahan perumusan kebijakan di bidang sarana dan prasarana pendidikan
khusus dan layanan khusus pendidikan menengah;
b. koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang sarana dan prasarana pendidikan khusus
dan layanan khusus pendidikan menengah;
c. fasilitasi dan pemberian bimbingan teknis penerapan norma, standar, prosedur, dan
kriteria sarana dan prasarana pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan
menengah; dan
d. evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria sarana dan prasarana
pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan menengah.

Pasal 391

Subdirektorat Sarana dan Prasarana terdiri atas:
a. Seksi Sarana; dan
b. Seksi Prasarana.

Pasal 392

(1) Seksi Sarana mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan perumusan dan
koordinasi pelaksanaan kebijakan, fasilitasi, pemberian bimbingan teknis, dan
evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria sarana pendidikan khusus
dan layanan khusus pendidikan menengah.
(2) Seksi Prasarana mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan perumusan dan
koordinasi pelaksanaan kebijakan, fasilitasi, pemberian bimbingan teknis, dan
evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria prasarana pendidikan
khusus dan layanan khusus pendidikan menengah.

Pasal 393

Subdirektorat Kelembagaan dan Peserta Didik mempunyai tugas melaksanakan
penyusunan bahan perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan serta fasilitasi
penerapan standar teknis kelembagaan dan pemberdayaan sekolah serta pembinaan
bakat, prestasi, dan karakter peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus
pendidikan menengah.

Pasal 394

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 393, Subdirektorat
Kelembagaan dan Peserta Didik menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan bahan perumusan kebijakan di bidang kelembagaan, pemberdayaan
sekolah, dan peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan
menengah;
b. koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang kelembagaan dan pemberdayaan
sekolah serta pembinaan bakat, prestasi, dan karakter peserta didik pendidikan
khusus dan layanan khusus pendidikan menengah;
c. fasilitasi dan pemberian bimbingan teknis penerapan norma, standar, prosedur, dan
kriteria kelembagaan, pemberdayaan sekolah, dan pembinaan bakat, prestasi, dan
karakter peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan menengah;
dan
d. evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria kelembagaan dan
pemberdayaan sekolah serta pembinaan bakat, prestasi, dan karakter peserta didik
pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan menengah.

Pasal 395

Subdirektorat Kelembagaan dan Peserta Didik terdiri atas:
a. Seksi Kelembagaan; dan
b. Seksi Peserta Didik.

Pasal 396

(1) Seksi Kelembagaan mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan perumusan
dan koordinasi pelaksanaan kebijakan, fasilitasi, pemberian bimbingan teknis, dan
evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria kelembagaan dan
pemberdayaan pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan menengah.

(2) Seksi Peserta Didik mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan Perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan, fasilitasi, pemberian bimbingan teknis, dan evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria pembinaan bakat, prestasi, dan karakter peserta didik pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan menengah.

Pasal 397

Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan persuratan, kepegawaian, keuangan, barang milik negara, dan kerumahtanggaan Direktorat.

Demikian memahami keberadaan Direktoran Pendidikan Khusus dan layanan Khusus jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.

sumber :

http://yuswan62.blogdetik.com/2011/07/17/sekelumit-tentang-direktorat-pendidikan-khusus-dan-layanan-khusus/