Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Faktor Recovery Ekonomi

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Faktor Recovery Ekonomi
Disalin dan diposkan oleh : M. Lukmanul Hakim, S.Pd.I

PENDAHULUAN
Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) pertama kali dicetuskan berdasarkan atas ketentuan yang tercantum dalam pasal 16 Undang-undang No.4 tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Berdasarkan amanat pasal 16 tersebut diundangkan pada tanggal 5 Juni 1986 suatu Peraturan Pemerintah No.29 tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).Peraturan pemerintah (PP) No.29/ 1986 tersebut berlaku pada tanggal 5 Juni 1987 yaitu selang satu tahun setelah di tetapkan. Hal tersbut diperlukan karena masih perlu waktu untuk menyusun kriteria dampak terhadap lingkungan sosial mengingat definisi lingkungan yang menganut paham holistik yaitu tidak saja mengenai lingkungan fissik/kimia saja namun meliputi pula lingkungan sosial.
Berdasarkan pengalaman penerapan PP No.29/1986 tersebut dalam deregulasi dan untuk mencapai efisiensi maka PP No.29/1986 diganti dengan PP No.51/1993 yang di undangkan pada tanggal 23 Oktober 1993. Perubahan tersebut mengandung suatu cara untuk mempersingkat lamanya penyusunan AMDAL dengan mengintrodusir penetapan usaha dan/ atau kegiatan yang wajib AMDAL dengan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan demikian tidak diperlukan lagi pembuatan Penyajian Informasi Lingkungan (PIL). Perubahan tersebut mengandung pula keharusan pembuatan ANDAL , RKL, dan RPL di buat sekaligus yang berarti waktu pembuatan dokumen dapat diperpendek. Dalam perubahan tersebut di introdusir pula pembuatan dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) bagi kegiatan yang tidak wajib AMDAL. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL) ditetapkan oleh Menteri Sektoral yang berdasarkan format yang di tentukan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Demikian pula wewenang menyusun AMDAL disederhanakan dan dihapuskannya dewan kualifikasi dan ujian negara.
Dengan ditetapkannya Undang-undang No.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH), maka PP No.51/1993 perlu diganti dengan PP No.27/1999 yang di undangkan pada tanggal 7 Mei 1999, yang efektif berlaku 18 bulan kemudian. Perubahan besar yang terdapat dalam PP No.27 / 19999 adalah di hapuskannya semua Komisi AMDAL Pusat dan diganti dengan satu Komisi Penilai Pusat yang ada di Bapedal. Didaerah yaitu provinsi mempunyai Komisi Penilai Daerah. Apabila penilaian tersebut tidak layak lingkungan maka instansi yang berwenang boleh menolak permohohan ijin yang di ajukan oleh pemrakarsa. Suatu hal yang lebih di tekankan dalam PP No.27/1999 adalah keterbukaan informasi dan peran masyarakat.
Implementasi AMDAL sangat perlu di sosialisasikan tidak hanya kepada masyarakat namu perlu juga pada para calon investor agar dapat mengetahui perihal AMDAL di Indonesia. Karena semua tahu bahwa proses pembangunan di gunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi, sosial dan budaya. Dengan implementasi AMDAL yang sesuai dengan aturan yang ada maka di harapkan akan berdampak positip pada recovery ekonomi pada suatu daerah.

ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL)
Definisi AMDAL
AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/ atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/ atau kegiatan.
Dasar hukum AMDAL
Sebagai dasar hukum AMDAL adalah PP No.27/ 1999 yang di dukung oleh paket keputusan menteri lingkungan hidup tentang jenis usaha dan/ atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL dan keputusan kepala BAPEDAL tentang pedoman penentuan dampak besar dan penting.

Tujuan dan sasaran AMDAL
Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu usaha atau kegiatan pembangunan dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa merusak lingkungan hidup. Dengan melalui studi AMDAL diharapkan usah dan / atau kegiatan pembangunan dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efisien, meminimumkan dampak negatip dan memaksimalkan dampak positip terhadap lingkungan hidup.
Tanggung jawab pelaksanaan AMDAL
Secara umum yang bertanggung jawab terhadap koordinasi proses pelaksanaan AMDAL adalah BAPEDAL (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan).

Mulainya studi AMDAL
AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Sesuai dengan PP No./ 1999 maka AMDAL merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan ijin melakukan usaha dan / atau kegiatan . Oleh karenya AMDAL harus disusun segera setelah jelas alternatif lokasi usaha dan /atau kegiatan nya serta alternatif teknologi yang akan di gunakan.
AMDAL dan perijinan.
Agar supaya pelaksanaan AMDAL berjalan efektif dan dapat mencapai sasaran yang diharapkan , pengawasannya dikaitkan dengan mekanisme perijinan rencana usaha atau kegiatan. Berdasarkan PP no.27/ 1999 suatu ijin untuk melakukan usaha dan/ atau kegiatan baru akan diberikan bila hasil dari studi AMDAL menyatakan bahwa rencana usaha dan/ atau kegiatan tersebut layak lingkungan. Ketentuan dalam RKL/ RPL menjadi bagian dari ketentuan ijin.
Pasal 22 PP/ 1999 mengatur bahwa instansi yan bertanggung jawab (Bapedal atau Gubernur) memberikan keputusan tidak layak lingkungan apabila hasil penilaian Komisi menyimpulkan tidak layak lingkungan. Keputusan tidak layak lingkungan harus diikuti oleh instansi yang berwenang menerbitkan ijin usaha. Apabila pejabat yang berwenang menerbitkan ijin usaha tidak mengikuti keputusan layak lingkungan, maka pejabat yang berwenang tersebut dapat menjadi obyek gugatan tata usaha negara di PTUN. Sudah saatnya sistem hukum kita memberikan ancaman sanksi tidak hanya kepada masyarakat umum , tetapi harus berlaku pula bagi pejabat yang tidak melaksanakan perintah Undang-undang seperti sanksi disiplin ataupun sanksi pidana.
Prosedur penyusunan AMDAL
Secara garis besar proses AMDAL mencakup langkah-langkah sebagai berikut:
1.Mengidentifikasi dampak dari rencana usaha dan/atau kegiatan
2.Menguraikan rona lingkungan awal
3.Memprediksi dampak penting
4.Mengevaluasi dampak penting dan merumuskan arahan RKL/RPL.

Dokumen AMDAL terdiri dari 4 (empat) rangkaian dokumen yang dilaksanakan secara berurutan , yaitu:
1.Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)
2.Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)
3.Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
4.Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

Pendekatan Studi AMDAL
Dalam rangka untuk mencapai efisiensi dan efektivitas pelaksanaan AMDAL, penyusunan AMDAL bagi rencana usaha dan/atau kegiatan dapat dilakukan melalui pendekatan studi AMDAL sebagai berikut:
1.Pendekatan studi AMDAL Kegiatan Tunggal
2.Pendekatan studi AMDAL Kegiatan Terpadu
3.Pendekatan studi AMDAL Kegiatan Dalam Kawasan

Penyusunan AMDAL
Untuk menyusun studi AMDAL pemrakarsa dapat meminta jasa konsultan untuk menyusun AMDAL. Anggota penyusun ( minimal koordinator pelaksana) harus bersertifikat penyusun AMDAL (AMDAL B). Sedangkan anggota penyusun lainnya adalah para ahli di bidangnya yang sesuai dengan bidang kegiatan yang di studi.

Peran serta masyarakat
Semua kegiatan dan /atau usaha yang wajib AMDAL, maka pemrakarsa wajib mengumumkan terlebih dulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun AMDAL. Yaitu pelaksanaan Kep.Kepala BAPEDAL No.08 tahun 2000 tentang Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL. Dalam jangka waktu 30 hari sejak diumumkan , masyarakat berhak memberikan saran, pendapat dan tanggapan. Dalam proses pembuatan AMDAL peran masyarakat tetap diperlukan . Dengan dipertimbangkannya dan dikajinya saran, pendapat dan tanggapan masyarakat dalam studi AMDAL. Pada proses penilaian AMDAL dalam KOMISI PENILAI AMDAL maka saran, pendapat dan tanggapan masyarakat akan menjadi dasar pertimbangan penetapan kelayakan lingkungan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

PENILAIAN DOKUMEN AMDAL
Penilaian dokumen AMDAL dilakukan oleh Komisi Penilaian AMDAL Pusat yang berkedudukan di BAPEDAL untuk menilai dokumen AMDAL dari usaha dan/atau kegiatan yang bersifat strategis, lokasinya melebihi satu propinsi, berada di wilayah sengketa, berada di ruang lautan, dan/ atau lokasinya dilintas batas negara RI dengan negara lain.

Penilaian dokumen AMDAL dilakukan untuk beberapa dokumen dan meliputi penilaian terhadap kelengkapan administrasi dan isi dokumen. Dokumen yang di nilai adalah meliputi: 1.Penilaian dokumen Kerangka Acuan (KA)
2.Penilaian dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)
3.Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
4.Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

Penilaian Kerangka Acuan (KA), meliputi:
1.Kelengkapan administrasi
2.Isi dokumen, yang terdiri dari:
a.Pendahuluan
b.Ruang lingkup studi
c.Metode studi
d.Pelaksanaan studi
e.Daftar pustaka dan lampiran

Penilaian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), meliputi:
1.Kelengkapan administrasi
2.Isi dokumen, meliputi:
a.Pendahuluan
b.Ruang lingkup studi
c.Metode studi
d.Rencana usaha dan /atau kegiatan
e.Rona lingkungan awal
f.Prakiraan dampak penting
g.Evaluasi dampak penting
h.Daftar pustaka dan lampiran
Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), meliputi:
1.Lingkup RKL
2.Pendekatan RKL
3.Kedalaman RKL
4.Rencana pelaksanaan RKL
5.Daftar pustaka dan lampiran
Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), meliputi:
1.Lingkup RPL
2.Pendekatan RPL
3.Rencana pelaksanaan RPL
4.Daftar pustaka dan lampiran.

KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN
(AMDAL) KABUPATEN/ KOTA.

Komisi tersebut di bentuk oleh Bupati/ Walikota. Tugas komisi penilai adalah menilai KA, ANDAL, RKL, dan RPL. Dalam melaksanakan tugasnya komisi penilai dibantu oleh tim teknis komisi penilai dan sekretaris komisi penilai.
Susunan keanggotaan komisi penilai terdiri dari ketua biasanya dijabat oleh Ketua Dapedalda Kabupaten/Kota, sekretaris yang dijabat oleh salah seorang pejabat yang menangani masalah AMDAL. Sedangkan anggotanya terdiri dari wakil Bapeda, instansi yang bertugas mengendalikan dampak lingkungan, instasi bidang penanaman modal, instansi bidang pertanahan, instansi bidang pertahanan, instansi bidang kesehatan, instansi yang terkait dengan lingkungan kegiatan, dan anggota lain yang di anggap perlu.
Secara garis besar komisi penilai AMDAL dapat terdiri dari unsur-unsur (1) unsur pemerintah;(2) wakil masyarakat terkena dampak; (3) perguruan tinggi; (4) Pakar dan (5) organisasi lingkungan.
Ada semacam kerancuan dalam kebijakan AMDAL dimana dokumen tersebut ditempatkan sebagai sebuah studi kelayakan ilmiah di bidang lingkungan hidup yang menjadi alat bantu bagi pengambilan keputusan dalam pembangunan. Namun demikian komisi penilai yang bertugas menilai AMDAL beranggotakan mayoritas wakil dari instansi pemerintah yang mencermikan heavy bureaucracy , dan wakil-wakil yang melakukan advokasi . Dari komposisi yang ada dapat mengakibatkan hal-hal sebagai berikut (1) keputusan kelayakan lingkungan di dominasi oleh suara suara yang didasarkan pada kepentingan birokrasi; (2).wakil masyarakat maupun LSM sebagai kekuatan counter balance dapat dengan mudah terkooptasi (captured or coopted) karena berbagai faktor;
(3) keputusan cukup sulit untuk dicapai karena yang mendominasi adalah bukan pertimbangan ilmiah obyektif akan tetapi kepentingan pemerintah atau kepentingan masyarakat/ LSM secara sepihak .
Sebagai seorang pengusaha atau investor , kemana dia harus berkonsultasi jika mereka akan melaksanakan studi AMDAL ?. Sebaiknya konsultasi dapat dilakukan di 3 (tiga) komisi penilai AMDAL, yaitu:
1. Komisi Penilai AMDAL Pusat
2. Komisi Penilai AMDAL Propinsi
3. Komisi AMDAL Kabupaten/ Kota. Tergantung dari jenis rencana kegiatan yang akan di studi AMDAL nya.

EVALUASI PROSES PENILAIAN DOKUMEN AMDAL
Proses dan prosedur penilaian AMDAL secara umum cukup baik yang ditandai dengan singkatnya waktu penilaian , memang waktu penilaian sangat tergantung dari kualitas KA dan dokumen AMDAL nya sendiri.

Kemampuan teknis dan obyektifitas dari penilaian
Anggota komisi penilai yang telah memiliki sertifikat kursus AMDAL A, B, dan C cukup baik secara teknis dan obyektif, lebih profesional serta anggota penilai yang pernah melakukan penyusunan AMDAL walaupun jumlahnya relatif tidak banyak. Anggota komisi penilai yang berasal dari institusi sektoral atau dari pemerintah daerah (bukan dari tim penilai tetap) sering belum banyak menguasai mengenai AMDAL. Penilaian oleh LSM dan wakil dari masyarakat kadang-kadang kurang obyektif. Tim teknis yang ikut duduk di dalam komisi penilai perlu lebih memahami peran bidangnya dalam AMDAL.

Evaluasi keterlibatan masyarakat.
Usaha melibatkan masyarakat dalam penilaian AMDAL cukup memadai dengan dilibatkannya LSM lokal dan Pemerintah daerah (Bappeda), dan tokoh masyarakat.

AMDAL DAN EKONOMI KERAKYATAN
Dengan dilaksanakannya AMDAL yang sesuai dengan aturan, maka akan didapatkan hasil yang optimal dan akan berpengaruh terhadap kebangkitan ekonomi. Kenapa demikian? Dalam masa otonomi daerah diharapkan pemerintah daerah menganut paradigma baru , antara lain:
1. Sumber daya yang ada di daerah merupakan bagian dari sistem penyangga kehidupan masyarakat, seterusnya masyarakat merupakan sumber daya pembangunan bagi daerah.
2. Kesejahteraan masyarakat merupakan satu kesatuan dan bagian yang tidak terpisahkan dari kelestarian sumber daya yang ada di daerah.
Dengan demikian maka dalam rangka otonomi daerah, fungsi dan tugas pemerintah daerah seyogyanya berpegang pada hal-hal tersebut dibawah ini:
1. Pemda menerima de-sentralisasi kewenangan dan kewajiban
2. Pemda meningkatkan pelayanan kepada masyarakat
3. Pemda melaksanakan program ekonomi kerakyatan
4. Pemda menetapkan kebijakan pengelolaan sumber daya di daerah secara konsisten.
5. Pemda memberikan jaminan kepastian usaha
6. Pemda menetapkan sumberdaya di daerah sebagai sumberdaya kehidupan dan bukan sumberdaya pendapatan

KEBERHASILAN IMPLEMENTASI AMDAL DI DAERAH.
Sebagai syarat keberhasilan implementasi AMDAL di daerah adalah:
1.Melaksanakan peraturan/ perundang-undangan yang ada
Contoh:
Sebelum pembuatan dokumen AMDAL pemrakarsa harus melaksanakan Keputusan Kepala Bapedal 8 tahun/ 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL yaitu harus melaksanakan konsultasi masyarakat sebelum pembuatan KA. Apabila konsultasi masyarakat berjalan dengan baik dan lancar, maka pelaksanaan AMDAL serta implementasi RKL dan RPL akan berjalan dengan baik dan lancar pula. Hal tersebut akan berimbas pada kondisi lingkungan baik lingkungan fisik/ kimia, sosial-ekonomi-budaya yang kondusif sehingga masyarakat terbebas dari dampak negatip dari kegiatan dan masyarakat akan sehat serta perekonomian akan bangkit.
2.Implementasi AMDAL secara profesional, transparan dan terpadu.
Apabila implementasi memang demikian maka implementasi RKL dan RKL akan baik pula. Implementai AMDAL, RKL dan RPL yang optimal akan meminimalkan dampak negatip dari kegiatan yang ada. Dengan demikian akan meningkatkan status kesehatan, penghasilan masyarakat meningkat dan masyarakat akan sejahtera. Selain itu pihak industri dan/atau kegiatan dan pihak pemrakarsa akan mendapatkan keuntungan yaitu terbebas dari tuntutan hukum ( karena tidak mencemari lingkungan ) dan terbebas pula dari tuntutan masyarakat ( karena masyarakat merasa tidak dirugikan ). Hal tersebut akan lebih mudah untuk melakukan pendekatan sosial-ekonomi-budaya dengan masyarakat di sekitar pabrik/ industri/ kegiatan berlangsung.

Sumber : http://mukono.blog.unair.ac.id/2009/09/09/analisis-mengenai-dampak-lingkungan-amdal-dan-faktor-recovery-ekonomi/

Artikel Benkyou Methods : Memahami Kecerdasan Anak Didik

Memahami Kecerdasan Anak Didik
Oleh : M. Lukmanul Hakim, S.Pd.I,

Seorang anak agar dapat hidup sukses harus memiliki disiplin, kerajinan dan ketekunan. Selain itu, untuk kesuksesan hidupnya, seorang anak juga membutuhkan kecerdasan sosial, pertemanan dan kemampuan menempatkan diri.

Kesuksesan ini tidak dapat diukur hanya dengan menjadi juara di kelasnya. Sebab menjadi juara kelas, bukan jaminan dapat hidup sukses di masa depan. Jika seorang anak saat ini kelihatan biasa-biasa saja, boleh jadi ada kecerdasan tertentu pada diri anak tersebut yang masih terpendam.
Menurut Gardner, Profesor Psikologi di Harvard Graduate School of Education, setidaknya ada delapan kecerdasan yang tertanam pada diri anak-anak. Kedelapan kecerdasan itu tidak berdiri sendiri-sendiri. Ada yang membaur menjadi satu. Ada anak memiliki delapan hal sekaligus, meski yang menonjol mungkin hanya satu atau dua saja.

Kedelapan hal ini sudah terpetakan oleh para pendidik di sekolah. Yakni kemampuan linguistik dan kecerdasan logika matematika. Namun selain itu, masih ada enam kecerdasan lainnya yaitu musik, gerak tubuh, spatial atau visual, interpersonal dan intrapersonal dan naturalistik.
Seorang guru tidak dapat mencap anak didiknya bodoh, hanya karena mereka tidak dikaruniai bakat matematika. Atau kurang pandai bertutur bahasa, bukankah sebenarnya bahasa cuma masalah komunikasi dan matematika hanyalah alat berpikir saja.
Pelajaran di sekolah, telah mencakup kecerdasan matematika, bahasa dan mungkin sedikit musik dan gerak. Orangtua perlu membimbing anaknya di rumah dan memberikan les tambahan guna merangsang tumbuhnya kecerdasan tersembunyi seperti spatial atau visual, gerak tubuh, intra-inter personal serta naturalistik.

Untuk menumbuhkan kecerdasan spatial dan gerak tubuh, bisa dilatih dengan kegiatan outbond atau memasukkan anak ke dalam kegiatan pramuka. Kebiasaan untuk membaca peta, merayap, memanjat, mencari jejak di alam dan memecahkan kode-kode rahasia menumbuhkan rangsangan pada kecerdasan.

Keterampilan personal dapat dilatih dengan terbiasa menang atau kalah dalam sebuah permainan. Kemampuan ini dapat berkembang menjadi kemampuan bernegoisasi bila besar nanti. Sedangkan naturalistik bisa dirangsang dengan mengenali tanda-tanda alam seperti hujan, gelombang ataupun angin serta awan.

Sumber: Hariansumutpos.Com

Benkyou Methods : 10 Tips Memprogram Pikiran Alam Bawah Sadar

Benkyou Methods adalah metode berfikir cepat yang menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan serta aktivasi potensi kecerdasan tersebunyi pada manusia.

Tips Memprogram Alam Bawah Sadar

Memprogram pikiran alam bawah sadar memerlukan beberapa cara yang akan membantu anda menjadi lebih baik dalam menciptakan kondisi pikiran dan tindakan yang lebih positif. Ada beberapa tips dalam program pikiran alam bawah sadar yaitu :

1. Kontrol segala sesuatu yang memasuki pikiran Anda.
Ketahuilah bahwa semua yang anda lihat, dengar dan merasakan langsung masuk ke pikiran bawah sadar Anda dan Anda harus mengelola informasi yang mungkin masuk Hilangkan informasi negatif sebanyak yang Anda bisa dengan membatasi jumlah berita yang Anda baca, berhenti melihat film kekerasan, baca saja informasi yang positif . Informasi positif yang mengalir ke dalam pikiran Anda dan bawah sadar Anda secara alami akan menjadi lebih positif.

2. Berbicara dengan baik kepada diri sendiri.
Ketika Anda melihat di cermin apakah Anda seperti apa you8 lihat? Apakah Anda pujian Anda pada atribut Anda yang paling menonjol? Menghentikan semua pembicaraan negatif untuk diri sendiri segera. Anda adalah ciptaan Allah yang sempurna dan Anda memiliki sifat-sifat indah yang perlu mengakui. Ingatkan diri Anda mata besar atau senyum kemenangan Anda – apa pun yang membuat Anda berbeda dari orang lain dengan cara yang positif. Bawah sadar Anda akan berterima kasih.

3. Kelilingi diri Anda dengan orang-orang positif.
Orang-orang negatif dengan cepat dapat menyebabkan pikiran negatif. Pastikan kelompok teman dan orang-orang yang mencintai dan mengagumi Anda adalah orang yang hebat untuk Anda. Menghilangkan waktu yang dihabiskan dengan siapa pun yang membawa Anda menjadi gagal. Anda tidak mampu memprogram pikiran bawah sadar Anda hanya untuk mempertahankan persahabatan yang negatif.

4. Gunakan afirmasi untuk keuntungan Anda dan waktu optimal ke dalam pikiran bawah sadar Anda
Segera setelah bangun dan segera setelah tidur adalah saat ketika pikiran sadar dan bawah sadar Anda yang terbaik. Gunakan afirmasi positif pada saat-saat super-program alam bawah sadar. Beberapa contoh afirmasi positif adalah:

Saya memiliki daya kreatif yang mewujudkan semua keinginan saya.
Uang adalah teman saya. Saya punya banyak uang.
Aku bebas mengekspresikan kreativitas.

5. Bersyukurlah.
Oprah Winfrey telah melakukan pekerjaan luar biasa mengingatkan kita semua betapa pentingnya untuk memiliki rasa syukur dalam hidup kita. Memiliki rasa syukur memungkinkan kita untuk menyadari anugrah yang sudah kita miliki dan membuat kita terbuka untuk menerima lebih banyak. Buatlah daftar segala sesuatu yang Anda syukuri dan tingkatkan daftar ini seiring waktu. Pikiran bawah sadar Anda perlu tahu apa yang Anda syukuri sehingga dapat mewujudkan lebih banyak untuk Anda.

6. Kelola waktu Anda.
Ada dua puluh empat jam dalam sehari untuk semua orang. Orang kaya dan miskin semua memiliki jumlah waktu yang sama – perbedaannya adalah dalam cara mereka menggunakan waktu mereka. Pada hari pertama setiap bulan, rencanakan apa yang ingin Anda capai. Pada awal setiap minggu, membuat daftar yang mendukung rencana Anda bersama dengan semua tugas-tugas yang diperlukan. Harian, membuat daftar tugas untuk mencapai semua yang tersebut di atas. Pikiran bawah sadar Anda perlu melihat semua prestasi kecil yang diperlukan untuk perkembangan lanjutan.

7. Kelilingi diri Anda dengan hal-hal favorit Anda.
Mulailah hari ini menempatkan hal-hal favorit Anda dalam tampilan penuh di rumah Anda. Apakah itu foto keluarga, cerita perjalanan Anda atau memorabilia olahraga. Anda harus benar-benar nyaman di rumah dan pikiran bawah sadar Anda akan mendapatkan keuntungan baru. Anda merasa nyaman dan kedamaian akan Anda miliki di rumah ketika Anda memiliki hal-hal favorit di sekitar Anda.
8. Sisihkan waktu untuk Anda.
Setiap orang membutuhkan waktu untuk bercermin. Apakah Anda berdoa, bermeditasi, berlatih yoga, atau hanya membaca informasi positif. Sisihkan satu jam setiap hari untuk diri sendiri. Pikiran bawah sadar Anda perlu tahu betapa pentingnya Anda. Banyak yang percaya tidak ada jam gratis dalam sehari untuk diri mereka sendiri. Apakah Anda harus bangun satu jam lebih awal atau tidur satu jam kemudian setelah satu jam yang merupakan cara penting untuk menjernihkan pikiran dan membuka diri untuk kemungkinan pikiran bawah sadar Anda dapat menerima.

9. Jadilah orang yang Anda kagumi.
Buatlah daftar yang paling Anda kagumi pada orang lain dan memasukkan ini ke dalam hidup Anda sendiri – satu per satu. Setelah Anda mulai mengagumi diri sendiri, pikiran bawah sadar Anda akan memiliki pendapat yang lebih tinggi dari Anda juga.

10. Pertahankan semangat.
Jangan biarkan tekanan setiap hari membawa Anda down. Tinggalkan hal negatif dari kehidupan yang bisa menjadi buruk sehingga mempengaruhi pikiran bawah sadar Anda. Menjaga semangat yang positif akan membuat pikiran bawah sadar.
sumber : http://cakrawalai.blogspot.com/2012/04/10-tips-memprogram-pikiran-alam-bawah.html

Benkyou Methods : Menyingkap Rahasia Alam Bawah Sadar

Menyingkap Rahasia Alam Bawah Sadar, Otak sadar manusia layaknya bongkahan gunung es yang muncul di permukaan. Selebihnya berupa alam bawah sadar yang memiliki kekuatan maha dahsyat. Banyak keberhasilan bisa diperoleh dari mengelola alam bawah sadar.
…..
Pernahkah kita berpikir sejauh mana kemampuan otak kita? Yang kita pahami selama ini, kemampuan otak kita hanyalah secara analistik, namun ki¬ta tak pernah menyadari bahwa kemam¬puan otak manusia tak hanya sekedar analistik. Ada banyak hal yang bisa diungkapkan dalam otak.
 
Secara garis besar, otak manusia terbagi dalam dua bagian, otak kanan dan otak kiri. Otak kiri memproses segala macam angka, matematika, bahasa, hitung-hitungan dan sebagainya. Sementara otak kanan, memproses segala macam keindahan, tata kata tak lagi tersusun secara verbal. Musik dan warna-warna indah adalah basil kerja otak kanan.
 

Hanya sebatas itukah otak kita? Tidak. Laiknya gunung es yang muncul di per¬mukaan, yang tampak hanya 12 persen saja, 88 persen sisanya masih tenggelam di dalam lautan. Yang 12 persen itu dise-but sebagai alam atau pikiran sadar (conscious mind). Sisanya, 88 persen, disebut alam bawah sadar (subconsious). Antara alam sadar dan bawah sadar dibatasi se-buah garis filter yang disebut reticular activating system. Garis ini berfungsi melindungi manusia dari informasi-inforrnasi yang tak perlu, sehingga seseorang tetap terlihat sadar dan waras. Nah, selama ini, kemampuan otak yang digunakan oleh manusia hanya 12 persen, sisanya tenggelam dalam diri kita.

Bayangkan, dengan 12 persen dari keseluruhan otak manusia, kita sudah sedemikian hebat. Bisa hitung-hitungan, bisa menelorkan gagasan-gagasan managemen yang begitu spetakuler, mampu menghasilkan sebuah tayangan televisi fenomenal, dan sebagainya. Lalu bagai-mana kalau kemampuan otak yang 88persen itu kita bisa manfaatkan? Hasilnya tentu saja lebih luar biasa.

“Alam bawah sadar kita sangat kuat sekali. Dalam proyeksi kehidupan, alam bawah sadar ini merupakan sebuah gudang yang luas, yang menyimpan semua pengalaman hidup kita, citra diri kita,” demikian kata RB Sentanu, Direktur Mind Management Center dari Katahati Institute, Jakarta.

Nunu, begitu kerap dia disapa, mengungkapkan alam bawah sadar bisa terprogram. Dan, kata-kata yang negatif lebih cepat diserap dan tersimpan dalam gudang alam atau pikiran bawah sadar. Sebagai contoh, seperti yang dialami Yudi Sujana, seorang Direktur Lembaga Pendidikan Bahasa Asing Interlingua Bandung. Ketika duduk di sekolah dasar, guru Yudi terlihat putus asa melihat nilai matematikanya selalu empat. Sang guru pun berkata, “Kamu bodoh, tak bisa hitung-hitungan.” Seiring pertumbuhan di-rinya, Yudi pun membenci matematika dan merasa bodoh di bidang yang satu ini. “Sebetulnya, ketika dibilang bodoh, tanpa disadari kita mencitrakan diri se¬bagai orang bodoh, dan alam bawah sadar mengambil alih pencitraan diri Anda. Setiap kali Anda mencoba menghitung dan merasa bodoh, alam bawah sadar memasuki pikiran Anda, mengatakan bahwa Anda tidak bisa matematika,” urai Nunu.

Kekuatan alam atau pikiran bawah sadar begitu besar. Kekuatan pikiran bawah sadar dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan tiga sampai tujuh kali lebih cepat, dengan skill relaksasi sebagai keuntungan tambahan. “Jika kita mam pu memanfaatkan gudang kehidupan kita yang begitu besar itu, bayangkan pula bagaimana kehidupan kita kelak,” kata Nunu.

Dan, untuk menularkan ke-mampuan menyingkap kekuatan pikiran bawah sadar itu, pada 1988, bersama kawan-kawannya, Nunu mendirikan Katahati Institute. Lembaga ini bertujuan membantu dan melayani sesama manusia yang memiliki niat untuk berubah dan memutuskan untuk menjadikan dirinya sebagai titik-awal perubahan itu. “Terobosan teknologi penggunaan otak dan pikiran saat ini luas terbukti menentukan keunggulan seseorang dalam profesinya masing-masing,” tutur Nunu.

Bagaimana teknik mengeksplorasi otak dan pikiran tersebut? Sebagai langkah awal, maka perlu dipahami kondisi otak manusia. Yakni, terbagi dalam empat bagian, beta, alpha, theta dan delta.

Kondisi delta adalah kondisi pada saat manusia sedang tidur. Kecepatan gelombang otak pada saat tidur hanya 0,5 sam-pai 3,5 putaran perdetik. Kondisi delta diperlukan oleh tubuh, karena pada saat itu tubuh kita melakukan peremajaan terhadap sel-sel tubuh. Tentu saja, dalam hal ini tertidur lelap, bila kondisi tidak dalam tertidur nyenyak, maka yang terjadi adalah sebagian anggota tubuh kita tidak melakukan peremajaan atau pe-nyembuhan, akibatnya kita sering mengalami rasa sakit saat bangun tidur.

Kondisi theta adalah saat gelombang otak manusia mencapai 3,5 sampai 7 putaran perdetik. Pada saat otak dalam kondisi theta, pikiran pun menjadi kreatif dan inspiratif. Keadaan theta adalah di mana kita bisa bermimpi, berkhayal, dan kalau kita sadari sejumlah filsuf ataupun ilmuwan seperti Thomas Alfa Edison menciptakan sebuah karya spetakuler dalam keadaan Theta. Keadaan theta yang sangat sugestif adalah saat tubuh menyembuhkan dirinya sendiri, seorang penderita kanker bi¬sa sembuh karena menempatkan dirinya dalam kondisi theta. Keadaan theta bisa dibentuk pada saat meditasi. Dalam ke¬adaan theta, pikiran akan menjadi sa¬ngat jernih, bahkan tubuh kita pun tak terasa, begitu juga dengan kaki, tangan.

Kondisi yang paling penting untuk menembus pikiran bawah sadar adalah alpha. Dalam kondisi alpha kita bisa membuka pintu gerbang menuju 88 persen kekuatan alam bawah sadar. Kondisi alpha adalah kondisi yang sangat rileks atau sama persis ketika kita berkhayal dan melamun. Kecepatan gelombang alpha mencapai 7 sampai 13 putaran perdetik. Yang membedakan kondisi alpha dengan theta adalah kesadaran kita, alpha masih merasakan anggota tubuh kita.

Sementara kondisi beta adalah kondisi di mana kita bisa sepenuhnya sadar. Dalam kehidupan sehari-hari saat kita terbangun dan memulai aktivitas, maka kondisi tersebut dapat dikatakan sebagai kondisi beta.

Lalu bagaimana cara menembus pikir¬an bawah sadar kita? Cara yang mudah adalah membalikkan mata kita ke atas dan memejamkan mata, lalu pikiran pun membawa kita ke dalam kondisi alpha, melarutkan kita dalam suasana yang nyaman dan penuh ke dalam kedamaian. “Bayangkanlah sebuah rumah penuh kedamaian, rumah yang nyaman, rumah impian. Lelapkan diri kita ke sebuah kursi yang membawa kita merasa terlena dan sangat nyaman,” tutur Nunu.

Kondisi alpha pun dapat terbangun melalui meditasi. Meditasi yang sempurna adalah kedua telapak tangan saling membuka, pada saat itulah energi alam akan menyatu dan berputar dalam keseluruhan tubuh. Ditunjang sebuah musik yang indah dan syahdu, suasana alpha akan mudah terbangun.

Dalam keadaan alpha, sebuah pintu ke alam bawah sadar terbuka. Saat masuk dan menjelajah alam bawah sadar, kita bisa memprogram hidup kita seperti apa yang kita mau. “Aku bergaji Rp 20 juta bulan April, bahasa seperti itulah yang harus kita ungkapkan,” ungkap Yudi Sujana. Atau, “Aku menikah bulan Januari dengan Mariana.”

Yang perlu diketahui, menurut Nunu, pikiran bawah sadar tidak pernah mengetahui perbedaan antara imajinasi dengan kenyataan. Pikiran bawah sa¬dar tidak pernah memiliki mekanisme untuk mengetahui hal-hal yang nyata ataupun bukan. Ada empat hukum pikiran bawah sadar, yaitu positif, kalimat saat ini (present tense), bersifat pribadi, dan pengulangan. Dalam memprogram diperlukan emosi positif dengan mencurahkan segenap jiwa. Saat meditasi, ki¬ta harus membayangkan bahwa keingi-nan kita benar-benar terjadi. Ketika menginginkan menikah, maka pikiran alam bawah sadar kita tuntun dan ciptakan sebuah visual yang indah. Begitu juga saat kita menginginkan gaji Rp 20 juta perbulan, maka visualisasikan da¬lam alam pikiran bahwa kita menerima uang sebanyak itu. Jangan sekali-kali menyebutkan kata-kata, “Aku ingin.” Sebab Beta akan mengacaukan keinginan yang disebut dalam Alpha.

Sifat Beta selalu meragukan. Kondisi Beta akan mendorong kita untuk merasa ragu melakukan sesuatu. Karena itu, alam bawah sadar memerlukan sifat tegas, tentu saja dibarengi dengan unsur emosi yang kuat, dalam hal ini hindari emosi negatif, tetapi gunakan emosi posi¬tif.

Deni Puspahadi, Humas PT Indofood Tbk, telah membuktikan ucapan Nunu. Lajang yang selalu tampil energik ini mengaku mendapatkan manfaat yang sa¬ngat positif dari berlatih mengelola alam bawah sadar dengan meditasi. Setidaknya, kini ia lebih mampu berkonsentrasi, fokus pada persoalan-persoalannya, dan begitu mudah menyelesaikan persoalan yang dulu dianggapnya begitu rumit. Kini, jika dirinya diserang stres, dengan mudah ia mengusir rasa stres itu hanya dalam waktu satu menit. “Segalanya jadi terasa begitu mudah dan indah, seindah kita menjalani hidup ini,” urainya penuh senyum.

Penulis :SUKOWATI UTAMI DAN SRI WULANDARI

Disalin  dan diposkanoleh M. Lukmanul Hakim S.Pd.I, sumber : http://erbesentanu.com/holistic-success/56-menyingkap-rahasia-alam-bawah-sadar

 

Artikel Benkyousimasu Methods : Cara Agar Otak Tetap Cerdas

Artikel Benkyosimasu Methods posting by M. Lukmanul Hakim, S.Pd.I.

Bertambahnya usia, seseorang sering kali mengeluhkan pada kemampuan otak nya, tidak lagi cekatan dan cerdas seperti masa mudanya, banyak sekali yang kemudian mencari solusi atau cara agar otak tetap cerdas. Nah kali ini kita akan bahas mengenaicara agar otak tetap cerdas tersebut.

Nah tentunya latihan dan merubah gaya hidup yang kurang bagus menjadi lebih bagus untuk mencajaga agar otak tetap cerdas perlu dilakukan, apa itu ? Berikut 9 Cara Agar Otak tetap cerdas :
  1. Menarilah, dengan menari kita akan memberikan stimulan kepada otak untuk tetap bekerja, secara global menari membutuhkan ingatan, koordinasi gerakan, keseimbangan motorik, serta mengkoordinir organ tubuh dalam upayanya menimbulkan bahasa tubuh yang inda, hal ini akan sangat baik untuk menjaga agar otak tetap cerdas.
  2. Olah raga, otak seperti halnya dengan organ tubuh yang lain memerlukan asupan darah dengan kualitas prima untuk membentul sel-selnya, dengan melakukan olah raga rutin mampu memacu penggantian sel-sel neuron dalam otak manusia, yang artinya ini akan membuat otak tetap cerdas lebih lama.
  3. Budayakan sarapan dengan telur, telur mengandung sangat banyak vitamin B, membantu sel saraf membakar glukosa, dan menjadikanya sumber makanan bagi otak, memberika efek anti oksidan bagi otak, serta mampu melindungi neuron dalam otak, dengan demikian kualitas otak terjaga, dan tetnunya Otak tetap cerdas lebih lama.
  4. Berganti-gantilah hal yang dilakukan, ini akan membuat seluruh otak berfungsi secara bergantian, jika kita mengerjakan sesuatu hal secara monoton, maka otak akan lekas jenuh tanpa penyegaran, cobalah melakukan suatu pekerjaaan dengan cara yang berbeda, ini juga bisa membuat Otak Tetap Cerdas.
  5. Cukupi nutrisi otak anda, anti oksidan sangat mempengaruhi kinerja otak kita, dengan buah buhan serta air yang cukup akan membantu melindungi kerusakan otak dini, ini yang biasa menimbulkan pikun dini, dan ganggungan penyakit otak lainya seperti mudah stress dan lain-lain.
  6. Tidur yang cukup, saat tidur ternyata otak merangkai semua informasi-informas yang didapatkan, kinerja otak pada orang yangtidur minimal 7 jam/ hari ternyata lebih baik dari pada yang kurang dari itu.
  7. membaca, adalah kegitan rutin yang harus terus dilakukan, karena dengan membaca secara rutin, otak kita akan bekerja konstant mengumpulkan informasi dan kemudia menyimpannya.
  8. Mempelajari bahasa lain yang belum dikuasai,Belajar bahasa lain tampaknya dapat meningkatkan kepadatan materi abu-abu di bidang otak yang mengatur perhatian dan memori, kata peneliti Ellen Bialystok, Ph.D.
  9. Jagalah kebersihan mulut, mulut yang tidak bersih ternyata membawa berjuta2 bakteri yang mampu dibawa darah menuju organ-oragan vital manusia, termasuk otak, dengan mencajaga kesehatan dan kebersihan mulut, maka secara otomatis kita juga menjaga kesehatan otak kita sehingga otak tetap cerdas.

sumber : http://blogdokter-indonesia.blogspot.com/2012/03/cara-agar-otak-tetap-cerdas.html

Makalah : PRODUK-PRODUK PERBANKAN SYARI’AH BERDASARKAN PRINSIP JUAL-BELI, rinastkip

PRODUK-PRODUK PERBANKAN SYARI’AH

BERDASARKAN PRINSIP JUAL-BELI

Oleh : M. Arif Hakim el-Hakam, M.Ag

Pendahuluan

Dalam beberapa hal, bank konvensional dan perbankan syari’ah memiliki persamaan, terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan, proposal, laporan keuangan dan sebagainya. Akan tetapi, terdapat banyak perbedaan mendasar di antara keduanya. Perbedaan itu menyangkut aspek legal, struktur organisasi, usaha yang dibiayai dan lingkungan kerja.[1] Di samping itu, paradigma yang dipakai juga berbeda. Bank konvensional hanya sebagai lembaga perantara keuangan (intermediary financial institution), sehingga tidak boleh berdagang. Sedangkan perbankan syari’ah, di samping sebagai lembaga perantara keuangan, juga melakukan perdagangan misalnya melalui jual-beli murabahah.

Landasan syari’ah perbankan syari’ah adalah ketentuan-ketentuan hukum mu’amalat, khususnya menyangkut hukum perjanjian (akad). Ada sejumlah akad yang dijadikan landasan bagi operasionalisasi perbankan syari’ah, seperti jual-beli (al-bai’) dengan berbagai jenisnya, sewa-menyewa (al-ijarah), perkonsian (al-musyarakah), bagi hasil (al-mudarabah), gadai (al-rahn), hutang-piutang (al-qard), pemindahan hutang (al-hiwalah), penanggungan hutang (al-kafalah), dan pemberian kuasa (perwakilan, al-wakalah).

Bentuk-bentuk akad jual-beli yang telah dibahas para ulama dalam fiqih mu’amalah terbilang sangat banyak. Jumlahnya bisa mencapai belasan jika tidak puluhan. Sungguhpun demikian, dari sekian banyak itu, ada tiga jenis jual-beli yang telah banyak dikembangkan sebagai sandaran pokok dalam pembiayaan modal kerja dan investasi dalam perbankan syari’ah, yaitu bai’ al-murabahah, bai’ al-salam, dan bai’ al-istisna.[2] Dan secara khusus, produk yang dihasilkan dari sistem jual-beli dan margin keuntungan adalah bai’ al-murabahah dan al-bai’ bi saman ajil.[3]

Batasan dan Rumusan Masalah

            Makalah ini tidak berusaha membahas sejarah perbankan Islam (syari’ah) di dunia (Islam) secara komprehensif dan luas tetapi hanya memfokuskan pada sejarah perbankan syari’ah di Indonesia. Di samping itu, makalah ini hanya membahas produk-produk yang ditawarkan oleh perbankan syari’ah di Indonesia berdasarkan prinsip jual-beli.

Berdasarkan uraian dalam pendahuluan dan batasan masalah di atas, maka makalah ini diusahakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

  1. Bagaimana sejarah perbankan syari’ah di Indonesia ?
  2. Produk-produk apa yang ditawarkan oleh perbankan syari’ah berdasarkan prinsip jual-beli ?
  3. Apa yang harus dilakukan untuk pengembangannya pada masa yang akan datang ?

 

Metode Penulisan

Tulisan dalam makalah ini bersifat literer (library research), sehingga pengumpulan datanya lebih banyak dilakukan di perpustakaan. Kemudian data tersebut diolah dengan metode deskriptif-analitis,[4] yaitu dengan berusaha memaparkan data-data tentang suatu hal/masalah dengan analisa dan interpretasi yang tepat untuk memberikan gambaran konsepsional mengenai sejarah perbankan syari’ah di Indonesia khususnya produk-produk yang ditawarkan berdasarkan prinsip jual-beli.

Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan historis, dan teknik pengumpulan data yang tepat adalah teknik penelusuran naskah. Metode deduktif dan induktif digunakan untuk menganalisis beberapa data yang diperoleh pada tahap-tahap penelitian.

 

Sejarah Perbankan Syari’ah di Indonesia

Istilah bank Islam atau bank syari’ah merupakan fenomena baru dalam dunia ekonomi modern, kemunculannya seiring dengan upaya gencar yang dilakukan oleh para pakar Islam dalam mendukung ekonomi Islam yang diyakini akan mampu mengganti dan memperbaiki sistem ekonomi konvensional yang berbasis pada bunga. Karena itulah sistem bank Islam menerapkan sistem bebas bunga (interest free) dalam opersionalnya, dan karena itu rumusan yang paling lazim untuk mendefinisikan bank Islam adalah “bank yang beroperasi sesuai prinsip-prinsip syari’ah Islam dengan mengacu kepada al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai landasan dasar hukum dan operasional”.[5] Definisi bank Islam dengan melihat fungsinya sebagai suatu lembaga atau badan keuangan adalah : “lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberi kredit dan jasa-jasa dalam lalu-lintas pembayaran serta peredaran uang yang sistem operasionalnya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syari’ah Islam”.[6]

Berkembangnya bank-bank syari’ah di negara-negara Islam berpengaruh ke Indonesia. Pada awal periode 1980-an, diskusi mengenai bank syari’ah sebagai pilar ekonomi Islam mulai dilakukan. Para tokoh yang terlibat dalam kajian tersebut adalah Karnaen A. Perwataatmadja, M. Dawam Rahardjo, A. M. Saefuddin, M. Amien Aziz, dan lain-lain.[7] Beberapa uji coba pada skala yang reelatif terbatas telah diwujudkan. Di antaranya adalah Bait al-Tamwil Salman, Bandung, yang sempat tumbuh mengesankan. Di Jakarta juga dibentuk lembaga serupa dalam bentuk koperasi, yakni Koperasi Ridho Gusti.

Akan tetapi, prakarsa lebih khusus untuk mendirikan bank Islam di Indonesia baru dilakukan pada tahun 1990. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18-20 Agustus 1990 menyelenggarakan Lokakarya Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Hasil lokakarya tersebut dibahas lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV MUI yang berlangsung di Hotel Sahid Jakarta, 22-25 Agustus 1990. Berdasarkan amanat Munas IV MUI, dibentuk kelompok kerja untuk mendirikan bank Islam di Indonesia.[8]

Bank Muamalat Indonesia lahir sebagai hasil kerja Tim Perbankan MUI tersebut di atas. Akte Pendirian PT Bank Muamalat Indonesia ditandatangani pada tanggal 1 Nopember 1991. Pada saat penandatanganan akte pendirian ini, terkumpul komitmen pembelian saham sebanyak Rp. 84 miliar. Pada tanggal 3 Nopember 1991, dalam acara silaturrahim Presiden di Istana Bogor, dapat dipenuhi dengan total komitmen modal disetor awal sebesar Rp. 106.126.382.000,00. Dengan modal awal tersebut, pada tanggal 1 Mei 1992, BMI mulai beroperasi.[9]

Indonesia sebagai negara Islam yang terbesar mulai mengoperasikan bank Islam di awal 90-an. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang membuat negara kita terlambat dalam pengembangan perbankan Islam, yaitu :

  1. Adanya kendala dasar hukum yang belum memungkinkan pengembangan perbankan syari’ah dilakukan, dimana dalam UU No. 14 tahun 1967 tentang pokok-pokok perbankan tidak mengenal Bank Syari’ah. Hal ini tentunya dalam kenyaatan menjadi kendala bagi perbankan syari’ah sebagai salah satu instrumen ekonomi.[10]
  2. Adanya perbedaan di kalangan ulama mengenai bunga.
  3. Indonesia mempunyai kondisi sosial politik yang kurang kondusif, yaitu belum adanya political will dari pemerintah, tingkat heterogenitas masyarakat Indonesia yang cukup tinggi dan komitmen serta tanggungjawab yang harus dipikul karena mencantumkan label syari’ah.[11]

Bank syari’ah dalam sistem perbankan Indonesia secara formal telah dikembangkan sejak tahun 1992 dengan diberlakukannya UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan. Namun demikian, UU tersebut belum memberi landasan hukum yang kuat terhadap pengembangan bank Islam/syari’ah karena belum secara tegas mengatur keberadaan bank berdasarkan prinsip syari’ah melainkan bank bagi hasil. Pengertian bank bagi hasil yang dimaksudkan dalam UU Perbankan No. 7 tahun 1992 belum mecakup secara tetap pengertian bank Islam yang memiliki cakupan lebih luas dari bank bagi hasil. Demikian pula dengan ketentuan operasional yang lengkap yang secara khusus mengatur kegiatan bank Islam. Pada awal pendirian BMI, keberadaan bank syari’ah ini belum mendapat perhatian yang optimal dalam tatanan industri perbankan nasional. Hal ini sangat jelas tercermin dari UU No. 7 tahun 1992, di mana pembahasan perbankan dengan sistem bagi hasil diuraikan hanya sepintas lalu dan merupakan “sisipan” belaka.

Pemberlakuan UU perbankan No. 10 tahun 1998 yang mengubah UU No. 7 tahun 1992 yang diikuti dengan dikeluarkannya sejumlah ketentuan pelaksanaan dalam bentuk SK Direksi BI/Peraturan Bank Indonesia telah memberi landasan hukum yang lebih kuat dan kesempatan yang lebih luas bagi pengembangan perbankan syari’ah di Indonesia. Perundang-undangan tersebut memberi kesempatan yang luas untuk pengembangan jaringan perbankan Islam antara lain melalui izin pembukaan kantor cabang syari’ah (KCS) oleh bank konvensional. Dengan kata lain, bank umum dimungkinkan untuk menjalankan kegiatan usahanya secara konvensional dan sekaligus dapat melakukannya berdasarkan prinsip syari’ah.[12]

Selain itu, UU No. 13 tahun 1999 tentang Bank Indonesia juga mengizinkan BI mempersiapkan perangkat peraturan atau fasilitas-fasilitas penunjang yang mendukung operasional bank Islam. Kedua UU tersebut di atas menjadi dasar hukum penerapan Dual Banking System di Indonesia. DBS yang dimaksud adalah terselenggaranya dua sistem perbankan (konvensional dan syari’ah) secara berdampingan dalam melayani perekonomian nasional yang pelaksanaannya diatur dalam berbagai peraturan yang berlaku.[13]

 

 

 

Produk-produk Perbankan Syari’ah Berdasarkan Prinsip Jual-Beli

1. Bai’ al-Murabahah dan Bai’ bi Saman Ajil

Terdapat beberapa istilah yang kadang-kadang dicampurbaurkan satu sama lain atau bahkan dikacaukan pemakaiannya dan bukan hanya sekedar sinonim, yaitu bai’ al-muajjal, bai’ al-murabahah dan bai’ bi saman ajil. Di Indonesia digunakan istilah bai’ al-murabahah dan bai’ bi saman ajil. Kedua istilah ini dibedakan di mana yang pertama dimaksudkan pembiayaan dalam bentuk jual-beli berdasarkan harga pokok ditambah margin keuntungan dengan pembayaran dibelakang sekaligus. Sedangkan yang kedua dimaksudkan pembiayaan dalam bentuk jual-beli berdasarkan harga pokok ditambah margin keuntungan dengan pembayaran di belakang juga, tetapi secara mencicil dan tidak sekaligus.[14]

Kedua macam transaksi tersebut disebut dengan nama bai’ al-muajjal (jual beli dengan pembayaran di belakang), sehingga dengan demikian bai’ al-muajjal mencakup bai’ al-murabahah dan bai’ bi saman ajil. Hal ini karena kedua jenis pembiayaan tersebut, menurut yang berlaku di Indonesia, pembayarannya di belakang. Perbedaannya hanya pada secara sekaligus atau mencicil. Jadi, bai’ bi saman ajil merupakan second derivation/pengembangan dari murabahah. Hal ini tampak jelas dari unsur waktu pembayarannya.[15]

Akad  bai’ al-murabahah juga mirip (tidak sama) dengan akad Kredit Modal Kerja yang biasa diberikan oleh bank konvensional, dan karenanya pembiayaan al-murabahah berjangka waktu di bawah satu tahun (short run financing).[16]

Dasar hukum yang dijadikan sebagai landasan murabahah adalah merujuk pada dasar hukum jual-beli :

[17]” وأحل اللة البيع وحرم الربا”

Dalam hadis Rasulullah juga ditegaskan :

” ثلاث فيهن البركة: البيع إلى أجل والمقارضة وخلط البر بالشعير للبيت لا للبيع “

Operasionalisasi produk ini di Indonesia didasarkan atas fatwa DPS BMI No. BMI-16/FAT-DPS/XI/96 tentang pembiayaan murabahah, tertanggal 27 Nopember 1996 M atau bertepatan 16 Rajab 1417 H. Fatwa ini ditandatangani oleh DPS BMI, terdiri atas KH. Hasan Basri (ketua merangkap anggota), KH. Ali Yafie (anggota), Drs. KH. Ahmad Azhar Basyir, MA. (anggota), Prof. KH. Ibrahim Hossen (anggota) dan Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab (anggota). Pertimbangan ekonomis yang dipakai adalah bahwa masyarakat pengusaha banyak yang memerlukan bantuan penyaluran dana dari bank berdasarkan pada prinsip jual-beli untuk mendukung modal kerja yang diperlukan guna melangsungkan dan meningkatkan produksi. Adapun pertimbangan legal-yuridisnya adalah UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan dan PP No. 72 tahun 1992 tentang bank bagi hasil.

Secara teknis, akad bai’ al-murabahah tersebut terlaksana dengan kedatangan nasabah ke bank syari’ah dan mengajukan permohonan Pembiayaan al-Murabahah untuk pembelian suatu barang dan menyatakan kesanggupan untuk membeli barang tersebut. Setelah melihat kelayakan nasabah untuk menerima fasilitas pembiayaan tersebut, maka bank menyetujui permohonannya. Bank kemudian membelikan atau menunjuk nasabah sebagai agen bank untuk membeli barang yang diperlukannya atas nama bank dan menyelesaikan pembayaran harga barang dari biaya bank. Bank seketika itu juga menjual barang tersebut kepada nasabah pada tingkat harga yang disetujui bersama (yang terdiri dari harga pembelian ditambah mark-up atau margin keuntungan) untuk dibayar dalam jangka waktu yang telah disetujui bersama. Dan pada waktu jatuh tempo, nasabah membayar harga jual barang yang telah disetujui tersebut kepada bank.[18]

Adapun rukun bai’ al-murabahah di dalam perbankan sama dengan rukun jual-beli dalam kitab fiqih dan hanya dianalogkan dalam praktek perbankan, yaitu:

  1. Penjual (al-bai’) dianalogkan sebagai bank;
  2. Pembeli (al-musytari) dianalogkan sebagai nasabah;
  3. Barang yang akan diperjual belikan (al-mabi’), yaitu jenis barang pembiayaan;
  4. Harga (al-saman) dianalogkan sebagai pricing atau plafond pembiayaan;
  5. Ijab dan qabul dianalogkan sebagai akad atau perjanjian, yaitu pernyataan persetujuan yang dituangkan dalam akad perjanjian.[19]

Sedangkan syarat-syaratnya disesuaikan dengan kebijakan bank syari’ah yang bersangkutan, yang pada umumnya persyaratan menyangkut barang yang diperjual-belikan, harga dan ijab-qabul.[20]

Bai’ al-murabahah dapat dilakukan secara pemesanan dengan cara janji untuk melakukan pembelian (al-wa’d bi al-bai’). Janji pemesan untuk membeli barang dalam bai’ al-murabahah bisa merupakan janji yang mengikat, bisa juga tidak. Para ulama klasik bersepakat bahwa pemesan tidak boleh diikat untuk memenuhi kewajiban membeli barang yang telah dipesan itu disertai alasan secara rinci mengenai pelarangan tersebut. Akan tetapi beberapa ulama kontemporer berpendapat bahwa janji untuk membeli barang tersebut bisa mengikat pemesan. Hal ini demi menghindari “kemadharatan”. Terlebih lagi bila nasabah bisa “pergi” begitu saja akan sangat merugikan pihak bank atau penyedia barang.[21]

Dalam hal ini, pembeli dibolehkan meminta pemesan membayar uang muka atau tanda jadi (arboun dalam istilah beberapa bank Islam) saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan. Uang muka adalah jumlah yang dibayar oleh pemesan yang menunjukkan bahwa ia bersungguh-sungguh atas pesanannya tersebut. Adapun uang muka akan diperhitungkan sesuai besar kerugian aktual pembeli. Bila kemudian pemesan menolak untuk membeli aset tersebut, biaya riil pembeli harus dibayar dari uang muka. Bila nilai uang muka tersebut lebih sedikit dari kerugian yang harus ditanggung pembeli, pembeli dapat meminta kembali sisa kerugiannya pada pemesan. Sedangkan bila uang muka melebihi kerugian, pembeli (penerima pesanan) harus mengembalikan kelebihan itu kepada pemesan.

Untuk menjaga agar pemesan tidak main-main dengan pesanan maka diperbolehkan meminta jaminan. Si pembeli (penyedia pembiayaan/bank) dapat meminta pemesan (pemohon/nasabah) suatu jaminan (rahn) untuk dipegangnya. Dalam teknis operasionalnya, barang-barang yang dipesan dapat menjadi salah satu jaminan yang bisa diterima untuk pembayaran hutang.[22]

Murabahah dengan pemesanan umumnya dapat diterapkan pada produk pembiayaan untuk pembelian barang-barang investasi, baik domestik maupun luar negeri, seperti melalui letter of credit (L/C). Skema ini paling banyak digunakan karena sederhana dan tidak terlalu asing bagi yang sudah biasa bertransaksi dengan dunia perbankan pada umumnya. Kalangan perbankan syari’ah di Indonesia banyak menggunakan al-murabahah secara berkelanjutan (roll over/evergreen) seperti untuk modal kerja. Padahal sebenarnya, al-murabahah adalah kontrak jangka pendek dengan sekali akad (one short deal). Al-murabahah tidak tepat diterapkan untuk skema modal kerja. Tetapi mudarabah lebih sesuai untuk skema tersebut. Hal ini mengingat prinsip mudarabah memiliki fleksibilitas yang sangat tinggi.[23]

Sesuai dengan sifat bisnis (tijarah), transaksi bai’ al-murabahah memiliki beberapa manfaat, demikian juga resiko yang harus diantisipasi. Bai’ al-murabahah memberi banyak manfaat kepada bank syari’ah. Salah satunya adalah adanya keuntungan yang muncul dari selisih harga beli dari penjual dengan harga jual kepada nasabah. Selain itu, sistem bai’ al-murabahah juga sangat sederhana. Hal tersebut memudahkan penanganan administrasinya di bank syari’ah.[24] Di antara kemungkinan resiko yang harus diantisipasi antara lain adalah default atau kelalaian, fluktuasi harga komparatif, penolakan nasabah, dijual nasabah.[25]

2. Bai’ as-Salam

Adalah pembelian barang yang diserahkan di kemudian hari, sedangkan pembayaran dilakukan di muka.

Landasan syari’ah transaksi bai’ al-salam adalah :

1. “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya….”.[26]

2. “Barangsiapa yang melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula, untuk jangka waktu yang diketahui”.[27]

3. Berkata Ibn Mudhir bahwa semua pakar ilmu yang saya ketahui telah berkonsensus keabsahan al-salam karena kebutuhan manusia terhadapnya.[28]

Pelaksanaan bai’ al-salam harus memenuhi sejumlah rukun berikut ini :

a)      Muslam atau pembeli;

b)      Muslam ilaih atau penjual;

c)      Modal atau uang;

d)      Muslam fih atau barang;

e)      Sighat atau ucapan.[29]

Di samping segenap rukun harus terpenuhi, bai’ al-salam juga mengharuskan tercukupinya segenap syarat pada masing-masing rukun. Dan yang terpenting adalah tentang modal dan barang. Syarat-syarat yang harus terpenuhi dalam modal bai’ al-salam adalah barang yang akan disuplai harus diketahui jenis, kualitas dan jumlahnya dan pembayaran harus dilakukan di tempat kontrak.[30]

Sedangkan di antara syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam muslam fih atau barang yang ditransaksikan adalah harus spesifik dan dapat diketahui sebagai utang, harus bisa diidentifikasikan secara jelas, penyerahan dilakukan di kemudian hari, tempat penyerahan barang harus disepakati, dan sebagainya.[31]

Bai al-salam biasanya dipergunakan pada pembiayaan bagi petani dengan jangka waktu yang relatif pendek, yaitu 2-6 bulan. Juga dapat diaplikasikan pada pembiayaan barang industri, misalnya produk garmen (pakaian jadi) yang ukuran barang tersebut sudah dikenal umum. Bai’ al-salam juga bisa terjadi secara pararel, yaitu melaksanakan dua transaksi antara bank dan nasabah, dan antara bank dan pemasok (supplier) atau pihak ketiga lainnya secara simultan.[32]

Manfaat bai’al-salam adalah selisih harga yang didapat dari nasabah dengan harga jual kepada pembeli.

3. Bai’ al-Istishna’

Merupakan kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang. Dalam kontrak ini, pembuat barang menerima pesanan dari pembeli. Pembuat barang lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang menurut spesifikasi yang telah disepakati dan menjualnya kepada pembeli akhir. Kedua belah pihak bersepakat atas harga serta sistem pembayaran; apakah pembayaran dilakukan di muka, melalui cicilan, atau ditangguhkan sampai suatu waktu pada masa yang akan datang. Menurut jumhur fuqaha –Malikiah, Syi’ah dan Hanbaliah–, bai’ al-istishna’ merupakan suatu jenis khusus dari akad bai’ al-salam. Biasanya, jenis ini dipergunakan di bidang manufaktur. Dengan demikian, ketentuan bai’ al-istishna’ mengikuti ketentuan dan aturan akad bai’ al-salam.[33]

Secara umum, landasan syari’ah yang berlaku pada bai’ al-salam juga berlaku pada bai’ al-istishna’. Sungguhpun demikian, para ulama membahas lebih lanjut “keabsahan” bai’ al-istishna’. Menurut mazhab Hanafi, bai’ al-istishna’ termasuk akad yang dilarang karena bertentangan dengan semangat bai’ secara qiyas. Mereka mendasarkan pada argumentasi bahwa pokok kontrak penjualan harus ada dan dimiliki oleh penjual, sedangkan dalam istishna’, pokok kontrak itu belum ada atau tidak dimiliki penjual. Meskipun demikian, mazhab Hanafi menyetujui kontrak istishna’ atas dasar  istihsan.[34]

Sebagian fuqaha kontemporer berpendapat bahwa bai’ al-istishna’ adalah sah atas dasar qiyas dan aturan umum syari’ah karena itu memang jual-beli biasa dan si penjual akan mampu mengadakan barang tersebut pada saat penyerahan. Demikian juga kemungkinan terjadi perselisihan atas jenis dan kualitas barang dapat diminimalkan dengan pencantuman spesifikasi dan ukuran-ukuran serta bahan material pembuatan barang tersebut.

Dalam sebuah kontrak bai’ al-istishna’, bisa saja pembeli mengizinkan pembuat menggunakan subkontraktor untuk melaksanakan kontrak tersebut. Dengan demikian, pembuat dapat membuat kontrak istishna’ kedua untuk memenuhi kewajibannya pada kontrak pertama. Kontrak baru ini dikenal sebagai istishna’ paralel.[35]

Bai’ al-istishna’ dapat diterapkan dalam (1) pengadaan barang dan (2) pembiayaan impor. Hal ini hampir serupa dengan murabahah, hanya saja dalam istishna’, bank memesan suatu barang tertentu dari produsen atas nama nasabah, manakala murabahah bank membeli atas pesanan nasabah.[36]

 

Analisa Terhadap Perkembangan Perbankan Syari’ah dan Aplikasi Produk-produk Berdasarkan Prinsip Jual-Beli

Perbankan syari’ah yang telah diperkenalkan kepada masyarakat sejak tahun 1992 hingga saat ini belum menunjukkan pertumbuhan sebagaimana yang diharapkan. Perkembangan perbankan syari’ah di Indonesia masih pada tahap awal. Hal ini ditunjukkan dengan populasi yang masih kecil, yaitu satu bank umum syari’ah dan 77 bank perkreditan rakyat syari’ah (BPRS) dibandingkan dengan populasi bank konvensional sejumlah 208 bank umum dan 2.231 bank perkreditan rakyat (BPR). Dari jumlah 77 BPRS tersebut, diperkirakan sekitar 30 % dalam kondisi baik, selebihnya memerlukan perhatian dan penanganan yang serius untuk kelangsungannya.[37] Sedangkan bait al-mal wa al-tamwil (BMT) menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik, dari mulai hanya satu BMT di tahun 1992, kini BMT telah mencapai jumlah 1.957 BMT yang tersebar di hampir seluruh propinsi di Indonesia.

Hadirnya bank syari’ah dewasa ini menunjukkan kecenderungan yang semakin baik. Produk-produk yang dikeluarkan bank syari’ah cukup bervariatif  sehingga mampu memberikan pilihan/alternatif bagi calon nasabah untuk memanfaatkannya. Berdasarkan survey yang pernah dilakukan, kebanyakan bank syari’ah masih mengedepankan produk dengan akad jual-beli, di antaranya  adalah murabahah dan bai’ bi saman ajil (murabahah investasi). Bahkan produk murabahah merupakan produk yang paling banyak digunakan selama ini. Hal ini, mungkin, karena pertimbangan resiko dan keuntungan yang akan diperoleh bank syari’ah.

Dengan murabahah, resiko yang mungkin dialami bank syari’ah sangat kecil dan bank juga tidak tahu tentang untung dan rugi nasabah. Sedangkan bila menggunakan produk mudarabah (sistem bagi hasil), maka resiko yang mungkin dialami bank syari’ah sangat tinggi dan rentan terhadap kemungkinan bahaya moral. Karena bank syari’ah berasumsi bahwa semua orang adalah jujur sehingga bank rawan berhadapan dengan orang yang beri’tikad kurang baik. Di samping itu, perhitungan-perhitungan dalam produk mudarabah (sistem bagi hasil) lebih rumit bila dibandingkan perhitungan dalam bank konvensional, sehingga dibutuhkan tenaga profesional yang betul-betul handal. Padahal, selama ini kebanyakan tenaga profesional yang dimiliki bank syari’ah diambil dari bank konvensional yang masih terkonstruk perhitungan dengan sistem bunga.[38]

Dalam dunia modern, istilah bai’ al-murabahah sudah merupakan perluasan dari pengertiannya yang klasik.[39] Istilah murabahah digunakan untuk mengacu pada suatu kesepakatan yang di dalamnya pembelian barang oleh bank dikehendaki konsumennya yang membutuhkan barang tersebut dan kemudian menjual barang tersebut kepada konsumen dengan harga yang disepakati dengan memberikan keuntungan tertentu kepada bank. Pembayaran dilakukan oleh konsumen dalam kurun waktu yang ditentukan dengan cara kredit/tunai. Perjanjian semacam ini oleh Sami Hamud disebut bai’ al-murabahah li al-amir bi al-syira’ (penjualan dengan keuntungan marginal yang disepakati kepada seseorang yang memesan barang tersebut). Belakangan ini lebih dikenal dengan sebutan murabahah.[40]

Dalam praktek/realisasi produk bai’ al-murabahah –pembayaran tempo dengan sekaligus/langsung lunas di lapangan/perbankan syari’ah tidak ada. Yang ada adalah murabahah yang pembayarannya dilakukan secara kredit/cicilan (murabahah yang bai’ bi saman ajil). Atau, murabahah yang dimodifikasi dalam istilah Sami Hamud. Jadi, dalam prakteknya, murabahah disamakan dengan bai’ bi saman ajil yang notabenenya kurang banyak diminati. Di samping itu, dalam prakteknya, tenaga pelaksana di lapangan biasanya enggan menerangkan seluk-beluk dan landasan fiqh murabahah atau bisa jadi menganggap calon nasabah telah paham. Karena itu, murabahah disimplikasi dalam satu rangkaian kalimat pendek, “margin kami 20 % per tahun”.[41] Dan dalam prakteknya, sistem perhitungan dalam penetapan jasa bank masih mengacu dan disesuaikan dengan standar bunga pada bank konvensional dan belum memiliki standard perhitungan baku yang otonom dan mandiri. Tentu saja banyak masyarakat yang mengira bank syari’ah sekedar mengganti istilah bunga dengan margin. Atau dengan kata lain, siasat bunga bank yang dibungkus dengan prinsip-prinsip syari’ah.

Sedangkan untuk meminimalisir –bahkan menghilangkan– kesenjangan antara konsep dan praktek dalam realitas, khususnya dalam produk murabahah, maka perbankan syari’ah harus benar-benar istiqamah dalam menerapkan/merealisasikan produk-produk yang ditawarkan kepada para nasabah sesuai dengan konsep-konsep yang ada. Di samping itu sosialisasi produk-produk yang ada lebih ditingkatkan, misalnya dengan promosi. Dalam hal ini, peran ulama dan cendekiawan muslim juga sangat diperlukan dalam memberikan wawasan dan pemahaman tentang produk-produk tersebut kepada masyarakat luas yang masih awam tentang operasionalisasi dan mekanisme perbankan syari’ah.

Dan yang tidak kalah penting, perbankan syari’ah harus memiliki standar sistem perhitungan dalam penetapan jasa bank tanpa harus bergantung pada standar dalam perhitungan bunga. Oleh karena itu, penentuan besarnya mark-up dalam murabahah harus mengacu pada perhitungan besarnya keuntungan yang diperoleh nasabah yang menjalankan transaksi murabahah, bukan mengacu pada suku bunga dalam bank konvensional.

Banyak orang yang menyamakan bai’ al-salam dengan ijon, padahal terdapat perbedaan besar di antara keduanya. Dalam ijon, barang yang dibeli tidak diukur atau ditimbang secara jelas dan spesifik. Demikian juga penetapan harga beli sangat bergantung kepada keputusan sepihak si tengkulak yang seringkali sangat dominan dan menekan petani yang posisinya lebih lemah. Adapun transaksi bai’ al-salam mengharuskan adanya pengukuran dan spesifikasi barang yang jelas dan adanya keridhaan yang utuh antara kedua belah pihak.[42] Di sisi lain, banyak pula yang salah dalam membedakan bai’ al-salam dengan bai’ al-istishna’, padahal keduanya mempunyai perbedaan yang jelas.[43]

Penutup

Demikianlah pembahasan makalah yang dapat penulis lakukan. Saran yang solutif dan kritik yang konstruktif sangat diperlukan dalam rangka perbaikan dan penyempurnaan makalah ini. Wa Allah al-Muwaffiq ila Aqwam ath-Thariq.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, Amrullah dkk., Hukum Islam di Indonesia : perspektif Muhammadiyyah dan NU (Jakarta : Universitas Yarsi, 1999).

 

A. Karim, Adiwarman, Ekonomi Islam : Suatu Kajian Kontemporer (Jakarta : Gema Insani Press, 2001), cet. I.

 

Antonio, M. Syafi’i  Bank Syari’ah : Dari Teori Ke Praktik (Jakarta : Gema Insani Press, 2001), cet. III.

 

Arifin, Zainul, Memahami Bank Syari’ah : Lingkup, Peluang, Tantangan dan Prospek (Jakarta : Alvabet, 1999).

 

Aziz, M. Amin, Mengembangkan Bank Islam di Indonesia (Jakarta : Bangkit, 1992).

 

Bank Indonesia, Perbankan Syari’ah Nasional dan Pengembangan.

 

Basyaib, Hamid & Mursyidi Prihantono (Ed.), Bank Tanpa Bunga (Yogyakarta : Mitra Gama Widya, 1993), cet. I.

 

Chapra, M. Umer, Al-Qur’an Menuju Sistem Moneter Yang Adil, terj. Lukman Hakim (Yogyakarta : Dana Bhakti Prima Yasa, 1997).

 

Hendry, Arrison, Perbankan Syari’ah : Perspektif Praktisi (Jakarta : Mu’amalat Institute, 1999).

 

Karim, M. Rusli (Ed.), Berbagai Aspek Ekonomi Islam (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1992), cet. I.

 

al-Kasani, ‘Ala’ al-Din Abu Bakr Ibn Mas’ud, Badai’ al-Sanai’ fi Tartib al-Syarai’ (Beirut : Dar al-Fikr, 1996), cet. I, juz V.

 

Muhammad, Sistem dan Prosedur Operasional Bank Islam (Yogyakarta : UII Press, 2000), cet. I.

 

Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Bank Bagi Hasil (Jakarta : Biro Penelitian dan Pengembangan Perbankan Islam Bank Indonesia, 1992), cet. II.

 

Perwataatmadja, Karnaen A., ”Peluang dan Strategi Bank Tanpa Bunga Dengan Sistem Bagi Hasil (BTBSBH) Dalam Bisnis Perbankan di Indonesia”, dalam Hamid Basyaib & Mursyidi Prihantono (Ed.), Bank Tanpa Bunga (Yogyakarta : Mitra Gama Widya, 1993), cet. I.

———————————–, “Peluang dan Strategi Operasional Bank Muamalat Indonesia”, dalam M. Rusli Karim (Ed.), Berbagai Aspek Ekonomi Islam (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1992), cet. I.

 

Sambutan Menteri Keuangan dengan disetujuinya rancangan UU tentang perubahan UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan, dalam UU perbankan (Jakarta : Sinar Grafika, 1999), cet. 2.

 

al-San’ani, Muhammad bin Ismail al-Kahlani, Subul al-Salam : Syarh Bulug al-Maram min Adillat al-Ahkam (Beirut: Dar al-Fikr, t. t.), juz III.

 

Sumitro, Warkum, Asas-asas Perbankan Islam dan Lembaga-lembaga Terkait (BMUI & Takaful) di Indonesia (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1996), cet. I.

 

Surakhmad, Winarno, Pengantar Penelitian Ilmiah : Dasar, Metoda dan Teknik (Bandung : Tarsito, 1990).

 

al-Zuhaili, Wahbah, al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh (Damaskus : Dar al-Fikr, 1997), cet. IV, h. 3604.

 

[1] M. Syafi’i  Antonio, Bank Syari’ah : Dari Teori Ke Praktik (Jakarta : Gema Insani Press, 2001), cet. III, h. 29-34.

[2] Ibid., h. 101.

[3] Warkum Sumitro, Asas-asas Perbankan Islam dan Lembaga-lembaga Terkait (BMUI & Takaful) di Indonesia (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), cet. I, h. 81 dan 112.

[4] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar, Metoda dan Teknik (Bandung: Tarsito, 1990), h. 139.

[5] Karnaen A. Perwataatmadja dan M. Syafi’i Antonio, Apa dan. Bagaimana Bank Islam (Yogyakarta : Dana Bhakti Prima Yasa, 1999), cet. III, h. 1-2.

[6] Warkum Sumitro, Asas-asas Perbankan…, h. 5.

[7] M. Amin Aziz, Mengembangkan Bank Islam di Indonesia (Jakarta : Bangkit, 1992).

[8] M. Syafi’i Antonio, Bank Syari’ah…, h. 25.

[9] Ibid.

[10] Zainul Arifin, Memahami Bank Syari’ah : Lingkup, Peluang, Tantangan dan Prospek (Jakarta : Alvabet, 1999), h. 10.

[11] Amrullah Ahmed dkk., Hukum Islam di Indonesia : Perspektif Muhammadiyyah dan NU (Jakarta : Universitas Yarsi, 1999), h. 188-189.

[12] Lihat Sambutan Menteri Keuangan dengan disetujuinya rancangan UU tentang perubahan UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan, dalam UU perbankan (Jakarta : Sinar Grafika, 1999), cet. 2,  h. 2-3.

[13] Bank Indonesia, Perbankan Syari’ah Nasional dan Pengembangan, h. 1-2.

[14] Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Bank Bagi Hasil (Jakarta : Biro Penelitian dan Pengembangan Perbankan Islam Bank Indonesia, 1992), cet. II, h. 4-5 dan 12-13; Karnaen Perwataatmadja dan M. Syafi’i Antonio, Apa dan…, h. 25-28 dan 106.

[15] Karnaen A. Perwataatmadja dan M. Syafi’i Antonio, Apa dan…, h. 28.

[16] Ibid., h. 25 dan Warkum Sumitro, Asas-asas…, h. 93.

[17] Q. S. al-Baqarah: 275.

[18] Karnaen Perwataatmadja & M. Syafi’i Antonio, Apa dan…, h. 25-26.

[19] Lihat Arrison Hendry, Perbankan Syari’ah: Perspektif Praktisi (Jakarta : Mu’amalat Institute, 1999), h. 43.

[20] Ibid.

[21] M. Syafi’i Antonio, Bank Syari’ah…, h. 103-104.

[22] Ibid., h. 104-105.

[23] Ibid., h. 106.

[24] Ibid., h. 106-107.

[25] Ibid.

[26] Q. S. al-Baqarah : 282.

[27] H. R. al-Sittah dari Ibn ‘Abbas.

[28] Muhammad, Sistem dan Prosedur Operasional Bank Islam (Yogyakarta : UII Press, 2000), cet. I, h. 32.

[29] Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh (Damaskus : Dar al-Fikr, 1997), cet. IV, h. 3604.

[30] M. Syafi’i Antonio, Bank Syari’ah…, h. 109.

[31] Ibid., h. 109-110.

[32] Ibid., h. 110-112.

[33] ‘Ala’ al-Din Abu Bakr Ibn Mas’ud al-Kasani, Badai’ al-Sanai’ fi Tartib al-Syarai’ (Beirut : Dar al-Fikr, 1996), cet. I, juz V, h. 335.

 

[34] Ibid., h. 114 dan Muhammad, Sistem…, h. 33.

[35] Ibid., h. 115.

[36] Muhammad, Sistem…, h. 33-34.

[37] Zainul Arifin, Memahami…, h. 133.

[38] Karnaen A. Perwataatmadja,” Peluang dan Strategi Bank Tanpa Bunga Dengan Sistem Bagi Hasil (BTBSBH) Dalam Bisnis Perbankan di Indonesia”, dalam Hamid Basyaib & Mursyidi Prihantono (Ed.), Bank Tanpa Bunga (Yogyakarta: Mitra Gama Widya, 1993), cet. I, h. 20-21 dan  Karnaen A. Perwataatmadja, “Peluang dan Strategi Operasional Bank Muamalat Indonesia”, dalam M. Rusli Karim (Ed.), Berbagai Aspek Ekonomi Islam (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1992), cet. I, h. 143-145.

[39] Arrison Hendry, Perbankan…, h. 43.

[40] M. Umer Chapra, Al-Qur’an Menuju Sistem Moneter Yang Adil, terj. Lukman Hakim (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1997), h. 148.

[41] Adiwarman A. Karim, Ekonomi Islam : Suatu Kajian Kontemporer (Jakarta : Gema Insani Press, 2001), cet. I, h. 90.

[42] Ibid., h. 92-94 dan M. Syafi’i Antonio, Bank Syari’ah…, h. 111.

[43] M. Syafi’i Antonio, Ibid.

 

MATERI KULIAH : METODE PENELITIAN BISNIS, rinastkip

 

MATERI KULIAH

METODE PENELITIAN

BISNIS

 

 

Oleh :

DR. J. Soenarmo M.Ed, MM

Mas Bambang Purnomo Sigit, SH, MM

 

 

 

 

 

 

PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER MANAJEMEN

JURUSAN PEMASARAN DAN SUMBERDAYA MANUSIA

 STIE TRI ANANDRA

 

 

METODE PENELITIAN BISNIS/SOSIAL

PROGRAM PASCA SARJANA STIE TRI ANANDRA

A. Mata kuliah ini bertujuan untuk  mengkaji

  1. 1.      Proses dasar penentuan suatu kebijakan bisnis. Pembahasan dalam perkulihaan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mengidentifikasi faktor-faktor, dalam penetapan kebijakan bisnis yang mengandung resiko cukup tinggi.
  2. 2.      Memahami beberapa alternatif, pendekatan dan model penetapan kebijakan bisnis yang dianut  suatu perusahaan sehingga para praktisi bisnis mampu melakukan studi komparatif terhadap kebijakan bisnia
  3. 3.      metode penelitian yang akan dibahas adalah metode kuantitatif dengan polam pikir “logiko, hipotetiko, verifikatif” dengan  masalah yang jelas, ada hipotesis, diuji dengan statistik.
  4. 4.      Untuk mampu memahami kuliah ini dengan jelas maka perlu pemahaman tentang : berbagai jenis metode penelitian, rumusan masalah, paradigma penelitian, teori, rumusan hipotesis, populasi, sampel, instrumen, pengujian validitas dan reliabilitas, metode pengumpulan data, teknik analisis dan pembuatan pelaporan.

 

B. Tujuan Instruksional Umum :

 

Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan kembali tentang beberapa teori/konsep dan pengertian tentang metode Penelitian Bisnis/Sosial

 

C. Tujuan Instruksional Khusus:

 

  1. 1.      Mahasiswa dapat memahami teori-teori/konsep dasar Metodr logi penelitian, sehingga mampu untuk menyusun suatu penetapan kebijakan, menerapkam, menganalisa dan mengevaluasi kebijakan bisnis tersebut dalam penyelenggaraan bisnias.

 

RENCANA MATERI PERKULIHAAN

METODE PENELITIAN BISNIS/SOSIAL

Mata kuliah     : Metode penelitian Bisnis       Kredit                          : 3 SKS

Kode MK        :                                                           Semester                          : III

Dosen              : DR. J. Soenarmo.                              Waktu Tatap Muka     : 150 menit

No TATAP MUKA KE POKOK BAHASAN MATERI METODE BAHAN/ALAT
1 I dan II

Konsep Dasar penelitian Bisnis/Sosial

¨      Pengertian

¨      Jenis

¨      Proses

¨      Ceramah

¨      Diskusi

¨      Alat Tulis

¨      OHP

2 IIIdan IV

Masalah, variabel ,Paradigma penelitian, teori dan hipotesis

¨      Masalah dan Variabel

¨      Paradigma

¨      Landasan teori

¨      Pengajuan Hipotesis

¨      Ceramah

¨      Diskusi

¨      Alat Tulis

¨      OHP

3

 V Dan VI

Eksperimen, Populasi dan sampel

¨      Penelitian eksperimen

¨      Populasi dan sampel

¨      Ceramah

¨      Diskusi

¨      Atk

¨      OHP

4 VII dan VIII Skala pengukuran, Pengumpulan data

¨      Macam2 skala

¨      Instrumen

¨      Validitas dan reliabilitas

¨      Ceramah

Diskusi

¨      Alat Tulis

OHP

5 IX dan X

Teknik Analisis data dan pengujian hipotesis

¨      Teknik Analisis data dan pengujian hipotesis

¨      Ceramah

¨      Diskusi

¨      Alat

¨      OHP

6 XI dan XII

Penyusunan judul ,rancangan dan pelaporan

v  Penyusunan judul

v  rancangan

v  pelaporan

¨      Ceramah

¨      Diskusi

¨      Alat Tulis

¨      OHP

6 XIII dan XIV

Seminar

¨

¨

¨

10 XV UAS

REFERENSI :

 

  1. Almal‑Buchad. Pengantar Bisnis, Alfabeta, Bandung, 1998
  1. Ann Majchrzak, Methode for Policy Research, sage Publication,       Bevedy Hills, London, 1984.
  1. Emory, Business Research Methods, Richard D. Irwin Inc. 1985

.

  1. Hunsberger Crof, et all, Statistical Inference for Management and Economic, LowaStateUniversity, 1980.
  1. Kidder Louise, Research Methods instrumen Social Relation, Holt, Rinehart and Winston, 1981.
  1. Moorhead, Griffen, Organizational Behaviour, Houghton Mifflin Company, 1986.
  1. Rossi, Wright, Ande4son, Handbook of Survey Research, Quantitative Studies instrumen Social RelatioAs, Academic Press, Inc., 1973.
  1. Sugiyono, Metode penelitian Bisnis, Penerbit Alfabet, Bandung, 2002
  1. Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid 1, 2, UGM, 1986.
  1. Uma    Sekaran, Research Methods for Business, Southern illinois University at Carbondale, 1984.
  1. Young Pauline, Scientific Social Survey and Research, Prentice Hall of India Private limited, 1982.

 

 

 

 

 

METODE PENELITIAN BISNIS/SOSIAL.

 

A.   PENGERTIAN

Metode Penelitian  adalah  (1) cara ilmiah untuk mendapatkan (2) data dengan (3) tujuan dengan (4) kegunaan) tertentu

  1. 1.     Cara Ilmiah, berarti kegiatan penelitian ini didasarkan pada ciri ciri keilmuan. Yaitu (a) rasional (b) empiris (c) sistematis.
    1. a.     Rasional masuk akal secara nalar oleh manusia.
    2. b.     Empiris, cara2 yang dilakukan dapat diamati oleh manusia, sehingga orang lainpun bisa melakukan pula.
    3. c.      Sistematis, prosesnya tertentu, langkahnya logis.
  1. 2.     Data, data hasil penelitian adalah data empiris (teramati), mempunyai kriteria valid. Valid, adalah penunjukan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya yang terjadi pada obyek penelitian. Untuk mendapatkan data yang valid maka perlu adanya pengujian (a) reliabilitas dan (b) obyektivitas.
    1. a.     reliabilitas, adalah konsistensi atau keajegan data dalam waktu interval tertentu.
    2. b.     Obyektivitas, kesepakatan antar banyak orang terhadap suatu obyek yang sama.
  1. 3.     Tujuan suatu penelitian yaitu yang berifat (a) penemuan (b) pembuktian (c) pengembangan.
    1. a.     Penemuan,  Data yang diperoileh memang betul2 sebelumnya belum ada atau belum pernah diketahui.
    2. b.     Pembuktian, data yang diperoleh dipergunakan untuk pembuktian terhadap informasi atau pengetahuan yang ada.
    3. c.      Pengembangan, data untuk melengkapi  atau memperdalam pengetahuan yang telah ada.
  1. 4.     Kegunaan tertentu,  data dan informasi tersebut digunakan untuk (a) memahami, (b) memecahkan dan (c) mengantisipasi masalah.
    1. a.     memahami, memahami atau memperjelas suatu masalah atau informasi yang tidak diketahui dan selanjutnya menjadi tahu.
    2. b.     Memecahkan, berarti meminimalkan atau menghilangkan masalah.
    3. c.      Mengantisipasi, berarti mengupayakan agar masalah tidak terjadi

Kesimpulan. Metode penelitian Bisnis/Sosial dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang validdengan tujuan dapat ditemukan, dibuktikan, dan dikembangkan suatu pengetahuan sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisdipasi dalam bidang Bisnis/Sosial.

  1. B.   JENIS JENIS PENELITIAN
  1. 1.     Jenis2 penelitian antara lain dapat dikelompokkan (kelompok ke I) sbb (a) penelitian akademik (b) Penelitian profesional /pengembangan ilmu (c) penelitian institusional atau kebijakan atau pengambilan keputusan.
    1. a.     Penelitian akademik, suatu penelitian edukatif  dengan basic cara betul, variabel dan sistem analisa terbatas pula misal : skripsi, tesis dan disertasi.
    2. b.     Penelitian profesional, tujuannya mendapatkan pengetahuan baru, (Dosen, peneliti dll) variabel lengkap, analias sesuai keperluan, valid, reliable
    3. c.      Penelitian kebijakan. Untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan pengembangan lembaga, dengan penekanan validitas eksternal, variabel lengkap, analisis sesuai dengan keperluan.
  1. Jenis2 penelitian antara lain dapat dikelompokkan (kelompok ke II) sbb :

Tujuan

Metode

Tingkat Eksplanasi

Analisis dan Data

  1. Murni
  2. Terapan
  3. Survey
  4. Ex Post Facto
  5. Eksperimen
  6. Naturalistik
  7. Policy research
  8. Action Research
  9. Evaluasi
  10. Sejarah
  11. Deskriptif
  12. Komparatif
  13. Asosiatif
  14. Kuantitatif
  15. Kualitatif
  16. Gabungan.

 

  1. D.   Macam 2 Data Penelitian.

 

Data diperoleh dari instrumen yang menggunakan skala nominal, ordinal interval dan ratio.

1. Kualitatif
Macam2 data 2.1 Diskrit
2. Kuantitatif 2.2.1. Ordinal
2.2 Kontinum 2.2.2. Interval
2.2.3. Ratio
  1. Data kualitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk kata atau kalimat.
  2. Data kuantitatif data yang benbentuk angka’
  3. Data diskrit adalah yang dapat digolongkan secara terpisah misal jumlah mahasiswa 50 orang terdiri atas 30 orang laki2 dan 20 orang perempuan.
  4. Data kontinum adalah data yang bervariasi menurut tingkatan terdiri
  5. data ordinal jarak tidak sama
  6. .data interval  walaupun mulai negatif tetap punya nilai.
  7. Data ratio mutlak 0 sampai tak terhingga.

 

  1. E.   Ruang Lingkup penelitian Bisnis/Sosial.

 

  1. a.     bagikan kertas.
  2. b.     Tuliskan ruang lingkup penelitian apa saja
  3. c.      Dsikusikan
  4. d.     Kelompokkan.
  1. F.    Penelitian Bisnis/Sosial yang baik (menurut Emori 1985)

 

  1. a.     Masalah dan tujuan penelitian harus dirumuskan dengan baik.
  2. b.     Prosedur penelitian harus duijabarkan secara rinci.
  3. c.      Prosedur dalam rancangan penelitian (pproposal harus jelas dan teliti.)
  4. d.     Peneliti harus membuat laporan lengkap.
  5. e.      Analisis fdata harus tepat.
  6. f.       Setiap kesimpulan harus didukung data.
  7. g.     Hasil penelitian harus dapat dipercaya

II. Masalah, Variabel dan Paradigma Penelitian.

A.   Masalah

  • Masalah yaitu penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar2 terjadi.(Stonner 1982 :257)
  • Masalah yaitu suatu keadaan atau kondisi yang tidak menyenangkan bagi seseorang, tetapi belum tentu bagi orang lain.
  1. Masalah dan cara pemecahannya Suatu penelitian dilakukan guna mendapatkan suatu data dalam rangka memecahkan masalah.jadi semua penelitian selalu berangkat dari masalah? Untuk itu ketepatan pemilihan masalah yang betul2 masalah berarti sudah menyelesaikan 50 % kegiatan penelitian.

Hubungan antara ketepatan memilih masalah dan cara pemecahannya.

Ketepatan masalah

Ketepatan cara pemecahan

a.     Masalah benar.

  1. Masalah Benar
  2. Masalah salah
  3. Masalah salah
  4. Cara pemecahan benar
  5. Cara pemecahan salah
  6. Cara pemecahan benar
  7. Cara pemecahan salah
  1. Sumber masalah, antara lain mencakup:
    1. a.     terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan.
    2. b.     Terdapat penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan.
    3. c.      Ada pwengaduan
    4. d.     Ada kompetisi

 

  1. 3.     Rumusan masalah yang baik.
    1. a.     Masalah harus feasible  (daana, waktu, teknologi dll)
    2. b.     Masalah harus jelas. (persepsi sama)
    3. c.      Masalah harus significant( memberi kontribusi terhadap ilmu dan manusia)
    4. d.     Masalah harus bersifat etis.
    5. e.      Dinyatakan dalam kalimat tanya, atau alternatif secara implisit mengandung pertanyaan.
  1. Bentuk bentuk masalah penelitian.
    1. a.     Permasalahan deskriptif, suatu pertanyaan terhadap variabel mandiri baiuk satu atau lebih (Contoh : (1) seberapa tinggi produktivitas belajar mahasiswa STIE,  (2) seberapa baik interaksi Mahasiswa STIE dengan lingkungannya, (3) Bagaimana sikap …. (4) Seberapa tringgi efektivitas, …… (5) seberapa tinggi motivasi belajar ….. dll.)
    2. b.     Permasalahan komparatif, yaitu penelitian yang membandingkan satu variabel dengan variabel lainnya ( misal : (1) Seberapa perbedaan produksivitas kerja mahasiswa STIE  Lido dengan STIE Cipanas) dll.
    3. c.      Permasalahan asosiatif, yaitu hubungan antara dua variabel atau lebih a.l sbb:

1). Hubungan simetris,  hubungan dua variabel yang munculnya sama misal apakah ada hubungan antara radio diperdesaan dengan perkembangan jumlah ayam dan kambing.

2). Hubungan kasual, yaitu hubungan sebab akibat ydisini ada variabel dependent dan independent (misal Seberapa besar pengarus sistem hnorarium terhadap prestasi kerja)

3).  Hubungan interaktif/resiprocal/timbal balik, hubungan saling mempengaruhi tetapi tidak tahu mana yang dependent dan independent ( Misal hubungan antara motivasi dan prestasi belajar mahasiswa STIE)

  1. Variabel penelitian.

q  Variabel penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga memperoleh informasi tentang hal tersebut

q  Variabel penelitian adalah atribut seseorang atau obyek yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lainnya (Hatch dan Farhadi, 1981)

q  Variabel penelitian adalah atribut keilmuan  atau kegiatan tertentu yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lainnya (Stoner, 1982)

q  Variabel adalah konstruk atau sifat yang akan dipelajari (Kerlinger 1971)

Dinamakan variabel karena ada variasinya ( berat badan, motivasi, persepsi, dl

Macam2 variabel antara laian:

  1. Variabel independent (Bebas)
  2. Variabel dependent (terikat)
  3. Variabel moderator (mempengaruhi variabel bebas dan terikat)
  4. Variabel intervening (tidak bisa diamati)
  5. Variabel kontrol

 

 

  1. Paradigma penelitian.

Suatu penelitian yang ilmiah, perlu dilandasi suatu asumsi bahwa suatu gejala itu dapat diklasifikasikan, dan hubunhgan gejala sebab akibat, sehingga seorang peneliti dapat fokus atas penelitian yang dilakukan.

 

Pola hubungan inilah yang selanjutnya disebut dengan paradigma penelitian.

Sehingga Paradigma Penelitian adalah pola pikir yang menunjukkan hubungan antara variabel yang diteliti, yang sekaligus mencerminkan jenis dan (1) jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab dalam penelitian (2) teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, (3) jenis dan jumlah hipotesis, (4) dan teknis analiasis statistik yang digunakan.

  1. Beberapa Paradigma atau model penelitian kuantitatif.
    1. Paradigma sederhana, paradigma ini menggunakan satu variabel dependent dan satu variabel independent.

1). Jumlah rumusan masalah (deskriptrif dan asosiatif)

2). Teori yang digunakan

3). Hipotesis yang dirumuskan

4). Teknik analisis data.

  1. Paradigma sederhana berurutan, menunjukkan hubungan antara satu variabel independent dengan satu variabel dependent secara berurutan.

X1 = Kualitas bahan baku

X2 = Kualitas pengerjaan

X3 = Kualitas barang yang dihasilkan

Y = Kepuasan pembeli.

  1. Paradigma ganda dengan dua variabel independent ( 3 rumusan deskriptif dan 4 rumusan assosiatif) dengan analisa tiga korelasi ganda dan satu korelasi ganda.
  1. Paradigma ganda dengan tiga variabel independent
  2. Paradigma ganda dengan dua variabel dependent
  3. Paradigma ganda dengan dua variabel dependent dan independent

Keterangan:

X1 = Partisipasi masyarakat

X2 =  MBS

Y1 = Partisipasi murid

Y2 = kepuasan Guru

  1. Paradigma jalur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I.      Landasan Teori, dan Pengajuan Hipotesis.

Setelah langkah pertama yaitu perumusan masalah maka langkah berikutnya adalah mencari teori-teori, konsep konsep dan generalisasi suatu hasil penelitian yang dapat digunakan sebagai landasan teoritis untuk suatu penelitian.

A.   Deskripsi teori.

q  Teori adalah alur logika atau penalaran yang merupakan seperanmgkat konsep, definisi, proposisi  yang disusun secara sistematis, dan mempunyai tiga unsur yaitu (1) menjelaskan (2) meramalkan (3) pengendalian.

  • Fungsi Menjelaskan  dab mempertajam ruang lingkup variabel yang diteliti.
  • Fungsi meramalkan atau prediksi atau pemamdu untuk menemukan fakta untuk menyusun hipotesis dan instrumen penelitian.
  • Fungsi pengendalian atau kontrol digunakan untuk mencandra atau membahas hasil penelitian selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dalam upaya pemecahan masalah.

q  Deskripsi teori yaitu suatu uraian secara sistematis tentang teori (bukan sekedar pendapat para pakar) dan hasil penelitian yang relevan dan terkait dengan variabel yang diteliti, melalui pendifinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi. Adapun langkah deskripsi teori adalah sbb:

  • Tetapkan variabel
  • Cari sumber sumber bacaan
  • Lihat daftar isi setiap buku
  • Cvari definisi setiap variabel
  • Baca seluruh isi topik
  • Deskripsikan teori menjadi definisi konseptual

B.   kerangka berpikir

Kerangka berpikir adalah suatu model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan faktor yang telah diindetifikasikan sebagai masalah yang penting. Serta menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti.  Kemudian disyntesaikan tentang hubungan variabel yang telah dideskripsikan dan selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis.

Adapun urutan untuk membuat kerangka berpikir yang baik adalah sbb:

 

  • Menetapkan variabel
  • Membaca buku dan hasil penelitian
  • Deskripsi teori dan hasil penelitian
  • Analisis kritis terhadap teori dan hasil penelitian
  • Analisis komparatif terhadap teori dan hasil penelitian.
  • Sysntesa dan kesimpulan

C.   Hipotesis.

Hipotesis adalah langkah lanjutan dalam penelitian, tetapi tidak semua penelitian perlu hipotesis, sebagi contoh penelitian eksploratif  atau deskriptif kadang2 tidak perlu hipotesis.

q  Hipotesis Penelitian adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, yang disusn dalam kalimat pertanyaan, berdasarkan teori yang relevan bukan kenyataan empiris dilapangan, jadi hipotesis bukan jawaban empirik dan perlu untuk dibuktikan.

q  Hipotesis Statistik digunakan apabila penelitian menggunakan sampel dari suatu pipilasi.

q  Hipotesis kerja yaitu hipotesis yang disusun berdasar teori yang ada berupas jawaban sementara yang akan diuji dan dinyatakan dalam kalimat positif

q  Hipotesisi Nol adalah lawan dari hipotesis kerja  karena ada keraguan dalam kebenaran teori yang ada dinyatakan dalam kalimat negatif

Bentuk bentuk hipotesis dalam penelitian sangat terkait dengan rumusan masalah penelitian antara lain sebagai berikut:

  1. Hipotesis deskriptif, merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif. Sebagai contoh sbb:

Rumusan Masalah Deskriptif Seberapa tinggi semangat belajar mahasiswa STIE Lido?

Hipotesis Deskriptif, Semangat belajar mahasiswa STIE Lido paling sedikit 75 % sdari kriteria ideal yang telah ditetapkan.

Hiopotesis statistik (hanya ada bila berdasarkan data sampel) yang dirumuskan sbb:

r = Hipotesis yang berbentuk prosentase

a. Ho  : r = 75%

Ha : : r ¹ 75%

  1. Hipotesis komparatif merupakan jawaban sementara terhadap masalah komparatif biasanya varaibel berbeda sampel sama atau sampael berbeda dan variabel sama dan  dirumuskan sbb:

Rumusan Masalah komparatif apakah ada perbedaan semangat belajar mahasiswa STIE Lido dan mahasiswa STIE Cipanas?

Hipotesis Komparatif, Ada  perbedaan Semangat belajar mahasiswa STIE Lido dengan STIE Cipanas .

Hiopotesis statistik (hanya ada bila berdasarkan data sampel) yang dirumuskan sbb:

m = rata2 (populasi) semangat belajar Mahasiswa

a. Ho  :   m1   =   m2

Ha : :   m¹ m2

  1. Hipotesis asosiatif adalah jawaban sementara terhadap rumusan asosiatif dan  dirumuskan sbb:

Rumusan Masalah asosiatif apakah ada perbedaan antara semangat belajar mahasiswa STIE Lido dengan berat badan  mahasiswa?

Hipotesis Komparatif, Ada  perbedaan nyata antara Semangat belajar mahasiswa STIE Lido dengan berat badan .

q

 = 0,   berarti tidak ada hubungan

¹  0, berarti ada hubungan

r = nilai korelasi daklam formulasi yang di

Hipotesiskan

Hiopotesis statistik (hanya ada bila berdasarkan data sampel) yang dirumuskan sbb:

a. Ho  : r = 0

Ha : : r ¹  0

Karakteristik hipotesis yang baik:

  1. Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih.
  2. Dinyataklan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran.
  3. Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode2 ilmiah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KERANGKA UMUM PENELITIAN.

METODE PENELITIAN EKSPERIMENT

 

One Shoot case Study

Setelah saudara mengetahui apa penelitian kuantitatif dan kualitatif maka sakah satu bagian terpenting dari metode kuantitatif adalah metode eksperimen, yang mempunyai ciri khas tersendiri yaitu adanya kontrol, secara singkat dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.                 Pre Experimental Design. (eksperiment sungguh2)

 

Eksperiment sungguh2 karena

v masih terdapat variabel luar yang mempengaruhi terhadap terbentuknya variabel dependent, sehingga hasil eksperiment bukan saja dipengaruhi variabel bebas (Independent) saja ,

v disamping itu tidak ada variabel kontrol,

v sampel tidak dipilih secara random

v Variabel luar tidak dikontrol

  1. One Shot case Study.

Paradigma penelitian ini dapat dibaca sebagai  berikut : terdapat suatu kelompok  diberi treatment/perlakuan  dan selanjutnya diobservasi hasilnya yang dapat digambarkan sbb:

 

 

Independent (Bebas)                        Dependent (terikat)

Misal : Pengaruh Pendidikan Propgram SI/S2 STIE (X) terhadap prestasi kerjanya  (Y)

( Ada sekelompok pegawai yang dididik Strata SI/S2, kemudian setelah selesai  dan bekerja beberapa bulan kemudian diukur prestasi kerjanya.

  1. b.     One Group Pre –Post Test

 

Perbedaan dengan Pola a adalah dalam design ini ada pree test, sehingga hasil lebih akurat karena kita tahu berapa prestasi kerja sebelum mengikuti pendidikan SI/S2.

 

 

Pree test                                    Independent (Bebas)                        Dependent (terikat)

 

c.      Intac group Comparison.

 

Dalam penelitian ini caranya dalam satu kelompok misal kelas dibagi 2  group yaitu group 1 diberikan perlakuan dan group 2 sebagai kontrol atau tidak diberi perlakuan

 

 

Independent (Bebas)                                                     Dependent (terikat)

2.                 True experimental Design (Eksperimen yang betul2)

Dalam penelitian ini semua variabel luar yang mempengaruhi dikontrol sehingga validitas internal dapat dijaga tinggi. Dengan ciri2 sbb:

v Semua sampel dipilih secara random atau acak dari populasi tertentu.

v Semua variabel luar dikontrol

 

  1. a.     Post Test Control Design.

Dalam suatu populasi dipilih secara random yang dibagi dalam dua kelompok, kelompok satu diberi perlakuan dfan kelompok kedua sebagai kontrol, kemuadian hasilnya dilihat dan dianalisa dengan t test kemudian dibandingkan , kalau ada perbedaan significant maka perlakuan yang diberikan berpengaruh secara significant:

 

 

  1. Pree Test Control Group Design

Dalam suatu populasi dipilih secara random yang dibagi dalam dua kelompok, kelompok satu diberi perlakuan dan kelompok kedua juga diberi perlakuan sama, kemudian hasilnya dilihat dan dianalisa dengan t test kemudian dibandingkan ,

Hasilnya harus tidak ada beda nyata, kalau ada berarti eksperiment salah.

 

3, Faktorial Design

Merupakan modifikasi dari true eksperimental karena adanya variabel moderator yang mempengaruhi perlakuan variabel bebas terhadap hasil variabel terikat Caranya sebagai beriikut :

v 4 Kelompok penelitian dipilih dari populasi secara random (01, 02, 03, 04)

v variabel moderator kemudian ditetapkan misalnya jenis kelamin.(Y1 dan Y2)

v Sehingga didapat 2 kelompok laki2 dan dua kelompok perempuan

v Kemudian kelompok 01,  dan 03,   diberi treatmen yang sama,  demikian pula untuk  02, dan 04 diberi treatmen yang sama pula

v Hasilnya kemudian dianalisa dan dibandingkan

Keterangan “

Y1 = Laki2

Y2 = perempuan

R = Random

O = Observasi

T Treatment

Y1O5

Y1O6

Y2O7

Y2O8

 

Misal : pengaruh metode pembelajaran di STIE terhadap prestasi mahasiswa dibedakan berdasarkan jenis kelamis:

Hasil analisa:

  1. pengaruh metode pembelajaran di STIE terhadap prestasi mahasiswa laki2 hasilnya sbb  (O- O1 ) –  (O- O2 )
  2. pengaruh metode pembelajaran di STIE terhadap prestasi mahasiswa perempuan hasilnya sbb  (O- O3 ) –  (O- O4 )
  3. bila hasil berbeda antara a dan b maka pengaruh perbedaan ini bukan metode pembelajarannya tetapi variabel moderatornya (laki2 dan perempuan) mempunyai kemampuan pwenyerapan yang berbeda,

 

Metode lainnya apabila tertarik bisa saya ajarkan khusus

POPULASI DAN SAMPEL

 

  1. A.   Populasi 

Populasi adalah wilayah generilisasi yang terdiri atas  obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karasteristuik tertentuyang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

 

  1. B.   Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karasteristuik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Mengapa peneliti harus menggunakan sampel:

 

  1. peneliti tidak mungkin meneliti semua yang ada dalam populasi.
  2. keterbatasan dana
  3. keterbatasan waktu
  4. keterbatasan tenaga

pengambilan sampel harus representatif (mewakili) dan benar dari suatu populasi, bila salah akan menimbulkan interpretasi yang berbeda yterhadap suatu masalah yang sama.

  1. teknik Sampling.

Adalah teknik pengambilan sample yang digunakan dalam suatu penelitian yang dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Menentukan jumlah sampel
  1. Jumlah sampel sam dengan jumlah populasi misal sampel 100 semua dijadikan responden/sampel
  2. Jumlah sampel berdasarkan Isaac dan Michael untuk tingkat kesalahan 1, 5 dan 10 % adalah sebagai berikut:

Lihat tabel atau hitung?

S = sampel                   ,d = 0,05

N = jumlah populasi    P = Q = 0,5

Λ = dk = 1 taraf kesalahan ? Y1 =

Menentukan Populasi

Menentukan sampel ??

SKALA PENGUKURAN.

Dalam penelitian kuantitatif maka peneliti akan menggunakan Instrumen sedangkan dalam penelitian kuantuitatif peneliti digunakan sebagai instrumen karena menggunakan key instrument.

Jumlah instrumen harus sama dengan variabel yang dibuat, instrumen sudah ada yang baku sedang yang dibuat oleh peneliti harus diuji dahulu validitas dan reliabilitasnya.

A, Macam2 skala pengukuran.

  1. Skala Likert digunakan untuk mengukur  sikap, pendapat,  dan persepsi perorangan atau kelompok orang tentang fenomena Bisnis/Sosial.  Variabel dijabarkan menjadi indikator, indikator dijabarkan dalam item item pernyataan atau pertanyaan. Gradasi jawaban dari sangat positif sampai sangat negatif sebagai contoh sbb:
  1. Sangat baik sekali                    5
  2. Baik sekali                     4
  3. Baik                               3
  4. Tidak baik                     2
  5. Tidak baik sekali           1
  1. Sangat setuju,                     5
  2. Setuju                                 4
  3. Ragu ragu                           3
  4. Tidak setuju                        2
  5. Sangat tidak setuju             1
  1. Skala Guttman digunakan untuk mendapat jawaban yang tegas terhadap suatu masalah jawabannya hanya 2, contoh:  (1) a. =benar b,= salah (2) a = setuju b tidak setuju dll
  2. Skala  Osgood, digunakan untuk mengukur sikap dan bentuknya check list dari sangat positif sampai sangat negatif sebagai contoh

Penilaian gaya kepemimpinan

Bersahabat

5

4

3

2

1

Tepat janji

5

4

3

2

1

Demokratis

5

4

3

2

1

Memberikan kepercayaan

5

4

3

2

1

(Ketiga pola diatas dari data kualitatif, dikuantitaifkan )

  1. Rating Scale, adalah data mentah yang diperoleh dengan angka  kemudian ditafsirkan menjadi kualitatif sebagai contoh

Mohon dijawab sesuai dengan nurani Saudara, bagaimana persepsi saudara sebelum dan sesudah pelatihan dalam bidang

Pengetahuan sebelum mengikuti Diklat

Mata pelajaran

Pengetahuan sesudah mengikuti Diklat

0

1

2

3

MPS

0

1

2

3

0

1

2

3

Manajemen Quantitative

0

1

2

3

0

1

2

3

Ekonomi Makro

0

1

2

3

0

1

2

3

Ekonomi Mikro

0

1

2

3

 

B. Instrumen penelitian

Instrumen pada saat ini ada yang sudah siap digunakan oleh peneliti yang dikembangkan oleh orang lain dan ada instrumen yang dikembangkan oleh peneliti sendiri dibawah ini adalah salah satu contoh sebuah instrumen yang dikembangkan oleh seorang peneliti:

Kisi2 variabel Efektivitas Kerja Pelaksanaan MBL

 

Variabel

 

Indikator

 

Pernyataan

 

Penilaian

1

Effektivitas

kerjaAHubungan  dan inter-

aksi dalam kelompok

Direksi dengan

Staf

1

Saya berpendapat bahwa seluruh anggota

a

Sangat setuju sekali Pelaksana 

an MBL  Direksi suka berinteraksi antar

b

Sangat setuju    anggota Direksi

c

Setuju  

d

Kurang Setuju    

e

Tidak Setuju

2

Beberapa anggota Direksi yang tidak

a

Sangat setuju sekali     sukai, mereka tidak suka berinteraksi dengan

b

Sangat setuju     anggota lainnya

c

Setuju

d

Kurang Setuju

e

Tidak Setuju

3

Anggota Direksi yang saya sukai

a

Sangat setuju sekali     senang menjalin persahabatan dan berinterak

b

Sangat setuju     si dengan anggota Direksi lainnya

c

Setuju

d

Kurang Setuju

e

Tidak Setuju 

VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN

VALIDITAS INSTRUMEN : Alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data itu valid . Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.

SKEMA TENTANG INSTRUMEN DAN CARA CARA PENGUJIAN VALIDITAS DAN RELIABILITAS .

RELIABILITAS INSTRUMEN : adalah alat ukur berupa instrumen tersebut apabila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama akan menghasilkan data yang sama.

 

III.TEKNIK PENGUMPULAN DATA

  • Kualitas Data  dipengaruhi oleh , kualitas instrumen penelitian, kualitas pengumpulan data,
  • Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara
  1. Setting  mencakup :
  • Seting alamiah
  • laboratarium
  • eksperimen
  • dll
  1. Sumber data
  • Data primer
  • Data sekundair
  1. Cara pengumpulan data
  • Interview (wawancara)
    • Terstructur (dengan instrumen dan tahu secara pasti informasi yang akan diperoleh.
    • Tidak terstructur, hanya garis besar penyusunan saja.
    • Kuesioner ( angket), responden diberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis untuk dijawabnya. Yang menyangkut dan perlu diperhatikan
      • Isi dan tujuan pertanyaan
      • Bahasa yang digunakan
      • Type dan bentuk pertanyaan
      • Pertanyaan tidak mendua
      • Tidak menanyakan yang sudah lupa
      • Pertanyaan tidak menggiring
      • Penjang pertanyaan  sebaiknya 20 s/d 30 pertanyaan
      • Urutan pertanyaan dari umum ke spesifik
      • Observasi (Pengamatan),  suatu pengamatan yang tidak terbatas nulai dari orang sampai benda yang tidak bisa ditanya, bentuk2 observasi adalah:
        • Observasi berperan serta, terlibat langsung dengan orang yang diamati yang digunakan sebagai sumber data.
        • Observasi non partisan, peneliti sebagai pengamat independent.
        • Observasi terstructur, dirancang dengan sistematis, tentang apa yang akan diamati dan dimana tempatnya
        • Observasi tidak terstructur, tidak dipersiapkan secara sistematis

II.   PENGOLAHAN DATA DAN PENGUJIAN HIPOTESIS

  1. PENGOLAHAN DATA

Pada prinsipnya pengolahan data (analisis) ada dua cara , hal ini tergantung pada datanya  yaitu

  1. Analisis non statistik, dilakukan terhadap data kualitatif, dalam hal ini penelitian kualitatif mengajak seseorang untuk mempelajari sesuatu masalah yang ingin diteliti secara mendasar dan mendalam sampai ke akar akarnya masalah dilihat dari berbagai segi. Data yang diukumpulkan bukanlah secara random atau mekanik, tetapi dikuasai oleh pengembangan hipotesis. Apa yang diketemukan pada suatu saat adalah satu pedoman yang langsung terdapat apa yang akan dikumpulkan berikutnya dimana akan dicari.
  1. Analisis Statistik, berangkat dari data kuantitatif yang terbagi atas:
  1. Statistik deskriptif, yang ditujukan untuk penjajagan atau pendahuluan dan tidak menarik kesimpulan hanya memberikan gambaran secara deskriptif.
  2. Statistik inferensialdipergunakan jika peneliti akan memberikan interprestasi mengenai data, atau ingin menarik kesimpulan data yang dihasilkan

2.PROSEDUR ANALISIS DATA.

  1. Penyusunan Data. Antara lain mencakup:
  •  Hanya memasukkan data yang penting dan benar2 dibutuhkan
  • hanya memasukkan data yang obyektif
  • Hanya memasukkan data yang autentik
  • Perlu dibedakan data dan informasi, dengan kesan pendapat pribadi.
  1. Pengolahan data
  • Pengklasifikasikan data
  • Koding
  • Tabulasi
  1. PENGUJIAN HIPOTESIS

Pengujian hipotesis adalah cara menentukan apakah data sampel beda nyata atau tidak, sehingga bila hipotesis non diterima maka hiopotesis alternatih ditolak dan sebaliknya.

 

Hipotesis Statistik

a.        Ho : ry1    = 0            b. Ho :  ry2      = 0

                                                                                     H1    :   ry1   > 0            Hry2      > 0

c.         Ho :  ry3     = 0             d. Ho :  Ry. 123  = 0

                                                                                     Hry3     > 0                 H: Ry. 123     > 0

 

1. Pengujian Distribusi Normal :

  1. Luas daerah yang  diarsir seluruhnya adalah 0,05 dan bilangan ini disebut taraf nyata ( α ) dari pengujian

Distribusi normal sebagai dasar penujian dilukiskan sebagai berikut:

Luas daerah yang diarsir seluruhnya adalah 01,05 dan bilangan ini (0,05) disebut taraf nyata (cc) dari pengujian. Kriterianya adalah:

1.     Tidak H, pada taraf nyata 0,05 bila nilai z terletak di luarselang (‑1,96 +1,96)  yaitu bila z>1,96 atau z<‑1,96.

2.     Terima H, pada taraf nyata 0,05 bila nilai z terletak dalam selang             (‑1, +1,96).

3.     Taraf nyata lainnya biasa dipakai 0,01 dengan selang (‑2,58 +2,58).

Ada dua macarn pengujian yaitu pengujian dua arah atau dua ekor dain perigujian satu arah atau satu ekor. flengujian mana yang digunakan bergantung kepada hipotesis alternatif. Jika Hi diliyatakan p# q maka digunakan pengujian ,,Itia arah, namun bila H, : p > q maka gunakan pengujian satu arah.

Untuk pengojian, dua aralt:

Menenttikan titik kritis pengujian distribusi normal gunakan tabel distribusi normal z.

  1. Pengujian dengan sampel besar, dengan populasi tak terhingga, untuk ini digunakan nilai rata2 dan variansi. Dengan cara sebagai berikut:
  1. Pengujian untuk rata2

misal sebagai berikut: data dari 100 Penyuluh terlihat bahwa kenaikan pangkatnya rata2 60 bulan 1 kali, dengan simpangan baku 5 bulan, sedangkan menurut ketentuan kepegawaian kenaikan pangkat 48 bulan, yang benar mana???

Ho  = 48 bulan   dan  H1    ≠ 48 kita ambil α  = 0,05

60  -  48

Z =                     = 2,80

5

  1. Pengujian Proporsi

Misal  Staf Sekretariat STIE Lido mengatakan bahwa  90 % staf PPL yang berasal dari Dinas Manajemen yang ikut tes  diterima di STIE Lido, sedangkan seluruh peserta tes adalah 200 orang, dan yang diterima di Lido hanya 160 orang , benarkah pernyataan itu:

N = 200,  X = 160 ; α  = 0,05

                                    Ho : r    = 0,009 ;    Hi : r    < 0,009 (Uji satu skor)

=  4,73

 

c. Pengujian selisih dua rata2

Misal dua kelas parallel masing2 terdiri atas 50 dan 60 orang, nilai rata2 ujian MPS adalah 71 dengan simpangan baku 7 dan 74 dengan simpangan baku 8 apakah ada beda nyata:

d. Pengujian selisih dua proporsi

Misal dua kelas parallel dengan murid masing2 100, kelas A diberikan pelajaran beternak ayam dengan teori dan praktek, sedangkan kelas B hanya teori saja, setelah itu diadakan tes maka kelas  nilainya = 70 dan B = 60, efektifkajh pemberian praktek beternak ayam?

Misalkan kelas A dengan teori dan praktek adalah p1 kelas B hanya teori saja adalah p2

Harga z ternyata lebih kecil dari 1,645 (uji satu ekor) pada taraf nyata 0,05. Dengan demikian terima Ho atau tolak H,. Artinya teori dan praktek ternak ayam tidak efektif, perbedaan hanya faktor kebetulan.

  1. Pengujian dengan sampel kecil

Misal untuk menguji prestasi bahasa inggris mahasiswa STIE dengan skor rata2 60 ,m dengan taraf beda nyata 0,05, sampel diambil masing2 10 orang tiap tiap jurusan menhasilkan rata2 nilai 63,5 dengan taraf simpangan baku 4,8

Ho : X  = 60

Hi  : X  ¹  60   dengan  a = 0.05 derajat bebas = n –1 = 9

Dalam tabel distribusi t diperoleh nilai tabel untuk a = 0.05  adalah 2,2632 (dua arah)

Nilai t = 2,187 < 2,265 sehingga Ho diterima dan Hi ditolak, artinya [prestasi mahasiswa tersebut benar sebesar 60

  1. Pengujian selisih dua rata2 (uji t)

Misalkan menguji prestasi mahasiswa jurusan manajemen dan komputer STIE , dalam pelajaran BI, Lido diambil 15 ms; dengan hasil tes 75 dengan simpanan baku 5, sedang Puncak sebanyak 10 ms, 70 dengan simpanan baku 4, pengujian dengan alpha = 0,05 , dengan jerajat bebas n1 + n2 –2 = 23

Nilai tabel untuk cc = 0,05 dengan derajat bebas 23 adalah 2,069. Dengan dernikian t dihitung lebih kecil daripada t tabel atau 0,80 < 2,069. Berarti H. diterima dan Hi ditolak. Kesimpulan tidak ada perbedaan prestasi Bahasa Indonesia antara jurusan Al dengan A 2′

Uji t lainnya dengan menggunakan salah baku perbedaan A-n rnti-rnta (S)


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A . Regresi Linier Sederhana

 

Regresi sederhana didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal satu variabel independen dengan satu variabel dependen,

Persarnaan urnum regresi linier sederhana adalah

Y  =  a  +  bX

Dimana

y             Subyek dalarn variabel depenclen yang diprediksikan.

a              Harga Y bila X = 0 (harga konstan)

b.            Angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukkan angka peningkatan ataupun penurunan variabeldepenclen yang didasarkan pada variabel independen, Bila b ( + ) maka naik, clan bilamana terjadi penurunan.

x             Subyek pada variabel indepenclen yang mempunyai nilai tertentu.

Secara teknis harga b merupakan tangen dari (perbandingan) antara panjang garis variabel dependen, setelah persarnaan regresi ditemukan,

Lihat gambar berikut :

Dimana

r        Koefisien korelasi product moment antara variabel X

dengan variabel Y

s,      Simpangan baku variabel Y

s,      Simpangan baku variabel X

Jadi harga b rnerupakan fungsi dari koefisien korelasi. Bi!a koefisien korelasi tinggi,maka harga bjuga besar, sebaliknya bila koefisien korelasi rcndah maka harga b juga rendah (kecil). Selain itu bila koefisien korelasi negatif maka harga juga negatif, dan sebaliknya bila koefisien kofe!asi positif maka harga b juga positif.

Seiain itu harga a dan b dapat dicari dengan rumus berikut:

Contoh perhitungan regresi linier sederhana

Data berikut adalah hasil pengamatan terhadap nilai kualitas layanan (x) dan nilai rata‑rata penjualan barang terlentu tiap bulan, Data kedua variabel diberikan pada tabel berikut.

Untuk menghitung persamaan regresuinya, maka diperlukan penolong sbb:.

b. (Menghitung harga a dan b dengan rumus

Harga b dapat dihitung dengan rumus tersebut , tetapi terlebih dah, dihitung korelasi antara nilai kualitas layanan dan nilai rata‑rata penjuala, barang. Harqa a dapat dicari dengan rumus berikutnya.

c. Menyusun persamaan regresi

Setelah harga a dan b ditemukan, maka persamaan regresi linier, sederhana dapat disusun. Persamaan regresi nilai layanan dan nilai rata. rata penjualan barang tertentu tiap bulan adalah seperti berikut

‑Y = 93,85 +1,29X

Persamaan regresi yang telah ditemukan dapat digunakan untuk untuk melakukan prediksi (ramalan) bagaimana individu dalam variabel dependen akan tedadi bila individu dalam variabel independen ditetapkap

Misalnya nilai kualitas layanan = 64, maka nilai rata‑rata penjualan adale,

Y = 93,85 +1,29.64 = 176,41

Jadi diperkirakan nilai rata‑rata penjualan tiap bulan sebesar 176,41. Dari persamaan regresi di atas dapat diartikan bahwa, nilai  kualitas layanan berlambah 1, maka nilai rata‑rata penjualan barang tiap bulan akan bertambah 1,29 atau setiap nilai kualitas layanan bertambah 10 maka nilai rata‑rata penjualan tiap bulan akan bertambah sebesar 12,9

Pengambilan harga‑harga X untuk meramalkan Y harus Jp0imbangkan secara rasional dan menurut pengalaman, yang masih ~erdda pada batas ruang gerak X. misainya kalau nilai kualitas layanan loo, nilai rata‑rata penjualan tiap bulan berapa ? Apakah ada kualitas 4yanan yang nilainya sebesar 100 ?

d, Membuat garis regresi

Garis regresi dapat digambarkan berdasarkan persamaan yang telah diternukao adalah Y = 93,85 + 1,29X

         Antara nilai kuaitas layanan deogan nilai penjualan tiap bulan dapat dihitung korelasinya . Korelasi dapat dihitmig derigar, rumus yang telah dengan rumus  sbb:

Harga‑harga yang telah ditemukan diatas dimasukkan dalam rumus.

Harga r tabel untuk taraf kesalahan  5 % dengan n = 34 diperoleh 0,339 dan untuk 1 % diperoleh 0, 436. karena harga r hitung lebih besar dari dari r tabel  maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan significan sebesar 0, 6909 antara nilai kualitas layanan dan rata2 penjualan barang tiap bulan.

Koifisien determinasi r2  = (o6909)2 = 0,4773, hal ini berarti nilai rata rata penjualan barang tiap bulan 47,73 % ditentukan oleh nilai kualitas layanan yang diberikan, melalui persamaan regresi Y =93,85 + 1,29X dan sisnya oleh faktor lain.

B. Regresi Ganda

Persamaan regresi untuk dua prediklor atau lebih adalah  Y  = a + b1Y1 + b2X2 +…… bnXn

 

1. Regresi Ganda Dua Prediktor

penelitian dilakukan untuk mengetahui pengarvuh keinampuan kei)auai, kepemirnpinan direktif terhadap produktivitas kerJa pegawai. Berdasarkan 10 responden yang digunakan sebagail sumber data, hasilnya adalah sebagai berikut

 

Untuk dapat merarnalkan bagaimana produktivitas kerja pegawai bila kernampuan pegawai dan kepernimpinan direktif dinaikkan atau diturunkan maka harus dicari persamaan regresinya terlebih dahulu Untuk keperluar ini, maka data mentah dari hasil penelitian perlu disusun ke dalam tabe. dari tiga instrumen yang dikembangkan untuk menjaring data tentang tingkat kemampuan kerja pegawai, kepernimpinan direktif dan  produktivitas kerjanya hasilnya dapat diberikan pada tabel berikut

TABEL PENOLONG UNTUK MENGHITUNG

PERSAMPkAN REGRESI GANDA DUA PREDIKTOR

No       X1        X2        Y         X1Y     X2Y        X1X2      X12         X22

1.    10          7         23        230      161      70          100        49

2,    2            3          7          14        21        6            4            9

3.    4            2          15        60        30        8            16          4

4.    6            4          17        102      68        24          36          16

5.    8            6          23        184      138      48          64          36

6.    7            5          22        154      110      35          49          25

7.    4            3          10        40        30        12          16          9

8.    6            3          14        84        42        18          36          9

9.    7            4          20        140      80        28          49          16

10.  6            3          19        114      57        18          36          9

JML        60         40         170     1122        737                  267        406        182

Y =  Produktivitas      X1  = Kernampuan keda pegawai      X2        = Kepernimpinan direktif

46 b1  = 114,582                      b2  = 2, 4909

Harga  b1, dan b2 dimasukkan dalam pemamaan 1, maka:

170        = 10a + 60 (2,4909) + 40        (‑0,466)

.170       = 10a + 149,454 ‑ 18,640

10 a     = 170 ‑ 149,454 + 18,640

a      =39,186 : 10  = 3,9186

Jadi         a = 3,9186    ;   b1  = 2,4909         ; b1  = ‑0,466

Jadi persamaan regresi ganda linier’untuk dua prediktor (kemampuan kerja pegawai, dan kepemimpinan direktif) adalah: Y = 3,9186 + 2,4909 X1 ‑ 0,466 X2

Dari persamaan itu berarti produktivitas keqa pegawai akan naik, bila kemampuan pegawal ditingkatkan, dan akan turun bila kepemimpinan direktif (otokratis) ditingkatkan. Tetapi koefisien regresi untuk kemampuan pegawai (2,4909) lebih besar dari pada koefisien regresi untuk kepemimpinan direktif (diharga mutlak = 0,466) X. jadi bila kemampuan pegawai ditingkatkan sehingga mendapat nilai 10, dan juga tingkat kepemimpinan direktif sampai mendapat nilai 10, maka pmduktivitasnya adatah Y = 3,9186 + 2,4909 .10 ‑ 0,466. 10 24,1676

Diperkirakan produktivitas kerja pegawai = 24,1676.


 

PERSIAPAN S.D PENULISAN LAPORAN PENELITIAN.

 

1. Penulisan Kerangka Acuan/Proposal.

 

Kata pengantar

Daftar Isi

BAB I .                 : PENDAHULUAN

B.   Latar Belakang

1. Perumusan Masalah

2. Konstelasi Masalah

BAB II                 : DESKRPSI TEORI DAN HIPOTESIS

  1. Deskripsi teori
  2. Kerangka berpikir
  3. Hipotesis

BAB III                : METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian
  2. Tempat dan waktu penelitian
  3. Metode penelitian
  4. Populasi dan teknik pengambilan sampel penelitian
  5. Teknik analisis data
  6. Hipotesis Statistik

DAFTAR PUSTAKA

 

II: Kerangka PenulisanTesis

Judul

Ringkasan

Lembar persetujuan (untuk skripsi, tesis dan disertasi)

Kata pengantar

Daftar Isi

Daftar tabel

Daftar gambar

Daftar lampiran

BAB I .                 : PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

  1. Identifikasi masalah
  2. Pembatasan Masalah
  3. Konstelasi Masalah
  4. Kegunaan Penelitian

D.   Perumusan Masalah

BAB II                 : DESKRPSI TEORI DAN HIPOTESIS

  1. Deskripsi Teori

1.     Hakikat… ….. Variabel dependent

2.     Hakikat ….Variabel independent 1

3.     Hakikat Variabel …..independent 2

  1. Penelitian yang relevan
  2. Kerangka berpikir
  3. Hipotesis penelitian

BAB III                : METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian
  2. Tempat dan waktu penelitian
  3. Metode penelitian
  4. Populasi dan teknik pengambilan sampel penelitian
  5. Instrumen penelitian
  6. Analisis Data
  7. Hipotesis Statistik

BAB IV                : HASIL PENELITIAN

  1. Deskripsi data dan analisa hasil penelitian
  2. Pengujuan Persyaratan analisis (normalitas homogenitas)
  3. Pengujian Hipotesis
  4. Keterbatasan penelitian

BAB V                 : KESIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN.

  1. Kesimpulan
  2. Implikasi
  3. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

Notasi Ilmiah

Notasi Ilmiah adalah catatan pendek untuk mengetahui sumber informasi ilmiah yang dikutib dalam suatu karya ilmiah. Karena  catatan  tersebut diletakkan dibawah halaman maka sering pula disebut catatan kaki  atau footnote.

Catatan kaki tidak hanya digunakan untuk mengetahui dan mendalami sumber informasi tetapi juga untuk mengetahui dan mendalami sesuatu penulisan ilmiah tanpa  mengganggu keseluruhan penulisan tersebut. Ada beberapa cara pembuatan notasi ilmiah yang diakui secara internasional dan setiap perguruan tinggi  biasanya membuat pedoman notasi ilmiah yang digunakan dalam penulisan ilmiah di lingkungannya.

Kutipan.

Suatu pengetahuan ilmiah yang dikutib dari  seseorang  dan digunakan untuk berbagai tujuan untuk mendukung pernyataan penulis untuk mendifinisikan sesuatu dapat berbentuk  sebagai “ kutipan langsung “ dan kutipan “tidak langsung”

Kutipan cukup pendek, dimasukkan dalam skripsi,  dengan menggunakan tanda kutib “ ……. “, nomor catatan kaki diletakkan diakhir kalimat ,  sebaiknya antara 4 sampai 8 baris,  diketik dalam satu spasi, dan dimulai 7 ketukan dari tulisan paling kiri.

Contoh:

Mengenai taraf kesukaran dalam pemasaran, Achmad Buchori mengatakan

“ …. Makin luas wilayah pemasaran maka makin sulit untuk melaksanakan pemantauan, sedangkan makin sempit wilayah pemasaran akan mempermudah pemantauan”.4

Suriasumantri memberikan batasan tentang penalaran ilmiah sebagai berikut,

“ Penalaran ilmiah pada hakikatnya merupakan  gabungan  dari penalaran deduktif dan induktif, dimana lebih lanjut penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme, dan penalaran induktif dengan empirisme.” 5

Catatan kaki.

Dengan komputerisasi membuat catatan kaki adalah mudah, secara ilmiah maka catatan kaki dipisahkan dari tubuh skripsi atau teks, dimulai 14 s/d 20 ketukan paling kiri, diketik dalam satu spasi, , garis pemisah  dengan dua spasi,  yang mencakup (1) nama penulis, (2) judul tulisan (3) tempat penerbitan (4) nama penerbit (5) tahun penerbitan  (6) halaman yang dikutib.

  1. 1.   Nama penulis.

a. Nama penulis harus sama dengan nama yang tercantum dalam buku, tanpa gelar (profesor, Ir. Drs dll), bila menggunakan nama keluarga dicantumkan yang terakhir

[1] Stephen P. Robbins,  Organization Theory : Structure, Design and Applications  (Englewood Cliffs : Prenstice-Hall,  1990),  pp. 51-85

2 Wayne K. Hoy & Cecil G. Miskel, Educational Administration, Theory, Research, and Practice 2nd(New York :Random House Inc, 1982) pp319 –3 44

b. Pengulangan kutipan yang diulang dengan pengarang yang sama  menggunakan notasi ibid kutipan ini pada halaman yang sama

3 Ibid

c. Sedangkan apabila dengan buku yang sama tetapi halaman berbeda maka ditulis sbb:

4 Ibid., p. 222  (kutipan ini pada buku sama  pada halaman  222

d. Sedangkan bila ingin mengutib Stephen P. Robbins catatan tersebut terhalang tulisan Wayne K. Hoy & Cecil G. Miskel, maka digunakan loc. Cit (loco citato artinya dalam tempat yang telah dikutib

5 Stephen P. Robbins, loc. cit.

e. Sedangkan bila ingin mengutib Stephen P. Robbins catatan tersebut terhalang tulisan Wayne K. Hoy & Cecil G. Miskel tetapi pada halaman yang berbeda maka digunakan  op.cit (  opere citato dalam karya yang telah dikutib misal

6 Stephen P. Robbins, op. cit., p234

f. Sedangkan bila ingin mengutib Stephen P. Robbins tetapi buku lainnya maka cukup ditulis

7 Stephen P. Robbins, Organisation Behaviour , pp 675

g. Untuk dua dan tiga pengarang dalam buku sama maka penulis ditambah and untuk penulis ketiga

8 Albert Mehrabian,  Andrew L.Young, and Sharon Sato, Emotional Emphaty and Associated Individual Difference (Los Anggelos: University of California, 1988)  pp 221-240

h. Apabila pengarang lebih empat (4) cukup ditambah et al. (et alili atau dan lai lain.)

9 Paulus,  P.B et .  al. , Psychology of  Group Influence (Hilsdale : Nj. Erlbaum, 1989),  pp. 248-253.

i. Untuk buku yang diterjemahkan harus ada nama pengarang dan nama peterjemah,

10 Robert Lado, Budaya dan Bahasa, terjemahan, S darmawidjojo (Bandung, penerbit Ganefo, 1999), p. 213

j. Untuk buku kumpulan cukup ditulis editornya.

11 Paulus DP. Bunga rampai kewirausahaan Indonesia, Jakarta, Penerbit Erlangga, 1998.

k. Jika tidak ada nama pengarang, maka lembaga atau nama panitia dapat dituliskan dan dianggap sebagai penulis.

12 Departemen Pertanian, petunjuk Operasional Proyek P4K, Jakarta, Proyek P4K, 20

  1. 2.   Judul Tulisan.

 

Judul tulisan harus ditulis lengkap lihat contoh contoh diatas  khusaus untuk judul skripsi, thesis dll yang tidak dipublikasikan ditu;lis dengan tanda kutib

  1. Kota tempat  penerbitan.

Kota tempat penerbitan bisa dicari dihalaman 3  atau dibalik halaman ujudul, apabila lebih dari satu kota maka cukup ditulis satu saja.

  1. Nama penerbit

Ditulis setelah nama kota diikuti dengan koma baru tahun penerbitan

  1. Tahun penerbitan

Tahun penerbitan adalah tahun diterbitkan bukan tahun pada akhir pendahuluan.

  1. Halaman

Pada umumnya kutipan diambil dari halaman tertentu digunakan singkatan p (pagina atau page) kadang2 juga digunakan h. apabila satu halaman cukup  p.4; bila banyak halaman digunakan pp, 16-34.

1. Hakekat Efektivitas Kerja

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Efektifitas Kerja,  dari rangkaian kata yang ada maka penelahaan variabel tersebut akan diawali  pada pengertian serta konsep-konsep tentang pengertian efektivitas kerja1, adapun pengertian efektivitas atau keefektivan didalam bahasa inggris disebut dengan effektiveness, dan dalam pembahasannya ditekankan pada penilaian prestasi perseorangan yang pada dasarnya adalah menjadi dasar prestasi organisasi atau kelompok, untuk mendukung pengertian tersebut  maka pengertian tentang  ketua,  dan  kelompok2, dibahas pula untuk digunakan sebagai bahan rujukan3, semua pengertian tersebut yang dijadikan  dasar  dalam pembahasan dan digunakan penelahaan selanjutnya.4

DAFTAR PUSTAKA.

Daftar pustaka tidak diberi nomor urut tetapi menggunakan  urutan alfabetis berdasarkan nama keluarga ,  sehingga nama keluarga dahulu baru nama,  ingat dalam catatan kaki nama keluarga dibelakang, khusus untuk orang Indonesia cek sekali lagi apakah nama belakang itu nama keluarga atau bukan apabila bukan maka ditulis biasa.

Biro Pusat Statistik.,  Indikator Sosial Wanita Indonesia 1998, Biro Pusat Statistik, Jakarta  2000.

Bennis, Warren G., Jagdish Parikh., Ronnie Lessem. Beyond Leadership, Balancing Economics, Ethics, and Ecology, Cambridge : Central Limited & TJ Press, 1994.

Braybrooke David., & Charles L. Lindblom. Strategy of Decision, Policy Evaluation as a Social Process, New York : The Free Press, 1970.

Hadari, Nawawi. Manajemen Sumberdaya Manusia untuk Bisnis yang Kompetitif, Yogyakarta : Gadjahmada University Press, 1997.

Maslow, Abraham H.. Motivasi dan Kepribadian,: Teori dengan pendekatan hierarki kebutuhan manusia, Sugiyanto dkkJakarta : Pustaka Binaman Presindo, 1994.

Paulus, PB. Et .al, Psychology of Group Influence, Hilsdale : Erlbaum Internasional, 1989.


1 Wayne K. Hoy & Cecil G. Miskel, Educational Administration, Theory, Research, and Practice 2nd (New York :Random House Inc, 1982) pp319 –3 44

2 Carl V. Patron & David S. Sawicki, Basic Method of Policy Analysis and Planning ( Englewood Cliffs : Ptentice Hall, 1986) p 157

3 ibid., p.78

4 op.cit., p. 76