CONTOH MAKALAH / BAHAN KULIAH TEORI SEJARAH SASTRA

CONTOH MAKALAH / BAHAN KULIAH TEORI SEJARAH SASTRA

By Rinastkip, http://rinastkip.wordpress.com

TEORI  SASTRA

Teori Sastra Transisi: Teori Sastra sangat berkaitan dengan Pengantar Ilmu Sastra. Karena pengampu Mata Kuliah Pengantar Ilmu Sastra belum tentu oleh dosen yang sama, maka materi Teori Sastra perlu dilakukan penyesuaian dengan Pengantar Ilmu Sastra, supaya tidak terjadi pendobelan (overlapping) maupun kerumpangan. Oleh karena itu perlu juga dilihat silabus materi PIS.

MATERI TEORI SASTRA

  1. Sastra dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman bersastra: apa itu sastra menurut aku? Konkretnya? Apakah sastra dekat dengan kehidupanku? Kapan aku mulai mengenal sastra? Sastra dalam hidup sehari-hari (Sastra lama). Ambil contoh sastra yang baik dan menarik (dari pengalaman mereka: dongeng, drama, film, cerpen). Dibaca bersama-sama, disharingkan & didiskusikan.
  2. Baca puisi Rendra seonggok Jagung di kamar. Bicara ttg kreativitas, majalah Jejal. Tugas membaca/menikmati sastra yang menarik (puisi, cerita, drama).
  3. Sastra menurut Wellek, Sartre.
  4. Ragam Bahasa: kekhasan bahasa Sastra dibanding dengan bahasa lainnya: contoh puisi Muh. Yamin, puisi Rendra, Chairil, Rintrik, Iwan Smtpang. 
  5. Sastra sebagai fiksi (contoh-contoh).  Mengapa sastra sebagai fiksi berguna bagi manusia? Keuntungan sastra sebagai fiksi?
  6. Sastra sebagai seni. Apa itu seni? Keindahan dan sifat-sifatnya. Pengalaman Estetis
  7. Prosa, puisi dan drama
  8. Sastra yang baik? Dulce et Utile dalam Sastra.
  1. Sastra yang indah: apanya yang indah? Bahasa, ataukah isinya yang mampu menyentuh hati?  Atau imaginasinya? Contoh bahasa yang indah; contoh imaginasi yang menarik: “bulan di atas kuburan”; ”sepotong senja”; “aku ingin mencintaimu secara sederhana”. Yang indah dalam sastra, tergantung pada masing-masing genre: puisi, drama, fiksi.
  2. Sastra yang bermanfaat. Sastra yang menyentuh hati, mengharukan, sastra yang indah ataukah yang baik? Atau kedua-duanya?
  1. Studi Sastra: teori, sejarah & kritik sastra berada di dalam wilayah ilmu pengetahuan, namun yang menjadi objek pembicaraan adalah  sastra sebagai seni (karya sastra).
  2. Munculnya aliran-aliran dan pendekatan dalam sastra.
  3. Mengapa orang membaca sastra? Apa fungsi & peran sastra dalam kehidupan sehari-hari?

 

 

1. SASTRA DALAM HIDUP SEHARI-HARI: DALAM TRADISI MASYARAKAT, KETOPRAK, LENONG, SENDRATARI, DRAMA, LAGU-LAGU, FILM, SINETRON, TELENOVELA,  DSB

Sejak kecil kita sebenarnya sudah akrab dengan sastra.

  1. Ketika bayi, waktu mau tidur, dilagukan lagu Ninabubuk; ketika manangis, ditembahkan lagu Tak lela lela lela ledung; waktu masih balita, diajar nyanyi Keplok ame-ame, walang kupu-kupu. Ketika di TK, menyanyi Pelangi-pelangi, Bintang Kecil, Menanam Jagung, Satu-satu aku saying Ibu, Balonku Ada Lima. Lagu-lagu tanah air, perjuangan, kebangsaan lagu pop, bahkan lagu dangdut, dsb. Dongeng sebelum tidur:
  2. Ketika kita masih kecil dulu, belum mau tidur kalau belum dikeloni dan diceritain tentang dongeng Timun Emas dengan Buto Ijo, tentang bagaimana Timun Emas dikejar-kejar Buto Ijo hendak dijadikan santapan/dikawini. Bagaimana Timun Emas itu lari dan bersembunyi; bagaimana Timun Emas itu akhirnya menyebarkan garam pemberian Nini Buto Ijo, menjadi danau embel atau danau lumpur, sehingga Buto Ijo terperosok ke dalam lumpur itu. Dengan demikian Timun Emas bisa lari meninggalkan Buto Ijo. Bawang Merah, Cindelaras, Kancil Nyolong Timun. Dongeng-dongeng itulah sastra.
  3. Ketika seorang pawang, dukun, dalam acara bersih desa, kendurenan, berkisah tentang asal-usul desa tersebut, dia terlibat dalam sastra lisan, yaitu cerita, dongeng atau mitos. Dalam sastra tradisional, kita mengenal cerita asal-usul, cerita binatang, cerita jenaka, cerita pelipur lara, pantun.
  4. Asal-usul Tangkuban Perahu; Rawa Pening; Banyuwangi; Ciamis; mengapa gadung beracun, harimau berbelang, ayam jago bertanduk. Gunung Tidar sebagai pathok tanah Jawa; orang Jepang percaya diri sebagai putra matahari; orang Jawa berasal dari dewa; raja2 Jawa sebagai titisan dewa; Suharto sebagai keturunan raja2 Jawa, dsb. Cerita asal-usul biasanya untuk mencari legitimasi bahwa suku, bangsa, atau keluarga, tokoh berasal dari keturunan raja atau dewa, bukan orang sembarangan atau keturunan pidak-pedarakan. Seperti Suharto, mengatakan bahwa dirinya itu masih keturunan raja2 Jawa (Majapahit-Mataram?).
  5. Cerita binatang: Cerita Kancil paling populer. Tokoh binatang yang kecil  tetapi cerdik. Bahkan bisa mengalahkan atau menipu binatang2 hutan yang lebih besar. Misalnya Kancil berlomba lari dengan Siput (keong). Kancil menjaga seruling, sabuk, gong, jenang nabi Sulaeman. Kancil menipu Gajah. Kancil kalah dengan orang-orangan Pak Tani, tapi bisa menipu Anjing. Binatang yang tak tahu balas budi: Buaya yang mau memakan Lembu yang baru saja menolongnya dari tindihan pohon. Cerita binatang berasal dari India, karena kepercayaan Hindu akan inkarnasi. Cerita binatang yang juga terkenal adalah Sukasaptati. Terjemahan versi Melayu bernama Bayan Budiman.
  6. Cerita Jenaka: Cerita Pelipur Lara
  7. Epos India: Ramayana dan Mahabharata.
  8. Lagu-lagu yang saban hari kita dengar dan kita gemari, dari lagu pop, campur sari, hingga lagu dangdut, bukankah syair-syairnya berbentuk puisi? Hiburan-hiburan apa yang kita saksikan di televisi? Cerita apa saja yang saya senangi? Ketoprak Humor, Srimulat, Ludruk, pementasan Wayang  Orang maupun Wayang Kulit, bukankah itu merupakan bentuk teater? Acara-acara film dari Shinchan, Doraemon, Scoobidoo, Sinetron Tersanjung, Maha Kasih, Mak Lampir, Dendam Nyi Pelet, hingga Telenovela, film-film Hindia, film silat Cina sampai film-film Hollywood, bukankah itu cerita fiksi yang diolah dari skenario yang bersifat sastra? Belum lagi cerita-cerita daerah, tulisan-tulisan di berbagai koran, majalah dalam bentuk Cerita pendek, Cerita bersambung, puisi, dsb.
  9. Cerita kanak2 Harry Potter, cerita HC. Anderson, Bayan Budiman. Dalam acara tivi: cerita horor, ketoprak humor, kartoon, film cerita silat, India, Mahabharata, detektif, spionase, cerita kartoon dari Jepang, dsb. Pengalaman pribadi: buat cerita (memetik bulan dan matahari), cerpen “Sepotong Senja untuk Sang Pacar”, cerber. Cerita lucu2.
  10. Dalam seni gerak (Tari) pun biasanya terselip (cerita) sastra secara implisit (Ramayana, Tari Merak, dsb). Demikian pula dalam lukisan2-pun terdapat cerita sastra secara implisit. Ada cerita yang melatar-belakanginya. Drama, cerita film: merupakan cerita dalam gerak dan kata.
  11. Tradisi lisan dan tradisi tulis dalam masyarakat dulu. Tradisi lisan dan tradisi tulis dalam masyarakat kita sekarang. Suka ngobrol, ngegosip, bikin isu, provokator, tidak suka baca, tidak suka ke perpust. Kita sebagai mahasiswa berada dalam transisi, menuju ke tradisi tulis sebagai calon cendekiawan, biasakan ke perpust.
  12. Bisa dikatakan setiap saat kita sebenarnya bertemu dengan sastra.
  13. Tapi jangan kebablasan, euforia (latah). Mentang mahasiswa lalu nulis di meja2 kuliah, tembok, tempat2 umum, WC, dsb.

Tugas 1: saling bercerita kepada teman sekelompok

1. Kumpulkan Cerita2 rakyat, dongeng menjelang tidur, terutama yang saudara senangi. Buat ringkasan 5 cerita!

2. Atau cari 5 cerita asal-usul; 5 cerita binatang; 5 cerita lucu.

3. Atau 5 jenis berbagai cerita: dongeng, legenda, asal-usul, cerita binatang, cerita Jenaka, Epos India.

Tugas 2:

  1. Sejauh mana saya membaca/menikmati sastra?
  2. Buku sastra apa saja yang pernah saya baca/nikmati? Sebutkan jenis sastra mana yang pernah saya nikmati (novel, cerpen, puisi, drama)!
  3. Seringkah saya menonton dan menikmati drama, ketoprak, wayang, cerita, cerita film, sinetron, cerita Barat,  China, Timur Tengah?
  4. Sering membacakan puisi, mendeklamasikan puisi? Pernah menulis puisi?

2. Menikmati: SEONGGOK JAGUNG DI KAMAR

Pembelajaran

  1. Mencoba untuk menguji kemampuan menyimak (semua mhswa), membacakan untuk orang lain (bagi yang ditugasi membacakan “Sajak Seonggok Jagung”).
  2. Menguji pemahaman mhswa tentang “pemuda” yang digambarkan di dalam sajak tsb. Pembacaan diulang beberapa kali kalau perlu.
  3. Menarik kesimpulan:

1)      Ada berapa tipe pemuda yang digambarkan di dalam sajak?

2)      Apa kesimpulan yang bisa diambil dari pembacaan sajak tsb?

3)      Apakah ada kritik yang ingin disampaikan oleh ”aku lirik” dari sajak itu? Bagaimana kritiknya?

4)      Bagaimana pendidikan seharusnya berfungsi untuk hidup ini?

Tugas 3:

  1. Menurut saya selama ini, yang dimaksud dengan sastra adalah ….
  2. Sejak kapan saya mulai mengenal sastra?
  3. Sastra menurut saya pada saat itu, sesuatu yang jauh, atau sesuatu yang menarik, ataukah sesuatu yang sulit dimengerti?

Laporan Bacaan:

4. APA ITU SASTRA?

DISKUSI:

a. Sastra menurut para ahli (Wellek, kamus, Sartre, Teeuw, Luxemburg, Eagleton, dst)?

Tugas 4: membaca Wellek & Warren BAGIAN 1, bab 1 & 2

b. Sastra yang dekat dan disenangi masyarakat?

c. Mahasiswa dalam kelompok, coba bandingkan 3 macam tulisan: tulisan sastra, jurnalistik, dan percakapan sehari-hari.

4. APA ITU SASTRA MENURUT AHLI?

Sastra menurut beberapa ahli: Wellek & Warren, dan Sartre.

A. SASTRA DAN STUDI SASTRA (Wellek & Warren, Bab 1)

Sastra: kegiatan kreatif; sebuah seni.  Studi sastra: cabang ilmu pengetahuan.

Hubungan sastra dan studi sastra menimbulkan beberapa masalah rumit. Beberapa tawaran jalan keluar.

Pertama-tama harus dibedakan antara sastra dan studi sastra. Semula ada usaha mengaburkan perbedaan ini. Katanya, seorang penyair harus bisa menilai syair-syair yang baik maupun yang jelek. Sebaliknya seorang pemerhati drama, puisi haruslah seorang dramawan maupun penyair. Tidak mungkin kita mempelajari drama Inggris dari periode tsb, tanpa mencoba belajar mengarang drama dalam bentuk blank verse, ciri khas drama zaman Elizabeth di  Inggris.  Demikian pula,  orang tidak bisa mempelajari pantun maupun syair tanpa terlebih dulu mencoba membuat bentuk puisi khas Melayu itu. Kita harus belajar membuat bentuk puisi  tembang sebelum mencoba membicarakan jenis bentuk puisi Jawa tersebut.

Latihan kreatif ini barangkali memang berguna, tetapi tugas seorang penelaah sastra sama sekali lain dengan pencipta sastra. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif dan hasilnya: karya seni. Sedang studi sastra adalah cabang ilmu pengetahuan. Seorang penelaah sastra harus bisa menelaah sastra dalam bahasa ilmiah, dengan uraian yang jelas dan rasional, meskipun bahan studinya

sedikit banyak mengandung unsur yang tidak rasional.

Sejumlah teoritikus menolak mentah-mentah bahwa telaah sastra adalah ilmu, karena sastra itu sendiri adalah karya seni (Wellek, 1989: 3). Mereka masih mengaburkan antara sastra dan telaah sastra. Telaah sastra dianggapnya juga sebagai bagian dari proses kreatif  yang tak terpisahkan dan tak terbedakan dengan kegiatan sastra itu sendiri. Mereka belum sampai pada kesadaran bahwa telaah sastra bisa dilakukan secara ilmiah, rasional dan obyektif.

Sejumlah teoritikus menolak bahwa telaah sastra sebagai ilmu. Mereka mengusulkan telaah sastra sebagai “penciptaan kedua” . Seperti dilakukan oleh Walter Pater dan John Addington Symonds.

  1. Walter Pater menterjemahkan lukisan Mona Lisa (Leonardo da Vinci) dalam bentuk tulisan.
  2. John Addington Symonds mengulas karya sastra dengan gaya bahasa sastra yang berbunga-bunga.

Teoretikus lain juga mengambil kesimpulan yang sama skep­tisnya. Menurut mereka, sastra tidak bisa ditelaah sama sekali. Sastra hanya untuk dibaca, dinikmati, dan diapresiasi. Selebihnya yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan berbagai macam informasi mengenai karya sastra. Justru sikap2 skeptis inilah yang menyebar dan berkembang ke masyarakat.

Masalahnya adalah bagaimana secara intelektual, mendekati seni, khususnya seni sastra. Bisakah itu dilakukan? Dan bagaimana bisa dilakukan? Salah satu jawaban adalah hal itu bisa dilakukan dengan metode2 yang dikembangkan oleh ilmu-ilmu alam, yang hanya perlu ditransfer ke dalam studi sastra. Beberapa transfer semacam itu bisa dibedakan (Terj. Prapta).

  1. Salah satunya adalah mencoba menyamakan cita2 ideal dari ilmu pengetahuan umumnya mengenai objektivitas, impersonalitas (bersifat umum), dan kepastian.
  2. Yang lain adalah mencoba meniru metode-metode ilmu alam melalui studi sebab-akibat dan studi sumber; ‘metode genetik’ ini pada prakteknya membenarkan penelusuran segala macam hubungan selama masih kronologis.

 

Diterapkan secara lebih ketat, kausalitas ilmu pengetahuan  untuk menjelaskan fenomena sastra, dengan tugas menentukan sebab2nya  pada bidang ekonomi, sosial, dan politik. Lagi, ada introduksi mengenai metode2 kuantitatif yang hampir digunakan dalam ilmu2 seperti statistik, peta, grafik. Dan akhirnya ada usaha menggunakan konsep biologis dalam menelusuri evolusi sastra. …

Hubungan sebab-akibat, kausalitas ilmiah digunakan untuk menjelaskan fenomena sastra: mengacu kondisi ekonomi, sosial, dan politik sebagai faktor-faktor penyebab.

Ada wilayah di mana dua metodologi (IPA & Pasti >< Ilmu Kemanusiaan/Humaniora) bertumpang tindih, yaitu dengan menggunakan metode dasar induksi, deduksi, analisis, sintesis dan perbandingan.

Ada pemecahan lain yang muncul: studi sastra memiliki metode2 yang absah dan ilmiah, walau tidak selalu sama dengan metode ilmu pengetahuan alam.

METODE ILMU ALAM SEJARAH
1. Ilmuwan melihat penyebab peristiwa (Dilthey) 1. Sejarawan mencoba memahami maknanya. Proses pemahaman: individual & subjektif.
2. Berlaku hukum yang  umum (Wilhem Windelband) 2.Setiap fakta itu unik.
  Ilmu budaya melihat hal yang konkret dan invidual (Heinrich Rickert).
3. IPA pelajari fakta2 yang berulang (Xenopol) 3. Sejarah mengkaji fakta-fakta yang silih berganti. Ahli sastra mencari kekhususan, ciri2 khas dan kualitas tertentu.
   

Singkatnya ada 2 jalan keluar ekstrem:

  1. Mengikuti metode2 ilmiah dengan menyusun hukum-hukum umum.
  2. Menekankan subjektivitas dan individualitas serta keunikan karya sastra.

Jalan tengah:

Setiap karya sastra pada dasarnya bersifat umum, sekalligus khusus; individual sekaligus umum.

Kritik Sastra dan Sejarah Sastra mempelajari ciri khas sebuah karya sastra, sedangkan Teori Sastra berusaha menemukan hukum umum.

Seperti setiap manusia – memiliki kesamaan dengan umat manusia pada umumnya, dengan sesama jenisnya, dengan bangsanya, dengan kelasnya, dengan rekan2 seprofesinya – setiap karya sastra memiliki sifat2 yang sama dengan karya seni lainnya, tetapi juga memiliki ciri2 khas.

  1. SASTRA & STUDI SASTRA
           
       
     
 

Teori Sastra berada dalam wilayah ilmu, tetapi yang menjadi objek dari Teori Sastra adalah sastra sebagai seni.

2. Sifat-sifat Sastra Menurut Wellek

    1. Tertulis atau tercetak.

Salah satu batasan sastra, segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Oleh karena itu wilayah studi sastra segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah kebudayaan. Bahkan menurut teori Greenland, studi sastra identik dengan sejarah kebudayaan.

Etimologi Sastra (Sastra dan ilmu Sastra, 1984. Teeuw, a, hlm. 22-24).

BARAT

H     u     r     u     f   -   l  e  t  e  r 
YUNANI LATIN PERANCIS INGGRIS JERMAN
gramma littera lettre letter  
 SASTRA -  LITERATURE
Grammatika Litteratura Litterature Literature Literatur
T     u    l   i    s    a      n

TIMUR

SASTRA
SANSKERTA INDONESIA JAWA (Kuno?)
Sas-: mengarahkan, mengajar, mberi petunjuk; tra: alat untuk … Sastra: alat untuk mengajar; buku petunjuk.

Kamasastra (buku petunjuk tentang seni cinta), silpasastra (buku arsistektur).

Sastra: tulisan Sastra: tulisan
    1. Mahakarya
BARAT TIMUR
MAHAKARYA/MASTERPIECE: KARYA AGUNG > SASTRA  YANG BAIK
Perancis Inggris Belanda Jawa (Kuno?)  
belles-lettres:sastra yang baik belles-lettres:sastra yang baik Bellettrie:sastra yang baik Susastra: sastra yang baik  

Kriteria: segi estetis (indah)  &  nilai ilmiah (berbobot). Buku ilmiah Inggris yang dianggap layak: karya Thomas Huxley yang bersifat populer.

    1. Karya Imajinatif, fiksi

Fiksi –

Imaginatif –

Apakah tokoh-tokoh yang kita jumpai di dalam sastra itu ada benar-benar? Sinchan, Manusia Kelelawar, Laba-laba, Doraemon, Harry Porter, Timun Emas, …..

Keunggulan akal budi manusia, bisa menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Bisa berimajinasi. Manusia mempunyai wilayah & perangkat CIPTA, RASA, KARSA;  PIKIRAN, PERASAAN, KEHENDAK.

Wilayah CIPTA adalah wilayah kreativitas. Wilayah berpikir. Wilayah penjelajahan dan penajaman. Wilayah RASA, adalah wilayah afeksi & keseimbangan: kesantunan, bela-rasa, harmonisasi, .

d. Penggunaan bahasa yang khas

Perlu dibedakan bahasa sastra, bahasa sehari-hari, bahasa ilmiah

  BAHASA ILMIAH BAHASA SASTRA
  Pikiran Perasaan
  Denotatif Konotatif, asosiatif
  Simbol logika Ambigu, homonim
  Lugas Ekspresif – sikap pembicara > pmbca

 

  BAHASA SEHARI-HARI BAHASA SASTRA
  Tidak Seragam: percakapan, perdagangan, keagamaan, bhs resmi, slank Lebih sistematis; ada kesatuan, kesengajaan
                                    Fungsi Ekspresif
                                Penuh konsep irasional                            Bertujuan mencapai sesuatu

Mempengaruhi sikap & tindakan

                            Perbedaan Pragmatik
  Pengaruhi secara langsung Pengaruhi secara substil
  Dalam dunia nyata Di luar dunia nyata
                               Aspek Referensial
  Dunia realita Dunia imaginatif

APA YANG DIMAKSUD DENGAN SASTRA TERLIBAT?

SASTRA MENURUT SARTRE

Seni lukis, seni pahat maupun musik tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Memang, jenis-jenis seni dalam suatu periode saling mempengaruhi satu sama lain dan dikondisikan oleh factor-faktor sosial yang sama. Ada yang menganggap bahwa ada kesejajaran di dalam macam-macam seni tsb.

Menurut Sartre, tidak ada paralelisme di dalam seni-seni itu. Bentuk dan bahannya (isinya) berbeda. Seni lukis dan seni musik di satu pihak, dan seni sastra di pihak lain. Nada, warna dan bentuk bukanlah suatu tanda. Hal-hal tersebut di atas tidak mengacu di luar mereka sendiri. Dalam lukisan, warna merah, hijau adalah hal/benda.

Mungkin seseorang memberi nilai tanda kepada benda-benda itu. Misalnya kita bicara mengenai bahasa bunga. Berdasarkan persetujuan, mawar putih bisa melambangkan ‘kesetiaan’. Namun begitu kita melihat mawar putih sebagai lambang kesetiaan, kita berhenti melihatnya sebagai bunga mawar. Perhatian kita sudah menerobos jauh di luar bunga mawar. Bagi seniman, warna dan buket bunga adalah sesuatu benda.

Pelukis tidak ingin melukis tanda di kanvas. Ia menciptakan sesuatu. Meskipun pelukis dalam menggunakan kombinasi warna-warna mungkin didasari alasan tertentu (mungkin tersembunyi), namun dia tidak pernah mengekspresikan kemarahannya lewat lukisannya. Tintoretto (pelukis) tidak memilih langit kuning di atas Golgotha untuk menandakan penderitaan maupun memprovokasikan-nya. Adalah derita dan langit kuning sekaligus yang hendak dinyatakan. Bukannya langit dari kemurungan maupun langit yang murung; di sini kemurungan menjadi benda (fisik), dan murung telah berubah menjadi langit kuning. Apabila pelukis menggambar sebuah rumah, ia mencipta sebuah rumah imaginer di kanvas; bukan tanda dari sebuah rumah.

Dalam sastra, penulis bukan hanya ingin menulis dengan gaya yang indah saja (l’art pour l’art); atau hanya sekedar ingin mengungkapkan isi hati (ekspresif); maupun tidak hendak mengambil model alam, maupun mencipta suatu dunia sendiri yang otonom (memetik, realisme, obyektif). Ia  harus dilandasi keinginan mengirim pesan kepada pembaca. Seni prosa digunakan di dalam wacana. Substansinya bersifat signifikatif: kata-kata bukan obyek-obyek tetapi tanda dari obyek. Penulis prosa pada pokoknya membuat kata-kata menjadi berguna.

Penulis berurusan dengan makna. Prosa pada pokoknya utiliter/bermanfaat. Penulis prosa adalah manusia yang membuat kata-kata menjadi berguna. Penulis adalah pembicara; ia menandakan, mendemonstrasikan, memerintah, menolak, memohon, memarahi, melakukan persuasi, menyindir, dsb. Apabila ia melakukan demikian tanpa efek apapun, ia bukan penyair; penulis yang tidak berbicara apa-apa.

Ketika orang dalam bahaya maupun dalam kesulitan, ia menggapai instrumen: pukul maupun tongkat. Ketika bahaya berlalu, ia bahkan tidak ingat apakah yang dibawanya itu tongkat atau pukul. Yang penting, instrumen merupakan perpanjangan dari tubuhnya. Ia adalah jari keenam, kaki ketiga. Demikian pula, bahasa adalah rumah kerang dan antena kita. Ia melindungi kita dan menginformasikan kita mengenai sekeliling kita. Ia merupakan perpanjangan dari indera kita; mata ketiga yang bisa melihat hati orang lain. Kita berada dalam bahasa seperti berada dalam tubuh. Kita merasakannya secara spontan. Apabila prosa tidak mempunyai  efek bagi orang lain, kita mempunyai hak untuk bertanya kepada penulis, ‘Apakah tujuan anda menulis? Apa yang anda lakukan untuk melibatkan diri? Apakah anda memiliki sesuatu untuk dikomunikasikan?’

Apabila anda mengatakan perilaku seseorang, anda menyingkapnya kepadanya; ia melihat diri sendiri. Ia menerima dimensi baru. Dengan berbicara, saya menyingkap keadaan dengan maksud untuk merubahnya. Saya menyingkapnya pada diri sendiri dan kepada orang lain untuk merubahnya.

Oleh karenanya kita bisa bertanya kepada penulis, ‘Aspek mana dari dunia yang hendak anda singkap? Perubahan apa yang hendak anda bawakan kepada dunia dengan penyingkapan ini?’ Bagi penulis yang terlibat, kata-kata adalah aksi. Menyingkap sama dengan merubah. Manusia adalah makluk terhadapnya makluk lain tidak bisa tidak terlibat. Bahkan juga Tuhan tidak. Karena Tuhan, apabila Ia ada, seperti telah dilihat kaum mistikus, akan berguna dalam hubungannya dengan manusia. Tuhan adalah juga keberadaan yang tidak bisa melihat suatu situasi tanpa merubahnya.

Kegunaan penulis adalah bertindak sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun bisa tidak peduli akan dunia dan tak seorang pun bisa berkata bahwa ia inosen terhadap apa pun juga. Oleh karenanya, penulis harus berbicara mengenai sesuatu. Ia harus bermaksud mengirimkan pesan-pesan kepada pembaca. Penulis harus bertanggung jawab sepenuhnya dalam karyanya.

Penulis menyingkap dunia, terutama orang-orangnya, kepada orang lain (pembaca).  Penulis prosa adalah orang yang memilih metode tertentu untuk tindakan penyingkapan. Ia tidak bisa lagi tidak memihak. Ia mau tidak mau harus memihak pada masyarakat dan kondisi manusia di sekitarnya. Di dalam karyanya  penulis harus mengajak pembaca untuk terlibat/melibatkan diri sendiri secara penuh kepada dunia, lingkungannya.

Inilah tema sentral dari buku What is Literature? Penulis hendaknya mengajukan dalam setiap karyanya, suatu kebebasan konkret atas dasar situasi yang spesifik. Sastra, menurut dia, bisa merupakan sarana yang baik untuk membebaskan pembaca dari alienasi/keterasingan yang berkembang di dalam situasi tertentu. Lewat proses sastra penulis juga membebaskan dirinya sendiri dan mengatasi keterasingannya sendiri. Ia memperlihatkan bahwa sastra terasing ketika sastra melupakan dan tidak peduli akan  otonominya dan  tempatnya sendiri. Tugas penulislah menjauhkan manusia dari ketidakberdayaan, ketidaktahuan, prasangka dan emosi yang salah.

Kesimpulan: Konsep  Sartre mengenai kebebasan ini secara logis menuntut perlunya komitmen penulis. Maka sastra yang baik adalah apa yang disebut ‘sastra terlibat’, litterature engagee. Sartre menyatakan bahwa penulis tak bisa tidak harus terlibat. Tidak bisa tidak, ia terlibat dalam jamannya sendiri. Sastra harus membantu pembaca untuk menjadi manusia yang penuh dan bebas di dalam dan melalui sejarah. Sastra seharusnya tidak bersifat membius melainkan harus membangkitkan manusia mengubah dunia dan dengan demikian mengubah diri sendiri.  Ia menyebut sastra sebagai bentuk aksi penyingkapan. Sastra harus bersifat praksis: mengubah dan membebaskan pembaca, dunia, diri sendiri. Buku-buku bukannya kuburan sastra; Buku sastra tidak hanya untuk ditulis saja, melainkan terutama untuk dibaca. Pena harus bisa berfungsi sebagai pedang. Alat penulis mempengaruhi pembaca dan dunia.

 

 

RAGAM BAHASA SASTRA

 

Penggunaan bahasa yang khas menurut Wellek: bahasa sastra, bahasa sehari-hari, bahasa ilmiah

  BAHASA ILMIAH BAHASA SASTRA
  Pikiran Perasaan
  Denotatif Konotatif, asosiatif
  Simbol logika Ambigu, homonim
  Lugas Ekspresif – sikap pembicara > pmbca

 

  BAHASA SEHARI-HARI BAHASA SASTRA
  Tidak Seragam: percakapan, perdagangan, keagamaan, bhs resmi, slank Lebih sistematis; ada kesatuan, kesengajaan
                                    Fungsi Ekspresif
                                Penuh konsep irasional                            Bertujuan mencapai sesuatu

Mempengaruhi sikap & tindakan

                            Perbedaan Pragmatik
  Pengaruhi secara langsung Pengaruhi secara substil
  Dalam dunia nyata Di luar dunia nyata
                               Aspek Referensial
  Dunia realita Dunia imaginatif

RAGAM BAHASA MENURUT SLAMET SOEWANDI

  RAGAM ILMU RAGAM SASTRA RAGAM JURNALISTIK
  Mengungkapkan hal-hal yang bersifat ilmiah: pengutaraan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Oleh karena itu sifat umum dari ragam ini adalah pemakaian unsur-unsur bahasa selengkap dan sebaku mungkin Mengungkapkan kehidupan manusia secara utuh: harapan, kerinduan, keinginan, kegembiraan, kebencian, kegalauan, pikiran, angan-angan, cita-cita, dan “realistis”, dengan carayang  estetis: menyentuh manusia. Mengungkapkan hal-hal yang dialami, diketahui dan dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat. Hal2 itu berupa fakta (berita), opini, pemberitahuan, dsb. Sifat umum dari ragam ini adalah penggunaan unsur-unsur bahasa seefektif-efektifnya mengingat keterbatasan ruang dan waktu.

 

RAGAM BAHASA MENURUT WIDHARYANTO

  BAHASA AKADEMIK Dalam lingkungan akademisi, “manusia kampus perguruan tinggi”, untuk menimba ilmu, mengembangkan ilmu serta memanfaatkannya.Ungkapan, cara penuturan yang tepat dan seksama, lugas, objektif, rasional dalam mengungkapkan kebenaran, memiliki daya abstraksi untuk konsep-konsep dan teori.
  BAHASA BISNIS Oleh para usahawan untuk meyakinkan orang lain, konsumen, agar mereka tersugesti dan tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu, misalnya membeli produk yang ditawarkannya (bahasa hiperbola)
  BAHASA SASTRA Menonjol dalam daya kejut, daya imajinasi pengarangnya. Lebih bersifat emosional, mengandung ambiguitas, simbolisme bunyi, efek estetis, bersifat konotatif.
  BAHASA FILSAFAT Medium penyampai hasil renungan kontemplatif yang sulit dipahami oleh orang awam karena sifat abstraksinya sangat tinggi, bahkan melebihi abstraksi bahasa akademik
  BAHASA BERITA Oleh para jurnalis untuk menyajikan informasi  faktual  harus bersifat aktual/hangat, dekat (proximity) dengan persoalan pembaca, penting, memiliki nilai dalam masyarakat. Bahasa berita sederhana, mudah dipahami, singkat, padat, tak bertele-tele, dan komunikatif.

 

Oleh Wellek, sastra dikatakan bersifat tertulis (menggunakan bahasa: tulis, lisan), mahakarya, imaginative atau konotatif, menggunakan bahasa yang khas.

Bahasa Sastra dibanding dengan bahasa ilmiah, bahasa sehari-hari, dan bahasa jurnalistik, memiliki kekhususan, yaitu afektif- emosional (menonjolkan unsur perasaan), estetis, ambigu, konotatif, simbolis, dan memiliki daya kejut. Bahasa sastra dikatakan sebagai bahasa bergaya.

Sastra sebagai seni memiliki sifat-sifat yang kreatif. Kreatif artinya mampu menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum ada menjadi ada. Orang yang kreatif harus selalu tidak puas dengan yang ada. Selalu mencari yang baru. Mencari sesuatu yang  lain daripada yang sudah ada. Dia harus berani lain daripada yang lain. Kalau perlu Menyimpang dari yang sudah ada. Yang penting bagaimana dia bisa menciptakan suatu  keindahan.

Puisinya Moh. Yamin merupakan contoh sebagai ekspresi perasaan kagum terhadap tanah air Indonesia. Di samping itu pada jamannya puisi Moh. Yamin ini merupakan sesuatu yang baru dibanding puisi umumnya (pantun, syair, gurindam, seloka, dsb)

Indonesia, Tumpah Darahku

(seorang mahasiswa/i diminta mendeklamasikan dan membayangkan dia duduk di pantai)

Duduk di pantai tanah yang permai

Tempat gelombang pecah berderai

Berbuih putih di pasir terderai

Tampaklah pulau di lautan hijau

Gunung-gemunung bagus rupanya

Dilingkari air mulia tampaknya

Tumpah darahku Indonesia namanya

 

Lihatlah kelapa melambai-lambai

Berdesir bunyinya sesayup sampai

Tumbuh di pantai bercerai-berai

Memagar daratan aman kelihatan

Dengarlah ombak datang berlagu

Mengejari bumi ayah dan ibu

Indonesia namanya, tanah airku

 

Bahasa Sastra juga merupakan bahasa bergaya, yaitu bahasa dengan maksud untuk menarik perhatian pembaca. Untuk menarik perhatian, bahasa sastra harus memiliki sesuatu yang menonjol. Usaha untuk menarik perhatian sering berupa sesuatu yang baru, menyimpang, lain daripada yang lain. Contoh puisi Chairil,

 

ISA

 

Itu Tubuh

mengucur darah

mengucur darah

 

rubuh

patah

 

mendampar Tanya:  aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah

Aku berkaca dalam darah

Sutardji C. Bachri,

 

Tragedi Winka dan Sihka

Kawin

kawin

kawin

kawin

kawin

ka

win

ka

win

ka

win

ka

winka

winka

winka

sihka

sihka

sihka

 

Rendra

UNDANGAN

Dengan segala hormat

Kami harapkan kedatangan tuan nyonya dan nona

untuk menghadiri kami dikawinkan ….

 

Bahan roti dalam adonan

Tepung dan ragi disatukan

Pohonan bertunas dan berbuah

Benih tersebar dan berkembang biak

Di seluruh muka bumi.

 

Tempat:

Di gereja St. Yosef, Bintaran, Yogyakarta ….

 

Rumah Tuhan yang tua

Pangkuan yang aman Bapa Tercinta.

Segala kejadian

Mesti bermula di suatu tempat

Pohon yang kuat

Berakar di bumi keramat.

 

Waktu:

Selasa, tempat 31 Maret 1959

Jam 10 pagi, waktu di Jawa …..

 

Hari baru terbuka

Menyambung lingkaran waktu

Berputar tak bermula

Sejak cahaya yang pertama

……….

 

Dengan segala hormat

Kamu ucapkan terimakasih

Sebelum dan sesudahnya

Bahasa Sastra adalah Bahasa Bergaya. Ciri bahasa sastra dapat dilihat dari gaya bahasanya, yaitu penggunaan bahasa secara khusus yang menimbulkan efek tertentu, efek estetis. Menurut Slametmuljana (dan Simorangkir Simanjuntak, Tanpa tahun: 20) gaya bahasa (ekspresif) yaitu susunan perkataan yang terjadi karena perasaan2 dalam hati pengarang yang menimbulkan perasaan tertentu dalam hati pembaca. Menurut Gorys Keraf (1984: 113) bahwa gaya bahasa itu cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Menurut Kridalaksana (1983: 49-50) bahwa gaya bahasa adalah pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, untuk memperolah efek2 tertentu.

Gaya bahasa juga digunakan dalam bahasa sehari-hari maupun bahasa ilmiah, tetapi gaya itu tidak disengaja untuk mendapatkan nilai estetis, di samping biasanya bersifat klise (kebiasaan) saja. Dalam bahasa sastra, gaya bahasa dieksploitasi secara sengaja dan sistematis, untuk mendapatkan efek estetis.

Bahasa sastra menekankan kreaitivitas dan keaslian. Itulah sebabnya pengarang selalu berusaha membentuk gaya bahasa asli dan baru.

Pada umumnya gaya bahasa merupakan defamiliarisasi atau diotomatisasi, yaitu penyimpangan dari bahasa normatif (menurut Skhlovsky dalam Hawkes, 1978: 62). Menurut Jakobson (1978:363), gaya bahasa merupakan harapan yang dikecewakan (frustrated expectation).

Contoh lain dari Iwan Simatupang (Ziarah) dan Danarto (Rintrik).

Diksi Danarto

 

“Dataran tandus dataran batu, tumbuh lurus tak kenal waktu.” (Armagedddon)

“Gagak-gagak hitam bertebahan dari angkasa, sebagai gumpalan-gumpalan batu yang dilemparkan, kemudian mereka berpusar-pusar, …”

“Matahari makin condong, bagai gumpalan emas raksasa yang bagus, membara menggantung di awang-awang…”

“Hujan deras membasahi angin dan angin menerbangkan hujan bagai anak panah salju dan hujan dan angin itu dibelah-belah petir dan ekor-ekor petir jadi melempem oleh suasana dingin yang beku bagai kerupuk dalam lemari es. “ (dari cerpen yang berjudul gambar hati tertusuk anak panah, dengan tokoh Rintrik).

Diksi Iwan Simatupang

“Juga pagi itu dia bangun dengan rasa hari itu dia bakal bertemu isterinya di salah satu tikungan, entah tikungan mana. Sedang isterinya telah mati entah berapa lama.”

“Geledek seolah menggegar dalam tubuh opseter kita. “

“Kemelut dalam dirinya memuncak. Nuraninya berbenturan dengan kesediaan dan kebukaan hati kawan barunya ….”

“…Tiap langkahnya adalah dia yang ziarah pada kemanusiaan.

Pada dirinya sendiri.”

 

Sastra Sebagai Seni

Sastra merupakan sebuah seni. Seni mau tak mau berkaitan dengan keindahan. Oleh karena itu dalam berbicara mengenai seni sastra kita harus juga berbicara mengenai keindahan. Perihal keindahan dibicarakan di dalam ilmu yang namanya estetika. Maka mengenai keindahan itu kita ambil batasan keindahan dari ilmu estetika.

Keindahan dalam kehidupan sehari-hari: rumah, kamar, pakaian (mode), kendaraan (motor, mobil, pesawat), rumah ibadat (candi, klenteng, gereja, mesjid), menu makanan, dll. Mengapa? Membuat hidup ini lebih menyenangkan, menyegarkan. Tidak menjenuhkan.

 

APA ITU SENI?

Diskusi tentang pengalaman akan keindahan

  1. Dalam kesempatan apa saja, kapan, di mana keindahan digunakan oleh manusia (Keindahan dalam kehidupan sehari-hari: rumah, kamar, pakaian (mode), kendaraan (motor, mobil, pesawat), rumah ibadat (candi, klenteng, gereja, mesjid), menu makanan, dll.
  2. Kapan aku mengalami keindahan? (melihat keindahan alam: di gunung, pantai, lukisan, saat liburan, saat mendengarkan koor di gereja, nonton film, konser, drama, membaca karya sastra).
  3. Apa yang aku alami/rasakan ketika berhadapan dengan keindahan. Lalu apa yang aku lakukan ketika aku mengalami keindahan? (Senang, kagum, bahagia, merasakan kepuasan batin, memaknai semua yang kulihat, kusentuh, kudengar, tidak hanya lewat pikiran, tetapi lewat hati, bersyukur, diam)
  4. Pernahkah aku tersentuh oleh sebuah karya sastra? Jawablah secara konkret pengalamanku menikmati s karya sastra (membaca novel yang bagus, pementasan drama, sendratari, film, puisi, musikalisasi puisi, dsb).
  5. e.           Menurut Saudara, apa itu seni? (Mencari di perpustakaan: kamus, ensiklopedi, buku).

Apa itu  seni? Apa itu keindahan? Apa bedanya antara seni dan keindahan?

SENI,  menurut kamus Webster, th.

  1. Disposisi (pengaturan) maupun modifikasi sesuatu berkat ketrampilan manusia, sesuai dengan yang dimaksud. Dalam arti ini, seni dipertentangkan dengan alam.
  2. Karya kreatif yang memiliki bentuk & keindahan: seni lukis, patung, arsitektur, musik, sastra, drama, tari, dsb. Istilah fine art biasanya digunakan secara terbatas: seni grafis, gambar, lukis, patung, keramik, dan arsitektur.
  3. Istilah seni digunakan dalam cabang ttt seperti sastra, musik. Dalam arti ini, seni  (art) dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan (science).

 

RANGKUMAN:

Seni: Karya Kreatif Yang Dihasilkan Oleh Bakat & Ketrampilan Manusia, Yang Memiliki Bentuk & Keindahan: Seni Lukis, Patung, arsitektur, musik, sastra, drama, tari, dsb.

 

Apa itu keindahan? Menurut Internet,

  1. Suatu anugerah khusus, sifat, perhiasan maupun sesuatu yang luar biasa; sesuatu yang indah, misalnya alam yang indah.
  2. Bakat khusus maupun kepemilikan khusus yang menyenangkan mata, telinga, intelek, fakultas estetis , maupun indera (sense) moral.
  3. Orang tampan, misalnya wanita cantik.

Kamus

  1. Suatu kualitas yang memberi kesenangan pada indera.
  2. Wanita yang tampak sangat menawan dan menggoda.

 

Kesimpulan

Keindahan: anugerah maupun sifat khusus yang luar biasa, yang memberi kesenangan pada indera, intelek  & batin manusia.

 

Keindahan indera meliputi aspek yang berkaitan dengan penglihatan (alam, lukisan, manusia; warna, bentuk bundar, lonjong), pendengaran (alam, musik), perabaan (halus, lembut), pencecapan (enak, lezat), penciuman (wangi, harum, sedap).

Keindahan batin: cinta, baik, …

Beda Seni dan keindahan? Keindahan lebih dimiliki oleh alam? Bersifat alami, sedang seni sudah merupakan campur tangan dari kreativitas  & rekayasa manusia?

Batasan estetika cukup beraneka ragam. Hal-hal yang biasanya dibicarakan dalam estetika (hlm. 21).

1. Keindahan

2. Keindahan dalam alam dan seni

3. Keindahan khusus pada seni

4. Keindahan dan Seni

5. Seni (segi penciptaan dan kritik seni serta hubungan dan peranan seni)

6. Citarasa

7. Ukuran nilai baku

8. Keindahan dan kejelekan

9. Nilai non-moral (nilai estetis)

10. Benda estetis

11. Pengalaman estetis.

Jack Marritain

Proses penghayatan estetis bersumber pada persepsi alamiah-faktual lewat daya2 indera. Ketika kita di sore hari …. Atau di puncak gunung menyaksikan fajar menyibak di ufuk Timur. Dalam suasana hening, kita merasakan keindahan yang memukau.

Berhadapan dng keindahan:

    1. Terpesona; rasakan keindahan memukau; kenikmatan rohani; larut dalam kontemplasi; mengagumi keindahan alam; terbawa kekuatan alam. Hilang kesadaran.
    2. Merasa diri kecil, tersedot oleh kekuatan alam. Lenyap perbedaan antara Subjek dengan Objek. Lebur antara dunia besar (makro kosmos, alam) dengan dunia kecil (mikro kosmos, aku). Aku terangkat ke dalam  sesuatu yang agung.  Berbagai daya kekuatan dalam diriku melebur, menyatu sempurna sbg manusia.
    3. Orang tsb ingin sekali mengabadikan pengalaman tsb. Kemudian ia ingin mengungkapkan pengalaman yang mencengkam itu lewat kanvas, tarian, lagu, bahasa.  Lahirlah karya itu. Bila pengungkapan itu tercapai, hilanglah perasaan tercengkam/tertekan itu. Dia lega dan puas, berhasil membebaskan ketercekaman yang menindihnya. Maka lahirnya hasil sastra itu merupakan katharsis bagi pengarang.

Dalam pengalaman estetis, lenyaplah perbedaan antara subyek (aku yang mengamati alam) dan obyek (alam). Aku seolah meluluh dengan alam sekitar, aku merasa terangkat dalam sesuatu yang lebih besar dan agung daripada aku. Sekaligus lenyaplah (untuk sementara) perbedaan antara berbagai daya kekuatan dalam diriku sendiri, misalnya perbedaan antara jiwa dan tubuh, perbedaan antara akal budi, kemauan, emosi dan lain2. Tercapailah dalam diriku suatu keseimbangan, suatu peleburan dan keutuhan sempurna sebagai manusia.

Terjadi semacam interpenetrasi (saling menerobos) antara alam dan manusia. Kedua belah pihak saling meluluh tanpa kehilangan identitasnya masing2. Manusia yang merasakan getaran keindahan alam mengadakan semacam identifikasi spiritual dengan alam itu, bahkan alam memasuki kalbunya. Sebaliknya manusia memasuki alam (Maritain). Para ahli menganalisa pengalaman tentang keindahan timbul dari perjumpaan dengan alam.

PENGALAMAN ESTETIS (Barat)

Proses penghayatan pengarang berpangkal dari pengalaman yang bersumber pada persepsi alamiah-faktual lewat daya2 indera. Ketika kita di sore hari entah di sebuah desa maupun di pantai, menghadap ke barat, kita terpesona oleh keindahan bola mentari yang mau tenggelam. Atau di puncak gunung menyaksikan fajar menyibak di ufuk Timur. Dalam suasana hening, kita merasakan keindahan yang memukau. Dalam sekejap kita akan merasakan kenikmatan rohani. Kita akan larut dalam kontemplasi sejenak, mengagumi keindahan alam. Terdiam.  Orang merasa terbawa oleh kekuatan alam. Orang merasa lebur dalam alam. Merasa diri kecil. Kesadaran seolah terhisap oleh sebuah kekuatan.

Keadaan tsb berlangsung dalam sesaat. Beberapa detik, atau menit. Orang tsb ingin sekali mengabadikan pengalaman tsb. Kemudian ia ingin mengungkapkan pengalaman yang mencengkam itu lewat kanvas, tarian, lagu, bahasa.  Lahirlah karya itu. Bila pengungkapan itu tercapai, hilanglah perasaan tercengkam/tertekan itu. Dia lega dan puas, berhasil membebaskan ketercekaman yang menindihnya. Maka lahirnya hasil sastra itu merupakan katarsis bagi pengarang. Itulah proses penciptaan karya sastra: penghayatan poetik. (Bandingkan dengan “pengalaman estetik” dari Dick Hartoko).

Lenyaplah perbedaan antara subyek (aku yang mengamati alam) dan obyek (alam). Aku seolah meluluh dengan alam sekitar, aku merasa terangkat dalam sesuatu yang lebih besar dan agung daripada aku.

Sekaligus lenyaplah (untuk sementara) perbedaan antara berbagai daya kekuatan dalam diriku sendiri, seperti misalnya perbedaan antara jiwa dan tubuh, perbedaan antara akal budi, kemauan, emosi dan lain2. Tercapailah dalam diriku suatu keseimbangan, suatu peleburan dan keutuhan sempurna sebagai manusia. Terjadi semacam interpenetrasi (saling menerobos) antara alam dan manusia. Kedua belah pihak saling meluluh tanpa kehilangan identitasnya masing2. Manusia yang merasakan getaran keindahan alam mengadakan semacam identifikasi spiritual dengan alam itu, bahkan alam memasuki kalbunya. Sebaliknya manusia memasuki alam (Maritain).

Para ahli menganalisa pengalaman tentang keindahan timbul dari perjumpaan dengan alam.

Monroe C. Beardsley mengungkapkan bahwa pengalaman estetis menentramkan dan menggembirakan manusia.

Plotinos mendekatkan pengalaman estetis dengan pengalaman religius, bahkan puncak perkembangan estetis itu sendiri adalah pengalaman religius yang disebut pengalaman mistik.

Cuplikan sepenggal kisah Affandi melukis di pantai Bali untuk beri contoh inspirasi seni dan pengalaman estetis; atau hubungan antara alam dengan seni.

 

Edgard Allan  Poe mengatakan, sastra berfungsi sekaligus mengajarkan sesuatu. Horatius menyatakan bahwa puisi itu indah dan berguna, dulce et utile. Seni yang mampu mengartikulasikan perenungan itu memberikan rasa senang. Pengalaman mengikuti artikulasi itu memberikan rasa lega. Kedua segi itu bukan hanya harus ada, melainkan harus saling mengisi. Kesenangan yang diperoleh dari seni bukan hanya kesenangan fisik, melainkan kesenangan yang lebih tinggi, yaitu kontemplasi yang tidak mencari keuntungan. Akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk membuktikan bahwa manfaat sastra terletak pada segi pengetahuan yang disampaikannya. Sekarang hendak dibuktikan bahwa sastra memberikan pengetahuan dan filsafat. Salah satu nilai kognitif drama dan novel adalah segi psikologisnya. “Novelist dapat mengajarkan lebih banyak tentang sifat-sifat manusia daripada psikolog. Karen Horney menunjuk Dostoyevsk, Shakespeare, Ibsen, dan Balzac sebagai sumber studi psikologi. E.M. Forster dalam Aspect of the novel mengatakan, novel sangat berjasa mengungkapkan kehidupan batin tokoh-tokohnya. Novel-novel besar barangkali bisa menjadi buku sumber bagi para psikolog (Oediphus complex).

Fungsi sastra, menurut sejumlah teoritikus, adalah untuk membebaskan pembaca maupun penulisnya dari tekanan emosi. Mengekspresikan emosi berarti melepaskan diri dari emosi itu. Goethe konon terbebas dari Weltschmerz dengan menciptakan karyanya, The Sorrows  of Werther. Seorang pembaca novel maupun penonton drama-tragedi juga mengalami perasaan lega. Apakah sejumlah karya sastra membangkitkan emosi?

SENI (Ernst Cassirer)

Bahasa dan seni terus menerus bergerak di antara 2 kutub yang bertentangan, yaitu kutub objektif dan kutub subjektif. Fungsi utama keduanya adalah fungsi mimetis. Bahasa dikatakan imitasi bunyi-bunyi, sedang seni adalah imitasi benda-benda lahiriah. Imitasi merupakan naluri fundamental. Kata Aristoteles, “Imitasi merupakan hal yang wajar bagi manusia sejak kanak-kanak. Manusia ialah binatang paling suka meniru dibanding binatang lain. Manusia belajar lewat cara meniru.”

Musik pun merupakan gambaran dari benda-benda. Permainan seruling, tari-tarian tak lain adalah peniruan. Pemain seruling dan penari, melalui irama-irama, lagu, gerak menirukan apa yang dilakukan dan dialami manusia. Tindakan dan watak manusia.   Horatius mengatakan, “Ut pictura poesis” (puisi bagaikan lukisan). Simonides berkata, “lukisan adalah puisi diam, dan puisi adalah lukisan  kata-kata. Puisi dan lukisan berbeda hanya dalam cara dan sarananya, bukan karena fungsi utamanya.

Namun teori-teori imitasi tidak membatasi karya seni hanya pada reproduksi realitas secara mekanis saja. Terbuka bagi kreativitas dan spontanitas  seniman. Aristoteles mengatakan, bahwa kemustahilan yang menyakinkan lebih disukai daripada ketidakmustahilan yang tidak menyakinkan.

Para Neoklasik pada abad XVI hingga Abbe Batteux berpendapat, bahwa seni tidak mereproduksi alam secara umum tanpa pilih-pilih, melainkan hanya alam yang molek saja (la belle nature).

Teori imitasi ini bisa bertahan hingga paruh pertama abad XVI. Rousseau menolak teori klasik maupun neoklasik. Menurutnya, seni bukanlah deskripsi maupun reproduksi dunia empiris, melainkan luapan emosi perasaan  (Nouvelle Heloise). Di Jerman, paham Rousseau ini diikuti oleh Herder dan Goethe. Sejak itu teori keindahan memperoleh bentuk baru. Menurut Goethe, seni kreatif lahir, karena manusia tergoda untuk memperindah dunia sekitar. Maka seni karakteristik (unik, individual, “muncul dari dalam”, orisinal, mandiri) merupakan seni sejati.

Seni karakteristik atau seni ekspresif merupakan “luapan spontan daya-daya perasaan”.  Seni bersifat reproduktif, meskipun bukan reproduksi benda-benda atau objek fisik, melainkan reproduksi hidup batiniah, afeksi-afeksi dan emosi-emosi.

 

Art Meaning and Definition – internet

  1. Kemahiran; ketrampilan; keahlian
  2. Penerapan ketrampilan menghasilkan sesuatu yang indah dengan tiruan maupun rancangan, misalnya  seperti lukisan, pahatan.
  3. Hasil dari kreativitas manusia; karya seni secara kolektif.
  4. Kreasi dari hal-hal yang penting dan indah.
  5. Ketrampilan khusus yang bisa dipelajari dengan studi dan latihan maupun pengamatan.

 

 

KEDUDUKAN SENI (Rendra)

Manusia terdiri dari unsur Rohani dan Jasmani. Manusia mempunyai kebutuhan yang sifatnya jasmani dan rohani. Pertanian, perdagangan, keamanan, teknologi, kesehatan dan industri adalah bidang yang berkaitan dengan jasmani. Percintaan, persahabatan, penghayatan agama/iman, ibadah, kesenian adalah bidang rohani. Pendidikan sebagian bersifat jasmani, yaitu pengajarannya, sedang penanaman nilai bersifat rohani. Bidang2 jasmani memerlukan efisiensi. Di dalam hidup ada hal2 yang tidak praktis dan tidak efisien, tetapi sangat diperlukan, misalnya bercinta, berrumah tangga, bersahabat, upacara keagamaan, ibadah, dsb.

Aneh menuntut percintaan dengan kekasih atau bercengkarama dengan putra-putri secara praktis dan efisien. Demikian pula dalam persahabatan, peribadatan, doa, dsb.

Unsur Rohani dan Jasmani sama pentingnya. Tanpa roh, manusia menjadi robot, tanpa jasmani manusia menjadi hantu. Kesenian adalah urusan roh. Keduanya tidak praktis dan tidak efisien. Manusia tidak akan mati tanpa seni, dan kesehatannya baik2 saja. Tetapi tanpa seni dan sastra, masyarakat akan miskin rohaninya. Dalam kehidupan suatu bangsa, prestise yang dihasilkan oleh penyair dan sastrawan sering lebih panjang umurnya dibandingkan prestise sosial, politik, dan ekonomi. Kekayaan sosial, politik, ekonomi Yunani purba, Prusia, Singasari dan Majapahit sudah lama dilupakan orang, tetapi kejayaan seni, filsafat dan sastra masih bisa dirasakan sampai detik ini: Plato, Sophocles, Heinrich Heine, Empu Sedah, dan Empu Prapanca, Shakespeare, Ronggowarsito, Raden Saleh.

Dalam masyarakat primitif, menurut Eliade, mitos2 tidak hanya penting, melainkan sangat menentukan manusia purba. Demikian pula puisi dan drama mendapat tempat istimewa. Puisi dan drama muncul sebagai keperluan upacara2 penting dalam hidup manusia, misalnya upacara kelahiran, turun-tanah, khitanan, tunangan, menikah, kematian, menanam, menuai, mendirikan rumah, masuk rumah, pindah rumah, dsb.

Para penyair dan dramawan sangat fungsional dalam masyarakat. Mereka punya kedudukan sebagai saman atau pawang. Demikian pula tukang cerita, tukang kentrung dalam masyarakat kita.

Dalam masyarakat sekarang, kebutuhan roh akan agama, kesenian dan filsafat disederhanakan menjadi kebutuhan akan hiburan. Dalam alam industri dan teknologi modern, kesenian beralih-fungsi menjadi hiburan untuk komersial: night club, bar, diskotik dan klub karaoke.

Apakah roh telah mati? Apakah roh bisa sirna hanya karena industri dan teknologi? Ternyata tidak! Agama tidak bisa dihilangkan dari satu bangsa, begitu pula kesenian dan filsafat. Selalu saja muncul seniman2 yang bertahan menderita dan kesepian, akhirnya menjelma menjadi raksasa tanpa mengkompromikan seninya menjadi hiburan. Kesenian yang unggul tetap muncul dan dihargai. Berapa banyak hadiah seni bergengsi diberikan kepada tokoh seni. Agama, filsafat berkembang di mana2. …

KEINDAHAN: PANDANGAN ROMANTIK

Menurut Ernest Cassirer, keindahan tak pernah selesai diperdebatkan. Penyair Romantik, John Keats (1750 – 1821), dalam Endymion (1817), mengatakan, A thing of beauty is a joy forever: Its loveliness increases; it will never pass into nothingness.

Sesuatu yang indah adalah kegembiraan, kesukaan, kebahagiaan selama-lamanya. Kemolekannya bertambah, dan tak pernah berlalu ke ketiadaan. Konsep keindahan baru dapat berkomunikasi dengan penciptanya sendiri setelah ada bentuk yang diberikan oleh imaginasi. Apa yang ditangkap oleh imaginasi sebagai keindahan adalah kebenaran.

Keats mengatakan, sesuatu yang indah memberi perasaan suka cita yang dalam, dan daya tariknya selalu bertambah. Dengan demikian, sesuatu yang indah adalah abadi. Karya Dante (126-1321), Beethoven (1770 – 1827), Michaelangelo (1745-1864), Basuki Abdullah, Affandi, yang tidak pernah dilupakan orang adalah indah, dan karena itu abadi. Dari jaman ke jaman orang selalu menikmatinya, dan setiapkali orang menikmatinya, daya tarik karya selalu bertambah. Lukisan “Monalisa” sampai sekarang menjadi legenda yang tak pernah padam. Bahkan sampai dilagukan.

Dalam sikap estetis, digunakan istilah-istilah detachment (tak terpengaruh), disinterested (tanpa pamrih), impartially (netral, tak memihak), aesthetic distance (Mudji Sutrisno, 1993: 16). Keindahan dalam arti terluas merupakan pengertian semula dari bangsa Yunani dulu yang di dalamnya tercakup pula ide kebaikan. Plato misalnya menyebut tentang watak yang indah dan hukum yang indah.

Menurut Plato, yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana. Kesederhanaan sebagai ciri khas dari keindahan, baik dalam alam maupun dalam karya seni. Di samping itu kepaduan juga merupakan ciri keindahan. Yang paling indah adalah idea. Karya seni bagi Plato merupakan tiruan dari tiruan, yang jauh dari kebenaran sejati.

Sedang Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang selain baik juga menyenangkan. Menurut Aristoteles, keindahan menyangkut keseimbangan dan keteraturan ukuran material. Katharsis adalah puncak dan tujuan karya seni drama dalam bentuk tragedi. Menurut Aristoteles, segala peristiwa, pertemuan, wawancara, permenungan, keberhasilan, kegagalan dan kekecewaan, harus disusun dan dipentaskan sedemikian rupa sehingga pada suatu saat secara serentak semuanya tampak “logis” tetapi juga seolah-olah “tak terduga”. Katharsis sebagai pembebasan batin dari segala pengalaman penderitaan. Memiliki makna terapeutis dari segi kejiwaan. Ada unsur perubahan sikap batin menuju ke kebaikan.

Plotinos menulis tentang ilmu yang indah dan kebajikan yang indah. Orang Yunani dulu berbicara pula mengenai buah pikiran yang indah dan adat kebiasaan yang indah (414). Menurut Plotinos, keindahan terbentuk apabila ada persatuan antara pelbagai bagian yang berbeda satu sama lain. Persatuan hanya bisa terjadi jika ada heteroginitas.

Dalam lingkungan Stoa, seni dikaitkan dengan keteraturan dan simetri, karena itu mendukung dan menimbulkan ketentraman jiwa. Tetapi bangsa Yunani juga mengenal pengertian keindahan dalam arti estetis yang disebutnya ‘symmetria’ untuk keindahan berdasarkan penglihatan (misalnya pada karya pahat dan arsitektur) dan ‘harmonia’ untuk keindahan pendengaran (musik).

Pengertian keindahan yang seluas-luasnya meliputi: keindahan alam, seni, moral dan intelektual (hlm. 35).

Kualitas yang paling sering disebut adalah unity (kesatuan), harmony (keselarasan), symmetry (kesetangkupan), balance (keseimbangan) dan contrast (pertentangan)  416.  Teori agung tentang keindahan menjelaskan bahwa: “keindahan terdiri dari perimbangan dari bagian2, lebih tepat perimbangan dan susunan dari bagian2, atau lebih tepat lagi terdiri dari ukuran, persamaan dan jumlah dari bagian2 serta hubungan2 satu sama lain (5. 22).

De Witt H. Parker menulis dalam bukunya The Analysis of Art mengenai ciri2 dari bentuk estetis. Buku yang lain, The Priciples of Aesthetics (1920) menyebut ciri2 umum dari bentuk estetika menjadi 6 asas, yaitu asas kesatuan utuh, asas tema, asas variasi menurut tema, asas keseimbangan, asas perkembangan, dan asas hierarki (5.32).

Monroe Beardsley dalam Aesthetics: problems in the Philosophy of Criticism) yang menjelaskan adanya 3 ciri keindahan, a. Kesatuan; b. Kompleksitas; c. intensitas (5.33).

Agustinus juga menghubungkan keindahan dengan keselarasan, keseimbangan, keteraturan. Bagi Thomas Aquinas, keindahan harus mencakup 3 kualitas: integritas, proporsi atau keselarasan yang benar dan kecemerlangan.

(EVALUASI TENGAH SEMESTER)

PROSA, DRAMA, dan PUISI

(Atmazaki, Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. 1990.Padang: Penerbit Angkasa Raya)

Prosa: merupakan narasi, terdiri dari rangkaian peristiwa. Setiap peristiwa ditandai oleh tindakan tokoh dalam kesatuan ruang dan waktu. Tindakan saja tanpa ruang dan waktu, sulit dipahami. Bukanlah suatu peristiwa. Sama saja dengan  monolog dan atau dialog. Apabila hanya ada ruang & waktu tanpa tindakan, hanya menjadi deskripsi, juga bukan peristiwa. Narasi itu diarahkan dalam tema tertentu. Jadi di dalam rangkaian peristiwa itu terdapat alur, yang digerakkan oleh tindakan tokoh, dalam kerangka latar, dan tema tertentu.

Sedang puisi lebih tersusun dengan menggunakan pola struktur baris dan bait, tipografik, daripada dalam struktur sintaksis kalimat. Juga, puisi lebih diwarnai oleh aspek irama, rima, citraan, diksi dan gaya bahasa. Puisi lebih berupa monolog. Bahasanya lebih cenderung padat dan lebih konotatif.

 

  PUISI   PROSA DRAMA
1 Monolog Campuran monolog & dialog Dialog
2 Pola larik yang membentuk bait Pola kalimat yang membentuk alinea Pola kalimat
3 Padat Cair Cair – Dramatik
4 Versifikasi: tipografi bunyi, ritme, diksi, gaya, citraan Diksi & gaya Retorik
5 Bersifat lirik, epik Bersifat naratif  (alur) Retorik-dramatik
6. Dibawakan, dideklamasikan Dibaca Dilakonkan

 

BAGAIMANA SASTRA MEMILIKI UNSUR PESONA (DULCE)?

CONTOH-CONTOH dari prosa, drama dan puisi.

1. PUISI

Sastra menarik antara lain karena dibuat dalam bentuk puisi, misalnya pantun, syair, seloka, parikan, wangsalan, gurindam, dsb. Puisi memiliki sarana-sarana estetis yang bisa menggugah pembaca, seperti diksi, gaya ekspresi seperti persajakan, aliterasi, asonansi, metafora, personifikasi, perlambangan, citraan, dst. Cara masyarakat lama dulu menanamkan nilai-nilai moral & masyarakat lewat pantun, syair, gurindam, parikan, wangsalan, dst. Mengapa puisi menarik? Masing-masing jenis puisi menggunakan bentuk-bentuk yang sudah tetap, yang mudah dihafal. Sedang puisi modern menarik karena singkat dan provokatif. Bahasanya “bergaya”. Ekspresif Puitis.. CONTOH-CONTOHNYA:

2. LAGU

Puisi akan menjadi lebih menarik lagi apabila dilagukan dalam bentuk nyanyian. Syair-syair lagu itu dihafal dan dikuasai banyak orang karena diberi lagu, sehingga banyak orang yang tertarik akan lagunya dan menyanyikannya. Banyak syair dihafal dan dimengerti isinya karena dilagukan, seperti misalnya lagu Melayu, khasidahan, pop, campursari, lagu kenangan, dangdut, tembang (Iwan Fals, Bimbo, Panbers, Kusplus, dsb).

3. CERITA SELALU MENARIK?

Cerita selalu menarik. Orang selalu ingin mendengar cerita, sesuatu yang baru. Orang selalu ingin tahu. Juga karena cerita memberi kemungkinan orang berimaginasi. Cerita membawa orang ke dunia tersendiri, yang lain dengan dunia nyata yang hanya terbatas pada peristiwa-peristiwa konkret yang terbatas pada waktu, tempat dan fisik. Dunia dongeng, cerita bisa menyajikan sesuatu yang tidak mungkin dialami oleh dunia sehari-hari; sesuatu yang ruarr biasa! Orang bebas berfantasi. Contoh: Harry Porter yang menghipnotis banyak orang.

Salah satu nafsu manusia yang berguna adalah rasa ingin tahu. Manusia berakal-budi. Pada dasarnya semua orang senang mendengar berita, sesuatu yang baru untuk menambah wawasan. Sesuatu yang baru selalu menarik. Kita lihat setiap pagi orang mencari koran, mendengarkan warta berita, berita dalam dunia, sekilas info, dst. Bagaimana kita sehari tanpa berita? Apabila tivi kita rusak, koran tidak terbit, kita sudah bingung. Pagi-pagi kita berebut koran. Ibu-ibu juga sibuk jual-beli berita. Ngrumpi, bikin gosip. Dalam tivi ada acara KIS, BETIS, BIBIR plus, KABAR-KABARI, INTIP, CEK & RICEK, NGOBRAS, KLISE, POSTER, … dll yang menjual berita mengenai para selibritis. Majalah, koran mendapatkan banyak untung karena gosip. Gosip bisa dibisniskan. Para selebritis, bintang film, artis, banyak dikejar-kejar wartawan. Berita-berita koran, majalah sengaja dibuat sensasional. Entah tentang politik, bintang film, dunia dhemit, dsb.

Cerita lain dengan berita. Berita menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi dan benar-benar terjadi, sedang cerita adalah sebuah rekaan mengenai peristiwa-peristiwa. Dalam cerita orang bisa merancang, merekayasa, mengurutkan, memilih peristiwa agar menarik orang lain. Dalam cerita, orang membuat dan menciptakan alur atau jalan cerita. Dalam fiksi cerita, diciptakan pelaku-pelaku dan tema-tema tertentu agar cerita itu bermakna. Sebab dalam cerita itu pencerita mempunyai maksud, yaitu agar pendengar tertarik, terharu, dan mengambil hikmah darinya. Pencerita mengirim pesan terselubung. Pencerita berharap agar pembaca bisa membaca dan memaknai pesan yang dikirimnya

Setiap orang ingin mendengar cerita. Tentang sesuatu yang belum pernah didengar. Sesuatu yang baru, yang memberi pelajaran hidup, menggugah hati, meneguhkan, memberi inspirasi,  mengejutkan, lain dari yang lain, sensasional. Cerita merupakan salah satu genre karya sastra. Dalam cerita orang mengungkapkan pengalaman hidupnya lewat bentuk narasi. Mengapa berita politik jaman Suharto menarik? Ingin sesuatu lain terjadi. Mengharapkan kejutan. Dasar Suharto begitu cerdik untuk memainkan politik. Suharto cerdik membuat ‘berita’, mengemudikan peristiwa politik. Mengapa berita politik pada jaman Gus Dur tidak menarik? Gus Dur lebih banyak ngomong daripada bertindak (membuat berita). Beritanya membuat orang bingung, tidak ada kemajuan, hanya begitu-begitu saja, bisa ditebak yang diomongkan: bicara tentang cara menggoyang dan mengganti presiden, Sidang Istimewa dari pihak anti-Gus Dur, dan tentang pembelaan dari pihak yang pro.

Sesuatu yang terbungkus, mengandung misteri, selalu menarik. Kado dalam bungkus, surat dalam amplop, menarik untuk dibuka. Wanita yang masih menyimpan misteri, menarik laki-laki. Setiap hari orang cari berita untuk ungkap misteri. Cerita yang mengandung misteri diburu orang. Cerita bisa menghibur orang (dongeng menjelang tidur). Menimbulkan keprihatinan. Cerita bisa memberi inspirasi. Memberi peneguhan dalam menjalani hidup ini (cerita tentang kebijaksanaan). Cerita bisa menyelamatkan, mendidik orang: Bayan budiman. Kadang-kadang orang mengalami kesepian. Orang butuh peneguhan. Cerita yang baik bisa menghibur, tetapi juga bisa memberi sesuatu yang bermanfaat, kebijaksanaan, pendidikan, penyadaran, dsb. Cerita yang menarik digunakan orang untuk membungkus sebuah pesan yang hendak disampaikan kepada pendengar/pembaca sebagai sarana pendidikan. Tidak hanya cerita yang terjadi sekarang saja yang menarik.

Cerita yang terjadi dahulu sering lebih menarik karena menceritakan tentang kejadian-kejadian yang telah lalu, yang ajaib dan mengandung misteri: cerita tentang terjadinya Gunung Tangkuban Perahu, Rawa Pening, Cerita Rara Jonggrang. Dari situ muncul cerita-cerita mitos, legenda, dsb. Juga tidak hanya cerita nyata saja yang menarik, tetapi cerita-cerita khayal, imaginatif, rekaan, buatan manusia. Sebaliknya ada orang yang senang bercerita. Ada orang yang ingin mensharingkan pengalamannya kepada orang lain untuk meneguhkan bahwa orang lain memiliki pengalaman yang tidak jauh berbeda pula. Ada orang yang ingin agar ceritanya menarik. Bagaimana supaya cerita menarik? Agar cerita itu menarik, diusahakan menggunakan bahasa yang baik dan indah, serta teknik (pengaluran, penokohan, pelataran dan penceritaan) yang canggih.  Alurnya tidak terlalu sederhana, melainkan menantang. Temanya tidak hanya biasa-biasa saja, melainkan menyentuh dan menggerakkan hati manusia. Mengandung moral serta pendidikan, memberi inspirasi dan memberi peneguhan kepada manusia. Bahasanya dikemas dengan bahasa lincah, bergaya dan bernilai seni tinggi. Sudut pandang penceritaan (akuan, diaan), cara penceritaan (panorama, adegan) secara seimbang. Yang penting diberi tekanan dengan cara adegan, dengan teknik akuan, sedangkan yang hanya sekedar diketahui diceritakan secara panorama, dengan teknik diaan.

Cerita yang baik memiliki plot yang mengandung teka-teki, menyembunyikan sesuatu dan menggelitik rasa ingin tahu, sehingga orang bertanya, “habis ini apa?”. Tokohnya simpatik. Ada harapan, pertanyaan yang mengandung harapan, bagaimana sang jagoanku? Semoga jagoanku menang atau bebas dari ancaman. Semoga antagonisnya yang menimbulkan antipati itu kalah. Semoga yang baik menang, yang jahat kalah.

Bagaimana cerita yang indah itu?

Yang mampu menyentuh hati manusia. Bagaimana cerita bisa menyentuh hati? Cerita bisa menyentuh hati karena mengandung nilai-nilai kemanusiaan, mengandung moral yang luhur. Biasanya mengandung tema human interest. Mengenai kesetiaan, cinta sejati, kejujuran dan perjuangan yang berujung kepada kemenangan, kebahagiaan. Cerita yang menarik mengandung gerak alur yang dinamis, berliku-liku, kompleks, tegang, menuju kepada klimaks mengejutkan, memuaskan, melegakan. Memiliki tokoh seorang ksatria tampan, membela kebaikan dan keadilan,  berpihak pada orang kecil, tertindas.

Keindahan di sini seperti keindahan menurut pandangan Plato/Aristoteles: mengandung kebaikan. Indah artinya baik.

Menurut Plato, yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana. Kesederhanaan sebagai ciri khas dari keindahan, baik dalam alam maupun dalam karya seni. Di samping itu kepaduan juga merupakan ciri keindahan.

Sedang Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang selain baik juga menyenangkan. Menurut Aristoteles, keindahan menyangkut keseimbangan dan keteraturan ukuran material. Katharsis adalah puncak dan tujuan karya seni drama dalam bentuk tragedi. Menurut Aristoteles, segala peristiwa, pertemuan, wawancara, permenungan, keberhasilan, kegagalan dan kekecewaan, harus disusun dan dipentaskan sedemikian rupa sehingga pada suatu saat secara serentak semuanya tampak “logis” tetapi juga seolah-olah “tak terduga”. Katharsis sebagai pembebasan batin dari segala pengalaman penderitaan. Memiliki makna terapeutis dari segi kejiwaan. Ada unsur perubahan sikap batin menuju ke kebaikan.

Cerita menarik antara lain karena alurnya.

4. SENI PENTAS: MENGAPA DRAMA MENARIK?

Antara lain karena tata pemanggungnya, diragakan, bahasa yang digunakan dramatis & puitis, mengandung alur cerita. Sesuatu ajaran tidak membosankan apabila dibungkus dengan seni pentas (drama, pantomim, tablo). Sebuah cerita akan menjadi hidup apabila diragakan dalam pemanggungan. Drama tari maupun sendratari lebih menarik daripada cerita yang hanya dibacakan saja. CONTOH-CONTOHNYA:

5. CERITA BERGAMBAR: Komik, film.

MORAL DALAM SASTRA

UTILE: SASTRA YANG BERGUNA

Kalau dulce lebih menyangkut bidang lahiriah, utile lebih menyangkut nilai batin. “Berguna” di sini bukan dalam arti ekonomis-praktis.

NILAI-NILAI DALAM SASTRA

Orang bisa belajar banyak dari sebuah novel yang baik. Dari situ bisa digali berbagai macam nilai-nilai kehidupan, misalnya nilai kejujuran, kesetiaan, nilai sosial, religius, dst. Novel yang baik bisa memantulkan bermacam-macam dimensi kehidupan.

Menurut Hazel, novel yang baik memiliki lebih dari satu lapis makna. Ia mengandung lebih daripada yang dinyatakannya (1984: 3). Dia mengambil contoh Animal Farm karangan George Orwell. Pada tataran lapis pertama, ia bercerita mengenai dunia binatang yang mengambil-alih Petani Jones. Anak-anak kecil pun bisa membacanya sebagai cerita mengenai binatang yang berperilaku seperti manusia.  Bisa dibandingkan dengan cerita Kancil. Pada tataran kedua Animal Farm membuat perbandingan historis dengan peristiwa yang sebenarnya terjadi selama Revolusi Rusia. Ia menggunakan apa yang disebut alegori. Dalam sastra Indonesia karya-karya sastra di Jaman Jepang seperti “Tinjaulah Dunia Sana”, atau sebuah drama Bebasari mengandung maksud-maksud tertentu di samping yang tersurat. Karya-karya tersebut bersifat simbolis maupun alegoris. Demikian pula novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari, Belenggu karya Armijn Pane, Burung Manyar karangan Mangunwijaya, Ziarah karangan Iwan Simatupang.

Di samping itu novel yang baik bisa dibaca-ulang secara menyenangkan, tidak membosankan.

Novel yang baik memiliki sesuatu yang sangat penting dalam hubungan manusiawi misalnya beberapa nilai kehidupan, seperti nilai sosial, religius, psikologis, nilai sosial, religius, dsb.

Dan tentu saja, novel yang baik menggunakan bahasa yang baik dan benar (Hazel, 1984: 5).

Menurut Sapardi Djoko Damono, sastra modern kita pun ternyata sudah sejak awal perkembangannya merupakan arena untuk menggambarkan ketimpangan sosial, dan lebih jauh lagi untuk menyampaikan kritik terhadap kepincangan itu. Novel-novel pertama terbitan Balai Pustaka kebanyakan sekaligus merupakan propaganda dan protes sosial. Sebagai badan penerbit pemerintah kolonial Belanda, sebanarnya adalah kantor propaganda. Ia ditugasi untuk menyediakan bacaan bagi rakyat agar mereka menjadi warga yang baik dalam lingkungan negeri jajahan. Dengan caranya masing-masing, Sitti Nurbaya oleh Marah Rusli, Salah Asuhan oleh Abdul Muis, dan Layar Terkembang oleh Takdir alisjahbana mencoba mengetengahkan dan sekaligus mengoreksi ketidakberesan dalam masyarakat. Ketiganya menampilkan problem penyesuaian diri manusia di tengah masyarakat yang berkembang. Juga novel-novel tersebut mengambil posisi politis yang netral (Damono, 1983: 23).Masalah korupsi juga pernah disinggung oleh Mochtar Lubis dalam novelnya Jalan Tak Ada Ujung (1952).

Pak Guru yang selama ini jujur mengalami krisis mental yang luar biasa ketika untuk pertama kali ia mencuri alat-alat tulis di sekolahnya. Akhirnya ia melakunnya juga. Selanjutnya peristiwa semacam itu menjadi biasa seperti sudah seharusnya saja. Di samping kemiskinan, korupsi ternyata merupakan problem utama dalam masyarakat kita yang juga mendapat perhatian sastrawan (Damono, 1983: 24). Novel bisa memperlihatkan masalah psikologis seperti Belenggu, Layar Terkembang, Telegram dan Stasiun. Oleh karenanya novel-novel tersebut menawarkan sesuatu baru kepada kita.  Novel-novel tersebut memperlihatkan suatu proses berpikir itu sendiri. Tokoh-tokoh dalam novel tersebut senantiasa berpikir dan menyusun citra-citra (Damono, 1983: 14). Tidak seperti novel-novel sebelumnya di mana tokoh-tokohnya tidak mengalami perkembangan kejiwaan mulai dari awal sampai akhir cerita, karena kebanyakan tidak berpikir sama sakali (Damono,1983: 8). Masalah sosial dan religius dimunculkan dalam Kemarau-nya A.A. Navis. Cerita yang menampilkan masalah psikologis dan religius dengan jelas misalnya Atheis, Di Bawah lindungan Kaabah. Bahkan Atheis memunculkan ketiga aspek tersebut  (masalah-masalah religius, psikologis dan sosial).

SASTRA SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN

Seperti telah disebut di atas, sastra yang baik memiliki sifat indah, menarik untuk dibaca, tetapi juga bersifat mendidik. Dengan demikian novel sebagai karya sastra bisa sebagai sarana pendidikan. Novel harus mampu menggugah minat orang untuk membaca, tetapi juga memberi sesuatu kearifan hidup, sehingga mampu menggerakkan pembaca untuk menjalani hidup yang lebih baik. Dengan demikian pembelajaran novel di sekolah sangat menunjang pendidikan.

Menurut kurikulum 1994, tujuan umum pembelajaran sastra di SMU adalah siswa mampu menikmati, menghayati, memahami dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa (Depdikbud, 1995: 1). Memahami, menghayati, serta menggali nilai-nilai bermanfaat bagi kehidupan, yaitu nilai-nilai  religius, sosial, moral, dan budaya (Depdikbud, 1995: 1). Penghayatan nilai-nilai itu meningkatkan kualitas kepribadian yang pada gilirannya ikut mempengaruhi manusia dalam mencapai kesejahteraan maupun kebahagiaan (Rahmanto, 1988: 16).

Pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh dengan meningkatkan ketrampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya dan mengembangkan cipta dan rasa serta menunjang pembentukan watak  (Rahmanto, 1988: 19).

Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia dan alam. Melalui karya sastra siswa diperkenalkan dengan fakta-fakta kehidupan, mengenai “Manusia itu apa?”, “Mengapa dia begitu?”. Lebih lanjut pembelajaran karya sastra mengembangkan daya penalaran siswa, daya cipta dan rasa, serta menanamkan nilai-nilai religius dan sosial.Sehubungan dengan pengembangkan watak, pengajaran novel khususnya, mampu membina perasaan yang lebih tajam, dan memberikan bantuan untuk mengembangkan kualitas kepribadian: ketekunan, kesetiaan, kebahagiaan, penciptaan (Rahmanto, 1988: 25). Menurut Driyarkara, pendidikan adalah memanusiakan manusia-muda (Hartoko, 1985: 36) atau dengan kata lain mendewasakan manusia muda. Mata pelajaran yang berlandaskan pada humaniora seperti bahasa, sastra, sejarah, musik, sangat menunjang pendewasaan manusia. Bidang-bidang itu mengolah kepekaan hati manusia untuk menjadi manusia yang bermoral dan bermartabat.

Seni, sastra, sejarah, falsafah membudayakan manusia. Sastra mengolah kehidupan manusia dalam bergulat menghadapi lingkungan hidupnya. Seni mempertajam kepekaan nurani manusia.Humaniora membentuk manusia pembangun yang bermoral dan bermental tinggi, yang tetap mempertahankan citra keselarasan dengan alam dunia maju, manusia intelektual dan terdidik yang  menjaga harmoni dengan tradisi sejarah serta budaya bangsa. Humaniora tidak membentuk manusia robot, mesin, teknik, dan budak produksi. Pendidikan humaniora memperkembangkan segala unsur kepribadian manusia: budi, cipta, rasa, dan karsa. Kepekaan rasa keindahan, rasa empan papan.

SASTRA SEBAGAI HUMANIORA

Mata pelajaran yang berlandaskan pada humaniora seperti bahasa, sastra, sejarah, musik, mengolah kepekaan hati manusia untuk menjadi manusia yang bermoral dan bermartabat. Seni, sastra, sejarah, falsafah membudayakan manusia. Sastra mengolah kehidupan manusia dalam bergulat menghadapi lingkungan hidupnya. Seni mempertajam kepekaan nurani manusia. Seni yang adiluhung, adalah seni yang indah. Keindahan bisa menyentuh inti terdalam kejiwaan manusia, menyebabkan manusia menjadi peka. Mencapai keindahan adalah juga merupakan hakekat “humanitas”. Sastra yang baik akan  membentuk jiwa “humanitat”.

Pendidikan humaniora memperkembangkan segala unsur kepribadian manusia: budi, cipta, rasa, dan karsa. Kepekaan rasa keindahan, rasa empan papan. Orang bisa belajar banyak dari sebuah novel yang baik. Dari situ bisa digali berbagai macam nilai-nilai kehidupan, misalnya nilai kejujuran, kesetiaan, nilai sosial, religius, dst. Novel yang baik bisa memantulkan bermacam-macam dimensi kehidupan. Lalu bagaimana novel disampaikan kepada siswa? Lewat pengajaran dan pembelajaran.Sastra yang baik bagaikan intan, memiliki banyak dimensi. Sastra memiliki sifat estetis, mendidik, juga merupakan sebuah kritik. Kritik terhadap kehidupan itu sendiri. Menurut Matthew Arnold, Sastra adalah “criticism of life.”  Sebagai kritik kehidupan, sastra lebih luas daripada kritik sosial. Yang penting dalam sastra memang adalah keindahannya. Keindahan itu pun bukan hanya keindahan bahasanya, melainkan karena keberhasilan tulisan sastra tsb mendekati kebenaran (Darma, 1983: 51).

Sastra sebagai unsur kebudayaan, memberikan hidup yang lebih mulia kepada manusia. Mengangkat dunia dan martabat manusia dengan mendasarkan diri pada nilai-nilai yang paling tinggi, indah, agung dan benar. Sastra menjadikan manusia lebih menusiawi. Sastra yang baik memiliki sifat indah, menarik untuk dibaca, tetapi juga bersifat mendidik. Dengan demikian novel sebagai karya sastra bisa sebagai sarana Pendidikan. Novel harus mampu menggugah minat orang untuk membaca, tetapi juga memberi sesuatu kearifan hidup, sehingga mampu menggerakkan pembaca untuk menjalani hidup yang lebih baik.

Dengan pendidikan humaniora manusia tahu menilai yang baik dengan mata hati yang bening, bisa memilih dengan bijak dan dengan tekad yang bulat melakukan yang dianggapnya baik. Manusia humaniora mencintai keselarasan, yang dilihat dalam alam, dirasai dalam dirinya.

HUMANIORA: mendidik manusia untuk menjadi manusia dewasa yang integral dan peka (manusia terasah). Peka terhadap keindahan, peka budinya, peka hatinya. Terasah akal-budinya, rasa-perasaannya, karya dan hatinya, sehingga manusia yang berkembang maksimal dan berselera tinggi. Manusia bermartabat.

UTILE ET MOVERE

SASTRA SEBAGAI ILMU (ILMU SASTRA)

 

Ilmu Sastra?

Sastra merupakan seni dan kegiatan kreatif. Tetapi studi sastra sebagai cabang ilmu, apa mungkin? Untuk menjawab itu perlu diperjelas apa itu sastra dan apa itu ilmu.

ASAL-USUL PENGETAHUAN, ILMU PENGETAHUAN, FILSAFAT

Mencari kebenaran & kebijaksanaan. Berhadapan dengan alam yang masih misteri, timbul keinginan manusia untuk mengetahui rahasia alam. Untuk memahami rahasia alam itu, manusia berusaha menafsirkannya lewat beberapa hal.

  1. Mitologi: mencari keterangan tentang asal-usul alam semesta sendiri disebut mite kosmogonis; mencari keterangan tentang asal-usul kejadian dalam alam semesta disebut mite kosmologis. Bagaimana orang menjelaskan pelangi, petir, hujan, gempa bumi, peredaran matahari. Bandingkan dengan timbulnya mitos Jawa (Betara Kala, Nyai Lara Kidul, Cerita Asal-usul, dsb). Upacara2 maupun ritual mitis merupakan wujud dari kepercayaan mitos (upacara bersih desa, mohon hujan, jauh dari musibah, dsb)
  2. Kesusastraan (Yunani): dipelopori oleh Homeros dengan karya besarnya berjudul Eliade dan Odessea.
  3. Dari mitos ke logos: Sejak abad ke-6 SM mulai berkembang suatu sikap rasional. Orang mulai mencari jawaban2 rasional tentang problem2 yang diajukan oleh alam semesta. Logos (akal budi, rasio) mengganti mythos. Mulailah filsafat & ilmu pengetahuan. Filsafat Yunani hampir mempelajari seluruh ilmu pengetahuan. Seorang filsuf sekaligus seorang  ilmuwan. Aristoteles, pelajari logika, fisika, ilmu hokum, politik, sastra, psikologi, etika, metafisika, dsb.

Berbagai Jalan mencari Kebenaran (Nazir + Winarno Surachman)

  1. Penemuan kebenaran secara kebetulan: mis., menemukan kinine sebagai  obat malaria secara kebetulan. Demikian pula orang menemukan dalam kopi ada unsur untuk mencegah ngantuk. Orang sakit perut, menemukan obat (jambu muda, sawo). Orang menemukan tembakau sebagai sesuatu yang sebabkan kecanduan, mariyuana, ganja, jamur kotoran sebagai cara orang fly, sirih sebagai obat. Orang menemukan madu sebagai obat mujarab. Krupuk + gula jawa, jeruk nipis dan kecap, sbg obat batuk
  2. Penemuan lewat wahyu: lewat para orang2 tertentu: nabi, orang besar seperti Budha, Lao Tze, Yesus (Isa Al Masih), Mohammad S.A.W, dsb.
  3. Penemuan secara intuitif (firasat). Sering orang bisa merasai kebenaran. Meramalkan akan ada sesuatu hanya dengan ‘rasa’. Firasat akan terjadi kematian; merasa dagang ini akan laris; ketemu teman, pasangan yang cocok.
  4. Penemuan secara trial dan error. Orang menemukan obat dengan mencoba-coba dan gagal, jatuh bangun penuh perjuangan akhirnya menemukan hasil: penisilin. Memperoleh tanaman/ternak jenis unggul; telur dari persilangan kate dan ayam ras; bekisar.
  5. Penemuan lewat spekulasi. Para pedagang, pengusaha biasanya lewat perhitungan kasar, akhir memutuskan untuk melakukan sesuatu secara untung-untungan. Bulan Juni, Juli, berdagang  pakaian seragam sekolah; mendekati bulan Ramadhan dan Idul Fitri membuat kartu ucapan yang unik.
  6. Penemuan karena kewibawaan. Sering orang menghormati pendapat yang keluar dari badan maupun orang yang dianggap punya kewibawaan, tidak lagi ingin menguji kebenarannya. Pendapat para ahli mudah menjadi pendapat umum tanpa kritik. Biasanya pemimpin agama memaklumkan suatu pernyataan yang harus dianggap kebenaran oleh umat. Misalnya Paus menyatakan Galileo bersalah besar karena berpendapat bahwa bumi bulat dan mengelilingi matahari, sehingga harus dihukum mati. Pemuka agama dalam menentukan kapan umat Islam mulai berpuasa, kapan mengakhiri puasanya dengan melihat bulan.
  7. Penemuan secara akal sehat (pandangan umum). “Mendidik anak harus dengan keras”. “Anak itu ibarat kertas kosong (tabula rasa)”. “Peran wanita itu no. 2”: melayani laki-laki. Tugas wanita menyangkut 3 M. Wanita harus di rumah saja, tak perlu sekolah tinggi, tak bisa jadi pemimpin (jaman Siti Nurbaya, Kartini); tak boleh menyatakan cinta. Mendidik anak yang baik adalah dengan memberi kebebasan seluasnya.
  8. Berpikir kritis berdasarkan pengalaman. “Semua orang akan mati. Ahmad adalah manusia. Ahmad akan mati” .
  9. Lewat penyelidikan Ilmiah. Cara mencari kebenaran lewat penyelidikan dipandang cara yang ilmiah. Kebenaran ilmiah hanya akan diakui apabila didukung dengan bukti-bukti yang menyakinkan, bukti-bukti yang diperoleh lewat prosedur yang sistematik, jelas dan terkontrol. Kebenaran yang diperoleh dengan cara penyelidikan ini disebut ilmu pengetahuan.

 

 

ILMU PENGETAHUAN

 

Pengetahuan: segala sesuatu yang diketahui manusia. Hasil tahu manusia mengenai sesuatu.

Ilmu adalah pengetahuan yang terorganisasi serta tersusun secara  sistematik menurut kaidah  umum, sehingga bisa disimpulkan dalil-dalil tertentu menurt kaidah-kaidah umum (Nazir).

Ilmu muncul karena manusia merupakan makhluk yang  punya akal budi untuk berpikir. Karena itu manusia punya kodrat selalu ingin tahu. IP muncul karena adanya pengetahuan yang dimiliki manusia. Pengetahuan yang tersusun secara sistematik itu disebut ilmu. Ilmu muncul karena manusia berpikir dan mengetahui.

Proses berpikir manusia untuk  menghasilkan ilmu itu menurut Dewey sebagai berikut.

    1. Muncul masalah atau rasa sulit yang dialami dengan alam sekitar: adaptasi terhadap alat, mengenali sifat-sifat lingkungan, menerangkan gejala alam, dsb.
    2. Masalah itu kemudian didefinisikan atau dirumuskan dalam bentuk permasalahan.
    3. Muncul kemungkinan pemecahannya yang berupa hipotesa, inferensi, atau teori.
    4. Ide-ide pemecahan diuraikan secara rasional dengan jalan mengumpulkan bukti2 (data)
    5. Mengolah bukti2 dan menyimpulkannya lewat percobaan2 maupun penjelasan rasional.

ILMU PENGETAHUAN

Menurut Suriasumantri (1987: 4), ilmu adalah kumpulan penge­tahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dari pengetahuan-pengetahuan lainnya.

Ilmu adalah pengetahuan yang terorganisasi serta tersusun secara  sistematik menurut kaidah  umum, sehingga bisa disimpulkan dalil-dalil tertentu menurt kaidah-kaidah umum (Nazir).

Ilmu meneliti gejala alam yang bisa di­tangkap oleh panca-indera manusia. Ilmu bersifat  material. Gejala alam mempunyai pola-pola hukum tertentu yang tetap dan sama, yang berlaku  bagi semua (universal) jenis dalam kelompok tertentu. Dikata­kan, jenis besi  dipanasi memuai. Ini berlaku umum bagi semua jenis besi. Air mendidih pada suhu 100 derajad Celcius. Ini juga berlaku bagi semua jenis air. Dengan kata lain, ilmu memiliki ciri umum dan universal. Oleh karena sifat material tersebut, usaha pemahaman obyek ilmu dilakukan dengan pendekatan empirik, berdasarkan pengalaman inderawi.

Mulanya ilmu pengetahuan alamlah yang disebut  ilmu, sebab memiliki hukum yang pasti, umum dan universal. Mengapa? Karena memiliki hukum-hukum yang  lebih konsisten dan mantab, yaitu  alam; benda mati atau materi. Maka yang disebut ilmu pengetahuan pada waktu itu adalah pengetahuan sistematis terhadap gejala alam. Dengan kata lain ilmu pengetahuan alam, itulah ilmu yang sesung­guhnya. Karena yang menentukan sesuatu itu ilmu adalah obyeknya. Bukan subyek, manusia yang mengamatinya. Maka yang berkembang jaman dahulu adalah pengetahuan yang bersifat obyektif, empirik. Itulah pandangan kaum positifisme logis. Ilmu (pengetahuan alam) pada waktu itu menggunakan metode eksperimen (laboratorium), satu-satunya.

Ilmu pengetahuan  alam membatasi diri dengan hanya membahas gejala-gejala alam yang bisa diamati. Tuntutan lebih lanjut bagi gejala alam yang lazim dibahas dalam ilmu-ilmu alam adalah bahwa pengamatan gejala itu bisa diulangi orang lain (reproducible).
Masing-masing gejala alam itu tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dalam suatu pola sebab akibat. “Jika A maka B, jika B maka C, jika C maka D dst.”

Pengetahuan dan cara berpikir manusia semakin berkembang. Pengetahuan manusia tidak hanya mengenai gejala-gejala alam saja yang memiliki hukum-hukum yg pasti, tetap dan universal, tetapi juga mengenai makluk hidup.

Yang menjadi objek pengetahuan manusia tidak hanya gejala alam yang mati (memililki sifat tetap dan pasti), melainkan juga makhluk hidup: binatang, manusia itu sendiri. Hukum yang diperlakukan terhadap gejala-gejala alam itu ternyata berbeda dengan  gejala-gejala manusiawi yang memiliki jiwa kebebasan, dan kesadaran. Muncul pertanyaan, bagai­mana pengetahuan mengenai perilaku manusia (psikologi), mengenai hubungan antara manusia dengan manusia (sosiologi), mengenai kelompok manusia tertentu (etnografi), budaya manusia (anthropologi), dan akhirnya mengenai hasil karya manusia yang disebut sastra? Dari pertanyaan dan pemikiran itu, muncul perkembangan yang kemudian dinamakan ilmu sosial dan budaya.

Ternyata gejala sosial lebih kompleks dibandingkan dengan gejala-gejala alami (Suriasumantri, 1987: 134). Ilmu-ilmu sosial-budaya mempelajari manusia baik selaku perseorangan maupun selalu anggota dari suatu kelompok sosial yang semakin rumit dan kom­pleks. Gejala sosial tidak hanya mencakup faktor-faktor fisik saja, melainkan mencakup aspek-aspek psikologis, sosiologis, biologis, dan kombinasi dari aspek-aspek tsb.

Gejala sosial-budaya banyak yang bersifat unik dan sukar diprediksi dan tidak berulang kembali. Masalah sosial kerapkali bersifat spesifik dalam konteks historis tertentu. Oleh karena itu kemunculan ilmu-ilmu sosial-budaya mendapat banyak kritik dari kalangan ilmuwan (alam). Mereka meragukan ilmu sosial sebagai suatu ilmu. Dipertanyakan status keilmuan dari ilmu-ilmu sosial-budaya. Hukum-hukum ilmu sosial, jika ada, bersifat proba­bilistik (bersifat kemungkinan). Tidak mempunyai kepastian (Suriasumantri, 1987: 140).

Apakah pendekatan empiris ini membawa kita lebih dekat kepada kebenaran? Ternyata tidak, sebab gejala yang terdapat dalam pengalaman kita baru mempunyai arti kalau kita memberikan tafsiran terhadap mereka. Fakta yang ada sebagai dirinya sendiri, tidaklah mampu berkata apa-apa. Kitalah yang memberi mereka sebuah arti, sebuah nama, tempat, atau apa saja (Jujun S. Suriasumantri, 1981: 11).

PEMBAGIAN ILMU: Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Sosial-budaya

IPA: eksak/pasti, dapat dikontrol.

Ilmu Humaniora: proses dalam masyarakat tidak kaku, fleksibel, bisa berubah, lebih kompleks

Peneliti/pengamat dalam IPA imparsial, di luar objek; sedangkan dalam Humaniora tidak imparsial.

METODOLOGI

Berpikir secara nalar mempunyai 2 kriteria penting: unsur logis dan analitis.

Berpikir logis artinya berpikir menurut jalan pikiran yang runtut. Contoh:

  1. Manusia akan mati. Andi manusia. Andi akan mati.
  2.  Makluk hidup harus makan. Binatang makluk hidup. Maka binatang harus makan.

Berpikir analitis adalah berpikir dengan menjelaskan hubungan antara hal yang satu dengan lainnya, dengan data dan bukti2.

Untuk bisa berpikir secara logis dan analitis, diperlukan rasio maupun pengalaman sebagai sumber dari pengetahuan. Oleh karenanya ilmu pengetahuan bisa diperoleh manausia baik lewat rasio (rasionalisme) maupun pengalaman (empirisme). Sesuai dengan obyeknya, ilmu hanya bisa diperoleh dengan cara empirik dan rasional. Ilmuwan, sebagai subyek pengetahuan harus mampu menempuh kedua cara itu. Kemampuan tsb hanya bisa dimiliki apabila ia punya pancaindera dan rasio yang normal. Maka metode ilmu adalah dialektika antara metode empirik dengan metode rasional.

Oleh karenanya ilmu pengetahuan pada dasarya mencakup kemampuan  rasio maupun pengalaman. Ilmu yang lebih mendasarkan pengalaman sebagai pijakan bernalar, menggunakan metode induksi. Sedang cara berpikir yang lebih mendasarkan rasio sebagai pijakan bernalar, menggunakan metode deduksi.

Oleh karena itu pencapaian ilmu bisa diperoleh lewat penalaran induksi maupun deduksi.

A. Induksi: khusus – umum.

1. Pernyataan a posteriori: kebenaran didasarkan pengalaman/empi­ris. Dari gejala-gejala  yang khusus, individual, dari yang banyak lalu dicari kesamaannya, dan disimpulkan dari kesamaannya itu untuk membuat teori yang umum.

2. Merupakan kumpulan dari bukti-bukti individual, yang sama, kemudian menjadi kesimpulan yang merupakan teori.

B. Deduksi: Umum – khusus.

1. Bersifat a priori: tidak perlu dibuktikan dengan pengalaman, karena sudah menjadi hukum umum dan pasti: semua logam dipanasi memuai. Mulai dari teori/rumus umum, menuju ke gejala-gejala khusus, untuk membuktikan apakah gejala khusus itu juga tercakup ke dalam teori yang umum itu. Di sini orang bertugas membuktikan bahwa gejala khusus itu tercakup ke dalam teori umum.

2. Merupakan persetujuan bersama: 1 kg = 10 ons.

3. Pernyataan sistem tertutup: tidak perlu diperdebatkan maupun

disangsikan/diuji dengan fakta: pasti, matematis.

 

C. Abduksi: jalan tengah antara induksi dan deduksi.

Metode ini diusulkan oleh C.S. Pierce. Abduksi adalah suatu metode dalam menyusun hipotesis setelah diawali dengan metode induksi. Tetapi dalam pengkajiannya tidak menggunakan metode deduksi murni tertutup. Artinya dalam kita mengadakan pengkajian tersebut masih terbuka bagi masuknya kritik, pertanyaan, peruba­han dsb. Bahkan Pierce menyatakan, bahwa metode yang paling penting dalam Ilmu Pengetahuan adalah metode abduksi, karena masih membuka kemungkinan untuk menerima masukan. Masukan justru penting untuk memperkuat hipotesis.

Ada pun tahap-tahap yang ditempuh oleh pengetahuan untuk menjadi suatu ilmu, melalui beberapa tahapan:

a. Tahap spekulasi

Pada tahap ini peneliti sebenarnya sudah mempunyai dugaan kuat mengenai suatu teori tertentu. Hanya saja, dugaan itu belum dibuktikan kebenarannya dengan data-data yang akurat.

b. Tahap observasi dan klasifikasi

Tahap ini peneliti mulai mengadakan observasi, penelitian, servey yang cermat dengan mengumpulkan data-data yang akurat. Data-data itu diklasifikasikan menurut ukuran dan maksud tertentu.

c. Tahap perumusan teori

Dari data tersebut, dibandingkan, dikelompokkan dan dianalisis, kemudian disintesiskan sehingga menghasilkan suatu teori.

Teori yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1) Tuntas: mencakup semua fakta; tak ada yang terlewatkan maupun terkecualikan

2) Konsisten: tidak mengandung pernyataan-pernyataan yang saling

bertentangan

3) Sederhana: mengungkapkan secara lugas, tidak ambigu.

Sifat keilmiahan harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  a. Eksplisit: bahwa teori itu harus dirumuskan secara jelas.

b. Sistematis: metode yang dipergunakan harus rapi, menggunakan

sistem yang konsisten.

  c. Obyektif:

- terbuka thd analisis

- kritis dengan “mencurigai” setiap hipotesa sampai

bisa dibuktikan secara memadai

- hati-hati terhadap prasangka.

- menggunakan prosedur standar yg ditentukan

Medan yang digunakan dalam Ilmu Pengetahuan meliputi tiga macam.

a. Penelitian laboratorium. Biasanya digunakan oleh Ilmu Pengeta­huan Alam. Ilmu

Pasti    menggunakan metode deduksi dan induksi.

b. Penelitian lapangan (wawancara, riset, angket). Metode ini biasanya lebih cocok

untuk Ilmu-ilmu Sosial.

c. Penelitian kapustakaan. Penelitian ini lebih banyak digunakan oleh Ilmu-ilmu

budaya.

 

Menurut Max Weber, untuk sampai pada suatu pengertian yang diperlukan dalam ilmu-ilmu sosial-budaya, harus lewat pengertian yang mendalam tentangnya. Pengertian yang mendalam itu disebut Verstehen. Menurut Weber dan teman-temannya, Verstehen merupakan metode satu-satunya untuk mencapai tujuan tersebut. Khas bagi ilmu-ilmu sosial-budaya karena sifat yang hakiki dari ilmu-ilmu tsb.

Verstehen merupakan metode baru: metode pemahaman. Memahami berarti  mengerti sungguh-sungguh sedalam-dalamnya. Tidak hanya sekedar mengerti saja. Pemahaman sesuatu sedikit berbau subyek­tif-emosional. Dalam metode pemahaman, perlu penafsiran. Herme­neutik merupakan cara menafsirkan atau menginterpretasi. Juga merupakan proses perubahan dari tidak tahu menjadi tahu; dari tidak mengerti menjadi mengerti (Sumaryono, l993: 24).

Manusia hidup di alam simbol: hakekatnya yang mengandung pengertian di dalamnya. Mengandung nilai, perilaku, penafsiran. Maka harus selalu berkembang. Selalu berubah dan baru. Ilmu selalu ada penemuan baru. Kreatif dan dinamis.

Bila seseorang mengerti, dia sebenarnya telah melakukan interpretasi. Mengerti dan interpretasi merupakan ‘lingkaran hermeneutik’. Emilio Betti menyatakan, bahwa tugas orang yang melakukan interpretasi adalah menjernihkan persoalan mengerti.

Menurut Gadamer, penafsiran itu berlangsung berdasarkan adanya suatu arus timbal-balik antara yang mengenal dengan yang dikenal, khususnya antara pembaca dan pengarang (Verhaak, l989:  176).

STUDI SASTRA

 

STUDI SASTRA memiliki 3 bagian atau cabang, yaitu teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra (Wellek, 1977: 27; Pradopo, 1994; 9).

  ILMU SASTRA: TEORI SASTRA, SEJARAH SASTRA, KRITIK SASTRA
1. Teori studi prinsip, kategori, dan kriteria. Teori sastra beroperasi dlm hal hakekat sastra, dasar-dasar sastra, hal-hal yang berkaitan dengan gaya, teori komposisi, jenis-jenis sastra (genre), teori penilaian, dsb.
2. Sejarah sastra menyusun perkembangan sastra dari awal kemunculannya hingga perkembangan mutakhir. Menurut Wellek, sejarah sastra melihat karya-karya sastra secara kronologis (Wellek, 1977: 38).
3. Sedangkan kritik sastra mempelajari sastra secara khusus (Wellek, 1977: 38), langsung dan konkret.
Ketiganya  bisa dibedakan, tetapi tak terpisahkan satu  sama lain di dalam studi sastra.

ALIRAN-ALIRAN SENI/SASTRA

Romantik (Dictionary of Literary Terms, Harry Shaw. Amerika Serikat: McGraw-Hill, 1972).

 

Istilah Romantik tak bisa tepat dikenakan pada keadaan maupun sifat yang khas, * sudut pandang, maupun teknik sastra. Sebagai gerakan, ia muncul perlahan-lahan dalam berbagai aspek yang sangat berlainan dalam berbagai tempat di Eropa, sehingga definisi yang memuaskan tidak mungkin.

Di Perancis, Victor Hugo (1802-1885), menekankan sebagai controlling idea yang dalam romantisisme “kebebasan sastra”, kebebasan seniman dari tekanan2 maupun aturan2 yang dipaksakan oleh para klasikus dan keberanian dari gagasan politik revolusioner. Di Jerman, Heinrich Heine (1797-1856) berpikir, aspek dominan dari romantisisme adalah penghidupan kembali dari masa lampau (abad pertengahan) dalam sastra, seni dan kehidupan. Penulis Inggris terakhir (Walter Pater, 1839-1894) mengusulkan bahwa penambahan dari kelainan terhadap keindahan merupakan semangat romantik dari abad ini. Penulis lain menyatakan bahwa apa yang dikatakan mood romantik merupakan kehendak untuk lari dari kenyataan, khususnya realitas yang tidak menyenangkan. Gerakan yang merambah dari abad 18 dan 19 ini menunjukkan masing-masing karakteristik.

Romantisisme secara khusus bisa dikatakan sebagai sikap sastra di mana imaginasi dianggap lebih penting daripada aturan formal dan alasan an (*klasisisme) dan daripada semangat jaman (*realisme).

Akibatnya, romantisisme merupakan teori sastra maupun filsafat yang cenderung untuk menempatkan individu di pusat kehidupan dan pengalaman dan menunjukkan pergeseran dari objektivitas ke subjektivitas. Konsep2 romantik itu sangat menyumbang kepada pendirian dunia modern demokratis (Shaw, 327).

Romantik (Webster’s ..)

Ditandai dengan pesona emosional dan imaginative, idealisme, misteri, petualangan, heroik, jauh. Berkaitan dengan musik dari abad 19 yang ditandai oleh tekanan emosional subjektif, kebebasan.

 

Romantisme

Gerakan filsafat, seni, dan sastra, yang berasal dari abad 18, ditandai terutama oleh reaksi terhadap neoklasisme dan tekanan pada emosi dan imaginasi, terutama dalam sastra Inggris, dengan sensibillitas dan penggunaan bahan otobiografi, mengangkat manusia jelata dan primitif, apresiasi terhadap sifat eksternal, …

Naturalisme

Dalam sastra, usaha untuk mencapai kesetiaan terhadap alam dengan menolak gambaran hidup yang dicita-citakan. Naturalisme bisa didefinisikan lebih jauh sebagai teknik maupun cara menyajikan pandangan objektif manusia dengan akurasi yang sangat tinggi dan terus-terang. Penulis naturalistic berpegang bahwa keberadaan orang dibentuk dengan warisan/keturunan dan lingkungan, terhadapnya ia tidak bisa mengendalikannya tetapi bisa sedikit melatihnya apabila ada pilihan.

Novel-novel dan drama dalam gerakan ini, menekankan kodrat kebinatangan dari manusia, potret tokoh2 yang asyik dalam perjuangan liar untuk hidup. Emile Zola, pendiri dari aliran Naturalis Perancis, berpegang bahwa novelis hendaknya membedah dan menganalisis subjeknya dengan ketelitian ilmiah dan tidak memihak (tanpa pamrih). Ernest Hemingway, Eugene O’Neill, William Faullner.

Naturalisme (Webster’s …)

Tindakan, kecenderungan, maupun pemikiran yang hanya berdasarkan pada nafsu dan instink alami.

Realisme

1)      Teori penulisan yang sangat familiar, aspek2 biasa dari kehidupan digambarkan secara apa adanya, langsung, dirancang untuk merefleksikan kehidupan sebagai adanya.

2)      Penanganan dari pokok pembicaraan dengan cara menyajikan deskripsi secara hati-hati mengenai kehidupan sehari-hari, kerapkali mengenai kehidupan kelas menengah ke bawah.

Realisme yang mengacu baik isi maupun teknik kreasi sastra, sudah jelas dari awalnya.

Meskipun realisme selalu mengesankan keakuratan pengucapan dan rinci, seluruh latar belakang informasi, dan berkepentingan dalam *verisemilitude, istilah mengambil makna yang ditambahkan selama abad 19 dan awal 20-an di Kontinen dan di Inggris dan Amerika Serikat: menekankan fotografi, detail, analisis penelitian dari “hal-hal senyatanya”, frustrasi tokoh2-nya dalam atmosfir kebobrokan, kebusukan, kemaksiatan. Realisme telah tetap agak elusive (sukar dipahami), istilah yang masih remang2, tetapi terus-terang, berbagai aspek dari teknik dan pokok bahasan “realistic” tampak dalam berbagai drama, puisi dan cerita pendek dari jaman modern maupun novel-novel dari penulis2 seperti Daniel Defoe, Henry Fielding, Thackeray, Dickens, Balzac, Tolstoi, Mark Twain, John O’Hara, ………… Lihat juga determinisme, mimetik, naturalisme, pragmatisme, versimilitude, dsb.

 

Realisme

 

Ekspresionisme

Istilah dengan beberapa pengertian yang secara bervariasi dikenakan pada bentuk yang bermacam-macam, ekspresionisme mustahil didefinisikan secara tegas dan singkat. Dalam seni murni (seni lukis, patung), ia melibatkan teknik di mana bentuk yang berasal dari alam berlebihan maupun menyimpang dan

Absurd

Pragmatisme

Suatu gerakan filsafat yang menekankan konsekuensi praktis dan nilai. Pragmatisme menekankan kegunaan dan kepraktisan (practicality). Dipelopori oleh psikolog dan filsof Amerika, William James.  James, John Dewey, dan tokoh pragmatik berpendapat, bahwa hidup lebih penting daripada pikiran logis. Berpengaruh dalam perkembangan *realisme dalam sastra modern seluruh dunia.

 

MENGAPA ORANG MEMBACA SASTRA?

(B. Rangkuti, Pramudya Anantatoer, 1963).

Sebagian besar masyarakat membaca sastra hanya sekedar mengisi waktu luang (menunggu, sebelum tidur, nganggur, dsb), atau sebagai hiburan, sebagai pelarian rasa jenuh dari kerutinan hidup, melupakan masalah yang dihadapinya, lari ke dunia khayal untuk membius-diri (seperti candu, ekstasi). Graham Greene membagi buku2nya menjadi roman dan hiburan.

Di Indonesia kita mengenal roman picisan dan roman serius. Buku hiburan ada yang mematikan semangat dan menghidupkan semangat. Ada yang memberikan kesegaran, ada yang mampu menyingkap rahasia aspek watak manusia.

Sebagian masyarakat membaca sastra tidak hanya sekedar hiburan dan untuk melupakan persoalan yang dihadapi (escapism), melainkan sebagai inspirasi dalam memecahkan persoalan. St. Takdir Alisyahbana dan St. Syahrir berpendapat, sastra harus mendidik rakyat. Sanusi Pane mengatakan bahwa pengarang merupakan bagian dari masyarakat dan alam. Sastra bisa dianggap meracuni, tapi bisa juga memberi inspirasi (Pramudya Ananta Toer, pengarang fiksi ilmiah, wayang). Sastra: rekaan (imagi) dibungkus, dikemas sedemikian rupa sehingga menarik untuk dibaca. Bandingkan dengan vit.C sekarang, dikemas dalam bentuk permen manis dengan rasa dan gambar jeruk. Diemut, hisap, memberi efek pada kesehatan. Karya sastra disajikan supaya dibaca, dicerna, dimasukkan ke dalam renungan, refleksi, dan memberi pengalaman, kekuatan, dorongan untuk berbuat sesuatu, berbuat baik > dewasa. Contoh orang nonton film yang bagus dan menarik. Pulang nonton, merenung. Awalnya mungkin terkesan oleh bintang film. Tapi lalu ceritanya, mengolahnya. Salah satu hakikat sastra adalah menggambarkan manusia sebagai mana adanya.

Karya sastra yang baik mengajak pembaca melihat karya tsb sebagai cermin dirinya sendiri, dengan jalan menimbulkan “pathos”, yaitu simpati terhadap kehidupan, dan merasa terlibat dalam peristiwa mental yang terjadi dalam karya. Sastra memiliki fasilitas yang lebih luas untuk menggerakkan “pathos” pembaca, untuk ikut prihatin terhadap masalah-masalah dunia (Budi Dharma). Seni yang adiluhung adalah seni yang indah, yang bisa menyentuh perasaan dan nurani manusia untuk berbuat yang baik.

Perjuangan untuk menciptakan keindahan belum tentu sejalan dengan kepentingan moral. Apa yang mendorong pengarang untuk mengarang biasanya ketidakpuasan akan apa yang seharusnya menurut moral tidak terjadi. Itulah sebabnya karya sastra yang baik biasanya malah menggambarkan kepahitan hidup. Itulah sebabnya pula nada protes dalam sastra sangat dominan, seperti ironi, sinisme, paradoks, dsb. Matthew Arnold menyebut sastra sebagai kritik kehidupan. Tema adalah masalah hakiki manusia, seperti cinta kasih, ketakutan, kebahagiaan, keterbatasan, penderitaan, kesetiaan, dsb.

Ditambah dengan Manfaat Karya Sastra (Sumardjo, 1991: 8)

Manfaat Karya Sastra

  1. Karya sastra yang baik memberi kesadaran kepada pembacanya tentang kebenaran-kebenaran hidup ini. Dari padanya kita dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang manusia, dunia dan kehidupan.
  2. Karya sastra memberikan kegembiraan dan kepuasan batin. Hiburan ini adalah jenis hiburan intelektual dan spiritual. Hiburan yang lebih tinggi, lebih dalam daripada hiburan karena menang lotere, memiliki mobil baru, misalnya.
  3. Karya sastra besar itu abadi. Karya sastra seperti Mahabharata, Ramayana yang ditulis 2500 tahun yang lampau tetap aktual untuk dibaca pada hari ini juga. Demikian juga seperti Romeo & Yuliet, Oedipus, Macbeth, dsb. Karya sastra besar memiliki sifat-sifat abadi karena memuat kebenaran-kebenaran hakiki yang selalu ada selama manusia masih ada.

 

MENGAPA SASTRA SEBAGAI FIKSI BERGUNA BAGI MANUSIA?

Karena fiksi, ia merupakan rekayasa dari akal budi untuk mencapai sebuah kesatuan antara alur, tema, amanat, tokoh dan setting supaya karya sastra yang merupakan sebuah dunia/peristiwa fiksi bisa diarahkan untuk memberi sebuah dunia yang bersistem, sehingga dunia fiksi menyerupai dunia keseharian, namun lebih terarah, sehingga manusia (pembaca) tertarik untuk masuk (membaca) dan bisa mengambil manfaat yang bersifat moral, bernilai pendidikan, mengandung nilai sosial, religius, dsb. > Nilai moral di dalam sastra.

PERAN  SASTRA  DALAM   MASYARAKAT (Sastra dan Tekniknya, Mochtar Lubis)

Karya-karya sastra lama ini, mulai dari drama India, Melayu, Yunani, seperti Ramayana, Bhagavad Gita, Hang Tuah, Illiad, Odyssey, Cindur Mata, Sabai Nan Aluih, adalah karya-karya sastra yang telah ikut membentuk dan mempengaruhi nilai dan sikap hidup orang. Cerita Wayang misalnya, baik wayang kulit, golek, potehi (wayang Jawa, Sunda, Cina maupun Melayu) sangat mempengaruhi nilai dan sikap orang Indonesia.

Mengapa buku-buku sastra disita dan dibakar oleh penguasa, pengarang ditangkap dan disekap dalam penjara? Karena dianggap karya-karya mereka bisa mempengaruhi cara hidup, bahkan bisa menggerakkan orang banyak. Dostoyevsky dibuang, dijatuhi hukuman mati ke Siberia. Boris Pasternak, pengarang buku Dr. Zhivago, dikucilkan oleh Kruschev karena bukunya mengutuk tindakan sewenang-wenang pemerintah melawan perikemanusiaan. George Orwell, pengarang Animal Farm, mengkritik tajam kekuasaan otoriter. Buku Mochtar Lubis, Senja di Jakarta pernah “diharamkan” pada pemerintahan Soekarno. Pramoedya Ananta Toer beberapa kali dijebloskan ke penjara karena buku-bukunya, baik jaman Soekarno maupun Soeharto.

Sejak jaman dulu hingga sekarang, sastra mencakup semua sisi kehidupan, dari kehidupan pribadi, kehidupan social, maupun kehidupan iman. Dari masalah cinta, kebencian, kesetiaan, penyelewengan, kesewenang-wenangan, ketamakan, kepahlawanan, dst.

 

DAFTAR PUSTAKA

Atmazaki. 1990. Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Padang: Penerbit Angkasa Raya

Dick Hartoko. 19984.  Manusia dan Seni. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.

Koesbyanto, J.A. Dhanu. & Firman Adi Yuwono. 1997. Pencerahan: Suatu

             Pencarian Makna Hidup dalam Zen Buddhisme. Yogyakarta: Kanisius.

Luxemburg, Jan van. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.

—————-. 1987. Tentang Sastra. Jakarta: Intermasa.

Sachari, Agus. 2002. Estetika. Bandung: ITB.

Sutrisno, Mudji & Christ Verhaak, SJ. 1993. Estetika Filsafat Keindahan.

Yogyakarta: Kanisius.

Sutrisno, Mudji.. 1999. Kisi-kisi Estetika. Yogyakarta: Kanisius.

Teeuw, A. 1983.  Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.

The Liang Gie. 1983. Garis Besar Estetik (Filsafat Keindahan). Yogyakarta:

Supersukses.

The Liang Gie. 1996. Filsafat Seni, Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Pusat Belajar

Ilmu Berguna.

Wellek & Austin Warren. 1977. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia

(Terj. 1989).

PENDALAMAN (BACAAN TAMBAHAN)

 

PENGERTIAN SENI

(B. Rahmanto, Simbolisasi dalam Seni, BASIS Maret 1992)

Seni sebagai kegiatan rohani manusia yang merefleksi realitas dalam suatu karya yang berkat dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya (Akhdiat Karta Miharja, 1961: 17). Susanne Langer mendefinisikan seni sebagai kreasi bentuk simbolis dari perasaan manusia (Sudiarja, 1982: 74).

Seni merupakan kreasi (pengadaan sesuatu yang tadinya belum ada). Penciptaan lukisan, memang sebelumnya sudah ada bahan-bahan tertentu yang disiapkan seperti cat, kuas, dan kanvas. Namun lukisan itu sendiri merupakan “ciptaan” si pelukis.

Bentuk simbolis dipertentangkan dengan isi atau materi dari simbol. Sebagai bentuk simbolis, seni sudah mengalami transformasi. Seni sudah merupakan universalisasi dari pengalaman. Seniman dalam menciptakan seni sudah merenungkan dan merasakan pengalaman yang langsung dan membuatnya menjadi suatu pengalaman umum, yang bisa dicernakan juga oleh orang lain.

Seni merupakan perasaan manusia? Perasaan di sini mengacu pada bentuk-bentuk simbolis yang dituangkan sang seniman ke dalam karya atau dalam kreasi seninya itu, tidak berasal dari pikirannya melainkan dari perasaannya, atau lebih tepat formasi pengalaman emosinya.

Menurut Benedetto Croce (1965: 172), seni berusaha menggambarkan alam sekitar dengan tertib seperti apa adanya. Pemahaman tentang seni bermula di Yunani sekitar abad VI seb. Masehi. Bagi Plato seni merupakan tiruan alam atau “mimesis”. Teori mimesis ini sangat berpengaruh sampai berabad-abad di Eropa. Patung-patung di candi Borobudur bukan hanya gambaran orang atau dewa yang sedang bersemedi saja, melainkan gambaran tentang ketenangan, keluhuran, atau kesempurnaan sang Budha. Kita lihat bahwa tangannya tidak anatomis, rambutnya tidak wajar, telinganya terlalu panjang. Menurut Herbert Read dalam The Meaning of Art, fungsi seni bukanlah memindahkan perasaan agar orang lain dapat mengalami perasaan yang sama. Seni sesungguhnya mengekspresikan perasaan dan memindahkan pengertian. Aristoteles menyebutnya dalam seni drama sebagai katarsis dari penontonnya. Dalam karya seni murni yang kita lihat bukanlah emosi tertentu tetapi perasaan tenang, santai dan seimbang. Kita dapat menyadari adanya irama, harmoni, kesatuan yang mempengaruhi syaraf kita.

Menurut Aristoteles kita bisa menyuci dan membersihkan jiwa kita, bila kita menyaksikan sebuah drama yang bagus. Kita menyaksikan suka dan duka manusia di atas panggung dan hati kita turut tergetar dan emosi2 kita dilepaskan dari bobot materialnya (Dick Hartoko dalam Pencerapan Estetis dalam Sastra Indonesia, BASIS Januari 1986: 12).

Menurut  Langer, seni sungguh menghasilkan sesuatu yang lain sama sekali dari realitas alamiah. Karya seni meskipun memiliki “kemiripan” dengan alam, namun sudah tercerabut dalam kenyataan alamiah. Pada seni terdapat prinsip kelainan dari alam. Karya seni sungguh-sungguh berdiri sendiri sebagai sebuah ciptaan.

SASTRA MERUPAKAN DUNIA ALTERNATIF, OTONOM

Sastra merupakan dunia tersendiri yang otonom. Dunia rekaan.  Rekaan lebih dekat dengan karangan (bunga). Bukan khayalan belaka. Artinya bertitik tolak dari pengalaman kehidupan yang nyata, diolah menjadi sebuah cerita. Seperti orang mengarang rangkaian bunga. Dia memilih dari bahan2 bunga yang tersedia, direka-reka menjadi sebuah karangan yang menarik. Tidak setiap orang bisa merangkai bunga. Masing2 orang merangkai bunga dengan cara yang berbeda2, dengan hasil yang berbeda2 pula, tergantung pada ketrampilan dan seni merangkai. Demikian pula orang membuat menu makanan.

Di dalam karangan bunga, berbagai-macam bunga, dimungkinkan menjadi satu di dalam pot. Hanya di dalam karangan bunga berbagai jenis bunga dengan berbagai sifat menjadi sebuah alternatif baru, dunia baru. Namun tidak sembarang bunga menjadi satu dengan bunga lainnya. Harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga karangan bunga menjadi serasi dan indah. Apabila penyatuan di dalam karangan (pot) tidak serasi, akan terasa janggal.

Fiksi: merupakan dunia tersendiri. Dunia imaginatif. Dunia rekaan bisa lebih luas kemungkinannya, misalnya binatang bisa bicara, manusia bisa punya kesaktian, bisa terbang, ambles di bumi. Dunia imaginasi bisa lebih leluasa dan bebas daripada dunia kenyataan.

Bisa dibedakan antara bunga dari alam, hutan, kebun dengan bunga yang sudah dirangkai dalam karangan bunga. Bunga yang masih di hutan, alam, kebun masih alami, tumbuh secara alami. Sedangkan bunga dalam karangan sudah direkayasa oleh perangkai bunga. Sudah dibentuk dengan sengaja sesuai dengan selera keindahan seni dari si perangkai. Karangan bunga dibentuk dari bunga alam, hutan, kebun, dijadikan sebuah karangan, rangkaian yang lebih indah. yang unsur-unsurnya diambil dari alam, dijadikan satu di dalam karangan bunga sebagai suatu satuan tersendiri, bagus dan asri.

Fiksi dan kenyataan/fakta. Contoh biografi dan fiksi. Fiksi sejarah. Kasus Ki Panji Kusmin dengan Langit makin Mendung.

Bandingkan contoh fiksi (Ki Panji Kusmin, cerita wayang) dengan biografi (sejarah panggilan Rm. Yan), atau berita dari koran. Bandingkan antara hasil rangkaian/karangan bunga dengan bunga alam di kebun, di halaman, hutan, taman. Bandingkan antara batu di kali dan patung pahatan di Muntilan. Antara kehidupan nyata dengan cerita fiksi. Antara yang spontan, asli, tidak

terorganisir, bahasa pragmatis dengan yang direkayasa, terorganisir, sistematis, bahasa provokatif. Dalam fiksi ada rekayasa pangaluran demi sebuah tema tertentu. Dalam peristiwa sehari-hari, peristiwa muncul begitu saja, mengalir dengan sendirinya, alami.

Sastra adalah seni. Seni yang menggunakan media bahasa. Bahasa sastra adalah bahasa yang digayakan sehingga menjadi seni yang menarik. Oleh karenanya jika kita bicara mengenai sastra, mau tak mau kita juga harus bicara mengenai seni, estetika atau keindahan.

Contoh hasil rekaan yang disenangi masyarakat luas: ketoprak humor, wayang humor, Mak Lampir, ShinChan, Teletabis, Doraemon, Pokemon, Dendam Nyi Pelet, Keluarga Cemara. Film bioskop, VCD, novel, komik, cerita lisan, legenda.

KEBEBASAN MENCIPTA (SEJARAH SASTRA INDONESIA ABAD XX)

(H.B. Jassin) (E. Ulrich Kratz).

Menurut H.B. Jassin, pengarang dan seniman merupakan hati nurani masyarakat dan bangsanya. Pengarang harus diberi kebebasan dengan kepercayaan bahwa ia tidak akan menyalahgunakan kebebasannya. Apa yang dirasakan, dipikirkan, diharapkan, dihasratkan oleh bangsanya juga bergetar di dalam jiwanya. Yang dikuatirkan, diprihatinkan dan diimpikan juga dirasakannya. Yang menjadi pedoman hati nuraninya adalah kejujuran, kebenaran dan keadilan.

Tugas hidupnya adalah menegakkan keadilan dan kebenaran. Tidak jarang pengarang dan seniman menjadi musuh penguasa dan keadaan yang korup, kebohongan, kemunafikan, kekerasan dan kebatilan.

Hakekat seni ialah imaginasi. Apa yang tidak mungkin dalam kenyataan objektif, bisa mungkin dalam kenyataan imajiner. Tanpa imajinasi yang bebas orang tak akan sampai pada imajinasi yang indah-indah dan ajaib seperti Baron von Muenchhausen, Perjalanan Guliver, Devina Comedia, Lampu Aladin, Sindbad si Pelaut, Robinson Crusoeau dan cerita-cerita Seribu Satu Malam yang digemari oleh orang tua dan muda dari jaman ke jaman dan diterjemahkan ke berbagai bangsa.

Dari kebebasan imajinasi pengarang itu lahirlah gagasan-gagasan yang  orisinil yang pada mulanya ditertawakan orang dan dianggap sebagai mimpi di siang bolong, tetapi di kemudian hari bisa terwujud dalam kenyataan. Jauh sebelum ada kapal selam, kapal udara, pesawat ruang angkasa ulang-alik, seorang Jules Verne telah memproyeksikan penemuan-penemuan baru itu dalam dunia imaginasinya, seperti yang kita kenal dalam buku-bukunya seperti 20.000 Mil di bawah Permukaan Laut, Mengelilingi Dunia selama 80 hari, Perjalanan ke Bulan, yang dulu dianggap mustahil.

Horatius memberi batasan pada karya sastra: dulce dan utile: seniman/sastrawan mempunyai kewajiban untuk memberikan kenikmatan/hiburan dan ajaran (moral) di dalam berkarya; seringkali ditambah lagi dengan istilah movere: menggerakkan pembaca ke kegiatan yang bertanggungjawab. Sastra berfungsi untuk menciptakan keindahan dan mendidik. Mampu menghibur dan memberi ajaran moral.

Contoh sastra yang menghibur dan mendidik: Bayan Budiman, ..

 

SENI MENURUT PLATO

 

DUALISME PLATO

DUALISME TENTANG DUNIA

A DUNIA IDE DUNIA JASMANI
  Realitas yang sebenarnya Bukanlah realitas yang sebenarnya
  Sempurna, abadi, langgeng, tetap, satu. Plural, banyak, tidak sempurna, berubah-ubah, fana
  Model atau contoh - gambaran tak sempurna, meniru
  - partisipasi
  - hadir dan menjadi nyata dalam benda2 konkret
  Menjadi sebab dari benda jasmani. Yang jasmani tergantung yang Idea.

DUALISME TENTANG MANUSIA

B JIWA BADAN/TUBUH
  Abadi Fana
  Prinsip yang menggerak badan  
  Mengenal Idea  

 

TATARAN PROSES PENCIPTAAN

Dengan  mengikuti  pola pemikiran Plato, ada    3  tataran  dalam proses penciptaan:

a. Tahap I: Tuhan mencipta, misalnya kursi azali. Kursi ini kursi sejati; tidak  material atau mewujud dari suatu  bahan  tertentu,  melainkan dalam  wujudnya  yang murni, yang disebut forma.  Dunia ide adalah satu-satunya  yang dikenal oleh akal budi.

b.  Tahap II: Tukang kayu yang membuat kursi dari kayu  menirukan model  pertama  tadi. Kursi yang dibuatnya  adalah  imitasi  dari kursi  azali yang berada dalam forma tadi. Peniruan  ini  menurut Plato  hanya  “menyerupai apa yang ada”,  tetapi  bukan  “menjadi adanya sendiri”.

c. Tahap III: Seniman yang membuat lukisan kursi, bergerak  lebih jauh  lagi  dari kenyataan. Seniman  menghasilkan  gambaran  atau lukisan bukan mengenai kenyataan yang ada di dunia idea,  melainkan keserupaan saja dari tiruan yang nyata. Dengan demikian Plato menganggap bahwa seni merupakan tindakan imitasi tahap kedua.

 

PANDANGAN PLATO MENGENAI REALITAS& SENI

Untuk menelusuri seni, kita harus tahu pandangan para ahli tentang seni. Pandangan seni mulai dibicarakan sejak berabad-abad sebelum Masehi. Salah satu pandangan yang sangat kuno dan terkenal adalah pandangan seorang filsuf Yunani bernama Plato. Seni, bagi Plato memiliki nilai sekunder, hanya meniru kenyataan yang ada di dunia ini.  Kesenian hanyalah suatu imitasi dari kenyataan materiil. Padahal kenyataan materiil hanyalah tiruan dari dunia forma. Dunia kita ini  hanyalah  penampakan  dari  dunia abadi, dunia  ide.

Wujud yang ideal tidak  bisa  terjelma  langsung dalam  karya  seni.  Namun seni tidak  kehilangan  nilainya  sama sekali.  Sebab  walaupun  seni terikat pada  tataran  yang  lebih rendah dari kenyataan yang tampak, seni sungguh mencoba mengatasi kenyataan sehari-hari. Seni yang baik harus truthful, benar; dan seniman harus bersifat modest, rendah hati. Lewat seni dia hanya  dapat  mendekati yang ideal, dari jauh dan serba salah. Jadi, seni hanya dapat meniru dan membayangkan hal-hal yang ada dalam kenyataan yang tampak, terletak di bawah kenyataan itu sendiri. Tetapi seni yang terbaik adalah lewat mimesis, peneladanan.

Untuk memahami pandangan Plato, mungkin perlu terlebih dahulu kita harus tahu latar belakang pemikirannya tentang realitas, tentang manusia.           Plato memikirkan realitas dunia ini semu, sebab tidak sempurna. Semuanya hanyalah sementara saja. Kuncup bunga, mekar, layu, dibuang. Semuanya itu hanyalah gambaran dari yang sempurna. Yang sempurna letaknya bukan di dunia realitas, melainkan di dunia ide. Dunia ide adalah dunia kesempurnaan.

BAGAIMANAKAH SENI TERCIPTA?

MUSE, INSPIRASI SENI-nya Plato

Penyair – muse > “gila” (suci) > ekstase > kualitas seni sejati. Bdk dng “orang waras”.  Muse: daya dorong buta; mata air membual; ilahi; ada pula inspirasi cinta, inspirasi kebenaran.

Hubungan muse dengan mimesis: jiwa meniru dunia ide yang pernah dipandangnya.

Dalam hubungannya dengan kepenyairan, Plato membicarakan juga tentang inspirasi seni, yang disebut muse. Dalam Ion dikatakan, bahwa penyair yang dihinggapi Muse menjadi gila, sehingga ia merasakan ekstase. Tetapi di sini gila bukan dalam arti penyakit jiwa. Bagi Plato ada kegilaan suci untuk mengejar kebenaran. Ia hanya mau menegaskan bahwa ekstase sangat perlu untuk mencapai kualitas seni sejati. “Apabila orang yang tanpa kegilaan ilahi memasuki pintu kepenyairan, meskipun mengandalkan ketrampilan, ia pasti akan gagal menjadi penyair. Sebab syair dari orang sehat akan kalah di hadapan syair orang gila yang memperoleh inspirasi.” Dalam Laws (hukum2) ia mengatakan: “….. apabila seorang penyair dikuasai oleh inspirasi (muse), dia tak lagi menguasai dirinya, melainkan menyerupai sebuah mata air yang membiarkan segala hal mengalir dari budinya.”

Dalam alam pikiran Yunani, inspirasi (Muse) adalah daya dorong yang buta yang menggerakkan penyair atau seniman untuk berkarya. Dalam kesadaran yang rasional, penyair malahan bisa kehilangan daya kreasinya. Maka dengan menyerahkan diri seluruhnya pada dorongan inspirasi, sang penyair sebetulnya kehilangan akal sehatnya karena ia memperlihatkan sesuatu hal yang tak terjangkau pikiran.

Dalam tradisi Yunani, dipercayai, bahwa inspirasi bersifat ilahi. Di lain pihak, seperti dalam Phaedrus, inspirasi seni hanyalah salah satu dari berbagai macam inspirasi. Di atas inspirasi seni masih ada inspirasi cinta akan keindahan abadi. Inilah inspirasi yang mendorong para filsuf untuk mencari kebenaran.

Muse (inspirasi seni) adalah sesuatu yang baik karena memberi dorongan untuk menghasilkan seni yang baik, menghindari penciptaan seni yang hanya berdasarkan keahlian tehnis.

Hubungan antara muse dengan mimesis. Jiwa tidak hanya baka (tak mati), tetapi juga kekal. Sebelum bersatu dengan badan, jiwa mengalami pra-eksistensi, memandang Idea-idea. Mengenal sesuatu berarti mengingat akan Idea-idea. Dalam keadaan kemasukan muse, jiwa penyair bersentuhan dengan dunia ilahi, dunia idea, dia mengingat akan idea-idea. Maka dalam keadaan kemasukan muse, penyair hanya bisa meneladan dunia idea. Meniru dunia Idea yang pernah dipandangnya.

Kreasio Aristoteles

Aristoteles,  murid Plato menolak pandangan gurunya  tentang filsafat  Ide  dan mimesis. Menurut  Aristoteles,  penyair  tidak meniru  kenyataan,  tidak  mementaskan manusia  yang  nyata  atau peristiwa sebagaimana adanya. Seniman mencipta dunianya  sendiri, dengan  probabilitas  yang tak-terelakkan.  Menurut  Aristoteles, seniman  lebih  tinggi nilai karyanya  daripada  seorang  tukang. Karena  di  dalam mencipta itu seniman membuat dunia  yang  baru. Karya  seni adalah sesuatu yang pada hakekatnya baru, asli, ciptaan dalam arti sesungguhnya. Teori ini selanjutnya lebih dikenal teori kreasio.

Dua pendekatan ekstrem mempengaruhi pandangan dan aliran sastra di Barat. Bergerak dinamis dari paham yang satu ke paham lainnya.

Seni yang meneladani alam: Barat, Timur (India, China, Jepang, Melayu, Jawa: Basuki Abdullah & Affandi). Abad Pertengahan: ut natura poesis (seni harus seperti [meneladani] alam). Di dunia Arab, Cina, Jawa ada unio mystica (manunggaling kawula-gusti lewat keindahan).

 

BERBAGAI PANDANGAN TENTANG SENI SETELAH PLATO & ARISTOTELES

NO WILAYAH PANDANGAN TENTANG SENI
  Arab Penyair bukan pencipta dalam  arti  yang mutlak. Pencipta sejati: Tuhan.
     
  Jawa Kuno Penyair  sebagian besar mencari ilham dalam keindahan alam, dengan berkelana, lelangon, menelurusuri keindahan ini. Dalam puisi Jawa  Kuno, puisi  disamakan  dengan unio mystica: Keindahan  dianggap  penjelmaan  dari  Yang Mutlak.
  India Seni: meluapnya gairah kehidupan. Menurut kepercayaan Hindu, dunia merupakan  manifestasi kehidupan Bhatara Siwa yang sedang menari, penuh gairah hidup dan rasa bahagia. Nampak dalam relief-relief candi-candi maupun seni lukis di Bali. Tak dibiarkan ada kekosongan dalam kanvas.
  Cina Seni, sastra, harus meneladani tata semesta, kebenaran  sejarah dan kebenaran kemanusiaan. Pelukis tidak dihanyutkan oleh hiruk pikuk keramaian dunia. Yang disasar  oleh pelukis adalah untuk menangkap Ch’I, roh yang memberi kehidupan. Mengesampingkan keramaian dalam bentuk dan warna yang memabokkan. Seni Cina memberi tempat pada bidang yang kosong maupun waktu hening untuk kontemplasi.

Pandangan Plato tentang keindahan terdapat dalam buku Republic X, diturunkan dari pandangannya mengenai pengetahuan manusia.

ESTETIKA INDIA, CINA DAN JEPANG

Seni Zen Buddhisme (Koesbyanto, J.A. Dhanu, hlm. 65)

Koesbyanto, J.A. Dhanu, Firman Adi Yuwono. 1997.

Pencerahan, suatu Pencarian Makna Hidup dalam Zen Buddhisme. Yogyakarta: Kanisius. Seni merupakan luapan yang sangat natural, sangat dekat dengan alam, menggambarkan bentuk-bentuk dengan jelas dan hidup. Penggambaran alam dikenal sebagai suatu bentuk lukisan asimetris, atau disebut juga sbg gaya ‘satu-sudut’ (Suzuki, 1988: 26-27). Dalam seni Zen, kekosongan juga merupakan bagian dari seni (lukisan). Ungkapan salah satu master seni ‘sudut’ (Mayuan) adalah ‘painting by not painting’. Zen mengungkapkan ‘memainkan kecapi tak bersenar’. Perlu seni menyeimbangkan bentuk-bentuk terhadap ruang ‘kosong’.

“Ketidakseimbangan, ketidaksejajaran suatu ruangan, kemiskinan, sabi atau wabi, kepalsuan, kesunyian, merupakan ciri khas budaya dan seni Jepang (Suzuki, 1988: 27-28).

“Bentuk yang mudah dilihat, disentuh, dan dirasakan sebagai suatu hasil pengetahuan intuitif ditemukan dalam seni. Alasan mengapa seni mendapat tempat khusus untuk memahami ajarah Zen, karena karya seni dalam Zen merupakan wujud nyata yang bisa dirasa atau direfleksi. Ajaran tentang hidup dalam Zen ditemukan dalam seni. Suzuki menyatakan, Life is an art, yaitu hidup merupakan manifestasi kebebasan. Seperti burung-burung di awan dan ikan-ikan di air, itulah hidup. Bentuk kebebasan hidup tergambar dalam seni, yang tidak lain adalah kehidupan itu sendiri (Suzuki, 1969: 69).

Estetika Jawa

(Sastra dan Ilmu Sastra, Teeuw)

Dalam puisi Jawa Kuno, khususnya dalam kakawin, aspek memetik, peneladanan alam oleh penyair kuat sekali: penyair sebagian besar mencari ilham dalam keindahan alam, dan dia biasa berkelana, lelangon, menelurusuri keindahan ini. Dalam puisi Jawa Kuno, puisi disamakan dengan unio mystica, persatuan antara manusia dengan Tuhan lewat keindahan: manunggaling kawula-gusti. Keindahan yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda-beda selalu dianggap penjelmaan dari Yang Mutlak. Segala keindahan pada hakekatnya satu dan sama (223-224).

Jauh sebelum Maritain, para kawi (penyair) di Jawa pada zaman Kediri dan Majapahit melukiskan pengalaman itu dalam kakawin2 dengan istilah2 yang hampir sama. Mereka berkelana ke pantai, mendaki lereng2 gunung untuk berjumpa dengan alam dan menangkap getaran keindahannya, lalu merasa terhanyut di dalamnya. Mereka seolah2 mengalami suatu ekstasis (harafiah: berdiri di luar dirinya sendiri), terangkat jauh di atas kekerdilannya sendiri. Suara burung elang pada akhir musim kemarau mereka umpamakan dengan rasa rindu seorang pemuda akan kekasihnya. Perasaan subyektif mereka proyeksikan ke dalam alam, dan sebaliknya alam bercerita tentang manusia. “Kalau kau nanti menjelma sebagai bunga asana, aku menjadi kumbangnya”.

Saling penetrasi antara manusia dan alam kita jumpai dalam karya sastra klasik dan oleh Van Peursen dilukiskan sebagai ciri khas alam pikiran mitis. Dan sang Profesor dari Leiden mengingatkan kita, bahwa alam pikiran mitis tidak hanya terbatas pada manusia dahulu kala tetapi dalam manusia modern pun kadang-kadang masih muncul, yaitu pada saat-saat ia merasakan kebersatuannya dengan alam raya. Adapun suatu tanda keterasingan, bila saat-saat itu makin jarang kita alami(hal.12). Kant dan banyak filsuf lain menandaskan, bahwa pengalaman estetik itu bersifat “sepi ing pamrih”, manusia tidak mencari keuntungan, tidak terdorong oleh pertimbangan praktis. Bagi Kant dan para filsuf dan seniman sebelumnya alamlah yang merupakan sumber utama bagi pengalaman estetik. Pendapat itu dibantah oleh sementara filsuf modern. Bagi mereka obyek utama pengalaman tentang keindahan adalah karya seni, bukan alam (hal.13-14). Menurut pandangan klasik itu pula, maka terjadilah suatu karya seni berpangkal pada pengalaman estetik yang timbul dari perjumpaan dengan alam. pada saat pengalaman setetik manusia merasa bahagia, merasakan suatu “ekstatis”. Tetapi pada saat itu mungkin hanya berlangsung selama bebrapa detik, pasti tidak lama.

Lalu seniman ingin mengabadikan saat yang membahagiakan itu, dan terjadilah karya seni.

Contoh seni sastra yang menarik & bermanfaat: “TEMPAYAN RETAK”

Tiga macam ukuran

- Gedung itu tinggi, batu itu besar – sektor matematik (fenomena)

- Rumah itu indah – sektor estetis (pengalaman estetis)

- Perbuatan itu jahat – sektor moral (pengalaman moral)

Kant, Windelband, Ricket: kehidupan manusia digerakkan oleh 4 nilai dasar: kebaikan, kebenaran, keindahan dan ketuhanan. Mashab Skolastik pada Abad Pertengahan: Segala sesuatu yang ada, sejauh itu ada, bersifat tunggal, benar, baik dan indah.

Sikap estetis dibedakan dari:

- sikap praktis (untuk apa, hasilnya apa, untungnya apa?)

- usaha menggunakan demi tujuan tersembunyi

- sikap “ingin tahu”, misalnya dalam melihat sebuah candi atau dalam mengagumi pelangi.

Menurut Susanne Langer, (Manusia multi dimensional), ada 3 hal yang perlu diperhatikan tentang seni.

  1. Seni merupakan kreasi. Penciptaan sesuatu yang tadinya belum ada. Memang sebelumnya sudah ada bahan-bahan tertentu yang dipersiapkan seperti cat, kuas, kanvas. Tetapi lukisan itu merupakan ‘ciptaan’ pelukis. Pelukis bukan hanya ‘melepotkan’ cat dalam secarik kain sehingga kain itu menjadi kotor berlepotan cat, melainkan ia sungguh ‘mencipta’ lukisan yang sesuai dengan konsepsi seninya, sehingga lukisan itu belum pernah ada sebelumnya.
  2. Seni bersifat simbolis. Transformasi dari pengalamannya. Universalisasi dari pengalaman. Seniman itu sudah merenungkan dan merasakan pengalaman langsung itu lalu membuatnya menjadi suatu pengalaman umum.
  3. Pengalaman seniman dalam kreasi itu bukan berasal dari pikirannya, melainkan dari perasaannya. Jadi merupakan pengalaman emosional.

ESTETIKA PERTENTANGAN DAN SENI MODERN (Manusia dan Seni, Dick

Hartoko, hlm. 43).

Seorang kolektor lukisan senior mengunjungi sebuah pameran lukisan modern hendak melihat-lihat lukisan yang bisa dibawanya pulang untuk menambah koleksinya. Tetapi sesampai di sana dia kecewa karena tak satu pun lukisan yang dia taksir. Menurut dia, lukisan-lukisan di sana tidak indah. Tidak menerbitkan selera untuk mengoleksinya. Dia mengeluh terhadap seni modern.

Seni modern rupanya sukar dimengerti, bahkan mengejutkan. Para seniman modern tidak tertarik lagi oleh keindahan, keharmonisan, dan kesedapan, melainkan oleh sesuatu yang menggemparkan dan merisaukan hati. Yang dalam kesenian tradisional disinggung saja, atau disublimir, diabstrakkan atau dilapisi dengan cahaya keindahan, kini ditonjolkan secara blak-blakan, kasar dan serba menantang.

Sifat umum yang dewasa ini sering nampak dalam kesenian dunia Barat tak lain dan tak bukan ialah usaha untuk menimbulkan efek “shock”, memperlihatkan rasa frustasi dan kejemuan yang dirasakan oleh sang seniman …. sebagai masyarakat.

“Shock”: menggoncangkan yang dulu dianggap mapan dan stabil, melemparkan batu ke kaca-kaca yang melindungi harta nilai-nilai tradisional, dengan sengaja menertawakan dan mencemoohkan apa yang oleh angkatan-angkatan dulu dianggap suci dan keramat, memberontak terhadap tata tertib yang dulu tak pernah diragu-ragukan serta membubuhkan tanda tanya di belakang setiap pernyataan atau ucapan.

Kita sering melihat sebuah lukisan yang rasanya ‘tidak indah’, mendengar musik yang ‘tidak enak didengar’, tarian kontemporer yang ‘tidak bisa dinikmati’. Dalam sastra kita kenal ‘puisi mbeling’, puisi konkret, sastra kontemporer. Para seniman modern sepertinya tidak tertarik lagi oleh keindahan, keharmonisan dan keserasian, melainkan oleh sesuatu yang menggemparkan dan merisaukan hati. Seni modern menjungkir-balikkan tatanan lama yang dianggap mapan dan stabil, mencemoohkan apa yang oleh angkatan lama disanjung-sanjung, dianggap keramat. Seni kontemporer memberontak terhadap tata-tertib klasik.

Untuk menghadapi seni modern itu, Jurij Lotman mengajukan teorinya mengenai estetika keselarasan dan estetika pertentangan. Estetika keselarasan untuk mewadhai seni klasik maupun seni tradisional, sedang estetika pertentangan  untuk mewadhai seni modern. Tetapi kita bisa bertanya, benarkah bahwa semua seni modern menganut estetika pertentangan, sedang semua seni tradional menganut estetika keselarasan? Mungkin juga tidak bisa ditarik garis lurus demikian. Tidak sedikit kiranya seni modern yang indah, dan seni tradisional yang mengejutkan (Hartoko, 45).

Menurut estetika klasik, yang indah itu membawa keselarasan dan keteraturan; membawa ketenangan dan kebahagiaan, sedangkan seni modern menggoncangkan, menyimpang dari tradisi.

Seni sejati tumbuh dari kewajaran dan kejujuran. Jujur menurut suara hatinya, wajar menurut situasi diri dan lingkungannya (Bakat Alam dan Intelektualisme, Subagja Sastrawardaja, 31).

Seni modern membawa corak dan norma2 penilaiannya sendiri. Seni lama telah berabad-abad berkumandang dalam sanubari masyarakat, telah memperoleh penerimaan dari masyarakat. Telah membentuk selera dan menentukan norma2 penilaian. Sudah selayaknya merasa berhak memandang diri wajar dan “asli” dan berhak mendapatkan nama “seni klasik”. Kedatangan seni modern yang membawa ukuran2 penilaian sendiri menimbulkan kekhawatiran akan menggoyahkan

selera dan penilaian yang telah mendarah-daging dalam masyarakat (Bakal Alam dan Intelektualisme, 32-33).  … teruskan hlm. 33

Pendukung serta pemelihara seni lama amat cenderung memandang pertumbuhan seni modern sebagai peniruan belaka dari seni asing yang berpokok pada kebudayaan Barat.

Seni modern membawa ukuran-ukuran penilaian sendiri dan kedatangannya menimbulkan kekwatiran akan menggoyahkan selera serta penilaian yang telah ada (hal.33).

Sebaliknya seni modern mendasarkan kekuatannya pada “kemodernan”nya, kepada kesanggupan mencerminkan semangat zamannya. Semangat zaman itu biasa dinyatakan dalam kemauannya yang hendak “asli” selalu, bukan “asli” dalam arti asal dan milik bangsa sendiri yang bertentangan dengan yang asing, seperti yang hendak dicita-citakan oleh pendukung lama, melainkan “asli” dalam arti mendukung orisinalitas, tidak mengulang ungkapan penciptaan yang telah ada. tuduhan yang pokok yang dilontarkan kepada seni lama adalah kecendrungannya mengulang-ulang berbagai anasir pengungkapan seni bahkan sebagai dasar pikiran beserta perumusannya. Pengulangan itu telah menumbuhkan ikatan tradisi berupa norma-norma-norma penciptaan seni yang beku dan kaku, yang menurut persangkaan pendukung seni modern akan menghambat pemikiran dan pemikiran seni yang “asli”, yang orisinil. Pernyataan diri dalam seni lama hanya berupa “klise” belaka, “jiplakan” atau “blangkon” (menurut istilah Jawa), yang tak ada nilainya sebagai seni  (hal. 33).

Kedua pandangan yang betentangan itu ada kebenarannya dan ada kelemahannya. Kalau kita perhatikan dengan seksama, maka kedua-duanya mempergunakan rumusan pandangan yang bersamaan: menghendaki yang “asli” dan menolak “peniruan”, hanya pandangan itu masing-masing memiliki titik tolak yang berbeda (hal. 33)

Seni lama mendasarkan nilai dan penilaian seni pada sifat “asli” yang sesuai dengan tradisi bangsanya, sedang keaslian itu tidak hanya mengenai segi pengungkapannya yang lahir belaka, melainkan harus sesuai juga dengan isi dan taraf moral bangsa sendiri yang hendak diungkapkan. Peniruan kepada pengungkapan seni bangsa yang asing dengan bayangan moral yang asli tidak direlakan di dalam kehidupan seni.

Dapatkah berhadapan dengan ukuran penilaian demikian, seni modern berhak melangsungkan hidupnya, kalau ia bertolak dari pandangan bahwa nilai seni asli tergantung dari sifat “asli”nya, menolak tradisi pemikiran dan pengungkapan bangsanya, yang tidak lagi dipandang sebagai “asli” dan tidak mengandung orisinilitas?

Dengan perkataan lain: Adakah perkembangan seni modern wajar di Indonesia?

SENI SASTRA

(Sastra dan Ilmu Sastra, Teeuw)

Seni hanya dapat meniru dan membayangkan hal-hal yang ada dalam kenyataan yang tampak, terletak di bawah kenyataan itu sendiri di dalam hirarki. Wujud yang ideal tidak bisa terjelma langsung dalam karya seni. Namun seni tidak kehilangan nilainya sama sekali. Sebab walaupun seni terikat pada tataran yang lebih rendah dari kenyataan yang tampak, seni sungguh mencoba mengatasi kenyataan sehari2.

Di dunia Arab pun penyair bukan pencipta dalam arti yang mutlak. Penyair terikat pada ciptaan Tuhan yang merupakan model yang sempurna. Dalam puitik Cina pun aspek mimetik ditekankan. Seni, sastra harus meneladani tata semesta, kebenaran sejarah dan kebenaran kemanusiaan.

Dalam puisi Jawa Kuno, khususnya dalam kakawin, aspek memetik, peneladanan alam oleh penyair kuat sekali: penyair sebagian besar mencari ilham dalam keindahan alam, dan dia biasa berkelana, lelangon, menelurusuri keindahan ini. Dalam puisi Jawa Kuno, puisi disamakan dengan unio mystica, persatuan antara manusia dengan Tuhan lewat keindahan: manunggaling kawula-gusti. Keindahan yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda-beda selalu dianggap penjelmaan dari Yang Mutlak. Segala keindahan pada hakekatnya satu dan sama (223-224).

Jauh sebelum Maritain, para kawi (penyair) di Jawa pada zaman Kediri dan Majapahit melukiskan pengalaman itu dalam kakawin2 dengan istilah2 yang hampir sama. Mereka berkelana ke pantai, mendaki lereng2 gunung untuk berjumpa dengan alam dan menangkap getaran keindahannya, lalu merasa terhanyut di dalamnya. Mereka seolah2 mengalami suatu ekstasis (harafiah: berdiri di luar dirinya sendiri), terangkat jauh di atas kekerdilannya sendiri. Suara burung elang pada akhir musim kemarau mereka umpamakan dengan rasa rindu seorang pemuda akan kekasihnya. Perasaan subyektif mereka proyeksikan ke dalam alam, dan sebaliknya alam bercerita tentang manusia. “Kalau kau nanti menjelma sebagai bunga asana, aku menjadi kumbangnya”.

Kant dan banyak filsuf lain menandaskan, pengalaman estetis bersifat “sepi ing pamrih”, manusia tidak mencari keuntungan, tidak terdorong oleh pertimbangan praktis. Tiga macam orang menyaksikan kuningnya padi.

Alamlah sumber utama bagi pengalaman estetik. Pengalaman estetik timbul dari perjumpaan dengan alam. Pengalaman estetik hanya berlangsung beberapa detik/menit. Lalu sang seniman ingin mengabadikan saat yang membahagiakan itu. Terjadilah karya seni. Setiap kali ia memandang karyanya, teringat kembali akan saat yang indah itu, yang bersifat simbolik. Sang seniman ingin meng-ungkapkan isi hati dan pengalaman spiritual lewat lambang2, entah lambang visual (lukisan patung), auditif (bahasa, musik) entah lambang jasmani (tari). Alamlah yang memberi ilham pertama kepada seorang seniman.

Estetika Cina: tao – jalan; – prinsip kehidupan, penggerak. Peran seniman menangkap tao, menampilkan/menerjemahkan dalam karya seni. Perlu kontemplasi, penyucian indra seniman, jernihkan jiwa. Hsieh Ho, akhir abad ke-5, mengatakan gerak kehidupan ch’i. Ruang kosong (lukis) dan waktu sunyi (musik) melambangkan dimensi spiritual, sama penting dengan yang ada (coretan, nada). Tsung Ping, seorang pelukis pemandangan alam, sebelumnya bermeditasi sambil memetik kecapi.

Estetika Jawa: kalangwang – seni puisi, keindahan; kakawin – syair; kawi – penyair, pujangga, s profesional dalam bidang (seni) sastra. Kawindra, kawi raja, kawi nagara, wiku, sunya,  taruna, wadhu. Manggala kepada Wisnu, Siwa, Kama, Ratih, Saraswati. Pengalaman estetis: ahanyutan, lango, lengeng, lengleng – rapture, ekstasis, berdiri di luar diri sendiri.

SENI SASTRA

(Sejarah Sastra Ind. Abad XX, 2000, Kratz. Jakarta: KPG).

Seni adalah keindahan dan kehalusan (Kratz, 2000, 90). Keindahan dan kebagusan bahasa, itulah kesusastraan. Susunan bahasa yang bagus, teratur dan menarik sanggup menaklukkan hati sekeras batu, bisa mendingin hati sepanas api dan bisa menghangatkan hati sedingin es. Kesusastraan sanggup menyihir dan mempesona orang yang mendengarkannya. Bisa lebih tajam daripada pedang dan senjata.

Seorang ahli pidato bisa menyihir pendengar karena gaya pidatonya yang memikat sehingga apa yang dikatakannya meresap ke dalam hati dan dilakukannya. Contoh cerita 1001 malam. …

Seni untuk seni dan seni untuk masyarakat merupakan kesatuan. Pengarang adalah seorang individu yang berdiri sendiri, anggota masyarakat dan makluk Tuhan (Kratz, 422).

Tanggung jawab dan sumbangan sastrawan terhadap masyarakat (650). Fungsi sastra sebagai kritik sosial; moral. …Mengapa orang senang hasil rekaan? Ingin hiburan. Mencari pelarian. Contoh sastra lama: Bayan Budiman. Sastra yang menghibur dan mendidik.

Kesenian memiliki saham penting dalam pembangunan karena dapat mempengaruhi, mengilhami dan membimbing masyarakat dewasa ini dan yang akan datang. Mencipta dan memelihara seni adalah tanggung jawab, dan tanggung jawab ini banyak hubungannya dengan hal-hal lain di luar bidang seni yang merupakan masalah-masalah besar (Kratz, 464).

Dalam seni hadirlah manusia. Dalam karya seni sejati, kemanusiaan apa yang hadir? Kebenaran, kejujuran dan rasa indah, ekspresi-subjek dan ekspresi-objek, semua ini cukup untuk menentukan nilai sebuah karya (467).

Pandangan dari Plato – pandangan modern; dari Barat, Timur, Jawa. Beri contoh-contoh dalam pelukisan (Arjuna Wiwaha), pencandraan Jawa!

SENI SASTRA

BAHASA SASTRA mempunyai fungsi estetik yang menonjol. Bahasa Sastra adalah bahasa bergaya. Ciri bahasa sastra dapat dilihat dari gaya bahasanya, yaitu penggunaan bahasa secara khusus yang menimbulkan efek tertentu, efek estetis. Menurut Slametmuljana (dan Simorangkir Simanjuntak, Tanpa tahun: 20) gaya bahasa (ekspresif) yaitu susunan perkataan yang terjadi karena perasaan-perasaan dalam hati pengarang yang menimbulkan perasaan tertentu dalam diri pembaca.

Fiksi bisa berfungsi sebagai hiburan, pelipur lara, tetapi juga sarana yang baik bagi pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan. Horatius mengatakan sastra harus memiliki sifat-sifat indah (dulce) dan berguna (utile) (Teeuw, 1984: 51). Demikian pula novel sebagai karya sastra harus bisa dinikmati pembaca tetapi harus juga memiliki sesuatu yang bersifat mendidik. Novel yang menghibur saja tanpa bisa mendidik, tidak banyak gunanya, bahkan bisa menjadi candu dan meracuni bangsa. Sebaliknya novel yang hanya bersifat mendidik saja, tidak ubahnya sebagai buku petunjuk pendidikan yang bersifat menggurui dan akan ditinggalkan anak karena membosankan.

Vitamin maupun obat untuk anak kecil diberi rasa jeruk agar disenangi anak-anak. Demikian pula novel sebagai karya sastra harus diolah sedemikian rupa sehingga orang maupun anak tertarik untuk membaca dan menikmatinya, dengan demikian bisa mendapatkan sesuatu yang berguna untuk hidupnya, terutama kehidupan spiritual.

Pembaca yang serius membaca cerita rekaan tidak hanya sebagai pengisi waktu atau sebagai hiburan. Ia ingin memperoleh suatu pengalaman baru dari karya yang dibacanya itu. Ia ingin memperkaya batinnya dengan memperoleh wawasan yang menyebabkan ia lebih dapat memahami liku-liku hidup ini. Karya sastra yang baik dapat membekali dirinya dengan kearifan hidup (Sudjiman, 1991: 12). Menurut Budi Darma, kalau perlu karya sastra justru membuka kebobrokan untuk bisa menuju ke arah pembinaan jiwa yang halus, manusiawi dan berbudaya (1984: 47). Seni, termasuk sastra, filsafat dan agama pada hakekatnya adalah cara-cara yang berbeda dengan tujuan yang sama, yaitu membentuk jiwa “humanitat”.

Novel merupakan sarana yang baik untuk pendidikan di sekolah. Menurut Driyarkara, pendidikan adalah memanusiakan manusia-muda. Humaniora membentuk manusia pembangun yang bermoral dan bermental tinggi. Pendidikan humaniora memperkembangkan segala unsur kepribadian manusia: budi, cipta, rasa, dan karsa. Kepekaan rasa keindahan, rasa empan papan.

Orang bisa belajar banyak dari sebuah novel yang baik. Dari situ bisa digali berbagai macam nilai-nilai kehidupan, misalnya nilai kejujuran, kesetiaan, nilai sosial, religius, dst. Novel yang baik bisa memantulkan bermacam-macam dimensi kehidupan. Lalu bagaimana novel disampaikan kepada siswa? Lewat pengajaran dan pembelajaran.

Karya sastra muncul dari pengalaman hidup manusia: pengalaman diri sendiri (pencarian diri, pembrontakan diri dsb); pengalamannya di dalam berhubungan dengan orang lain, di dalam keluarga, masyarakat; pengalaman iman dengan yang transendens (ilahi) (Hartoko (ed.), 1985: 59). Menurut Rahmanto, ada 3 dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan munculnya penulisan sastra, yaitu dorongan religius, dorongan sosial dan personal (1988: 13-14).

Ada hubungan yang sangat dialektik antara sastra dengan masyarakat. Karya sastra dipengaruhi oleh keadaan masyarakat. Bahkan menurut Duvignaud, karya sastra dilihat sebagai dokumen sosio-budaya. Di pihak lain sastra diharapkan mampu mempengaruhi masyarakat. Menurut Horatius, seniman bertugas untuk menghibur dan mendidik, dan menggerakkan pembaca (movere) ke kegiatan yang bertanggung jawab (Teeuw, 1984: 51).

Ada berbagai cara manusia menuliskan pengalamannya sebagai karya sastra. Pada hakekatnya, karya-karya sastra selalu menghembuskan semangat jaman dan nafas lingkungan tempat tumbuh dan berkembangnya. Semangat jaman dan nafas lingkungan itu bisa sekedar hanya tersirat tetapi bisa juga secara terbuka dan jelas. Dengan demikian, ia bisa berbentuk penghidangan utuh (representasi), penghidangan sebagian maupun tersamar (imitasi), tanggapan (reaksi), maupun merupakan pengolahan pengalaman di dalam perenungan yang dalam (refleksi). Sastra sanggup memuat berbagai medan pengalaman yang sangat luas (Rahmanto, 1988: 25).

HUBUNGAN ANTARA FAKTA DAN FIKSI

Karya sastra atau fiksi terjadi karena manusia mengalami persentuhan dengan alam kehidupan. Dia mengalami pengalaman estetis. Dari pengalaman estetis itu manusia ingin mengabadikan pengalaman yang membahagiakan untuk diri sendiri dan juga untuk membagikan kepada orang lain. Dengan demikian ia menjadi lega, menjadi plong. Dia mengalami katharsis atau pengosongan. Pengungkapan pengalaman estetis itu bisa lewat lukisan di kanvas, lewat kata-kata yang intens (puisi) maupun pengungkapan yang bebas (cerita), lewat lagu, gerak (tari), maupun lewat bentuk (pahatan). Ia ingin menyajikannya secara gamblang atau mengolah-nya menjadi sesuatu yang tersamar.

Maka tidak mengherankan apabila dalam karya sastra ada keserupaan dengan dunia nyata. Perbedaan: sastra lebih leluasa. Hal yang tidak mungkin di dalam kehidupan nyata bisa dimungkinkan di dalam dunia fiksi. Unsur kemungkinan sastra lebih besar daripada dunia nyata yang terbatas. Unsur rekaan ini yang memungkinkan lebih leluasa.

Cerita ada yang dibuat berdasarkan fakta (mimesis). Tetapi ada unsur yang direka-reka (kreasi). Cerita Rekaan bisa diarahkan, dibentuk sesuai dengan kemauan pencerita. Bisa diberi tema ttt. Kadang lebih leluasa daripada cerita faktual. Cerita bisa mengenai hal yang aneh2, dunia ‘sana’, filsafat, psikologis, dsb.

Bedanya cerita dengan laporan. Dalam laporan yang penting adalah kesesuaiannya dengan data. Sedangkan dalam cerita yang penting adalah pesannya. Temanya.

Cerita rekaan biasanya berangkat dari kenyataan. Ada kenyataan yang hanya terbatas pada ukuran indera: kenyataan lahiriah. Ada kenyataan batin, yang di luar ukuran indera.

Pengarang dalam mengolah realitas pengalaman hidup menggunakan proses mencipta kembali lewat imaginasi dan renungannya. (Dari Mochtar Lubis hingga Mangunwijaya, Rahayu Priyatmi, 9:)

Kenyataan tsb diolah dengan renungan, imajinasi dan teknik. Hasil olahan menjadi ‘kenyataan baru’. Schorer menyatakan, bahwa berbicara tentang teknik dapat dikatakan berbicara tentang segalanya. Keberhasilan sebuah cerkan banyak bergantung pada bagaimana teknik menampilkan tokoh, alur, latar, pusat pengisahan dan bahasa.

Iwan Simatupang menyimpulkan bahwa karya seni yang berhasil adalah yang memberi sugesti tentang sekian dimensi lainnya yang masih tersembunyi yang merangsang pembaca untuk terus-menerus mencari dan menemukannya.

Ada berbagai cara manusia menuliskan pengalamannya sebagai karya sastra:

  1. Menyuguhkannya secara langsung apa yang menjadi pengalamannya,    sebagai penghidangan yang utuh (representasi) lewat pengalaman    estetis (Film Tampomas, Zarima, Tsunami, Gempa Bumi di Jawa, Lumpur Sidoarjo).
  2. Membuatnya tersamar, menghidangkannya sebagian (imitasi) (Marsinah).
  3. Membuat tanggapan atas pengalamannya itu (reaksi) (Kasus 27 Mei).
  4. Mengolah pengalaman itu di dalam perenungan yang dalam (re- fleksi).

Pada hakekatnya, karya2 sastra (lisan) selalu menghembuskan semangat jaman dan nafas lingkungan tempat tumbuh dan berkembangnya. Semangat jaman dan nafas lingkungan itu bisa sekedar hanya tersirat atau secara terbuka lagi jelas. Dengan demikian, ia bisa berbentuk penghidangan utuh (representasi), penghidangan sebagian/tersamar (imitasi) maupun tanggapan (reaksi). Sejumlah Masalah Sastra, Satyagraha Hoerip (ed.) hlm. 195: Karya Sastra sebagai suatu renungan, Umar Junus

Karya sastra merupakan suatu reaksi terhadap suatu keadaan atau peristiwa. Reaksi itu bisa berupa reaksi spontan atau reaksi yang direnungkan. Reaksi spontan biasa terjadi apabila penulisan itu lebih dekat dengan waktu peristiwa. Oleh karenanya lebih dipengaruhi oleh emosi. Maka lebih emosional, merupakan ungkapan mentah, berupa rasa marah, senang. Reaksi spontan biasanya kurang pengolahan, dan merupakan luapan yang kurang terkontrol. Sedangkan reaksi yang direnungkan biasanya diolah dan dipikirkan sehingga lebih matang. Biasanya renungan dibawa ke tahap pemikiran yang abstrak dan mengandung filsafat yang dalam.

Korupsi-nya Pramudya Ananta Toer, 1954 lebih merupakan reaksi spontan terhadap keadaan di Indonesia pada masa itu karena ia bereaksi terhadap gejala yang mulai berkembang ketika itu, yaitu korupsi. Dekat dengan peristiwa konkret. Dokter Zhivago-nya Boris Pasternak, lebih merupakan renungan kembali dari peristiwa yang terjadi pada revolusi Rusia. Ia melihat sisi negatif dari peristiwa tersebut, hal yang mustahil dilukiskan Pasternak kalau saja ia masih berada dalam suasana romantika revolusi itu.

Tak ada Hari Esok (1950) terkesan merupakan reaksi spontan. Tetapi Tanah Gersang (1964) maupun Maut dan Cinta (1977) sudah merupakan renungan.

Kering dinyatakan ditulis pada awal tahun 60-an, tapi mungkin sekali telah diolah kembali pada tahun ’68 atau sesudah ’68. Di sana disebut Sirhan, pembunuh Kennedy tahun 68. Tidak dapat dirasakan sebagai reaksi spontan terhadap keadaan.

Ketiga novel Iwan berhubungan dengan keadaan Indonesia. Merahnya Merah berhubungan dengan revolusi dan kehidupan orang yang keluar dari revolusi, serta kehidupan gelandangan. Ziarah berhubungan dengan kehidupan sosial-budaya-politik Indonesia yang dikuasai hal-hal irrasional. Kering berhubungan dengan keterikatan Indonsia kepada kondisi, terutama kondisi alam, dan bagaimana orang berhasil bila ia dapat memanipulasi kondisi itu.

Tetapi semua ini tak mungkin dengan cepat bisa kita temui pada novel-novel tsb. Karena ia tak mengucapkannya dalam pernyataan yang jelas. Ia terselubung dalam keseluruhan jalinan, sehingga tak tampak kalau tidak dianalisa lebih dulu secara dialektik. Tak ada hubungan langsung antara satu peristiwa dalam novel itu dengan satu peristiwa dalam kehidupan konkret.

Keadaan ini terjadi karena Iwan mengambil jarak dengan kenyataan yang dilukiskannya. Kenyataan bukan dilihatnya sebagai suatu fenomena an sich, tapi sebagai realisasi dari suatu konsep filsafat yang agak abstrak. Fenomena yang konkret diangkat ke tingkat yang abstrak, dinyatakan dalam sistem filosofi yang abstrak pula.

Secara filsafat Iwan melihat kehidupan sosio-budaya-politik Indonesia  sebagai kehidupan yang dikuasai oleh pemikiran irrasional. Suasana irrasional ini memang menguasai setiap novel Iwan. Suasana irrasional, bukan unsur-unsur konkret, yang terdapat dalam novel-novel Iwan.

Iwan dalam menulis novelnya telah mengadakan jarak terhadap fakta konkret. 1) Ia telah mengadakan jarak waktu. Ia menunggu persoalan telah menjadi persoalan yang kompleks, bukan hanya merupakan permukaan sebagai novel Korupsi-nya Pramudya. 2) Ia juga mengadakan jarak emosional. Ia tidak merasa dirinya terlibat langsung dalam fakta yang disaksikannya. 3) Iwan melihat fenomena sebagai manifestasi suatu konsep yang bisa dihubungkan dengan suatu pemikiran filsafat. Fenomena konkret telah diabstrakkannya menjadi fenomena filsafat.

Hal-hal tsb membuat novel lebih terasa sebagai suatu renungan, bukan lagi reaksi spontan. Ini selanjutnya menyebabkan novel tsb tampak sebagai karya yang padat, padu dan menyeluruh, saling berintegrasi unsur-unsurnya. Dengan menggunakan istilah Goldmann novel itu memenuhi 2 syarat novel yang kuat, yaitu unity (kesatuan, kepadatan) serta kompleksity (keragaman).

Begitulah renungan sebagai pengadaan jarak telah memungkinkan karya ini menjadi karya yang berhasil. Karya yang lebih merupakan hasil renungan. Demikian pula Belenggu-nya Armijn Pane sebagai suatu karya sastra yang kuat, yang sulit tertandingi sebelum kedatangan novel-novel Iwan. Karya-karya yang tidak tenggelam pada ‘propaganda’ dan reaksi spontan yang menguasai novel-novel sebelum Perang Dunia II.

KEBUDAYAAN INDONESIA DAN KEPRIBADIAN BANGSA.

Pada suatu hari seorang kawan, orang Jawa, datang berkunjung dan mengamati kedua lukisan itu. Segera saja kawan itu memberikan pendapatnya tentang kedua lukisan itu. Dia tidak menyukai lukisan Popo karena lukisan itu “bukan lukisan Indonesia” dan dengan demikian “tidak mencerminkan kepribadian Indonesia”. Sedangkan lukisan gaya Kamasan itu dia sukai karena menurutnya lukisan itu adalah “lukisan Indonesia” yang mencerminkan “kepribadian Indonesia”.

Kawan yang menyukai lukisan gaya Kamasan itu menyukai gaya itu karena dia merasa akrab dengan tema lukisan itu. Dia tidak menyukai lukisan Popo karena dia merasa asing dengan “pesan” yang dilukis pelukis itu. Atau setidaknya dia merasa asing dengan cara Popo menggarap “pesan” itu.

Kawan itu merasa akrab dengan tema lukisan itu karena dia mengerti simbol-simbol yang disampaikan pelukis itu kepadanya. Yakni simbol-simbol yang ditimba dari cerita pewayangan dari Mahabarata.

Jadi kita melihat bagaimana satu lukisan seperti lukisan gaya Kamasan itu dilahirkan sebagai bagian dari dunia yang utuh. Satu jagad, satu kosmos. Lukisan itu sama seperti wayang, relief, pura, lontar, gamelan mereka, adalah  satu dari sekian media komunikasi kebudayaan banjar itu. Fungsinya adalah untuk mengikat solidaritas warganya, menyatakan kesetiaan warganya kepada komunitas, dalam hal ini banjar Sangging itu. Maka setiap kali satu lukisan selesai dan dibeberkan di atas tanah atau meja, orang-orang baik tua-muda, lai-perempuan maupun anak-anak akan datang mengerumi dan mengagumi untuk kesekian kali tema-tema yang sudah dikenal dengan akrabnya.

Dengan demikian Popo Iskandar adalah seorang pelukis individualistis, hampi-hampir soliter, kuat dan teguh dalam pengungkacapan identitasnya sendiri. sementara dia memelihara identitasnya sebagai seorang cendikiawan Sunda Popo Iskandar muncul sebagai pelukis dengan “cap”-nya sendiri. Satu “cap” yang dia kembangkan lewat satu formal training yang banyak menimba pengaruh dari dunia Barat ditambah dengan penghayatan sendiri.

Para pelukis Kamasan adalah pelukis komunitas yang ditempa oleh proses sosialisasi nilai-nilai budaya dalam satu komunitas yang (relatif) masih merupakan satu jagad agraris yang masih utuh. Kepribadian yang muncul dalam lukisan yang kemudian dikenal sebagai Kamasan itu adalah cermin dari proses sosialisasi yang demikian itu. Maka akan sangat sulitlah umpamanya untuk minta kepada seorang pelukis Kamasan melukis dalam gaya yang berlainan bahkan melukis obyek-obyek yang menyimpang dari tokoh-tokoh mitologi Bali ataupun  Mahabarata dan Ramayana.

Sedangkan Popo Iskandar adalah seorang pelukis individual, perorangan, mandiri, yang tumbuh dan dibesarkan dalam satu komunitas yang jauh lebih cair dari satu komunitas sepeti banjar Sangging di Kamasan itu. Maka “budaya”-nya adalah budaya yang muncul dari satu situasi yang cair dan sangat komunikatif dengan berbagai pengaruh itu. Kepribadiannya menjadi anggota dari suatu kepribadian komunitas.

Lukisan Kamasan adalah lukisan Indonesia dengan kepribadian Indonesia. Tentu saja. Dengan catatan ia akan terus tergarap dari titik pangkal nilai-nilai “masyarakat lama” ke perubahan baru.Lukisan Popo Iskandar adalah lukisan Indonesia dengan kepribadian Indonesia. Tentu saja. Dengan catatan ia akan terus digarap dari titik pangkal dialog gencar dengan nilai-nilai budaya asing. Orang-orang Batak, Minang dan suku-suku “non-wayang” lainnya akan tidak paham lukisan Kamasan. Tentu saja.

Orang-orang yang jauh dari dialog nilai-nilai budaya asing akan tidak paham lukisan Popo iskandar dan sebangsanya. Tentu saja. Dialog budaya di persada Indonesia akan terus juga berjalan (Umar Kayam, hal.11-20)

PENGHAYATAN SENI DAN EKSPLORASI SENI

Dua wajah kehidupan kebudayaan kita

Di samping pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang menyangkut lukisan-lukisan, dalam variasi yang agak lain tetapi dalam esensi yang sama bukankah agak sering juga kita dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti apakah sajak-sajak dan teater Rendra adalah “sajak-sajak dan teater Indonesia”, novel Iwan Simatupang “novel Indonesia”, musik Amir Pasaribu “musik Indonesia” dan apa yang Kaucari Palupi?” Asrul Sani “film Indonesia”?

Dalam berkonfrontasi itu dia tidak berhasil atau gagal mengenal dan menemui hal-hal yang dia sudah merasa akrab sebelumnya. Dia merasa gelisah dan tidak enak serta tidak comfortable pada waktu dia membaca “Nyanyia Angsa”, serta melihat “Minikata” Rendra. Juga pada waktu dia membaca Merahnya merah dan  Ziarah Iwan Simatupang. Asosiasi yang Ia dapat dalam percobaannya untuk menagnkap dan merangkai simbol-simbol yang ada dalam sajak, teater dan novel itu merupakan asosiasi yang jauh dari mengenakkan perasaanya, bahkan mungkin sekali juga menyiksa dan merusak imajinasinya.

Menurut dia “itulah lukisan indonesia yang asli”. Ia mengolah “tema yang asli” dan dilukis dalam “gaya yang asli”. Memang, tanpa sesuatu kesulitan tamu saya itu – seorang Jawa “asli” – mengnal tema itu. Yakni satu episode dari Arjuna Wiwaha, pada waktu Arjuna duduk bersamadi digoda oleh tujuh bidadari Suralaya yang cantik jelita. Dia merasa “enak” dan “senang” at ease dan comfortable- melihat lukisan itu karena dia ikut membagi dengan pelukisnya simbol dan pengalaman yang sama. Ia memiliki “kerangka fantasi” yang sama, setidak-tidaknya yang mirip dengan pelukisnya. Tidak terlalu penting baginya untuk sedikit meragukan, apakah Arjuna Wiwaha itu satu cerita yang “asli” betul atau cerita impor dari India…

Banyak tamu yang gelisah pada waktu ada acara deklamasi sajak-sajak Rendra serta pementasan drama satu babak “Lawan Catur” adaptasi Rendra. Mereka gelisah dan memberikan komentar yang lucu-lucu.

Sebaliknya, pada sedra tari Ramayana mereka bertemu kembali dengan idiom yang telah mereka kenal dengan akrab dan mesra.Dan mereka telah terbiasa membaca sajak-sajak gaya klasik melayu juga merasa tidak comfortable membaca Soneta Sanusi Pane dan sajak-sajak Amir Hamzah.

W.S Rendra menempatkan dirinya sebagai seorang “urakan” tetapi sekaligus juga seorang “tradisionalis”. Kedengarannya aneh tetapi sesungguhnya bisa dimengerti. Dia melihat dirinya sebagai urakan karena dia dengan sadar ingin memainkan peranannya sebagai seorang seniman kreatif yang ingin sewaktu-waktu menggoncangkan kelaziman-kelaziman yang membeku. Orang yang memilih peranan yang demikian melihat kelaziman yang sudah menjadi sleur,yang “secara reserve”lagi diterima oleh masyarakat sebagai sesuatu “kebenaran” yang berlaku, berbahaya. Seniman-seniman yang memilih tempat yang demikian selalu ingin melihat masyarakat sewaktu-waktu disegarkan oleh pikiran-pikiran dan pendapat-pendapat baru yang bisa merangsang masyarakat untuk terus memelihara dinamikanya.

Rendra bukan orang pertama yang mengambil sikap demikian. Sutan Takdir Alisjahbana dan Sudjojono pernah mengambil posisi demikian pada tahun tigapuluhan. Kemudian Chairil Anwar dan kawan-kawannya yang berkumpul di sekitar “Gelanggang” yang dikenal dengan sebutan Angkatan’45.

Orang-orang yang demikian, apakah dia seniman,sarjana, cendikiawan, seringkali berdiri di luar jalur-waktu perjalanan di masyarakatnya. Orang-orang demikian sering kali mempunyai kepekaan yang aneh yang dapat menerobos “jadwal normal” lingkungannya. Mereka adalah penjelajah-penjelajah kemungkinan-kemungkinan.

Maka dengan setting masyarakat seperti kita punyai sekarang, dimana beberapa segi wajah dan perjalanannya tadi telah sama-sama kita bahas, bagaimana dengan orang-orang tadi? Orang-orang seperti Rendra dan para avant-gardist lainnya itu? Tidak selalu lancar, hubungan itu. Salah-Tampa adalah ciri hubungan yang lebih sering terjadi daripada harmoni antara seniman-seniman yang memilih modernitas ini dengan masyarakat.

Mereka yang memilih peran menjadi peletak “suasana pembaruan”, penunjuk modern temper, bergerak tidak menurut jalur dua itu tetapi secara zig-zag menyerempeti jalur-jalur itu. Mereka inilah yang merasa belum cocok dengan simbol-simbol dan  image-image yang ditawarkan oleh penjelajah-penjelajah kemungkinan baru itu (Umar Kayam, hal. 22-36).

KREATIVITAS SENI DAN MASYARAKAT.

Pada waktu masyarakat masih merupakan masyarakat pertanian yang merupakan suatu “sistem ekologi” (Redfield, 1956) yang utuh dan saling berkaitan antara unsur pendukungnya, status suatu kreativitas seni agaknya sama dengan “kreativitas pertanian” seperti sabit, cangkul, bajak, jembatan bambu. Yakni suatu kreativitas yang berfungsi mengisi kelengkapan masyarakat.

Bagaimanapun, Cak sekarang adalah tarian-rakyat. Sebagaimana seni-rakyat lainnya juga Cak ini adalah suatu kesenian milik komunitas dan dari komunitas. Pencipta atau pencipta-penciptanya telah hilang ditelan masa dan untuk waktu yang lama telah di-”claim” oleh masyarakat. Dialog “tradisi agung” dan “tradisi kecil” di bidang kesenian di Bali agaknya berjalan lebih lancar dan integrative daripada jalan dialog antara dua tradisi ini di Jawa.

Mengacu pada analisis Redfield selalu terjadi dialog antara “tradisi kecil” dari dunia pedesaan dengan “tradisi agung” dari dunia kota.Kreativitas, sembarang kreativitas, adalah proses pengungkapan yang akan melahirkan satu inovasi. Inovasi itu karena ditemukan oleh manusia yang hidup bermasyarakat, berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Demikianlah dengan kretivitas kesenian.

Pada waktu kesenian kita tidak lagi mengacu kepada komunitas kecil, harus bagaimanakah kreativitas kesenian itu? Mengacu kepada komunitas besar yang disebut kota, yang sekarang cendrung untuk melalap desa itu?

Sudah waktunya kreativitas kesenian dipahami dalam konteks perkembangan masyarakat. Sudah waktunya “strategi pengembangan kesenian” mengacu kepada kaitan kreativitas seni dengan perkembangan masyarakat (hal.38-48).

PENGANTAR ILMU SASTRA

Perkenalan: dosen memberi contoh perkenalan diri. Asal, pendidikan, mengapa senang sastra, sejak kapan, dsb. Pengalaman menulis sastra dan studi sastra. Perkenalan satu per satu mahasiswa: mengapa (terdampar) di PBSID. Setiap kali ada yang menarik dikomentari.

Prospek PBSID: guru, wartawan, guru bahasa Indonesia untuk orang asing, redaksi, editor, penerbitan, pengarang. Kemungkinan dari PBSID. Jadi guru. Apa sih enaknya jadi guru? Guru sastra. Apakah sastra itu? Sastra adalah bidang humaniora. Humaniora adalah …… menjadikan orang bermoral, terdidik, beradap dan kreatif.

Sekarang, kenyataannya kuliah di PBSID. Bisa asal jalan nantinya jadi orang mogol, frustrasi, atau sadar akan keadaan, menerima dan mencintai, mau serius, sedikit demi sedikit mencintai PBSID, putar haluan. Perjalanan hidup/nasib: antara yang ideal dan kenyataan.

Saudara untuk menikmati hidup di PBSID hendaknya mulai mencintai dunia PBSID. Menyenangi sastra. Suka membaca karya sastra. Mulailah mencintai sastra.Penting: jangan setengah2 -> mogol: kuliah tidak tuntas, lulus2-an, sulit cari kerjaan. Prospek PBSID: guru yang punya peran penting dalam masyarakat, dalam profesi guru (Bu Sigit, Pak guru De Britto); guru dan penulis; dosen dan wartawan, dosen dan penyair;  penyair yang dapat penghargaan (Joko Pinurba).

Baca puisi Rendra, Seonggok Jagung di Kamar. Hubungkan dengan pendidikan yang kreatif, bukan pendidikan yang konsumtif. Pendidikan yang memerdekakan. Contoh pendidikan Rm. Mangun mengajari orang bertanya. Tanya tanda ingin tahu. Orang yang pasif: lulus sekolah menunggu orang memberi/menawari pekerjaan. Atau mungkin melamar pekerjaan, menunggu. Tidak bisa mencipta pekerjaan.

Ambil contoh mengenai majalah anak jalanan “JEJAL”. Mereka meskipun tak terpelajar, bisa membuat majalah. Meskipun tulisan tangan, jadilah. Mereka miliki kemauan dan keberanian. Itu yang penting.Contoh seri buku JEJAL. Anak tidak terpelajar, tak tamat SD,SMP, sanggup menulis semacam majalah. Kere yang sukses adalah …, hlm 15; Cerita Feri, hlm. 10.

Salah satu kegunaan sastra adalah membuat orang kreatif. Kreativitas bisa mengatasi masalah dalam hidup. Orang yang kreatif bisa menghadapi tantangan2 kehidupan. Bisa bertahan hidup bahkan hidup dengan sukses. Contoh dari kreativitas.

Orang yang kreatif: dagadu, pabrik kata2,  Kreativitas itu penting dalam kehidupan. Dengan kehendak gila dan kreativitas kita tidak akan mati kelaparan. Sebaliknya bisa mengantar orang menjadi orang sukses. Nyoman Togog tidak lulus SD tetapi karena kreativitas dan hoki, akhirnya dia menjadi seniman erkenal. Gagasannya sebetulnya sederhana, yaitu membuat pahatan yang menyerupai uah-buahan: pisang, jambu, apel, salak, alpokad, dsb. Dan ternyata gagasannya itu disenangi khalayak. Laku jual.

Adiknya Jaya Suprana di Bali mencipta ‘pabrik kata-kata’. Dia membuat slogan-slogan, kata-kata plesetan yang menyebabkan orang tersenyum, entah dalam tulisan kaos, dalam souvenir, dalam bahasa Inggris, Indonesia. Ungkapan-ungkapannya menarik minat banyak orang. Para turis ingin membawa slogan-slogan itu ke tempat asal mereka. Maka mereka membeli souvenir. Lakulah dagangannya dan digemari. Hampir setiap turis ingin mampir ke pondok ‘pabrik kata-kata’. Larislah dagangannya. Dia hanya berdagang ide. Bisa dibandingkan dengan Dagadu Yogya. Kalau kaum muda, pelajar, mahasiswa luar Yogya pergi ke Malioboro, yang diburu adalah kaos Dagadu. Ke Yogya belum membeli paling tidak tas, dompet, maupun souvenir merk Dagadu, rasanya belum puas.

Orang yang kreatif itu bisa membuat barang yang tidak dipakai, bekas, maupun sesuatu yang semestinya mengganggu, menjadi berguna. Misalnya lihat artikel majalah ini: “Mengais rejeki lewat sampah enceng gondhok.” Di sini dikatakan bahwa Enceng Gondhok yang biasanya dianggap sebagai pengganggu, sebetulnya banyak yang bisa dimanfaatkan. Banyak orang di sekitar Rawa Pening antara Ambarawa dengan Salatiga, hidup dari mengais rejeki kotoran Enceng Gondhok. Lumpur, kotoran dari Enceng dikumpulkan orang, dicampur sedikit kapur, jadilah pupuk hebat. Dijual ke Dieng untuk pupuk jamur merang, dibungkus plastik per kilo dijual untuk pupuk taman. Beberapa perusahaan menumpuk lumpur itu menjadi pegunungan dan setiap hari membawanya bertruk-truk ke Dieng.

Lalu batang atau pelepah Enceng Gondhok itu juga dibudidayakan menjadi bahan untuk tas, yang banyak digemari kaum muda. – Pemulung jadi jutawan berkat plastik sampah – Menghias cangkok telur; pakaian dari bahan bekas.- Budi daya jangkrik makin dilirik

Coba buat kreasi baru

Semangat manusia ke bulan; semangat Columbus; ide gila; penemuan pesawat, telephon, tivi, berawal dari ide gila.

Menghapus t dari I can’t: perasaan ‘tidak bisa’ melumpuhkan  kehidupan. Sebaliknya perasaan ‘tak ada lautan yang tak terseberangi, tak ada gunung yang tidak terdaki, tak ada jurang yang tidak bisa dituruni’. Berpikirlah bahwa ‘saya bisa’. Seorang cedera lutut yang menjadi juara main ski. Buku2 yang laris di Amerika dan dunia: Chicken soup for the soul, positif thinking, Emotional Inteligent, seven habits.

Cara mengampu mata kuliah yang baik, dengan contoh. Contoh yang dekat dengan mahasiswa. Yang up-to-date dan kontekstual. “Aku ingin jadi …” atau “Cita2 saya.” Cita-cita semula maupun cita2 sekarang (setelah saya sekarang ini jadi mahasiswa PBSID). Untuk mencapai cita2 itu, apa yang harus kukerjakan.

Pembelajaran di PT, bukan pengajaran. Dalam pembelajaran, jangan hanya menerima mata pelajaran dan menghafal, tapi harus menerimanya secara kritis, mengolahnya dan merefleksikannya. Baru membatinkannya. Menurut pemikiran Sudarminto, salah satu tantangan pendidikan masa depan adalah bagaimana mengupayakan pendidikan yang membentuk pribadi yang mampu belajar sendiri seumur hidup (lifelong learning) (Atmadi (ed.), 2000: 6). Menghadapi tantangan perubahan sosial yang cepat, pendidikan masa depan perlu sejak dini melatih peserta didik untuk mampu belajar secara mandiri dengan memupuk sikap gemar membaca, dan mencari serta memanfaatkan sumber informasi yang diperlukan untuk menjawab persoalan yang dihadapinya. Tidak kalah penting dari itu semua adalah belajar bagaimana belajar (learning how to learn), baik secara mandiri maupun dalam kerja sama dengan orang lain (Atmadi (ed.),  2000: 7).

Situasi pendidikan sekarang? Pendidikan di sekolah sekarang ini diisi kurikulum yang sangat padat. Murid dibebani banyak tugas, dijejali oleh hafalan2, sehingga murid dan orang tua sangat menderita. Anak2 dipaksa masuk IPA, mendapatkan NEM yang tinggi dengan cara apa pun. Les tambahan di mana2. —> manusia2 menghafal, robot, tidak kreatif. Pengajaran sekarang = indoktrinasi.

Sistem pendidikan kita: seperti bank, guru pandai – murid bodoh. Penuh ilmunya; murid kosong, guru mengerti semuanya, mengajar, menentukan, siswa menurut; guru aktif: indoktrinasi.Di PT pun, mahasiswa sulit bertanya. Sulit diajak untuk aktif. Karena apa? Pddk di SD, SMP, SMU dijejali ajaran2 untuk jadi penurut, bersikap pasif. Tidak pernah diajak dialog. Menurut penggagas pendidikan modern, Paulo Freire, pendidikan harus membebaskan dan memerdekan siswa. membentuk pribadi yang mampu belajar sendiri terus-menerus seumur hidup (life-long learning). Mampu mengolah masalah. Untuk menjadi manusia kritis dan kreatif. Siswa diajak untuk tidak hanya menelan saja apa yang diberikan di sekolah. Tapi harus mencernanya. Mengkritisinya.

Proyek sekolah Mangunan oleh Rm. Mangunwijaya, sejak SD peserta didik perlu dilatih aktif bertanya, mengamati, menyelidiki, serta membaca untuk mencari dan menemukan jawaban. Sarana: perpustakaan, tempat penelitian (lab.). Stasi2 di mana pr siswa van Lith mengajar agama, merupakan salah satu lab yang bagus.

Di era reformasi pendidikan ini, sbg pendidik, guru harus mampu berdialog untuk perkembangkan peserta didik. Sebagai siswa, apakah kita hanya berperan pasif sebagai pendengar saja, duduk manis di bangku kelas, melainkan mau aktif sebagai manusia yang mencari, dengan membaca di perpus, bertanya, bereksperimen sebagai manusia eksploratif di laboratorium. Hanya dengan demikian kita bisa mewujudkan manusia Indonesia kreatif. Justru hidup dengan tantangan. Seperti korek api yang menyala saat hadapi benda keras.

Sikap mahasiswa yang diharapkan

- berusaha mengenal dan menyenangi/mencintai sastra.

- menjalani kegiatan2 kuliah dengan sepenuh hati.

- mengikuti kuliah dengan sikap aktif, selalu ingin tahu.

- tanda ingin tahu: menaruh perhatian, bertanya. Tanda mahasiswa yang acuh, males, asal jalan: tidak pernah bertanya. (Ber-) tanya, itu tanda kemajuan. Tanda orang berpikir, tidak hanya menghafal. Cogito ergo sum. Bingung tanda berpikir. Lebih baik bingung awal daripada bingung waktu kuliah. Berpikir itu mengaktifkan otak, mengasah, mengembangkan sel otak. Sedang menghafal itu hanya memfungsikan bagian memori saja. Hafalan kuat tanpa disertai pengolahan pikiran seperti robot yang tidak kreatif.

- Pendidikan baru:

- Cara belajar yang baik: a. membaca; b. mempraktekkan/melatih; c. bertanya.

Latihan bertanya

Untuk melatih mahasiswa berani dan senang bertanya, mungkin perlu ada latihan sendiri: dosen menerangkan masalah yang agak sulit. Mahasiswa diminta untuk memberi 2 macam pertanyaan.

Pertama, pernyataan bahwa mahasiswa bisa menangkap sejelas-jelasnya apa yang diterangkan dosen. Untuk ngecek itu dosen bisa memberi pertanyaan kepada mahasiswa.

Kedua, kalau masih ada sesuatu yang belum jelas, mahasiswa diminta untuk merumuskan ketidakjelasan itu dalam bentuk pertanyaan. Minimal satu pertanyaan.

Latihan ini bisa dilakukan beberapa kali.

Oleh2 dari PILNAS HISKI XIII. Laporan dari Taufik Ismail tentang pembelajaran sastra di SMU. Perbandingan antara SMU ASEAN, Eropa, dan Amerika.

APA ITU SASTRA?

DISKUSI:

a. Sastra menurut pengertianku, pengalaman dan pengamatan kita adalah ………

b. Sastra menurut para ahli (Wellek, kamus, Teeuw, Luxemburg, Eagleton, dst)?

c. Sastra yang dekat dan disenangi masyarakat?

Mahasiswa dalam kelompok, coba bandingkan 3 macam tulisan: tulisan sastra, jurnalistik, dan percakapan sehari-hari.

  1. Ketika kita masih kecil dulu, belum mau tidur kalau belum dikeloni dan diceritain tentang dongeng Timun Emas dengan Buto Ijo, tentang bagaimana Timun Emas dikejar-kejar Buto Ijo hendak dijadikan santapan/dikawini. Bagaimana Timun Emas itu lari dan bersembunyi; bagaimana Timun Emas itu akhirnya menyebarkan garam pemberian Nini Buto Ijo, menjadi danau embel atau danau lumpur, sehingga Buto Ijo terperosok ke dalam lumpur itu. Dengan demikian Timun Emas bisa lari meninggalkan Buto Ijo. Dongeng itulah sastra.
  2. Ketika seorang pawang, dukun, dalam acara bersih desa, kendurenan, berkisah tentang asal-usul desa tersebut, dia terlibat dalam sastra lisan, yaitu cerita, dongeng atau mitos. Dalam sastra klasik, kita mengenal cerita asal-usul, cerita binatang, cerita jenaka, cerita pelipur lara, pantun.
  3. Asal-usul Tangkuban Perahu; Rawa Pening; Banyuwangi; Ciamis; mengapa gadung beracun, harimau berbelang, ayam jago bertanduk. Gunung Tidar sebagai pathok tanah Jawa; orang Jepang sebagai putra matahari; orang Jawa berasal dari dewa; raja2 Jawa sebagai titisan dewa; Suharto sebagai keturunan raja2 Jawa, dsb. Cerita asal-usul biasanya untuk mencari legitimasi bahwa suku, bangsa, atau keluarga, tokoh berasal dari keturunan raja atau dewa, bukan orang sembarangan atau keturunan pidak-pedarakan. Seperti Suharto, mengatakan bahwa dirinya itu masih keturunan raja2 Jawa (Majapahit-Mataram?).
  4. Ketika Edhi minta Neneknya bercerita ttg bagaimana Ibu tercinta yang sudah meninggal itu dijemput oleh malaekat2 (bidadari) ke surga, lalu bagaimana di surga Ibu mendoakan anaknya agar dia tidak nakal, dia sedang menikmati sastra.

Cerita binatang

Cerita Kancil paling populer. Tokoh binatang yang kecil  tetapi cerdik. Bahkan bisa mengalahkan atau menipu binatang2 hutan yang lebih besar. Misalnya Kancil berlomba lari dengan Siput (keong). Kancil menjaga seruling, sabuk, gong, jenang nabi Sulaeman. Kancil menipu Gajah. Kancil kalah dengan orang-orangan Pak Tani, tapi bisa menipu Anjing. Binatang yang tak tahu balas budi: Buaya yang mau memakan Lembu yang baru saja menolongnya dari tindihan pohon. Cerita binatang berasal dari India, karena kepercayaan Hindu akan inkarnasi. Cerita binatang yang juga terkenal adalah Sukasaptati. Terjemahan versi Melayu bernama Bayan Budiman.

Cerita Jenaka

Cerita Pelipur Lara

Epos India: Ramayana dan Mahabharata

Tugas: cari 5 cerita asal-usul; 5 cerita binatang; 5 cerita lucu.

Tugas 1:

1. Kumpulkan Cerita2 rakyat, dongeng menjelang tidur, terutama

yang saudara senangi. Buat ringkasan 5 cerita!

SASTRA DALAM HIDUP SEHARI-HARI: SINETRON, TELENOVELA, FILM, DRAMA, KETOPRAK, LENONG, LAGU-LAGU, SENDRATARI, DSB

Sejak kecil kita sebenarnya sudah akrab dengan sastra.  Ketika bayi, waktu mau tidur, dilagukan lagu Ninabubuk; ketika manangis, ditembahkan lagu Tak lela lela lela ledung; waktu masih balita, diajar nyanyi Keplok ame-ame, walang kupu-kupu. Ketika di TK, menyanyi Pelangi-pelangi, Bintang Kecil, Menanam Jagung, Balonku Ada Lima. Lagu-lagu tanah air, perjuangan, kebangsaan lagu pop, bahkan lagu dangdut, dsb. Dongeng sebelum tidur: Timun Emas, Buta Ijo, Bawang Merah, Cindelaras, Kancil Nyolong Timun.

                Lagu-lagu yang saban hari kita dengar dan kita gemari, dari lagu pop, campur sari, hingga lagu dangdut, bukankah syair-syairnya berbentuk puisi? Hiburan-hiburan apa yang kita saksikan di televisi? Cerita apa saja yang saya senangi? Ketoprak Humor, Srimulat, Ludruk, pementasan Wayang  Orang maupun Wayang Kulit, bukankah itu merupakan bentuk teater? Acara-acara film dari Shinchan, Doraemon, Scoobidoo, Sinetron Tersanjung, Maha Kasih, Mak Lampir, Dendam Nyi Pelet, hingga Telenovela, film-film Hindia, film silat Cina sampai film-film Hollywood, bukankah itu cerita fiksi yang diolah dari skenario yang bersifat sastra? Belum lagi cerita-cerita daerah, tulisan-tulisan di berbagai koran, majalah dalam bentuk Cerita pendek, Cerita bersambung, puisi, dsb. Bisa dikatakan setiap saat kita sebenarnya bertemu dengan sastra.

Cerita kanak2 Harry Potter, cerita HC. Anderson. Mahabharata, Ramayana, Bayan Budiman. Dalam acara tivi: cerita horor, ketoprak humor, kartoon, film cerita silat, India, Mahabharata, detektif, spionase, dsb. Pengalaman pribadi: buat cerita (memetik bulan dan matahari), cerpen “Sepotong Senja untuk Sang Pacar”, cerber. Cerita lucu2.

Dalam seni gerak (Tari) pun biasanya terselip (cerita) sastra secara implisit (Ramayana, Tari Merak, dsb). Demikian pula dalam lukisan2-pun terdapat cerita sastra secara implisit. Ada cerita yang melatar-belakanginya.

Prospek: kalau sekarang mau belajar, nanti siapa tahu jadi pengarang. Contoh dari Kompas, seorang berumur 86 tahun yang berani pecahkan rekord Guinnes Book.

Drama, cerita film: merupakan cerita dalam gerak dan kata.

Dalam bentuk tontonan, seni pertunjukan.

Tradisi lisan dan tradisi tulis dalam masyarakat dulu. Tradisi lisan dan tradisi tulis dalam masyarakat kita sekarang. Suka ngobrol, ngegosip, bikin isu, provokator, tidak suka baca, tidak suka ke perpust. Kita sebagai mahasiswa berada dalam transisi, menuju ke tradisi tulis sebagai calon cendekiawan, biasakan ke perpust. Tapi jangan kebablasan, maginat (latah). Mentang mahasiswa lalu nulis di meja2 kuliah, tembok, tempat2 umum, WC, dsb.

Tugas 2

Perhatikan acara di tivi. Acara apa yang saudara senangi?

1. Manakah yang saudara senangi: menonton film di bioskop, vcd,    membaca komik, cerita, nonton sinetron, telenovela, film kartun, film cerita, menyaksikan/mendengarkan pagelaran wayang, ketoprak, drama/teater, dsb? Mengapa?

  1. Sebutkan jenis atau judul (bisa pilih salah satu atau keduanya) cerita, lagu apa yang saudara senangi?
  2. Mengapa saudara menyenangi cerita atau acara tsb?
  3. Masalah apa muncul dalam fiksi tsb (magin, religius, psiko logi,pendidikan)?

Terangkan!

  1. Manakah cerita/film yang senangi: cerita/film asing (terjemahan) atau cerita

Indonesia.

  1. Apakah saudara puas menikmati cerita2  sinetron, film tsb? Ungkapkan kritik saudara!

Ternyata cerita fiksi itu sudah merupakan bagian dari kehidupan kita, sangat digemari oleh masyarakat kita. Ternyata yang kita gemari selama ini adalah cerita karya fiksi. Mengapa kita tak berpikir, aku bisa membuat cerita2 itu. Kita punya peluang. Tidak kalah dengan mereka. Kita lihat sinetron2 itu. Kelemahannya. Kurang logis, didramatisir, dilebih-lebihkan, tidak wajar. Tema: monoton: cinta, perselingkuhan; perang/perkelaian begitu2 saja, gunakan tenaga dalam. Mengapa kita tidak mencoba?

CONTOH perbedaan antara tulisan sastra, ilmiah dan jurnalistik, bahasa sehari-hari (diskusi). Berbedaan dalam hal bahasa, isi, sudut pandang, suasana, dsb.

Dengan demikian sastra berarti segala sesuatu yang tertulis yang bersifat rekaan yang memiliki nilai estetik (Teuuw, 1984: 22). Dalam praktek tidak hanya meliputi sesuatu yang tertulis tetapi juga yang lisan. Yang pasti, sastra menggunakan medium bahasa. Maka sastra bisa dikatakan penggunaan media bahasa (baik tulis maupun lisan) yang bersifat rekaan (maginative) dan estetis. Rekaan di sini bukan merupakan lawan kenyataan, melainkan memberitahukan sesuatu mengenai kenyataan. Dalam sastra, sastrawan memberi makna lewat kenyataan yang bisa diciptakannya. Dunia yang diciptakannya adalah dunia alternatif (Teuuw, 1984: 248).

Menurut Aristoteles, sastra berurusan dengan kebenaran universal (Teeuw, 1983: 22). Horatius mencanangkan pedoman untuk penciptaan sastra: dulce dan utile; indah dan berguna. Sastra harus memiliki estetika tinggi dan bermanfaat bagi pembentukan pribadi manusia yang baik. Maka sastra sebagai pendidikan humaniora memusatkan perhatian pada nilai-nilai yang paling tinggi bagi umat manusia (Hartoko, 1985: 52-53).

TEMPAYAN RETAK

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, Masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh. Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air kerumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna.

Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidak sempurnaannya, dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannnya. Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, “Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu. “Kenapa?” tanya si tukang air, “Kenapa kamu merasa malu?” “Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa,karena adanya retakan pada sisisnya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi.” kata tempayan itu.

Si tukang air merasa kasihan pada sitempayan retak, Dan dalam belaskasihannya, ia berkata,”Jika kita kembali ke rumah majikan

besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu  memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan si sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu ? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu, dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu  mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”

Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Allah akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias-Nya. Di mata Allah, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Allah. Ketahuilah, di dalam kelemahan kita,  kita menemukan kekuatan kita.

EVALUASI PEMBELAJARAN SASTRA

  1. Kurang memberi tugas membaca secara rutin kepada mahasiswa dan kurang menantang dengan repetisi mendadak, sehingga kuliah sering terasa kurang intensif, dan mahasiswa kurang siap membaca & belajar.
  2. Setiap kali kuliah, mhs baik diberi tugas membaca sebelumnya dengan disertai pertanyaan2 terarah. Agar mhs selalu siap dan banyak membaca.
  3. Jangan terlalu banyak ceramah dan menerangkan. Cramah meninabobokan mhs dan membodohkan mereka.
  4. Perlu latihan bertanya untuk mahasiswa. Kita ajukan sebuah subjek (ballpoin, pisau, buku, kapur). Paksa, rangsang mereka untuk bertanya apa saja tentang subjek tsb. Semua mahasiswa harus membuat pertanyaan. Mulai dari 1 pertanyaan, meningkat menjadi 5, atau sebanyak-banyaknya. Kalau  perlu beri hadiah bagi yang berprestasi.
  5. Perlu disiapkan fotokopian secara menyeluruh beserta tugas-tugasnya.
  6. Persiapkan secara matang sebelum kuliah. Sejak awal sudah jelas materi-materi yang harus dibaca.
  7. Mahasiswa perlu diberi hand out dan fotokopi tambahan. Langkah-langkah per kuliah harus sudah jelas sejak awal.
  8. Beri tugas membaca dan membaca. Wajib bertanya. Buat soal untuk checking. Terangkan yang belum jelas.
  9.  Membuat makalah, diskusi, belajar bersama, dsb.
  10. Buat variasi mengajar: diskusi di kelas, presentasi, latihan, mengerjakan di kelas, permainan, pertanyaan, ceramah, dsb.
  11. Pikirkan portofolio: beri tugas & kesempatan untuk berkarya, beraktivitas dan berkreativitas
  12. Usahakan belajar mandiri dengan system seminar & presentasi.
  13. Beri kesempatan pada mhsw untuk bentuk Sanggar Sastra sebagai wadah kreativitas.
  14. Setiap akhir semester, paksa mereka untuk berkarya: buat musikalisasi puisi, kumpulan puisi, cerpen, novelet, drama.
  15. RENCANA: NULIS BUKU “TEORI SASTRA YANG MEMBUMI”

ESTETIKA MELAYU:  (I. Kuntara Wiryamartana, BASIS Juni 1986: 207)

Aspek pertama, secara ontologis, keindahan hanyalah sifat dari Tuhan. Dalam ‘pengantar’ sastra Melayu Klasik, penyair biasanya menyatakan bahwa dirinya tidak berdaya untuk mencipta, sedang Allah, mahakuasa untuk mencipta, maka ia mohon pertolonganNya dalam menciptakan sya’irnya.

Aspek kedua, secara imanen, keindahan mengandung sifat:

Luar biasa, menakjubkan; nampak istilah-istilah: heran, ajaib, gharib, tamasya (Hikayat Inderaputera). Beraneka warna; nampak dalam istilah2: berbagai, aneka warna, aneka bagai jenis, banyak ragam (Hikayat Inderaputera). Tertib dan serasi; keanekaragaman yang tersusun secara harmonis; misalnya rangkaian mutiara (mutia dikarang terlalu indahnya), susunan bunyi yang merdu (Hikayat Isma Yatim).

Aspek ketiga berhubungan dengan psikologi persepsi keindahan. Proses psikologis itu bisa dirumuskan sebagai berikut:

Sesuatu yang luar biasa itu menarik perhatian dan lewat persepsi indera membangkitkan berahi, rasa tertarik pada yang indah (Hikayat Inderaputera). Kekuatan daya tarik keindahan itu tergantung pada kemampuannya untuk mempengaruhi beberapa indera sekaligus. Dalam sastra Melayu lukisan mengenai sesuatu yang indah memuat unsur-unsur penglihatan, pendengaran dan penciuman. Ketertarikan pada yang indah atau berahi itu menimbulkan heran dalam jiwa, begitu menyita segenap indera, hingga lemahlah daya kontrol pikiran atas jiwa dan kacaulah hirarki “kemampuan-kemampuan” jiwa, yang mengakibatkan hilang akal, merca, lupa dan seterusnya Hikayat Isma Yatim, Hikaya Inderaputera).Akibat keindahan yang demikian itu berbahaya bagi orang yang tidak mampu menguasai atau menyalurkannya.

Mengatasi daya tarik keindahan itu merupakan kemenangan yang setara dengan kemenangan pahlawan dalam pertempuran atau percintaan. Berhadapan dengan keindahan, sang pemandang tetap teringat, tetap menguasai dirinya. Akal, budi orang yang arif bijaksana mengatasi bahasa maut keindahan (Hikayat Inderaputera).

Bila daya tarik yang kuat dari keindahan itu diatasi, maka timbullah efek penyembuh dari yang indah. Yang indah merupakan penglipur atau penghibur hati (Hikayat Pandawa Jaya). Jadi yang indah dalam aspek psikologisnya membangkitkan berahi akan keindahan dan menimbulkan heran. Bila berahi dan heran itu begitu kuat, hingga akal hilang dayanya, maka timbullah kegoncangan jiwa, lupa dan merca. Tetapi bila orang dapat menguasai jiwanya atau bijaksana, maka yang indah menjadi penglihatan dan penghibur hati.

ESTETIKA DALAM KAKAWIN JAWA KUNA

Seperti dalam sastra Melayu, estetik dalam kakawin Jawa Kuno hanya bisa dirumuskan berdasarkan ucapan-ucapan sang kawi, yang terdapat dalam kakawin, khususnya dalam manggala dan penutup. Tidak terdapat teks khusus mengenai teori keindahan dan poetika. Pokok2 estetis dalam kakawin Jawa Kuna dapat dirumuskan sebagai berikut:

Sang kawi memulai karyanya dengan menyembah dewa pilihannya (istadewata), yang dipujanya sebagai dewa keindahan. Bagi sang kawi dewa itu baik menjadi asal dan tujuan segala yang indah, maupun menjelma di dalam segala sesuatu yang indah (lango).  Sang kawi mohon pertolongan dewa jujaannya dengan mempersatukan diri dengannya (dewasraya).

Persatuan dengan dewa keindahan itu merupakan sarana dan tujuan. Sarana: persatuan itu membuat sang kawi “bertunas keindahan” (alung lango); dengan begitu ia berhasil menciptakan karya keindahan (kalangwan), yakni kakawin. Tujuan: dengan persatuan dengan dewa keindahan serta penciptaan karya keindahan itu sang kawi berharap akan mencapai kelepasan (moksa). Kakawin menjadi candi, tempat semayam dewa keindahan, dan silunglung, bekal kematian sang kawi. Persatuan dengan dewa keindahan dan penciptaan kakawin merupakan yoga yang khas bagi sang kawi, yakni yoga keindahan dan yoga sastra. Dewa keindahan, sebagai Yang Mutlak dalam alam niskala, berkat samadi sang kawi, berkenan turun dan bersemayam di dalam sakala-niskala, yakin jiwa atau hati sang kawi (jnana, hidep, tutur).

Keadaan itu membuat sang kawi dapat berhubungan dengan dewa yang nampak dalam alam sakala, dalam Segala sesuatu yang indah. Dengan menyadari kesatuannya dengan dewa di dalam aneka ragam  pernyataannya itu, sang kawi pun menyadari kesatuannya dengan dewa di alam niskala, yang menjadi tujuan akhir dari yoga.

Untuk menemukan dewa keindahan, yang menjelma dalam alam sakala itu, sang kawi mengembara, menjelajah gunung (awukiran) dan pantai, hutan dan petirtaan (atirtha), sambil berlaku tapa (abrata). Sang kawi rindu akan keindahan alam dan ingin menjelmakannya dalam kakawin. Alam pun rindu untuk ditangkap keindahannya oleh sang kawi dan dijelmakan dalam kakawin.

Keindahan yang ditemukan oleh sang kawi dalam alam juga terbayang di mana-mana, khususnya dalam pertempuran, kecantikan wanita dan percintaan. Pertempuran kerap kali dilukiskan dengan gambaran2 dari alam. Begitu pula kecantikan wanita. Bahkan wanita yang sangat  cantik dikatakan: kecantikannya melebihi keindahan alam. Berhadapan dengan wanita dalam percintaan menimblkan rasa, seperti yang dialami, bila orang berhadapan dengan keindahan alam dan terlibat dalam pertempuran.

Alam dan manusia menyatu dalam keindahan. Berhadapan dengan alam, yang begitu menarik dan “mempeseona” (alango), sang kawi, pencinta keindahan (mango), “terpesona (alango), terserap seluruhnya dan tenggelam dalam obyek yang dipandangnya (lengeng, lengleng), hingga segala sesuatu yang lain lenyap dan terlupakan. Semua kegiatan budi berhenti. Persepsi obyek sendiri menjadi samar-samar dan dalam pengalaman kesatuan, yang mengaburkan pemisahan subjek dengan obyek itu, kesadaran diri pun lenyap pula. Itulah pengalaman ekstatis, yang merangkum pengalaman estetis dan mistis/religius.

Pengalaman estetis sang kawi itu bukan melulu ketertengggelaman dalam keindahan alam, yang sensual dan fenomental belaka, belainkan ketertenggalaman dalam Yang Mutlak, di mana sang kawi mengatasi segala macam nafsu dan godaan. Diterapkan dalam hubungan kakawin dengan pembaca atau pendengarnya, dapat dikatakan, bahwa kakawin menimbulkan pada pembaca atau pendengarnya pengalaman sang kawi itu: tenggelam dalam alam fenomenal, tembus sampai ke hakekatnya, bertemu dengan “Sang Keindahan” sendiri.

Berdasarkan pokok2 estetik di atas, dapat dikatakan bahwa istilah lango, lengeng, lengleng merupakan konsep sentral dalam estetik pada kawi. Aspek2nya dapat dirumuskan sebagai berikut:

Aspek Ontologis dari lango memiliki 3 taraf:

Taraf imaterial/transenden: dewa, “Sang Keindahan”, sebagai Yang Mutlak (alam niskala).

Taraf imaterial-material/transenden-imanen: dewa, “Sang Keindahan”, yang bersemayam dalam hati sang kawi dan dipuja dalam samadi (alam sakala-niskala).

Taraf material/imanen: dewa “Sang Keindahan” yang menjelama dalam segala sesuatu yang nampak, terindera dan dijelmakan kembali oleh sang kawi dalam kakawin (alam sakala).

Sesuai dengan aspek ontologis itu, aspek psikologis dari lango, yang sekaligus juga merupakan aspek religius -seperti dalam yoga – memuat tiga tahap:

Tahap konsentrasi (dhyana): jiwa sang kawi terpusat pada obyek (alam fenomenal). Tahap meditasi (dharana): jiwa sang kawi terpenuhi “bayangan” dewa, sehingga aneka ragam rupa obyek lenyap.

Tahap unifikasi (samadhi): kesadaran diri lenyap, sang kawi tenggelam dalam persatuan dengan Yang Mutlak. Aspek psikologis lango pada sang kawi itu mutatis mutandis juga merupakan aspek psikologis pada pembaca atau pendengar, bila berhadapan dengan obyek, kalangwan, ‘karya keindahan’, yakni kakawin.

Mengingat aspek ontologis dan psikologis-religius itu, dapat dikatakan, bahwa dalam kakawin fungsi estetis berpadu dengan fungsi religius. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa kerap kali dalam kakawin terdapat bagian-bagian, yang memuat ajaran etis-religius (niti, tutur).Mengingat aspek2 itu pula, nampaklah bahwa dalam estetik para kawi termuat ciri2 idealis dan materialis.

Dari uraian di atas nampaklah bahwa ada persamaan dan perbedaan dalam estetik sastra Melayu Klasik dan kakawin Jawa Kuna. Namun demikian, yang diutarakan dalam tulisan ini berulah pokok2-nya saja. Perumusan teoritis beserta dengan segala nuansanya masih perlu dikerjakan. Jika bahasa itu terungkap dalam tulisan yang bermakna, berbobot, mengesankan, maka kita masuk ke dalam dunia sastra. Jadi sastra pada dasar filsafahnya adalah primer: suatu pewahyaan ada (en offenbar werden des Seins). Dan baru secara sekunder atau tersier berciri pewahyaan secara indah, menarik, kolosal, penuh hikmah, simbolisasi, impresionistik, surrealistik, magis-realistik, absurd, mitologis, religius (Y.B. Mangunwijaya, dan Basis, Januari 1986, XXXV, 1, berjudul Sastra dan Bentuk Hidup).

REPETISI

  1. Bagaimana etimologi Barat maupun etimologi Timur tentang sastra?
  2. Pendapat Sartre tentang sastra dipengaruhi oleh pendapatnya tentang keberadaan. Bagaimana pendapat Sartre tentang keberadaan? Apa pendapat Sartre tentang sastra?
  3. Apa yang dimaksud dengan sastra terlibat?

Soal Sisipan untuk Teori Sastra

  1. Tunjukkan bahwa sastra itu dekat kehidupan kita sehari-hari!
  2. Sebutkan dan jelaskan yang menjadi sifat-sifat sastra menurut Wellek?
  3. Bagaimana pandangan Sartre mengenai sastra? Apa yang dimaksudkan dengan ‘sastra terlibat’? Jelaskan!

Hasil diskusi, sharing kelompok ttg KEINDAHAN

  1. Saat merasakan keindahan
  1. Pemandangan alam, sunset di pantai, sungai.
  2. Keindahan alam: masuk ke hutan, pepohonan hijau, suara burung cenderawasih, tebing yang terjal – melihat pemandangan di bawahnya dan pantai indah, dengan pulau2 kecil di sekitarnya, jalan berliku-liku, gunung Merapi di pagi hari.
  3. Ketika berkhayal, naik gunung, berdoa, melihat seseorang yang memberi senyuman, membaca karya sastra, membaca karya sastra.
  4. Melihat wanita cantik, membangkitkan gairah, menimbulkan rasa mendalam, melihat film romantis, di dampingi seseorang yg dicintai, liburan di tempat sejuk.
  5. Melihat sepak bola, musik yg menyentuh hati, pantai yang damai.
  6. Melihat anak yang ceria; melihat senja merah uda; jatuh cinta;melihat bunga-bunga di taman; pemandangan di pantai; naik gunung; hijau atau kuningnya sawah,  mendengarkan musik cinta.
  7. Melihat penderitaan dan kesedihan, orang2 yang kekurangan – masih bisa bersyukur karena masih hidup; melihat pemandangan hijau, air terjun yg mengalir; di pantai bersama keluarga; melihat
  1. Yang dirasakan saat alami keindahan
  1. Kagum, terpesona, tenang, damai, bahagia, senyum sendiri.
  2. Kagum, kepuasan batin, suka cita
  3. Kagum, terpesona, happy, menikmatinya, senang.
  4. Terbawa suasana, membangkitkan imaginasi, angan-angan, terpesona, kagum.
  5. Takjub, bersyukur kepada Tuhan, senang.
  6. Sadar bahwa diriku kecil di hadapan semesta, bagai sebutir debu di Nebula Raya, bersyukur kepada pemberi kehidupan.

MITOS  GUA

Untuk menjelaskan tataran pengetahuan manusia, Plato dalam Republic VII  memberi gambaran yang dikenal dengan mitos tentang  gua.

Orang  I yang tidak mempunyai pengetahuan  mengenai  kenyataan adalah  seperti tahanan yang dirantai lehernya dalam sebuah  gua. Ia  tidak bisa melihat apa-apa kecuali dinding gua dan bayang-bayang  yang terpantul  padanya.  Ia hanya mampu melihat apa yang  oleh  Plato disebut angan-angan atau  ilusi (eikasia).

Orang II: Apabila orang ini  dibebaskan  dan  boleh menghadap ke mulut gua, ia akan  lebih  mendekati kenyataan dengan melihat api dan orang yang hilir mudik di  sana.

Orang III: Akan tetapi, ia akan lebih bebas, apabila   dikeluarkan dari gua  sama sekali  dan  melihat kenyataan di luar  gua.  Pengetahuan  sejati tercapai bila ia sampai menengadah ke atas dan melihat matahari.

Mitos Gua: 1. Orang tahanan dalam gua (eikasia).  2. Orang bebas dalam gua (api). 3. Orang bebas di luar gua (matahari)

 

Sumber :  asahasih.wordpress.com

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s