Artikel Populer : Membangun kecerdasan Emosi Pada Anak

Membangun kecerdasan Emosi Pada Anak

by Rinastkip

 

Dahulu, orang mengagung-agungkan kepandaian otak (IQ) sebagai kunci sukses. Namun faktanya, menurut hasil penelitian para ahli, orang sukses tidak selalu jenius atau memiliki IQ tinggi dan orang yang memiliki IQ tinggi belum tentu sukses. Ada faktor lain yang menunjang kesuksesan seseorang di luar IQ yaitu EQ. EQ memiliki peranan yang lebih besar pada keberhasilan seseorang dibandingkan IQ. Orang yang mampu menggabungkan IQ dan EQ akan memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi.

Kecerdasan emosional atau Emotional Quotation (EQ) adalah kemampuan untuk memahami gejolak emosi , kemampuan mengungkapkan perasaan secara benar, kemampuan untuk mengendalikan emosi, kemampuan untuk mengelola emosi dan kemampuan untuk mengerti keadaan yang dialami oleh orang lain (empati). Tidak ada patokan resmi untuk mengukur tingkat EQ seseorang tetapi dampaknya dapat dirasakan baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Banyak ahli berpendapat kecerdasan emosi yang tinggi akan sangat berpengaruh pada peningkatan kualitas hidup. Kecerdasan emosi terus berkembang dari lahir hingga tutup usia.

Kecerdasan emosi dibentuk sejak kecil karena itu orang tua memiliki peranan sangat penting dalam membangun kecerdasan emosi anak. Orang tua harus membina, mengajar, membimbing, dan memberi teladan.

Unsur yang membangun kecerdasan emosi, yaitu :

  1. Memahami diri sendiri
    Kecerdasan emosi seseorang akan membantu anak tersebut untuk dapat menerima diri apa adanya. Nyaman dengan keadaan yang ada padanya. Hal ini membuat dia merasa percaya diri dan mampu menggali hal-hal yang baik dalam dirinya dan menerima hal-hal yang kurang baik.
  2. Mampu mengelola emosi sendiri
    Luapan emosi yang timbul tidak meledak-ledak dan tidak terkontrol tapi mampu disalurkan dengan benar sehingga emosi itu bisa membawa dampak positif bagi dirinya dan orang lain.
  3. Memotivasi diri sendiri
    Memiliki semangat juang yang tinggi untuk maju, untuk belajar, suka tantangan, suka hal-hal baru dan mampu mengembangkan potensinya dengan baik.
  4. Kemampuan memahami masalah dan memecahkan masalah itu
    Ketika menghadapi masalah, anak mampu memahami penyebab dari masalah itu dan mampu mencari solusi sekalipun peran orang tua untuk membimbing diperlukan.
  5. Kemampuan beradaptasi
    Mampu mengenali lingkungan sekitar dan menyesuaikan diri serta menjadi teman yang menyenangkan bagi orang lain.
  6. Memahami emosi orang lain (empati)
    Dapat mengerti dan merasakan apa yang terjadi pada anak lain. Hal ini membantu anak untuk menentukan sikap dalam suatu keadaan.
  7. Mampu membina hubungan sosial
    Kemampuannya beradaptasi dan berempati membuat seorang anak memiliki hubungan sosial yang baik di antara teman-temannya. (JC)

(sumber : anakibu.com)

Artikel :15 Cara Meningkatkan Kecerdasan Anak

15 Cara Meningkatkan Kecerdasan Anak

Linda Mayasari – detikHealth

Jakarta, Memiliki anak yang kreatif dan cerdas adala impian semua orang tua. Membangun kecerdasan anak, sepenuhnya adalah kewajiban Anda sebagai orang tua. Oleh karena itu, Anda harus mempelajari hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan kemampuan berpikir anak.

Seperti dilansir dari ivillage, Rabu (17/7/2012), berikut 15 hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu meningkatkan kecerdasan intelektual anak, antara lain:

1. Sediakan sarapan sehat setiap pagi

Menurut penelitian yang dilakukan di Ulm University, Jerman, pelajar yang mengawali hari dengan sarapan pagi setiap harinya, memiliki memori yang tajam dan lebih waspada dibandingkan dengan pelajar lain yang melewatkan sarapan pagi.

Sebuah studi dari Inggris juga menemukan bahwa sarapan yang kaya karbohidrat kompleks membantu anak-anak mempertahankan kinerja mental, khususnya mempengaruhi perhatian dan memori.

Berikan sarapan sehat seperti buah, sereal gandum, susu rendah lemak dan makanan kaya protein seperti kacang-kacangan dan telur agar anak mendapatkan sumber utama bahan bakar yang dibutuhkan otak.

2. Berikan beberapa pertanyaan untuk memancing ide anak

Tanyakan kepada anak beberapa pertanyaan, seperti bagaimana harinya di sekolah, atau dimana liburan terbaik menurutnya. Hal ini akan mendorong anak Anda untuk memikirkan ide-ide baru yang dapat membantu menciptakan hubungan saraf baru di otak.

3. Bangun suasana keluarga yang hangat

Penelitian menunjukkan bahwa suasana emosional yang hangat dan stabil sangat penting untuk perkembangan fungsi kognitif dan ketrampilan anak. Sebaliknya, anak-anak dengan orang tua yang keras memiliki risiko yang lebih besar terhadap masalah ketrampilan.

4. Memprioritaskan jam tidur anak

Jika anak Anda tidak memiliki waktu yang cukup untuk tidur, dirinya mungkin akan kehilangan kemampuan otak yang berharga.

Tidur mempengaruhi setiap aspek fungsi kognitif anak, termasuk perhatian, memori, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak mendapatkan cukup tidur lebih mungkin untuk berperilaku buruk di sekolah dan kesulitan memusatkan perhatian pada pelajaran.

Tetapkan waktu tidur yang konsisten dan waktu bangun untuk anak Anda, matikan TV, komputer atau perangkat lain dua jam sebelum anak berangkat tidur.

5. Penuhi asupan asam lemak omega-3 pada anak

Asam lemak omega-3 bermanfaat bagi otak dengan mengaktifkan area otak yang berpotensi mendorong peningkatan perhatian, memori dan aspek kognitif lainnya.

Berikan suplemen minyak ikan dan beberapa makanan lain yang diperkaya oleh asam lemak omega-3 dan DHA.

6. Ajak anak berolahraga

Aktivitas fisik yang teratur bermanfaat terhadap kesehatan secara keseluruhan dan juga fungsi otak.

Sebuah penelitian terbaru di Medical College of Georgia di Augusta menemukan bahwa ketika anak-anak yang kelebihan berat badan pada usia 7 sampai 11 dan berolahraga selama 20 atau 40 menit sehari, mengalami perbaikan fungsi kognitif otak setelah 13 minggu.

Hal tersebut terjadi karena gerak mengaktifkan daerah penting di otak yang mempengaruhi daya pikir anak. Ajak anak untuk melakukan olahraga pilihannya atau ajaklah anak bersepeda secara rutin.

7. Kenalkan permainan edukatif pada anak

Permainan seperti teka-teki membutuhkan ketrampilan, strategi dan memori otak untuk menyelesaikannya. Bermain permainan yang edukatif dapat membantu otak anak Anda menjalin hubungan saraf baru.

8. Batasi waktu anak menonton TV

Terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk menonton TV dan bermain video game telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kelebihan berat badan, makan makanan tidak sehat dan hal lainnya yang berhubungan dengan masalah kesehatan.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa siswa yang menghabiskan lebih banyak waktu menonton TV selama minggu, tidak dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya di sekolah.

American Academy of Pediatrics merekomendasikan untuk membatasi waktu menonton TV maksimal dua jam per hari.

9. Sediakan camilan sehat untuk anak

Makanan ringan dapat memberikan tambahan asupan pada otak, tetapi tergantung pada konten gizinya.

Para peneliti di University of Southern California Institute for Prevention Research menemukan bahwa kemampuan fungsi kognitif anak berhubungan negatif dengan asupan makanan ringan yang tinggi kalori dan berhubungan positif dengan asupan buah dan sayuran.

Anak-anak yang kurang makan tidak memiliki nutrisi yang tepat untuk perkembangan otak, sehingga penuhi kebutuhan makanan anak dengan emnyediakan makanan ringan yang sehat.

10. Ajak anak berlatih memainkan alat musik

Peneliti dari Perancis menyatakan bahwa pelatihan musik selama 6 bulan saja dapat mempengaruhi kemampuan kognitif anak.

Kemampuan membaca anak meningkat dan anak menjadi mudah menangkap arah pembicaraan orang lain. Pelatihan musik juga mendorong pengembangan saraf yang tercermin dalam pola tertentu dari gelombang otak.

11. Berikan asupan vitamin melalui buah dan sayuran

Buah dan sayuran yang sarat akan kandungan vitamin dan mineral dapat meningkatkan kesehatan phytochemical. Buah dan sayuran juga kaya antioksidan, yang melawan radikal bebas dan melindungi perkembangan otaknya.

Dalam studi di University of Southampton di Inggris menemukan bahwa anak yang mengonsumsi sayuran dan buah-buahan memiliki skor IQ lebih tinggi baik secara keseluruhan maupun verbal.

12. Bantu anak mengatasi stres

Stres pada anak dapat mengganggu fungsi otaknya. Dalam sebuah penelitian terhadap anak-anak usia 9 sampai 12 tahun, para peneliti di University of Malaga di Spanyol menemukan bahwa anak yang merasa stres memiliki hasil ujian yang melibatkan kecepatan memori dan perhatian yang lebih buruk daripada anak-anak yang tidak stres.

Jika anak Anda cemas tentang suatu hal, ajak anak berkomunikasi dan selesaikan masalah yang dialamai anak bersama. Ajak anak melakukan hal-hal yang menyenangkan agar terhindar dari stres.

13. Kurangi kebisingan

Penelitian yang dilakukan di University of London menemukan bahwa anak-anak yang tinggal di lingkungan yang bising akan kesulitan dalam memahami buku yang dibacanya.

Sementara itu, peneliti dari Kyoto University di Jepang menemukan bahwa anak-anak yang secara konsisten terkena kebisingan memiliki nilai yang lebih rendah pada tes memori.

Jika lingkungan rumah Anda rentan dengan kebisingan eksternal, lakukan langkah-langkah seperti memasang jendela ganda, tirai yang berat dan alat peredam kebisingan.

14. Biarkan anak Anda mengakrabkan diri dengan alam

Menghabiskan waktu di luar rumah dapat meningkatkan fungsi otak anak Anda, terutama perhatian, konsentrasi, kontrol impuls dan memori.

Alam tampaknya meremajakan otak dengan memberikan kesempatan pada mental otot untuk beristirahat.

Biarkan anak bermain-main di alam setidaknya selama 20 menit sehari. Anak dapat menghabiskan waktu di alam dengan membaca buku di taman, bersepeda di jalanan yang ditumbuhi pepohonan, dan bermain sepak bola.

15. Rapikan rumah Anda

Keadaan rumah yang berantakan dan tidak teratur mengarah pada pikiran yang kacau. Penelitian menunjukkan bahwa keadaan rumah yang berantakan dapat mempengaruhi fungsi intelektual anak.

Anak-anak yang berkembang dalam lingkungan yang rapi dan terstruktur, memiliki daya pikir yang lebih cemerlang dan fokus.

Sumber : http://www.detik.com

Artikel : Membangun Karakter melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Kawan, jika saya ditanya kapan sih waktu yang tepat untuk menentukan kesuksesan dan keberhasilan seseorang? Maka, jawabnya adalah saat masih usia dini. Benarkah? Baiklah akan saya bagikan sebuah fakta yang telah banyak diteliti oleh para peneliti dunia.

Pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (golden age).

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.

Nah, oleh karena itu, kita sebagai orang tua hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang. Kita sebagai orang tua kadang tidak sadar, sikap kita pada anak justru akan menjatuhkan si anak. Misalnya, dengan memukul, memberikan pressure yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri atau minder, penakut dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa. Ketika dewasa karakter semacam itu akan menjadi penghambat baginya dalam meraih dan mewujudkan keinginannya. Misalnya, tidak bisa menjadi seorang public speaker gara-gara ia minder atau malu. Tidak berani mengambil peluang tertentu karena ia tidak mau mengambil resiko dan takut gagal. Padahal, jika dia bersikap positif maka resiko bisa diubah sebagai tantangan untuk meraih keberhasilan. Anda setuju kan?

 

Banyak yang mengatakan keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa jenius otak kita. Semakin kita jenius maka semakin sukses. Semakin kita meraih predikat juara kelas berturut-turut, maka semakin sukseslah kita. Benarkah demikian? Eit tunggu dulu!

Saya sendiri kurang setuju dengan anggapan tersebut. Fakta membuktikan, banyak orang sukses justru tidak mendapatkan prestasi gemilang di sekolahnya, mereka tidak mendapatkan juara kelas atau menduduki posisi teratas di sekolahnya. Mengapa demikian? Karena sebenarnya kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan otak kita saja. Namun kesuksesan ternyata lebih dominan ditentukan oleh kecakapan membangung hubungan emosional  kita dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Selain itu, yang tidak boleh ditinggalkan adalah hubungan spiritual kita dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Tahukah anda bahwa kecakapan membangun hubungan dengan tiga pilar (diri sendiri, sosial, dan Tuhan) tersebut merupakan karakter-karakter yang dimiliki orang-orang sukses. Dan, saya beritahukan pada anda bahwa karakter tidak sepenuhnya bawaan sejak lahir. Karakter semacam itu bisa dibentuk. Wow, Benarkah? Saya katakan Benar! Dan pada saat anak berusia dini-lah terbentuk karakter-karakter itu. Seperti yang kita bahas tadi, bahwa usia dini adalah masa perkembangan karakter fisik, mental dan spiritual anak mulai terbentuk. Pada usia dini inilah, karakter anak akan terbentuk dari hasil belajar dan menyerap dari perilaku kita sebagai orang tua dan dari lingkungan sekitarnya. Pada usia ini perkembang mental berlangsung sangat cepat. Pada usia itu pula anak menjadi sangat sensitif dan peka mempelajari dan berlatih sesuatu yang dilihatnya, dirasakannya dan didengarkannya dari lingkungannya. Oleh karena itu, lingkungan yang positif akan membentuk karakter yang positif dan sukses.

 

Lalu, bagaimana cara membangun karakter anak sejak usia dini?

Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya. Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.

Nah, sekarang kita memahami mengapa membangun pendidikan karakter anak sejak usia dini itu penting. Usia dini adalah usia emas, maka manfaatkan usia emas itu sebaik-baiknya.

 

Bahan Kuliah / Makalah : TEORI ORGANISASI

TEORI ORGANISASI

 

Manusia adalah mahluk social yang cinderung untuk hidup bermasyarakat serta mengatur dan mengorganisasi kegiatannya dalam mencapai sautu tujuan tetapi karena keterbatasan kemampuan menyebabkan mereka tidak mampu mewujudkan tujuan tanpa adanya kerjasama. Hal tersebut yang mendasari manusia untuk hidup dalam berorganisasi.

 

Beberapa definisi tentang Organisasi:

Menurut ERNEST DALE:

Organisasi adalah suatu proses perencanaan yang meliputi penyusunan, pengembangan, dan pemeliharaan suatu  struktur atau pola hubunngan kerja dari orang-orang dalam suatu kerja kelompok.

 

Menurut CYRIL SOFFER:

Organisasi adalah perserikatan orang-orang yang masing-masing diberi peran tertentu dalam suatu system kerja dan pembagian dalam mana pekerjaan itu diperinci menjadi tugas-tugas, dibagikan kemudian digabung lagi dalam beberapa bentuk hasil.

 

Menurut KAST & ROSENZWEIG:

Organisasi adalah sub system teknik, sub system structural, sub system pshikososial dan sub system manajerial dari lingkungan yang lebih luas dimana ada kumpulan orang-orang berorenteasi pada tujuan.

 

Definisi UMUM:

“Kelompok orang yang secara bersama-sama ingin mencapai tujuan”

 

CIRI-CIRI ORGANISASI:

  • Lembaga social yang terdiri atas kumpulan orang dengan berbagai pola interaksi yang ditetapkan.
  • Dikembangkan untuk mencapai tujuan
  • Secara sadar dikoordinasi dan dengan sengaja disusun
  • Instrumen social yang mempunyai batasan yang secara relatif dapat diidentifikasi.

Dubawah ini merupakan bagan tentang perkembangan teori organisasi:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. TEORI ORGANISASI KLASIK

Teori ini biasa disebut dengan “teori tradisional” atau disebut juga “teori mesin”. Berkembang mulai 1800-an (abad 19).  Dalam teori ini organisasi digambarkan sebuah lembaga yang tersentralisasi dan tugas-tugasnnya terspesialisasi serta memberikan petunjuk mekanistik structural yang kaku tidak mengandung kreatifitas.

 

Dalam teori ini organisasi digambarkan seperti toet piano dimana masing-masing nada mempunyai spesialisasi (do.. re.. mi.. fa.. so.. la.. si..) dimana apabila tiap nada dirangkai maka akan tercipta lagu yang indah begitu juga dengan organisasi.

 

Dikatakan teori mesin karena organisasi ini menganggab manusia bagaikan sebuah onderdil yang setiap saat bisa dipasang dan digonta-ganti sesuai kehendak pemimpin.

Defisi Organisasi menurut Teori Klasik:

 

Organisasi merupakan struktur hubungan, kekuasaan-kejuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan, kegiatan-kegiatan, komunikasi dan factor-faktor lain apabila orang bekerja sama.

 

Teori Organisasi klasik sepenuhnya menguraikan anatomi organisasi formal. Empat unsure pokok yang selalu muncul dalam organisasi formal:

  1. Sistem kegiatan yang terkoordinasi
  2. Kelompok orang
  3. Kerjasama
  4. Kekuasaan & Kepemimpinan

Sedangkan menurut penganut teori klasik suatu organisasi tergantung pada empat kondisi pokok: Kekuasaan) Saling melayani) Doktrin) Disiplin)

Sedangkan yang dijadikan tiang dasar penting dalam organisasi formal adalah:

  1. Pembagian kerja (untuk koordinasi)
  2. Proses Skalar & Fungsional (proses pertumbuhan vertical dan horizontal)
  3. Struktur (hubungan antar kegiatan)
  4. Rentang kendali (berapa banyak atasan bisa mengendalikan bawahan).

 

Teori Klasik berkembang dalam 3 Aliran:

¨       BIROKRASI) Dikembangkan dari Ilmu Sosiologi

¨       ADMINISTRASI) Langsung dari praktek manajemen memusatkan Aspek Makro sebuah organisasi.

¨       MANAJEMEN ILMIAH)  Langsung dari praktek manajemen memusatkan Aspek Mikro sebuah organisasi.

Semua teori diatas dikembangkan sekitar tahun 1900-1950. Pelopor teori ini kebanyakan dari sebuah negara berbentuk kerajaan “Mesir, Cina & Romawi”.

 

 

TEORI BIROKRASI

Dikemukakan oleh “MAX WEBER” dalam buku “The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism” dan “The Theory of Social and Economic Organization”.

Istilah BIROKRASI berasal dari kata LEGAL_RASIONAL:

“Legal” disebakan adanya wewenang dari seperangkat aturan prosedur dan peranan yang dirumuskan secara jelas.  Sedangkan “Rasional”  karena adanya penetapan tujuan yang ingin dicapai.

Karekteristik-karekteristik birokrasi menurut Max Weber:

©       Pembagian kerja

©       Hirarki wewenang

©       Program  rasional

©       Sistem Prosedur

©       Sistem Aturan hak kewajiban

©       Hubungan antar pribadi yang bersifat impersonal

 

 

TEORI ADMINISTRASI

Teori ini dikembangkan oleh Henry Fayol, Lyndall Urwick dari Eropa  dan James D. Mooney, Allen Reily dari Amerika.

 

HENRY FAYOL (1841-1925): Seorang industrialis asal Perancis tahun 1916 menulis sebuah buku “Admistration industrtrielle et Generale” diterjemahkan dalam bahasa inggris 1926 dan baru dipublikasikan di amerika 1940.

14 Kaidah manjemen menurut Fayol yang menjadi dasar teori administrasi:

ª       Pembagian kerja

ª       Wewenang & tanggung jawab

ª       Disiplin

ª       Kesatuan perintah

ª       Kesatuan pengarahan

ª       Mendahulukan kepentingan umum

ª       Balas jasa

ª       Sentralisasi

ª       Rantai Skalar

ª       Aturan

ª       Keadilan

ª       Kelanggengan personalia

ª       Inisiatif

ª       Semangat korps

 

Fayol membagi kegiatan industri menjadi 6 kelompok:

  • Kegiatan Teknikal (Produksi, Manufaktur, Adaptasi)
  • Kegiatan Komersil (Pembelian, Penjualan, Pertukaran)
  • Kegiatan Financial (penggunaan optimum modal)
  • Kegiatan Keamanan
  • Kegiatan Akuntansi
  • Kegiatan Manajerial atau “FAYOL’s FUNCTIONALISM” yaitu:
  1. Perencanaan
  2. Pengorganisasian
  3. Pemberian perintah
  4. Pengkoordinasian
  5. Pengawasan

 

JAMES D. MOONEY & ALLEN REILLY :1931) Menerbitkan sebuah buku “ONWARD INDUSTRY” inti dari pendapat mereka adalah “koordinasi merupakan factor terpenting dalam perencanaan organisasi”. Tiga prinsip yang harus diterapkan dalam sebuah organisasi menurut mereka adalah:

  1. Prinsip Koordinasi
  2. Prinsip Skalar & Hirarkis
  3. Prinsip Fungsional

 

 

MANAJEMEN ILMIAH

Dikembangkan tahun 1900 oleh FREDERICK WINSLOW TAYLOR).  Definisi Manajemen Ilmiah:

“Penerapan metode ilmiah pada studi, analisa dan pemecahan masalah organisasi” atau “Seperangkat mekanisme untuk meningkatkan efesiensi kerja”.

 

F.W. TAYLOR menuangkan ide dalam tiga makalah: “Shop Management”, “The Principle Oif Scientific Management” dan “Testimony before the Special House Comitte”.  Dari tiga makalah tersebut lahir sebuah buku “Scientific Management”.

 

Berkat jasa-jasa yang sampai sekarang konsepnya masih dipergunakan pada praktek manajemen modern maka F.W. TAYLOR dijuluki sebagai “BAPAK MANAJEMEN ILMIAH”.

 

Empat kaidah Manajemen menurut Frederick W. Taylor:

  1. Menggantikan metode kerja dalam praktek dengan metode atas dasar ilmu pengetahuan.
  2. Mengadakan seleksi, latihan dan pengembangan karyawan
  3. Pengembangan ilmu tentang kerja, seleksi, latihan dan pengembangan secara ilmiah perlu intregasikan.
  4. Perlu dikembangkan semangat dan mental karyawan untuk mencapai manfaat manajemen ilmiah

 

 

 

 

 

 

  1. TEORI NEOKLASIK

Aliran yang berikutnya muncul adalah aliran Neoklasik disebut juga dengan “Teori Hubungan manusiawi”. Teori ini muncul akibat ketidakpuasan dengan teori klasik dan teori merupakan penyempurnaan teori klasik. Teori ini menekankan pada  “pentingnya aspek psikologis dan social karyawan sebagai individu ataupun kelompok kerja”.

 

HUGO MUNSTERBERG

Salah tokoh neoklasik pencetus “Psikologi Industri”. Hugo menulis sebuah buku “Psychology and Industrial Effeciency” tahun 1913. Buku tersebut merupakan jembatan antara manajemen ilmiah dan neoklasik. Inti dari pandangan Hugo adalah menekankan adanya perbedaan karekteristik individu dalam organisasi dan mengingatkan adannya pengaruh factor social dan budaya terhadap organisasi.

 

Munculnya teori neoklasik diawali dengan inspirasi percobaan yang dilakukan di Pabrik Howthorne tahun 1924 milik perusahaan Western Elektric di Cicero yang disponsori oleh Lembaga Riset Nasional Amerika. Percobaan yang dilakukan ELTON MAYO seorang riset dari Western Electric menyimpulkan bahwa pentingnya memperhatikan insentif upah dan Kondisi kerja karyawan dipandang sebagai factor penting peningkatan produktifitas.

 

Dalam pembagian kerja  Neoklasik memandang perlunya:

  1. Partisipasi
  2. Perluasan kerja
  3. Manajemen bottom_up

 

 

  1. TEORI MODERN

Teori ini muncul pada tahun 1950 sebagai akibat ketidakpuasan dua teori sebelumnya yaitu klasik dan neoklasik. Teori Modern sering disebut dengan teori “Analiasa Sistem” atau “Teori Terbuka” yang memadukan antara teori klasik dan neokalsi. Teori Organisasi Modern melihat bahwa semua unsure organisasi sebagai satu kesatuan  yang saling bergantung dan tidak bisa dipisahkan. Organisasi bukan system tertutup yang berkaitan dengan lingkungan yang stabil akan tetapi organisasi merupakan system terbuka yang berkaitan dengan lingkunngan dan apabila ingin survivel atau dapat bertahan hidup maka ia harus bisa beradaptasi dengan lingkungan.

 

TEORI MODERN vs TEORI KLASIK
  1. Teori Klasik memusatkan pandangan pada analisa dan deskripsi organisasi sedangkan Teori Modern menekankan pada perpaduan & perancangan sehingga terlihat lebih menyeluruh.
  2. Teori Klasik membicarakan konsep koordinasi, scalar, dan vertical sedangkan Teori Modern lebih dinamis, sangat komplek, multilevel, multidimensi dan banyak variable yang dipertimbangkan.

PEDOMAN UMUM PEMBENTUKAN ISTILAH PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

PEDOMAN UMUM PEMBENTUKAN ISTILAH PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

KATA PENGANTAR

EDISI KETIGA

Sejak dikumandangkan sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia, penggunaan bahasa

Indonesia makin luas ke berbagai bidang kehidupan, bahkan berpeluang menjadi bahasa ilmu

pengetahuan. Peluang itu makin nyata setelah bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa Negara

(UUD 1945, Pasal 36) yang menepatkan bahasa itu sebagai bahasa resmi dalam penyelenggaraan

pemerintahan dan bahasa pengantar pendidikan serta bahasa dalam pengembangan ilmu penge-tahuan dan teknologi. Untuk itulah, diprlukan pengembangan peristilahan bahasa Indonesia da-lam berbagai bidang ilmu, terutama untuk kepentingan pendidikan anak-anak bangsa.

Kekayaan peristilahan suatu bahasa dapat menjadi indikasi kemajuan peradaban bangsa

pemilik bahasa itu karena kosakata, termasuk istilah, merupakan sarana pengungkap ilmu dan

teknologi serta seni. Sejalan dengn perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat

Indonesia dari waktu ke waktu, perkembangan kosakata/istilah trus menunjukkan kemajuan. Ke-majuan itu makin dipacu ketika kerja sama pengembangan bahasa kebangsaan bersama Malaysia

diarahkan pada pengembangan peristilahan. Dalam upaya member panduan dalam pengem-bangan peristilahan itulah disusun  Pedoman Umum Pembentukan Istilah  yang pertama terbit

tahun 1975. Setelah digunakan sekitar 14 tahun, pedoman itu disempurnakan kembali dan diter-bitkan sebagai edisi kedua dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor

0389/0/1988 tanggal 11 Agustus 1988. Di dalam prakata Pedoman Umum Pembentukan Istilah

edisi pertama berdasarkan pada Lembaran UNESCO: ISO/TC 32, International Organization for

Standardization, Draft ISO Recommendation, No. 781, Vocabulary of Terminology. Dalam edisi

ini perlu dikemukakan bahwa yang menangani peristilahan internasional bukan ISO/TC 32,

melainkan ISO/TC 37.

Perubahan tatanan kehidupan dunia yang baru, globalisasi, telah mengubah pola pikir dan

perilaku  masyarakat.   Seluruh  sendi kehidupan  masyarakat   mengalami   perubahan,  terutama

mengarah pada persiapan memasuki tatanan baru tersebut. Penggunaan bahasa asing, terutama

bahasa   Inggris,   memasuki   berbagai   sendi   kehidupan,   terutama   dalam   perkembangan   ilmu

pengetahuan  dan teknologi. Perubahan itu mewarnai perkembangan  kosakata/istilah  bahasa

3

Indonesia. Kosakata/istilah bahasa asing masuk ke dalam bahasa Indonesia bersama masuknya

ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan kebudayaan ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Berbagai perubahan itu perlu ditampung dalam proses pengalihan kosakata, khususnya istilah

bahasa asing, ke dalam  bahasa Indonesia. Untuk itu, pedoman pembentukan istilah yang tela

digunakan selama 30 tahun perlu ditinjau kembali agar menampung berbagai perubahan tersebut.

Dalam merealisasikan peninjauan kembali oedoman tersebut, pihak Indonesia mem-bentuk tim yang terdiri atas Prof. Dr. Anton M. Moeliono, Prof. Dr. Mien A. Rifai, dan Drs.

Fairul Zabadi (sekretaris) dengan penanggung jawab Dr. Dendy Sugono (Kepala Pusat Bahasa)

yang bertugas menyiapkan bahan penyempurnaan Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang

dipaparkan dalam siding ke-15 Pakar Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia

(Mabbim) yang diselenggarakan tanggal 10—14 September di Denpasar. Ihwal peninjauan

kembali pedoman tersebut dibahas dalam Sidang ke-41 Mabbim yang diadakn di Makassar pada

tanggal 13—15 Maret 2002 dan pihak Mabbim Indonesia diberi kepercayaan untuk melakukan

revisi pedoman tersebut. atas dasar itu, pihak Indonesia melanjutkan pembahasan hasil revisi

pedoman tersebut dalam rapat-rapat khusus di Pusat Bahasa Jakarta. hasil revisi pihak Indonesia

itu dibahas dalam sidang ke-42 Mabbim di Brunei Darussalam. Pedoman Umum Pembentukan

Istilah yang telah dibahas tersebut disempurnakan kembali oleh pihak Indonesia berdasarkan

hasil pembahasan dalam sidang tersebut dan selanjutnya dibahas dalam Musyawarah Sekretariat

Mabbim di Jakarta dengan wakil ketiga Negara anggota Mabbim, yaitu Dr. Dendy Sugono, Prof.

Dr. Anton M. Moeliono, Prof. Dr. Mien A. Rifai (Indonesia), Prof. Dr. DAto Hajah Asmah Haji

Omar   (Malaysia),  dan   Dr.  Mataim bin   Bakar  (Brunei  Darussalam).  Pembahasan   terutama

ditekankan   pada   bagan   prosedur   pembentukan   istilah   dan   masing-masing   negara   anggota

menyempurnakan pedoman tersebut. hasil penyempurnaan pedoman itu dibahas oleh Kelompok

Khusus yang dihadiri oleh wakil keiga negara anggota tersebut dalam Sidang Ke-17 Pakar

Mabbim di pulau Langkawi, Malaysia pada tanggal 8—12 September 2003, Indonesia diwakili

oleh Prof. Dr. Anton M. Moeliono. Akhirnya, hasil penyempurnaan pedoman tersebut diterima

sebagai hasil putusan Sidang Ke-43 Mabbim di Kuala Lumpur, Malaysia pada tanggal 9—11

Maret 2004 untuk diberlakukan di negara anggota Mabbinm dan diterbitkan sesuai dengan gaya

dan tata cara penerbitan yang berlaku di Negara masing-masing.

Pihak Mabbim Indonesia telah menerbitkan  hasil putusan Mabbim tersebut sebagai

Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Ketiga dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan

Nasional Nomor 146/U/2004 dan diluncurkan pada acara pembukaan Sidang Ke-44 Mabbim di

Mataram, Indonesia pada tanggal 7 Maret 2005. Untuk itu, kepada anggota tim revisi dan semua

pihak   yang   membantu   penyempurnaan   dan   penerbitan   pedoman   edisi   ketiga   ini   saya

menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus.

Penerbitan Pedoman Umum Pembentukan Istilah ini diharapkan dapat mempercepat laju

perkembangan istilaj bahasa Indonesia karena masyarakat dapat menciptakan istilah sendiri

berdasarkan tata cara pembentukan istilah yang dimuat dalam buku pedoman ini.

Jakarta, 28 Oktober 2005 Dendy Sugono

Kepala Pusat Bahasa

 

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

No. 146/U/2004 TENTANG PENYEMPURNAAN PEDOMAN UMUM PEMBENTUKAN ISTILAH

 

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

Menimbang    :

a.   bahwa   dengan   Keputusan   Menteri   Pendidikan   Nasional   dan

Kebudayaan  Nomor  0389/U/ 1988 tanggal 11 Agustus 1988 telah ditetapka

peresmian berlakunya Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Kedua;

b. bahwa sebagai akibat perkembangan kehidupan masyarakat, dipandang perlu

menetapkan kembali Keputusan Menteri Pendidikan Nasional tentang Penyempurnaan Pedoman

Umum Pembentukan Istilah;

Mengingat :

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 4301);

2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 102 Tahun 2000 tentang

Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Departemen,

sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun

2004;

3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 177 Tahun 2000 tentang

Susunan   Organisasi   dan   Tugas   Departemen,   sebagaimana   telah   diubah   dengan   Keputusan

Presiden Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001;

4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 mengenai

Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu.

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

Pertama :   Menyempurnakan  Pedoman   Umum   Pembentukan   Istilah,  sebagaimana

ditetapkan dengn Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0389/U/1988, menjadi

sebagimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.

Kedua :   Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 12 November 2004

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

ttd

Bambang Sudibyo

PRAKATA

EDISI PERTAMA

Kerja sama dan komunikasi di antara para ahli dan sarjana di lapangan pengetahuan dan

teknologi tambah lama perlu untuk menjamin kemajuan hidup yang dewasa ini dicirikan oleh

besarnya pengaruh ilmu dan teknologi di segala kehidupan dan kegiatan manusia.

Agar pertukaran informasi memperoleh hasil yang baik, istilah khusus, yang merupakan

sendi penting di dalam sistem ilmu pengetahuan, harus mempunyai makna yang sama bagi

semua orang yang menggunakannya. Kesepakatan umum tentang makna nama dan istilah khusus

serta penggunaannya secara konsisten akan menghasilkan keseragaman suatu kosakata khusus

yang memuat konsep, istilah, dan definisinya yang baku. Pembakuan tata nama dan tata istilah

khusus itu akan mempermudah pemahaman bersama dan memperlancar komunikasi ilmiah, baik

pada   taraf   nasional   maupun   pada   taraf   internasional,   serta   mengurangi   kekacauan,

kemaknagandaan, dan kesalahpahaman.

Di dalam pedoman umum ini, yang berdasar pada lembaran UNESCO: ISO/TC 32,

International   for   Standardization,   Draft   ISO   Recommendation,   No.   781,   Vocabulary   of

Terminology,  diberikan sekumpulan patokan dan saran yang dapat dipakai sebagai penuntun

dalam usaha pembentukan istilah. Pedoman khusus yang istimewa berlaku bagi suatu cabang

ilmu atau bidang tertentu sebaiknya   dijabarkan dari pedoman umum ini dan diperlengkapi

dengan peraturan tambahan yang perlu diterapkan.

Konsep pedoman  ini disusun oleh Profesor H. Johannes dan Anton M. Moeliono.

Naskahnya kemudian dibahas lebih lanjut di dalam Sanggar Kerja Peristilahan (Jakarta, 29—30

Juni 1973) yang dihadiri oleh empat puluh ahli terkemuka dari berbagai bidang ilmu. Naskah

yang direvisi, setelah itu, berulang-ulang diolah oleh Komisi Tata Istilah, Panitia Pengembangan

Bahasa Indonesia ( Profesor Andi Hakim Nasution, Ketua) dan Majelis Bahasa Indonesia-Malaysia (Amran Halim dan Haji Suja bin Rahiman, Ketua).

Penyusunan  Pedoman   Umum   Pembentukan   Istilah  ini   telah   dimungkinkan   oleh

tersedianya biaya Pelita II yang disalurkan melalui Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra

Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (S. W. Rujiati Mulyadi, Ketua).

Kepada   segenap   instansi,   kalangan   masyarakat,   dan   perorangan   yang   telah

memungkinkan tersusunnya Pedoman Umum ini disampaikan penghargaan dan terima kasih.

Jakarta, Agustus 1975 Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

DAFTAR SINGKATAN

K : konsonan

V : vocal

D : dasar

 

I. KETENTUAN UMUM

I.1 Istilah dan Tata Istilah

Istilah adalah kata atau frasa yang dipakai sebagai nama atau lambing dan yang dengan cer-mat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang ilmu

pengetahuan, teknologi, dan seni. Tata istilah (terminologi) adalah perangkat asas dan keten-tuan pembentukan istilah serta kumpulan istilah yang dihasilkannya.

Misalnya:

Anabolisme pasar modal

Demokrasi pemerataan

Laik terbang perangkap electron

I.2 Istilah Umum dan Istilah Khusus

Istilah umum  adalah istilah yang berasal dari bidang tertentu, yang karena dipakai secara

luas, menjadi unsur kosakata umum.

Misalnya:

Anggaran belanja penilaian

Daya radio

Nikah takwa

Istilah khusus  adalah istilah yang maknanya terbatas pada bidang tertentu saja.

Misalnya:

Apendektomi kurtosis

Bipatride pleistosen

I.3 Persyaratan Istilah yang Baik

Dalam pembentukan istilah perlu diperhatikan persyaratan dalam pemanfaatan kosakata

bahasa Indonesia yang berikut.

a. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang paling tepat untuk mengungkapkan

konsep termaksud dan yang tidak menyimpang dari makna itu,

b. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang paling singkat di antara pilihan yang

tersedia yang mempunyai rujukan sama.

11

c. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang bernilai rasa (konotasi) baik.

d. Istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang sedap didengar (eufonik).

e. Istilah   yang   dipilih   adalah   kata   atau   frasa   yang   bentuknya   seturut   kaidah   bahasa

Indonesia.

I.4 Nama dan Tata Nama

Nama adalah kata atau frasa yang berdasarkan kesepakatan menjadi tanda pengenal benda,

orang, hewan, tumbuhan, tempat, atau hal.  Tata nama  (nomenklatur) adalah perangkat

peraturan penamaan dalam bidang ilmu tertentu, seperti kimia dan biologi, beserta kumpulan

nama yang dihasilkannya.

Misalnya:

aldehida Primat

natrium klorida oryza sativa

II. PROSES PEMBENTUKAN ISTILAH

II.1Konsep Ilmu Pengetahuan dan Peristilahannya

Upaya kecendikiaan ilmuan (scientist) dan pandit (scholar) telah dan terus menghasilkan

konsep ilmiah, yang pengungkapannya dituangkan dalam perangkat peristilahan. Ada istilah

yang sudah mapan dan ada pula istilah yang masih perlu diciptakan. Konsep ilmiah yang su-

dah dihasilkan ilmuwan dan pandit Indonesia dengan sendirinya mempunyai istilah yang ma-pan. Akan tetapi, sebagian besar konsep ilmu pengetahuan modern yang dipelajari, diguna-kan, dan dikembangkan oleh pelaku ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia datang dari

luar negeri dan sudah dilambangkan dengan istilah bahasa asing. Di samping itu, ada ke-mungkinan bahwa kegiatan ilmuwan dan pandit Indonesia akan mencetuskan konsep ilmu

pengetahuan, teknologi, dan seni yang sama sekali baru sehingga akan diperlukan pencip-taan istilah baru.

II.2Bahan Baku Istilah Indonesia

Tidak ada satu bahasa pun yang sudah memiliki kosakata yang lengkap dan tidak memer-lukan ungkapan untuk gagasan, temuan, atau rekacipya yang baru. bahasa Inggris yang kini

dianggap bahasa internasional utama, misalnya, pernah menyerap kata dan ungkapan dari ba-hasa Yunani, Latin, Prancis, dan bahasa lain, yang jumlahnya hampir tiga perlima dari selu-ruh kosakatanya. Sejalan dengan itu, bahan istilah Indonesia diambil dari berbagai sumber,

terutama dari tiga golongan bahasa yang penting, yakni (1) bahasa Indonesia, termasuk unsur

serapannya, dan bahasa Melayu, (2) bahasa Nusantara yang serumpun, termasuk bahasa Jawa

Kuno, dan (3) bahsa asing, seperti bhasa Inggris dan bahasa Arab.

II.3Pemantapan Istilah Nusantara

Istilah yang mengungkapkan konsep hasil galian ilmuwan dan pandit Indonesia, seperti

bhinneka tunggal ika, batik, banjar, sawer, gunungan, dan pamor, telah lama diterima secara

luas sehingga dapat dimantapkan dan hasilnya dikodifikasi.

II.4Pemadanan Istilah

Pemadanan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia, dan jika perlu ke salah satu bahasa

serumpun, dilakukan lewat penerjemahan, penyerapan, atau gabungan penerjemahan dan pe-nyerapan. Demi keseragaman, sumber rujukan yang diutamakan ialah istilah Inggris yang pe-makaiannya bersifat internasional karena sudah dilazimkan oleh para ahli dalam bidangnya.

Penulisan istilah serapan itu dilakukan dengan atau tanpa penyesuaian ejaannya berdasarkan

kaidah fonotaktik, yakni hubungan urutan bunyi yang diizinkan dalam bahasa Indonesia.

II.4.1 Penerjemahan

13

II.4.1.1Penerjemahan Langsung

Istilah Indonesia dapat dibentuk lewat penerjemahan berdasarkan kesesuaian makna tetapi

bentuknya tidak sepadan.

Misalnya:

Supermarket pasar swalayan

Merger gabungan usaha

Penerjemahan dapat pula dilakukan berdasarkan kesesuaian bentuk dan makna.

Misalnya:

Bonded  zone kawasan berikat

Skyscraper pencakar langit

Penerjemahan istilah asing memiliki beberapa keuntungan. Selain memperkaya kosakata In-donesia dengan sinonim, istilah terjemahan juga meningkatkan daya ungkap bahasa Indo-nesia. Jika timbul kesulitan dalam penyerapan istilah asing yang bercorak Anglo-Sakson ka-rena perbedaan antara lafal dan ejaannya, penerjemahan merupakan jalan keluar terbaik. Da-lam pembentukan istilah lewat penerjemahan perlu diperhatikan pedoman berikut.

a. Penerjemahan tidak harus berasas satu kata diterjemahkan dengan satu kata.

Misalnya :

Psychologist ahli psikologi

Medical practitioner dokter

b. Istilah asing dalam bentuk positif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuk posi-tif, sedangkan istilah dalam bentuk negatif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia ben-tuk negatif pula.

Misalnya :

Bound form  bentuk terikat (bukan bentuk takbebas)

Illiterate niraksara

Inorganic takorganik

c. Kelas kata istilah asing dalam penerjemahan sedapat-dapatnya dipertahankan pada istilah

terjemahannya.

Misalnya :

Merger (nomina) gabung usaha (nomina)

Transparent (adjektiva) bening (adjektiva)

(to) filter (verba) menapis (verba)

d. Dalam penerjemahan istilah asing dengan bentuk plural, pemarkah kejamakannya ditang-galkan pada istilah Indonesia.

Misalnya :

Alumni lulusan

Master of ceremonies pengatur acara

Charge d’affaires kuasa usaha

II.4.1.2Penerjemahan dengan Perekaan

Adakalanya upaya pemadanan istilah asing perlu dilakukan dengan menciptakan isti-lah

baru.  Istilah  factoring,  misalnya,  sulit diterjemahkan  atau diserap  secara utuh. Da-lam

15

khazanah   kosakata   bahasa   Indonesia/Melayu   terdapat   bentuk  anjak  dan  piutang  yang

menggambarkan pengalihan hak menagih utang. Lalu, direka istilah anjak piu-tang sebagai

padanan istilah factoring. Begitu pula pemadanan catering menjadi jasa boga dan invention

menjadi rekacipta diperoleh lewat perekaan.

2.4.2 Penyerapan

2.4.2.1 Penyerapan Istilah

Penyerapan istilah asing untuk menjadi istilah Indonesia dilakukan berdasarkan hal-hal

berikut.

a. Istilah asing yang akan diserap meningkatkan ketersalinan bahasa asing dan bahasa Indo-nesia secara timbal balik (intertranslatability) mengingat keperluan masa depan.

b. Istilah asing yang akan diserap mempermudah pemahaman teks asing oleh pembaca In-donesia karena dikenal lebih dahulu.

c. Istilah asing yang akan diserap lebih ringkas jika dibandingkan dengan terjemahan Indo-nesianya.

d.  Istilah asing yang akan diserap mempermudah kesepakatan antarpakar jika padanan ter-jemahannya terlalu banyak sinonimnya.

e. Istilah asing yang akan diserap lebih cocok dan tepat karena tidak mengandung konotasi

buruk.

Proses penyerapn istilah asing, dengan mengutamakan bentuk visualnya, dilakukan dengan

cara yang berikut.

a. Penyerapan dengan penyesuaian ejaan dan lafal

Misalnya :

Camera …… kamera

Microphone….. mikrofon

System sistem

b. Penyerapan dengan penyesuaian ejaan tanpa penyesuaian lafal

Misalnya :

Design  desain

File fail

Science sains

c. Penyerapan tanpa penyesuaian ejaan, tetapi dengan penyesuaian lafal

Misalnya :

Bias bias

Nasal nasal

Radar (radio detecting  radar

and ranging)

d. Penyerapan tanpa penyesuaian ejaan dan lafal

1) Penyerapan istilah asing tanpa penyesuaian ejaan dan lafal dilakukan jika ejaan dan

lafal istilah asing itu tidak berubah dalam banyak bahasa modern, istilah itu dicetak

dengan huruf miring.

Misalnya :

Allegro moderato divide et impera

17

Aufklarung dulce et utile

Status quo in vitro

Esprit de corps vis-à-vis

2) Penyerapan istilah tanpa penyesuaian ejaan dan lafal dilakukan jika istilah itu juga di-pakai secara luas dalam kosakata umum, istilah itu tidak ditulis dengan huruf miring

(dicetak dengan huruf tegak).

Misalnya :

Golf golf

Internet internet

Lift lift

Orbit orbit

Sonar (sound navigation and ranging)  suara

2.4.2.2 Penyerapan Afiks dan Bentuk Terikat Istilah Asing

a. Penyesuaian Ejaan Prefiks dan Bentuk Terikat

Prefiks asing yang bersumber pada bahasa Indo-Eropa dapat dipertimbangkan pemakaiannya

di dalam peristilahan Indonesia setelah disesuaikan ejaannya. Prefiks asing itu, antara lain,

ialah sebagai berikut.

a-, ab-, abs- (‘dari’, ‘menyimpang dari’, ‘menjauhkan dari’) tetap a-, ab-, abs-

amoral amoral

abnormal abnormal

abstract abstrak

a-, an- ‘tidak, bukan, tanpa’ tetap a-, an-

anemia anemia

aphasia afasia

aneurysm aneurisme

ad-, ac- ‘ke’, ‘berdekatan dengan’, ‘melekat pada’, menjadi ad-, ak-adhesion adhesi

acculturation akulturasi

am-, amb- ‘sekeliling’, ‘keduanya’ tetap am-, amb-ambivalence  ambivalensi

amputation amputasi

ana-, an- ‘ke atas’, ‘ke belakang’, ‘terbalik’ tetap ana-, an-anabolism anabolisme

anatropous anatrop

ante- ‘sebelum’, ‘depan’ tetap ante-antediluvian antediluvian

anterior anterior

anti-, ant- ‘bertentangan dengan’ tetap anti-, ant-anticatalyst antikatalis

anticlinal antiklinal

antacid antacid

apo- ‘lepas, terpisah’, ‘berhubungan dengan’ tetap apo-apochromatic apokromatik

apomorphine apomorfin

19

aut-, auto- ‘sendiri’,’bertindak sendiri’ tetap aut-, auto-autarky autarki

autostrada autostrada

bi- ‘pada kedua sisi’, ‘dua’ tetap bi-biconvex bikonveks

bisexual biseksual

cata- ‘bawah’, ‘sesuai dengan’ menjadi kata-cataclysm kataklisme

catalyst katalis

co-, com-, con- ‘dengan’, ‘bersama-sama’, ‘berhubungan dengan’ menjadi ko-, kom-, kon-coordination koordinasi

commission komisi

concentrate konsentrat

contra- ‘menentang’, ‘berlawanan’ menjadi kontra-contradiction kontradiksi

contraindication kontraindikasi

de- ‘memindahkan’, ‘mengurangi’ tetap de-dehydration dehidrasi

devaluation devaluasi

di- ‘dua kali’, ‘mengandung dua…’ tetap di-dichloride diklorida

dichromatic dikromatik

dia- ‘melalui’, ‘melintas’ tetap dia-diagonal diagonal

diapositive diapositif

dis- ‘ketiadaan’, ‘tidak’ tetap dis-disequilibrium disekuilibrium

disharmony disharmoni

eco- ‘lingkungan’ menjadi eko-ecology ekologi

ecospecies ekospesies

em-, en- ‘dalam’, ‘di dalam’ tetap em-, en-empathy empati

encenphalitis ensenfalitis

endo- ‘di dalam’ tetap endo-endoskeleton endoskeleton

endothermal endotermal

epi- ‘di atas’, ‘sesudah’ tetap epi-epigone epigon

epiphyte epifit

ex- ‘sebelah luar’ menjadi eks-exclave eksklave

21

exclusive eksklusif

exo-, ex- ‘sebelah luar’, ‘mengeluarkan’ menjadi ekso-, eks-exoergic eksoergik

exogamy eksogami

extra- ‘di luar’ menjadi ekstra-

extradition ekstradisi

extraterrestrial ekstraterestrial

hemi- ‘separuh’, ‘setengah’ tetap hemi-hemihedral hemihedral

hemisphere hemisfer

hemo- ‘darah’ tetap hemo-hemoglobin hemoglobin

hemolysis hemolisis

hepta- ‘tujuh’, ‘mengandung tujuh…’ tetap hepta-heptameter heptameter

heptarchy heptarki

hetero- ‘lain’, ‘berada’ tetap hetero-heterodox heterodoks

heterophyllous heterofil

hexa- ‘enam’, ‘mengandung enam…’ menjadi heksa-hexachloride heksaklorida

hexagon heksagon

hyper- ‘di atas’, ‘lewat’, ‘super’ menjadi hiper-hyperemia hiperemia

hypersensitive hipersensitif

hypo- ‘bawah’, ‘di bawah’ menjadi hipo-hipoblast hipoblas

hypochondria hipokondria

im-, in-, il- ‘tidak’, ‘di dalam’, ‘ke dalam’ tetap im-, in-, il-immigration imigrasi

induction induksi

illegal ilegal

infra- ‘bawah’, ‘di bawah’, ‘di dalam’ tetap infra-infrasonic infrasonik

infraspecific infraspesifik

inter- ‘antara’, ‘saling’ tetap inter-interference interferensi

international  internasional

intra- ‘di dalam’, ‘di antara’ tetap intra-intradermal intradermal

intracell intrasel

intro- ‘dalam’, ‘ke dalam’ tetap intro-

23

introjections introjeksi

introvert introvert

iso- ‘sama’ tetap iso-isoagglutinin isoaglutinin

isoenzyme isoenzim

meta- ‘sesudah’, ‘berubah’, ‘perubahan’ tetap meta-metamorphosis metamorfosis

metanephros metanefros

mono- ‘tunggal’, ‘mengandung satu’ tetap mono-monodrama monodrama

monoxide monoksida

pan-, pant/panto- ‘semua’, ‘keseluruhan’ tetap pan-, pant-, panto-panacea panasea

pantisocracy pantisokrasi

pantograph pantograf

para- ‘di samping’, ‘erat berhubungan dengan’, ‘hampir’ tetap para-paraldehyde paraldehida

parathyroid paratiroid

penta- ‘lima’, ‘mengandung lima’ tetap penta-pentahedron pentahedron

pentane pentane

peri- ‘sekeliling’, ‘dekat’, ‘melingkupi’ tetap peri-perihelion perihelion

perineurium perineurium

poly- ‘banyak’, ‘berkelebihan’ menjadi poli-polyglotism poliglotisme

polyphagia polifagia

pre- ‘sebelum’, ‘sebelumnya’, ‘di muka’ tetap pre-preabdomen preabdomen

premature premature

pro- ‘sebelum’, ‘di depan’ tetap pro-prothalamion protalamion

prothorax protoraks

proto- ‘pertama’, ‘mula-mula’ tetap proto-protolithic protolitik

prototype prototipe

pseudo-, pseudo- ‘palsu’ tetap pseudo-, pseudo-pseudomorph pseudomorf

pseudepigraphy pseudepigrafi

quasi- ‘seolah-olah’, ‘kira-kira’ menjadi kuasi-quasi-historical kuasihistoris

quasi-legislative kuasilegislatif

25

re- ‘lagi’, ‘kembali’ tetap re-reflection refleksi

rehabilitation rehabilitasi

retro- ‘ke belakang’, ‘terletak di belakang’ tetap retro-retroflex retrofleks

retroperitoneal retroperitoneal

semi- ‘separuhnya’, ‘sedikit banyak’, ‘sebagian’ tetap semi-semifinal semifinal

semipermanent semipermanen

sub- ‘bawah’, ‘di bawah’, ‘agak’, ‘hampir’ tetap sub-subfossil subfosil

submucosa submukosa

super-, sur- ‘lebih dari’, ‘berada di atas’ tetap super-, sur-superlunar superlunar

supersonic supersonik

surrealism surealisme

supra- ‘unggul’, ‘melebihi’ tetap supra-supramolecular supramolekular

suprasegmental suprasegmental

syn- ‘dengan’, ‘bersama-sama’, ‘pada waktu’ menjadi sin-syndesmosis sindesmosis

synesthesia sinestesia

tele- ‘jauh’, ‘melewati’, ‘jarak’ tetap tele-telepathy telepati

telescope teleskop

trans- ‘ke/di seberang’, ‘lewat’, ‘mengalihkan’ tetap trans-transcontinental transkontinental

transliteration transliterasi

tri- ‘tiga’ tetap tri-trichromat trikromat

tricuspid tricuspid

ultra- ‘melebihi’, ‘super’ tetap ultra-ultramodern ultramodern

ultraviolet ultraviolet

uni- ‘satu’, ‘tunggal’ tetap uni-unicellular uniseluler

unilateral unilateral

b. Penyesuaian Ejaan Sufiks

Sufiks asing dalam bahasa Indonesia diserap sebagai bagian kata berafiks yang utuh. Kata se-perti standardisasi, implementasi, dan objektif diserap secara utuh di samping kata standar,

implemen, dan objek. Berikut daftar kata bersufiks tersebut.

-aat (Belanda) menjadi -at

Advocaat advokat

27

Plaat pelat

Tractaat traktat

-able, -ble (Inggris) menjadi -bel

Variable variabel

Flexible flexible

-ac (Inggris) menjadi -ak

Maniac maniak

Cardiac kardiak

Almanac almanac

-age (Inggris) menjadi -ase

Sabotage sabotase

Arbitrage arbitrase

Percentage persentase

-air (Belanda), -ary (Inggris) menjadi -er

Complementair, complementary komplementer

Primair, primary primer

Secundair, secondary sekunder

-al (Inggris) menjadi -al

Credential kredensial

Minimal minimal

Mational nasional

-ance, -ence (Inggris) menjadi –ans, -ens

Ambulance ambulans

Conductance konduktans

Termophosphorescence termosfosforensens

Thermoluminescence termoluminesens

-ancy, -ency (Inggris) menjadi –ansi, -ensi

Efficiency efisiensi

Frequency frekuensi

Relevancy relevansi

-anda, -end, -andum, -endum (Belanda, Inggris) menjadi –anda, -en, -andum, -endum

Propaganda propaganda

Divindend dividen

Memorandum memorandum

Referendum referendum

-ant (Belanda, Inggris) menjadi -an

Accountant akuntan

Informant informan

Dominant dominan

-ar (Inggris) menjadi –ar, -er

Curricular kurikuler

Solar solar

29

-archie (Belanda), -archy (Inggris) menjadi -arki

Anarchie, anarchy anarki

Monarchie, monarchy monarki

-ase, -ose (Inggris) menjadi -ase, -osa

Amylase amilase

Dextrose dekstrosa

-asme (Belanda), asm (Inggris) menjadi -asme

Sarcasm, sarcasm sarkasme

Pleonasme, pleonasm pleonasme

-ate (Inggris) menjadi -at

Emirate emirat

Private privat

-atie (Belanda), -(a)tion (Inggris) menjadi -(a)si

Actie, action aksi

Publicatie, publication publikasi

-cy (Inggris) menjadi -asi, -si

Accountancy akuntansi

Accuracy akurasi

-eel (Belanda) yang tidak ada padanan dalam bahasa Inggris menjadi -el

Materieel materiel

Moreel morel

Principieel prinsipiel

-eel, aal (Belanda), -al (Inggris) menjadi -al

Formeel, formal formal

Ideaal, ideal ideal

Materiaal,material material

-et, ette (Inggris) menjadi -et

Duet duet

Cabinet kabinet

Cassette kaset

-eur (Belanda), -or (Inggris) menjadi -ur

Amateur amatir

Importeur importer

-eur (Belanda) menjadi -ur

Conducteur, conductor kondektur

Directeur, director direktur

Inspecteur, inspector inspektur

-eus (Belanda) menjadi -us

Mesterieus misterius

Serieus serius

-ficatie (Belanda), -fication (Inggris) menjadi -fikasi

Specificatie, specification spesifikasi

31

Unificatie, unification unifikasi

-fiek (Belanda), -fic (Inggris) menjadi -fik

Specifiek, specific spesifik

Honofifiek, honorific honorific

-iek (Belanda), -ic, -ique (Inggris) menjadi -ik

Perodiek, periodic periodik

Numeriek, numeric numerik

Uniek, unique unik

Techniek, technique teknik

-isch (Belanda), -ic, -ical (Inggris) menjadi -is

Optimistisch, optimistic optimistis

Allergisch, allergic alergis

Symbolisch, symbolical simbolis

Practisch, practical praktis

-icle (Inggris) menjadi -ikel

Article artikel

Particle partikel

-ica (Belanda), -ics (Inggris) menjadi –ika, -ik

Mechanica, mechanics mekanika

Phonetics fonetik

-id, -ide (Inggris) menjadi –id, -ida

Chrysalid krisalid

Oxide oksida

Chloride klorida

-ief (Belanda), -ive (Inggris) menjadi -if

Demonstratief, demonstrative demonstratif

Descriptief, descriptive deskriptif

Depressief, depressive depresif

-iel (Belanda), -ile, -le (Inggris) menjadi -il

Kawrtiel, quartile kuartil

Percentile, percentile persentil

Stabile, stable stabil

-iet (Belanda), -ite (Inggris) menjadi -it

Favorite, favorite favorit

Dolomite, dolomite dolomit

Stalactite, stalactite stalaktit

-in (Inggris) menjadi -in

Penicillin penisilin

Insulin insulin

Protein protein

-ine (Inggris) menjadi –in, -ina

Cocaine kokain

33

Quarantine karantina

-isatie (Belanda), -ization (Inggris) menjadi -isasi

Naturalisatie, naturalization naturalisasi

Socialisatie, socialization sosialisasi

-isme (Belanda), -ism (Inggris) menjadi -isme

Expressionism, expressionism ekspresionisme

Modernism, modernism modernism

-ist (Belanda, Inggris) menjadi -is

Extremist ekstremisme

Receptionist resepsionis

-iteit (Belanda), -ity (Inggris) menjadi -itas

Faciliteit, facility falisitas

Realiteit, reality realitas

-logie (Belanda), -logy (Inggris) menjadi -logi

Analogie, analogy analogi

Technologie, technology teknologi

-loog (Belanda), -logue (Inggris) menjadi -log

Catalog, catalogue katalog

Dialog, dialogue dialog

-lyse (Belanda), -lysis (Inggris) menjadi -lisis

Analyse, analysis analisis

Paralyse, paralysis paralisis

-oide (Belanda), -oid (Inggris) menjadi -oid

Anthropoide, anthropoid antropoid

Metalloide, metalloid metaloid

-oir(e) (Belanda) menjadi -oar

Repertoire repertoar

Trottoir trotoar

-or (Inggris) menjadi -or

Corrector korektor

Dictator dictator

-ous (Inggris) ditinggalkan

Amorphous amorf

Polysemous polisem

-se (Belanda), -sis (Inggris) menjadi -sis

Synthese, synthesis sintesis

Anamnese, anamnesis anamnesis

-teit (Belanda), -ty (Inggris) menjadi -tas

Qualiteit, quality kualitas

Universiteit, university universitas

-ter (Belanda), -tre (Inggris) menjadi -ter

Diameter, diameter diameter

35

Theater, theatre teater

-uur (Belanda), -ure (Inggris) menjadi -ur

Proceduur, procedure prosedur

Structuur, structure struktur

-y (Inggris) menjadi -i

Monarchy monarki

philosophy  filosofi

2. 4. 3 Gabungan Penerjemahan dan Penyerapan

Istilah bahasa Indonesia dapat dibentuk dengan menerjemahkan dan menyerap istilah asing

sekaligus.

Misalnya :

Bound morpheme morfem terikat

Clay colloid koloid lempung

Subdivision subbagian

2. 5 Perekaciptaan Istilah

Kegiatan ilmuwan, budayawan dan seniman yang bergerak di baris terdepan ilmu, teknologi,

dan seni dapat mencetuskan konsep yang belum ada selama ini. Istilah baru untuk mengung-kapkan konsep itu dapat direkacipta sesuai dengan lingkungan dan corak bidang kegiatannya.

Misalnya, rekacipta istilah fondasi cakar ayam, penyangga sosrobahu, plasma inti rakyat,

dan tebang pilih Indonesia telah masuk ke dalam khazanah peristilahan.

Bhineka tunggal ika batik

pemantapan

Konsep dan istilah yang berasal dari nusantara

Secara langsung

Pencakar langit (skyscraper)

Kawasan berikat (bonded zone)

penerjemahan

Dengan perekaan

Jasa boga (catering)

Sintas (survive)

Pasar swalayan (supermarket)

Dengan penyesuaian ejaan dan lafal

Konsep yang sudah ada

Kamera (camera)

Mikrofon (microphone)

Dengan penyesuaian ejaan tanpa penyesuaian lafal

KODIFIKASIPenyerap-anPema-danan

Konsep yang berasal dari mancanegara

KONSEP

Desain (design)

Fail (fail)

2. 6 Pembakuan dan Kodifikasi Istilah

Istilah  yang  diseleksi  lewat  pemantapan,   penerjemahan,   penyerapan,   dan  perekaciptaan

dibakukan lewat kodifikasi yang mengusahakan keteraturan bentuk seturut kaidah dan adat

pemakaian bahasa. Kodifikasi itu tercapai dengan tersusunnya sistem ejaan, buku tata bahasa,

dan kamus yang merekam dan menetapkan bentuk bakunya.

2.7 Bagan Prosedur Pembakuan Istilah

Prosedur pembakuan istilah dapat dilihat pada bagan berikut

Bias (ias)

Nasal (nasal)

Tanpa penyesuaian ejaan dengan penyesuaian lafalKonsep yang baru

Allegro modertor

Esprit de corps

Internet (internet)

Orbit (orbit)

Tanpa penyesuaian ejaan dan lafal

Koloid lmpung (clay colloid)

Morfem terikat (bound morpheme)

Gabungan penerjemahan dan penyerapanPerekacipta-an

Konsep dan istilah yang berasal dari nusantara

(fondasi) cakar ayam

(penyangga) sosrobahu

37

III. ASPEK TATA BAHASA PERISTILAHAN

Istilah dapat berupa (1) bentuk dasar, (2) bentuk berafiks, (3) bentuk ulang, (4) bentuk

majemuk, (5) bentuk analogi, (6) hasil metanalisis, (7) singkatan, (8) akronim.

III.1Istilah Bentuk Dasar

Istilah bentuk dasar dipilih di antara kelas kata utama, seperti nomina, verba, adjektiva,

dan numeralia.

Misalnya :

Nomina :  kaidah rule

busur bow

cahaya light

Verba : keluar out

Uji test

Tekan press

Adjektiva :  kenyal elastic

Acak random

Cemas anxious

Numeralia :  gaya empat four force

(pukulan) satu-dua one-two

(bus) dua tingkat double decker

III.2Istilah Bentuk Berafiks

Istilah bentuk berafiks disusun dari bentuk dasar dengan penambahan prefiks, infiks,

sufiks, dan konfiks seturut kaidah pementukan kata bahasa Indonesia, misalnya dari

bentuk  pirsa  menjadi  pemirsa,  bukan  pirsawan  ; dari  hantar  menjadi  keterhantaran,

bukan  kehantaran.  Istilah bentuk berafiks menunjukkan pertalian yang teratur antara

bentuk dan maknanya. Istilah bentuk berafiks tersebut mengikuti paradigm berikut, yang

unsur-unsurnya demi kejelasan dimasukkan dalam berbagai kotak.

39

III.2.1 Paradigma Bentuk Berafiks ber-ber-  tani bertani petani pertanian

bel-  ajar belajar pelajar pelajaran

ber- ubah berubah peubah perubahan

Istilah berafiks petani, pelajar, peubah yang mengacu kepada pelaku atau alat, dan

pertanian, pelajaran, perubahan yang mengacu ke hal, keadaan, atau tempat dibentuk

dari verba bertani, belajar, berubah yang berasal dari bentuk dasar tani, ajar, dan

ubah.

 

III.2.2 Paradigma Bentuk Berafiks meng-men-  tulis menulis penulis penulisan tulisan

meng- ubah mengubah pengubah pengubahan ubahan

mem- besarkan membesarkan pembesar pembesaran besaran

meng- ajari mengajari pengajar pengajaran ajaran

Istilah berafiks penulis, pengubah, pembesar, pengajar, yang mengacu kepada pelaku

atau alat, dan penulisan, pngubahan, pengajaran yang mengacu ke proses atau per-buatan serta tulisan, ubahan, besaran, ajaran yang mengacu ke hasil dijabarkan dari

verba menulis, mengubah, membesarkan, mengajar yang berasal dari bentuk dasar

tu-lis, ubah, besar, dan ajar.

mem- berdayakan memberdayakan  pemberdaya  pemberdayaan

mem- berhentikanmemberhentikan pemberhenti pemberhentian

mem-  belajarkan membelajarkan pembelajar pembelajaran

Istilah berafiks pemberdaya, pemberhenti, pembelajar yang mengacu kepada pelaku

dan  pemberdayaan,   pemberhentian,   pembelajaran  yang   mengacu   ke   perbuatan

dibentuk dari verba memberdayakan, memberhentikan, membelajarkan yang dibentuk

dari berdaya, berhenti, belajar yang berasal dari bentuk dasar daya, henti, dan ajar.

41

Mem-   persatukan    mempersatukan  pemersatu  pemersatuan

persatuan

Istilah berafiks pemersatu, pemeroleh, pemelajar yang mengacu kepada pelaku dan

pemersatuan, pemerolehan, pemelajaran  yang mengacu ke perbuatan atau proses

serta  persatuan, perolehan, pelajaran  yang mengacu ke hasil dibentuk dari verba

mempersatukan, memperoleh, mempelajari  yang dibentuka dari  bersatu, beroleh,

belajar yang berasal dari bentuk dasar satu, oleh, ajar.

III.2.3 Paradigma Bentuk Berkonfiks ke—an

ke—an  saksi kesaksian

ke—an bermakna kebermaknaan

ke—an  terpuruk  keterpurukan

ke—an seragam keseragaman

Istilah berkonfiks ke—an yang mengacu ke hal atau  keadaan dibentuk dari pangkal

yang berupa bentuk dasar atau bentuk yang berprefiks ber-, ter-, se-, seperti saksi,

bermakna, terpuruk,dan seragam.

III.2.4 Paradigma Bentuk Berinfiks –er-, -el-, -em-, in-Sabut           serabut   gigi  gerigi

Tunjuk telunjuk gembung gelembung

Kelut kemelut getar gemetar

Kerja kinerja sambung sinambung

Istilah berinfiks  –er-, -el-, -em-, -in-  seperti  serabut, gerigi, telunjuk, gelembung,

kemelut, gemetar, kinerja, sinambung yang mengacu ke jumlah, kemiripan, atau hasil

dibentuk dari dasar sabut, gigi, tunjuk, gembung, kelut, getar, kerja dan sambung.

III.3Istilah Bentuk Ulang

Istilah bentuk ulang dapat berupa ulangan bentuk dasar seutuhnya atau sebagiannya dengan

atau tanpa pengimbuhan dan pengubahan bunyi.

III.3.1 Bentuk Ulang Utuh

43

Istilah bentuk ulang utuh yag mengacu ke kemiripan dapat dilihat pada contoh berikut

Ubur-ubur paru-paru anal-anal langit-langit

Undur-undur kanak-kanak kunang-kunang kuda-kuda

III.3.2 Bentuk Ulang Suku Awal

Istilah bentuk ulang suku awal (dwipurwa) yang dibentuk melalui pengulangan konsonan

awal dengan penambahan ‘pepet’ dapat dilihat pada contoh berikut.

Laki lelaki rata merata

Tangga tetangga buku bebuku

Jarring jejaring tikus tetikus

III.3.3 Bentuk Ulang Berafiks

Istilah bentuk ulang dengan afiksasi dibentuk melalui paradigma berikut

Daun  dedaunan

Pohon pepohonan

Rumput rerumputan

Istilah bentuk ulang dedaunan, pepohonan, rerumputan yang mengacu ke berbagai macam,

keanekaan dibentuk dari dasar daun, pohon, dan rumput yang mengalami perulangan.

III.3.4 Bentuk Ulang Salin Suara

Istilah bentuk ulang salin suara dibentuk melalui pengulangan dengan perubahan bunyi.

Perhatikan contoh berikut.

Sayur sayur-mayur warna warna-warni

Beras beras-petas teka teka-teki

Serta serta-merta balik bolak-balik

Dari segi makna, perulangan dengan cara itu mengandung makna ‘bermacam-macam’.

III.4Istilah Bentuk Majemuk

Istilah bentuk majemuk atau kompositum merupakan hasil penggabungan dua bentuk atau

lebih, yang menjadi satuan leksikal baru. Gabungan kata itu berupa (1) gabungan bentuk

bebas dengan bentuk bebas, (2) bentuk bebas dengan bentuk terikat, atau (3) bentuk terikat

dengan bentuk terikat.

III.4.1 Gabungan Bentuk Bebas

Istilah majemuk bentuk bebas merupakan penggabungan dua unsur atau lebih, yang unsur-unsurnya  dapat berdiri sendiri sebagai bentuk bebas. Gabungan bentuk bebas meliputi

gabungan (a) bentuk dasar dengan bentuk dasar, (b) bentuk dasar dengan bentuk berafiks

atau sebaliknya, dan (c) bentuk berafiks dengan bentuk berafiks.

III.4.1.1Gabungan Bentuk Dasar

Istilah majemuk gabungan bentuk dasar merupakan penggabungan dua bentuk dasar atau

lebih.

45

Garis lintang kereta api listrik

Masa depan  rumah sangat sederhana

Rawat jalan

III.4.1.2Gabungan Bentuk Dasar dan Bentuk Berafiks

Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan bentuk berafiks dan bentuk

berafiks atau sebaliknya.

Proses berdaur menembak jatuh

Sistem pencernaan tertangkap tangan

 

III.4.1.3Gabungan Bentuk Berafiks dan Bentuk Berafiks

Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan bentuk berafiks dan bentuk

berafiks.

Misalnya :

Kesehatan lingkungan

Perawatan kecelakaan

Pembangunan berkelanjutan

III.4.2 Gabungan Bentuk Bebas dengan Bentuk Terikat

Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan dua bentuk, atau lebih, yang

salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri. Ada sejumlah bentuk terikat yang dapat

digunakan dalam pembentukan istilah yang berasal dari bahasa Jawa Kuno dan Melayu.

Misalnya :

adi- adikarya masterpiece

adikuasa superpower

aneka- anekabahasa multilingual

anekawarna multicolored

antar- antarkota intercity

antarbangsa international

awa- awaair dewater

awalengas dehumidity

catur- caturwulan quarter

caturlarik quatrain

dasa- dasawarsa decade

dasalomba decathlon

dur- durhaka rebellious

dursila unethical

dwi-  dwimingguan biweekly

dwibahasa bilingual

eka- ekamatra unidimension

ekasuku monosyllable

lajak- lajaklaku overaction

lajakaktif overactive

lewah- lewahumur overage

47

lewahbanyak  abundant

lir-  lirintan  diamondike

lirruang  spacelike

maha-  mahatahu  omniscient

maharatu  empress

nir-  nirlaba  non-profit

nirgelar nondegree

panca- pancamuka multifaceted

pancaragam variegated

pasca-  pascapanen  postharvest

pascasarjana postgraduate

pra-   prasejarah prehistory

prasangka prejudice

pramu- pramugari  stewardess

pramuniaga  salesperson

pramuwisata touristguide

purba- purbawisesa absolute power

purbakalawan  archeologist

purna-  purnawaktu full-time

purnabakti retirement

su- sujana man of good character

susila  good morals

swa- swasembada self-reliance

swalayan self-service

tak- taksa ambiguous

takadil  unjust

tan- tansuara soundless

tanwarna colorless

tri- trilipat  threefold

triunsur triadic

tuna- tunahargadiri inferiority

tunakarya unemployed

Sementara   itu,   bentuk   terikat   yang   berasal   dari   bahasa   asing   Barat,   dengan   beberapa

perkecualian, langsung diserap bersama-sama dengan kata lain yang mengikutinya. Contoh

gabungan bentuk asing Barat dengan kata Melayu-Indonesia adalah sebagai berikut.

Globalization globalisasi

Modernization  modernisasi

Gabungan bentuk bebas dan bentuk terikat  seperti –wan dan –wati  dapat dilihat pada contih

berikut.

Ilmuwan scientist

Seniwati woman artist

49

Mahakuasa omnipotent

III.4.3 Gabungan Bentuk Terikat

Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan bentuk terikat, dan bentuk

terikat unsur itu ditulis serangkai, tidak diberi tanda hubung.

Misalnya :

Dasawarsa decade

Swatantra selfgovernment

III.5Istilah Bentuk Analogi

Istilah bentuk analogi bertolak dari pola bentuk istilah yang sudah ada, seperti berdasarkan

pola bentuk  pegulat, tata bahasa, juru tulis, pramugari,  dengan pola analogi pada istilah

tersebut dibentuk berbagai istilah lain.

Misalnya :

Pegolf  (golfer) peselancar  (surfer)

Tata graham (housekeeping) tata kelola  (governance)

Juru masak (cook) juru bicara (spokesman)

Pramuniaga (salesperson) pramusiwi  (baby-sitter)

III.6Istilah Hasil Metanalisis

Istilah hasil metanalisis terbentuk melalui analisis unsur yang keliru.

Misalnya :

Kata  mupakat  (mufakat) diuraikan menjadi  mu + pakat  ; lalu ada kata

sepakat.

Kata dasar perinci disangka terdiri atas  pe + rinci sehingga muncul istilah

rinci dan rincian.

III.7Istilah Bentuk Singkatan

Istilah bentuk singkatan ialah bentuk yang penulisannya dipendekkan menurut tiga cara

berikut.

a. Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang dilisankan sesuai

dengan bentuk istilah lengkapnya.

Misalnya :

cm yang dilisankan sentimeter

l yang dilisankan liter

sin yang dilisankan sinus

tg yang dilisankan tangen

b. Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang lazim dilisankan

huruf demi huruf.

Misalnya :

DDT (diklorodifeniltrikloroetana) yang dilisankan de-de-te

KVA(kilovolt-ampere) yang dilisankan ka-ve-a

TL (tube luminescent) yang dilisankan te-el

c. Istilah yang sebagian unsurnya ditanggalkan.

Misalnya :

51

Ekspres yang berasal dari kereta api ekpres

Kawat yang berasal dari  surat kawat

Harian  yang berasal dari  surat kabar harian

Lab yang berasal dari  laboratorium

Info yang berasal dari  informasi

Demo yang berasal dari  demonstrasi

Promo yang  berasal dari promosi

III.8Istilah Bentuk Akronim

Istilah bentuk akronim ialah istilah pemendekan bentuk majemuk yang berupa gabungan

huruf awal suku kata, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf awal dan suku kata dari

deret kata yang  diperlakukan sebagai kata.

Misalnya  :

Air susu ibu asi

Bukti pelanggaran  tilang

Pengawasan melekat waskat

Peluru kendali (guided missile)  rudal

Cairan alir (lotion)  calir

III.9Lambang Huruf

Lambang huruf ialah satu huruf atau lebih yang melambangkan konsep dasar ilmiah seperti

kuantitas dan nama unsur. Lambang huruf tidak diikuti tanda titik.

Misalnya :

F gaya

N nitrogen

Hg raksa (kimia)

m meter

NaCl natrium klorida

Rp rupiah

$ dolar

III.10Gambar Lambang

Gambar lambang ialah gambar atau tanda lain yang melambangkan konsep ilmiah menurut

konvensi bidang ilmu yang bersangkutan.

Misalnya :

≅   kongruen (matematika)

≡ identik (matematika)

Σ jumlah beruntun (matematika)

~  setara (matematika)

♂ jantan  (biologi)

♀ betina (biologi)

Х disilangkan dengan; hibrida (biologi)

↓ menunjukkan endapan zat (kimia)

53

◊ cincin benzena (kimia)

✶  bintang  (astronomi)

☼ matahari; Ahad (astronomi)

(atau) bulan; Senin (astronomi)

З dram; 3.887 gram (farmasi)

f° folio (ukuran kertas)

4° kuarto (ukuran kertas)

U pon (dagang)

& dan  (dagang)

pp pianissimo, sangat lembut (musik)

f forte, nyaring (musik)

* asterisk, takgramatikal, (linguistik)

bentuk rekonstruksi

< dijabarkan dari (linguistik)

III.11Satuan Dasar Sistem Internasional (SI)

Satuan dasar sistem Internasional (Système Internasional d’Unités) yang diperjanjikan secara

internasional dinyatakan dengan huruf lambang.

Besaran Dasar Lambang Satuan Dasar

arus listrik/elektrik A ampere

intensitas cahaya  cd kandela

kuantitas zat mol mol

massa kg kilogram

panjang m meter

suhu termodinamika K kelvin

waktu s sekon, detik

Satuan Suplementer Lambang Besar Dasar

sudut datar rad radiah

Lambang satuan yang didasarkan pada nama orang dinyatakan dengan huruf kapital. Bentuk

lengkap satuan ini ditulis dengan huruf kecil untuk membedakannya dengan nama pribadi

orang. Misalnya :

5A arus 5 ampere hukum Ampere

3C muatan 3 coulomb hukum Coulomb

6N gaya 6 newton hukum Newton

293 K suhu 293 kelvin skala suhu Kelvin

8Ci aktivitas 8 curie suhu curie

3.12Kelipatan dan Fraksi Satuan Dasar

Untuk menyatakan kelipatan dan fraksi satuan dasar atau turunan digunakan nama dan

lambang bentuk terikat berikut.

55

Faktor Lambang Bentuk Terikat Contoh

10¹² T tera- terahertz

109 G giga- gigawatt

106 M mega- megaton

10³ k kilo- kiloliter

10² h hekto- hektoliter

10¹ da deka- dekaliter

10ˉ¹ d desi- desigram

10ˉ² c senti- sentimeter

10ˉ³ m mili- milivolt

10-6 ̀̀µ mikro- mikrometer

10-9 n nano- nanogram

10-12 p piko- pikofarad

10-15 f femto- femtoampere

10-18 a ato- atogram

3.13Sistem Bilangan Besar

Sistem bilangan besar di atas satu juta yang dianjurkan adalah sebagai berikut.

109  biliun jumlah nol 9

1012 triliun jumlah nol 12

1015 kuadriliunjumlah nol 15

1018 kuintiliun jumlah nol 18

1021sekstiliun jumlah nol 21

1024 septiliun jumlah nol 24

1027 oktiliun jumlah nol 27

1030 noniliun jumlah nol 30

1033 desiliun jumlah nol 33

Sistem yang tersebut di atas antara lain juga digunakan di Amerika Serikat, Rusia, dan

Prancis. Di samping itu, masih ada sistem bilangan besar yang berlaku di Inggris, Jerman,

dan Belanda seperti dibawah ini.

109 miliar jumlah nol 9

1012 biliun jumlah nol 12

1018 triliun jumlah nol 18

1024 kuadriliunjumlah nol 24

1030 kuintiliun jumlah nol 30

3.14Tanda Desimal

Sistem Satuan Internasional menentukan bahwa tanda desimal boleh dinyatakan dengan

koma  atau  titik.  Dewasa ini beberapa negeri,  termasuk  Belanda dan Indonesia,  masih

menggunakan tanda koma desimal.

Misalnya :

3,52 atau  3.52

123,45 atau  123.45

57

15,000,000,00 atau 15.000.000,00

Bilangan desimal tidak dimulai dengan tanda desimal, tetapi selalu dimulai dengan

angka.

Misalnya  :

0,52 bukan ,52

0.52 bukan  .52

Jika perlu, bilangan desimal di dalam daftar atau senarai dapat dikecualikan dari peraturan

tersebut di atas.

Misalnya :

,550 234 atau .550 234

,552 76 .552 76

,554 051 .554 051

,556 1 .556 1

Bilangan yang hanya berupa angka yang dituliskan dalam tabel atau daftar dibagi menjadi

kelompok-kelompok tiga angka yang dipisahkan oleh spasi tanpa penggunaan tanda desimal.

Misalnya  :

3 105 724 bukan      3,105,724  atau     3.105.724

5 075 442     5,075,442     5.075.442

17 081 500   17,081,500   17.081.500

158 777 543 158,777,543 158.777.543

666 123       666,123        666.123

catatan :

dengan mengingat kemungkinan bahwa tanda desimal dapat dinyatakan dengan tanda koma

atau titik, penulis karangan hendaknya memberikan catatan cara mana yang diikutinya.

IV. ASPEK SEMANTIK PERISTILAHAN

IV.1Pemberian Makna Baru

Istilah baru dapat dibentuk lewat penyempitan dan peluasan makna kata yang lazim dan yang

tidak   lazim.   Artinya,   kata   itu   dikurangi   atau   ditambah   jangkauan   maknanya   sehingga

penerapannya menjadi lebih sempit atau lebih luas.

IV.1.1 Penyempitan Makna

Kata  gaya  yang mempunyai makna ‘kekuatan’ dipersempit maknanya menjadi ‘dorongan

atau tarikan yang akan menggerakkan benda bebas (tak terikat)’ dan menjadi istilah baru

untuk padanan  istilah inggris force. Kata kendala yang mempunyai makna ‘penghalang’,

‘perintang’ dipersempit maknanya menjadi ‘pembatas keleluasaan gerak’, yang tidak perlu

menghalangi atau merintangi, untuk dijadikan istilah baru bidang fisika sebagai padanan

istilah   Inggris  constraint.  Kata   tenaga   yang   mempunyai   makna   ‘kekuatan   untuk

menggerakkan sesuatu’ dipersempit maknanya untuk dijadikan istlah baru sebagai padanan

istilah  energy  dan kata  daya    menjadi padanan istilah  power.  Kata  ranah  dalam bahasa

Minang, yang mempunyai makna ‘tanah rata, dataran rendah’ dipersempit maknanya menjadi

‘lingkungan yang memungkinkan terjadinya percakapan yang merupakan kombinasi antara

partisipan, topic, dan tempat’ sebagai padanan istilah domain.

59

IV.1.2 Perluasan Makna

kata garam yang semula   bermakna ‘garam dapur’ (NaCl) diperluas maknanya sehingga

mencakupi semua jenis senyawaan dalam bidang kimia. Kata canggih yang semula bermakna

‘banyak cakap, bawel, ceretwet’ diperluas maknanyauntuk dipakai di bidang teknik, yang

berarti ‘kehilangan kesedarhanaan asli (seperti sangat rumit, ruwet, atau terkembang)’. Kata

pesawat  yang semula bermakna ‘alat, perkakas, mesin’ diperluas maknanya di bidang teknik

menjadi ‘kapal terbang’. Kata luah yang berasal dari bahasa Minang, dengan makna ‘(1) rasa

mual; (2) tumpah atau limpah (tentang barang cair)’, mengalami perluasan makna menjadi

‘volume zat cair yang mengalir melalui permukaan per tahun waktu’. Kata pamer yang

semula dalam bahasa Jawa bermakna ‘beraga, berlagak’ bergeser maknanya dalam bahasa

Indonesia menjadi ‘menunjukkan (mendemonstrasi) sesuatu yang dimiliki kepada orang

banyak dengan maksud memperlihatkan kelebihan atau keunggulan’.

4. 2 Istilah Sinonim

Dua istilah atau lebih yang maknanya sama atau mirip, tetapi bentuknya berlainan, disebut

sinonim. Di antara istilah sinonim itu salah satunya ditentukan sebagai istilah baku atau yang

diutamakan.

Misalnya   :

gulma  sebagai   padanan  weed  lebih   baik   daripada  tumbuhan

pengganggu

hutan bakau sebagai padanan mangrove forest lebih baik daripada hutan

payau

mikro- sebagai   padanan  micro-  dalam   hal   tertentu   lebih   baik

daripada renik

partikel sebagai padanan particle lebih baik daripada bagian kecil

atau zarah

Meskipun   begitu,   istilah   sinonim   dapat   dipakai   di   samping   istilah   baku   yang

diutamakan.

Misalnya :

istilah yang Diutamakan Istilah sinonim

absorb  serap absorb

acceleration percepatan akselerasi

diameter garis tengah diameter

frequency frekuensi kekerapan

relative relatif nisbi

temperature suhu temperatur

Berikut kelompok istilah sinonim yang menyalahi asas penamaan dan pengistilahan

Misalnya :

zat lemas dihindarkan karena ada nitrogen

saran diri dihindarkan karena ada autosugesti

ilmu pisah  dihindarkan karena ada ilmu kimia

ilmu pasti  dihindarkan karena ada matematika

Sinonim asing yang benar-benar sama diterjemahkan dengan satu istilah Indonesia.

Misalnya :

average, mean  rata-rata (rerata, purata)

grounding, earthing pengetanahan

61

Sinonim asing yang hampir bersamaan sedapat-dapatnya diterjemahkan dengan istilah yang

berlainan.

Misalnya :

axiom aksioma

law hukum

postulate postulat

rule kaidah

4.3 Istilah Homonim

Istilah   homonim   berupa   dua   istilah,   atau   lebih,   yang   sama   ejaan   dan   lafalnya,   tetapi

maknanya berbeda, karena asalnya berlainan. Istilah homonim dapat dibedakan menjadi

homograf dan homofon.

4.3.1 Homograf

Istilah homograf ialah istilah yang sama ejaannya, tetapi berbeda lafalnya.

Misalnya :

pedologi ← paedo ilmu tentang hidup dan perkembangan anak

pedologi ← pedon ilmu tentang tanah

teras inti

teras ‘lantai datar di muka rumah’

4.3.2 Homofon

Istilah homofon ialah istilah yang sama lafalnya, tetapi berbeda ejaannya.

Misalnya :

bank dengan  bang

massa  dengan masa

sanksi dengan sangsi

4.4 Istilah Polisem

Istilah polisem ialah bentuk yang memiliki makna ganda yang bertalian. Misalnya, kata

kepala (orang)  ‘bagian teratas’ dipakai dalam  kepala (jawatan), kepala (sarung).  Bentuk

asing yang sifatnya polisem diterjemahkan sesuai dengan arti dalam konteksnya. Karena

medan   makna   yang   berbeda,   suatu   istilah   asing   tidak   selalu   berpadanan   dengan   kata

Indonesia yang sama.

Misalnya :

a. (cushion) head topi (tiang pancang)

head (gate) (pintu air) atas

(nuclear) head hulu (nuklir)

(velocity) head tinggi (tenaga kecepatan)

b. (detonating) fuse sumbu (ledak)

fuse sekering

to fuse melebur, berpadu, melakur, terbakar.

4.5 Istilah Hiponim

Istilah   hiponim   ialah   bentuk   yang   maknanya   terangkum   dalam   hiperonim,   atau

63

subordinatnya, atau superordinatnya, yang mempunyai makna yang lebih luas. Kata mawar,

melati,   cempaka,  misalnya,   masing-masing   disebut  hiponim  terhadap   kata  bunga  yang

menjadi hiperonim atau superordinatnya. Di dalam terjemahan, hiperonim atau superordinat

pada umumnya tidak disalin dengan salah satu hiponimnya, kecuali jika dalam bahasa

Indonesia   tidak   terdapat   istilah   superordinatnya.   Kata  poultry,  misalnya   diterjemahkan

dengan  unggas,   dan   tidak   dengan  ayam  atau  bebek.  Jika   tidak   ada   pasangan   istilah

hiperonimnya dalam bahasa Indonesia, konteks situasi atau ikatan kalimat suatu superordinat

asing akan menentukan hiponim Indonesia mana yang harus dipilih. Kata  rice,  misalnya,

dapat diterjemahkan dengan padi, gabah, beras, atau nasi, bergantung pada konteksnya.

4.6 Istilah Taksonim

istilah taksonim ialah hiponim dalam sistem klasifikasi konsep bawahan dan konsep atasan

yang bertingkat-tingkat. Kumpulan taksonim membangun taksonimi sebagaimana takson

membangun taksonomi. Berikut ini adalah bagan taksonomi makhluk.

Makhluk

Bakteri                                          hewan tumbuhan

mamalia               burung          ikan     serangga

anjing             sapi         unggas    manuk       teri tongkol      semut  capung

pudel     herder                 itik           ayam

yang dimaksud dengan hubungan antara kelas atasan dan kelas bawahan dalam bagan di atas

ialah hubungan  makhluk    dengan  bakteri, hewan,  damn  tumbuhan  atau hubungan  hewan

dengan mamalia, burung, ikan, dan serangga. Sementara itu, hubungan kelas bawahan dan

kelas atasan ialah hubungan bakteri, hewan dan tumbuhan dengan makhluk, atau hubungan

mamalia, burung, ikan, dan serangga dengan hewan.

 

4.7 Istilah Meronim

istilah Meronim ialah istilah yang maujud (entity) yang ditunjuknya merupakan bagian dari

maujud lain yang menyeluruh. Istilah yang menyeluruh itu disebut holonim. Berikut ini

adalah bagan meronimi tubuh.

Tubuh

kepala leher dada lengan tungkai

rambu             dahi     mata hidung     telinga mulut

lidah  gigi bibir

bibir atas bibir bawah

bagan di atas memperlihatkan kata yang mengandung makna keseluruhan yang memiliki

kedudukan lebih tinggi daripada kata bagiannya atau makna keseluruhan dianggap meliputi

makna bagian. Kata tubuh mengandung makna keseluruhan yang mencakupi makna dada,

lengan, dan tungkai. Hubungan antara tubuh dan bagiannya disebut hubungan kemeroniman.

Hubungan   kemeroniman   dibedakan   atas   hubungan   tubuh   dengan   bagiannya,   hubungan

kumpulan dengan anggotanya, serta hubungan antara massa dengan unsurnya tubuh adalah

65

keseluruhan yang terjadi dari keutuhan seluruh bagiannya; kumpulan adalah keseluruhan

yang terjadi dari gabungan seluruh anggotanya; massa merupakan keseluruhan  yang terjadi

dari peleburan seluruh unsurnya.

 

 

Bahan Kuliah / Makalah :Sejarah Badan Bahasa Kemendiknas

Sejarah Badan Bahasa

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, merupakan instansi pemerintah yang ditugaskan untuk menangani masalah kebahasaan dan kesastraan di Indonesia. Sebagai badan yang telah lama menangani masalah kebahasaan dan kesastraan, Badan Bahasa mempunyai sejarah panjang. Berikut ini dikemukakan sejarah perkembangan Badan Bahasa.

  1. Tahun 1930

Usaha penelitian dalam bidang bahasa dan budaya telah dilakukan oleh para sarjana Belanda, baik pemerintah maupun swasta.  Pada tahun 1930-an pemerintah kolonial Belanda sudah mulai mengadakan penelitian tentang kebudayaan yang ada di Indonesia. Penelitian itu disalurkan melalui Lembaga Pendidikan Universiter, Kantoor voor Inlandsche Zaken, en Oudheidkundige Dienst. Sementara itu, usaha swasta sejak tahun 1930 diwakili oleh Yayasan Matthes, yang pada tahun 1955 namanya berubah menjadi Yayasan Sulawesi Selatan Tenggara yang berkedudukan di Makassar (Ujung Pandang). Yayasan itu bertujuan mengadakan penelitian bahasa dan kebudayaan daerah Makassar. Selain Yayasan Matthes, ada yayasan yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu Yayasan Kirtya Liefrinck van der Tuuk yang berkedudukan di Singaraja, Bali, di bawah pimpinan Dr. R. Goris. Ketua yayasan itu akhirnya bekerja sama dengan cabang lembaga yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

 

  1. Tahun 1947 (Instituut voor Taal en Cultuur Onderzoek)

Dari masa ke masa, peristiwa bahasa dan kebudayaan Indonesia menarik perhatian para sarjana. Pada tahun 1947 Fakultas Sastra dan Filsafat yang pada saat itu berada di bawah naungan Departemen van Onderwijs, Kunsten en Wetenschappen (Kementerian Pengajaran, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan) meresmikan pembentukan suatu lembaga yang disebut Instituut voor Taal en Cultuur Onderzoek (ITCO) yang bertujuan menampung kegiatan ilmiah universitas, terutama dalam bidang bahasa dan kebudayaan.

Lembaga itu dipimpin oleh Prof. Dr. G.J. Held yang kemudian menjadi pemimpin umum. ITCO mempunyai tiga bagian, yaitu (1) Bagian Ilmu Kebudayaan, (2) Bagian Ilmu Bahasa dan Kesusastraan, dan (3) Bagian Leksikografi. Kegiatan yang dilakukan ITCO, selain penelitian bahasa dan kebudayaan, ialah penyalinan kembali naskah yang ditulis di daun lontar yang berasal dari Yayasan Kirtya Liefrinck van der Tuuk, naskah yang berasal dari Sono Budoyo, Yogyakarta,  dan naskah dari Yayasan Matthes, Makassar. Di samping itu, ITCO membuat film tentang tulisan sastra daerah, seperti tulisan Aceh, Batak Simalungun, Melayu, Makassar, dan Bugis. ITCO juga melakukan tukar-menukar film di Leiden, Pretoria, Kairo, dan New York. Kegiatan lain yang dilakukan ITCO ialah berusaha menarik perhatian para sarjana luar negeri untuk mengadakan penelitian ilmiah dan penerbitan tentang bahasa dan kebudayaan. Kegiatan itulah sebenarnya yang mengawali kegiatan kebahasaan dan kesusastraan yang dilakukan oleh lembaga bahasa yang tumbuh kemudian. Pada tahun 1952 ITCO digabung dengan Bagian Penyelidikan Bahasa, Balai Bahasa Yogyakarta, menjadi Lembaga Bahasa dan Budaya.

 

  1. Tahun 1947 (Panitia Pekerja)

Pada tahun 1947 Mr. Soewandi selaku Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan menugasi R.T. Amin Singgih Tjitrosomo untuk menyiapkan pembentukan suatu lembaga negara yang menangani masalah pemeliharaan dan pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Namun, pembentukan tersebut belum dapat dilaksanakan karena pada saat itu para ahli dan sarjana bahasa banyak yang mengungsi ke luar kota Jakarta. Persiapan yang telah dilakukan baru sampai pada pembentukan Panitia Pekerja berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Nomor 700/Bhg.A. tanggal 18 Juni 1974. Panitia Pekerja itu merupakan satu unit yang dikepalai oleh Mr. St. Takdir Alisjahbana dengan R.T. Amin Singgih Tjitrosomo sebagai sekretaris, dan dibantu oleh lima orang anggota, yaitu Adinegoro, W.J.S. Porwadarminta, Ks. St. Pamuntjak, R. Satjadibrata, dan R.T. Amin Singgih Tjitrosomo.

 

  1. Tahun 1948 (Balai Bahasa)

Ketika terjadi pendudukan tentara Belanda, Panitia Pekerja di Jakarta belum berhasil membentuk suatu lembaga penelitian bahasa seperti yang diharapkan. Baru beberapa bulan setelah Pemerintah Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, Mr. Santoso, menugasi R.T. Amin Singgih Tjitrosomo untuk menyiapkan pembentukan lembaga bahasa secara lengkap. Beberapa bulan setelah itu, dibentuklah suatu lembaga otonom yang berada langsung di bawah Jawatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Lembaga tersebut bernama Balai Bahasa, yang diresmikan pada bulan Maret 1948 di Yogyakarta atas dasar Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, Mr. Ali Sastroamidjojo, Nomor 1532/A tanggal 26 Februari 1948. Pemimpin umum Balai Bahasa mula-mula adalah P.F. Dahler alias Amin Dahlan, kemudian R.T. Amin Singgih Tjitrosomo sebagai pejabat sementara. Karena P.F. Dahler meninggal dunia, selanjutnya pemimpin umum dipegang oleh Prof. Dr. Prijana. Adapun sekretaris Balai Bahasa adalah I.P. Simandjuntak. Balai Bahasa mempunyai empat seksi, yaitu (1) Seksi Bahasa Indonesia, (2) Seksi Bahasa Jawa, (3) Seksi Bahasa sunda, dan (4) Seksi Bahasa Madura. Tugas dan kegiatan Balai Bahasa ialah (1) meneliti bahasa Indonesia dan bahasa daerah, baik lisan maupun tulis, baik yang masih hidup maupun yang sudah tidak digunakan lagi, (2) memberi petunjuk dan pertimbangan tentang bahasa kepada masyarakat, dan (3) membina bahasa. Pada saat itu Balai Bahasa sudah mempunyai kantor cabang yang berkedudukan di Bukittinggi.

 

  1. Tahun 1952 (Lembaga Bahasa dan Budaya)

Atas dasar Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 1 Agustus 1952, Balai Bahasa menjadi bagian Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Tugas Balai Bahasa itu dilaksanakan oleh Lembaga Bahasa dan Budaya, yang merupakan gabungan dari Lembaga Penyelidikan Bahasa dan Kebudayaan (ITCO) dan Bagian Penyelidikan Bahasa, Balai Bahasa, dan Jawatan Kebudayaan. Pimpinan Lembaga Bahasa dan Budaya ialah Prof. Dr. Prijana yang merangkap sebagai Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sejak tanggal 1 Mei 1957–karena beliau diangkat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan–jabatan pimpinan Lembaga dipegang oleh Prof. Dr. P.A. Hoesein Djajadiningrat yang juga merangkap sebagai guru besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Jabatan sekretaris umum dipegang oleh Darsan Martadarsana dan pada tahun 1956 digantikan oleh Sjair. Pada tahun 1958 Sjair, karena pensiun, diganti oleh Dra. Lukijati Gandasubrata. Lembaga Bahasa dan Budaya mempunyai struktur oraganisasi yang lebih baik daripada Balai Bahasa. Lembaga Bahasa dan Budaya mempunyai tujuh bagian dengan tiga cabang. Bagian tersebut ialah (1) Bagian Penyelidikan Bahasa dan Penyusunan Tata Bahasa, (2) Bagian Lesksikografi, (3) Bagian Penyelidikan Kebudayaan, (4) Bagian Komisi Istilah, (5) Bagian Penyelidikan Kesusastraan, (6) Bagian Perpustakaan, dan (7) Bagian Terjemahan.

 

  1. Tahun 1959 (Lembaga Bahasa dan Kesusastraan)

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69626/B/S, tanggal 1 Juni 1959, Lembaga Bahasa dan Budaya berganti nama menjadi Lembaga Bahasa dan Kesusastraan. Sejak itu lembaga tersebut beserta cabangnya terlepas dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan langsung di bawah Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Bagian Bahasa, Jawatan Kebudayaan dilebur dan pegawainya masuk ke Lembaga Bahasa dan Kesusastraan. Demikian pula, sejak bulan Juni 1964, Urusan Pengajaran Bahasa Indonesia dan Daerah, Jawatan Pendidikan Umum,  dimasukkan ke dalam lembaga itu.

Pimpinan pertama Lembaga Bahasa dan Kesusastraan adalah Prof. P.A. Hoesein Djajadiningrat dan Sekretaris Umum Dra. Lukijati Gandasubrata. Pada tahun 1960 jabatan pimpinan umum dipegang oleh sekretaris umum karena pimpinan umum meninggal dunia. Pada tahun 1962 Dra. Lukijati Gandasubrata pindah ke Semarang. Pada tahun 1966, pimpinan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan itu digantikan oleh Dra. S.W. Rudjiati Muljadi. Lembaga Bahasa dan Kesusastraan terdiri atas delapan urusan, yakni (1) Urusan Tata Bahasa, (2) Urusan Peristilahan, (3) Urusan Kesusastraan Indonesia Modern, (4) Urusan Kesusastraan Indonesia Lama, (5) Urusan Bahasa Daerah, (6) Urusan Perkamusan, (7) Urusan Dokumentasi, dan (8) Urusan Terjemahan.

 

  1. Tahun 1966 (Direktorat Bahasa dan Kesusastraan)

Berdasarkan Surat Keputusan Presidium Kabinet Nomor 75/V/Kep/i/1966, tanggal 3 November 1966 Lembaga Bahasa dan Kesusastraan diubah namanya menjadi Direktorat Bahasa dan Kesusastraan di bawah pimpinan Dra. S.W. Rudjiati Muljadi.

Direktorat Bahasa dan Kesusastraan mempunyai bagian sebagai berikut:  (1) Dinas Bahasa Indonesia, (b) Dinas Kesusastraan Indonesia, (c) Dinas Bahasa dan Kesusastraan Daerah, (d) Dinas Bahasa dan Kesusastraan Asing, (e) Dinas Peristilahan dan Perkamusan, dan (f) Sekretariat.

 

  1. Tahun 1969 (Lembaga Bahasa Nasional)

Atas dasar Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mashuri, S.H., Nomor 034/1969 Tahun 1969, mulai tanggal 24 Mei 1969 nama Direktorat Bahasa dan Kesusastraan diganti menjadi Lembaga Bahasa Nasional. Secara struktural, lembaga itu berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dra. S.W. Rujiati Mulyadi diangkat sebagai Kepala Lembaga Bahasa Nasional dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 035/1969. Namun, dari tanggal 1 Januari — 31 Desember 1970  Kepala Lembaga Bahasa Nasional dijabat oleh Drs. Lukman Ali karena Dra. S.W. Rujiati Mulyadi bertugas di luar negeri (Leiden).

Lembaga Bahasa Nasional mempunyai tugas (1) membina dan mengembangkan bahasa Indonesia dan daerah dalam bidang tata bahasa, peristilahan, perkamusan, sastra, dialek, terjemahan, dan kepustakaan; (2) mengadakan penelitian setempat, seminar, simposium, dan musyawarah bersama-sama instansi lain dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, badan, dan organisasi masyarakat, baik di dalam maupun di luar negeri; (3) memberikan bantuan, keterangan, pertimbangan, dan nasihat mengenai masalah bahasa dan sastra Indonesia dan daerah kepada instansi di lingkungan departemen, badan, organisasi masyarakat, atau perseorangan, baik di dalam maupun di luar negeri; (4) menyelenggarakan penerbitan dan penyebaran hasil penelitian untuk kepentingan pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan pada khususnya, serta bangsa dan negara Indonesia pada umumnya; (5) menyelenggarakan ketatausahaan selengkapnya; serta (6) memberi saran dan pertimbangan kepada Direktur Jenderal Kebudayaan demi kesempurnaan tugas pokok.

Karena tugas pembinaan, penelitian, dan pengembangan bahasa dan sastra nasional semakin luas, dengan Surat Keputusan Nomor 038/1970, tanggal 1 Mei 1970, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, memutuskan pembentukan kembali cabang Lembaga Bahasa Nasional, yaitu Cabang I di Singaraja, Cabang II di Yogyakarta, dan Cabang III di Makassar.

 

  1. Tahun 1974 (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa)

Dalam rangka reorganisasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, atas dasar Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 dan 45 Tahun 1974, Lembaga Bahasa Nasional diubah namanya menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor  079/O Tahun 1975, yang diubah dan disempurnakan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0222/O/ 1980, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditetapkan sebagai pelaksana tugas di bidang penelitian dan pengembangan bahasa dan sastra yang berada langsung di bawah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dipimpin oleh seorang kepala yang dalam melaksanakan tugas sehari-hari bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Kebudayaan. Sejak 1975 secara berturut-turut kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dijabat oleh Prof. Dr. Amran Halim (1975–1984), Prof. Dr. Anton M. Moeliono (1984–1989), Drs. Lukman Ali (1989–1991), dan Dr. Hasan Alwi (1991–2000). Dalam menyelenggarakan tugas di bidang penelitian dan pengembangan bahasa dan sastra, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa mempunyai fungsi sebagai (1) perumus kebijakan Menteri dan kebijakan teknis di bidang penelitian dan pengembangan bahasa; (2) pelaksana penelitian dan pengembangan bahasa serta pembina unit pelaksana teknis penelitian bahasa di daerah; (3) pelaksana urusan tata usaha pusat.

Susunan organisasi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, sebagai pelaksana tugas di bidang penelitian dan pengembangan bahasa dan sastra adalah sebagai berikut: (1) Bagian Tata Usaha, (2) Bidang Bahasa Indonesia dan Daerah, (3) Bidang Sastra Indonesia dan Daerah, (4) Bidang Perkamusan dan Peristilahan, dan (5) Bidang Pengembangan Bahasa dan Sastra. Dalam melaksanakan tugas itu, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa–hingga tahun 1999–hanya didukung oleh 3 unit pelaksana teknis (UPT), yaitu (1) Balai Bahasa Yogyakarta, (2) Balai Bahasa Denpasar, dan (3) Balai Bahasa Ujungpandang.

Sejalan dengan semakin luas cakupan tugas Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 226/O/1999 tanggal 23 September 1999 dan Nomor 227/O/ 1999 tanggal 23 September 1999, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa mendapat tambahan empat belas UPT. Keempat belas UPT itu ialah (1) Balai Bahasa Banda Aceh, (2) Balai Bahasa Medan, (3) Balai Bahasa Pekanbaru, (4) Balai Bahasa Padang, (5) Balai Bahasa Palembang, (6) Balai Bahasa Bandung, (7) Balai Bahasa Semarang, (8) Balai Bahasa Surabaya, (9) Balai Bahasa Banjarmasin, (10) Balai Bahasa Jayapura, (11) Kantor Bahasa Pontianak, (12) Kantor Bahasa Palangkaraya, (13) Kantor Bahasa Manado, dan (14) Kantor Bahasa Palu.

 

  1. Tahun 2000 (Pusat Bahasa)

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 010/ MPN.A2/KP/2000 tanggal 25 Juli 2000, Dr. Hasan Alwi diberhentikan dengan hormat dari jabatannya sebagai Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa karena telah memasuki masa purnabakti dan diangkat sebagai Plh. Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Sejak saat itu, nama Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa menjadi Pusat Bahasa. Kemudian, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11/MPN.A4/ KP/2001, Dr. Dendy Sugono diangkat sebagai Kepala Pusat Bahasa.

Setelah Dr. Dendy Sugono pensiun 1 Juni 2009, jabatan Kepala Pusat Bahasa sementara dijabat Agus Dharma, S.H., Ph.D. sebagai wakil sementara (Wks.) dan Dra. Yeyen Maryani, M.Hum. sebagai koordinator intern (korin). Pada tanggal 16 September 2010 Prof. Drs. Endang Aminuddin Aziz, M.A., Ph.D. diangkat sebagai Kepala Pusat Bahasa. Namun, tanggal 27 Desember 2010, Prof. Drs. Endang Aminuddin Aziz, M.A., Ph.D. mengundurkan diri dari jabatannya.

 

  1. Tahun 2010 (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa)

Pada tahun 2009 Pemerintah dan DPR RI periode 2004 – 2009 mengesahkan Undang-Undang Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara. Serta Lagu Kebangsaan. Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 24 tahun 2009 dan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara, Pusat Bahasa berganti nama menjadi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dibawah Kementerian Pendidikan Nasional. Pusat Bahasa yang dulu secara organisasi berada di tingkat Eselon II kini setelah menjadi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menjadi unit utama (Eselon I) di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dengan mengacu Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 dan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010, Agus Dharma, S.H., Ph.D. diangkat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dengan Sekretaris Badan Bahasa, Dra. Yeyen Maryani, M.Hum., Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Prof. Dr. Cece Sobarna, dan Kepala Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Qudrat Wisnu Aji, S.E, M.Ed.

Pada tanggal 30 November 2011, Qudrat Wisnu Aji, S.E, M.Ed  menempati posisi sebagai Kepala Biro Umum, Sekretariat Jenderal, Kemdikbud, dan digantikan oleh Drs. Muhadjir, M.A. sebagai  Kepala Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan. Prof Dr. Cece Sobarna sebagai Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan digantikan oleh Dr. Sugiyono.

Karena Plt. Kepala Badan Bahasa pada bulan Desember 2011 memasuki masa purnabakti, berdasarkan Surat Perintah Mendikbud Nomor 327/MPN.A4/KP/2011, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dijabat oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang membidangi kebudayaan, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch. Ph.D., sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Sejak tanggal 16 April 2012, Prof. Dr. Mahsun, M.S. ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berdasarkan Surat Perintah Mendikbud Nomor 139/MPN.A4/KP/2012.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mempunyai 1 Sekretariat Badan dengan 4 Kepala Bagian dan 12 Kepala SubBagian serta 2 Kepala Pusat dengan 6 Kepala Bidang dan 12 Kepala SubBidang. Di samping itu, Badan Bahasa memiliki 17 balai bahasa  dan  13  kantor bahasa.

Visi Misi

Visi:

Terwujudnya lembaga yang andal di bidang kebahasaan dan kesastraan dalam rangka mencerdaskan serta memperkukuh jati diri, karakter, dan martabat untuk memperkuat daya saing bangsa

 

Misi:

1. Mengembangkan dan melindungi bahasa dan sastra Indonesia

2. Meningkatkan mutu penelitian bahasa dan sastra Indonesia

3. Meningkatkan sikap positif masyarakat terhadap bahasa dan sastra

4. Meningkatkan mutu pelayanan informasi kebahasaan dan kesastraan

5. Meningkatkan mutu tenaga kebahasaan dan kesastraan

6. Meningkatkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional

7. Mengembangkan kerja sama kebahasaan dan kesastraan

8. Mengembangkan pengelolaan organisasi dan kelembagaan

Tugas dan Fungsi

Tugas

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mempunyai tugas melaksanakan pengembangan,pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra Indonesia.

 

Fungsi

Dalam melaksanakan tugas tersebut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyelenggarakan fungsi

  1. penyusunan kebijakan teknis, rencana, dan program pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra;
  2. pelaksanaan pengembangan, pembinaan,  dan pelindungan bahasa dan sastra Indonesia;
  3. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra Indonesia, dan
  4. pelaksanaan administrasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Program Kerja

Untuk mewujudkan visi dan misi, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa membuat program dan kegiatan untuk mengatasi berbagai masalah kebahasaan dan kesastraan. Program dan kegiatan tersebut dibagi dalam tiga kelompok besar sebagai berikut.

1. Sekretariat

Program dan kegiatan Sekretariat Badan dibagi dalam lima besar, yaitu manajemen, kelembagaan, kerja sama, sarana dan prasarana, serta pendukung manajemen lainnya.

2. Pengembangan dan Pelindungan

Bahasa dan sastra di Indonesia perlu dikembangkan agar mampu mempertahankan fungsinya, baik sebagai wahana komunikasi maupun sebagai wadah ekspresi estetika. Dengan demikian, upaya peningkatan mutu penggunaan bahasa serta mutu penelitian bahasa dan sastra dapat dilakukan dengan baik melalui pengkajian, pembakuan, pelindungan, serta publikasi dan informasi.

3. Pembinaan dan Pemasyarakatan            

Pembinaan bahasa adalah upaya untuk meningkatkan mutu pemakai bahasa. Upaya pembinaan itu mencakup peningkatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berbahasa yang dilakukan, antara lain melalui pengajaran dan pemasyarakatan. Pembinaan sastra adalah upaya yang dikembangkan untuk memelihara karya sastra, meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap sastra Indonesia dan daerah, serta memanfaatkan sastra asing supaya memenuhi fungsi dan kedudukannya.

 

Program Strategis

  • Penguatan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan
  • Sertifikasi penggunaan bahasa di ruang publik, terutama di wilayah perbatasan
  • Peningkatan mutu dan jumlah karya dan kritik sastra
  • Peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional
  • Pengembangan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan
  • Standardisasi kemahiran berbahasa Indonesia
  • Peningkatan kemahiran membaca, menulis, dan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia pada pendidikan keaksaraan
  • Pelindungan bahasa dan sastra
  • Fasilitasi program studi bahasa dan sastra Indonesia di SMA/MA dan perguruan tinggi

 

Bahan Ajar Kepanduan : Latar Belakang Lahirnya Gerakan Pramuka

Latar Belakang Lahirnya Gerakan Pramuka

Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi kalau akan menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, orang perlu mengkaji keadaan, kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun 1960.
Dari ungkapan yang telah dipaparkan di depan kita lihat bahwa jumlah perkumpulan kepramukaan di Indonesia waktu itu sangat banyak. Jumlah itu tidak sepandan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan itu.
Peraturan yang timbul pada masa perintisan ini adalah Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang rencana pembangunan Nasional Semesta Berencana. Dalam ketetapan ini dapat ditemukan Pasal 330. C. yang menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepanduan adalah Pancasila. Seterusnya penertiban tentang kepanduan (Pasal 741) dan pendidikan kepanduan supaya diintensifkan dan menyetujui rencana Pemerintah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30). Kemudian kepanduan supaya dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powellisme (Lampiran C Ayat 8).
Ketetapan itu memberi kewajiban agar Pemerintah melaksanakannya. Karena itulah Pesiden/Mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepramukaan Indonesia, bertempat di Istana Negara. Hari Kamis malam itulah Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. Presiden juga menunjuk panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr.A. Azis Saleh dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa, Achmadi. Panitia ini tentulah perlu sesuatu pengesahan. Dan kemudian terbitlah Keputusan Presiden RI No.112 Tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebut oleh Presiden pada tanggal 9 Maret 1961. Ada perbedaan sebutan atau tugas panitia antara pidato Presiden dengan Keputusan Presiden itu. Masih dalam bulan April itu juga, keluarlah Keputusan Presiden RI Nomor 121 Tahun 1961 tanggal 11 April 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota Panitia ini terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial). Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka.
Kelahiran Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan yaitu 1. Pidato Presiden/Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA
· Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya. Tanggal 20 Mei adalah; Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ke tiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PERMULAAN TAHUN KERJA.
· Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka, dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada tanggal 30 Juli 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI IKRAR GERAKAN PRAMUKA.
2. Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka, dan kesemuanya ini terjadi pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA.

Gerakan Pramuka Diperkenalkan
Pidato Presiden pada tanggal 9 Maret 1961 juga menggariskan agar pada peringatan\ Proklamasi Kemerdekaan RI Gerakan Pramuka telah ada dan dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu Keppres RI No.238 Tahun 1961 perlu ada pendukungnya yaitu pengurus dan anggotanya. Menurut Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, pimpinan perkumpulan ini dipegang oleh Majelis Pimpinan Nasional (MAPINAS) yang di dalamnya terdapat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Kwartir Nasional Harian. Badan Pimpinan Pusat ini secara simbolis disusun dengan mengambil angka keramat 17-8-’45, yaitu terdiri atas Mapinas beranggotakan 45 orang di antaranya duduk dalam Kwarnas 17 orang dan dalam Kwarnasri 8 orang. Namun demikian dalam realisasinya seperti tersebut dalam Keppres RI No.447 Tahun 1961, tanggal 14 Agustus 1961 jumlah anggota Mapinas menjadi 70 orang dengan rincian dari 70 anggota itu 17 orang di antaranya sebagai anggota Kwarnas dan 8 orang di antara anggota Kwarnas ini menjadi anggota Kwarnari.
Mapinas diketuai oleh Dr. Ir. Soekarno, Presiden RI dengan Wakil Ketua I, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Ketua II Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh.
Sementara itu dalam Kwarnas, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat Ketua dan Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh sebagai Wakil Ketua merangkap Ketua Kwarnari.
Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 bukan saja di Ibukota Jakarta, tapi juga di tempat yang
penting di Indonesia. Di Jakarta sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar yang diikuti dengan pawai pembangunan dan defile di depan
Presiden dan berkeliling Jakarta. Sebelum kegiatan pawai/defile, Presiden melantik anggota Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari, di Istana negara, dan menyampaikan anugerah tanda penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia (Keppres No.448 Tahun 1961) yang diterimakan kepada Ketua Kwartir Nasional, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sesaat sebelum pawai/defile dimulai. Peristiwa perkenalan tanggal 14 Agustus 1961 ini kemudian dilakukan sebagai HARI PRAMUKA yang setiap tahun diperingati oleh seluruh jajaran dan anggota Gerakan Pramuka
Diperoleh: “http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Gerakan_Pramuka_Indonesia”

 

Catatan redaksi : Ada Sesuatu yang menarik, mengapa yang menandatangani Kepres Tentang  Gerakan  Pramuka adalah Ir. Juanda ? Bilamana Presiden saat itu tengah mengadakan kunjungan ke Jepang, mengapa tidak menunggu beliau pulang dari lawatannya ?

Andakah yang tahu ?

 

 

 

 

 

 

 

Trik cepat hapal morse

 

Kadang kita kesulitan menghapal atau mengingat kembali isyarat morse, padahal besok mau ikut lomba Galang apalagi jarang berlatih secara periodic. Berikut ini tips menghapal morse dengan cepat. Lihat gambar di bawah ini :

 

 

 

Petunjuk Penggunaan :

1. Gambar di atas terbagi menjadi dua bagian, kanan, dan kiri.
2. Cara membacanya dari atas ke bawah.
3. Blok putih menunjukkan kode titik (  .  ) dan blok hitam kode strip (  -  ).
4. Contoh sebelah kiri: Jika isyarat menunjukan satu kali putihsama dengan satu kali titik artinya huruf E.

Contoh lain : ( dibaca dari atas, ya ) putih-putih-putih-putih artinya 4 titik ( …. )

Berarti huruf H.

Contoh lagi : hitam-hitam-putih artinya 2 strip 1 titik (  - – . ) berartihuruf G

5. Ingat blok sebelah kiri selalu diawali dengan blok Titik ( Putih ) dan blok kanan selalu diawali dengan blok strip ( Hitam ).

 

Selamat mencoba, beritahukan teman-temanmu dan ajaklah belajar morse bersama.

 

 

 

 

 

 

 

Trik Mudah Kuasai Semaphore

 

Sebenarnya ada berbagai macam cara untuk dapat menguasai isyarat semaphore dengan cepat dan mudah.

Berikut ini adalah salah satunya, dengan model Jarum Jam, tinggal mengingat angka dan hurufnya. Selamat mencoba……….

 

Top of Form

Bottom of Form

 

 

 

 

 

Alat dan Cara Pengiriman Isyarat dengan Morse

 

Kita mengenal berbagai macam cara dan alat untuk menyampampaikan isyarat morse antara lain sebagai berikut

 

ALAT CARA
Peluit Bunyi Panjang dan Pendek
Bendera Kibaran Panjang dan Pendek
Api/ Cahaya Nyala Pendek dan Panjang
A s a p Gumpalan Kecil dan Besar
Telegrap Tulisan Titik dan Garis
Cermin dengan bantuan cahaya matahari Sinar Sebentar dan Lama

 

Berikut ini aneka arti untuk pengiriman tanda morse dengan menggunakan peluit atau lainnya :

Untuk menyampampaikan isyarat morse dengan alat bendera dilakukan seperti di bawah ini :

 

Top of Form

Bottom of Form

 

 

 

 

 
Pionering

 

 

Bidang Tali Temali

Dalam tali temali kita sering mencampuradukkan antara tali, simpul dan ikatan. Hal ini sebenarnya berbeda sama sekali. Tali adalah bendanya. Simpul adalah hubungan antara tali dengan tali. Ikatan adalah hubungan antara tali dengan benda lainnya, misal kayu, balok, bambu dan sebagainya.

 

Macam simpul dan kegunaannya

1.         Simpul ujung tali

Gunanya agar tali pintalan pada ujung tali tidak mudah lepas

2.         Simpul mati

Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang sama besar dan tidak licin

3.         Simpul anyam

Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam keadaan kering

4.         Simpul anyam berganda

Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam keadaan basah

5.         Simpul erat

Gunanya untuk memendekkan tali tanpa pemotongan

6.         Simpul kembar

Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang sama besarnya dan dalam keadaan licin

7.         Simpul kursi

Gunanya untuk mengangkat atau menurunkan benda atau orang pingsan

8.         Simpul penarik

Gunanya untuk menarik benda yang cukup besar

9.         Simpul laso

 

Untuk gambar macam-macam simpul dapat dilihat di bawah ini

 

 

 

Macam Ikatan dan Kegunaannya

1.         Ikatan pangkal

Gunanya untuk mengikatkan tali pada kayu atau tiang, akan tetapi ikatan pangkal ini dapat juga

digunakan untuk memulai suatu ikatan.

2.         Ikatan tiang

Gunanya untuk mengikat sesuatu sehingga yang diikat masih dapat bergerak leluasa misalnya

untuk mengikat leher binatang supaya tidak tercekik.

3.         Ikatan jangkar

Gunanya untuk mengikat jangkar atau benda lainnya yang berbentuk ring.

4.         Ikatan tambat

Gunanya untuk menambatkan tali pada sesuatu tiang/kayu dengan erat, akan tetapi mudah untuk melepaskannya kembali. Ikatan tambat ini juga dipergunakan untuk menyeret balik dan bahkan ada juga dipergunakan untuk memulai suatu ikatan.

5.         Ikatan tarik

Gunanya untuk menambatkan tali pengikat binatang pada  suatu tiang, kemudian mudah untuk

membukanya kembali. Dapat juga untuk turun ke jurang atau pohon.

6.         Ikatan turki

Gunanya untuk mengikat sapu lidi setangan leher

7.         Ikatan palang

8.         Ikatan canggah

9.         Ikatan silang

10.       Ikatan khaki tiga

 

Untuk gambar macam-macam ikatan dapat dilihat di bawah ini.

 

 

 

Penulis : Kakak Drs. Ringsung Suratno, M.Pd

 

 

 

Top of Form

Bottom of Form

 
Peta Panorama

 

 

Tujuan dari pembuatan peta panorama ini adalah untuk menggambarkan keadaan suatu daerah dengan range atau sudut pandang tertentu.

Peralatan yang perlu dipersiapkan dalam pembuatan peta panorama ini adalah :

1.             Pensil Teknik 2B

2.             Penggaris panjang

3.             Kertas buffalo

4.             Kompas bidik

5.             Meja kerja

Yang harus diperhatikan dalam pembuatan peta panorama ini adalah :

1.             Arah Pandang atau Sudut Pandang

Batas sudut pandang yang diberikan dalam pembuatan peta panorama dapat berupa satu sudut atau dua sudut sebagai arah untuk penggambaran panorama atau pemandangannya. Untuk dua sudut pandang tidak akan menjadi masalah yang berarti karena kita tinggal membidik sudut yang telah ditetapkan tersebut untuk batas penggambaran panorama. Untuk satu sudut pandang maka untuk menentukan batas sudut pandang yang akan kita gunakan untuk menggambar panorama kita harus menambahkan sudut tersebut dengan 30  untuk daerah kanan dan mengurangi sudut tersebut dengan 30 untuk daerah kiri. Kemudian baru menggambar peta panoramanya.

2.             Penggambaran Batas Daerah

Setelah diketahui batas daerah yang akan digambar, maka langkah selanjutnya adalah membuat sket batas daerah satu dengan daerah lainnya, antara satu perbukitan dengan perbukitan atau perumahan dan lain sebagainya. Untuk penggambaran sket ini dibuat setipis mungkin karena hanya untuk pembatas dalam pembatas dalam penafsiran nanti.

3.             Pembuatan Arsiran

Untuk pembuatan arsiran ini merupakan tahapan penting dalam membuat peta panorama. Yang perlu diperhatikan adalah untuk daerah yang dekat dengan pandangan kita maka arsirannya dibuat berdekatan

sekali, demikian seterusnya sampai pada daerah terjauh atau lapis paling atas dibuat renggang. Arsiran horisontal dipergunakan untuk daerah lautan, arsiran tegak atau vertikal untuk gunung, sedangkan untuk daerah yang landai (seperti perumahan, pepohonan) maka arsirannya dibuat agak miring (mendekati horisontal), untuk daerah yang agak curam (seperti perbukitan atau jurang terjal) maka arsiran dibuat miring mendekati tegak.

4.             Pembuatan Arah Utara

Arah utara ini diperlukan untuk mengetahui posisi menggambar kita dan juga sekaligus sebagai koreksi apakah arah yang digambar itu sudah benar. Biasanya arah utara dibuat pada posisi pojok kiri atas dengan gambar anak panah dan arahnya disesuaikan dengan arah kompas

5.             Penulisan Sudut Batas dan Keterangan Batas

Untuk sudut pandang sebelah kiri dan kanan hendaknya dicantumkan sekaligus dengan keterangan gambar yang sesuai dengan keadaan kemudian jangan lupa untuk memberikan penomeran pada masing-masing daerah sehingga mempermudah untuk pemberian keterangan nantinya.

Untuk lebih jelasnya kita lihat contoh berikut ini.

 

Penulis : Kakak Drs. Ringsung Suratno, M.Pd

 

Top of Form

Bottom of Form

Semaphore

 

Semaphore adalah suatu cara untuk mengirimdan menerima berita dengan menggunakan 2 bendera, dimana masing-masing bendera tersebut berukuran 45 cm x 45 cm. Sedangkan warna yang sering dipergunakan adalah merah dan kuning dengan warna merah selalu berada dekat tangkainya.

 

Penulis : Kakak Dr

 

Baris Berbaris (Bag.III)

 

 

PERATURAN BARIS BARIS (P.B.B)

( Bag. III )
Peraturan Baris Berbaris yang digunakan di lingkungan Pramuka ada dua macam yakni Baris berbaris menggunakan tongkat dan tanpa tongkat. Untuk baris berbaris menggunakan tongkat memiliki tata cara tersendiri di lingkungan Pramuka. Adapun baris berbaris tanpa menggunakan tongkat mengikuti tata cara yang telah diatur dalam Peraturan Baris Berbaris milik TNI/POLRI .

a)       Bubar

Aba-aba : Bubar – JALAN

Pelaksanaannya;

Pemberian  aba aba tersebut dilaksanakan dalam keadaan sikap sempurna. Setelah melakukan penghormatan kemudian balik kanan dan setelah menghitung dua hitungan  dalam hati, lalu bubar.

b)       Jalan di tempat

Aba-aba: Jalan ditempat – GERAK

Pelaksaannya:

Gerakan dimulai dengan mengangkat kaki kiri, lutut berganti-ganti diangkat, paha rata-rata, ujung kaki menuju ke bawah, tempo langkah sesuai dengan langkah biasa, badan tegak, pandangan mata tetap ke depan, lengan dirapatkan pada badan (tidak melenggang)

Dari jalan ke tempat berhenti.

Aba-aba : Henti – GERAK

Pelaksanaannya:

Pada aba-aba pelaksanaan dapat dijatuhkan kaki kiri/kanan,pada hitungan ke dua kaki kiri/kanan diharapkan pada kaki kiri/kanan dan kembali ke sikap sempurna.

c)        Membuka/menutup barisan.

Aba-aba : Buka barisan – JALAN

Pada aba-aba pelaksanaan regu kanan dan kiri membuat satu langkah ke samping kanan dan kiri, sedang regu tangah tetap di tempat.

Catatan :

Membuka barisan gunanya untuk memudahkan pemeriksaan.

Tutup barisan

Aba-aba :tutup barisan – JALAN

Pelaksanannya :

Pada aba-aba pelaksanaan regu kanan dan kiri membuat satu langkah kembali ke samping kanan dan kiri, sedang regu tengah tetap ditempat.

 

Gerakan berjalan dengan panjang tempo dan macam langkah

  Macam langkah Panjangnya Tempo
1. Langkah biasa 65cm 120 tiap menit
2. Langkah tegap 65cm 120 tiap menit
3. Langkah perlahan 40cm 30 tiap menit
4. Langkah kesamping 40cm 70 tiap menit
5. Langkah ke belakang 40cm 70 tiap menit
6. Langkah ke depan 60cm 70 tiap menit
7. Langkah di waktu lari 80cm 165 tiap menit

 

A.       MAJU – JALAN

Dari sikap sempurna

Aba-aba : Maju – JALAN

Pelaksanaannya:

1)       Pada aba-aba pelaksanaan kaki kiri diayunkan ke depan, lutut lurus, telapak kaki diangkat rata sejajar dengan tanah setinggi ± 15 cm, kemudian dihentakkan ke tanah dengan jarak setengah langkah dan selanjutnya berjalan dengan langkah biasa.

2)       Langkah pertama dilakukan dengan melenggangkan lengan kanan ke depan 90°, lengan kiri 30° ke belakang, pada langkah selanjutnya lengan atas dan bawah lurus dilenggangkan ke depan 45°, dan ke belakang 30°.

Seluruh anggota meluruskan barisan ke depan dengan melihat pada belakang leher.

Dilarang keras : berbicara-melihat kanan/kiri

Pada waktu melenggangkan tangan supaya jangan kaku.

B.       LANGKAH BIASA

1)       Pada waktu berjalan, kepala dan badan seperti pada waktu sikap sempurna. Waktu mengayunkan kaki ke depan lutut dibengkokkan sedikit (kaki tidak boleh diseret). Kemudian diletakkan ke tanah menurut jarak yang telah ditentukan.

2)       Cara melangkahkan kaki seperti pada waktu berjalan biasa. Pertama tumit diletakkan di tanah selanjutnya lurus ke depan dan ke belakang di samping badan. Ke depan 45°, ke belakang 30°. Jari-jari tangan digenggam, dengan tidak terpaksa, punggung ibu jari menhadap ke atas.

C.       LANGKAH TEGAP

1)       Dari sikap sempurna

Aba-aba : Langkah tegap – JALAN

Pelaksanaannya :

Mulai berjalan dengan kaki kiri, langkah pertama selebar setengah langkah, selanjutnya seperti jalan biasa (panjang dan tempo) dengan cara kaki dihentakkan terus menerus tetapi tidak dengan berlebih-lebihan, telapak kaki rapat dan sejajar dengan tanah, lutut kaki tidak boleh diangkat tinggi. Bersama dengan langkah pertama lengan dilenggangkan lurus ke depan dan ke belakang di samping badan, (lengan tangan 90° ke depan dari 30° ke belakang). Jari-jari tangan digenggam dengan tidak terpaksa, punggung ibu jari menghadap ke atas.

2)       Dari langkah biasa

Aba-aba : Langkah tegap – JALAN

Pelaksanaannya :

Aba-aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah, ditambah satu langkah selanjtnya mulai berjalan seperti tersebut pasa butir 1.

3)       Kembali ke langkah biasa

Aba-aba : Langkah biasa – JALAN

Pelaksanaannya :

Aba-aba diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah ditambah satu langkah dan mulai berjalan dengan langkah biasa, hanya langkah pertama…….

Catatan :
Dalam lsedang berjalan cukup menggunakan aba-aba peringatan : Langkah tegap/langkah biasa-JALAN, pada tiap-tiap perubahan langkah (tanpa kata maju).

D.       LANGKAH PERLAHAN

1)       Untuk bergabung (mengantar jenazah dalam upacara kemiliteran)

Aba-aba : Langkah perlahan maju – JALAN

Pelaksanaannya :

a)       Gerakan dilakukan dengan sikap sempurna

b)       Pada aba-aba “jalan”, kaki kiri dilangkahkan ke depan, setelah kaki kiri menapak di tanah segera disusul dengan kaki kanan ditarik ke depan dan ditahan sebentar di sebelah mata kaki kiri, kemudian dilanjutkan ditatapkan kaki kanan di depan kaki kiri.

c)        Gerakan selanjutnya melakukan gerakan-gerakan seperti semula.

Catatan :

·         Dalam keadaan sedang berjalan, aba-aba adalah “langkah perlahan JALAN” yang diberikan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh di tanah ditambah selangkah dan kemudian mulai berjalan dengan langkah perlahan.

·         Tapak kaki pada saat menginjak tanah tidak dihentakkan, tetapi diletakkan rata-rata untuk lebih khidmat.

2)       Berhenti dalam langkah perlahan

Aba-aba : Henti – GERAK

Pelaksanaannya :

E.       LANGKAH KE SAMPING

Aba-aba : ……..Langkah ke kanan/kiri – JALAN

Pelaksanaannya :

Pada aba-aba pelaksanaan kaki kiri/kanan dilanjutkan ke samping kanan/kiri sepanjang 40 cm. Selanjutnya kaki kiri/kanan dirapatkan pada kaki kiri/kanan.Sikap badan tetap seperti pada sikap sempurna, sebanyak-banyaknya hanya boleh dilakukan empat langkah.

F.       LANGKAH KE BELAKANG

Aba-aba : ……..Langkah ke belakang – JALAN

Pelaksanaannya :

Pada aba-aba pelaksanaan, peserta melangkah ke belakang mulai kaki kiri menurut panjangnya langkah dan sesuai dengan tempo yang telah ditentukan, menurut jumlah langkah yang diperintahkan. Lengan tidak boleh dilenggangkan dan sikap badan seperti dalam sikap sempurna. Sebanyka-banyaknya hanya boleh dilakukan empat langkah.

G.       LANGKAH KE DEPAN

Aba-aba : …….Langkah ke depan – JALAN

Pelaksanaannya :

Pada aba-aba pelaksanaan, peserta melangkahkan kaki ke depan mulai dengan kaki kiri menurut panjangnya langkah dan tempat yang telah ditentukan, menurut jumlah langkah yang diperintahkan. Gerakan kaki seperti gerakan langkah tegap dan dihentikan dan sikap seperti sikap sempurna. Sebanyak-banyaknya hanya boleh dilakukan empat langkah.

H.       LANGKAH DI WAKTU LARI

1)       Dari sikap sempurna

Aba-aba : Lari maju – JALAN

Pelaksanaannya:

Aba-bab peringatan ke dua tangan dikepalkan dengan lemas dan diletakkan di pinggang sebelah depan dengan punggung tangan menghadap keluar, ke dua siku sedikit ke belakang, badan agak dicondongkan ke depan. Pada aba-aba pelaksanaan, dimulai lari dengan menghentakkan kaki kiri setengah langkah dan selanjutnya menurut panjang langkah dan tempo yang ditentukan dengan kaki diangkat secukupnya. Telapak kaki diletakkan dengan ujung telapak kaki terlebih dahulu, lengan dilenggangkan secara tidak kaku.

2)       Dari langkah biasa

Aba-aba : Lari – JALAN

Pelaksanaannya:

Aba-aba peringatan pelaksanaannya sama dengan ayat 1. Aba-aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh ke tanah kemudian ditambah satu langkah, selanjutnya berlari menurut ketentuan yang ada.

3)       Kembali ke langkah biasa

Aba-aba : Langkah biasa – JALAN

Pelaksanaannya :

Aba-aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh ke tanah ditambah tiga langkah, kemudian berjalan dengan langkah biasa, dimuali dengan kaki kiri dihentakkan; bersama dengan itu kedua lengan digenggam.

Catatan :

Untuk berhenti dari keadaan berlari aba-aba seperti langkah biasa henti – GERAK. Aba-aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh ke tanah ditambah tiga langkah, selanjutnya kaki dirapatkan kemudian kedua kepal tangan diturunkan untuk mengambil sikap sempurna.

I.         LANGKAH MERDEKA

1)       Dari langkah biasa

Aba-aba : Langkah merdeka – JALAN

Anggota berjalan bebas tanpa terikat pada ketentuan panjang, tempo dan ketentuan langkah. Atas pertimbangan Pimpinan, anggota dapat dijinkan untuk membuat sesuatu yang dalam keadaan lain terlarang (antara lain berbicara, buak topi, menghapus keringat). Langkah merdeka biasanya dilakukan untuk menempuh jalan jauh/diluar kota/lapangan yang tidak rata. Anggota tetap dilarang meninggalkan barisan.

2)       Kembai ke langkah biasa

Untuk melaksanakan gerakan ini lebih dahulu harus diberikan ……………….samakn langkah. Setelah langkah barisan sama, Pemimpin dapat memberikan aba-aba peringatan dan pelaksanaan.

3)       Aba-aba : Langkah biasa – JALAN

Pelaksanaannya :

Seperti tersebut pada petunjuk dari langkah tegap ke langkah biasa.

J.        GANTI LANGKAH

Aba-aba : Ganti langkah – JALAN

Pelaksanaannya :

Gerakan dapat dilakukan pada waktu langkah biasa/tegap. Aba-aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kanan/kiri di tanah kemudian ditambah satu langkah. Sesudah ujung kaki kiri/kanan yang sedang di belakang dirapatkan pada badan. Untuk selanjutnya disesuaikan dengan langkah baru yang disamakan. Kemudian gerakan ini dilakukan dalam satu hitungan.

 

Selesai

Sumber/ Referensi :

1.     Pedoman Penyelenggaraan Paskibraka – Depdiknas.

  1. Peraturan Baris Berbaris – Pusdiklat TNI-AD