CONTOH MAKALAH : TEKNIK PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERBAHASA

TEKNIK PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERBAHASA

Oleh: Nasir[1]

 

Abstract

Pada proses pembelajaran bahasa diajarkan melalui empat keterampilan berbahasa. Keterampilan tersebut meliputi pembelajaran menyimak (listening), pembelajaran berbicara (Speaking), pembelajaran membaca (reading), dan pembelajaran mengarang ( writing).Di dalam proses pembelajaran guru bertindak sebagai fasilitator, komunikator dan organisator sumber belajar, Sedangkan siswa dituntut agar selalu aktif dan kreatif dalam pembelajaran.

 

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negar.[2]  Untuk mencapai tujuan tersebut maka pemerintah mengeluarkan standar pendidikan nasional sebagai penjamin mutu pendidikan di Indonesia. Penjaminan mutu diknas dimaksudkan dalam rangkan mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Untuk mencapai standar kompetensi pembelajaran tersebut dirumuskanlah kompetensi dasar; materi pokok; kegiatan pembelajaran; indicator; penilaian yang meliputi: tehnik, bentuk instrumen, beserta contohnya; alokasi waqkti; serta sumber belajar yang digunakan.

Selanjutnya, petunjuk pelaksanaan pembelajaran dipersiapkan oleh guru dan diikuti oleh siswa bertolak pada kegiatan pembelajaran.Asas pelaksanaannya didasarkan pada kompetensi dasar yang ingin dicapai. Kompetensi dasar yang ingin dicapai dijabarkan dari standar kompetensi yang disesuaikan dengan materi pembelajaran dan alokasi waktu yang telah ditetapkan.

 

Setelah guru berusaha dengan segala kemampuannya untuk mencapai kompetenssi dasar yang telah ditentukan, dan pada akhir tahun pelajaran siswanya dinyatakan naik kelas atau lulus, bahagialah hatinya. Kebahagiaan tersebut juga kebahagiaan orangtua sehingga memberikan ucapan terima kasih yang tulus kepada guru yang telah membimbing anak-anaknya menyelesaikan jenjang pendidikan.

Kebahagiaan itu aberubah mendadak menjadi kecewa manakala anaknya yang telah lulus SD belum bias menyampaikan pidati pada hari ulang tahunnya. Sementara itu, anak yang telah lulus SMP tidak bias menulis surat undangan dan kakaknya yang lulus SMA belum bias memandu acara pada hari ulang tahun adiknya itu.

Apa yang tejadi? Bergema berbagai keluhan akan rendahnya keterampilan berbahasa Indonesia lulusan SD, SMP, dan SMA. Berbagai upaya telah dilakukan melalui pertemuan MGMP, KKG, telah  menemukan penyebabnya. Akan tetapi keluhan-keluhan itu tetap bergema. Oleh karena itu perlu kita diskusikan tentang teknik dan strategi pembelajaran keterampilan berbahasa.

 

  1. Pendekatan dalam Pembelajaran Bahasa

Proses pembelajaran adalah sejumlah komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Komponen-komponen dalam pembelajaran jika dirangkai dengan cara yang berbeda, maka akan mencapai hasil  yang berbeda dan memiliki fungsi yang berbeda pula. Komponen pembelajaran secara umum terdiri dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar. Dengan kata lain, pendekatan merupakan  proses pembelajaran yang menitik beratkan pada penguasaan hasil belajar berdasarkan prinsip-prinsip teoretis tujuan  pembelajaran dengan menggunakan teknik dan strategi yang efektif. Halsenada sesuai pendapat Anthony dalam Hadley (1963) menjelaskan ada tiga tingkatan hirarki dari konsep: 1 Approach,  sebagai serangkaian prinsip-prinsip teoritis, 2. Method, yang merupakan  perencana prosedur penyajian dalam peembelajaran bahasa, dan 3. Technique,  yang meliputi strategi-strategi untuk mengimplementasikan rencana metodologi.[3] Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran bahasa sebagai berikut:

 

  1. 1.      Pendekatan Komunikatif

Pendekatan komunikatif merupakan pembelajaran bahasa yang memberikan kemampuan keterampilan berbahasa yang ditunjang oleh pengetahuan bahasa itu sendiri. Pendekatan komunikatif lebih mementingkan penggunaan bahasa dari pada kepemilikan pengetahuan mengenai bahasa.[4] Artinya, penguasaan bahasa pada siswa bukan saja karena diberi kesempatan untuk mempelajari keterampilan berbahasa, tetapi diberikan kesempatan untuk menggunakan keterampilan tersebut. Dengan melibatkan para pelajar berinteraksi dalam kegiatan berbahas, mereka dapat memahami apa yang dibaca dan didengarnya dan akhirnya dapat mengungkapkan bikiran dalam bahasanya.

Karakteristik pendekatan komunikatif sebagai berikut:

  • Belajar bahasa berarti berkomunikasi  dan makna merupakan hal yang  penting. Komunikasi yang efektif serta ucapan yang dapat dipahami sangat diutamakan.
  • Percakapan atau dialog harus berpusat pada fungsi-fungsi komunikatif dan latihan-latihan diadakan secara sederhana untuk penunjang pencapaian tujuan.
  • Segala upaya untuk berkomunikasi  dapat didorong sejak dini;  setiap sarana yang dapat membantu  para pembelajar dapat diterima  dengan baik sesuai dengan usia dan minat; penggunaan bahasa bersifat kontekstualisasi dan bahasa asli dapat diterima kalau memang perlu dan layak.
  • Para siswa diharapkan dapat berinteraksi dengan orang lain melalui kelompok atau pasangan secara lisan maupun tulisan dan itu akan menimbulkan motivasi instrinsik serta minat terhadap apa yang dikomunikasikan.
  • Membaca dan menulis dapat dimulai sejak dini, dari hari pertama kalau diinginkan.
  • Sosio linguistik dapat dipelajari dengan baik melalui proses komunikasi dan variasi linguistik merupakan suatu konsep inti dalam materi dan metodologi.
  • Bahasa diciptakan oleh individu seringkali melalui proses coba-coba dan salah atau  “trial and error”.
  • Pengurutan ditentukan oleh pertimbangan mengenai isi, fungsi atau makna yang menimbulkan minat.
  • Guru menolong para siswa sedemikian rupa sehingga dapat mendorong mereka bekerja dengan bahasa itu.
  • Guru tidak mengetahui secara tepat bahasa apa yang akan dipakai para siswa.[5]

 

Buku pelajaran bahasa Indonesia yang menunjang pembinaan keterampilan berbahasa memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Menekankan pada fungsi komunikatif
  • Mencoba merangsang agar merasa membutuhkan dan tertarik.
  • Menekankan keterampilan dalam menggunakan bentuk bahasa sehingga harus dirasakan pada aktifitas siswa.
  • Biasanya mempunyai keseimbangan yang baik di antara 4 keterampilan berbahasa
    • Menekankan pada spesifikasi dalam mengarahkan definisi
    • Berisi metode percakapan sehari-hari
  • Menganjurkan siswa bekerja dalam kelompok dan berpasangan serta mampu membuat organisasi
    • Menekankan pada kelancaran disamping ketelitian.

 

  1. 2.      Pendekatan Keterampilan Proses

Mengajar pada hakekatnya merupakan serangkaian peristiwa yang dirancang oleh guru dalam memberikan dorongan kepada siswa belajar. pendekatan keterampilan proses adalah kegiatan belajar mengajar dengan penekanan pengembangan keterampilan  peserta didik dalam memproses informasi sehingga ditemukan  hal-hal yang baru dan bermanfaat baik berupa fakta, konsep, sikap dan nilai.

Kemampuan yang dikembangkan dalam keterampilan proses yang antara lain:

  1. Pengamatan, yaitu keterampilan mengumpulkan data atau informasi melalui penerapan indera
  2. Menggolongkan (mengklasifikasikan), yaitu keterampilan menggolongkan benda, kenyataan, konsep, nilai atau kepentingan tertentu. Untuk membuat penggolongan perlu ditinjau persamaan dan perbedaan antara benda, kenyataan, konsep sebagai dasar penggolongan
  3. Menafsirkan (menginterpretasikan), yaitu keterampilan menafsirkan sesuatu berupa benda, kenyataan, peristiwa, konsep dan informasi yang telah dikumpulkan melalui pengamatan, penghitungan, penelitian atau eksperimen.
  4. Meramalkan, yaitu mengantisipasi atau menyimpulkan suatu hal yang akan terjadi pada waktu yang akan datang berdasarkan perkiraan atas kecenderungan, pola tertentu, hubungan antar data, atau informasi. Misalnya, berdasarkan pengalaman tentang keadaan cuaca sebelumnya, siswa dapat meramalkan keadaan cuaca yang akan terjadi.
  5. Menerapkan (aplikasi) yaitu menggunakan hasil belajar berupa informasi, kesimpulan, konsep, hukum, teori dan keterampilan. Melalui penerapan hasil belajar dapat dimanfaatkan, diperkuat, dikembangkan atau dihayati
  6. Merencanakan penelitian, yaitu keterampilan yang amat penting karena menentukan berhasil tidaknya melakukan penelitian. Keterampilan ini perlu dilatih karena selama ini pada umumnya kurang diperhatikan dan kurang terbina.
  7. Mengkomunikasikan, yaitu keterampilan menyampaikan perolehan atau hasil belajar kepada orang lain dalam bentuk tulisan, gambar, gerak, tindakan, atau penampilan.[6]

 

  1. 3.      Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) ialah dengan penyajian bahan pelajaran terutama yang berhubungan dengan konsep-konsep pokok dan mengikutsertakan siswa secara aktif baik perorangan maupun kelompok. CBSA untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan kemampuan pribadi dalam hal-hal sebagai berikut:

 

1)      Mempelajari materi/konsep dengan sungguh-sungguh.

2)      Mempelajari, mengalami dan melakukan sendiri cara memperoleh suatu pengetahuan.

3)      Merasakan sendiri kegunaan, bakat terbuka, mengembangkan rasa ingin tahu, jujur, tekun, disiplin, kreatif terhadap tugas yang diberikan.

4)      Belajar dalam kelompok, menemukan sifat dan kemampuan diri sendiri serta teman sekelompoknya.

5)      Memikirkan, mencoba sendiri dan mengembangkan konsep sesuatu nilai tertentu.

6)      Menemukan dan mempelajari kejadian/gejala yang dapat mengembangkan gagasan baru.

7)      Menunjukkan kemampuan mengkomunikasikan cara berfikir yang menghasilkan penemuan baru dan penghayatan nilai-nilai baiki secara lisan maupun tertulis, melalui gambaran maupun penampilan sendiri.

 

Apabila diperhatikan ketaiga bentuk pendekatan: Pendekatan komunikatif digunakan dengan penekanan kepada kebermaknaan dan fungsi bahasa. Pendekatan keterampilan proses lebih menekankan pada kegiatan proses yang dilalui siswa dalam belajar, misalnya mengamati, mengklasifikasi, menafsirkan, menerapkan dan sebagainya. Kemudian CBSA lebih menitik beratkan pada cara belajar siswa yang menuntut siswa ikut serta secara aktif dalam pembelajaran baik secara perorangan, maupun sebagai anggota kelompok.

 

 

  1. Kegiatan dan Teknik Pembelajaran Keterampilan berbahasa

Pada proses pembelajaran bahasa diajarkan melalui empat keterampilan berbahasa. Keterampilan tersebut meliputi pembelajaran menyimak (listening), pembelajaran berbicara (Speaking), pembelajaran membaca (reading), dan pembelajaran mengarang ( writing).[7]  Kegiatan pembelajaran keterampilan berbahasa dapat dilakukan sebagai berikut:

 

  1. 1.      Keterampilan membaca          

Setelah membaca suatu wacana tulis, siswa harus melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (1) mencari kata, frasa, klausa yang dirujuk dala suatu bacaan berdasarkan kata rujukan yang diberikan, (2) ebagai siswa merumuskan pertanyaan tentang isi bacaan dan yang lainnya berusaha menjawabf (3) memilih diagram / tabel ang sesuai dengan isi bacaan, (4) melakukan serangkaian printah tertulis, (5) menebak arti kata dan menerka arti bacaan, (6) menemukan kata-kata kunci dan gagasan pokok, (7) meringkas isi bacaan, (8) melengkapi bacaan dengan kata yang disediakan, (9) menentukan jenis paragraf, (10) membuat bagan alur isi bacaan dan sebagainya.

 

  1. Keterampilan menyimak

Sambil menyimak perintah atau wacana lisan, siswa melakukan kegiatan-kegiatan: (1) melakukan perintah (petunjuk) yang diberikan secara lisan, (2) memberikan jawaban atas pertanyaan lisan dalam perakapan, (3) melihat gambar yang sesuai dengan wacana lisan, (4) melengkapi tabel / diagram yang sesuai, (5) mengungkapkan pokok pikiran khusus yang sesuai dengan isi wacana, (6) mengurutkan gambar berdasarkan ungkapan lisan, (7) mengisi formulir, bagan atau tabel sesuai dengan informasi yang didengar.

 

 

  1. 3.      Keterampilan berbicara

Kegiatan pembelajaran berbicara meliputi: (1) saling memperkenalkan diri, (2) bermain peran dalam menerangkan sesuatu, memerankan wawancara, mengajukan permintaan mengungkapkan rasa simpati, dan mengundang serta memberikan jawabannya, (3) tanya jawab tentang keadaan serhari-hari (4) menceritakan kembali isi iklan yang telah dibaca, (5) bercakap-cakap berpasangan, (6) memberi komentar dan saran  tentang sesuatu, (7) berpidato dan menceritakan pengalaman pribadi, (8) bermain simulasi dalam menawarkan bantuan, (9) berargumentasi tentang suatu topik yang telah ditentukan, dan kegiatan sejenis lainnya.

 

  1. Keterampilan Menulis

Kegiatan menulis dapat dimulai dengan menyalin bacaan dan menyususn kalimat-kalimat sehingga merupakan ceretera. Kegiatan dapat dilakukan dengan: 1) Melengkapi ceritera sederhana, 2) Memberikan jawaban tertulis atas suatu pertanyaan, 3) Menulis paragraf dan narasi sederhana, 4) Menulis suatu rencana perjalanan, 5) Menulis memo, 6) menulis narasi suatu percakapan, dan menulis jenis-jenis surat, dan kegiatan-kegiatan lain.

Teknik pembelajaran keterampilan berbahasa dapat dilakukan: pembelajaran dengan teknik secara terpisah, dengan penggabungan, dan secara terpadu.

 

  1. 1.      Teknik pembelajaran terpisah

Pembelajaran keterampilan menyimak dimulai dengan membedakan bunyi dengan pasangan kata. Kemudian dilanjutkan dengan pemahaman permulaan, pada bagian ini disiwa diberikan perintah secara lisan untuk dilakukan namun bukan menjawab pertanyaan. Pemahaman selanjutnya siswa diperintahkan untuk menjawab pertanyaan guru. Langkah terakhir siswa diberikan dialog atau diajak dalam situasi wacana lisan dari berbagai media termasuk media elektronik.[8] Dari teknik ini siswa diharapkan mampu menangkap wacana lisan dan dapat melaporkan isi wacana yang didialogkan.

Pembelajaran keterampilan membaca dimaksudkan untuk memahami dam memperoleh informasi dari wacana tulisan.[9] Ahli lain (Morrow) mengembangkan tujuan ini adalan untuk tujuan kognitif, referensial, maupun afektif dalam mendapatkan kenikmatan membaca.[10]

Pembelajaran keterampilan membaca dimulai dengan pengenalan tema yang sedang disajikan, dan siswa diharapkan mampu membaca secara sepintas. Selanjutnya guru dan siswa secara bersama-sama mendiskusikan pola kalimat dan kosakata yang sulit, kemudian dilakukan Tanya jawab secara lisan, sehingga siswa mendapatkan gambaran umum tentang isi wacana yang sedang dibahas. Langkah selanjutnya siswa diberikan pertanyaan-pertanyaan, dalam menjawab pertanyaan siswa membaca wacana secara rinci. Pertanyaan yang dianggap mudah dilakukan secara individual, sedangkan pertanyaan yang dianggap sulit harus diselesaikan secara kelompok. Setelah selesai menjawab pertanyaan secara tertulis, maka jawaban dicocokkan dengan mendiskusikan isi wacana. Terakhir kegiatan pembelajaran ditutup dengan membacakan wacana secara lisan. Untuk memperkuat materi pembelajaran dapat diberikan pekerjaan rumah dengan wacana yang berbeda pada tema yang sama.

Pembelajaran keterampilan berbicara dimaksudkan agar siswa mampu menyampaikan informasi secara sosial dan dapat diterima oleh oleh penutur dan pendengar.[11] Kegiatan komunikasi lisan dilakukan secara alami yang sesungguhnya, artinya komuikasi yang dilakukan telah mengandung kesenjangan informasi.[12] Kegiatan pembelajaran berbicara dimulai dengan menghafal dialog dan ceritera singkat. Selanjutnya kegiatan menceriterakan gambar-gambar, pada pada akhirnya kegiatan bermain peran, simulasi, diskusi sesuai dengan tema pada pokok bahasan materi pembelajaran.

Pembelajaran keterampilan berbahasa yang keempat adalah pembelajaran keterampilan menulis atau mengarang. Maksud dari pembelajaran ini adalah untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam bahasa. Kegiatan mengarang dilakukan secara terpimpin dan mengarang bebas. Pembelajaran mengarang secara terpimpin kegiatan belajarnya banyak ditentukan oleh guru, sedangkan mengarang secara bebas kegiatan belajarnya banyak ditentukan oleh siswa baik isi maupun gaya penulisannya.

Kegiatan pembelajaran menulis dimulai dengan menyalin suatu bacaan dan mengarang dengan bantuan gambar. Kegiatan pendalaman selanjutnya dapat dilakukan dengan kegiatan merangkum atau menerangkan isi bacaan dalam sebuah laporan tertulis. Kegiatan terakhir pada pembelajaran keterampilan menulis adalah mengarang bebas dengan ketentuan menggunakan kosa kata dengan pola kalimat (kaidah berbahasa) yang benar.[13] Ahli lain (Chastain) menegaskan bahwa mengarang bebas yang dimaksudkan adalah telah ditentukan judul karangannya.[14]

 

  1. 2.      Teknik pembelajaran penggabungan

Teknik pembelajaran penggabungan yang dimaksudkan adalah penggabungan beberapa keterampilan berbahasa dalam kegiatan pembelajaran, misalnya keterampilan menyimak dengan mengarang, keterampilan membaca dengan berbicara.[15] Teknik pembelajaran ini dilakukan dengan cara memberikan wacana lisan atau menggunakan alat elektronik. Selanjutnya siswa diminta membuat karangan tentang apa yang telah didengarkan. Kegiatan ini perlu memperhatikan tingkat kesukaran kosakata dan struktur bahasa. Terakhir siswa membacakan di depan kelas dan guru memberikan komentar dan koreksi terhadap karangan yang dibacakan.

Teknik penggabungan keterampilan membaca-berbicara pada proses pembelajaran bahasa dilakukan dengan cara: siswa diberikan naskah untuk dibaca dalam hati, kemudian merika diminta menceriterakan secara lisan isi wacana tersebut. Kemudian kegiatan pembelajaran diakhiri dengan mendiskusikan isi wacana. Pembelajaran penggabungan keterampilan berbahasa dapat juga dilakukan lebih dari dua keterampilan berbahasa melainkan empat sekaligus yang dikenal dengan pembelajaran bahasa secara terpadu.

  1. 3.      Teknik pembelajaran terpadu

Pada pembelajaran dengan pendekatan komunikatif, proses pembelajaran dapat dilakukan dengan mengelompokkan siswa dalam beberapa kelompok. Kemudian setiap kelompok diberikan wacana tulisan, dan dibacakan di depan anggotanya yang mendapat tugas menulis kembali isi wacana tersebut. Hasil karangan ditukar dengan kelompok lain untuk dipelajari. Hasil karangan tersebut dibacakan di depan siswa. Selanjutnya kegiatan pembelajaran diakhiri dengan diskusi tentang wacana tersebut. Teknik pembelajaran ini dikenal sebagai teknik pembelajaran keterampilan terpadu.[16] Pembelajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif adalah strategi pembelajaran bahasa yang dilaksanakan guru dalam mengemban tugas untuk pembelajaran siswa yang didasarkan pada pendekatan komunikatif.

Pengembangan keempat keterampilan berbahasa dilakukan melalui tema yang dipilih dalam proses pembelajaran secara terpadu. Maksudnya setiap kali pertemuan dalam pembelajaran mencakup keempat keterampilan bahasa tersebut, sedangkan unsur-unsur tatabahasa, lafal, kosakata, ejaan diajarkan untuk menunjang penguasaan keterampilan berbahasa di samping untuk kepentingan bahasa.

 

  1. Penilaian dalam pembelajaran bahasa

Bagian akhir dari program satuan pembelajaran adalah penilaian hasil belajar.

Ada empat aspek berbahasa yang perlu dinilai, yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis.

 

Ada beberapa pedoman untuk menyusun tes bahasa. Salah satu di antaranya dikemukakan oleh Weir  bahwa metode tes sebagai berikut:

  1. Tes membaca pemahaman, dengan bentuk 1) pilihan ganda, 2) jawaban singkat, 3) grup klos, dan 4) transfer informasi (menceriterakan kembali).
  2. Tes menyimak meliputi 1) tes keterampilan menyimak ekstensif dengan bentuk: a) pilihan ganda b) Jawaban singkat; 2) tes keterampilan menyimak intensif, berupa dekte.
  3. Tes menulis meliputi 1) metode tidak langsung untuk kemampuan linguistik, dan 2) tes menulis langsung.
  4. d.     Tes berbicara dengan bentuk 1) esai verbal; 2) presentasi lisan;              3) wawancara bebas; 4)wawancara terkontrol; 5) transfer informasi, deskripsi urutan gambar; dan 6) bermain peran.[17]

 

  1. Guru dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Guru bahasa Indonesia dalam pembelajaran berfungsi sebagai berikut.

  1. Fasilitator, yaitu yang memberi kemudahan-kemudahan bagi siswa selama pembelajaran berlangsung.
  2. Komunikator, yaitu sewaktu-waktu menjadi partisipan bebas dalam kegiatan komunikasi yang dilakukan siswa.
  3. Organisator sumber belajar, yaitu mengorganisasikan materi dan strategi sesuai dengan tujuan pengajaran yang dirumuskan.
  4. Penasihat dan pembimbing kegiatan belajar.
  5. Manajer/pengelola kegiatan pembelajaran.
  6. Menganalisis kebutuhan dan hasil belajar siswa, yaitu meneliti kebutuhan siswa dalam belajar yang harus disediakan guru serta menganalisis hasil tes yang dibuat siswa.

 

Nana Sudjana membagi tiga kategori kompetensi, yaitu seperti yang diuraikan di bawah ini.

  1. a.      Kompetensi bidang kognitif, artinya kemampuan intelektual, seperti penguasaan mata pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan mengenai cara belajar dan tingkah laku individu, pengetahuan mengenai administrasi kelas, pengetahuan tentang cara menilai hasil belajar siswa, pengetahuan tentang kemasyarakat, serta pengetahuan lainnya.
  2. b.      Kompetensi bidang sikap, artinya kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya, misalnya sikap menghargai pekerjaanya, mencintai dan memiliki rasa senang terhadap sesama teman seprofesinya, memiliki kemauan yang keras untuk meningkatkan hasil pekerjaanya.
  3. c.       Kompetensi Prilaku (performance), artinya kemampuan guru dalam berbagai keterampilan mengajar, membimbing, menilai menggunakan alat bantu pengajaran, bergaul, berkomunikasi dengan siswa, keterampilan menumbuhkan semangat belajar siswa, keterampilan menyusun persiapan/perencanaan mengajar, keterampilan melaksanakan administrasi kelas dan lain-lainnya.[18]

 

6. Siswa  Sebagai Pembelajar

Siswa sebagai subyek dalam proses berlar mengajar dituntut agar selalu aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Ellis mengemukakan bahwa pembelajaran bahasa yang baik akan :

  1. Mampu memberikan respon terhadap dinamika kelompok pembelajar untuk mengatasi rintangan;
  2. Mencari kesempatan untuk menggunakan bahasa sasaran;
  3. Menggunakan kesempatan secara maksimal untuk menyimak dan merespon ujaran yang dialamatkan kepadanya;
  4. Melengkapi pembicaraan dengan telaah teoritis khususnya dalam hal bentuk bahasa;
  5. Lebih dewasa dalam pengembangan ketatabahasaan;
  6. Mempunyai keterampilan analitik mengenai ciri-ciri linguistik dan dapat memantau kesalahan;
  7. Mempunyai alasan yang kuat untuk belajar;
  8. Sanggup mengadakan percobaan dengan segala resiko;
  9. Mampu menyesuaikan diri pada kondisi-kondisi pembeljaran yang berbeda. [19]

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alice Omaggio Hadley, Teaching Language in Context, (Universiti of Illinois: Hainle&hainle Publishers. 1993. Inc. Bostan, Massachusetts.

 

Cyir Weir,1990.  Communicative Language Testing, New York: Prentice Hall

 

Dionn Byrne,1981 “Integrating Skills” dalam Johnson & Keith dk.(Peny.), Communication in the Classroom  Brunt Hill: Longman.

 

Depdiknas, 2003. UU. No. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta

 

E. Sadtono,1987. Antologi Pengajaran Bahasa Asing Khususnya Bahasa Inggris  Jakarta: Depdikbud.

 

Finocchiro, M.& C. Brumfit. 1983 The Functional Nasional Approach: From Theory to Practice.  New York: OxfordUniversity Press.

 

Keith Morrow, 1981.“Principle of Communicative Method” dalam Johnson & Keith dk. (Ed), Commonication in the Classroom Burnt Hill: Longman, 1981.), pp. 89-104.

 

Kenneth Chastain,1978. Developing Second Language Skills: Theory and PracticeChicago: Rand McNally College Publishing Co.

 

Nana Sudjana. 1988. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru.

 

Sri Utari Subiyakto, N.,1988. Metodologi Pengajaran Bahasa Jakarta:Depdikbud. Subiyakto, Ibid, p. 145.


[1]  Doktor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Pembantu Ketua I STKIP PGRI Metro Lampung

[2] UU. No. 20 Tahun 2003. Sisdiknas, Pasal 1 ayat 1.

[3] Alice Omaggio Hadley, Teaching Language in Context, (Universiti of Illinois: Hainle&hainle Publishers. Inc. Bostan, Massachusetts. 1993) P. 77-78.

[4] Finocchiro, M.& C. Brumfit. The Functional Nasional Approach: From Theory to Practice.(New York: Oxford University Press, 1983), pp.  77-78.

[5]Finocchiro, & . Brumfit. op.cit. pp.79-80

[6] ibid.

[7]  Kenneth Chastain, Developing Second Language Skills: Theory and Practice (Chicago: Rand McNally College Publishing Co., 1978), pp. 278 –280.

 

[8]  Sri Utari Subiyakto, N., Metodologi Pengajaran Bahasa (Jakarta:Depdikbud, 1988), pp 133-160.

[9] Subiyakto, Ibid, p. 145.

[10] Keith Morrow, “Principle of Communicative Method” dalam Johnson & Keith dk. (Ed), Commonication in the Classroom (Burnt Hill: Longman, 1981), pp. 89-104.

[11] Subiyakto, op. cit., p. 150.

[12] E. Sadtono, Antologi Pengajaran Bahasa Asing Khususnya Bahasa Inggris (Jakarta: Depdikbud, 1987), p. 90

[13] Subiyakto, op.cit. p. 150.

[14] Chastain, op. cit., pp. 376-377.

[15] Chastain, Ibid, pp. 378-379.

[16] Dionn Byrne, “Integrating Skills” dalam Johnson & Keith dk.(Peny.), Communication in the Classroom (Brunt Hill: Longman, 1981), pp. 108-161.

[17]Cyir Weir,  Communicative Language Testing, (New York: Prentice Hall, 1990), pp. 43-77

[18] Nana Sudjana. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1988), p. 18.

[19] Ellis R. Understanding Second Language Acquisition. (Oxford: Oxford University Press., 1987), pp. 275-276.

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s