BAHAN MAKALAH / KULIAH PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN : PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM

BAHAN MAKALAH PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN

http://www.rinastkip.wordpress.com

  PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM 
Pendidikan merupakan sebuah sistem yaitu komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan, dengan tujuan untuk memberikan pelayanan pendidikan kapada yang membutuhkan.
Sistem pendidikan yang berlaku adalah pendidikan formal, non formal dan in formal, untuk itu kita harus mampu menggunakan sistem pendidikan
yang  telah tersedia dengan sebaik- baiknya.

A. PENGERTIAN PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mencapai  suatu tujuan pendidikan. Adapun tujuan pendidikan secara umum adalah membawa anak kearah tingkat kedewasaan. Suatu pendidikan menyangkut tiga unsur pokok, yaitu unsur masukan, unsur proses usaha itu sendiri, dan unsur hasil usaha.
Masukan usaha pendidikan ialah peserta didik dengan berbagai ciri-ciri yang  ada pada diri  peserta didik itu  ( antara lain  :  bakat,  minat, kemampuan dan keadaan jasmani). Dalam proses pendidikan terkait berbagai hal, seperti : pendidik, kurikulum, gedung sekolah, buku, metode mengajar lain-lain. Sedangkan hasil pendidikan dapat meliputi hasil belajar ( yang pengetahuan, sikap dan keterampilan ) setelah selesainya suatu proses mengajar tertentu.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1979) menjelaskan pula “pendidikan merupakan suatu sistem yang mempunyai unsur-unsur sasaran pendidikan, peserta didik, pengelola pendidikan, struktur, Kurikulum dan peralatan atau fasilitas”.
Selanjutnya dijelaskan bahwa setiap unsur dalam sistem pendidikanyang berkaitan dan pengaruh mempengaruhi. Kelemahan salah satu unsure tersebut akan mempengaruhi seluruh sistem pendidikan itu. Oleh kaarena itu dalam usaha mengembangkan sistem pendidikan, setiap unsure pokok dalam system sistem    pendidikan   harus    mendapatkan   perhatian    dan  yang utama.

B. PENGERTIAN SISTEM
Sistem adalah suatu kesatuan unsur-unsur yang saling berinteraksi fingsional yang memperoleh masukan menjadi keluaran. Kesamaan lain dapat dilihat melalui ciri-cirinya sebagaimana disebutkan dalam buku akta mengajar V  Depdikbud, 1984) yang meliputi : (a) adanya tujuan,(b) adanya fungsi untuk mencapai tujuan ,(c) ada bagian komponen yang melaksanakan rungsi-fungsi tersebut,(d) adanya interaksi antara komponen satu saling hubungan, (e) adanya penggabungan yang menimbulkan jalinan keterpaduan,(f) adanya proses transformasi, (g) adanya proses umpan balik untuk perbaikan dan (h) adanya daerah batasan dan lingkungan.
Setiap sistem mempunyai tujuan. Tujuan ini merupakan akhir dari apa yang dikehendaki oleh suatu kegiatan. Tujuan suatu lembaga pendidikan ialah untuk memberikan pelayanan pendidikan yang membutuhkan. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, diperlukan berbagai fungsi yang beraktivitas. Misalnya seorang manusia agar dapat hidup dan menunaikan tugasnya didalam dirinya diperlukan adanya fungsi koordinasi dan penggerak, fungsi pernafasan, fingsi peredaran darah fungsi perencanaan makanan dan lain-lain.
Mengapa pendidikan di katakana sebagai system ?. karena di dalam pendidikan terjadi kesatuan unsure-unsur pendidikan (peserta, pendidik, interaksi edukatif , tjuan pendidikan, materi pendidikan, alat dan metode, lingkungan pendidikan) yang semuanya saling berinteraksi secara fungsional (sesuai dengan fungsinya masing-masing) yang memperoleh masukan menjadi keluaran (pengetahuan, sikap dan ketrampilan).

C. KOMPONEN DAN HUBUNGAN ANTAR KOMPONEN DALAM PENDIDIKAN  
Agar terlaksana masing – masing fungsi yang menunjang usaha pencapaian  tujuan, di dalam suatu sistem diperlukan bagian – bagian yang akan melaksanakan fungsi tersebut. Bagian suatu sistem yang melaksanakan fungsi untuk  menunjang usaha mencapai tujuan sistem disebut komponen. Dengan demikian, jelaslah bahwa sistem itu terdiri atas komponen – komponen dan masing – masing komponen itu mempunyai fungsi khusus.
Semua   komponen   dalam   sistem   pembelajaran   haruslah   saling berhubungan  satu  sama lain.  Sebagai  misal  dalam proses pembelajaran di sajikan  penyampaian pesan melalui media, maka diperlukan adanya aliran listrik untuk membantu memberikansinar. Jika aliran listrik tidak berfungsi, akan menimbulkan kesulitan bagi guru dalam melangsungkan pembelajaran. Dengan  dasar inilah, pendekatan sistem dalam pembelajaran memerlukan lubungan antara komponen yang satu dengan lainnya.
Penggabungan yang menimbulkan keterpaduan yang menyatakan bahwa suatu keseluruhan itu mempunyai nilai atau kemampuan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jumlah bagian-bagian. Dalam kaitan dengan kegiatan pembelajaran, para guru sebaiknya berusaha menjalin keterpaduan antara sesama guru, antar guru dengan siswa, atau antar materi,guru, media, dan siswa. Sebab apalah artinya materi yang disiapkan kalau tidak ada siswa yang menerima. Demikian juga sebaliknya.
Di depan dikatakan bahwa komponen adalah bagian dari system yang melaksanakan fungsi untuk menunjang usaha mencapai tujuan system. Karena pendidikan di katakana sebagai system maka komponen-komponen  pendidikan itu meliputi peserta didik, pendidik, materi pendidikan, alat dan metode, lingkungan pendidikan dan lain-lain yang menunjang usaha mencapai tujuan system.
 

D. PENDIDIKAN FORMAL, NON FORMAL, IN FORMAL SEBAGAI SEBUAH SISTEM
1.  LEMBAGA PENDIDIKAN FORMAL
a. Arti Sekolah :
Membahas masalah sekolah sebagai lembaga pendidikan formal perlu mi dikatakan formal karena diadakan di sekolah/ tempat tertentu, teratur sistematis,   mempunyai jenjang  dan   dalam  kurun  waktu  tertentu,   serta berlangsung mulai dari TK sampai PT, berdasarkan aturan resmi yang telah ditetapkan mengikuti peraturan pemerintah atau undang-undang.
Pada   umumnya   lembaga   formal   adalah   tempat   yang   paling seseorang meningkatkan pengetahuan, dan paling mudah membina generasi  muda yang dilaksanakan oleh pemerintah dan varakai
Bagi   pemerintah   karena   dalam   rangka   pengembangan   bangsa di butuhkan pendidikan, maka jalur yang ditempuh untuk mengetahui out putnya secara kuantitatif maupun kualitatif.
Oleh karena itu apa sebetulnya sekolah itu ?
Sekolah adalah lembaga dengan organisasi yang tersusun rapi dan segala nya direncanakan dengan sengaja yang disebut kurikulum.
1). Membantu    lingkungan    keluarga    untuk    mendidik    dan    mengaja,  dan memperdalam / memperluas, tingkah laku anak / peserta yang di bawa dari keluarga serta membantu pengembangan bakat
2).   Mengembangkan kepribadian peserta didik lewat kurikulum agar :
a)    Peserta didik dapat bergaul dengan guru, karyawan dengan temannya sendiri dan masyarakat sekitar.
b)    Peserta didik belajar taat kepada peraturan / tahu disiplin.
c)    Mempersiapkan peserta didik terjun di masyarakat berdasarkan norma – norma yang berlaku.
b.  Jenjang lembaga pendidikan formal yaitu :
1)    Pendidikan dasar         : TK & SD
2)    Pendidikan menengah     : SMTP dan SMTA (umum dan kejuruan)
3)    Pendidikan Tinggi : Jenjang D1, D2, D3, S1, S2 dan S3

  1. Umum : Universitas dan Institut
  2. Sekolah Tinggi Kejuruan
    c.  Jenis lembaga pendidikan formal:

    Di dalam pendidikan formal terdapat tujuan yakni tempat menguatkan masyarakat bahwa pendidikan itu penting guna bekal kehidupan di masyarakat sehingga siap pakai. Maksudnya bahwa orang yang tidak sama, orang yang berpendidikan lebih siap pakai di masyarakat dari pada orang yang tidak berpendidikan.

 

 

2. LEMBAGA PENDIDIKAN NON FORMAL
Lembaga pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah (PLS) ialah semua bentuk pendidikan yang di selenggarakan dengan sengaja, tertib, dan berencana, diluar kegiatan persekolahan. Komponen yang di perlukan harus disesuaikan dengan keadaan anak / peserta didik agar memperoleh hasil yang memuaskan, antara lain :
a.    Guru atau tenaga pengajar atau pembimbing atau tutor
b.    Fasilitas
c.    Cara menyampaikan atau metode
d.    Waktu yang dipergunakan
Pendidikan ini juga dapat di sesuaikan dengan keadaan daerah masing – masing.

Siapakah yang menjadi Raw Inputnya ?
a. Penduduk usia sekolah yang tidak sempa masuk sekola /pendidikan formal atau orang dewasa yang menginginkannya. Mereka yang drop out dari sekolah / pendidikan formal baik dari segala jenjang pendidikan
Mereka yang telah bekerja tetapi masih ingin mempunyai keterampilan tertentu.
b. Mereka yang telah lulus satu tingkat jenjang pendidikan formal tertentu letapi tidak dapat meneruskan lagi.
Dilihat dari raw input di atas pendekatan pendidikan non formal bersifat dan praktis serta berpandangan luas dan berintregrasi satu sama akhirnya bagi yang berkeinginan dapat mengikutinya dengan bebas juga berikat dengan peraturan tertentu.
Menurut surat keputusan menteri Dep. Dik. Bud nomor : 079/0/1975. Tanggal I7 April 1975, bidang pendidikan non formal meliputi:
1.    Pendidikan masyarakat
2.    Keolah ragaan
3. Pembinaan generasi muda
Oleh   kerena   ketiganya   ini   mempunyai   fungsi   dan   tugas   untuk mengemban pendidikan yang dapat diperinci sebagai berikut:         ,
1. Fungsi dan tugas pendidikan masyarakat:
a). Fungsi:    :
1). Membina program kegiatan dan kurikulum latihan masyarakat’
2). Mengurus dan membina tenaga teknis pendidikan masyarakat.
3). Mengurus dan membina sarana pendidikan masyarakat.
b). Tugas :
1). Menyusun   program   kegiatan   dan   memberi   petunjuk   serta pengarahan kepada orang yang bergerak dibidang masyarakat.
2).  Mengendalikan dan menilai tenaga teknis serta menggunakan saran sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku.
3).   Membimbing   dan  mengendalikan   kegiatan   usaha  di   bidang pendidikan masyarakat.
2. Fungsi dan tugas keolahragaan . Fungsinya :    : ,
a.  Membina program olah raga dengan kurikulum pendidikan luar sekolah.
b.  Mengurus tenaga tehnisnya dan sarana prasarananya.
3. Contoh Lembaga Yang Terkait Dengan Pendidikan non Formal:
a). Pendidikan masyarakat:
1).  PLPM ( Pusat Latihan Pendidikan Masyarakat) :
(a). Raw inputnya adalah mereka yang putus sekolah / pendidikan formal dan atau mereka yang belum pernah sekolah.
(b). Latihannya dapat berjudul :
(1) Menjahit, memasak, merias.
(2)Dekorasi, reparasi , fotografi
(3) Pertukangan dan pembengkelan
2). PKK Remaja:
(a). Pembinanya : Kepala Desa
(b). Latihannya    : Aneka ragam keterampilan, tergantung keuangandesa tersebut.
3). Perpustkaan Masyarakat:
(a). Pembinanya     : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
(b). Materinya       : Buku-buku tuntunan praktik untuk keperluan hidup
di hari nanti.
(c). Sasarannya       : Sampai tingkat Kecamatan .
4). Kursus Penyelenggaraan Swasta :
(a). Pembinanya   : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
(b). Macamnya    : Menjahit, memasak, merias, mengetik, akuntansi,
komputer, monter dan lain-lain.
b).  Keolahragaan :
1)    Pembina utama : KONI ( Komite Olahraga Nasional ) Lembaga
2)    organisasi : PSI, PBSI, PBVSI dan lain-lain.
3)    Anggota :  mereka yang berminat dan disiplin serta sanggup mematuhi AD dan ART.
c).  Pembinaan Generasi Muda
Yang termasuk didalam pembinaan generasi muda , untuk lembaganya dapat meliputi :
1)    pramuka dengan organisasinya dari Kwarca sampai dengan Gugus depan
2)    OSIS : Organisasi Siswa Intra Sekolah.
Organisasi ini berkaitan dengan tugas demi lancarnya suatu sekolah / pendidikan formal jenjang menengah.
3)    Adanya  organisasi pemuda luar sekolah
4)    BAKOPAR ;Badan Koordinasi Pembinaan Remaja
Usahanya untuk membina remaja yang terkena narkotika dan kenakalan remaja serta lainnya yang sejenis.

3. LEMBAGA PENDIDIKAN IN FORMAL
Pendidikan in formal ini terutam berlangsung di tengah keluarga Namun mungkin juga berlangsung di lingkungan sekitar keluarga tertentu , pcrusahaan, pasar, terminal dan lain – lain yang berlangsung setiap hari tanpa ada batas waktu.
Kegiatan pendidikan ini tanpa suatu organisasi yang ketat tanpa adanya program waktu, (tak terbatas ), dan tanpa adanya evaluasi. Adapun alasannya diatas  pendidikan in formal ini tetap memberikan pengaruh kuat terhadap pembentukan pribadi seseorang / peserta didik.
Pendidikan ini dapat berlangsung di luar sekolah, misalnya di dalam atau masyarakat, tetapi juga dapat pada saat di dalam suasana formal / sekolah, misalnya saja waktu istirahat sekolah, waktu di kantin, atau pada waktu saat pemberian pelajaran tentang keadaan  guru mengajar, atausaat guru memberikan tindakan tertentu kepada anak..
Pendidikan informal ini mempunyai tujuan tertentu, khususnya untuk keluarga / rumah tangga, lingkungan desa, lingkungan adat.
Contohnya keluaga, keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum kawin merupakan sebuah lembaga pendidikan, dimana ayah ibu sebagai pendidik dan anak sebagap peseta didik. Orang tua pemegang peranan penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Maka orang tua sebagai peletak dasar-dasar pandangan hidup dn pembentuk pribadi anak-anaknya.
Dalam keluarga anak menerima pengalaman pertama dalam menghadapi sesamanya atau bergaul antar manusia dan dalam menghadapi dunia sekitarnya. Hal itu sebagai hasil dari pendidikan orang tuanya, bagaimanapun keadaan kehidupan orang tua.

Pendidikan Kedinasan

Setelah tahun lalu Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) menuai kontroversi, tahun ini keluar lagi peraturan yang mengatur tentang pendidikan, namun kali ini lebih dikhususkan kepada pendidikan kedinasan. Iya, Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 2010 tentang Pendidikan Kedinasan sudah disahkan pada tanggal 22 Januari 2010.

Saat UU BHP disahkan, banyak pihak yang khawatir dengan akan makin mahalnya biaya pendidikan di negeri ini, karena perguruan tinggi diharapkan mampu mengelola pendanaannya secara mandiri, meski harus dengan mengutamakan prinsip nirlaba. Dan sepertinya apa yang dikhawatirkan itu terbukti. Biaya kuliah sekarang ini makin mahal. Salah satu solusi, kita bisa mengarahkan anak atau adik kita yang baru lulus SMA untuk masuk ke sekolah kedinasan, karena kuliah di sana gratis. Karena pada pasal 1 ayat (1) dalam peraturan pemerintah ini disebutkan bahwa :

Pendidikan kedinasan adalah pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh Kementerian, kementerian lain, atau lembaga pemerintah nonkementerian yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai negeri dan calon pegawai negeri.

Meskipun di satu sisi kita sudah seringkali melihat kebobrokan yang terjadi di sekolah tinggi kedinasan, tapi kita harus bisa memilah, itu hanya perbuatan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, saya percaya ketika awal masuk sekolah kedinasan itu mereka tidak bertujuan atau bercita-cita begitu lulus ingin jadi preman.

Saat ini perguruan tinggi sudah banyak yang membuka jurusan ilmu-ilmu yang dipelajari dalam hal mengelola negara (misalnya administrasi tata negara, perpajakan), dari sisi ini sih menurut saya tidak perlu lagi dibuka sekolah khusus kedinasan, karena sudah disediakan oleh sekolah tinggi atau perguruan tinggi secara umum, kecuali akademi militer atau akademi kepolisian, mungkin. Tapi, dengan catatatan bahwa biaya pendidikan di perguruan tinggi umum (negeri/swasta) itu harus benar-benar terjangkau jika tidak bisa digratiskan.

 

 

Pendidikan keagamaan

Pendidikan keagamaan adalah pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama.

Satuan pendidikan penyelenggara

Pendidikan Jarak Jauh

Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) menjadi salah satu opsi yang dipilih pemerintah untuk memperluas akses dan pemerataan pendidikan. Apalagi pemeritah akan segera memberlakukan moratorium pendirian Perguruan Tinggi (PT) dan pembukaan program studi per 1 September 2012. Dengan PJJ – walau tetap harus sesuai dengan kriteria dan persyaratan- PT bisa meningkatkan daya tampungnya agar target pemerintah dapat mencapat target Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi sebesar 30% pada tahun 2015.

Kini PJJ bisa diselenggarakan oleh PT selain Universitas Terbuka. Landasan formalnya adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh pada Perguruan Tinggi. PJJ adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajaraannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi informasi dan komunikasi, dan media lain. Fungsinya adalah sebagai bentuk pendidikan bagi peserta didik yang tidak dapat mengikuti pendidikan tatap muka tanpa mengurangi kualitas pendidikan.

Berbagai rambu-rambu pun sudah dibuat agar PJJ tidak melupakan mutu lulusan, atau sekedar mengejar target jumlah lulusan. Walaupun demikian, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan agar fungsi dan tujuan tersebut sesuai dengan kebijakan.

Pertama, PJJ yang sarat dengan penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memerlukan kesiapan infrastruktur TIK di daerah yang menjadi sasaran. Indonesia masih menghadapi kesenjangan digital (digital divide) secara geografis, baik antara kota dengan daerah atau antara Jawa dengan pulau Jawa. Jika sekedar mengirimkan e-book atau berkas elektronik melalui pos atau email, kesenjangan tersebut mungkin belum terasa. Ketika bahan ajar PJJ menerapkan teknologi multimedia – misalnya computer assisted learning atau jenis media interaktif lainnya – maka keandalan jaringan komunikasi data menjadi syarat utama.

Kedua, PJJ memerlukan kemandirian dan disiplin dari peserta didik untuk menyediakan waktu khusus untuk belajar sendiri. Tanpa motivasi dan disiplin, peserta didik tidak bisa memanfaatkan PJJ secara optimal. Ada sinyalemen bahwa dengan pendidikan secara tatap muka saja, proses belajar-mengajar masih menghadapi kendala dalam transfer IPTEKS, apalagi dengan PJJ yang meminimalkan tatap muka secara langsung antara pendidik dan peserta didik.

Ketiga, PJJ memerlukan kondisi awal yang ideal, yakni peserta didik relatif melek TIK, yaitu mempunyai computer iteracy atau internet iteracy yang memadai. Harus diakui bahwa teknologi komputer dan internet sudah semakin populer. Namun, popularitas penggunaan internet tidak berbanding lurus dengan produktifitas pemanfaatannya untuk mendukung proses pendidikan. Peserta didik harus menahan godaan dari penggunaan internet atau komputer hanya untuk bersenang-senang atau sekedar gaya hidup.

Keempat, PJJ memerlukan kesiapan dosen, yang harus menyediakan waktu sebelumnya untuk menyediakan bahan ajar, apalagi jika bahan ajarnya tersebut berupa media interaktif yang memerlukan upaya khusus. Ada sinyalemen bahwa dosen lebih enak mengajar secara tatap muka. Tinggal bicara atau menulis di papan tulis, proses perkuliahan pun bisa mudah diselesaikan. Memang sinyalemen tersebut bisa benar atau salah, namun membuat sumber ajar untuk PJJ tidaklah mudah, apalagi bahan ajar tersebut tidak menghilangkan aspek pedagogik atau upaya peningkatan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Kelima, PJJ memerlukan pengawasan ketat terhadap penyelenggaranya. Jika tidak, PJJ bisa menjadi cara legal untuk memperoleh gelar secara mudah. Permendikbud memang sudah membuat regulasi yang tergolong ketat. Dan tidak setiap PT bisa mendapat izin penyelenggaraan PJJ karena harus melalui proses persetujuan yang tidak mudah untuk dilewati. Namun, pengawasan tetap harus bisa dilakukan secara berkelanjutan agar bisa mendeteksi penyimpangan. Mengajukan usulan penyelenggaraan PJJ mungkin bisa diusahakan oleh beberapa PT, namun implementasi di lapangan bisa menjadi persoalan lain.

Jika kelima faktor tersebut bisa diatasi, PJJ menjadi opsi yang layak untuk meningkatkan jumlah lulusan perguruan tinggi dengan tetap menjaga kualitasnya sesuai dengan tujuan pendidikan tinggi. Soal mutu lulusan jika dikaitkan dengan pengertian dan tujuan pendidikan tinggi jelas bukan sesuatu yang gampang. Saya kutip aja beberapa pasal pada UU Sisdiknas atau UU DIKTI yang baru disyahkan oleh DPR pada tanggal 13 Juli 2012.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”. (Pasal 1 UU Sisdiknas)

Pendidikan Tinggi bertujuan: (a) berkembangnya potensi Mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa; (b) dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa; (c) dihasilkannya Ilmu pengetahuan dan Teknologi melalui Penelitian yang memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, serta kemajuan paradaban dan kesejahteraan umat manusia; dan (d) d. terwujudnya Pengabdian kepada masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.” (Pasal 5 UU DIKTI).

 

 

PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS DAN

PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS

 

Berdasarkan Peraturan pemerintah RI No. 17 Tahun 2010 pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.

 

Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan

  1.  Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial.
  2. Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal sesuai kemampuannya.
  3. Peserta didik berkelainan terdiri atas peserta didik yang tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita,  tunadaksa, tunalaras, berkesulitan belajar, lamban belajar, autis, memiliki gangguan motorik, menjadi korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lain; dan.   memiliki kelainan lain.

Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur dan jenis pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Penyelenggaraan pendidikan khusus dilakukan melalui satuan pendidikan khusus, sattuan pendidikan umum, satuan pendidikan kejuruan, dan/atau satuan pendidikan keagamaan.

Ketentuan lebih lanjut mengenai program pendidikan khusus pada satuan pendidikan khusus, satuan pendidikan umum, satuan pendidikan kejuruan, dan/atau satuan pendidikan keagamaan

 

Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik yang MemilikiPotensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa

  1.  Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik keistimewaannya.
  2. Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan mengaktualisasikan seluruh potensi keistimewaannya tanpa mengabaikan keseimbangan perkembangan kecerdasan spiritual, intlekektual, emosional, sosial, estetik, kinestetik, dan kecerdasan lain.

Penyelenggaraan Pendidikan Khusus.

 

Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan formal TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat. Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa  program percepatan jika memiliki  potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa yang diukur dengan tes psikologi;

memiliki prestasi akademik tinggi dan/atau bakat istimewa di bidang seni dan/atau olahraga; dan  program pengayaan.

Program percepatan adalah program pembelajaran yang dirancang untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mencapai standar isi dan standar kompetensi lulusan dalam waktu yang lebih singkat dari waktu belajar yang ditetapkan. Misalnya, lama belajar 3 (tiga) tahun pada SMA dapat diselesaikan kurang dari 3 (tiga) tahun.

Huruf b

Program pengayaan adalah program pembelajaran yang dirancang untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik guna mencapai kompetensi lebih luas dan/atau lebih dalam dari pada standar isi dan standar kompetensi lulusan. Misalnya, cakupan dan urutan mata pelajaran tertentu diperluas atau diperdalam dengan menambahkan aspek lain seperti moral, etika, aplikasi, dan saling keterkaitan dengan materi lain yang memperluas dan/atau memperdalam bidang ilmu yang menaungi mata pelajaran tersebut.

 

Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk:

a. kelas biasa;

b. kelas khusus; atau

c. satuan pendidikan khusus.

 

Pemerintah provinsi menyelenggarakan paling sedikit 1 (satu) satuan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa.

Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan oleh satuan pendidikan pada jalur pendidikan nonformal.

 

 

Pendidikan Layanan Khusus

 

Pendidikan layanan khusus berfungsi memberikan pelayanan pendidikan bagi peserta didik di daerah:

a. terpencil atau terbelakang;

b. masyarakat adat yang terpencil;

c. yang mengalami bencana alam;

d. yang mengalami bencana sosial; dan/atau

e. yang tidak mampu dari segi ekonomi.

 

Pendidikan layanan khusus bertujuan menyediakan akses pendidikan bagi peserta didik agar haknya untuk memperoleh pendidikan terpenuhi.

(1) Pendidikan layanan khusus dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.

(2) Pendidikan layanan khusus pada jalur pendidikan formal diselenggarakan dengan cara menyesuaikan waktu, tempat, sarana dan prasarana pembelajaran, pendidik, tenaga kependidikan, dan/atau sumber daya pembelajaran lainnya dengan kondisi kesulitan peserta didik.

Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan masing-masing menyelenggarakan pendidikan layanan khusus.

5 gagasan untuk “BAHAN MAKALAH / KULIAH PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN : PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s